Khamis, 21 Mei 2015

YANG HAQ ITU JELAS...YANG BATIL JUGA JELAS












Thursday, 20 March 2014

Dialog Antara Haq dan Batil


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
.

. وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚإِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.


Renungilah firman  Allah SWT  yang bermaksud:
"Dan katakanlah: Yang benar (Haq)  telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap"   (QS. Al-Isra': 81).

Pesanan Almarhum Dr Mustafha As Siba'i;
 "Janganlah engkau menunda-nunda untuk menyerukan kebenaran dengan alasan seruanmu tidak akan didengar, dan tidak ada benih yang akan tumbuh di tanah yang gersang.  Orang-orang puas dengan pendapatmu atau tidak, itu bukan urusanmu. Kerana, yang penting bagimu adalah mengatakan apa yang engkau yakini benar" (Sumber:  halaman 119-120~ dari buku  'Belajar Dari Pengalaman, Sebuah Refleksi Agar  Hidup Lebih Bernilai'  ditulis oleh  almarhum Dr Musthafa as-Siba'i) . 
Takdir MU Ya Allah  sentiasa indah dan tidak pernah salah
Jangan sampai Syaitan Mengalahkanmu !

Jangan sampai Syaitan mengalahkan  keimananmu, iaitu ketika engkau  mencari-cari pembenaran atas setiap kesalahan dan memburu fatwa-fatwa yang membenarkan kemaksiatanmu! Ingat; yang halal itu sudah jelas, dan yang haram pun sudah jelas. Dan sesungguhnya setiap  orang  yang berhasil menjaga dirinya dari hal-hal yang syubhat, maka ia telah menyucikan agama dan kehormatannya" (halaman 14)


Beliau bercerita, pada suatu hari, kebatilan berjalan bersama kebenaran. lalu terjadilah dialog di antara keduanya sebagaimana berikut;

Kebatilan    : Aku  lebih tinggi  darimu
Kebenaran  : Tapi  aku lebih  kukuh darimu
Kebatilan    : Aku juga lebih kuat darimu
Kebenaran  : Tapi aku lebih awet  darimu
Kebatilan    : Aku diikuti oleh banyak orang kuat dan  orang  yang kaya raya
Kebenaran  : "Dan demikianlah Kami  adakan   pada tiap-tiap  negeri penjahat-penjahat yang
                       terbesar agar  mereka  melakukan tipu daya dalam negeri itu.
                       Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri,
                       sedangkan mereka tidak  menyedarinya"
Kebatilan    :  Aku boleh  membunuhmu sekarang  juga!
Kebenaran  : "Ketahuilah anak-anakku juga akan membunuhmu, meskipun tidak  sekarang"

(halaman 18-19)

 Pengalaman almarhum  dalam dakwah dan tarbiyah  mengingatkan kita agar sentiasa  mohon pertolongan Allah khususnya di akhir zaman ini, yang batil dianggap hak sebaliknya  yang hak dianggap batil. Antara hak dan batil bukan sahaja berperang dalam dunia, negara, dalam keluarga bahkan dalam diri sendiri.
"Kebatilan itu bagaikan serigala yang cerdik, sedangkan kebenaran seperti seekor kambing yang jinak. Maka, tanpa  pertolongan  dari  Allah, nescaya  kebenaran itu akan sulit  mengalahkan kebatilan" (halaman 20)

Hanya  Allah  sahaja  yang Maha Mengetahui  dan dengan pertolongan-NYA sahaja akhirnya  kebenaran dan menghancurkan kebatilan;

"Ya Allah! Tunjukkanlah kepada Kami Al-Haq (kebenaran) itu jelas nampak sebagai Kebenaran, dan kurniakanlah kepada Kami (kemampuan) mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada Kami yang batil itu jelas kelihatan sebagai satu kebatilan, dan kurniakanlah pula kepada kami (kekuatan moral) menjauhinya. Janganlah jadikan hati kami bimbang-bimbang dikuasainya, supaya kami jangan tersesat. Jadikanlah Kami menjadi Pemimpin orang-orang yang taqwa."
(Al-Hadis).

Kenali Siapa Dr Musthafa as-Siba'i?

Semoga Allah mencucuri rahmat-NYA  ke atas roh almarhum Dr Musthafa as-Siba'i yang  meninggal dunia pada  03 Oktober 1964 setelah mengalami sakit teruk selama 7 tahun di mana beliau mengalami lumpuh separuh daripada  tubuhnya. Semoga Allah mencucurkan rahmat dan  maghfirah ke atas roh beliau dan menempatkannya bersama Roh  para Anbia, Siddiqin, Syuhada’ dan Solehin.
Ibu kagum dengan perjuangannya  terus menulis walaupun dalam keadaan lumpuh dan Doktor  yang merawatnya berulang kali minta dia beristirehat.  29 April tahun 1962 terbitlah bukunya bertajuk 'Belajar Dari Pengalaman, Sebuah Refleksi Agar  Hidup Lebih Bernilai'. Menurutnya "Sakit itu laksana sebuah lembaga pendidikan" Artinya, bila orang yang sakit itu dapat mengambil pelajaran darinya, maka penyakitnya itu adalah sebuah kenikmatan, bukan suatu bencana.
  
Beliau dilahirkan pada tahun 1915M di bandar Hims, Syria dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang mulia dan beragama. Keturunannya turun-temurun mewarisi jawatan imam dan khatib di Masjid Besar Hims. Bapanya, Syeikh Hussaini adalah tokoh agama yang disegani.
Sejak kecil beliau menghafal al-Qur’an dan mempelajari asas-asas ilmu agama dari bapanya sendiri. Setelah tamat sekolah rendah dengan cemerlang, beliau dimasukkan ke Ma’ahad Sya’ie di Hims pada tahun 1930. Beliau amat berminat dalam medan dakwah hingga  menubuhkan Ikatan Agama Hims. Kehebatan beliau terserlah  apabila sebelum mencapai umur 18 tahun, beliau telah diberi kepercayaan untuk berkhutbah menggantikan tempat bapanya.
Almarhum Dr Musthafa
  berusaha
menulis dan menyediakan maqalah-maqalah bertujuan untuk menimbulkan kesedaran rakyat supaya menolak penjajah dan membongkar niat buruk mereka. Tidak cukup dengan itu, beliau bertindak berani membuat perhimpunan rakyat, berpidato di atas pentas dan seterusnya memimpin demostrasi menentang penjajah. Akibatnya, beliau dipenjara pada tahun 1931, kejadian ini berulang lagi pada tahun 1932 dan sekali lagi beliau ditangkap.
Setelah dibebaskan, beliau melanjutkan pelajaran di Universiti al-Azhar, Kaherah pada tahun 1933 dalam bidang Syariah, kemudian Usuluddin. Ketika berada di Kaherah  beliau berkenalan dengan as-Syahid Hassan al-Banna dan gerakan Ikhwan Muslimin. Dr. Mustafa menjadi pendakwah Ikhwan yang aktif sama ada di kampus atau di kampung pedalaman. Bencinya kepada penjajah tidak pernah hilang.
Kisah Selanjutnya  bacalah di sesawang http://ibnurrahmat.blogspot.com/2008/08/dr-mustafa-sibaie.html.



At Talbis - Menutupi Haq (kebenaran) dengan Bathil (kesalahan)

At Talbis adalah salah satu dari banyak fitan yang menguji kita dengan hebat, terutama sekali dari tawaghet pada hari ini, dan faktanya dari Ulama pemerintahan Tawaghit. Allah Swt. memerintahkan kita untuk menolak thaghut dan Thaghut adalah sesuatu yang disembah, diikuti atau ditaati selain Allah Swt.. Menolak Thaghut adalah poin pertama dari pilar Tauhid dan tanpa itu kita tidak bisa menjadi Muslim, serta itu adalah prasyarat dari pilar kedua (beriman pada Allah); kedua pilar itu harus dipenuhi jika ketidakadaan dari itu juga akan meniadakan At Tauhid. Allah Swt. berfirman,
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.”(QS Al Baqarah, 2: 256)
Itu adalah At Tauhid kemudian seburuk-buruk Talbis adalah yang mencoba untuk menyembunyikan realitas Tauhid.
At Talbis adalah menutupi Haq (kebenaran) dengan Batil (kesalahan), dan itu adalah berasal dari kata Iblis[1].
Ini penting untuk diingat bahwa At Ta’wil (interpretasi) adalah juga tipe dari Talbis; itu adalah menafsirkan kebenaran, mengambilnya keluar dari kebenarannya serta menunjukkan penafsiran yang lebih condong kepada perumpamaan.
At Talbis adalah sebuah peninggalan yang telah mempengaruhi banyak bangsa sebelum kita dan Allah Swt. menisbatkan At Talbis terutama sekali pada Yahudi, karena begitu banyak digunakan untuk mengatakan bahwa “Talbis adalah Atribut Yahudi.” Allah Swt. berfiman:
“Hai Bani Israil[2], ingatlah akan nikmat-Ku yang Telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan Hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). Dan berimanlah kamu kepada apa yang Telah Aku turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan Hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa. Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu Mengetahui.”[3]
Talbis adalah menutupi sesuatu yang serupa dengan cara kita menutupi diri kita dengan pakaian kita; Allah melarang kita menutupi kebenaran dengan yang Batil dalam ayat ini. Disamping larangan selanjutnya, Allah Swt. menginformasikan kepada kita bahwa akan ada hal yang tidak bisa diabaikan yang menjadi beberapa Talbis dari waktu ke waktu.
Selanjutnya, Allah menginformasikan kepada kita akan waktu yang akan datang, pada saat Talbis akan tersebar luas bahwa dan sebahagian orang-orang akan kelihatan seperti benar-benar aneh (asing); pada waktu dimana orang-orang menjadi benar-benar tersesat, dimana pembunuhan, dan zina akan berada dimana-mana, pada saat “Muslim” akan bersekutu dengan Kuffar melawan Muslim lainnya, pada saat orang-orang akan mengambil riba’ dengan bebas dan dengan bangga serta tersebar dimana-mana, pada saat semua orang-orang mulai terlihat seperti Kuffar dimana menjadi sulit untuk membedakan antara seorang Muslim dan kafir; waktu dimana seorang Muslim terlihat aneh menurut kebanyakan orang, pada saat Mujahid disebut sebagai Teroris dan seorang da’I yang ‘lurus’ dianggap fundamentalis dan sungguh Rasulullah Saw. bersabda,
“Islam datang sebagai sesuatu yang asing (gharib) dan akan kembali menjadi sesuatau yang asing; surga bagi orang-orang yang terasing (Al-Ghurobaa’).”
Allah memperingati kita dari terjatuh kedalam fitnah ini pada saat orang-orang bekerja sama, berteman dan mendukung Kuffar maka banyak dari mereka yang akhinya menjadi Kafir karena diri mereka sendiri, Allah Swt. berfirman,
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka Telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu).”[4]
Ini adalah keinginan Kuffar, mereka menginginkan kita menjadi seperti mereka maka dengan begitu kita akan berstatus rendah sebagaimana mereka, dimana pada faktanya Muslim selalu tinggi di atas Kuffar dan tidak pernah bisa disamakan dengan non-Muslim, Rasulullah Saw. bersabda,
“Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.” Allah Swt. memperingati kita bagaimana Kuffar akan bekerja sama dengan yang lainnya untuk membungkus Batil sebagai Haq,
“Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”[5]
Dengan alasan ini penting bagi kita untuk mempelajari At Talbis, tentang dampaknya dan solusinya.
Alasan lain tentang pentingnya mempelajarinya adalah sebagaimana berikut:
Untuk beribadah pada Allah Swt. Itulah pentingnya untuk mempelajari At Talbis pertama dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah Swt.; karena dengan tujuan untuk menyembah-Nya dengan tulus (Ikhlas dan Tauhid) kita harus bisa membedakan apa yang benar dan apa yang salah karena Allah Swt. berfirman,
“Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.”[6]
At Talbis mendistorsi ayat dengan mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan, padahal untuk beribadah kepada Allah dengan benar kita harus memelihara ikhlas dan jalan yang benar serta metode dalam dien kita, shalat, haji, puasa dan semua ibadah yang lainnya, kita tidak bisa melakukan ini sepanjang kebenaran tercampur dengan kebatilan kecuali pertama memutuskannya dari satu dengan yang lain kemudian membuatnya jelas lagi (antara haq dan batil).
Karena propaganda. Selanjutnya, kita harus mempelajari masalah ini terutama karena pada saat ini terlalu banyak perang dari Talbis yang telah merajalela. Kita melihat bagaimana Kuffar dan Tawaghit menggunakan TV, video, radio, surat kabar, dan semua perangkat yang lainnya untuk menyebarkan kebohongannya dan propaganda. Sungguh Rasulullah Saw. bersabda,
“Akan datang suatu masa dimana orang-orang akan mengatakan ma’ruf (kebaikan) sebagai munkar (keburukan), dan seruan munkar (keburukan) sebagai ma’ruf (kebaikan) ; serta orang-orang akan mendukung para pembohong, padahal mereka menyeru kepada kebohongan.”
Dengan semua ini batil akan tersebar, untuk itu haq harus jelas dan kebenaran harus menang; memang itu adalah Sunnah Allah bahwa kebenaran tidak akan menang sampai itu datang, menghadapi, dan menghancurkan Batil ; ini pokok-pokok yang menjadi tugas kita untuk diperjuangkan.
Diamnya Ulama. Ketiga kita harus mempelajari tentang Talbis karena diamnya Ulamaa dan orang-orang yang menuntut ilmu; orang-orang yang diam dalam menghadapi Batil dan dengan begitu akan menjadi sulit memunculkan Haq.
Pada saat Syayatin datang dan berusaha untuk membungkus Syirik demokrasi sebagai Islam, kita melihat bahwa tidak ada Ulamaa’ yang bangkit dan tidak juga menyerang mereka dengan Haq. Padahal Rasulullah Saw. bersabda:
“Tidak ada seseorangpun yang diam terhadap Al- Haq, kecuali adalah Syaitan.”
Jika dia diam tentang kebenaran padahal dia mengetahuinya, dia adalah Syaitan; tetapi ini menimbulkan pertanyaan, apakah jika dia berbicara tentang Batil seperti kebanyakan masih disebut Ulamaa’? Sungguh, jika dia berbicara tentang Batil; lebih baik bagi dia untuk diam dan menjadi Syaitan yang bisu daripada berbicara kemudian membuat Talbis, dalam kasus ini (At-Talbis) dia akan menjadi juru bicara Syaitan.
Untuk Mengekspos Batil. Selanjutnya, kita harus mempelajari Talbis untuk mengekspos kesalahan dan orang-orangnya di depan umum, untuk mengekspos orang-orang yang berpaling dari dien Allah seperti orang-orang yang mengatakan bahwa wajib taat kepada Raja atau Ratu ; seperti orang-orang yang mengatakan bahwa lebih baik bagi wanita untuk tidak menggunakan Khimar dan Jilbab ; mereka harus diketahui dan kebatilan mereka harus diekspos maka dengan begitu tidak ada seseorang pun lagi yang terjatuh karena perbuatan mereka.
Sesuatu hal yang penting juga untuk mengekspos Tawaghit, seperti Raja Fahd, Bashar Al Asad, Husni Mubarak dan pemerintah tawaghit lainnya yang berkuasa di negeri muslim; sungguh mereka semua telah murtad . Allah Swt. berfirman,
“yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula).”[7]
Karena orang-orang Sekuleris. Lebih lanjut, kita harus mempelajari tentang Talbis karena orang-orang yang menyeru untuk mengikuti kekufuran dari sekulerisme; mereka menginginkan untuk memisahkan Dien dari dunia dan permasalahan kehidupan, namun Allah Swt. mengirimkan dien dan Syari’ah untuk dunia ini dan untuk menentukan semua kepentingan kita. Allah Swt. berfirman,
“Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.”[8]
Karena mundurnya Ulama dari Haq. Kita harus mempelajari tentang Talbis karena banyak Ulama yang walaupun mereka dahulu berada pada haq mulai berubah dan mengikuti Hawaa’ mereka. Ada orang-orang yang telah melakukan dan berkata bahwa tidak ada seorang pun yang mengatakan sebelumnya, mereka memberikan Fatwa yang bahkan sangat bertentangan dengan Ulama di masa lalu; sungguh, bahkan Jahm bin Safwan tidak pernah mendeklarasikan Fattawa Kufur seperti beberapa yang disebut Ulama pada saat ini.
Jika kita tidak mengekspos Talbis kemudian orang-orang akan terus mengumpulkan Ulama tersesat ini serta meringankan setiap kekufurannya dan kesyirikannya.
Masyarakat terasing dari haq karena tiga alasan, Rasulullah Saw. bersabda, “Yang aku takutkan dari ummatku adalah Fitnah.”
Sungguh itu adalah satu yang yang harus ditakuti, itu adalah sesuatu yang bisa merubah Ulama yang berada pada Haq masuk ke dalam Batil, Beliau Saw. memperingati kita tentang masa Fitnah yang akan dihadapi malam demi malam dimana seseorang pada pergi ketempat tidurnya (dalam kondisi muslim) dan bangun dalam keadaan Kafir.
Fitnah ada tiga jenis sebagaimana disebutkan oleh Abdullah Ibnu Abbas, dia berkata,
“Fitnah itu ada tiga, Fitan Ash-Shubuhat, Fitan Shahawaat, dan fitan Shubu Shahawaat.”
Rasulullah Saw. bersabda:
“Yang halal telah jelas, dan yang haram juga telah jelas, diantaranya ada keragu-raguan, maka jauhilah keragu-raguan…”
(i) Fitnah Ash-Shubuhat; keraguan bisa dihilangkan dengan membuang keraguan (ii) Fitnah Asy-Syahawat[9] bisa difilter dengan mendeklarasikan Iman secara perkataan dan perbuatan. Semua alasan ini dan banyak lagi berdampak pada gaya tarik At Talbis dan pentingnya untuk mempelajarinya dan dalam halaman berikut ini kita akan menjelaskan bagaimana dan mengapa Talbis bisa terjadi serta bagaimana menfilternya Insya Allah.
At Talbis selalu terjadi dalam tiga hal, (i) At Ta’wil Al Fasid, (ii) Al Kitm Al haq dan (iii) At Tahrif Al Adillah,
(1) At Ta’wil Al Faasid – salah menafsirkan.
Pertama, At Talbis terjadi dalam salah interpretasi–itu adalah pengkaburan kebenaran dan pengertian, dari yang jelas dengan pengertian yang metapora (kiasan) dan tanpa hujjah apapun.
Tetapi yang lebih buruk lagi daripada itu adalah seseorang yang merubah pengertiannya tidak hanya dari makna sebenarnya menjadi sesuatu yang metapora, tetapi menjadi sesuatu yang benar-benar baru dan bermakna Batil, Ibnu Qayyim berkata,
“Seseorang yang menyetujui di atas kepentingan Allah sebuah fatwa seharusnya berani masuk ke neraka, fondasi dari kehancuran dan kerusakan dunia adalah ta’wil yang tidak mempunyai hujjah dari Al- Qur’an dan Sunnah..…adakah penyebab yang besar atau kecil kecuali dengan ta’wil ? Bahkan darah Muslim bisa tertumpah dengan ta’wil.”[10]
Fitnah yang pertama kali terjadi pada Ummat ini adalah fitnah pembunuhan Ustman bin Affan Ra. Kemudian beberapa orang mulai mempertanyakan penunjukkan (kebijakan) oleh Ustman Ra. dari beberapa utusannya; dan dalam waktu yang sama Khawarij bangkit dengan ta’wil mereka terhadap ayat,
“Yang berhak menetapkan (hukum) itu tidak kain hanyalah Allah.”[11]
Ijtihad Mu’awiyah dan Ali telah direkonsiliasi dengan ketetapan mereka pada dua Shahabat ; Abu Musa Al-As’ari dan Amru bin Al-Aash. Meskipun itu benar bahwa At-Tahakum kepada selain Allah adalah Syirik Akbar, memutuskan hukum pada Allah Swt. adalah dilakukan dengan bertanya pada Alim, dengan begitu Imam Ali dan Mu’awiyah pergi ke kedua Ulama ; Khawarij selanjutnyan telah membuat sebuah ta’wil yang rusak kemudian berkata kepada Imam Ali,
“Jika kamu berada pada Haq, kemudian bagaimana bisa kamu menetapkan ketentuan?” Imam Ali berkata, “Aku memutuskan dengan Al-Qur’an, “mereka berkata, “tidak, kamu memutuskan hukum dengan Abu Musa Al Asy’ari dan Amru Bin Al Aash.” Dia berkata, “Abu Musa mempunyai Al-Qur’an dalam hatinya, maka aku memutuskan hukum dengan Al-Qur’an.”
Ta’wil Khawarij membimbing pada Fitnah yang besar dan bahkan membimbing Takfir pada Shahabat dan banyak pertumpahan darah.
Selanjutnya, Allah Swt. menginformasikan kepada kita tentang Ta’wil Yahudi,
“Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.”[12]
“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”[13]
Ayat-ayat ini adalah Al-Mutasyabihat yang mempunyai beberapa pengertian antara pengertian yang jelas dan pengertian yang samar; sebuah contoh dari ini adalah dimana Allah Swt. membicarakan tentang tangan-Nya (yadd), Allah mengatakan bahwa Dia mempunyai tangan dan tidak menyiratkan kesamaan antara tangan kita dan tangan Allah; tetapi yang ditakutkan dari implikasi ini adalah sebagian orang akan mengambil Ta’wil yang hasilnya bahwa mereka meniadakan pengertian yang benar dari kata Yadd (tangan) dan mereka menyatakan bahwa Allah tidak mempunyai tangan – ini adalah fitnah. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah beriman sebagaimana Shahabat yang beriman bahwa Allah mempunyai dua tangan dan kita tidak mengetahui bagaiman atau terlihat seperti apa.
(2). Al Kitmal haq – merahasikan kebenaran. Kedua, At Talbis terjadi dengan menyembunyikan Haq; pada saat yang sama dimana haq menjadi umum, Batil telah lenyap, menyembunyikan haq tidak bisa dipungkiri bersekutu dengan Batil untuk memberlakukannya dan ini adalah penyebab At Talbis.
Maka kecuali orang-orang dari Haq datang, Batil akan tumbuh dan meluas dimana saja; ini berari bahwa kita mempunyai sebuah tanggung jawab untuk menyebarkan haq bersekutu dengan kebenaran untuk mengekspos Batil dan inilah mengapa Al-Jihad fi Sabilillah adalah kewajiban terbesar setelah Tauhid.
Dalam Islam, Jihad mempunyai posisi yang tidak ada amalan fardhu lain yang bisa menyamai kedudukannya, Imam Ahmad bin Hambal berkata,
“Jika orang-orang berselisih, untuk pergi berjihad, Allah membukakan pintu untuk mereka (yaitu, orang-orang yang berperang dijalan Allah – Allah menunjukkan mereka jalan).”
Jihad membawa Haq dan berhadapan dengan kebatilan secara langsung menghancurkan Talbis dengan kekuatan, sebaliknya meninggalkan Jihad dan tetap diam pada haq akan membimbing pada Talbis dan diam adalah sesuatu yang dilarang dan di laknat, Allah Swt. befirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu Sebenarnya tidak memakan (Tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.”[14]
Ayat ini dengan mudah mengekspos pemimpin Tawaghit, Ulama Tawaghit mereka kemudian diam yang lidah-lidah mereka terisi oleh kebohongan dan perut-perut mereka berisi dengan api.
Selanjutnya, Yahudi mempunyai Suhufut Taurat yang mengetahui tentang Muhammad Saw. seperti bahwa mereka akan berbicara tentangnya dan menginformasikan kepada siapa saja, Allah Swt. berfirman,
“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, dikala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, Kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al-Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.”[15]
Mereka dahulu mengambil sebagian, dan menyembunyikan sebagian kemudian dikutuk dan dihukum seperti itu, itu adalah penyebab kehancuran Ummat mereka dan itulah sebab Muhammad Saw. bersabda,
“Seseorang yang menyembunyikan Ilmu akan menyebabkan Allah mengisi mulutnya dengan api.”[16]
Sungguh, jika Ulama tetap diam, bagaimana orang-orang akan mendapatkan petunjuk? Ulama mempunyai peranan dan tanggungjawab untuk memenuhi yang tidak seperti orang-orang yang lain, yakni kewajiban atas mereka kepada yang lainnya untuk membangkitkan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar untuk memadamkan Talbis.
(3). At Tahrif Al Adillah – distorsi Hujjah. At Talbis adalah memutar-balikkan hujjah (At Tahrif Al Adillah) seperti orang yang mengutip ayat Al- Qur’an,
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqadmu itu.”[17]
Kemudian menggunakannya untuk menyeru Muslim melakukan syirik yaitu memenuhi kontrak dengan tentara Inggris dan USA untuk memerangi Muslim; dalam realitas ini telah diketahui dengan baik bahwa setiap syarat (perjanjian) yang berlawanan dengan syari’ah maka tertolak. Rasulullah Saw. bersabda,
“Tidak ada ketaatan dalam mendurhakai Allah.”
Ini adalah salah satu dari buah busuk dari dua bentuk At Talbis; salah menafsirkan dan menyembunyikan Haq yang tidak akan bisa diacuhkan hasilnya dalam memutar-balikkan Hujjah.
Penawar At Talbis Penawar untuk Talbis adalah jelas dan satu yang jelas itu adalah bangkit dengan Haq untuk menghadapi dan menghancurkan Batil, bisa dengan perkataan dan dengan pedang. Sungguh Allah Swt. telah memerintahkan Muslim dimana saja ada masalah untuk membuat klarifikasai dengan ketetapan wahyu, terutama pada saat itu akan berdampak pada kehidupan, kehormatan dan kekayaan. Allah Swt. berfirman,
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang Telah diberi Kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.”[18]
Selanjutnya menjadi kewajiban kita sebagai Muslim untuk menjelaskan kepada orang-orang, dan Allah telah menjelaskan bahwa orang-orang yang menyembunyikan ilmu tidak akan terpuji juga akan berada dalam neraka sebagaimana firman-Nya.
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), Maka terhadap mereka Itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [19]
Adalah kewajiban kita untuk menyebarkan Islam kepada seluruh manusia dan untuk menerapkan bukti-bukti atau melawan mereka, untuk menyerahkan mereka tidak ada keringanan atau kemungkinan kecuali untuk memeluk kebenaran atau akan masuk neraka. Itu adalah kewajiban kita untuk berjaga-jaga melawan Batil, untuk memadamkan suaranya sampai benar-benar lenyap sebagaimana Allah Swt. berfirman, “Katakanlah: “Kebenaran Telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.[20]
Adalah kewajiban kita untuk meyakinkan bahwa Haq dan Batil itu terpisah satu sama lain, untuk melindunginya Allah Swt. berfirman : ”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.”[21]
Adalah kewajiban kita untuk menantang setiap Talbis dan semua orang-orang tanpa rasa takut kecuali pada Allah; kita harus tetap pada bagian Ummat yang mempertahankan Haq, tentang siapa mereka Rasulullah Saw. bersabda,
“Akan ada yang terus melanjutkan dari Ummatku yang akan berperang untuk Haq, itu tidak merugikan mereka bagi siapa saja yang berselisih dengan mereka,”[22]
Dalam riwayat yang lain Salamah bin Kafai meriwayatkan,
“pada saat saya duduk dengan Rasulullah (saw), seorang laki-laki datang, “Yaa Rasulullah, orang-orang telah meninggalkan kuda-kudanya dan telah meletakkan senjatanya, kemudian mereka mengatakan bahwa tidak ada lagi jihad dan bahwa perang telah berakhir” Rasulullah bangkit dan … beliau (saw) bersabda, “mereka adalah pembohong, peperangan baru saja dimulai, akan ada sekelompok dari ummatku yang berperang demi kebenaran (al Haq), dan Allah akan menyesatkan hati orang-orang selainnya, dan mereka akan berhadapan dengan kelompok itu sampai akhir waktu dan sampai janji Allah terpenuhi, dan kuda-kuda; yang telah diikat pada leher mereka adalah kebaikan sampai hari pengadilan… dan kamu akan mengikuti bagianku setelah terbagi, dan kamu akan berperang satu sama lain dan penyelesaian dari dar ul mu’minien adalah Asy Syam.”
Zuhur adalah salah satu dari dakwah dan jihad, satu akan mendominassi dengan kekuatan dan yang lainnya dengan perkataannya; dalam hadits ini Rasulullah berkata, ‘Zahiriin’ dalam lain makna diartikan berperang[23] dan dalam riwayat Bukhari beliau Saw. menjelaskan tentang yang mempertahankan dien; itu adalah At-Taa’ifah Az-Zaahirah dan At-Tha’ifah Al-Mansurah (kelompok yang dimenangkan) tentang siapakah mereka Imam Ahmad berkata,
“At-Tha’ifah Al-Mansurah adalah Ahlul Hadits, jika bukan Ahlul Hadits, lalu siapa?”
Pada waktu itu , Ahul Hadits adalah satu-satunya orang yang berdiri pada saat Al-Qur’an di bawah tekanan[24], pada saat Jahl (kebodohan) dan Batil tersebar dimana-mana–mereka satu-satunya yang bangkit dengan Haq dan menyeru kebaikan serta mencegah kemunkaran.
Sama halnya kita harus menjaga dien, memperjuangkannya dan memerangi Batil (kufur, syirik, tawaghit, kuffar dan sebagainya) sampai tidak ada Talbis tidak juga Fitnah dan sampai dien merata dan dominan sebagaimana Allah swt. telah perintahkan,
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.”[25]
Kita harus mendukung Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, bersama dengan mereka, bersatu dengan mereka dan tidak membiarkan mereka jatuh dan mereka terdiri dari dua, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
“Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ada dua jenis, Mujahidin dan Munafihun; satu mujahidin dengan pedang dan yang satu Mujahidin dengan perkataan.”
Dan sungguh tidak perlu merasa kecil hati dan lemah karena kemenangan pada akhirnya terjadi dan milik kaum muslimin, sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah Swt. dan Muhammad Saw.,
“Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.”[26]
——————————————————————————–
[1] Iblis adalah nama dari Syaitan.
[2] Anak Israel: Israil adalah salah satu nama dari Nabi Ya’qub a.s. dan dengan begitu Yahudi sering tertuju sebagaimana Bani Israil.
[3] (QS Al Baqarah, 2: 40-42)
[4] (QS An Nisaa’, 4: 89)
[5] (QS Al An’Aam, 6: 112)
[6] (QS Al Baqarah, 2: 256)
[7] (QS Al Anfal, 8: 42)
[8] (QS Al Baqarah, 2: 12-13)
[9] Hawaa ada dua jenis, Hawaa yang baik yaitu sesuai dengan Syari’ah dan Hawaa yang buruk adalah kebalikannya : Shahawaat apabila telah dijelaskan tidak dilarang selalu mempermasalahkan hawaa yang buruk.
[10] Al Muwaqqi’iin, jilid. 4, Hal. 353
[11] (QS Yusuf, 12: 40)
[12] (QS Ali Imran, 3: 78)
[13] (QS Ali Imran, 3: 7)
[14] (QS Al Baqarah, 2: 174)
[15] (QS Al An’aam, 6: 91)
[16] Shahih Muslim, Hadits Shahih yang bersumber dari Abu Huraira.
[17] (QS Al Ma’idah, 5:1)
[18] (QS Ali Imran, 3: 187)
[19] (QS Al Baqarah, 2: 159-160)
[20] (QS Al Isra’, 17: 18)
[21] (QS Al Baqarah, 2: 256)
[22] Shahih Al Bukhari
[23] Musnad Imaam Ahmad dan An-Nasaa’i
[24] Masalah fitnah Al-Qur’an, orang-orang mengklaim bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dan Ahlul Hadits adalah orang-orang yang tetap berdiri dengan pendirian mereka dan menyeru kebenaran agar berlaku; dengan menyampaikan bahwa Al-Qur’an adalah perkataan Allah (kalamullah), itu bukanlah ciptaan (makhluk), bukan juga kiasan, itu mempunyai suara, bisa dibaca, dan didengar.
[25] (QS Al Anfal, 8: 39)
[26] (QS At Taubah, 9: 33)
Sumber: Almuhajirun



Soalan : Dr Asri, apakah pandangan Islam mengenai perjuangan memartabatkan bangsa? Ada yang kata tak Islamik, ada yang kata asabiyyah. Ada pula yang berkata Islam sama sekali tidak peduli masalah kaum. Kita di Malaysia orang Melayu beragama Islam, salahkah jika kita berjuang mengangkat hak bangsa melayu? Harap Dr Asri dapat jelaskan kekeliruan ini.

Saifuddin, Johor.

Jawaban Dr. MAZA: Saudara Saifuddin, Allah ialah tuhan untuk semua manusia tanpa mengira bangsa. Islam adalah agama Allah yang diutuskan agar dianuti oleh setiap bangsa tanpa sebarang diskriminasi. Dalam masa yang sama Islam akui kewujudan manusia berpuak dan berbangsa. Allah Tuhan Yang Maha Pencipta telah menciptakan manusia dalam keadaan demikian dengan hikmah yang begitu banyak. Di sini saya sebut beberapa perkara untuk memahami isu ini;

1. Tiada siapa yang mampu menentukan bangsanya sebelum dia lahir samada untuk dia menjadi arab, atau melayu, atau inggeris atau india atau selain itu. Ia adalah ketentuan Allah, bukan atas usaha atau kejayaan seseorang. Maka hakikat ini mestilah difahami supaya kita tidak menyalahkan atau menghina seseorang atas sebab bangsa atau keturunannya kerana itu bukan pilihan atau kesalahannya. Sebaliknya kita menilai seseorang berdasarkan perbuatan dan akhlaknya. Inilah sikap yang adil. Dosa keturunan tidak ditanggung oleh anak cucu. Dosa seseorang tidak boleh dibebankan atas orang lain yang sebangsa dengannya yang tidak terlibat dengan kesalahan itu. Allah menjelaskan prinsip ini dalam al-Quran: (maksudnya)
“dan seseorang yang boleh memikul, tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain. dan tiadalah Kami (Allah) mengazabkan sesiapapun sebelum Kami mengutuskan seorang rasul (untuk menerangkan yang benar dan yang salah). (Surah al-Isra, ayat 15).
2. Maka, perjuangan apapun yang mahu ditegakkan, hendaklah menilai setiap insan berdasarkan kepada akhlaknya, bukan titih keturunannya. Keadilan dalam Islam buta warna bangsa dan agama sekalipun. Keadilan untuk semua. Sabda Nabi s.a.w:
“Wahai manusia! Sesungguhnya tuhan kamu sama, bapa kamu sama (Adam). Ketahuilah! Tiada kelebihan orang arab ke atas ‘ajam (yang bukan arab), atau ‘ajam ke atas arab, atau yang berkulit merah ke atas yang berkulit hitam, atau yang berkulit hitam ke atas yang berkulit merah melainkan ketakwaan” (Riwayat Ahmad dan al-Baihaqi, dinilai hasan oleh al-Albani).
Jika hal ini tidak diteliti, perkauman atau racism akan berlaku. Akan ada pihak yang teraniaya hanya kerana keturunannya walaupun mungkin dia tidak bersalah. Diskriminasi seperti ini pernah berlaku di Amerika, sehingga Martin Luther King dalam pidatonya yang terkenal ‘I have a dream’ menyebut: “I have a dream that my four little children one day live in a nation where they will not be judged by the colour of their skin but by the content of their character”.
3. Tujuan Allah menciptakan berpuak dan berbangsa agar saling kenal mengenali antara satu sama lain. Firman Allah: (maksudnya) (maksudnya):
Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha mendalam pengetahuanNya. (Surah al-Hujurat: 13).
Lihat dalam ayat ini, Allah memanggil “Wahai manusia!”. Panggilan yang sangat adil merangkumi setiap bangsa dan puak. Bukan panggil perkauman atau fanatik keturunan. Kata Sayyid Qutb dalam menafisrkan ayat ini:
“Penciptaan manusia berbagai bangsa dan suku puak bukan untuk berperang dan bergaduh, tetapi untuk berkenalan dan bermuwafakat. Perbezaan bahasa, warna kulit, tabiat, perangai, kelebihan dan kemampuan adalah kepelbagaian yang bukan bertujuan untuk perbalahan dan perkelahian. Sebaliknya, untuk bantu membantu dalam menunai tanggungjawab dan keperluan. Tiada bagi warna kulit, jenis bangsa, bahasa, negara segalanya itu nilai dalam timbangan Allah. Sebaliknya, di sana hanya satu timbangan yang menentukan nilai dan kelebihan manusia, iaitu “Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu”. (Fi Zilal al-Quran 6/3348. Cairo: Dar al-Syuruq).
4. Di samping itu, kita hendaklah tahu bahawa setiap mukmin itu bersaudara tanpa mengira bangsa dan puak. Hak-hak persaudaraan Islam telah ditentukan oleh Allah dan rasulNya. Nilai persaudaraan ini hendaklah sentiasa kita pegang. Perbezaan keturunan dan bangsa tidak boleh menjejaskan hal ini. Inilah asas perpaduan yang terpenting. Inilah perpaduan yang menyelamatkan kita dunia dan akhirat. Firman Allah: (maksudnya)
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah (Islam), dan janganlah kamu berpecah-belah; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu dahulunya bermusuh-musuhan, lalu Allah menyatukan di antara jantung hati kamu, maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu bersaudara (persaudaraan Islam). Dan kamu dahulunya berada di tepi jurang neraka (disebabkan kekufuran kamu semasa jahiliyah), lalu Allah selamatkan kamu darinya (disebabkan nikmat Islam). Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keteranganNya, supaya kamu mendapat petunjuk hidayahNya. (Surah Ali ‘Imran ayat 103).
5. Setelah kita faham dan beriman dengan asas-asas yang disebutkan di atas. Bertindak berteraskan asas ini, maka tidaklah menjadi kesalahan jika kita dalam masa yang sama berusaha memajukan bangsa atau keturunan kita dengan syarat kita tidak menzalimi dan menghina kaum yang lain. Dalam Islam pun, harta pusaka juga diwarisi oleh kaum keluarga. Kita juga disuruh menghubungkan silaturrahim sesama keluarga dan al-Quran juga menyuruh kita membantu keluarga di sudut harta. Firman Allah: (maksudnya)
“Maka (sebagai tanda syukur) berikanlah kepada kaum kerabatmu, miskin dan orang musafir akan haknya masing-masing; pemberian yang demikian adalah baik bagi orang-orang yang bertujuan memperoleh keredhaan Allah dan mereka itulah orang-orang yang berjaya. (Surah al-Rum, ayat 37)
6. Nabi s.a.w juga memuji sikap tolong menolong dalam memajukan atau membantu kaum atau puak sendiri, dengan syarat tidak menzalimi puak yang lain. Sabda Nabi s.a.w:
“Sesungguhnya kaum al-`Asy`ariyin apabila habis bekalan mereka dalam peperangan, atau kurang makanan keluarga mereka di Madinah, mereka himpunkan apa yang ada pada mereka dalam satu kain. Kemudian mereka membahagikan dalam satu bekas dengan sama rata. Sesungguhnya mereka daripadaku dan aku daripada mereka. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Ertinya, walaupun Islam menentang ‘asabiyyah namun Islam tidak menentang usaha membantu dan memartabatkan kaum sendiri, jika ada keperluan ke arah itu dan tidak membawa kepada pemusuhan antara puak dan kaum.
7. Adapun asabiyyah sebenarnya adalah sikap berpuak yang membawa kepada membelakangkan kebenaran dan kezaliman kepada kepada pihak lain. Sikap fanati puak itu mungkin menjelma dalam bentuk bangsa, ataupun parti politik, atau mazhab, atau kumpulan atau apa sahaja yang fanatik dan menolak kebenaran orang lain. Sabda Nabi s.a.w:
“Sesiapa yang berperang di bawah rayah ‘immiyyah (bendera kebutaan) dan menyeru kepada ‘asabiyyah atau marah kerana ‘asabiyyah maka kematiannya adalah jahiliyyah”. (Riwayat Muslim).
Rayah ‘immiyyah (bendera kebutaan) adalah kiasan kepada suatu puak yang berhimpun atas suatu perkara yang tidak diketahui sama ada benar atau batil, namun membela atas dasar ketaksuban. Ertinya, jika ada ciri demikian maka itu ‘asabiyyah yang dilarang; samada perjuangan parti atau perjuangan kaum. Maka, bukan sahaja perjuangan politik bangsa boleh menjadi ‘asabiyyah, perjuangan atas nama Islam jika fanatik dan menolak kebenaran hanya kerana keputusan parti juga boleh dinamakan ‘asabiyyah.
8. Usaha memartabatkan kaum bukan prinsip perjuangan tetapi keperluan yang dilakukan apabila keadaan mendesak seperti yang berlaku kepada kabilah al-Asy’ariyyin dalam hadis di atas. Sebab itu al-Quran bukan sahaja menyebut membantu kaum kerabat yang susah, tetapi juga membantu golongan miskin, orang musafir yang kesusahan tanpa dikaitkan dengan kaum kerabat atau bangsa.
9. Kesimpulannya; prinsip Islam mengatasi segalanya termasuk isu bangsa. Perjuangan bangsa jika bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam yang disebutkan tadi adalah diharamkan. Namun, usaha memartabatkan bangsa jika tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam seperti prinsip persaudaraan Islam, keadilan untuk semua dan tidak menghina bangsa lain, maka ia diizinkan, bahkan terpuji.

Wednesday, August 10, 2011

ANTARA YANG HAQ DAN BATIL

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

ANTARA YANG HAQ DAN BATIL

Al-Qur'an adalah kitab yang benar dari sisi Allah. Ia adalah ibarat cahaya yang menerangi kegelapan. Ia adalah Al-Furqan, yang membezakan dengan jelas apakah itu kebenaran (haq) dan apakah itu kebatilan. Dalam Al-Qur'an terdapat cukup banyak ayat-ayat yang menyentuh mengenai ilmu pengetahuan dan mengajarkan kepada manusia bahawa Allah Maha Berilmu dan amat mendalam pengetahuanNya meliputi segala sesuatu. Jika anda selalu membaca Al-Qur'an, anda akan dapati bahawa hampir semua surah dalam Al-Qur'an ada menyentuh tentang ilmu pengetahuan. Ini sekaligus membuktikan bahawa Islam adalah agama yang mementingkan ilmu pengetahuan dalam segala aspek kehidupan. Amat rugilah jika seseorang Muslim itu menjauhkan diri dari berusaha menuntut ilmu yang bermanfaat.

PEMBEZA ANTARA YANG HAQ DAN YANG BATIL

Dalam artikel kali ini saya salinkan beberapa maksud ayat Al-Qur'an yang menunjukkan bagaimana Allah mendidik umat Islam untuk membezakan antara perkara-perkara yang dijadikanNya berpasang-pasang sesuai dengan maksud firmanNya:
Yasin 036:36. Maha Suci Tuhan Yang telah menciptakan makhluk-makhluk semuanya berpasangan, samada dari yang ditumbuhkan oleh bumi atau dari diri mereka ataupun dari apa yang mereka tidak mengetahuinya.
Berikut adalah mafhum firman Allah yang menyentuh mengenai perbezaan antara dua perkara yang dipasang-pasangkan. Semoga direnungkan:

Ali-’Imran 003:113. Ahli-ahli Kitab itu tidaklah sama. Di antaranya ada golongan yang (telah memeluk Islam dan) tetap (berpegang kepada agama Allah yang benar) mereka membaca ayat-ayat Allah (Al-Quran) pada waktu malam, semasa mereka sujud (mengerjakan sembahyang).

An-Nisa’ 004:95. Tidaklah sama keadaan orang-orang yang duduk (tidak turut berperang) dari kalangan orang-orang yang beriman selain daripada orang-orang yang ada keuzuran dengan orang-orang yang berjihad (berjuang) pada jalan Allah (untuk membela Islam) dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperang kerana uzur) dengan kelebihan satu darjat dan tiap-tiap satu (dari dua golongan itu) Allah menjanjikan dengan balasan yang baik (Syurga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjuang atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperang dan tidak ada sesuatu uzur) dengan pahala yang amat besar,

Hud 011:24. Bandingan dua golongan (yang kafir dan yang beriman) itu samalah seperti orang yang buta serta pekak, dengan orang yang celik serta mendengar, kedua-dua golongan itu tidaklah sama keadaannya. (Setelah kamu mengetahui yang demikian) maka tidakkah kamu mahu mengambil peringatan dan insaf?

As-Sajdah 032:18. (Jika demikian halnya) maka adakah orang yang beriman sama seperti orang yang fasik? Mereka tidaklah sama (dalam menerima balasan).

Fatir 035:12. Dan tidaklah sama keadaan dua laut (sekalipun satu jenisnya), yang satu tawar lagi memuaskan dahaga serta sesuai diminum, sementara yang satu lagi masin lagi pahit dan (kedua-duanya itu berfaedah kepada kamu): Dari tiap-tiap satunya kamu dapat makan daging yang lembut hidup-hidup dan dapat pula kamu mengeluarkan benda-benda perhiasan untuk kamu memakainya, (selain itu) engkau melihat pula kapal-kapal membelah air belayar padanya, (diadakan semuanya itu) supaya kamu dapat mencari rezeki dari limpah kurnia Allah dan supaya kamu bersyukur.

Fatir 035:19. Dan tidaklah sama orang buta dengan orang yang melihat.
Fatir 035:20. Dan tidaklah sama gelap-gelita dengan cahaya yang terang-benderang,
Fatir 035:21. Dan tidaklah sama suasana yang teduh dengan yang kencang panasnya.
Fatir 035:22. Dan (Demikianlah pula) tidaklah sama orang-orang yang hidup dengan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah, (menurut undang-undang peraturanNya), dapat menjadikan sesiapa yang dikehendakinya mendengar (ajaran-ajaran Kitab Allah serta menerimanya), dan (engkau wahai Muhammad) tidak dapat menjadikan orang-orang yang di dalam kubur mendengar (dan menerimanya).

Ghafir 040:58. Dan sememangnya tidaklah sama orang yang buta dan orang yang melihat dan juga tidaklah sama orang-orang yang beriman serta beramal soleh dengan orang yang melakukan kejahatan. (Meskipun hakikat ini jelas nyata, tetapi) sedikit sangat kamu beringat dan insaf.

Fussilat 041:34. Dan tidaklah sama (kesannya dan hukumnya) perbuatan yang baik dan perbuatan yang jahat. Tolaklah (kejahatan yang ditujukan kepadamu) dengan cara yang lebih baik, apabila engkau berlaku demikian maka orang yang menaruh rasa permusuhan terhadapmu, dengan serta merta akan menjadi seolah-olah seorang sahabat karib.

Al-Hadid 057:10. Dan mengapa kamu tidak membelanjakan harta benda kamu pada jalan Allah? Padahal Allah jualah yang mewarisi langit dan bumi (serta segala isinya). Tidaklah sama di antara kamu, orang-orang yang membelanjakan hartanya serta turut berperang sebelum kemenangan (Nabi menguasai Mekah). Mereka itu lebih besar darjatnya daripada orang-orang yang membelanjakan hartanya serta turut berperang sesudah itu dan tiap-tiap satu puak dari keduanya, Allah janjikan (balasan) yang sebaik-baiknya. Dan (ingatlah), Allah Maha Mendalam PengetahuanNya akan apa yang kamu kerjakan.

Al-Hasyr 059:20. Tidaklah sama ahli Neraka dan ahli Syurga, ahli Syurgalah orang-orang yang beroleh kemenangan (mendapat segala yang diingini).

MENJELASKAN HAKIKAT TAUHID

Malah, Allah mendidik manusia untuk membezakan apakah itu yang dikatakan Tauhid (mengesakan Allah) melalui maksud firmanNya:

Az-Zumar 039:29. Allah memberikan satu misal perbandingan: Seorang hamba lelaki yang dimiliki oleh beberapa orang yang berkongsi yang bertentangan tabiat dan kemahuannya dan seorang hamba lelaki yang lain hanya dimilik oleh seorang sahaja, adakah kedua-dua hamba itu sama keadaannya (Tentulah tidak sama). Ucaplah: Alhamdulillah (sebagai bersyukur terhadap penjelasan soal tauhid itu) bahkan kebanyakan mereka (yang musyrik) tidak mengetahui (hakikat tauhid).
Al-Ikhlas 112:1-4. Katakanlah (wahai Muhammad): (Tuhanku) ialah Allah Yang Maha Esa. Allah Yang menjadi tumpuan sekalian makhluk untuk memohon sebarang hajat. Dia tiada beranak dan Dia pula tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesiapapun yang serupa denganNya.
Semoga Allah merahmati kita semua dan sentiasa membimbing kita ke jalanNya yang lurus. Sesungguhnya tanpa bimbingan dan rahmatNya tentulah kita akan berada dalam kegelapan yang tertutup rapat.
Wassalam.

Semoga Allah SWT merahmati kita semua.
سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم

1 ulasan:

Jeanny Muliasari berkata...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Subhanallah.. Alhamdulillah..
Mohon izin share.. Terimakasih
Wasalam