Jumaat, 20 Julai 2012

BAB PUASA DAN YANG BERKAITAN DENGAN PUASA

BAB PUASA


RINGKASAN FIKIH BAB PUASA

1. Definisi Puasa
Puasa berarti menahan, menurut syari’at puasa berarti menahan diri secara khusus dan dalam waktu tertentu serta dengan syarat-syarat tertentu pula. Menahan diri dari makan, minum, berhubungan badan serta menahan syahwat dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

2. Kewajiban Puasa Ramadhan
Menurut Al-Qur’an, Hadits dan Ijma, puasa merupakan ibadah yang diwajibkan bagi muslimah yang berakal sehat dan telah baligh.

Qur’an Albaqarah 183 yang artinya : Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang –orang sebelum kalian.

Hadits dari Thalbah bin Ubaidillah menceritakan: Ada seorang badui datang kepada Rasulullah dengan rambut yang kusut seraya bertanya: Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku shalat apa saja yang diwajibkan oleh Allah? Rasulullah menjawab : Hanya shalat lima waktu, kecuali jika kamu hendak menambahkannya dengan shalat sunnat. Orang itu bertanya kembali, beritahukan pula kepadaku puasa apa yang diwajibkan oleh Allah? Rasulullah menjawab, Hanya puasa Ramadhan, kecuali jika kamu hendak berpuasa sunnat.Orang tersebut bertanya lagi, Beritahukan kepadaku zakat apa yang harus aku bayarkan? Maka Rasulullah pun menerangkan kepadanya tentang syari’at islam. Akhirnya orang badui tersebut berkata, Demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, sedikitpun aku tidak akan menambah ataupun mengurangi kewajiban yang telah difardhukan oleh Allah atas diriku. Rasulullah pun berkata, Beruntunglah jika ia benar atau akan dimasukkan kedalam surga jika benar ( HR. Muttafaqun Alaih).

Menurut Ijma kaum muslimin telah sepakat mewajibkan puasa pada bulan Ramadhan.

3. Beberapa Keutamaan Puasa
a. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda : Puasa itu perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, hendaklah dia tidak berkata keji dan membodohi diri. Jika ada seseorang memerangi atau mengumpatnya, maka hendaklah ia mengatakan: Sesungguhnya aku sedang berpuasa, dengan zat yang jiwaku berada ditanganNya, sesungguhnya bau mulut yang keluar dari orang yang berpuasa itu lebih harum disisi Allah daripada bau kasturi.Orang yang puasa itu meninggalkan makanan dan minumannya untuk Allah. Maka puasa itu untuk Allah dan Allah yang akan memberikan pahala karenanya, kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya (HR.Bukhari).
b. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: Apabila datang bulan Ramadhan
maka dibukalah pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka serta semua setan dibelenggu (HR.Muslim).
Al-Qadhi mengatakan : Dibukalah pintu surga maksudnya agar hambaNya senantiasa berbuat ta’at pada bulan Ramadhan yang mana kesempatan itu tidak terdapat pada bulan-bulan lainya seperti, syalat taraweh, dan amal kebaikan lainnya yang semua itu merupakan kunci untuk dapat masuk surga. Sedangkan diutupnya pintu neraka dan dibelenggunya setan berarti supaya manusia menghindari berbagai macam pelanggaran
c. Dari Abu Umamah, Rasulullah bersabda : Aku pernah mendatangi Rasulullah seraya berkata: Perintahkankanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku kesurga. Beliau menjawab, hendaklah kamu berpuasa, karena puasa itu merupakan amalan yang tidk ada tandingannya. Kemudian aku mendatangi Beliau untuk kedua kalinya dan beliau berkata dengan nasihat yang sama.(HR. Ahmad, Nasa’i dan Al Hakim).
d. Dari Sahal bin Sa’ad, Rasulullah bersabda: Sesungguhnya surga itu mempunyai satu pintu Babu ArRayyan, pada hari kiamat nanti pintu itu akan bertanya, dimana orang-orang yang berpuasa ? Apabila yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itupun akan tertutup (HR. Muttafaqun Alaih).
e. Dari Abu Sa’id Al-khudri, Rasulullah bersabda: Tidaklah seorang hamba berpuasa pada suatu hari dijalan Allah, melainkan dengan hari itu Allah akan menjauhkan api neraka dari wajahnya selama tujuh puluh musim ( HR. Jama’ah kecuali Abu Dawud).
f. Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, Rasulullah bersabda: Berpuasa dan membaca alQur’an akan memberikan safa’at kepada seseorang hamba pada hari kiamat kelak.Amalan puasanya akan berkata Ya Allah, aku telah melarangnya dari makanan, minum dan nafsu syahwat pada siang hari, sehingga ia telah menitipkan safa’at kepadaku. Amalan membaca Alqur’an berkata, Aku telah melarangnya tidur dimalam hari sehingga ia telah menitipkan safa’at kepadaku(HR.Ahmad, sanad shahih).
g. Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda : Barang siapa memberikan nafjah untuk dua istri dijalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan. Barangsiapa berasal dari golongan orang-orang yang senantiasa mendirikan salat, maka dia akan dipanggil dari pintu salat,yang berasal dari kalangan yang suka berjihad, maka akan dipanggil dari pintu jihad,demikian juga dengan golongan yang berpuasa akan dipanggil dari pintu Rayyan, yang suka bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah. Abu Bakar bertanya Demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah apakah setiap hamba akan dipanggil dari pintu-pintu tersebut? Lalu mungkinkah seseorang dipanggil dari seluruh pintu tersebut? Beliau menjawab, Ya, ada dan aku berharap engkau wahai Abu Bakaryang termasuk salah seorang diantara mereka (HR.Bukhari).
h. Puasa mengajarkan kesabaran serta menambah keimanan, mengajarkan pengendalian diri dan tingkah laku yang baikdan membantu kesembuhan berbagai macam penyakit seperti kencing manis, darah tinggi, maag.
Seperti sabda Rasul: Berpuasalah, niscaya engkau akan sehat (HR. Ibnu Adi dan Thabrani)
i. Puasa dapat menanamkan kasih sayang dan lemah lembut kepada fakir miskin serta mengajarkan sifat tolong menolong dan sensitivitas kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

4. Kewajiban Puasa Ramadhan Ditetapkan Melalui Ru’yah
Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dimana Rasulullah bersabda : Janganlah berpuasa sehingga kalian melihat hilal, janganlah berbuka sehingga kalian melihat hilal ( pada bulan Syawal) dan janganlah berbuka sehingga kalian melihatnya. Jika kalian terhalangi oleh mendung, maka perkirakanlah hitungan pada bulan itu( HR.Muslim).

5. Hari - hari Disunatkannya Puasa
a. Hari Arafah yaitu tanggal 9 dan 10 Zulhijjah
Puasa pada hari Arafah dapat menghapuskan dosa selama 2 tahun, 1 tahun yang lalu dan 1 tahun yang akan datang (HR.Muslim).kecuali orang –orang yang sedang berada diarafah disunahkan bagi mereka berbuka atau tidak puasa , ini menurut mayoritas para ulama.
b. Pada hari Asyura’ yaitu bulan Muharram
Puasa pada bulan Muharram dapat menghapuskan dosa selama satu tahun sebelumnya .sesuai sabda Rasul: Aku memohon kepada Allah untuk menghapuskan dosa yang pernah aku perbuat pada satu tahun sebelumnya (HR.Muslim).
Ibnu Abbas menceritakan: Rasulullah memerintahkan puasa pada hari Asyura yaitu tanggal 10 Muharram(HR. Tirmizi).
c. Enam hari bulan Syawal
Sabda Rasul : Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu dilanjutkan dengan puasa 6 hari pada bulan Syawal, maka nilainya seperti berpuasa sepanjang tahun (HR. Muslim, Abu Dawud, Tarmizi). Boleh dikerjakan berturut-turut, boleh berselang.
d. Limabelas hari pertama pada bulan Sya’ban
Dari Aisyah Ra, ia menceritakan: Aku tidak melihat Nabi saw meyempurnakan puasa satu bulan penuh, selain pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak melihat beliau pada bulan-bulan yang lain berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban (Muttafaqun Alaih).
e. Sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah
Sesuai sabda Rasul : Tidak ada hari dimana amal shalih didalamnya lebih dicintai oleh Allah dari pada 10 hari pertama Zulhijjah, para sahabat bertanya kepada Rasul, wahai Rasul, tidak juga jihad fisabilillah ? Beliau menjawab, Tidak juga jihad fisabilillah, kecuali seseorang yang berangkat dengan membawa jiwa dan hartanya, lalu kembali tanpa membawa sedikitpun dari keduannya (HR.Bukhari).
f. Berselang
Sesuai sabda Rasul: Berpuasalah satu hari dan berbukalah satu hari berikutnya. Yang demikian itu merupakan puasa nabi Dawud dan merupakan puasa yang baik. Kemudian aku berkata : Sesungguhnya aku mampu melakukan lebih dari itu,maka Nabi menjawab, tidak ada yang lebih baik dari itu ( Muttafaqun Alaih).
g. Senin Kamis
berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, dimana Rasulullah senantiasa berpuasa pada hari senin dan kamis karena amal perbuatan manusia diangkat menuju Allah pada hari senin dan kamis ( HR. Abu Dawud).
h. Pertengahan bulan Qamariyah (tanggal 13,14,15, setiap bulan Hijriah)
Dari Abu Hurairah : Rasulullah berpesan kepadaku tiga hal, yaitu berpuasa 3 hari pada setiap bulannya, mengerjakan 2 raka’at salat duha serta salat witir sebelum tidur ( Muttafaqun Alaih).
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Rasul bersabda : Berpuasalah setiap bulannya 3 hari , karena sesungguhnya kebaikan pada hari itu dihitung dengan 10 kelipatanya (HR.Muttafaqun Alaih).

6. Waktu Waktu Dimakruhkannya Berpuasa
a. Berpuasa 1 bulan penuh pada bulan Rajab, kalaupun ada yang hendak berpuasa pada bulan itu hendaklah berselang, karena bulan Rajab adalah bulan yang diagungkan oleh orang Jahiliyah.
b. Pada hari Jum’at saja, sesuai sabda Rasul: Sesungguhnya hari Jum’at itu merupakan hari raya bagi kalian, karena itu janganlah berpuasa, kecuali berpuasa juga sebelum dan sesudahnya (HR. Al-Bazzar).
c. Pada hari sabtu saja, juga makruh puasanya, kecuali diikuti sebelum dan sesudahnya. Sesuai sabd aRasul: Janganlah kalian berpuasa pada hari sabtu, kecuali yang diwajibkan atas kalian (HR. Tirmizi).
d. Makruh puasa pada hari yang diragukan, yaitu hari ke30 bulan Sya’ban,sesuai sabda Rasul: Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan, maka ia telah menentang Nabi Muhammad ( HR.Bukhari).
e. Mengkhususkan puasa pada tahun baru dan hari besar orang kafir adalah makruh, karena merupakan hari yang sangat diagungkan oleh orang kafir.
f. Puasa wishal, yaitu puasa selama 2 atau 3 hari tanpa berbuka hukumnya makruh, sabda Rasul: Rasulullah pernah puasa wishal pada bulan Ramadan, lalu diikuti oleh para sahabat, setelah itu beliau melarang, dan para sahabat bertanya, bukankah engkau melakukannya ? dan Beliau menjawab, sesungguhnya aku tidak seperti kalian, aku ini makan dan juga minum (Muttafaqun Alaih).
g. Puasa dahr, yaitu puasa yang dilakukan 1 tahun penuh.
Sabda Rasul : Tidak dianggap berpuasa bagi orang yang berpuasa selamanya. (HR. Muslim).
h. Janganlah seorang istri berpuasa, ketika suami berada disisinya, melainkan dengan izin suami, kecuali puasa bulan Ramadan (Muttafaqun Alaih).
i. Puasa 2 hari terakhir bulan sa’ban makruh, sesuai sabda Rasul: Janganlah salah seorang diantara kalian mendahului Ramadan dengan puasa 1 atau 2 hari , kecuali bagi orang yang terbiasa melakukan puasa, maka boleh baginya berpuasa ( Muttafaqun Alaih). Kecuali membayar hutang puasa, karena khawatir tidak bisa melakukannya dilain waktu.

7. Waktu –waktu yang diharamkan Puasa
a. Pada hari Idul Fitri dan Idul Adha baik itu untuk mengqada, membayar kafarat atau puasa sunat.
b. Pada hari Tasyriq yaitu 11,12, 13 Zulhijjah, sesuai sabda rasul: Hari tasyriq adalah hari untuk makan dan minum dan berzikir kepada Allah ( HR.Muslim).
c. Dibolehkan berbuka bagi wanita yang sakit.
Sesuai firman Allah Albaqarah 184 : Barang siapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan, lalu berbuka, maka wajiblah baginya mengganti puasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari yang lain.
d. Berbukanya seorang wanita yang berpuasa sunat, hal ini sesuai hadis dari Abu Said al Khudri : Aku pernah membuatkan makanan untuk Rasulullah ketika beliau datang bersama para sahabatnya kerumah. Pada saat makanan
dihidangkan, seorang sahabat berkata , aku sedang puasa , lalu Rasulullah berkata, saudara kalian ini sudah mengundang dan akan menjamu kalian, karenanya batalkan saja puasamu dan puasalah pada hari lain untuk menggantinya jika engkau mau ( HR. Baihaqi)

8. Sunnat-Sunnat Puasa
a. Menyegerakan berbuka, sesuai hadis ; Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa (Muttafaqun Alaih).Disunatkan untuk berbuka dengan kurma, karena kurma dapat mempertajam pandangan, jika tidak ada boleh dengan air.
b. Sahur, sesuai hadis Rasulullah, makan sahurlah, karena sesungguhnya makan sahur itu mengandung berkah ( muttafaqun Alaih). Makan sahur hendaklah diakhirkan sampai mendekati fajar (subuh) hal ini dapat meringankan dalam berpuasa.
c. Berdoa ketika berbuka, karena orang yang berpuasa sehingga berbuka doanya tidak akan ditolak, sesuai sabda Rasul: Ada 3 golongan yang doanya tidak ditolak yaitu orang yang berpuasa sehingga berbuka, imam yang adil dan orang yang dizalimi ( HR. Tarmizi).

9. Puasa Bagi Orang Lanjut Usia
Bagi yang sudah lanjut usia dan tidak mampu untuk mengerjakan puasa, maka ia boleh berbuka, tapi harus diganti dengan memberi makan fakir miskin satu hari dengan satu mud dan tidak perlu mengqada puasanya.

10. Diperbolehkan Berbuka Bagi Musafir (orang dalam perjalanan )
Dalam Surat Albaqarah 184 : Barang siapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan lalu berbuka, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari yang lain.
Tapi jika tetap berpuasa diperjalanan, maka dapat tambahan pahala.

11. Puasa Bagi Wanita Hamil dan Menyusui
Sebagian ulama mengatakan, wanita hamil dan menyusui boleh berbuka, tapi harus menggantinya pada hari yang lain atau memberikan makan pada orang miskin (fidyah). Sesuai sabda Rasul : Sesungguhnya Allah telah memaafkan setengah nilai salat dari para musafir serta memberikan kemurahan bagi wanita hamil dan menyusui, Demi Allah, Rasulullah telah mengatakan keduanya, salah satu atau keduanya (HR. An-Nasai & Tarmizi).

12. Yang Membatalkan Puasa dan Yang Mewajibkan Kafarat
a. Orang yang sengaja makan dan minum siang hari, puasanya jadi batal dan harus mangqada serta harus bayar kafarat (denda ), kecuali dalam keadaan lupa.
b. Muntah dengan sengaja, sesuai hadis Rasulullah : Barang siapa terpaksa muntah, maka tidak ada kewajiban baginya mengganti puasa, tapi barang siapa yang memaksakan diri untuk muntah, maka hendaklah dia mengqada puasanya ( HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Daruquthni dan Al-Hakim).
c. Mamandang orang laki-laki dengan nafsu birahi atau mengingat-ingat hubungan badan, puasanya batal dan harus mengqadanya.
d. Haid dan nifas , puasanya jadi batal. Sedangkan keluarnya istihadah tidak membatalkan puasa.
e. Jika seorang suami menyetubuhi istri tidak dengan persangkaan bahwa waktu magrib telah masuk atau mengira fajar belum tiba, maka keduanya tidak diwajibkan bayar kafarat, menurut mayoritas ulama mereka harus mengqadanya.
f. Jika wanita muslimah berniat untuk berbuka, sedang ia dalam keadaan berpuasa, maka puasanya jadi batal, karena niat adalah salah satu sarat sahnya puasa.

13. Hal hal Yang Boleh Dilakukan oleh Wanita Yang Puasa
a. Membasahi seluruh badan dengan air atau mandi.
b. Meneteskan obat mata dan memakai celak.
c. Mencium dan mendapat ciuman dari suami selama ciuman itu tidak menggerakan nafsu sahwat.
d. Suntik, baik pada kulit maupun urat.
e. Berkumur dan memasukkan air kehidung, keduanya tidak membatalkan puasa, tapi dimakruhkan melakukannya dengan berlebihan.
f. Diperbolehkan mencicipi makanan melalui ujung lidah, tapi haru hati-hati jangan sampai masuk kerongga mulut.

14. Jika Tidak Berniat Malam Hari Sebelum Puasa
Diperbolehkan berpuasa, meskipun tidak diniati sejak malam harinya, ketika waktu pagi tiba ( fajar ) ia boleh puasa dan jika berkehendak boleh berbuka.

15. Waktu Yang Meninggal dan Memiliki Hutang Puasa
Bila seseorang yang telah meninggal dan masih mempunyai hutang puasa, boleh digantikan oleh walinya, sesuai hadis Rasul : Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan meninggalkan kewajiban qadha puasa, maka hendaklah walinya berpuasa untuk menggantikannya ( HR. Bukhari )
16. Kafarat
Orang yang berbuka siang hari pada bulan Ramadan, maka hanya berkewajiban mengqadhanya saja. Sedangkan bila seseorang yang membatalkan puasa karena berhubungan badan disiang hari pada bulan Ramadan, maka harus membebaskan budak yang beriman, atau berpuasa selama 2 bulan berturut-turut, atau memberikan makan 60 orang miskin, setiap orangnya mendapat 1 mud gandum atau kurma ( makanan poko yang mengenyangkan) sesuai dengan kemampuan.

17. Malam Lailatul Qadar
a. Keutamaan lailatul qadar
Amal perbuatan pada malam ini lebih baik daripada amalan seribu bulan yang dikerjakan tidak pada malam lailatul qadar. Dalam surat AlQadar 1-3 :
Sesungguhnya Kami telah menurunkan AlQuran pada malam kemuliaan, Tahukan kamu apa malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
b. Waktu malam lailatul qadar
yaitu pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan, tepatnya pada malam-malam ganjil dari bulan-bulan tersebut, seperti bulan 21, 23, 25, 27, 29. Diriwayatkan juga bahwa malam lailatul qadar adalah bulan yang sangat terangdan penuh cahaya, malam yang tenang dan tidak memancarkan panas yang menyengatdan tidak juga dingin menggigil dimana Allah SWT telah menyingkapkan bagi sebagian orang didalam tidurnya.
c. Bangun dan berdoa pada malam lailatul qadar.
Disunatkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada malam lailatul qadar ini. Sesuai Sabda Rasulullah : Barang siapa bangun pada malam lailatul qadar karena dorongan iman dan mengharapkan pahala, maka diberikan ampunan baginya atas dosa-dosanya yang telah lalu.

Ringkasan dari fiqih wanita edisi lengkap karangan Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah

Berpuasa merupakan salah satu dari lima Rukun Islam. Puasa menurut syariat artinya menahan diri dari makan & minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam, dan dengan syarat tertentu untuk meningkatkan ketaqwaan seorang muslim. Banyak sekali keutamaan puasa di bulan ramadhan, dan berikut lima keutamaan diantara beberapa keutamaan puasa di bulan ramadhan. 1. Puasa sudah diwajibkan atas umat sebelum kita. Allah SWT berfirman : ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqoroh : 183). Jika puasa bukan sebuah amalan yang agung, maka tidak mungkin puasa juga diwajibkan atas ummat-ummat sebelum kita. walaupun puasa mereka berbeda dengan puasa kita, artinya bukan pada bulan ramadhan yang diwajibkan atas mereka, akan tetapi amalan puasa itu tersendiri telah diwajibkan atas mereka yang menandakan bahwa amalan ini sangatlah agung. 2. Amalan puasa memberi syafaat kepada orang yang mengamalkannya. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Puasa dan Al-Qur’an memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. puasa berkata : Wahai Robb, aku telah menahannya dari makanan dan syahwat maka berikanlah syafaat. Al-Qur’an berkata : Wahai Robb, aku telah menahannya dari tidur dimalam hari maka berilah syafaat. Rosulullah berkata : maka keduanya memberi syafaat.” (HR Ahmad, Ath-Thabrany dan Al-Hakim). 3. Pahala puasa tidak terikat dengan jumlah tertentu. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Semua amalan anak Adam untuknya dan dilipat gandakan setiap satu kebaikan (dianggap) sepuluh kali kebaikan tersebut dan dilipat gandakan menjadi 700 kali. Allah berfirman : Kecuali puasa, karena amalan itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. (disebabkan) meninggalkan sahwatnya dan makanannya demi Aku.” (HR Muslim). 4. Berpuasa adalah media diampuninya dosa-dosa & kesalahan. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan pengharapan (pahala), diampuni dosa-dosa yang telah lampau.” (Muttafaq ‘Alaihi). Jika seseorang telah yakin dan ridho akan kewajibannya berpuasa serta tidak benci atas kewajiban puasa ramadhan, yakin terhadap pahala dan ganjaran yang akan didapat maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. 5. Dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa. Kebahagiaan yang pertama yaitu ketika berbuka puasa setelah menahan nafsu, lapar, dan dahaga selama sehari penuh. Dan kebahagiaan yang kedua yaitu ketika menjumpai Allah SWT di akherat dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Untuk orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan : kebahagiaan ketika berbuka puasa. dan kebahagiaan ketika menemui Tuhannya.” (Muttafaq ‘Alaihi).

Read more at http://uniqpost.com/20456/5-keutamaan-puasa-di-bulan-ramadhan/

Ibadat puasa

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.

Rencana ini berkaitan dengan amalan puasa masyarakat Islam. Untuk lebih umum, sila ke rencana Puasa.


Puasa (bahasa Arab: صوم) secara bahasanya boleh diertikan sebagai menahan diri. Daripada segiistilah syara' bermaksud menahan diri daripada makan atau minum untuk suatu jangkamasa tertentu.
Puasa ertinya menahan diri daripada makan dan minum serta segala perbuatan yang boleh membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar sehinggalah terbenam matahari. Umat Islam juga dikehendaki menahan diri daripada menipu, mengeluarkan kata-kata buruk atau sia-sia, serta bertengkar atau bergaduh. Ini kerana puasa merupakan medan latihan memupuk kesabaran, kejujuran serta bertolak ansur sesama sendiri. Secara tidak langsung amalan puasa akan menyuburkan sikap murni di dalam diri pelakunya. Adalah menjadi harapan kita agar kesemua nilai yang baik ini akan terus dipraktikkan ke bulan-bulan berikutnya.

Dalil

Firman Allah S.W.T: “ Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa. “ - (Surah Al-Baqarah: 183)}}
Hadis Rasulullah s.a.w: Ditegaskan oleh Rasulullah s.a.w melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh Ahmad, An- Nasa'i dan Al Baihaqi dari Abu Hurairah, yang bermaksud:
|" Sesungguhnya telah datang kepada kamu bulan Ramadhan bulan yang penuh berkat. Allah telah fardhukan ke atas kamu berpuasa padanya. Sepanjang bulan Ramadhan itu dibuka segala pintu Syurga dan ditutup segala pintu neraka serta dibelenggu segala syaitan......."}}

Niat puasa Ramadhan

Tidak wajib dan tidak juga sunat berniat dalam bahasa Arab, memadai dalam bahasa Melayu atau apa-apa bahasa yang kita fahami. Tetapi baik dan berpahala jika diamalkan dalam bahasa Arab dengan niat kita cinta kepada bahasa Arab sebagai bahasa Nabi Muhammad s.a.w. dan bahasa Al-Quran.

Lafaz niat

Lafaz setiap malam. Niat ringkas:
نَوَيْتُ صَوْمَ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Niatnya: Sahaja aku puasa Ramadhan kerana Allah Taala.
Lafaz lengkap:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Niatnya: Sahaja aku puasa esok hari pada bulan Ramadhan tahun ini kerana Allah Taala.
  • Sebenarnya bangun untuk bersahur itu sudah dikira berniat untuk berpuasa.
Lafaz niat puasa Ramadhan sepenuhnya untuk sebulan:
Lafaznya:
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ كِلِّهِ لِلَّهِ تَعَالَى
Niatnya: Sahaja aku berpuasa sebulan Ramadhan tahun ini kerana Allah Taala.
  • Digalakkan berniat puasa untuk sebulan dengan sekali niat pada malam pertama Ramadhan bagi mengelakkan daripada tidak sah puasa kerana terlupa berniat pada malamnya, kita mengikut Imam Malik yang membolehkan berniat untuk sebulan sekali gus.
  • Namun begitu, jika puasa Ramadhan kita terputus oleh sesuatu sebab, seperti haidh, sakit atau lain-lain, maka niat puasa sebulan itu tidak lagi memadai untuk hari-hari puasa yang seterusnya, tetapi, hendaklah diperbaharui niat apabila tidak ada lagi perkara yang menghalang daripada puasa berturut-turut tersebut. Maksudnya, dengan memperbaharui niat sekali lagi bagi semua hari-hari puasa Ramadhan yang berbaki, iaitu niatnya:
“Sahaja aku berpuasa esok dan sehingga akhir Ramadhan ini kerana Allah Ta’ala”.

Waktu berniat

Waktu berniat bermula daripada terbenam matahari, yakni masuk waktu sembahyang fardhu Maghrib hinggalah sebelum terbit fajar shadiq (waktu Subuh). Oleh itu, bolehlah dilakukan niat puasa pada mana-mana bahagian daripada waktu tersebut, walaupun semasa berbuka.

Hukum puasa

Puasa Wajib

  1. Puasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu daripada Rukun Islam. Syariat puasa Ramadhan difardhukan kepada umat Muhammad s.a.w. pada tahun ke-2 Hijrah. Makanya, wajiblah ia dilakukan oleh semua orang Islam.
  2. Puasa Kifarah.
  3. Puasa qadha
  4. Puasa Nazar.

Puasa Sunat

Hari-hari berikut disunatkan berpuasa bagi umat Islam:
  1. Puasa enam hari pada bulan Syawal
  2. Puasa pada Hari Arafah pada 9 Zulhijjah, namun menurut Ahli Sunah Waljamaah (Sunni), berpuasa pada 9 Zulhijjah adalah haram bagi orang yang menunaikan ibadah Haji. Berpuasa pada 9 Zulhijjah juga adalah dilarang dalam Mazhab Syiah.
  3. Puasa pada Hari Asyura pada 10 Muharam
  4. Puasa pada Hari Isnin dan Khamis
  5. Puasa pada 13, 14, 15 haribulan pada setiap bulan Islam Hijrah. Pada tarikh-tarikh tersebut bulan akan berada dalam keadaan amat jelas kelihatan serta purnama penuh. Juga dikenali sebagai Puasa Hari Putih.

Puasa Haram

Rencana utama: Tempoh haram puasa
  1. Puasa pada Hari Syak pada hari 30 Syaaban
  2. Puasa pada Hari Raya Aidil Fitri pada 1 Syawal
  3. Puasa pada Hari Raya Aidil Adha pada 10 Zulhijjah
  4. Puasa pada Hari Tashriq pada 11, 12, 13 Zulhijjah
  5. Puasa perempuan haid & Nifas
  6. Puasa pada Hari Arafah yakni pada 9 Zulhijjah, larangan berpuasa menurut Mazhab Syiah, tetapi berpuasa pada hari tersebut adalah sunat bagi Muslim yang mengikuti Mazhab Ahli Sunah Waljamaah, namun menurut pandangan Ahli Sunah Waljamaah juga, haram berpuasa pada hari tersebut bagi orang yang menunaikan Haji di Arafah.
  7. Puasa sunat seorang perempuan tanpa izin suaminya
  8. Puasa bagi orang yang bimbang berlakunya mudharat ke atas dirinya kerana berpuasa
  9. Puasa untuk orang lain dan yang ghaib serta tidak diniatkan kepada Allah SWT

Syarat wajib puasa

Orang-orang Islam yang memenuhi syarat-syarat di bawah ini diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan:
  • Berakal/waras
  • Baligh (cukup umur)
  • Mampu/tidak uzur.

Syarat sah puasa

Manakala syarat puasa itu diterima di dalam Islam (sah) ialah:
  • Orang Islam
  • Berakal - tidak sah jika gila atau kanak-kanak belum mumayyiz
  • Suci daripada haid dan nifas
  • Dalam waktu yang dibolehkan berpuasa, iaitu bukan dalam tempoh haram puasa.

Rukun puasa

Rukun puasa ada dua, iaitu:
  • Berniat pada malam harinya
  • Menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa mulai terbit fajar hingga terbenam matahari.

Sunat puasa

Perkara-perkara berikut disunatkan ketika berpuasa:
  • Makan sahur serta melambatkannya
  • Menyegerakan berbuka dan sunat berbuka dengan buah kurma atau benda-benda yang manis atau air
  • Menjamu orang-orang berbuka puasa
  • Memperbanyakkan ibadah dan berbuat kebaikan.

Perkara yang membatalkan puasa

Manakala perkara-perkara berikut akan membatalkan puasa jika terjadi:
  • Makan dan minum dengan sengaja walaupun pada nilaian dan kadaran yang sedikit pun,seperti memakan saki baki makanan kecil yang terlekat pada celah gigi dan lain-lain lagi.
  • Muntah dengan sengaja
  • Bersetubuh atau keluar air mani dengan sengaja
  • Keluar darah haid atau nifas
  • Gila (hilang akal)
  • Pitam(termasuk pengsan) atau mabuk sepanjang hari.
  • Merokok disiang hari.(Termasuk menghisap ganja atau dadah)
  • Murtad (keluar dari Islam)
  • Memasukkan sesuatu ke dalam rongga terbuka seperti menyembur pewangi atau menyegar mulut dan sebagainya.Larangan ini tidak termasuk memasukkan air atau udara kedalam rongga terbuka kerana ingin berwuduk atau melegakan kesakitan dan ketidakselesaan pada rongga(dengan syarat air tersebut tidak diminum atau ditelan dengan sengaja).

Mereka yang diizinkan berbuka

Terdapat kelonggaran (harus) kepada golongan yang berikut untuk berbuka:
  • Orang yang sakit .
  • Orang yang berkerja buruh.
  • Orang yang dalam musafir (perjalanan).
  • Orang tua yang sudah lemah.
  • Orang yang hamil dan ibu yang menyusukan anak.

Doa buka puasa

اللهم لك صمت وبك امنت وعلى رزقك أفطرت
Ya Allah, Aku telah berpuasa untuk Kau dan pada Kaulah aku mempercayai dan aku membuka puasa dengan apa yang Kau berikan

Tingkatan Puasa

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam bukunya Ihya al-'Ulumuddin telah membahagikan puasa itu kepada 3 tingkatan:
  1. Puasanya orang awam (shaum al-'umum): menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa seperti makan dan minum.
  2. Puasanya orang khusus (shaum al-khusus): turut berpuasa dari panca indera dan seluruh badan dari segala bentuk dosa.
  3. Puasanya orang istimewa, super khusus (shaum al-khawasi al-khawas): turut berpuasa 'hati nurani', iaitu tidak memikirkan sangat soal keduniaan
Pembahagian di atas memberikan umat Islam ruang untuk berfikir dan menelaah tingkat manakah mereka berada.

Kerugian meninggalkan puasa Ramadhan

Pahala puasa Ramadhan amat besar. Orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja, bukan saja telah melakukan satu dosa besar, bahkan dia mengalami satu kerugian yang amat besar, satu hari puasa yang ditinggalkan tersebut tidak boleh ditebus dengan apa jua cara, tidak boleh ditukar ganti, sekalipun orang yang meninggalkannya berpuasa seumur hidupnya. Ini jelas sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam: Maksudnya: “Sesiapa berbuka satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada rukhshah (uzur syarak) dan tidak juga kerana sakit, dia tidak akan dapat menggantikan puasa yang ditinggalkannya itu, sekalipun dia berpuasa seumur hidup.” (Hadis riwayat Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

Pautan Luar



Solat Sunat Tarawih

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.



Solat Sunat Tarawih adalah satu jenis solat sunat yang dikerjakan semasa Bulan Ramadan.

Latar Belakang

Tarawih menurut asal katanya ialah duduk untuk istirahat setelah mengerjakan sembahyang empat rakaat. Setiap empat rakaat dinamakan tarawih adalah sebagai majaz, kerana adabnya istirahat sesudahnya. Erti Tarawih ialah duduk bersenang-senang atau beristirahat. Solat Tarawih bererti solat dengan rasa senang dan kelapangan hati selepas solat fardhu Isya'. Biasanya jemaah duduk berehat setelah mengerjakan empat rakaat solat Tarawih dan membaca zikir ataupun doa sebelum disambung semula dengan empat rakaat lagi, sehingga cukup 8 ataupun dua puluh rakaat.
Tarawih itu disebut juga dengan Qiyamu Ramadan. Sembahyang Tarawih dikerjakan setelah mengerjakan sembahyang Isyak dan waktunya berpanjangan sehingga akhir malam.

Dalil

Rasulullah S.A.W. sangat menggalakkan sembahyang Tarawih. Abu Hurairah berkata; “Rasulullah S.A.W. sangat menggalakkan sembahyang tarawih sekali pun beliau tidak mewajibkannya.” Beliau bersabda: “Sesiapa yang mengerjakan Qiyamu Ramadan semata-mata kerana iman dan mengharap ganjaran dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang lampau.” Qiyamu Ramadan ialah menghidupkan malamnya dengan mengerjakan sembahyang.
Aisyah r.a. berkata; “Rasulullah s.a.w mengerjakan sembahyang tarawih di masjid, kemudian ramai sahabat-sahabat yang mengikutnya. Pada malam berikutnya baginda S.A.W. mengerjakannya lagi di masjid, sahabat-sahabat yang datang pun semakin ramai. Pada malam ketiga sahabat-sahabat berkumpul di masjd menunggu kedatangan Rasulullah S.A.W. tetapi beliau tidak hadir. Besok paginya Rasulullah berkata kepada mereka; “Sesungguhnya aku melihat sambutan kamu. Sebenarnya aku tidak datang pada malam itu hanya kerana takut sembahyang itu diwajibkan ke atas kamu.” Dan peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadan.

Hukum

Hukum mengerjakan sembahyang tarawih adalah sunat muakkad (sunat yang sangat dituntut) bagi dikerjakan oleh orang-orang Islam lelaki dan perempuan pada tiap-tiap malam bulan Ramadan sama ada secara berseorangan atau berjemaah. Sembahyang tarawikh lebih afdal dikerjakan secara berjemaah di masjid, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah S.A.W.
Menurut Imam Al Ghazali dalam buku Rahsia-Rahsia Solat, walaupun solat terawih boleh dilaksanakan secara sendirian tanpa berjemaah, solat terawih yang dilakukan secara berjemaah lebih afdal, sama seperti pendapat Umar r.a. yang mengingatkan bahawa sebahagian solat nawafil telah disyariat dalam solat berjemaah. Solat terawih termasuk solat Tahajjud atau shalatul lail dengan membaca al-Fatihah pada setiap rakaat dan membaca ayat-ayat atau surah daripada al-Quran.

Cara Solat Tarawih

Waktu sembahyang Tarawih ini ialah selepas menunaikan sembahyang Fardhu [Isyak] sehinggalah ke larut malam. Sembahyang Terawih ditunaikan dengan kumpulan dua rakaat, pada tiap-tiap satu kali takbiratul-ihram kemudiannya dilakukan lagi sehingga genap rakaat yang dikehendaki. Rukun sembahyang sunat Tarawih ini sama sahaja dengan rukun sembahyang yang lain.
Solat sunat Tarawih tidak perlu dibuat sebaik sahaja selesai menunaikan solat Isyak. Sebaliknya, pengamal boleh melewatkan menunaikan solat sunat Tarawih mengikut pilihan, kerana solat sunat tarawih boleh dibuat sehingga sebelum solat Subuh. Biasanya di Malaysia, solat Tarawih dimulakan selepas jemaah selesai menunaikan solat sunat dua rakaat selepas solat Isyak. Sembahyang Tarawih dilakukan dengan Imam menyaringkan bacaan seperti mana bacaan semasa solat [Subuh].
Lafaz Niat Sembahyang Tarawih:
Solat sunat39.gif
Bermaksud: Sahaja aku sembahyang Tarawih dua rakaat makmum kerana Allah Taala.
Walaupun demikian, ada beberapa cara dalam mengerjakan solat Tarawih, salah satunya dengan formasi 2 kali 4 rakaat masing masing dengan sekali salam setiap selesai 4 rakaat. Oleh kerana itu, dalam niat solat Tarawih, niatnya disesuaikan menjadi "arbaa raka'ataini".

Bilangan Rakaat


Umat islam menunaikan sembahyang tarawih di bulan Ramadan
Pada zaman Rasulullah S.A.W., sembahyang Tarawih dikerjakan sebanyak 8 rakaat saja supaya tidak menimbulkan sesuatu keberatan. Rasulullah S.A.W. juga tidak memberatkan solat ini ditunaikan di masjid kerana tidak mahukan sahabat berfikiran solat ini solat yang wajib. Pada zaman Khalifah Umar bin Al-Khattab pula beliau menambah lagi menjadikan 20 rakaat kerana beliau berpendapat bahawa orang-orang Islam pada zamannya itu tidak keberatan lagi menunaikan sembahyang sebanyak itu.
Sembahyang ini juga dibuatkan sebanyak 20 rakaat dan ditambah 3 rakaat sembahyang witir. Pada umumnya masyarakat Islam di Malaysia mendirikan sembahyang Tarawih sebanyak 20 rakaat dengan ditambah dengan 3 rakaat sembahyang witir.
Sembahyang tarawikh boleh dibuat sebanyak lapan rakaat, sesuai dengan keterangan Aisyah r.a. : “Rasulullah S.A.W. tidak pernah mengerjakan sembahyang sunat, bulan Ramadan atau bulan lainnya, lebih dari empat rakaat, kemudian beliau kerjakan lagi empat rakaat (Jangan tanya tentang baik dan panjangnya), kemudian beliau tambah lagi tiga rakaat yakni witir.” Riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim; “Rasulullah mengerjakannya sebelas rakaat, temasuk di dalamnya sembahyang witir.”
Dalam isu bilangan rakaat yang harus dilakukan dalam solat tarawikh, Rasulullah SAW tidak pernah menetapkan berapa rakaat yang perlu dilakukan. Malahan Rasulullah menggalakkan umatnya untuk bersolat sunat berterus-terusan tanpa ada batasan. Imam Bukhari dan Muslim dalam Kitab Sahihnya merekodkan bahawa Ibnu Umar berkata, “Rasulullah bersabda: Bersolatlah kamu dua rakaat-dua rakaat (berulang-ulang) dan jika kamu bimbang akan terbitnya waktu subuh maka bersolatlah witir satu rakaat sebagai penutup”.
Ahli Madinah yang tahu mengenai perkara ini, tidak pernah mengehadkan jumlah rakaat dalam solat tarawih mereka. Menurut Imam Malik pada zaman beliau iaitu di penghujung kurun pertama dan awal kurun kedua Hijrah, beliau dapati ahli Madinah melaksanakan solat tarawih dengan bilangan 36 rakaat dan tiga rakaat witir.
Kenyataan ini disokong Daud bin Qois iaitu seorang tabien di dalam Fathul Bari, yang dinukil Imam Ibnu Hajar As-qolani. Beliau berkata, “Aku menjumpai orang pada zaman pemerintahan Aban Ibnu Usman dan Umar Ibnu Aziz di Madinah. Mereka melaksanakan solat tarawih dengan 36 rakaat dan tiga rakaat witir.[1]
Di Masjidil Haram di Makkah, sembahyang terawih dilakukan dengan diikuti oleh jemaah yang besar. Kebiasaannya imam membaca satu juzuk al-Quran pada setiap kali tarawih dan menamatkan seluruh al-Quran (30 juzuk) pada malam ke-29 Ramadan.

Kelebihan Sembahyang Tarawih

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Saya telah mendengar sabda Rasulullah s.a.w. mengenai Ramadan: Sesiapa yang mendirikan sembahyang (Tarawih) dalam bulan itu dengan penuh keimanan dan mengharapkan keredaan Allah, akan diampunkan segala dosa yang dilakukannya sebelum itu.

Rujukan

  1. http://www.rakanmasjid.com/artikel/25-lain-lain/406-rasulullah-tidak-menetapkan-jumlah-rakaat-solat-tarawih.html Rasulullah tidak menetapkan jumlah rakaat solat tarawih

Pautan luar

SOLAT WITIR
Solat Sunat Witir merupakan solat sunat yang dilakukan selepas solat Isyak, kebiasaannya dirangkaikan dengan solat Sunat Tarawih. Rasulullah saw, bersabda yang bermaksud: "Sesungguhnya Allah itu witir (ganjil), dan Dia menyukai witir, maka lazimkanlah solat witir, wahai ahli Al-Quran." HR Abud Dawud dan Tirmizi.
Bilangan rakaatnya ialah ganjil iaitu 1, 3, 5, 7, 9 atau 11 rakaat. Biasanya dilaksanakan secara berjemaah juga boleh secara bersendirian.
Witr2.jpg
Niatnya : Sahaja aku sembahyang sunat witir 2 rakaat kerana Allah Taala.

Witr1.jpg
"Sahaja Aku solat sunnat witir satu rakaat kerana Allah Taala"
  • Selepas salam, bangun lagi dan sembahyang witir 1 rakaat.
  • Perbanyakkan berdoa kepada Allah dengan penuh rasa kehambaan, rendah diri, meminta-minta, merintih-rintih, agar Allah ampunkan dosa-dosa kita, taubat kita, terima amalan kita, memperkenankan doa dan permintaan kita.
Zikir Selepas Solat Witir
ZikirsolatWitir.jpg

Doa Solat Witir
DoasolatWitir.jpg
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keredhaanMu daripada kemurkaanMu, dan aku berlindung dengan kemaafanMu daripada balasanMu, dan aku berlindung denganMu seperti pujiMu sendiri ke atas diriMu. Maka segala pujian dan sanjungan sehingga Engkau redhai."


panduan solat tarawih dan witir



SOLAT TARAWIHSolat Tarawih dalam bulan Ramadhan ialah solat Tahajjud atau shalatul lail yang dilakukan pada malam-malam bulan lainnya. Sesudah membaca Al Fatihah pada setiap rakaat, lalu membaca ayat-ayat atau surah dari Al Quran . Bilangan rakaat shalat Tarawih sesuai sunnah Rasulullah s a.w. ialah 11 rakaat; terdiri dari 8 rakaat solat Tarawih dan 3 rakaat solat Witir. Sementara Umar bin Khatab r.a. mengerjakannya 20 rakaat dengan ditambah witir 3 rakaat. Solat tarawih termasuk sunnah muakkad, boleh dikerjakan dengan berjamaah boleh juga sendiri.

Menurut pendapat Al Ghazali, dalam bukunya "Rahasia-rahasia Shalat", walaupun dapat dikerjalan sendiri tanpa berjamaah, solat Tarawih yang dilakukan secara berjama'ah lebih afdhal, sama seperti pendapat Umar r.a., mengingat bahawa sebagian solat nawafil telah disyariatkan dalam jama'ah, maka yang ini pun pantas dimasukkan ke dalam kelompok tersebut. Sedangkan alasan kekhawatiran timbulnya riya bila berjamaah, atau pun kemalasan bila sendirian, sudah jelas menyimpnag dari tujuan keutamaan berkumpul dalam suatu jama'ah. Barangkali, orang yang berpegang pada alasan tersebut ingin berkata bahawa melakukan solat lebih baik daripada meninggalkannya kerana malas, dan bahawa kemalasan (bila sendirian) lebih baik daripada riya (jika solat jamaah). Demikian menurut Al Gazhali.

Cara Mengerjakan

2x4 rakaat + Witir, yaitu setiap 4 rakaat 1 kali salam, ditambah dengan witir 3 rakaat 1 kali salam.

4x2 rakaat + 3 rakaat witir, yaitu setiap 2 rakaat 1 kali salam, ditambah dengan witir 3 rakaat 1 kali salam.

Waktu solat Tarawih ialah sejak selesai solat Isya hingga terbit fajar

Sabda Rasulullah s.a.w :
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يرغب في قيام رمضان من غير أن يأمر فيه بعزيمة فيقول ، من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه .
Maksudnya : “Adalah Rasulullah s.a.w menganjurkan untuk mengerjakan solat pada malam bulan Ramadan tetapi tidak mewajibkannya. Baginda bersabda barang siapa bangun pada bulan Ramadan (mengerjakan solat tarawih) dengan rasa iman dan mengharapkan keredhaan Allah maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”.
Cara yang mengerjakan solat tarawih ialah dengan melakukan 2 rakaat demi 2 rakaat.
NIATNYA
أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Maksudnya : Sahaja aku menunaikan solat Terawih 2 rakaat kerana Allah Taala.


SOLAT WITIR
Jumlah rakaat bagi witir ialah ganjil. Paling sedikit 1 rakaat dan yang paling banyak 11 rakaat. Waktu untuk mengerjakan solat ini ialah selepas solat isyak sehingga terbit fajar.
Hadis yang diriwayatkan dari Aisyah, yang bermaksud :
“Adalah Nabi s.a.w solat di antara solat Isyak dengan terbit fajar sebelas rakaat, Baginda memberi salam tiap-tiap dua rakaat dan yang penghabisannya satu rakaat”
Mafhumnya bahawasanya Rasulullah s.a.w mengerjakan solat witir (sekiranya 11 rakaat) maka bilangan salamnya ialah 6 salam.
NIATNYA
أُصَلِّي سُنَّةَ الوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ/ رَكْعَةً لِلَّهِ تَعَالَى
Maksudnya : Sahaja aku menunaikan solat Witir 2 rakaat kerana Allah Taala.
Adapun doa yang dibaca sesudah solat witir ialah :
سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّنَا رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفو ، فَاعْفُ عَنِّي
Maksudnya : “Yang diucapkan Maha Suci bagiNya, Yang Maha Suci, dan Tuhan kami, malaikat dan roh. Ya Allah ! Sesungguhnya Engkau Pengampun, suka kepada pengampunan, ampunilah akan daku”
Atau bacalah doa ini :
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا دَائِْمًا ، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا . وَنَسْأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا ، وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا ، وَنَسْأَلُكَ خَيًْرا كَثِيْرًا ، وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ ، وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ ، وَنَسْأَلُكَ الْشُكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَاءَ عَنِ الْنَّاسِ . اللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا الله يَا الله يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن . وَصَلى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Maksudnya : “Ya Allah ! Ya Tuhan kami, kami memohon kepada-Mu iman yang kekal, kami memohon kepada-Mu hati yang khusyuk, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, kami memohon ditetapkan keyakinan yang benar, kami memohon (dapat melaksanankan) amal yang soleh, kami memohon kepada-Mu tetap dalam agama Islam, kami memohon kepada-Mu kebaikan yang melimpah ruah, kami memohon kepada-Mu keampunan dan kesihatan, kami memohon kepada-Mu kesihatan yang sempurna, kami memohon kepada-Mu kesyukuran di atas kesihatan yang Engkau berikan, dan kami memohon kepada-Mu kecukupan, Ya Allah, Tuhan kami, terimalah daripada kami Solat kami, puasa kami, qiam kami, khusyuk kami, pengabdian kami, sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama solat ya Allah, ya Allah, ya Allah Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”
Atau baca doa ini :
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفو ، فَاعْفُ عَنِّي ، اللهم إنا نسألك رضاك والجنة ونعوذ بك من سخطك والنار .
Maksudnya : “Ya Allah ! Sesungguhnya Engkau Pengampun, suka kepada pengampunan, ampunilah akan daku, Ya Allah kami memohon kepada-Mu keredhaan-Mu dan syurga dan kami berlindung dengan-Mu dari kemurkaan-Mu dan neraka”


Solat Sunat Witir

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Solat Sunat Witir merupakan sunat muakkad yang amat penting dan digalakkan melakukannya. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam sentiasa melakukan solat Witir dan solat sunat Fajar, baik ketika Baginda bermukim ataupun ketika bermusafir.
.
Ada riwayat yang mengatakan bahawa Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkan Solat Witir walaupun sekali. Sabda Rasullulah Sallallahu Alaihi Wasallam dari Abu Hurairah:  “Sesiapa yang tidak berwitir, maka bukanlah dia termasuk golongan kami.”  (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud)
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda lagi: “Sesungguhnya Allah SWT. menganugerahkan kepada kamu solat yang lebih baik daripada bersedekah beberapa ekor unta yang sempurna dan baik iaitu Solat Witir.”  (Hadis Riwayat al-Turmudzi dan al-Hakim r.a.)
.
Dinamakan ‘Solat Sunat Witir’ kerana bilangan rakaatnya ganjil.  Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam“Wahai ahli Al-Quran, kerjakanlah Solat Witir sebab Allah itu Witir (Ganjil / Maha Esa) dan suka sekali kepada ganjil.”   (Riwayatkan oleh Ahmad Ash hab al-Sunan, al-Turmudzi dan Hakim).
Solat Witir boleh dikerjakan 1 rakaat, 3, 5, 7, 9 atau paling banyak 11 rakaat. Ia dilakukan dua-dua rakaat dan diakhiri dengan 1 rakaat, atau  berakhir  3 rakaat (1 tahiyyat 1 salam).
.
.

Witir Penutup Solat

.
Solat Witir dilakukan setelah solat Isyak hingga menjelang fajar (subuh). Ia dapat dikerjakan sebagai pelengkap solat Tahajjud atau solat Tarawih. Ia sebagai penutup segala solat yang dilakukan hingga menjelang Subuh.
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Akhirilah solat malammu itu dengan Solat Witir.”   (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim r.a.)
.
Sekiranya dirasa tidak akan terbangun mengerjakan solat Tahajjud lagi, maka bolehlah terus mengerjakan solat Witir sesudah mengerjakan solat Isyak.
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesiapa yang berasa dirinya tidak mampu untuk bangun pada penghujung malam, sebaiknya mengerjakan solat witir pada awal malam, tetapi bagi sesiapa yang berasa dirinya mampu dan yakin akan dapat bangun pada penghujung malam, sebaiknya mengerjakan solat witir pada akhir malam, kerana solat pada akhir malam itu akan dihadiri oleh para malaikat dan itulah yang lebih utama.”  (Hadis riwayat Ahmad, Muslim, Termizi dan Ibnu Majah)
.
.

 Fadhilat Solat Witir

1.     Orang yang mengamalkannya akan turut disaksikan oleh para Malaikat.
2.     Solat Witir lebih utama daripada solat-solat sunat Rawatib yang lain.
3.     Menurut sunnah yang akan memperolehi syafaat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam di akhirat kelak.
.
.

Cara Melaksanakannya:

.
1.  Lafaz niatnya pada setiap dua rakaat pertama:
Sahaja daku solat sunat Witir dua raka’at kerana Allah Ta’ala
.
2.  Bacaan selepas Fatihah:
Raka’at pertama: Surah Al-A’laa
Raka’at kedua: Surah  Al-Kafiruun
.
3.  Sesudah salam, terus berdiri untuk mengerjakan satu lagi raka’at Witir.
.
4.  Lafaz niat pada satu rakaat terakhir:
Sahaja daku solat sunat Witir satu raka’at kerana Allah Ta’ala.
.
5.  Selepas Al-Fatihah pada rakaat terakhir;
Dibaca surah Al-Ikhlas,Al-Falaq dan An-Naas (Muawwidzatain).
.
Al-Nasa’i meriwayatkan daripada Ka’ab r.a., ia berkata:  “Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam membaca dalam solat Witir dengan Surah Al-A’laa, Al-Kafiruun dan Al-Ikhlas.”
.
Hadis Sunan At-Termizi Jilid 1. Hadis Nombor 0461.
Ishaq bin Ibrahim bin Habib bin Syahid Al Bushri menceritakan kepada kami, Muhammad bin Salamah Al Harrani memberitahukan kepada kami dari Khusaif dari Abdul Aziz bin Juraij berkata: “Saya bertanya kepada Aisyah, membaca surat apa ketika Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam mengerjakan solat witir?” Aisyah menjawab: “Baginda membaca pada rakaat pertama dengan: ‘Sabbihisma Rabbikal A’laa’, ‘Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun’ pada rakaat kedua dan ‘Qul Huwallaahu Ahad’ dan ‘Muawwidzatain’ pada rakaat ketiga.”
.
.
WIRID DAN DOA SELEPAS SOLAT WITIR
.
1. Selesai mengerjakan Solat Witir disunatkan mengucapkan:
Maha Suci Tuhan Yang Maha Kudus (Suci)  (3 kali).
Zikir ini dibaca tiga kali dan pada kali yang ketiga hendaklah menaikkan suara. “Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam setelah salam dari solat witir berkata: Subhanallah Malikil Qudduus tiga kali dan meninggikan suaranya pada zikir yang ketiga.” (Hadis dari Ubay bin Ka’ab)
.
2. Kemudian dibaca 1 kali kalimah berikut:
Tuhan Yang Menguasai malaikat dan roh.
3.  Boleh dibaca doa-doa berikut:
Ya Allah! Bahawasanya Dikaulah Tuhan yang memberi keampunan dan Dikaulah Tuhan yang suka memberikan keampunan. Oleh itu ampunilah daku. (3x).
Ya Allah! Sesungguhnya daku memohon Keredhaan-Mu dan hindarkanlah daku dari Kemurkaan-Mu dan dari api neraka. (3x).
4. Adakalanya Rasulullah SAW membaca doa:

.
5.  Diakhiri dengan Doa Solat Sunat Witir

.
.

Hukum Tangguh Witir ~ Harus

  1. Harus seseorang itu melakukan solat witir sebanyak dua rakaat saja dan simpan satu rakaat lagi untuk dilakukan selepas solat sunat lain pada tengah malam.
  2. Harus juga menangguhkan Solat Witir untuk dijadikan penutup selepas solat sunat lain pada tengah malam.
  3. Jika seseorang itu melakukan solat Witir selepas Tarawih kerana mahu mendapatkan pahala jemaah, dibolehkan baginya untuk solat sunat lain ketika bangun tengah malam, tetapi dilarang mengulangi solat witir lagi. Sabda  Rasullulah Sallallahu Alaihi Wasallam: “Tidak ada dua witir pada satu malam.”
.
Imam Ahmad berkata: “Sesiapa meninggalkan solat witir, maka dia seorang lelaki yang buruk dan tidak wajar untuk menerima persaksiannya.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ بِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ.

Daripada Abu Hurairah, katanya, “Telah berpesan kepadaku temanku (Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam) tiga pesanan: Puasa 3 hari setiap bulan, solat Dhuha 2 rakaat dan  solat Witir sebelum tidur.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan Thabarani).
.
.

والله أعلم بالصواب

 (Hanya Allah Maha Mengetahui apa yang benar)


Solat Sunat Tarawih

Tarawih bererti ‘istirehat’ manakala solat Tarawih pula bermaksud solat yang merehatkan. Dalam melaksanakannya, disunatkan duduk sebentar selepas salam sambil memperbanyak zikir pada setiap rakaat keempat dan dikerjakan dalam keadaan tenang, tenteram dan tidak tergesa-gesa menyelesaikannya.
Solat Tarawih adalah sunat muakkad yang boleh dilakukan secara berjemaah atau sendirian sama ada di rumah atau masjid pada malam-malam bulan Ramadan, di antara waktu selepas solat Isyak hingga ke sebelum fajar.
Rasulullah SAW. bersabda; “Allah SWT. menetapkan kewajipan puasa kepada kamu dan disunatkan kepada kamu solat pada malam harinya. Sesiapa berpuasa pada siang hari dan melakukan solat pada malam harinya kerana iman dan mengharapkan keredaan-Nya maka ia kelak bersih dari dosa-dosanya seperti seorang bayi yang dilahirkan ibunya”.
Solat Tarawih boleh dilaksanakan dengan cara satu salam pada setiap dua rakaat sebanyak tak kurang 4 kali dan disambungkan dengan solat Witir tiga rakaat atau boleh juga dilakukan 2 kali empat rakaat berdasarkan hadis daripada Aisyah yang berkata: “Rasulullah SAW tidak pernah mendirikan solat malam melebihi 11 rakaat, baik pada Ramadhan mahupun bulan lainnya, beliau mendirikan empat rakaat yang sangat panjang, kemudian empat rakaat lagi yang panjang, selepas itu solat tiga rakaat.” (Riwayat Bukhari).
.
.
TUJUAN
  1. Solat Tarawih adalah ibadah untuk menghidupkan malam Ramadan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
  2. Menggunakannya untuk menghafal kembali surah al-Quran.
  3. Mengharapkan kerahmatan dan keampunan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesiapa yang melakukan solat malam pada Ramadan kerana keimanan dan mengharapkan keredaan dan keampunan Allah semata-mata, maka diampunkan segala dosanya yang lalu.”  Riwayat al-Bukhari dan Muslim.
.
.
BACAAN SURAH
  1. Sebaik-baik surah yang dibaca selepas al-Fatihah pada solat Tarawih ialah satu juzuk daripada al-Quran pada setiap malam seperti kelaziman seseorang yang hafaz al-Quran (al-Hafiz).
  2. Kebanyakan orang biasanya adalah dengan membaca surah-surah lazim:
     
3.  Bermula malam ke 16, boleh juga dibaca mulai daripada surah al-Lail pada rakaat pertama sehingga surah al-Masad, iaitu 20 surah bagi 20 rakaat solat Tarawih.
.
.
CARA MELAKUKAN SOLAT
Cara melakukan solat Tarawih sama seperti solat sunat yang lain. Solat Tarawih dilaksanakan setiap dua rakaat satu salam, ini berlandaskan kepada hadis: “Solat malam (solat Tarawih) adalah dua rakaat, dua rakaat.” (Riwayat Jamaah)
.
1.  Niat:

.
2.  Bacaan Selawat, Tasbih dan Doa Solat Tarawih
Setelah selesai melakukan solat fardu dan solat sunat Ba’diah Isyak, maka bolehlah dimulakan Solat Tarawih dengan bacaan-bacaan berikut.


 
 

.
F.  Baca doa berikut selepas selesai rakaat ke 8 atau ke 20, iaitu rakaat terakhir solat Tarawih.

Doa Solat Tarawih
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَفْضَلَ صَلَوَاتِكَ الَّتِىْ صَلَّيْتَ عَلَيْهِ، يَا ذَاالْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ، يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَرَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، وَرَضِىَ عَنَّا وَوَالِدِيْنَا جَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ.                                                                           
Ya Allah! Rahmatilah dan sejahterakanlah ke atas penghulu kami Muhammad dan ke atas keluarga penghulu kami Muhammad SAW dengan selawat terafdal di mana Dikau berselawat ke atasnya dengan selawat itu; Wahai yang mempunyai Kemuliaan dan Kemurahan, wahai yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!  Dan keredhaan Allah kepada kesemua sahabatnya dan telah redha kepada kami, kedua ibu bapa kami dan keselurahan orang-orang yang beriman.
 
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا بِاْلإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ، وَلِفَرَائِضِكَ مُؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنِ، وَلِلزَّكاَةِ فَاعِلِيْنَ، وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ، وَبِالنُّعَمَاءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلاَيَا صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَاءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ، وَإِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ، وَفِى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرَةِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَبِحُوْرٍعَيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفِّيْنَ شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِيْنٍ، مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ. وَحَسُنَ اُولَئِكَ رَفِيْقًا ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ الله وَكَفَى بِاالله عَلِيْمًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.                                      
Ya Allah! Jadikanlah kami golongan yang imannya sempurna, dapat menunaikan segala kewajipan agama, menjaga solat, menunaikan zakat, menuntut dan mencari segala kebaikan di sisi-Mu, mengharapkan keampunan-Mu, sentiasa berpegang teguh dengan petunjuk-petunjuk-Mu, terhindar dari segala penyelewangan, mencintai keduniaan dikurangkan, terpelihara di akhirat, meredhai ketentuan qadak dan tabah menerima ujian, mensyukuri segala nikmat-Mu dan semoga di akhirat nanti kami dimasukkan sebaris di bawah naungan panji-panji jujungan kami Nabi Muhammad SAW, dapat melalui telaga yang sejuk, dimasukkan ke dalam syurga, terhindar dari api neraka dan duduk  di atas Tahta Kehormatan di dampingi  bidadari syurga dengan memakai pakaian kebesaran dari sutera yang berwarna-warni, menikmati santapan syurga yang lazat, meminum susu dan madu yang suci lagi bersih di dalam gelas-gelas dan kendi yang tidak kering selamanya, bersama-sama dengan orang yang telah Dikau berikan nikmat pada mereka, daripada golongan para nabi, para siddiqin, syuhada dan orang-orang yang soleh dan baik sekali mereka menjadi teman-teman kami. Demikianlah kemurahan dan kecekapan daripada Allah yang Maha Mengetahui dan segala puji bagi Allah Tuhan Seluruh Alam!
 
اَللَّهُمَّ فَارِقِ الْفُرْقَانَ وَمُنْزِلِ الْقُرْآنَ بِالْحِكْمَةِ وَالْبَيَانِ [بَارِكِ اَللَّهُمَّ لَنَا فِىْ شَهْرِ رَمَضَانِ (×3)] وَاعْدَهُ اَللَّهُمَّ عَلَيْنَا سِنِيْنًا بَعْدَ سِنِيْنَ. وَأَعْوَامًا بَعْدَ أَعْوَامٍ عَلَى مَا تُحِيُّهُ وَتَرْضَاهُ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.      
Ya Allah! Yang membezakan batil dan hak, yang menurunkan Al-Quran dengan hikmah serta penjelasan, [berkatilah kami ya Allah di dalam bulan Ramadan ini - (3x)] Kurniakanlah kepada kami ya Allah (Ramadan ini dan Rahmat-Nya), tahun demi tahun atas apa yang Dikau kasihi dan redhai; Wahai yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ فِىْ هَذَهِ اللَّيْلَةِ وَكُلُّ لَيْلَةٍ مِنْ لَيَالِىْ شَهْرِ رَمَضَانِ، عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، فَاجْعَلْنَا اَللَّهُمَّ وَوَالِدِيْنَا وَأَوْلاَدِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَمَشَآيِخِنَا وَمُعَلِّمِيْنَآ وَأَقَارِبِنَا وَأَصْحَابِنَا وَالْحَاضِرِيْنَ وَوَالِدِيْهِمْ مِنْ عُتِقَائِكَ مِنَ النَّارِ. [اَللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ سَآلِمِيْنَ (×3)] وَأَدْخِلْنَا وَإِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ آمِنِيْنَ. [اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفْوٌ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا. (×3)]    
Ya Allah! Sesungguhnya Dikau pada malam ini dan pada setiap malam bulan Ramadan membebaskan ahli-ahli neraka. Maka jadikanlah kami Ya Allah, kedua ibu bapa kami, anak-anak kami, isteri-isteri kami, orang-orang tua kami, guru-guru kami, kaum kerabat kami, sahabat-sahabat kami, orang-orang yang masih hidup dan bapa-bapa kami dari kalangan mereka yang Dikau bebaskan dari neraka. [Ya Allah! Selamatkanlah kami dari api neraka dengan kesejahteraan - (3x)]. Masukkanlah kami dan mereka ke dalam syurga sebagai orang-orang yang sejahtera. [Ya Allah! Sesungguhnya Dikau Maha Pengampun lagi Maha Pemurah, Dikau amat suka mengampunkan, maka ampunilah kami! - (3x)].
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.                                           
Rahmatilah dan sejahterakanlah ke atas semulia-mulia makhluk, penghulu kami Muhammad SAW, ahli keluarganya dan para sahabat Baginda kesemuanya. Segala puji bagi Allah, Tuhan pentadbir seluruh alam!

 .
.

G.   SOLAT SUNAT WITIR

A.   Setelah selesai Solat Tarawih, sebelum meneruskan solat sunat Witir. Bilal akan menyeru:
Kerjakan solat Witir, mudah-mudahan Allah memberi pahala kepada kamu!
.
Disambut jama’ah dengan lafaz;
Bersolatlah. Tiada Tuhan melainkan Allah.
.
.
B.   Cara Melaksanalam 2 Rakaat Pertama
1.  Lafaz niatnya pada setiap dua rakaat pertama:
* Sekiranya solat sendirian, tinggalkan perkataan di dalam kurungan;
Daku solat sunat Witir dua raka’at kerana Allah Ta’ala.
.
.
        2.  Bacaan selepas Fatihah:
             Raka’at pertama: Surah Al-A’laa
             Raka’at kedua: Surah  Al-Kafiruun
.
.
C.  Selawat Selingan
.
  1. Sesudah salam, Bilal membacakan selawat;
  Ya Allah! Kurniailah kesejahteraan ke atas junjungan kami, kekasih kami dan  pemimpin kami Muhammad SAW.
.
      2,  Jama’ah menyambut dengan ucapan;
Ya Allah! Berilah kesejahteraan dan keselamatan ke atasnya (Muhammad SAW).
.
.
D.  Cara Melaksanakan Satu Rakaat Terakhir
.
  1. Jama’ah terus berdiri untuk mengerjakan satu lagi raka’at Witir. Lafaz niat pada satu rakaat terakhir:
* Daku solat sunat Witir satu raka’at kerana Allah Ta’ala.

 .

.
2.  Pada raka’at terakhir, selepas Fatihah, dibaca 3 surah berikut;
    1.  Al-Ikhlas,
    2. Al-Falaq dan
    3. An-Naas.
.
.
E.  Berdoa Qunut
Bermula malam 16 Ramadhan, disunatkan membaca Doa Qunut selepas berdiri tegak dari rukuk, iaitu belum melakukan sujud pertama.

.
.
F.  Berdoa  
  1. Selesai mengerjakan Solat Witir disunatkan mengucapkan tasbih sebelum berdoa:

.
.
2.   Boleh dibaca doa-doa berikut:
.
.
Peringatan
*Lafaz niat di atas boleh digunakan untuk semua orang. Jika menjadi imam atau makmum, pilih salah satu perkataan tersebut dari dalam kurungan.  Jika solat berseorangan perkataan di dalam kurungan tidak perlu dibaca.
*Penentuan sesuatu surah seperti yang disebutkan itu hanyalah untuk memudahkan kita mengingati bilangan rakyat sahaja dan kerana itu seseorang boleh membaca mana-mana surah atau ayat yang diingatnya.
*Begitu juga tentang peraturan berselawat antara rakaat-rakaat  solat sunat  tarawih kerana tujuannya adalah untuk menambahkan lagi ibadat pada bulan yang mulia ini.
.
.
Boleh juga ikut panduan berikut;
                                                                 Solat Sunat Witir Tarawih
.
.
Penutup
Demikianlah cara-cara menunaikan Solat Sunat Tarawih dan Sunat Witir untuk mencari keberkatan, kurniaan dan keampunan Allah pada malam-malam bulan  Ramadhan yang mulia ini dan terpulanglah  kepada individu memilih dan mengikuti cara yang  sesuai  mengikut  kemampuan  dan keikhlasan diri masing-masing..
والسلام
Oleh;
shafiqolbu

Berpuasa merupakan salah satu dari lima Rukun Islam. Puasa menurut syariat artinya menahan diri dari makan & minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam, dan dengan syarat tertentu untuk meningkatkan ketaqwaan seorang muslim. Banyak sekali keutamaan puasa di bulan ramadhan, dan berikut lima keutamaan diantara beberapa keutamaan puasa di bulan ramadhan. 1. Puasa sudah diwajibkan atas umat sebelum kita. Allah SWT berfirman : ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqoroh : 183). Jika puasa bukan sebuah amalan yang agung, maka tidak mungkin puasa juga diwajibkan atas ummat-ummat sebelum kita. walaupun puasa mereka berbeda dengan puasa kita, artinya bukan pada bulan ramadhan yang diwajibkan atas mereka, akan tetapi amalan puasa itu tersendiri telah diwajibkan atas mereka yang menandakan bahwa amalan ini sangatlah agung. 2. Amalan puasa memberi syafaat kepada orang yang mengamalkannya. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Puasa dan Al-Qur’an memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. puasa berkata : Wahai Robb, aku telah menahannya dari makanan dan syahwat maka berikanlah syafaat. Al-Qur’an berkata : Wahai Robb, aku telah menahannya dari tidur dimalam hari maka berilah syafaat. Rosulullah berkata : maka keduanya memberi syafaat.” (HR Ahmad, Ath-Thabrany dan Al-Hakim). 3. Pahala puasa tidak terikat dengan jumlah tertentu. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Semua amalan anak Adam untuknya dan dilipat gandakan setiap satu kebaikan (dianggap) sepuluh kali kebaikan tersebut dan dilipat gandakan menjadi 700 kali. Allah berfirman : Kecuali puasa, karena amalan itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. (disebabkan) meninggalkan sahwatnya dan makanannya demi Aku.” (HR Muslim). 4. Berpuasa adalah media diampuninya dosa-dosa & kesalahan. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan pengharapan (pahala), diampuni dosa-dosa yang telah lampau.” (Muttafaq ‘Alaihi). Jika seseorang telah yakin dan ridho akan kewajibannya berpuasa serta tidak benci atas kewajiban puasa ramadhan, yakin terhadap pahala dan ganjaran yang akan didapat maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. 5. Dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa. Kebahagiaan yang pertama yaitu ketika berbuka puasa setelah menahan nafsu, lapar, dan dahaga selama sehari penuh. Dan kebahagiaan yang kedua yaitu ketika menjumpai Allah SWT di akherat dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Untuk orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan : kebahagiaan ketika berbuka puasa. dan kebahagiaan ketika menemui Tuhannya.” (Muttafaq ‘Alaihi).

Read more at http://uniqpost.com/20456/5-keutamaan-puasa-di-bulan-ramadhan/
Berpuasa merupakan salah satu dari lima Rukun Islam. Puasa menurut syariat artinya menahan diri dari makan & minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam, dan dengan syarat tertentu untuk meningkatkan ketaqwaan seorang muslim. Banyak sekali keutamaan puasa di bulan ramadhan, dan berikut lima keutamaan diantara beberapa keutamaan puasa di bulan ramadhan. 1. Puasa sudah diwajibkan atas umat sebelum kita. Allah SWT berfirman : ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqoroh : 183). Jika puasa bukan sebuah amalan yang agung, maka tidak mungkin puasa juga diwajibkan atas ummat-ummat sebelum kita. walaupun puasa mereka berbeda dengan puasa kita, artinya bukan pada bulan ramadhan yang diwajibkan atas mereka, akan tetapi amalan puasa itu tersendiri telah diwajibkan atas mereka yang menandakan bahwa amalan ini sangatlah agung. 2. Amalan puasa memberi syafaat kepada orang yang mengamalkannya. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Puasa dan Al-Qur’an memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. puasa berkata : Wahai Robb, aku telah menahannya dari makanan dan syahwat maka berikanlah syafaat. Al-Qur’an berkata : Wahai Robb, aku telah menahannya dari tidur dimalam hari maka berilah syafaat. Rosulullah berkata : maka keduanya memberi syafaat.” (HR Ahmad, Ath-Thabrany dan Al-Hakim). 3. Pahala puasa tidak terikat dengan jumlah tertentu. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Semua amalan anak Adam untuknya dan dilipat gandakan setiap satu kebaikan (dianggap) sepuluh kali kebaikan tersebut dan dilipat gandakan menjadi 700 kali. Allah berfirman : Kecuali puasa, karena amalan itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. (disebabkan) meninggalkan sahwatnya dan makanannya demi Aku.” (HR Muslim). 4. Berpuasa adalah media diampuninya dosa-dosa & kesalahan. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan pengharapan (pahala), diampuni dosa-dosa yang telah lampau.” (Muttafaq ‘Alaihi). Jika seseorang telah yakin dan ridho akan kewajibannya berpuasa serta tidak benci atas kewajiban puasa ramadhan, yakin terhadap pahala dan ganjaran yang akan didapat maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. 5. Dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa. Kebahagiaan yang pertama yaitu ketika berbuka puasa setelah menahan nafsu, lapar, dan dahaga selama sehari penuh. Dan kebahagiaan yang kedua yaitu ketika menjumpai Allah SWT di akherat dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Untuk orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan : kebahagiaan ketika berbuka puasa. dan kebahagiaan ketika menemui Tuhannya.” (Muttafaq ‘Alaihi).

Read more at http://uniqpost.com/20456/5-keutamaan-puasa-di-bulan-ramadhan/
Berpuasa merupakan salah satu dari lima Rukun Islam. Puasa menurut syariat artinya menahan diri dari makan & minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam, dan dengan syarat tertentu untuk meningkatkan ketaqwaan seorang muslim. Banyak sekali keutamaan puasa di bulan ramadhan, dan berikut lima keutamaan diantara beberapa keutamaan puasa di bulan ramadhan. 1. Puasa sudah diwajibkan atas umat sebelum kita. Allah SWT berfirman : ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqoroh : 183). Jika puasa bukan sebuah amalan yang agung, maka tidak mungkin puasa juga diwajibkan atas ummat-ummat sebelum kita. walaupun puasa mereka berbeda dengan puasa kita, artinya bukan pada bulan ramadhan yang diwajibkan atas mereka, akan tetapi amalan puasa itu tersendiri telah diwajibkan atas mereka yang menandakan bahwa amalan ini sangatlah agung. 2. Amalan puasa memberi syafaat kepada orang yang mengamalkannya. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Puasa dan Al-Qur’an memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. puasa berkata : Wahai Robb, aku telah menahannya dari makanan dan syahwat maka berikanlah syafaat. Al-Qur’an berkata : Wahai Robb, aku telah menahannya dari tidur dimalam hari maka berilah syafaat. Rosulullah berkata : maka keduanya memberi syafaat.” (HR Ahmad, Ath-Thabrany dan Al-Hakim). 3. Pahala puasa tidak terikat dengan jumlah tertentu. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Semua amalan anak Adam untuknya dan dilipat gandakan setiap satu kebaikan (dianggap) sepuluh kali kebaikan tersebut dan dilipat gandakan menjadi 700 kali. Allah berfirman : Kecuali puasa, karena amalan itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. (disebabkan) meninggalkan sahwatnya dan makanannya demi Aku.” (HR Muslim). 4. Berpuasa adalah media diampuninya dosa-dosa & kesalahan. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan pengharapan (pahala), diampuni dosa-dosa yang telah lampau.” (Muttafaq ‘Alaihi). Jika seseorang telah yakin dan ridho akan kewajibannya berpuasa serta tidak benci atas kewajiban puasa ramadhan, yakin terhadap pahala dan ganjaran yang akan didapat maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. 5. Dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa. Kebahagiaan yang pertama yaitu ketika berbuka puasa setelah menahan nafsu, lapar, dan dahaga selama sehari penuh. Dan kebahagiaan yang kedua yaitu ketika menjumpai Allah SWT di akherat dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Untuk orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan : kebahagiaan ketika berbuka puasa. dan kebahagiaan ketika menemui Tuhannya.” (Muttafaq ‘Alaihi).

Read more at http://uniqpost.com/20456/5-keutamaan-puasa-di-bulan-ramadhan/
Berpuasa merupakan salah satu dari lima Rukun Islam. Puasa menurut syariat artinya menahan diri dari makan & minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam, dan dengan syarat tertentu untuk meningkatkan ketaqwaan seorang muslim. Banyak sekali keutamaan puasa di bulan ramadhan, dan berikut lima keutamaan diantara beberapa keutamaan puasa di bulan ramadhan. 1. Puasa sudah diwajibkan atas umat sebelum kita. Allah SWT berfirman : ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqoroh : 183). Jika puasa bukan sebuah amalan yang agung, maka tidak mungkin puasa juga diwajibkan atas ummat-ummat sebelum kita. walaupun puasa mereka berbeda dengan puasa kita, artinya bukan pada bulan ramadhan yang diwajibkan atas mereka, akan tetapi amalan puasa itu tersendiri telah diwajibkan atas mereka yang menandakan bahwa amalan ini sangatlah agung. 2. Amalan puasa memberi syafaat kepada orang yang mengamalkannya. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Puasa dan Al-Qur’an memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. puasa berkata : Wahai Robb, aku telah menahannya dari makanan dan syahwat maka berikanlah syafaat. Al-Qur’an berkata : Wahai Robb, aku telah menahannya dari tidur dimalam hari maka berilah syafaat. Rosulullah berkata : maka keduanya memberi syafaat.” (HR Ahmad, Ath-Thabrany dan Al-Hakim). 3. Pahala puasa tidak terikat dengan jumlah tertentu. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Semua amalan anak Adam untuknya dan dilipat gandakan setiap satu kebaikan (dianggap) sepuluh kali kebaikan tersebut dan dilipat gandakan menjadi 700 kali. Allah berfirman : Kecuali puasa, karena amalan itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. (disebabkan) meninggalkan sahwatnya dan makanannya demi Aku.” (HR Muslim). 4. Berpuasa adalah media diampuninya dosa-dosa & kesalahan. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan pengharapan (pahala), diampuni dosa-dosa yang telah lampau.” (Muttafaq ‘Alaihi). Jika seseorang telah yakin dan ridho akan kewajibannya berpuasa serta tidak benci atas kewajiban puasa ramadhan, yakin terhadap pahala dan ganjaran yang akan didapat maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. 5. Dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa. Kebahagiaan yang pertama yaitu ketika berbuka puasa setelah menahan nafsu, lapar, dan dahaga selama sehari penuh. Dan kebahagiaan yang kedua yaitu ketika menjumpai Allah SWT di akherat dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : ”Untuk orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan : kebahagiaan ketika berbuka puasa. dan kebahagiaan ketika menemui Tuhannya.” (Muttafaq ‘Alaihi).

Read more at http://uniqpost.com/20456/5-keutamaan-puasa-di-bulan-ramadhan/

IKTIKAF


Jenis-jenis iktikaf

Iktikaf yang disyariatkan ada dua bentuk; pertama sunat, dan kedua wajib.
Iktikaf sunnat iaitu yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk bertaqorrub kepada Allah SWT seperti; iktikaf 10 hari terakhir bulan Ramadan.
Dan iktikaf yang wajib iaitu yang didahului dengan nazar (janji), seperti: "Kalau Allah SWT menyembuhkan penyakitku ini, maka aku akan beriktikaf.

Waktu iktikaf

Iktikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinazarkan, sedangkan iktikaf sunat tidak ada batasan waktu tertentu, bila-bila saja pada malam atau siang hari, waktunya boleh lama atau singkat.
Ya'la bin Umayyah berkata: " Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk beriktikaf."

Syarat-syarat iktikaf

Orang yang iktikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
  1. Muslim
  2. Berakal
  3. Suci dari janabah (junub), haid dan nifas.
Oleh kerana itu, iktikaf tidak sah bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz (mampu membezakan), orang junub, wanita haid dan nifas.

Rukun-rukun iktikaf

  1. Niat (QS. Al Bayyinah : 5), (HR: Bukhari & Muslim tentang niat)
  2. Berdiam di masjid (QS. Al Baqarah : 187)
Di sini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat iktikaf. Sebahagian ulama membolehkan iktikaf di setiap masjid yang diguna untuk solat berjemaah lima waktu.
Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan solat jemaah setiap waktu.
Ulama lain mensyaratkan agar iktikaf itu dilaksanakan di masjid yang diguna untuk membuat solat Jumaat, sehingga orang yang beriktikaf tidak perlu meninggalkan tempat iktikafnya menuju masjid lain untuk solat Jumaat.
Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafiiyah bahawa yang afdal iaitu iktikaf di masjid jami', kerana Rasulullah s.a.w iktikaf di masjid jami'. Lebih afdal di tiga masjid; Masjid al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsa.

Hal-hal yang diperbolehkan bagi mutakif (orang yang beriktikaf)

  1. Keluar dari tempat iktikaf untuk menghantar isteri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w terhadap isterinya Sofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhari dan Muslim)
  2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.
  3. Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang menghantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid, tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluannya .
  4. Makan, minum, dan tidur di masjid dengan sentiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

Hal-hal yang membatalkan iktikaf

  1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan walaupun sebentar, kerana meninggalkan salah satu rukun iktikaf iaitu berdiam di masjid.
  2. Murtad ( keluar dari agama Islam )
  3. Hilangnya akal, kerana gila atau mabuk
  4. Haid atau Nifas
  5. Berjimak (bersetubuh dengan isteri) (QS. 2: 187), akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan isteri- isterinya.
  6. Pergi solat Jumaat (bagi mereka yang membolehkan iktikaf di surau yang tidak digunapakai untuk solat Jumaat).

Panduan iktikaf di bulan Ramadan

Di antara rangkaian ibadah dalam bulan suci Ramadan yang sangat dipelihara sekaligus diperintahkan (dianjurkan ) oleh Rasulullah s.a.w adalah iktikaf. Setiap muslim dianjurkan (disunatkan) untuk beriktikaf di masjid, terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadan.

Iktikaf merupakan pendekatan ibadat yang sangat efektif bagi muslim dalam memelihara keislamannya khususnya dalam era globalisasi, materialisasi dan informasi masa kini.

Definisi Iktikaf

Para ulama mendefinisikan iktikaf iaitu berdiam atau tinggal di masjid dengan adab-adab tertentu, pada masa tertentu dengan niat ibadah dan untuk mendekatkan kepada Allah SWT.

Ibnu Hazm berkata: Iktikaf adalah berdiam di dalam masjid dengan niat mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah SWT pada waktu tertentu pada siang atau malam hari. (al MuhallaV/179)

Hukum Iktikaf

Para ulama telah berijmak bahawa iktikaf khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadan merupakan suatu ibadah yang disyariat dan disunatkan oleh Rasulullah s.a.w.

Rasulullah s.a.w sendiri sentiasa beriktikaf pada bulan Ramadan selama 10 hari.

Aisyah, Ibnu Umar dan Anas r.a meriwayatkan: "Adalah Rasulullah s.a.w beriktikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadan" (HR. Bukhri & Muslim).

Hal ini dilakukan oleh baginda hingga wafat, kecuali pada tahun wafatnya, baginda beriktikaf selama 20 hari.

Demikian halnya para sahabat dan isteri baginda sentiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini. Sehubungan itu, Imam Ahmad berkata: " Sepengetahuan saya tak seorang pun ulama mengatakan iktikaf bukan sunat."

Fadhilat (keutamaan) iktikaf

Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad: Tahukah anda hadis yang menunjukkan keutamaan iktikaf?

Imam Ahmad menjawab : Tidak, kecuali ia hadis lemah (daif).

Namun demikian tidaklah mengurangi nilai ibadah iktikaf itu sendiri sebagai taqorrub kepada Allah SWT. Dan cukuplah keuatamaannya bahawa Rasulullah s.a.w, para sahabat, para isteri Rasulullah s.a.w dan para ulama salafus soleh sentiasa melakukan ibadah ini.

Jenis-jenis iktikaf

Iktikaf yang disyariatkan ada dua bentuk; pertama sunat, dan kedua wajib.

Iktikaf sunnat iaitu yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk bertaqorrub kepada Allah SWT seperti; iktikaf 10 hari terakhir bulan Ramadan.

Dan iktikaf yang wajib iaitu yang didahului dengan nazar (janji), seperti: "Kalau Allah SWT menyembuhkan penyakitku ini, maka aku akan beriktikaf.

Waktu iktikaf

Iktikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinazarkan, sedangkan iktikaf sunat tidak ada batasan waktu tertentu, bila-bila saja pada malam atau siang hari, waktunya boleh lama atau singkat.

Ya'la bin Umayyah berkata: " Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk beriktikaf."

Syarat-syarat iktikaf

Orang yang iktikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:

1. Muslim
2. Berakal
3. Suci dari janabah (junub), haid dan nifas.

Oleh kerana itu, iktikaf tidak diperbolehkan bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz (mampu membezakan), orang junub, wanita haid dan nifas.

Rukun-rukun iktikaf

1. Niat (QS. Al Bayyinah : 5), (HR: Bukhari & Muslim tentang niat)
2. Berdiam di masjid (QS. Al Baqarah : 187)

Di sini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat iktikaf. Sebahagian ulama membolehkan iktikaf di setiap masjid yang diguna untuk solat berjemaah lima waktu.

Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan solat jemaah setiap waktu.

Ulama lain mensyaratkan agar iktikaf itu dilaksanakan di masjid yang diguna untuk membuat solat Jumaat, sehingga orang yang beriktikaf tidak perlu meninggalkan tempat iktikafnya menuju masjid lain untuk solat Jumaat.

Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafiiyah bahawa yang afdal iaitu iktikaf di masjid jami', kerana Rasulullah s.a.w iktikaf di masjid jami'. Lebih afdal di tiga masjid; Masjid al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsa.

Awal dan akhir iktikaf

Khusus iktikaf Ramadan waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke-21. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w : " Barang siapa yang ingin beriktikaf denganku, hendaklah ia beriktikaf pada 10 hari terakhir Ramadan (HR. Bukhari). 10 (sepuluh) di sini adalah jumlah malam, sedangkan malam pertama dari sepuluh itu adalah malam ke-21 atau 20.

Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, kalau iktikaf dilakukan 10 malam terakhir, iaitu setelah terbenam matahari, hari terakhir bulan Ramadan.

Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustahab (disenangi) adalah menuggu sampai solat hari raya.

Hal-hal yang disunatkan waktu beriktikaf

Disunatkan agar orang yang beriktikaf memperbanyak ibadah untuk bertaqorrub kepada Allah SWT ,seperti solat, membaca al-Quran, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, selawat ke atas Nabi s.a.w, doa dan sebagainya serta termasuk juga di dalamnya pengajian, ceramah, majlis ta'lim, diskusi ilmiah, mentelaah buku tafsir, hadis, sirah dan sebagainya.

Hal-hal yang diperbolehkan bagi mutakif (orang yang beriktikaf)

1. Keluar dari tempat iktikaf untuk menghantar isteri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w terhadap isterinya Sofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhari dan Muslim)
2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.
3. Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang menghantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid, tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluannya .
4. Makan, minum, dan tidur di masjid dengan sentiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

Hal-hal yang membatalkan iktikaf

1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan walaupun sebentar, kerana meninggalkan salah satu rukun iktikaf iaitu berdiam di masjid.
2. Murtad ( keluar dari agama Islam )
3. Hilangnya akal, kerana gila atau mabuk
4. Haid atau Nifas
5. Berjimak (bersetubuh dengan isteri) (QS. 2: 187), akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan isteri- isterinya.
6. Pergi solat Jumaat (bagi mereka yang membolehkan iktikaf di surau yang tidak digunapakai untuk solat Jumaat).



Iktikaf dekatkan diri pada Allah

Hari ini adalah hari ke-21 umat Islam di Malaysia berpuasa Ramadan. Ini bermakna, kita telah memasuki fasa ketiga Ramadan iaitu berada pada 10 malam terakhir yang terkandung di dalamnya lailatul qadar.
Pada suku terakhir Ramadan, umat Islam digalakkan meningkatkan ibadat sunat. Antara yang paling utama ialah beriktikaf untuk beribadat pada sebelah malamnya.
Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah s.a.w beriktikaf pada setiap bulan Ramadan sebanyak 10 hari. Apabila tiba tahun yang baginda wafat padanya, baginda beriktikaf selama 20 hari. (riwayat Bukhari)
Allah berfirman: Dan pada sebahagian daripada malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bahagian yang panjang di malam hari. (al-Insan: 26)
Wartawan MOHD. RADZI MOHD. ZIN dan jurufoto NAZERI ABU BAKAR menemu bual Imam Besar Masjid Negara, Datuk Syaikh Ismail Muhammad bagi mengupas tentang ibadat sunat ini.
MEGA: Bagaimanakah kita boleh mendapat pahala dalam mengerjakan iktikaf ini?
SYAIKH ISMAIL: Iktikaf adalah amalan baik yang amat disunatkan kepada umat Islam melakukannya. Lebih-lebih lagi pada bulan Ramadan.
Maksud iktikaf di sini ialah mendampingi masjid. Tujuan iktikaf ini ialah untuk membersihkan hati dengan mengingati Allah dan taqarrub (berdamping) dengan Allah Yang Maha Pencipta dengan hati yang ikhlas. Allah amat menyukai hamba-hamba-Nya yang sentiasa berusaha bertaqarrub kepada-Nya.
Ia boleh dilakukan setiap kali kita berada di masjid iaitu semasa menunggu waktu solat Isyak misalnya, kita berniat beriktikaf. Dengan niat begini, kita sudah pun beroleh pahala.
Dalam bulan Ramadan ini kita perlu merebut peluang di mana ibadat sunat yang dilakukan itu diberi ganjaran ibadat fardu. Ibadat fardu pula diberi ganjaran 70 kali ganda.
Apakah amalan yang dianjur kita lakukan semasa iktikaf ini?
SHAIKH ISMAIL: Sudah tentu apabila kita beriktikaf untuk mendekatkan diri kepada Allah, kita akan melakukan sesuatu ibadat.
Iktikaf ini hendaklah dilakukan di masjid atau surau yang didirikan solat Jumaat padanya.
Perkara yang sunat dilakukan ialah berqiamullail iaitu membanyakkan ibadat sunat seperti solat tahajud, hajat, taubat, tasbih, mutlak yang diakhiri dengan solat sunat witir.
Selain itu, membaca al-Quran kerana Rasulullah pernah bersabda, membaca al-Quran adalah ibadat sunat yang paling afdal.
Bersabda Rasulullah s.a.w., “Barang siapa membaca satu huruf kitab Allah, memperoleh satu kebajikan. Saya tidak mengatakan Alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (riwayat al-Tirmizi)
Kita juga boleh bertasbih, bertahmid, beristighfar, berselawat dan berdoa.
Bagi mereka yang berkesempatan, boleh juga menghadiri majlis ilmu, mengulangkaji kitab-kitab agama, sirah nabi dan sebagainya.
Bagaimanapun, kita boleh juga membaca buku-buku akademik contohnya berkaitan sains dan teknologi. Yang penting ia memberi manfaat kepada diri dan masyarakat. Membaca buku-buku begini pun turut diberi ganjaran pahala oleh Allah s.w.t.
Ada yang berpendapat, qiamullail itu wajib disertai dengan solat sunat yang banyak. Benarkah?
SYAIKH ISMAIL: Pandangan begini kurang tepat. Memanglah afdal jika kita boleh mendirikan pelbagai solat sunat semasa qiamullail terutamanya solat tasbih.
Tentang solat tasbih ini, Rasulullah pernah bersabda, “Kalau boleh didirikan setiap malam, kalau tidak boleh, seminggu sekali, kalau tidak boleh sebulan sekali, paling tidak pun setahun sekali”. Allah menjanjikan keampunan dosa yang lalu dan akan datang untuk mereka yang mengerjakan solat ini.
Bagaimanapun, paling minimum qiamullail ialah menunaikan solat witir satu rakaat. Apa yang lebih penting dalam Islam ialah melakukan ibadat itu biar sedikit tetapi istiqamah yakni dibuat berterusan.
Dalam bulan Ramadan ini, menunaikan solat tarawih sudah dikira sebagai qiamullail. Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang bangun (qiamullail) pada bulan Ramadan dengan keimanan dan pengharapan akan diampun dosanya yang terdahulu. (riwayat Bukhari dan Muslim).
Apa yang lebih penting ialah falsafah di sebalik qiamullail. Di dalamnya terkandung sifat ikhlas di mana kita beribadat seorang diri pada waktu orang lain nyenyak tidur di tilam yang empuk.
Maknanya, tidak ada unsur riak dalam kita melakukan ibadat ini.
Apakah kelebihan mengamalkan qiamullail. Adakah ia boleh menampung kekurangan pahala berpuasa?
SYAIKH ISMAIL: Orang yang mengamalkan qiamullail ini akan diangkat darjat mereka.
Ini dijelaskan menerusi firman Allah, Dan pada sebahagian malam hari bersolat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadat tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (al-Isra’: 79)
Selain itu, Nabi s.a.w bersabda, Hendaklah kamu bersolat malam. Sesungguhnya ia amalan yang soleh sebelum kamu, amalan yang mendekatkan kepada Tuhanmu, penghapus kesalahan dan pencegah dosa. (riwayat Muslim)
Bagaimanapun, qiamullail ini adalah ibadat yang berbeza dan tidak boleh menampung kekurangan pahala berpuasa.
Kalau tidak mahu cacat pahala puasa, kita jangan melakukan perkara yang buruk, bercakap yang sia-sia dan menjauhkan maksiat.
Rasulullah yang maksum juga tidak meninggalkan qiamullail ini. Bagaimanakah cara untuk mendidik membiasakan diri menunaikannya?
SYAIKH ISMAIL: Rasulullah pernah ditanya oleh saidatina Aisyah r.a, mengapakah baginda berqiamullail sehingga bengkak kaki baginda kerana berdiri terlalu lama sedangkan baginda adalah maksum, baginda menjawab, apakah tidak aku menjadi hamba yang bersyukur.
Dan dalam bulan Ramadan, Nabi s.a.w bukan sahaja bangun beribadat waktu malam tetapi mengejutkan isteri dan ahli keluarganya untuk sama-sama beribadat kepada Allah.
Aisyah r.a berkata, Rasulullah s.a.w apabila masuk malam 10 terakhir Ramadan, baginda menghidupkan malam (dengan ibadat), mengejutkan keluarganya (bangun beribadat), bersungguh-sungguh (dalam beribadat) dan uzlah dari isteri-isterinya. (riwayat Bukhari dan Muslim)
Untuk membiasakan diri melakukan ibadat ini, hendaklah kita sentiasa menunaikan solat. Cuba istiqamah melakukannya selama 40 waktu atau 40 hari. Sebabnya, ulama menyebut, jika kita solat subuh selama 40 waktu berturut-turut tanpa tinggal, insya-Allah kita akan kekal menunaikannya.
Kita juga perlu sabar dalam melaksanakan ibadat. Ini amat penting terutama pada kali pertama kita melakukan qiamullail. Apabila dah biasa tidak ada masalah lagi.
Analoginya, kalau kita hendak upah atau gaji yang lebih sudah tentu kena kerja keras atau lebih masa. Demikian juga untuk mendapat ganjaran pahala besar yang dijanjikan oleh Allah kita kena berusaha melakukan qiamullail. Kita kenalah berkorban sedikit seperti mengurangkan waktu tidur.
Selain, qiamullail apakah zikir-zikir yang mudah dibaca tetapi berat timbangannya yang boleh diamalkan oleh umat Islam?
SYAIKH ISMAIL: Paling utama ialah membaca al-Quran seperti yang disebutkan tadi. Lain-lain ialah zikir seperti La ila ha illallah, subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar.
Kita juga hendaklah membanyakkan istighfar memohon keampunan Allah.
Apa pula peluang yang perlu direbut terutama pada lailatul qadar?
SHAIKH ISMAIL: Hendaklah kita berusaha mencari lailatul qadar kerana pahala beribadat pada malam ini adalah menyamai 1,000 bulan atau 84 tahun. (al-Qadr: 3)
Ini adalah bonus yang Allah bagi kepada umat Nabi Muhammad yang rata-rata umur mereka ialah sekitar 60 ke 70 tahun berbanding umat terdahulu yang usia mereka mencecah beribu tahun.
Malam ini pula dikatakan berlaku pada malam ganjil 10 terakhir Ramadan. Ini berdasarkan hadis Rasulullah s.a.w: Carilah lailatul qadar pada malam ganjil 10 malam terakhir. (riwayat Bukhari)
Oleh itu, janganlah kita sia-siakan peluang yang Allah berikan kepada kita tahun ini kerana belum tentu kita akan bertemu Ramadan tahun depan.

IKTIKAF WANITA
Ramai yang bertanya tentang adakah boleh wanita beriktikaf di rumahnya untuk sepuluh malam terakhir ramadhan ini? adakah ia boleh mendapat pahala seperti iktikaf lelaki di masjid?
Jawapannya:
Imam Abu Hanifah & Imam Sufyan At-Thawry mengatakan wanita boleh dan sah beriktikaf di rumahnya dan mereka mendapat pahala sebagimana lelaki di masjid. bgmnpun perlu dingat, mereka perlulah menjaga tertoib dan adab iktikaf jika ingin perbuat di rumahnya.
Walau bagaimanapun, Imam As-Syafie dalam ijtihadnya, berpandangan wanita tidak boleh beriktikaf di di rumahnya. Kerana ayat al-Quran umum menyebut " dan kamu semua beriktikaf di masjid-masjid" ( al-Baqarah : 187 )
Demikian juga pandangan mazhab Hanbali dan Imam Malik. ( iaitu tiada iktikaf kecuali di masjid yang didirikan kahs untuk solat kepada Allah) . Imam Ibn Quddamah di dalam kitab al-muhghni menyebut, antara dalilnya juga adalah Nabi SAW ketika di minta oleh isteri-isterinya untuk beriktikaf di masjid, maka Nabi SAW mengizinkannya , maka jika rumahnya yang dijadikan wanita sbg tempat solatnya boleh di jadikan tempat iktikaf, maka mengapakah Nabi SAW mengizinkan mereka ke masjid, bukankah terus sahaj Nabi mengizinkan mereka beriktikaf di rumah. Malah jika, iktikaf di rumah lebih elok, sudah tentu nabi akan memaklumkannya kepada para wanita.
Selain itu, ini kerana iktikaf itu adalah ibadat qurbah (yg hampirkan diri dgn Allah), seperti Tawaf, yang memerlukan lelaki dan wanita ke kaabah untuk tujuan tawaf. Demikian juga Iktikaf. ( Al-Mughni, 4/262)
Maka pandagan yang lebih kuat adalah di masjid, manakala pandangan abu hanifah dan thawry boeh diamalkan di ketika sukar ke masjid dan tidak diganggu oleh anak-anak di rumah yang menyebabkan boleh terganggu tujuan iktikaf itu. Selain itu, syarat-syarat iktikaf juga sukar di tepati jika dibuat di rumah dalam banyak keadaan.
Dan apabila wanita beriktikaf di masjid, adalah perlu untuknya menggunakan tirai
yang lebih sebagai mengikuti cara isteri-isteri Nabi SAW dan menutup aurat mereka dengan lebih berkesan.
Iktikaf di Surau
Disepakti oleh para Ulama bahawa tempat yang paling elok beriktikaf di 3 masjid utama Islam ( masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsa, di tangga seterusnya dari sudut keutamaan adalah mana-mana masjid yang didirikan solat jumaat. Imam Ibn Quddamah menyebut, ini adalah kerana berjemaah di dalamnya juga adalah lebih pahalanya. Demikian juga menurut Imam As-Syafie. Manakala berikutnya adalah semua masjid walaupun tidak didirikan Jumaat.
Bagaimanapun, kebanyakan ulama hanya mengiktiraf masjid yang didirikan solat jumaat sahaja untuk dijadikan tempat beriktikaf. Demikian juga yang disebut oleh Prof Dr. Syeikh Husam, prof Shariah dari Palestin. Wallahu 'alam.
Sekian,
ust zaharuddin abd rahman


IKTIKAF

Muslimin yang dirahmati Allah,
Marilah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu Wataala dengan sebenar-benar takwa, dengan mengerjakan segala apa jua suruhannya dan meninggalkan segala apa jua larangannya. Dengan cara ini kita akan mencapai ketenangan, keselamatan, kebahagian di dunia dan di akhirat.
Muslimin yang berbahagia,
Setiap orang yang hidup di dunia ini mahukan ketenangan dan kesenangan. Tiada siapa pun yang mahukan hidupnya rungsing, gelisah dan menghadapi berbagai-bagai masalah. Dalam menghadapi masalah ini, umat Islam sangat beruntung dan bertuah kerana Islam sentiasa membimbing dan menunjukkan umatnya jalan selamat yang boleh menyelesaikan masalah yang dihadapi, tetapi terpulanglah kepada kita samada mahu mengikut atau sebaliknya.
Islam menyediakan banyak jalan bagi umatnya untuk mencari ketenangan jiwa yakni mengurangkan perasaan yang tidak senang yang bersarang di hati atau di jiwa individu.
Ketenangan hati bagi seseorang insan adalah anugerah Tuhan yang tidak ternilai harganya, yang sepatutnya tidak diabaikan bahkan hendaklah dijaga dan dipelihara, kerana itu pohonlah kepada Allah Subhanahu Wataala supaya dikurniakan hati yang tenang, jauh dari ketegangan.
Banyakkanlah berzikir kepada Allah Subhanahu Wataala, memuji, memohon keampunan dan keredhaannya. Itulah cara mendapatkan ketenangan. Jangan mencari ketenangan dengan perkara yang dilarang dan diharamkan oleh Allah Subhanahu Wataala seperti memakan dadah, meminum arak dan bermacam-macam lagi kemungkaran yang ditegah dan dilarang, kerana semua itu bukan jalan penyelesaian masalah tetapi sebaliknya akan mendatangkan masalah dan padah terhadap diri sendiri, keluarga dan masyarakat bahkan negara.
Salah satu cara dan penawar bagi mengubati jiwa dan hati ialah dengan banyak-banyak mengingat Allah Subhanahu Wataala sebagaimana firman Allah Subhanahu Wataala di dalam surah Ar-Ra’d ayat 28 :
Tafsirnya :
Iaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram.
Cara yang mudah dan ringan untuk memperolehi ketenangan ialah dengan jalan beriktikaf.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Iktikaf bererti : Diam (berhenti) dalam masjid dengan niat dan cara yang tertentu, khususnya beribadat terutama pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Manakala jika seseorang itu duduk sahaja di dalam masjid, tanpa berniat iktikaf, maka perbuatan tersebut tidaklah dikira iktikaf.
Apabila seseorang itu beriktikaf dengan tulus ikhlas kerana Allah Subhanahu Wataala dengan niat bagi mendapatkan ketenangan, Insya Allah, Allah Subhanahu Wataala akan mengurniakan ketenangan jiwa untuk menghadapi hidup ini.
Oleh itu, sebelum melangkahkan kaki ke masjid untuk beriktikaf, maka kita hendaklah mempersiapkan diri kita secara zahir dan batin dengan menumpukan perhatian sepenuhnya kepada Allah Subhanahu Wataala.
Perlulah diketahui bahawa amalan-amalan yang sangat baik untuk dilakukan semasa beriktikaf ialah sembahyang, berzikir, bertahlil iaitu mengucap ‘La ilaha illallah’, bertahmid iaitu mengucap Al-hamdulillah, bertasbih iaitu mengucap Subhanallah, berdoa, membaca Al-Quran, belajar, mengajar dan sebagainya. Itulah di antara cara bagi melatih jiwa dan fikiran untuk mengingati Allah Subhanahau Wataala.
Sidang Jumaat yang berbahagia,
Beriktikaf adalah merupakan amalan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam khususnya di waktu bulan ramadhan, kerana beribadat ketika itu sangat tinggi nilainya dan besar ganjarannya di sisi Allah Subhanahu Wataala, lebih-lebih lagi dilakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana hadith Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam:
Maksudnya :
Dari Aishah Radiallahu-Anha ia berkata : Bahawasanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam beriktikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, sehinggalah baginda wafat, kemudian para isteri baginda meneruskan amalan beriktikaf selepas kewafatannya.
Sidang Jumaat sekalian,
Iktikaf itu mempunyai banyak hikmat yang tertentu di antaranya ialah:-
Pertama :
Mendatangkan ketenangan kepada fikiran dan jiwa dari bermacam-macam kesibukan dan boleh merehatkan seluruh anggota badan dari kepenatan dan keletihan.
Kedua :
Dari segi rohani : ia akan mendorong kita supaya memikirkan kelemahan diri dan merenung tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wataala kerana dengan jalan demikian akan mendekatkan kita lagi kepada Allah Subhanahu Wataala.
Ketiga :
Iktikaf boleh mendidik diri kearah jiwa Muthma’innah ( jiwa yang tenang ) dan tidak tunduk kepada dorongan hawa nafsu, sebaliknya tunduk dan taat kepada Allah Subhanahu Wataala dengan akal yang sihat.
Keempat :
Iktikaf juga akan meningkatkan iman dan takwa kerana dengan memperbanyakkan ingat kepada Allah Subhanahu Wataala sahajalah kita akan gementar dan terasa kebesaran Allah Subhanahu Wataala.
Wahai kaum muslimin,
Sekarang kita telah berada penghujung di bulan Syaaban dan tidak lama lagi kita akan bertemu bulan Ramadhan iaitu bulan yang diwajibkan kita berpuasa. Apa yang ingin kita ingatkan sebelum menjelangnya bulan Ramadhan akan datang ini ialah apakah kita masih mempunyai qada’ puasa yang lalu yang belum dilaksanakan, jika ada, maka tunaikanlah hutang-hutang puasa itu semasa kita masih sihat dan bertenaga ini, jangan sampai ditangguh-tangguh tahun demi tahun dan akhirnya sehingga ajal menjemput kita.
Firman Allah Subhanahu Wataala dalam surah Al-Baqarah ayat 125 :
Tafsirnya :
Dan kami perintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dengan berfirman: Bersihkanlah rumah ku (Kaabah dan Masjidil-haram dari segala perkara yang dilarang) untuk orang-orang yang bertawaf dan orang-orang yang beriktikaf (yang tetap tinggal padanya) dan orang-orang yang ruku’ dan sujud
.





Iktikaf dan persoalannya


Ustaz Zainudin Hashim


Tazkirah Akhir Ramadan : Nabi Muhammad s.a.w merupakan insan sempurna dalam segenap tindak-tanduk, dari sebasar-besar perkara hinggalah kepada sekecil-kecil, ia tetap memberikan panduan serta contoh terbaik, baginda bukan sekadar mengajar umatnya untuk bangkit melakukan pelbagai bentuk amal ibadat, akan tetapi sebelum baginda mencadang atau mengarahkan umatnya untuk berbuat demikian, baginda terlebih dahulu membuktikannya dengan pengamalan dan tindakan positif yang boleh dijadikan contoh terbaik buat semua.
Iklan




Dalam segenap bentul amal ibadat, termasuklah dalam perkara itikaf khususnya di bulan Ramadan, tidak ketinggalan baginda mencontohkannya kepada umatnya cara, bentuk serta pendekatanitikaf yang sebenar, ia bertujuan agar umatnya tidak tersasar jauh malah terarah kepada hala tuju yang betul dan sihat.

Walaupun dosa-dosa terdahulu baginda telah diampunkan Allah SWT, namun sebagai seorang Nabi dan Rasul, tanggungjawabnya untuk memberi atau menyediakan modul terbaik kepada umat menjadi keutamaan, justeru dalam perbincangan kali ini, penulis berhajat untuk menyatakan panduan yang ditunjukkan oleh baginda Rasulullah s.a.w dalam ibadat ‘itikaf khususnya pada malam-malam terakhir Ramadan dalam bentuk yang paling mudah untuk diamalkan oleh setiap individu muslim dan muslimah.

Makna 'Itikaf

Ia bermaksud menetap pada satu tempat (terutamanya masjid) sama ada panjang atau pendek tempoh yang dilakukannya.

Hukum ‘Itikaf

Para ulama’ bersepakat bahawa ‘itikaf hukumnya adalah sunat yang tidak boleh dipaksakan orang lain melakukannya, melainkan ia menjadi hukum nazar yang mesti dilakukan oleh orang yang bernazar.

Tempoh masa untuk ber’itikaf Menurut jumhur (kebanyakan) ulama’ dari kalangan mazhab Imam Abu Hanifah, Imam as-Syafie dan Imam Ahmad bin Hanbal, tempoh masa untuk ber’itikaf yang diterima walaupun hanya sebentar, ada juga pendapat yang menyebut bahawa tempoh satu hari juga diterima sebagai amalan untuk beribadat kepada Allah SWT.

yarat untuk ber’itikaf

‘Itikaf disyaratkan perlakuannya dalam masjid yang dilakukan solat jamaah, apatah lagi masjid yang diadakan solat Jumaat.

Bagaimana dengan ‘itikaf dalam surau

Sesetengah ulama’ tidak mensyaratkan masjid yang diadakan solat Jumaat boleh untuk ber’itikaf, malah masjid atau surau yang didirikan solat jamaah juga adalah sah untuk dilakukan ‘itikaf bagi mereka yang mahu melakukannya. (Ia berdasarkan riwayat Ibnu Abbas dan Aishah yang dipegang oleh Imam Ahmad dan al-Baihaqi).

Selain itu, bagi yang ber’itikaf, mereka tidak digalakkan menziarahi orang sakit, tidak juga mengurus jenazah, tidak dibenarkan bersentuhan dengan isteri atau melakukan persetubuhan atau melakukan sebarang aktiviti yang tiada kena mengena dengan tujuan ber’itikaf. Maksud hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud (hadisnya yang ke 2473) daripada Saidatina Aishah r.a.

Bagi muslimah pula, adalah digalakkan untuk berada di rumah atau surau yang tidak diadakan solat jamaah. (Disebut dalam as-Syarh al-Mumti’)

Hukum ber’itikaf dalam sebuah bilik penjuru masjid

Jika terdapat bilik-bilik yang bersambung dengan ruang masjid dan sebagainya, ia boleh dijadikan sebahagian tempat untuk ber’itikaf lebih-lebih lagi buat muslimat. (Fatawa al-Lajnah ad-Da~imah 411/10).

Tujuan ber’itikaf di bulan Ramadan

v Amalan ber’itikaf boleh dilakukan pada bulan-bulan lain selain Ramadan, namun di bulan Ramadan adalah sangat digalakkan terutama dalam merebut kedatangan Lailatul Qadr yang lebih baik daripada seribu bulan.

Batal hukum ‘itikaf jika keluar dari masjid/surau

Apabila seorang yang sedang ber’itikaf dalam masjid, keluar tanpa sebab-sebab yang dibolehkan seperti mengambil wuduk, buang air, mandi, menguruskan makan untuk berbuka atau bersahur (jika tiada pihak yang menguruskannya), bekerja, maka terbatal tujuan ‘itikafnya pada hari itu. (maksud hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim daripada Aishah).

Antara ‘itikaf dan belajar – mana lebih diutamakan?

Jika terdapat keinginan para pelajar di sebuah universiti yang tinggal di asrama berdekatan dengan masjid, maka belajar itu adalah lebi diutamakan daripada ber’itikaf, kerana belajar adalah wajib sementara ‘itikaf pula hukumnya sunnat. (www.islam-qa.com) bab mengenai ‘itikaf.

Apakah amalan tertentu untuk dilakukan ketika ber’itikaf?

Petunjuk Nabi Muhammad s.a.w dalam urusan ‘itikaf amat mudah, seluruh waktunya dihabiskan dengan berzikir kepada Allah SWT, zikir yang diertikan dengan mengingati Allah boleh dilakukan dalam pelbagai bentuk, ia termasuk membaca dan bertadarus al-Quran (berdiskusi, menyelidiki), bersolat sunat – sila lihat Zadul Ma’ad oleh Ibnu Qaiyim al-Jauziyyah (2/90).

Ahli Jawatankuasa masjid atau surau ketika ber’itikaf yang mengadakan mesyuarat khas bagi merangka dan membincangkan aktiviti bertujuan meningkatkan prestasi iman dan takwa ahli kariah juga boleh dianggap ibadat kerana mengajak manusia untuk mengingati Allah.

Jika seorang yang bekerja yang terpaksa membawa balik bahan tugasan pejabatnya memandangkan ketibaan awal Syawal semakin hampir untuk disiapkan, tidak berkesempatan untuk ber’itikaf atau melakukan solat-solat sunat walaupun di rumah, hasratnya tinggi untuk buat, tetapi dihalangi dengan kesibukan tugasan pejabat yang mesti diserahkan keesokan hari, apabila dia tahu bahawa bekerja itu adalah ibadat, maka apa yang dilakukannya juga kerana ibadat, maka segala tindakannya itu adalah diterima sebagai salah satu tuntutan ibadat, namun dia perlu berusaha untuk cuba melakukannya pada malam-malam terakhir yang masih berbaki.

Remaja perlu minta izin kedua ibu bapa untuk ber’itikaf

Mungkin terdapat segelintir remaja yang baik budi pekertinya yang masih di bawah penjagaan kedua ibu bapa mereka berhasrat untuk ber’itikaf di masjid bagi meningkatkan hubungan dengan Allah SWT, perlu meminta izin daripada mereka berdua, kerana patuh kepada mereka berdua adalah wajib sedangkan ‘itikaf adalah sunnat, ia bertujuan bagi memastikan agar ibadat ‘itikaf yang dilakukannya mengikut peraturan yang telah digariskan oleh hukum Syara’.

Pahala ber’itikaf

Sabda Rasulullah seperti yang difirmankan Allah dalam satu hadis Qudsi yang bermaksud : Apa sahaja yang dilakukan oleh hamba-Ku bertujuan untuk mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnat hingga Aku menyukainya, apabila Aku menyukainya maka Akulah yang akan menjadi pendengaran apa yang didengarnya, menjadi penglihatan apa yang dilihatnya, tangannya bertindak sesuatu apa yang sepatutnya dilakukan, kakinya melangkah pada apa yang sepatutnya dilakukan, jika dia meminta kepada-Ku, pasti akan Aku perkenankan dan jika dia minta perlindungan daripada-Ku pasti Aku akan melindunginya. (Hadis Sohih riwayat Imam Bukhari 6502).

Rasulullah s.a.w ada menegaskan dalam satu hadis yang bermaksud : Sesiapa yang ber’itikaf dengan penuh keimanan dan mengharapkan keredaan Allah SWT, sesungguhnya dosa-dosanya yang telah lalu diampunkan oleh Allah. (Hadis riwayat ad-Dailami daripada Aishah r.a).

Peranan kita pada malam-malam terakhir Ramadan

1- Perlu kita ketahui, bahawa Allah SWT mahu menguji iman kita dengan pelaksanaan ibadat puasa selama sebulan Ramadan, bagi yang benar beriman, akan melakukan ibadat puasa dengan sungguh-sungguh adapun bagi yang berdusta, tidak sanggup untuk melakukannya dengan ikhlas kepada-Nya.

2- Kita berpuasa dengan niat untuk menyahut arahan Allah dan pahala-Nya.

3- Tidak menghabiskan puasa sehari suntuk dengan banyak tidur.

4- Kita perlu memperbaharui taubat kepada Allah.

5- Kita perlu memperbanyakkan doa, istighfar kepada Allah khususnya di bulan Ramadan, kerana ia menjanjikan kepada kita rahmat dan keampunan Allah serta pelepasan daripada api neraka.

6- Ketika berpuasa, kita perlu menahan pancaindera daripada terjebak pada perkara-perkara yang diharamkan Allah. -

Tiada ulasan: