Jumaat, 3 Julai 2015

JIKA KITA SENTIASA INGAT AKHIRAT...KITA AKAN LEKA BERIBADAH...DISAMPING SENTIASA MENJAGA AKIDAH JANGAN TERCABUT

APA ITU CINTA...KERANA NAFSU ATAU LAIN2...YANG TERBAIK KERANA ALLAH SWT...BEGITU JUGA KAHWIN KERANA TUNTUTAN AGAMA DAN UNTUK IKUT SUNNAH












Apa itu Cinta?

Ramai yang tahu tentang cinta. Ramai yang tahu menyebut perkataan cinta. Ramai yang tahu bagaimana ingin meluahkan kata-kata cinta. Tetapi adakah anda tahu apa itu cinta yang sebenarnya? Di sini saya ingin berkongsi dengan anda tentang apa itu cinta.
Sifat Cinta
Cinta itu suci, mahal dan tinggi tarafnya. Sifat cinta itu sempurna. Jika tidak, cinta akan cacat. Itulah cinta sebenar cinta.
Cinta Wujud Sejak Dilahirkan
Rasa cinta sedia wujud di dalam jiwa manusia sejak manusia itu lahir ke dunia. Cuma manusia akan melalui tahap-tahap kelahiran cinta bermula dari cinta kepada belaian ibu, membawa kepada cinta kepadakekasih dan akhirnya setelah puas mencari cinta suci, maka akan cinta kepada Tuhan Wujudnya cinta itu tidak dapat dilihat tapi dapat dirasa dan cinta sebenar cinta itu suci murni serta putih bersih.
Cinta Bersedia
Bila sampai masanya di setiap tahap-tahap cinta, maka Tuhan menjadikan manusia itu bersedia menerima cinta itu. Pada mulanya jiwa itu bersedia menerima cinta, lantas sedia pula untuk berkongsi rasa kewujudan dengan dikasihi. Sedia untuk mengikat setia serta saling memahami. Setia untuk dipertanggungjawapkan kerana cinta. Sedia untuk menyerah diri pada yang dicintai.
Cinta Itu Indah
Walaupun kewujudan cinta tidak bisa dilihat, tetapi cinta itu indah dan cantik. Cantiknya itu tulin dan tidak ia bertopeng. Bukan saja ia cantik malah suci murni, bercahaya gemerlap dan putih bersih.
Cinta Itu Mengharap Balasan
Cinta antara manusia itu berkehendak kepada jodoh atau pasangan, dari diri yang punya persamaan, dari diri yang asalnya satu. Bila dapat yang dicari, bermakna cinta itu menganggap telah bertemu yang paling sesuai dan secocok dengan jiwanya, untuk bersatu kembali. Kehendak itu timbal balik sifatnya kerana manusia dalam bercinta tidak hanya menerima tapi juga menerima.
Cinta Itu Menakluki
Sifat cinta itu ingin menguasai. Dia mahu yang dikasihinya itu hanya khusus untuk
dirinya. Dia tidak mahu ianya dikongsi dengan orang lain. Sifat ini menuntut hak untuk mencintai dan dicintai. Tapi, dalam pada ingin menakluki, ia juga ingin ditakluki sepenuhnya.
Cinta Itu Mengetahui
Pada asasnya sebenarnya cinta itu mengetahui. Orang yang bercinta tahu siapa yang patut
dicintainya. Cinta tidak perlu bertanya. Manusia boleh jatuh cinta tanpa membaca ilmiah atau novel tentang cinta. Mereka tahu apa yang perlu dilakukan. Tapi, cinta cuma tahu bercinta. Ia tidak tahu akan peraturan cinta jika tiada diberikan panduan.
Cinta Itu Hidup
Cinta adalah ibarat manusia, boleh berputik, lalu mekar serta boleh layu dan gugur. Cinta itu punya deria dan perasaan. Cinta mendengar cinta, berkata cinta, melihat
cinta. Cinta ada segala-galanya. Sayang, benci, cemburu, gembira, sedih, tenang, tertekan, ketawa dan menangis. Cinta itu hidup sampai satu ketika ia akan menemui mati.Tapi ramai orang berharap agar cinta itu kekal selagi dia masih hidup dan tetap hidup walaupun telah mati.
Cinta Itu Suci
Sebagaimana yang banyak dikatakan orang, cinta itu suci. Sucinya cinta bukan bermakna ia tidak mengharap balasan. Cinta mengharap balasan cinta. Sucinya cinta bermakna ia tidak bernoda dan tidak pula berdosa Itulah sifat asal cinta, ia suci bagaikan anak yang baru lahir. Mereka yang kenal erti cinta akan cuba mengekalkan cinta itu sesuci mungkin. Mengekalkan cinta suci bermakna menjauhkan ia dari godaan nafsu yang tidak ada batasan. Kerana nafsulah cinta suci jadi bernoda dan berdosa.
Cinta Itu Mempesona
Cinta itu bukan saja indah, tapi mempersonakan. Ia bukan kerana cinta itu nakal sifatnya tapi kerana ia suci dan bersih. Ia adalah sebagaimana anda melihat pada anak kecil yang comel dan
bersih. Dia senyum pada anda dan merapati anda. Anda terpesona kerana bukan saja ianya comel, tapi kerana dia adalah insan yang tidak berdosa. Kerana sifat cinta yang mempersona ini selalunya manusia itu berbuat silap bila bercinta.
Apa saja yang dilakukan oleh kekasihnya…mempersonakannya dan nampak cantik serta betul walaupun itu adalah satu dosa dan akan menodai cinta itu sendiri. Itulah juga yang menyebabkan orang yang bercinta itu walaupun seorang yang bijaksana, akan menjadi bodoh kerana pesona cinta. Akal itu mampu dikalahkan oleh nafsu. Nafsu itu tidak bisa dikalahkan melainkan jika anda sentiasa ingat kepada Tuhan Maha Pencipta.
Apakah itu Bukti Cinta?
Cinta perlukan bukti. Ramai orang percaya bahawa bukti cinta itu ialah mengorbankan atau menyerahkan apa saja yang kekasih anda mahu. Mereka percaya jika itu tidak berlaku, maka cinta itu tidak tinggi nilainya. Sebenarnya anggapan itu tidak tepat. Jika anda beri semua yang dia mahu,apakah yang tinggal pada anda? Benarkah dia cinta pada anda bila dia mahukan pengorbanan anda?
Cinta sejati tidak memusnahkan atau merosakkan diri kekasih yang dicintai. Malah ia menjaga agar kekasih tetap suci dan selamat sebagaimana sucinya cinta itu sendiri.
Sumber: Azdriana

Apa itu Cinta - Bagaimana Saya Menemukannya?



Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya?

Gurunya menjawab, " Ada ladang gandum yang luas didepan sana . Berjalanlah kamu
dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting.
Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu
telah menemukan cinta" .

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan
kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"

Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja,dan saat berjalan tidak
boleh mundur kembali (berbalik)". Sebenarnya aku telah menemukan yang paling
menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di
depan sana , jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"

Gurunya kemudian menjawab " Jadi ya itulah cinta"

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,"Apa itu perkawinan?Bagaiman a saya bisa menemukannya? "

Gurunya pun menjawab " Ada hutan yang subur didepan sana .

Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"

Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah
menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong.
Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"

Gurunya pun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan"

CATATAN - KECIL :
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.
Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat
adalah kehampaan... tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.
Terimalah cinta apa adanya.
Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi
kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

Hmmmm....sooo cute...
Sebenarnya Cinta itu apa ya..??? Mengapa harus ada cinta..?! بِسْــــــــــــــــمِ ﷲِ sebenarnya apa itu cinta..? Sekedar iseng sekalian meluapkan isi hati yang sedang merenungi kehidupan yang fana ini, kali ini sempet merenung ditengah malam minggu yang sepi dan sunyi... ditemani suara hembusan angin.. ^dari kipas angin^.. Dalam hatiku bertanya tanya sebenarnya cinta itu apa ya...? mengapa harus ada cinta..?! sewaktu masih gadis pernah diceritain sama seorang ibu yang mana katanya cinta itu hanya diawal saat masih muda saja setelah menikah dan semakin bertambah umurnya maka tidak ada lagi rasa cinta melainkan yang ada hanya rasa kasihan. sampai sekarang aku belum bisa memahami perkataan itu entah mungkin karena aku belum menjadi tua atau belum tiba saatnya.. Entahlah yang jelas sampai saat ini aku masih sangat mencintai suamiku yang telah menjadi imam dalam hidupku... Terkadang aku juga merasa ini seperti mimpi.. sebuah mimpi yang sangat indah dan aku terus berusaha untuk menyadarkan diri dan merasakan bahwa semua ini bukanlah mimpi...akan tetapi aku juga takut saat tiba waktunya untuk berpisah karena semua orang pasti akan kembali kepada sang Penciptanya, dan aku takut kalau aku tak bisa menerima itu dengan hati yang ikhlas. Aku juga takut kalau rasa cinta ini melebihi rasa cintaku kepada Sang Khalik ( Alloh Subahanhuwata'ala dan Rhosulnya ) karena tidak sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai Alloh dan RhosulNya melebihi dirinya sendiri dan keluarganya. Aku sangat bersyukur karena Alloh telah memberiku suami yang baik yang dapat membimbingku menjadi wanita yang benar benar wanita walaupun aku tidak tau apakah aku sudah bisa menjadi isteri dan ibu yang baik atau belum.... Di lubuk hati yang terdalam ingin sekali mengucapkan rasa terimakasih kepada Suamiku tercinta dan juga keluarganya yang dengan segala kebaikannya menerimaku apa adanya sebagai anggota keluarganya dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus walaupun aku ini bukanlah siapa siapa, aku hanya gadis desa yang tidak memiliki kelebihan apa apa dalam skill maupun materi. seperti Sinderella yang menjadi isteri seorang pangeran...he3.. tapi sayangnya aku malu mengucapkan terimakasih pada mereka terutama Ibu mertuaku yang sangat perhatian padaku dan terkadang perhatiannya melebihi suamiku, aku belum pernah melihat seorang mertua yang sangat baik dan perhatian seperti ibu mertuaku....Orang yang sangat supel dan semua orang mencintainya, " maafkan aku Ibu.. karena aku belum bisa menjadi menantu yang baik untukmu... tapi aku akan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk Anakmu dan juga cucu cucumu...dan juga untuk adik iparku yang manis manis... aku tidak bisa menyampaikan ini secara langsung karena aku malu dan itu juga atas saran suami karena takut mereka jadi tidak enak atau malah kepikiran.. tapi aku sangat ingin mengucapkannya sehingga kutulis saja disini....^^ ko malah jadi curhat ya...hmmm^^ kembali lagi ketopik... Sebenarnya disini aku ingin menyampaikan apa itu cinta versi diriku setelah belajar memahaminya dan mencontoh para salafussoleh.. menurutku Cinta itu adalah sebuah rasa ingin selalu menyayangi dengan tulus kepada orang orang yang ia cintai, dan untuk mewujudkan cinta itu juga butuh pengorbanan, akan tetapi cinta sejati tetap milik Alloh Subahanahuwata'ala dan juga Rhosul Nya ( Nabi Muhammad Shollallohualaihi wassallam) seperti yang dilakukan para sahabat yang rela berkorban demi Agama Alloh dan membela Rhosululloh, mereka mengorbankan segalanya, meninggalkan anak dan isterinya, juga hartanya untuk berjihad dijalan Alloh. Mereka menyerahkan dan menitipkan anak dan isterinya kepada Alloh dengan penuh keyakinan seperti sahabat Abu bakar Assiddik yang mendapatkan kebaikan dari segala macam pintu kebaikan sampai sampai sahabat yang lain ingin menandingi amal kebaikannya tapi tidak ada yang mampu. dan Beliau ( Abu Bakar Assiddik ) adalah kekasih Rhosululloh dan merupakan manusia yang paling dicintai Rhosululloh. jadi cinta bukanlah Rasa ingin memiliki atau seperti yang dilakukan banyak remaja jaman sekarang bahkan ada yang rela bunuh diri karena putus cinta....Intinya Cinta itu diberikan karena Alloh karena mengharapkan Ridho Nya sehingga kita harus saling mencintai sesuai yang diperintahkan Alloh subahanhu wata'ala. Cinta juga merupakan Anugrah dari Alloh Subahanahuwata'ala yang mana dengan adanya rasa cinta ini kita bisa menjalankan kewajiban kita sebagai seorang ibu atau suami atau anak. dengan adanya rasa cinta seorang suami bisa dengan tulus dan ikhlas menjalankan kewajibannya mencari nafkah untuk keluarganya walaupun terkadang pekerjaannya itu beresiko terhadap nyawanya, seorang ibu / isteri juga karena adanya rasa cinta ia rela berkorban menahan rasa sakitnya melahirkan itu juga beresiko terhadap nyawanya, mendidik anak anaknya, melayani suaminya dengan penuh cinta dan ketulusan, Seorang anak juga dengan adanya rasa cinta ia bisa berbakti kepada orang tuanya, melaksanakan kewajiban sebagai seorang anak dan seterusnya... Lalu bagaimana perasaan cinta yang dialami oleh para remaja dan anak anak muda dalam menjalin hubungannya dalam berpacaran...? apakah itu bisa disebut cinta...? atau nafsu yang bergejolak karena mengalami masa puber.... Sebelumnya saya minta maaf bila tulisan ini akan menyinggung soba sobat semua tapi saya ingin mengatakan ini karena rasa cinta saya terhadap saudara saudara ku seiman... Jika Anda memang benar benar mencintai pacar Anda tentu anda tidak akan rela jika pacar anda terjerumus kedalam lembah maksiat dan dosa, Anda juga tidak akan rela jika pacar anda ternoda kesuciannya karena perbiatan maksiat yang anda dan juga pacar anda lakukan.. terus bagaimana caranya untuk mengungkapkan rasa sayang kita sama pacar...? jawabannya adalah lakukan sesuai perintah Alloh, jika Anda mampu untuk menikah maka nikahilah dia secepatnya atau tinggalkan dia dan berpuasalah sebab puasa bisa menjaga kita dari perbuatan maksiat karena syetan tidak suka manusia selamat dari maksiat dan dosa sehingga ia akan berusaha untuk menghancurkan manusia dengan segala cara termasuk menjadikan hubungan pacaran itu sebagai sesuatu yang indah dan berdasar atas kasih sayang... Jika ia memang jodoh anda suatu saat pasti akan bersatu juga.. Tapi setelah menikah pasti suasana akan berubah karena syetan sudah merubah taktiknya untuk memberikan rasa jenuh dan bosan kepada pasangan suami isteri apalagi ketika sama sama sibuk dalam dunianya Suami sibuk mencari nafkah dan isteri sibuk mengurus anak anak dan rumah sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk merawat diri sedangkan suami bekerja diluar rumah dimana diluar sana banyak sekali godaan wanita wanita cantik yang mungkin lebih cantik dari isterinya. jika isteri tidak bisa membantu suaminya menundukkan pandangannya dengan cara melayaninya dengan baik dirumah maka akan terjadi suasana yang begitu membosankan dirumah sehingga suami lebih suka menghabiskan waktunya diluar rumah, apalagi kalau isteri bekerja diluar rumah juga ketika pulang sama sama cape belum lagi urusan rumah dan anak anak dan harus melayani suaminya sehingga isteri tidak lagi bisa melakukan kewajibannya dengan baik dirumah, dan itu juga mungkin bisa membuat suami marah karena tidak dilayani dengan baik sedangkan isteri juga marah karena merasa tidak di mengerti, akhirnya terjadilah gempa dalam rumah tangga, sang suami mencari ketenangan diluar dan isteri juga mencari tempat curhat mungkin teman teman kerjanya karena dia bekerja diluar rumah dan akhirnya menemukan tempat curhat yang menurut dia bisa mengerti kondisinya dan terjadilah perselingkuhan dan rumah tangga pun hancur dan yang jadi korban adalah anak anaknya... seperti yang dialami para selebritis kita, walaupun tidak semua orang seperti itu dan saya juga berharap kita semua tidak mengalaminya ... Itulah taktik syetan untuk menghancurkan manusia dengan mencerai beraikan manusia, suami dengan isterinya, bahkan umat islam ini pun dicerai beraikan dengan membuat agama islam ini menjadi kelompok kelompok. sampai dalam suatu hadist disebutkan umat islam terpecah menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu golongan yaitu mereka yang mengikuti Al-Qur'an dan sunnah sesuai dengan pemahaman para salafussoleh ( orang orang terdahulu yang soleh yaitu tiga generasi terbaik sepanjang masa ( generasi sahabat, Tabbi'in dan Tabi'uttabiin) bukan menafsirkan Al-Qur'an dan sunnah itu sesuai hawanafsunya atau pemikirannya sendiri. Ketahuilah wahai saudaraku salah satu taktik syetan untuk menghancurkan manusia adalah dengan menjadikan sesuatu yang haram itu indah, ada lagi cerita tentang seorang laki laki yang memiliki isteri yang sangat cantik, akan tetapi laki laki itu malah selingkuh dengan wanita berkulit hitam dan kurang cantik .. mengapa begitu ..? karena syetan membuat wanita yang bukan makhromnya itu terlihat lebih indah sehingga isterinya yang secara fisik lebih cantik pun karena sudah halal jadi syetan membuatnya menjadi kurang menarik. bisikan syetan itu tidaklah kelihatan akan tetapi terkadang berupa perasaan untuk melakukn perbuatan maksiat atau dosa pada saat kita lalai untuk mengingat Alloh. Jadi mencintailah karena Alloh dengan cara yang tidak melanggar syare'at-Nya karena dengan demikian cinta itu akan membuahkan hasil yang sangat manis baik didunia maupun diakherat, Cinta yang sebenar benar cinta yang bersumber dari Alloh Subahanhu wata'la yang akan melahirkan kebahagiaan yang hakiki . Cinta kepada bunga akan layu.. Cinta kepada manusia akan berpisah... Cinta kepada Alloh itulah cinta yang hakiki... Bahagia bukan berati memiliki orang yang kita cintai.. akan tetapi bahagia adalah mencintai orang yang kita miliki karena Alloh... Jiwa hampa tanpa cinta.. Hati hampa tanpa Iman.. Itu saja renungan kali ini, semoga bermanfaat dan Maaf apabila ada kalimat yang kurang berkenan dihati sobat semua..

Sumber: http://yusy-azzahro.blogspot.com/2013/04/sebenarnya-cinta-itu-apa-ya-mengapa.html
Yusy-Azzahro.blogspot.com


Bagaimana Kita Tahu Mana Cinta Sejati & Mana Yang Bukan?

1. Cinta sejati tidak sama dengan nafsu
Cinta dan nafsu sering kali membingungkan kita. Sebenernya, kebanyakan tema film, lagu, novel bukanlah tentang cinta, melainkan nafsu. Bagaimana membedakanya?
cinta tahan uji, … nafsu mudah luntur …
cinta menghargai … nafsu memanfaatkan …
Daya tarik fisik sering kali menjadi satu sinyal awal dari tumbuhnya Cinta sejati, tapi itu belum jadi cinta sejati.
2. Cinta tidak sama dengan keromantisan
Perasaan romantis memang luar biasa dalam hubungan dekat antara pria dan wanita. Tuhan memang merancang agar kita mengalami perasaan seperti ini dalam hubungan istimewa dengan lawan jenis. Namun gairah dan kehangatan romansa tidak dapat disamakan dengan cinta. Keromantisan merupakan suatu perasaan; sedangkan cinta sejati masih memiliki makna yang jauh lebih dalam lagi.
3. Cinta sejati tidak sama dengan tergila-gila
Perasaan tergila-gila adalah daya tarik dan gairah yang kuat dalam diri seseorang terhadap lawan jenisnya. Kamu akan memikirkan dia siang dan malam. Pikiranmu tersita oleh orang itu sehingga kau tidak dapat berkonsentrasi pada hal yang lain. Kata lain dari persaan tergila-gila ialah puppy love atau cinta monyet. Jatuh cinta atau cinta pandangan pertama biasanya mereka berbicara ttg perasaan tergila-gila…
4. Cinta sejati tidak sama dengan seks
Cinta merupakan proses ; seks merupakan suatu tindakan. Cinta bisa dipelajari; seks merupakan naluri. Cinta membutuhkan perhatian terus menerus; seks tidak perlu seperti itu. Cinta membutuhkan waktu untuk berkembang dan menjadi dewasa; seks tidak perlu waktu untuk berkembang. Cinta membutuhkan interaksi emosional dan rohani; seks hanya membutuhkan interaksi fisik. Cinta membuat hubungan makin dalam; seks tanpa cinta membuat hubungan jadi renggang.
Pada dasarnya ada tiga perilaku dalam membina hubungan dengan orang lain, yang seringkali disebut “Cinta”.
1. “aku mencintaimu jika…”
Cinta bersyarat, ‘cinta jika’, ialah cinta yg mengajukan persyaratan. cinta semacam ini diberikan atau diterima jika persyaratan tertentu dipenuhi, contoh aku mencintaimu jika kau mau berhubungan seks denganku sekali saja… ‘cinta jika’ selalu mengikat. Selama syarat terpenuhi, hubungan itu baik-baik saja. Namun saat persyaratan itu tak terpenuhi, cinta itu pun pupus. Banyak perkimpoian kandas karena dibangun berdasarkan ‘cinta jika’. ‘Cinta jika’ bukan cinta sejati. jika kau berhubungan dengan seseorang dan merasa harus melakukan sesuatu dulu untuk mendapatkan cinta, berarti hubungan yg kau miliki bukan didasarkan pada cinta sejati.

2. “aku mencintaimu karena…”

Seseorang mencintai orang lain karena sesuatu yang dimiliki atau dilakukan orang itu. Contoh, aku mencintaimu karena kamu cantik, baik, dsb. Kedengerannya cinta karena cukup bagus hampir semua orang suka dicintai krn pribadi mereka atau apa yg mereka lakukan. ‘Cinta karena’ bukanlah cinta sejati. Kamu mungkin merasa tertarik kepada seseorang karena kepribadiannya, kedudukannya, kecerdasannya, keterampilannya, dsb. Namun, jika dasar cintamu tidak lebih dalam dari apa yang sekadar terlihat yang dimiliki atau dilakukan seseorang, maka cinta itu tidak akan bertahan lama.
3. Cinta titik
Jenis cinta ketiga adalah cinta tanpa syarat. Jenis ini mengatakan aku mencintaimu meski kau akan mengalami banyak perubahan. Tak ada sesuatupun yang dapat kau buat untuk memadamkan cintaku. ‘Cinta titik’ bukan cinta buta. Cinta jenis ini dapat dan benar-benar mengenal secara mendalam orang yang dicintainya. Cinta ini menyadari kemungkinan terjadinya kegagalan, kekurangan dan kesalahan orang itu. Tak ada cara untuk mengusahakan cinta jenis ini, tapi sebaliknya kau juga tidak dapat kehilangan cinta yg seperti ini. ‘Cinta titik’ berbeda dari ‘cinta jika’ karena cinta ini tidak perlu memenuhi syarat tertentu sebelum diberikan. Juga berbeda dengan ‘cinta karena’ sebab tidak ditentukan oleh menarik tidaknya si dia atau nilai-nilai yang disukai oleh pihak lain.
Nafsu, keromantisan, perasaan tergila-gila, seks, ‘cinta jika’, dan ‘cinta karena’ sama-sama ingin mendapatkan sesuatu dari orang lain, sebaliknya cinta sejati suka memberi kepada orang lain.

 

Memahami Makna Cinta


Pengertian Cinta

pengertian cintaBerbicara mengenai cinta pasti kita tidak asing lagi karena kata-kata tersebut selalu terngiang-ngiang ditelinga kita, misalkan saja ketika kita mendengarkan radio, pasti ada lagu yang mendendangkan tentang cinta atau ketika kita baca buku atau novel, pasti kita lebih suka tema tentang percintaan dan itu adalah hal yang wajar karena pada usia puber inilah masa dimana seseorang mulai tertarik dengan lawan jenis dan hal itu selalu dikaitkan dengan cinta.

Pengertian Cinta

Pengertian cinta itu sendiri sulit dibedakan batasan ataupun pengertiannya, karena cinta merupakan salah satu bentuk emosi dan perasaan yang dimiliki individu. Dan sifatnyapun subyektif sehingga setiap individu akan mempunyai makna yang berbeda tergantung pada penghayatan serta pengalamannya.

Jenis-jenis Cinta

Jenis-Jenis Cinta menurut Kelly dalam buku kesehatan reproduksi remaja membagi cinta itu menjadi 3 jenis yaitu:


1.  Cinta karena nafsu
Yaitu cinta yang mengakibatkan hubungan antar dua orang tidak terkontrol lagi, emosi sangat menguasai akal sehat seseorang sehingga perilaku seolah terjadi secara spontan untuk menjawab rangsangan emosi yang berlebihan
2.   Cinta pragmatis
yaitu cinta terjadi keseimbangan antara dua orang, ada rasa suka dan duka, serta  adanya timbal balik.
3.   Cinta altruistik
biasanya terjadi pada seorang ibu kepada anaknya, cinta ini disertai kasih sayang yang tidak ada batasnya.
Cinta itu berada pada ranah emosional dan rasional. Cinta emosional ini datang dan pergi tanpa diprediksi,misalkan: aku mencintaimu pada pandangan pertama, meski aku tak bahagia bersamanya aku tetap mencintainya dll.

Ciri-ciri cinta emosional

  • Adanya perasaan yang sangat kuat, normalnya diarahkan pada lawan jenis, dimana yang ada pada pikiran serta hati adalah bayangan kekasihnya
  • Adanya egoisme, biasanya ada harapan-harapan bahwa kekasihnya adalah ideal yang ada dipikirannya dan merasa kecewa kalau kekasihnya berbeda dengan apa yang ia harapkan
  • Cinta emosional mengandung unsur erotisme,yang biasanya ingin mengungkapkan rasa cintanya dengan berpegangan tangan, berpelukan dll. Sedangkan cinta rasional tidak didominasi oleh perasaan yang kuat tetapi lebih pada akal pikiran. Cinta rasional ini biasanya tidak peduli apakah perasaannya kepada seseorang yang dikuasai ini dibalas atau tidak, karena ciri utama dari cinta ini adalah memberi tanpa pamrih dan tanpa syarat.

Reaksi Psikologis Dan Fisiologis Pada Saat Muncul Cinta

Ketika orang lagi kasmaran, maka dalam tubuhnya akan memproduksi hormon Phenthylamine ( PEA), efeknya adalah terjadi peningkatan suhu tubuh, gula dan tekanan darah, denyut jantung akan lebih cepat dan berkeringat, orang tersebut juga menjadi penasaran, salah tingkah, bergairah (bersemangat), dan gembira.

Tanda- tanda Cinta

Cinta merupakan hal yang sangat subyektif, satu orang dengan orang lainnya akan memaknakan secara berbeda. Namun ada tanda-tanda yang menunjukkan adanya perasaan cinta:
1.  ada unsur keterkaitan dan kekaguman
biasanya cinta didahului oleh rasa ketertarikan dan kekaguman, baik itu karena penampilan fisik, sifat, kemampuan atau materi. Hal mana yang menjadikan seseorang itu tertarik tiap orang itu berbeda-bada.
2.  teringat terus dalam ingatan
perasaan cinta membuat bayangan tentang orang yang dicintainya selalu ada dalam ingatan.
3.  adanya pengorbanan
perasaan cinta menimbulkan perasaan ingin berbuat apa saja yang dapat membahagiakan dan menyenangkan orang yang dicintai
4.  adanya ketertarikan seksual biasanya muncul rasa ingin selalu bertemu serta keinginan untuk bersentuhan secara fisik

Arti Cinta Pada Pandangan Pertama

Cinta pada pandangan pertama ini baru pada tahap persona pada ketertarikan fisik saja. Cinta ini digolongkan dalam passionate love yang ditandai oleh rasa rindu yang hebat untuk bertemu. Ketertarikan pada pandangan pertama ini bisa berubah dan berkembang menjadi cinta, tapi harus diikuti oleh proses selanjutnya yaitu perkenalan dan penjajakan.

Beda Cinta Dan Sayang Pengertian Cinta

Biasanya masyarakat membedakan cinta ini lebih pada lawan jenis (pacar  atau suami), sementara sayang itu berlaku secara umum (orang tua, saudara)

Dampak Cinta Dalam Kehidupan Remaja

Cinta merupakan hal yang normal, bahkan remaja seringkali bertanya-tanya apakah dirinya normal. Cinta juga menambah keceriaan dalam kehidupan manusia dan penuh dengan nuansa emosi dan perasaan (benci, sedih, sayang, rindu, kesal dll).
Dampak cinta itu sendiri adalah:
  • merubah perilaku yang progesif. Perasaan cinta kadang memotifasi seseorang untuk bertingkah laku lebih baik
  • perubahan perilaku regresif yaitu perasaan yang selalu tergantung pada orang lain
  • belajar mengenal dan menerima orang lain ( kelebihan dan kekurangan serta perbedaan yang ada)
  • banyak berfantasi (melamun)
Cemburu
Cemburu biasanya diperlihatkan oleh seseorang pada saat seseorang merasa perhatian pasangannya beralih kepada yang lain. Cemburu biasanya merupakan tanda cinta bersyarat dan egoisme, tanda kurang percaya diri dan penghargaan diri.
Rujukan: TIM PKBI, Kesehatan Reproduksi Remaja PKBI. Yogyakarta

Apa Itu Cinta, Sayang, Suka dan Minat?

Cinta..
Kita memang mengharapkan dia menjadi milik kita. Segala apa yang kita buat dan lakukan, kalau boleh kita mahu si dia mengetahuinya. Kita juga berusaha sedaya kuat mungkin untuk tidak mahu sakitkan hati si dia.
Cinta juga membawa suatu perasaan yang mendalam terhadap si dia dan kalau boleh mahu hidup semati bersama dengannya.
cinta suka minat
Sayang..
Kita memerlukan si dia pada masa kita mahukan seseorang untuk berkongsi rahsia dan kisah duka kita. Selalunya kita akan sayang akan seseorang yang menjadi TELINGA kepada masalah kita. Segala masalah dapat diceritakan dan kalau boleh diselesaikan bersama.
Suka..
Kita suka akan dia kerana dia seorang yang baik budi pekerti. Dia pandai menjaga aurat dan batas pergaulan. Kalau boleh kita ingin sahaja terus mahu memiliki si dia secara halal.
Minat..
Ada sesuatu pada dirinya yang menarik minat kita untuk mendekatinya. Harta, paras rupa atau budi dirinya? Itulah minat sebenar terhadap seseorang insan.
cinta wanita suka
Tetapi kita kena ingat..
“Tanpa minat, suka dan sayang.. Kita tidak akan CINTA pada seseorang itu. Dan ingatlah juga, perasaan minat, suka dan sayang ini adalah perlu kita hamburkan sepenuhnya terhadap ALLAH sebelum kepada manusia..”
Silakan SHARE! Insyaallah, ada manfaatnya kelak.. :)

Mudahnya Perkahwinan di Atas Sunnah

Mudahnya Perkahwinan di Atas Sunnah

Oleh: Abu Numair Nawawi B. Subandi



Bila cerita tentang pacaran pada orang bujangan, ramai akan kata seronoknya! Cuma bila masuk bab suruh kahwin, banyaklah alasannya nanti. Antara yang biasa kita dengar adalah alasan muda lagi, duit tak cukup lagi, tak cukup belanja hantaran, kereta belum habis bayar, rumah pun tidak ada lagi, kerja belum stabil, ibu dan bapa tidak bagi lampu hijau dan seumpamanya.

Tapi dalam masa yang sama, sudah hebat berpacaran ke sana ke mari. Keluar berduaan lelaki dan wanita sambil berpegangan tangan bagai dunia mereka yang punya.

Itulah realitinya, ramai di antara kita memandang perkahwinan dari sudut kos dan material. Tetapi lupa dari sudut agama.

Sebenarnya jika kita kembali kepada agama, perkahwinan itu adalah mudah demi menjaga kesucian diri, maruah, dan agama. Yang sukar adalah urusan tanggungjawab dan tahap kematangan dalam pengurusan. Namun itu semua boleh dipupuk asalkan memiliki ketekunan, kesabaran, dan kesediaan untuk belajar.

Kenapa perlu tunggu lama-lama membiarkan maruah dan agama digadai, mengumpul dosa dalam rindu, duit pula habis untuk pacaran? Bukankah itu jauh lebih sukar berbanding membelanjakan sedikit harta untuk sebuah perkahwinan yang benar? Maka, segerakanlah perkahwinan
.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

خَيْرُ النِّكَاحِ أَيْسَرُهُ

“Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah.” (Hadis Riwayat Abu Daud, 6/13, no. 1808. Dinilai sahih oleh al-Albani)

Jika belanja hantaran buat si gadis menjadi alasannya, bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:

إن من يمن المرأة تيسير خطبتها وتيسير صداقها وتيسير رحمها

“Di antara kebaikan wanita adalah mudah urusan melamarnya, mudah maharnya (maskahwin), dan mudah rahimnya (mudah melahirkan zuriat).” (Hadis Riwayat Ahmad dan ath-Thabrani. Majma’ az-Zawa’id, 4/516, no. 7482)

Sekiranya maskahwin pun dituntut supaya dipermudahkan, mengapa mahu menambah-nambah dengan beban hantaran yang Nabi sendiri tidak pernah syari’atkan? Bukankah ini bertentangan dengan hadis Nabi tersebut bahawa pernikahan yang baik adalah yang paling mudah. Ini merangkumilah mudah dari aspek perbelanjaan dan pengurusan.

Sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri pernah menikahkan sahabat dengan mahar yang begitu mudah, iaitu antaranya dengan mahar cincin besi dan mengajar hafaz bacaan sebahagian ayat al-Qur’an. Kenapa kita pula bertindak meninggalkan sunnah Rasulullah dan memilih perkara yang menyusahkan lagi membebankan diri sendiri?

Perlu kita fahami bahawa pernikahan itu bukanlah pasar untuk memperdagangkan anak gadis melalui kutipan belanja hantaran daripada pihak suami. Sebaliknya ia adalah ikatan untuk menuju hidup bahagia berpasangan dengan cara yang syar’i. Bukankah wang dan belanja hantaran yang adakalanya mencecah puluhan ribu ringgit itu lebih baik diguna menampung keperluan hidup berumah-tangga, seperti kos tempat tinggal, kenderaan, dan kehadiran anak-anak kelak?

Selari dengan pesanan Rasulullah bahawa sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah, majlis kendurinya pun turut dianjurkan dengan cara yang mudah. Selain itu, turut dianjurkan supaya kita menghulur bantuan perbelanjaan walimah kepada pasangan baru bernikah
.

Ketika Rasulullah mengetahui sahabatnya ‘Abdurrahman B. ‘Auf baru sahaja bernikah, Rasulullah pun berkata kepadanya (sambil terlebih dahulu mendoakannya):

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

“Barakallahu laka (semoga Allah memberi berkah kepadamu), adakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab an-Nikah, 16/131, no. 4758)

Berdasarkan hadis ini, mengadakan walimah (menjamu orang makan) dengan sebab pernikahan adalah disyari’atkan. Walaupun begitu, walimah tidaklah mesti dilakukan dengan seekor kambing. Tetapi perlulah bersesuaian dengan kemampuan suami. Ini kerana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri pernah melaksanakan walimah ketika pernikahannya bersama Shafiyah dengan menyediakan campuran kurma tanpa biji yang dicampur keju dan tepung hasil sumbangan para sahabat yang hadir sebagaimana diriwayatkan Imam al-Bukhari. Terdapat juga hadis yang menunjukkan Rasulullah hanya menjemput beberapa orang lelaki meraikan walimah perkahwinannya di waktu yang lain.

Ia tidaklah seperti sebahagian daripada kita hari ini yang berlebih-lebihan dalam walimah sehingga sanggup membuat pinjaman kewangan demi merealisasikan kenduri perkahwinan yang mahu dilihat besar dan gah.

Menurut sunnah, majlis walimah yang dianjurkan Rasulullah itu tidak lebih dari sekadar jamuan makan dengan bergembira meraikan pasangan yang berkahwin. Ini berlangsung dengan cara menghadiri dan mendoakannya dengan kebaikan. Sehingga orang-orang yang berpuasa pun turut wajib menghadirkan diri ke majlis walimah jika mendapat jemputan.

Dalam masa sama, majlis walimah ini tidaklah sewajarnya diiringi dengan maksiat dan kemungkaran. Sangat menyedihkan perkara-perkara maksiat dalam acara-acara walimah hari ini dilihat begitu subur. Sehingga ada yang sanggup berbelanja besar kerananya pula. Perkara ini wajib kita sedari dari awal agar tidak terus menular.

Di antara perkara buruk yang telah mula membudaya dalam majlis-majlis walimah hari ini yang dapat penulis sebutkan adalah seperti budaya mendedahkan aurat dan tabarruj (berdandan) untuk tontonan umum dalam praktik persandingan, menghambur-hambur harta (membazir) untuk menunjuk-nunjuk dan mendapat pujian, mencukur kening dan janggut, mengkhususkan adanya acara potong kek dan menyarung cincin perkahwinan, adat bersanding dan pelamin, upacara merenjis dan menepung tawar demi meraih keberkatan, bersalam-salaman dengan yang bukan mahram, acara tahlilan khas memohon restu nenek moyang, menjemput bomoh tolak hujan, majlis karaoke dan nyanyi-nyanyian, permainan kuda kepang, menggantung gambar pengantin, dan seumpamanya.

Hukum mendedahkan aurat adalah suatu yang maklum di kalangan umat Islam. Lebih lagi apabila berlaku pembaziran wang untuk belanja solekan, set baju yang menggambarkan bentuk tubuh wanita, dan mencukur kening demi kelihatan cantik. Ini semua termasuk bentuk-bentuk peragaan tubuh ala jahiliyah yang telah diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui firman-Nya (maksudnya), “Dan janganlah kamu berhias (tabarruj) dan bertingkah-laku seperti orang-orang Jahiliyyah.” (Surah al-Ahzab, 33: 33)

Manakala acara khas sesi sarung cincin dan potong kek perkahwinan pula ia termasuk meniru-niru adat keagamaan kaum kafir yang tidak pernah sedikitpun dianjurkan dalam sunnah Rasulullah
. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Sesiapa yang menyerupai sesuatu kaum (dalam urusan khas agama), maka dia termasuk golongan mereka.” (Hadis Riwayat Abu Daud, 11/48, no. 3512. Dinilai sahih oleh al-Albani)

Malah penulis difahamkan harga sebuah set kek perkahwinan sahaja sudah berharga ratusan dan ada yang mencecah ribu ringgit.

Manakala amalan meminta individu tertentu untuk menolak dan menahan hujan dengan jampi tertentu agar majlis dapat berjalan lancar, maka ini termasuk pula ke dalam perbuatan syirik.
Ini sama juga dengan adat menepung tawar yang tidak diketahui asal-usulnya dari ajaran agama Islam. Sebenarnya untuk tujuan ini, cukuplah dengan berdoa kepada Allah dan bersedia dengan sebarang kemungkinan secara teknikal.

Jika di dalam majlis-majlis walimah tertentu mengandungi praktik-praktik maksiat seperti ini, terdapat petunjuk Rasulullah supaya tidak menghadirinya atau sekiranya mampu maka berilah nasihat dan teguran.

Dari itu, mudahkanlah pernikahan dan majlisnya. Ambillah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai pedoman dan ikutan. Berbanggalah dengan kemuliaan Islam, bukan dengan maksiat, kemungkaran dan pembaziran. Hindarilah juga budaya pacaran tanpa nikah! Semoga semaian cinta dan majlis kita mendapat berkah dan keredhaan Allah. Itulah yang perlu kita cari dan kejar. Wallahu a’lam
.




Jika Landasan Pernikahan Adalah …

Kamis 2 Jamadilawal 1434 / 14 Maret 2013 16:25suami istri
JIKA landasan pernikahan adalah seks, maka pasangan kerap bertengkar jika layanan di kamar tidur tidak memuaskan.
Jika landasan pernikahan adalah harta, maka pasangan bakal bercerai jika jatuh miskin.
Jika landasan pernikahan adalah kerana tubuh, pasangan bakal lari jika rambut beruban dan muka berkerut atau badan sudah menjadi gendut.
Jika landasan pernikahan adalah anak, maka pasangan akan mencari alasan untuk pergi jika buah hati (anak) tidak hadir.


Jika landasan pernikahan adalah kepribadian, pasangan akan lari jika orang berubah tingkah lakunya.
Jika landasan pernikahan adalah cinta, hati manusia itu tidak tetap dan mudah terpikat pada hal-hal yang lebih, lagi pula manusia yang dicintai pasti mati.
Jika landasan pernikahan adalah ibadah kepada Allah, sesungguhnya Allah itu kekal dan Mahapemberi hidup kepada makhlukNya.
Allah mencintai hambanya melebihi seorang ibu mencintai bayinya.
Maka tak ada alasan apapun di dunia yang dapat meretakkan rumah tangga kecuali jika pasangan itu durhaka kepada Allah. [islampos/halimislam]

Sunnah-sunnah Rasulullah SAW Dalam Perkahwinan

Sempena Hari Jadi Rasulullah Saw , mari kita lihat sunnah-sunnah baginda dalam perkahwinan.

Allahumma solli 'ala Saiyidina Muhammad wa 'ala ali Muhammad. Salam Maulidurrasul saya ucapkan buat warga pelayar dan pembaca slot Bersama Suzana menerusi blog kegemaran ramai ini. Sempena Maulidurrasul yang diraikan hari ini bagi mengenang dan mengambil iktibar sejarah hidup Rasulullah SAW, saya nak perkenalkan antara sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam perkahwinan. Ya! Banyak sunnah Rasulullah SAW dalam perkahwinan, bukan hanya poligami. Andai sunnah-sunnah ini dilaksanakan, bahagia dalam perkahwinan bukan satu impian atau igauan lagi, insyaAllah. Sebabnya, Rasulullah SAW adalah idola dan contoh suami terbaik dalam perkahwinan. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya orang yang paling baik antara kamu semua adalah orang yang paling baik terhadap isterinya dan aku adalah orang yang terbaik antara kamu semua (dalam membuat kebaikan) terhadap isteriku." - hadis riwayat al-Tirmizi.
Antara sunnah yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW di dalam perkahwinan baginda bersama isteri-isteri baginda khususnya bersama Aishah r.anha mengikut riwayat daripada Ummul Mukminin r.anha itu sendiri ialah Rasulullah SAW adalah seorang yang romantik , suka bergurau, meluangkan masa bersama isteri, mengkhabarkan kepergian baginda kepada isteri dan membantu kerja-kerja di rumah.
Romantik adalah sunnah Rasulullah SAW, bukan ikutan amalan orang barat atau hero hindi. Rasulullah SAW seorang suami yang romantik. Aisyah r.anha menceritakan: “Suatu ketika aku telah minum. Ketika itu aku sedang haidh lantas aku memberikan gelasku kepada Rasulullah dan baginda meminumnya dari kesan mulutku di gelas itu. Dalam kesempatan lain aku memakan sepotong daging, lantas aku memberikan baginda potongan daging itu dan baginda memakannya tepat di tempat aku memakannya." - hadis riwayat Muslim.
Rasulullah SAW juga sering bergurau bersama isteri baginda. Gurauan dimaklumi sebagai satu cara untuk mengeratkan hubungan. Aisyah r.anha telah berkata yang bermaksud: “Rasulullah berlumba lari denganku, maka aku menang ketika itu kerana aku belum gemuk. Kemudian, setelah gemuk aku berlumba lari dengannya, maka baginda memenanginya. Lalu baginda bersabda: Kemenangan ini sebagai penebus kekalahan yang lalu." - hadis riwayat Abu Daud. Andai Rasulullah SAW boleh bergurau bersama isteri baginda, kenapa tidak anda suami akhir zaman ini?
Rasulullah SAW adalah seorang pemerintah Negara, pemimpin angkatan tentera, penyampai wahyu malah kekasih Allah tetapi masih mampu meluangkan masa emasnya bersama isteri baginda. Diriwayatkan daripada Aishah r.anha bahawa Rasulullah SAW pernah membawanya menyaksikan permainan para sahabat yang berasal dari Sudan. Katanya: “Hari itu adalah hari raya di mana orang-orang Sudan bermain pedang dan perisai. Aku (Aishah r.anha) tidak ingat apakah aku yang meminta untuk melihatnya atau Rasulullah SAW yang berkata: Apakah kamu ingin melihatnya? Aku pun menjawab: Ya. Aku disuruhnya berdiri di belakangnya di mana pipiku bersentuhan dengan pipi baginda. Baginda berkata: Biar yang lain wahai Bani Arfidah! Ketika aku merasa bosan, baginda bertanya kepadaku: Adakah engkau sudah puas? Aku menjawab: Ya. Baginda pun bersabda: Pergilah." - hadis riwayat al-Bukhari.
Semua tahu, seorang isteri wajib mendapat izin suami jika mahu keluar ke mana-mana malah tika ingin melakukan sesuatu. Tidak ada perintah serupa pula untuk para suami. Namun, Rasulullah SAW mempraktikkan amalan memberitahu dan mengkhabarkan kepergian baginda kepada isteri baginda. Mengikut satu riwayat, Sayidatina Aishah r.anha pernah bertindak mengekori Rasulullah SAW pada waktu tengah malam ketika sedar Rasulullah SAW keluar tanpa memaklumkan kepadanya yang sedang tidur. Diekorinya Rasulullah SAW hingga jelas di matanya, Rasulullah SAW mengunjungi makam Baqi' dan berhenti seketika serta membacakan tiga doa. Usai berdoa, Rasulullah SAW kembali ke rumah. Tindakan Sayidatina Aishah diketahui oleh Rasulullah SAW lalu baginda Rasul menjelaskan: “Jibril datang kepadaku dan menyampaikan agar aku segera ke Baqi'. Aku sangkakan kau tidur lena maka aku keluar tanpa memaklumkannya kepadamu."

Rasulullah SAW juga membantu isteri baginda dalam melakukan kerja di rumah. Diriwayatkan daripada Al-Aswat bin Yazid katanya yang maksudnya, “Aku bertanya kepada Aisyah: “Apa yang Nabi SAW kerjakan di rumah? Aisyah menjawab: “Baginda sentiasa melayani isterinya yakni membantu isterinya membuat kerja-kerja rumah. Maka apabila masuk waktu sembahyang Bagindapun keluar untuk sembahyang (ke masjid)." - hadis riwayat Al-Bukhari
Diceritakan daripada hadis Aisyah R.Anha bahawa Rasulullah SAW bersabda kepadanya yang bermaksud: “Aku tahu masa anda redha dan marah kepadaku." “Bagaimana anda mengetahuinya wahai Rasulullah?" Baginda menjawab: “Jika anda senang denganku, anda akan berkata; tidak demi Rabb Muhammad. Sementara jika anda marah terhadapku, anda akan mengatakan; tidak demi Rabb Ibrahim. Aisyah R.Anha berkata; “Tepat wahai Rasulullah. Demi Allah, namun aku tidak mendiamkanku (ketika aku marah) kecuali tidak menyebut namamu." – hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
Hadis ini membuktikan, tidak ada salah dan dosa jika isteri marah terhadap suaminya disebabkan faktor perselisihan yg biasa terjadi dalam kehidupan seharian dan kehidupan rumahtangga. Sudah namanya manusia, pasti terdapat kekurangan di mana-mana termasuk rasa tidak puas hati atau berkecil hati dengan tindakan suami hatta Rasulullah SAW sendiri. Biar pun begitu, teladanilah kesopanan Aisyah R.Anha dan kecerdikan Rasulullah SAW. Hadis ini menunjukkan perselisihan dalam rumahtangga adalah perkara biasa tetapi memerlukan batasan. Aisyah masih kekal bersopan terhadap suaminya walau dalam keadaan marah dan Rasulullah SAW menundukkan perasan marah tersebut dengan kelembutan dan kasih sayang.
Aisyah masih kekal melayan suaminya dengan baik, malah bercakap dengan suaminya hanya tidak menyebut nama suami sebagai tanda protes dan tanda emosinya terganggu. Tika ini, Rasulullah SAW pula sebagai suami berusaha untuk memahami dan dalam masa yang sama, berusaha memujuk. Sesuai dengan fitrah kejadian wanita bak tulang yang bengkok, dibiar akan kekal bengkok, dipaksa lurus akan segera patah. Jalan terbaik, memujuk dengan sabar dan berhikmah.
Lantas, mengambil teladan kisah rumahtangga Rasulullah SAW ini, sewajarnya pasangan suami isteri mengelakkan diri daripada tidak bercakap apatah lagi menyisihkan diri. Tindakan tidak bercakap terutama tindakan menyisihkan diri daripada pasangan menjadi penyumbang kepada bertambahnya kekalutan dalam rumahtangga. Seperti kata orang lama kita, kalau disimbah minyak ke api, pastinya api tambah marak. Jalan terbaik untuk memadam api ialah dengan menyiram air. Samalah juga dengan pergaduhan, jika masing-masing berkeras hati, enggan mengakui kesilapan diri dan berterusan tidak bercakap sesama sendiri, masalah tidak akan selesai dan memungkinkan wujudnya masalah baru pula.
Dalam mengharungi hari-hari mendatang dalam perkahwinan, jangan harapkan detik manis dan kebahagiaan semata. Hakikatnya, ujian dan cabaran yang hadir bukan untuk memusnahkan bahagia sebaliknya untuk mendidik diri agar menjadi manusia yang lebih matang dan bijak menangani permasalahan. Kajian membuktikan, kesilapan paling utama yang wujud dalam rumahtangga ialah kegagalan pasangan suami isteri untuk bergaduh secara selamat. Ya! Seperti yang dijelaskan di awal tadi, bergaduh itu biasa tetapi perlu pastikan pergaduhan anda dan pasangan adalah pergaduhan yang selamat.

Pergaduhan yang selamat akan wujud jika anda sedar dengan siapa anda sedang bergaduh, pastinya teman hidup anda, sama ada suami atau isteri yang anda sayangi. Jika anda sayangkan si dia yang sedang bergaduh dengan anda, pastinya anda akan dapat mengawal emosi marah anda agar tidak keterlaluan hingga membawa kemudharatan kepadanya. Tika bergaduh, tanamkan dalam diri, anda sedang bertengkar kerana satu sebab yang berlaku, mungkin salah pasangan, mungkin juga salah anda sendiri. Pokoknya, bukan mencari salah siapa tetapi pastikan masing-masing berusaha untuk menangani permasalahan yang berlaku.
Masalah takkan selesai dengan mencari siapa yang salah. Masalah hanya selesai jika masing-masing mengawal diri, berterus terang dan berbincang. Namun, masalah yang timbul dalam usaha menyelesaikan masalah yang telah ada ialah masalah komunikasi sesama setiap insan iaitu masalah untuk memahami dan difahami. Sukarnya memahami sama saja dengan sukarnya untuk difahami. Jalan terbaik ialah dengan memberikan peluang kepada diri sendiri untuk memahami dan difahami. Jika anda sukar memahami; bertanya dan berbincanglah. Jika anda sukar difahami; jelaskan dan berterus teranglah.
Jangan mendiamkan diri! Betul! Ada masanya diam itu perlu ketika anda pasti pasangan anda tidak dapat mendiamkan dirinya sendiri dan terus berhujah hingga gagal mengawal diri. Tika ini, memang wajar anda berdiam seketika. Tunggu hingga keadaan menjadi sejuk, carilah ruang dan peluang untuk meluah isi hati anda pula. Jika yakin meluah rasa dengan lisan menambah buruk keadaan, sebagai contoh anda sukar meluah dengan terkawal kerana pasti disusuli kata-kata yang keras atau tangisan yang tidak digemari pasangan maka luahkanlah segalanya di lembaian kertas. Hingga detik kedamaian dikecapi semula, usahakan untuk menepis ego dengan teruskan bercakap seperti biasa. Walau hati rasa sakit tapi yakinlah, jika anda kekal berbuat baik, kesudahannya pasti akan baik juga...
Saya mencadangkan kepada para suami di luar sana, agar berusaha melaksanakan antara sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam perklahwinan ini terlebih dahulu sebelum berhasrat untuk melaksanakan sunnah poligami. Selamat berjaya!
SUZANA GHAZALI merupakan Perunding Psikologi Keluarga dan Peguam Syarie. Beliau mempunyai pengalaman yang luas dan sentiasa dijemput oleh media-media penyiaran tempatan seperti TV3, Astro, RTM untuk menjadi panel mengupas isu rumah tangga,perkahwinan dan kekeluargaan.Untuk menghubungi beliau, anda boleh emailkan ke binabahagia@gmail.com ataupun layari Bersama Suzana

Mereka Yang Enggan Berkahwin
Kahwin adalah Sunnah Rasulullah s.a.w. dan Sunnah para Nabi-nabi, dan fitrah yang sesuai dengan naluri manusia. Mereka yang tidak mahu berkahwin dan enggan berkahwin adalah bermakna mereka telah mensia-siakan hidupnya di dunia yang telah disediakan Allah untuk hambanya-Nya menikmati segala pengurniaan-Nya.
Islam adalah melarang ummahnya hidup membujang - tanpa berkahwin dengan tujuan untuk menjauhkan diri dari menikmati kesedapan berkelamin dan kesenangan hidup didunia serta mengelakkan diri dari menikmati kegembiraan berkeluarga dan tidak mahu mempunyai keturunan.
Dalam Islam berkahwin adalah merupakan suatu perkara yang digalakkan, kerana dengan perkahwinan itu akan berkembang biak ummah Nabi Muhammad s.a.w., dimana baginda adalah merasa bangga dan bergembira dengan sebab banyak ummatnya. Ini telah dinyatakan oleh Rasulullah s.a.w dalam hadithnya yang diriwayatkan daripada Sa'ad bin Abi Waqqas :
"Berkahwinlah kamu Maka sesungguhnya aku dihari qiamat kelak akan bergembira dengan sebab banyak ummahku. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang - orang Nasrani bertapa - hidup membujang".
Mereka yang enggan berkahwin, Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadith dari Anas bin Malik, katanya : Tiga orang sahabat datang berkunjung ke rumah isteri-isteri Rasulullah s.a.w. menanyakan tentang 'ibadat yang dikerjakan oleh Baginda. Setelah tiga orang sahabat tadi mendapat jawapan dari isteri-isteri Baginda, mereka merasa bahawa 'ibadat mereka itu bila dibandingkan dengan ibadat Rasullah s.a.w. adalah terlalu sedikit dan sangat-sangat "kurang."
Mereka berkata sesamanya: "Bagaimana 'ibadat kita? Padahal Baginda adalah orang yang ma'shum - tidak sedikit pun mempunyai dosa, dan Allah telah mengampunkan dosanya yang telah lalu dan akan datang?. "Maka salah seorang dari mereka itu berkata: "Aku akan sembahyang Tahajjud setiap malam." Dan seorang yang lain akan berkata:"Aku akan berpuasa sepanjang tahun, dan tidak akan berbuka." Dan seorang yang lain lagi berkata: "Aku akan mengasingkan diri dari orang perempuan, dan aku tidak akan berkahwin selama-lamanya (hidup membujang)" Maka datang Rasulullah s.a.w., lalu bersabda:
Kamu semua berkata begitu? Ingat dan ketahuilah, demi Allah, aku adalah orang yang sangat takut terhadap Allah, dan sangat taqwa kepada-Nya, tetapi aku berpuasa dan kadang-kadang aku (tidak berpuasa), dan aku sembahyang, dan aku tidur, dan aku juga berkahwin dengan perempuan. Maka sesiapa yang tidak suka dengan sunnahku, mereka itu bukanlah pengikutku (bukan dari kalangan ummahku). (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Mereka yang enggan berkahwin (hidup membujang) seumur hidupnya, padahal mereka mampu menunaikan tanggungjawab terhadap isterinya zahir dan batin, maka bermakna mereka telah mengharamkan sesuatu perkara yang halal ke atas diri mereka, dan mereka itu adalah juga orang yang menentang hukum Allah dari Sunnah Rasul-Nya.
Dalam masalah ini, at-Tabari berkata: "Sahabat Rasulullah s.a.w bernama 'Uthman bin Maz'un mengharamkan ke atas dirinya seorang perempuan, benda-benda yang baik dan semua benda yang sedap dan lazat. Dengan pengharaman tersebut, Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya:
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan benda-benda yang baik yang telah dihalalkan oleh Allah bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas pada apa yang telah ditetapkan halalnya itu, kerana sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas. (Surah al- Ma'iddah:87)
Sehubungan dengan ini, diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas:
Seorang lelaki mengadu dan bertanya kepada Rasulullah s.a.w. mengenai orang yang membujang (tidak berkahwin) selama-lamanya, katanya: " Bolehkah aku berkasi?" Baginda menjawab dengan sabdanya:
Tidak ada dalam agama kita orang yang berkasi. (Riwayat Tabrani)
Dalam masalah ini, Sa'ad bin Waqqas berkata:
Rasulullah s.a.w. telah melarang sahabatnya 'Uthman bin Maz'un hidup membujang (tanpa berkahwin). Andainya Baginda mengizinkan 'Uthman bin Maz'un membujang (tanpa berkahwin), tenteulah kita "harus" berkasi. (Riwayat Bukhari)
Sebenarnya Cinta itu apa ya..??? Mengapa harus ada cinta..?! بِسْــــــــــــــــمِ ﷲِ sebenarnya apa itu cinta..? Sekedar iseng sekalian meluapkan isi hati yang sedang merenungi kehidupan yang fana ini, kali ini sempet merenung ditengah malam minggu yang sepi dan sunyi... ditemani suara hembusan angin.. ^dari kipas angin^.. Dalam hatiku bertanya tanya sebenarnya cinta itu apa ya...? mengapa harus ada cinta..?! sewaktu masih gadis pernah diceritain sama seorang ibu yang mana katanya cinta itu hanya diawal saat masih muda saja setelah menikah dan semakin bertambah umurnya maka tidak ada lagi rasa cinta melainkan yang ada hanya rasa kasihan. sampai sekarang aku belum bisa memahami perkataan itu entah mungkin karena aku belum menjadi tua atau belum tiba saatnya.. Entahlah yang jelas sampai saat ini aku masih sangat mencintai suamiku yang telah menjadi imam dalam hidupku... Terkadang aku juga merasa ini seperti mimpi.. sebuah mimpi yang sangat indah dan aku terus berusaha untuk menyadarkan diri dan merasakan bahwa semua ini bukanlah mimpi...akan tetapi aku juga takut saat tiba waktunya untuk berpisah karena semua orang pasti akan kembali kepada sang Penciptanya, dan aku takut kalau aku tak bisa menerima itu dengan hati yang ikhlas. Aku juga takut kalau rasa cinta ini melebihi rasa cintaku kepada Sang Khalik ( Alloh Subahanhuwata'ala dan Rhosulnya ) karena tidak sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai Alloh dan RhosulNya melebihi dirinya sendiri dan keluarganya. Aku sangat bersyukur karena Alloh telah memberiku suami yang baik yang dapat membimbingku menjadi wanita yang benar benar wanita walaupun aku tidak tau apakah aku sudah bisa menjadi isteri dan ibu yang baik atau belum.... Di lubuk hati yang terdalam ingin sekali mengucapkan rasa terimakasih kepada Suamiku tercinta dan juga keluarganya yang dengan segala kebaikannya menerimaku apa adanya sebagai anggota keluarganya dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus walaupun aku ini bukanlah siapa siapa, aku hanya gadis desa yang tidak memiliki kelebihan apa apa dalam skill maupun materi. seperti Sinderella yang menjadi isteri seorang pangeran...he3.. tapi sayangnya aku malu mengucapkan terimakasih pada mereka terutama Ibu mertuaku yang sangat perhatian padaku dan terkadang perhatiannya melebihi suamiku, aku belum pernah melihat seorang mertua yang sangat baik dan perhatian seperti ibu mertuaku....Orang yang sangat supel dan semua orang mencintainya, " maafkan aku Ibu.. karena aku belum bisa menjadi menantu yang baik untukmu... tapi aku akan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk Anakmu dan juga cucu cucumu...dan juga untuk adik iparku yang manis manis... aku tidak bisa menyampaikan ini secara langsung karena aku malu dan itu juga atas saran suami karena takut mereka jadi tidak enak atau malah kepikiran.. tapi aku sangat ingin mengucapkannya sehingga kutulis saja disini....^^ ko malah jadi curhat ya...hmmm^^ kembali lagi ketopik... Sebenarnya disini aku ingin menyampaikan apa itu cinta versi diriku setelah belajar memahaminya dan mencontoh para salafussoleh.. menurutku Cinta itu adalah sebuah rasa ingin selalu menyayangi dengan tulus kepada orang orang yang ia cintai, dan untuk mewujudkan cinta itu juga butuh pengorbanan, akan tetapi cinta sejati tetap milik Alloh Subahanahuwata'ala dan juga Rhosul Nya ( Nabi Muhammad Shollallohualaihi wassallam) seperti yang dilakukan para sahabat yang rela berkorban demi Agama Alloh dan membela Rhosululloh, mereka mengorbankan segalanya, meninggalkan anak dan isterinya, juga hartanya untuk berjihad dijalan Alloh. Mereka menyerahkan dan menitipkan anak dan isterinya kepada Alloh dengan penuh keyakinan seperti sahabat Abu bakar Assiddik yang mendapatkan kebaikan dari segala macam pintu kebaikan sampai sampai sahabat yang lain ingin menandingi amal kebaikannya tapi tidak ada yang mampu. dan Beliau ( Abu Bakar Assiddik ) adalah kekasih Rhosululloh dan merupakan manusia yang paling dicintai Rhosululloh. jadi cinta bukanlah Rasa ingin memiliki atau seperti yang dilakukan banyak remaja jaman sekarang bahkan ada yang rela bunuh diri karena putus cinta....Intinya Cinta itu diberikan karena Alloh karena mengharapkan Ridho Nya sehingga kita harus saling mencintai sesuai yang diperintahkan Alloh subahanhu wata'ala. Cinta juga merupakan Anugrah dari Alloh Subahanahuwata'ala yang mana dengan adanya rasa cinta ini kita bisa menjalankan kewajiban kita sebagai seorang ibu atau suami atau anak. dengan adanya rasa cinta seorang suami bisa dengan tulus dan ikhlas menjalankan kewajibannya mencari nafkah untuk keluarganya walaupun terkadang pekerjaannya itu beresiko terhadap nyawanya, seorang ibu / isteri juga karena adanya rasa cinta ia rela berkorban menahan rasa sakitnya melahirkan itu juga beresiko terhadap nyawanya, mendidik anak anaknya, melayani suaminya dengan penuh cinta dan ketulusan, Seorang anak juga dengan adanya rasa cinta ia bisa berbakti kepada orang tuanya, melaksanakan kewajiban sebagai seorang anak dan seterusnya... Lalu bagaimana perasaan cinta yang dialami oleh para remaja dan anak anak muda dalam menjalin hubungannya dalam berpacaran...? apakah itu bisa disebut cinta...? atau nafsu yang bergejolak karena mengalami masa puber.... Sebelumnya saya minta maaf bila tulisan ini akan menyinggung soba sobat semua tapi saya ingin mengatakan ini karena rasa cinta saya terhadap saudara saudara ku seiman... Jika Anda memang benar benar mencintai pacar Anda tentu anda tidak akan rela jika pacar anda terjerumus kedalam lembah maksiat dan dosa, Anda juga tidak akan rela jika pacar anda ternoda kesuciannya karena perbiatan maksiat yang anda dan juga pacar anda lakukan.. terus bagaimana caranya untuk mengungkapkan rasa sayang kita sama pacar...? jawabannya adalah lakukan sesuai perintah Alloh, jika Anda mampu untuk menikah maka nikahilah dia secepatnya atau tinggalkan dia dan berpuasalah sebab puasa bisa menjaga kita dari perbuatan maksiat karena syetan tidak suka manusia selamat dari maksiat dan dosa sehingga ia akan berusaha untuk menghancurkan manusia dengan segala cara termasuk menjadikan hubungan pacaran itu sebagai sesuatu yang indah dan berdasar atas kasih sayang... Jika ia memang jodoh anda suatu saat pasti akan bersatu juga.. Tapi setelah menikah pasti suasana akan berubah karena syetan sudah merubah taktiknya untuk memberikan rasa jenuh dan bosan kepada pasangan suami isteri apalagi ketika sama sama sibuk dalam dunianya Suami sibuk mencari nafkah dan isteri sibuk mengurus anak anak dan rumah sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk merawat diri sedangkan suami bekerja diluar rumah dimana diluar sana banyak sekali godaan wanita wanita cantik yang mungkin lebih cantik dari isterinya. jika isteri tidak bisa membantu suaminya menundukkan pandangannya dengan cara melayaninya dengan baik dirumah maka akan terjadi suasana yang begitu membosankan dirumah sehingga suami lebih suka menghabiskan waktunya diluar rumah, apalagi kalau isteri bekerja diluar rumah juga ketika pulang sama sama cape belum lagi urusan rumah dan anak anak dan harus melayani suaminya sehingga isteri tidak lagi bisa melakukan kewajibannya dengan baik dirumah, dan itu juga mungkin bisa membuat suami marah karena tidak dilayani dengan baik sedangkan isteri juga marah karena merasa tidak di mengerti, akhirnya terjadilah gempa dalam rumah tangga, sang suami mencari ketenangan diluar dan isteri juga mencari tempat curhat mungkin teman teman kerjanya karena dia bekerja diluar rumah dan akhirnya menemukan tempat curhat yang menurut dia bisa mengerti kondisinya dan terjadilah perselingkuhan dan rumah tangga pun hancur dan yang jadi korban adalah anak anaknya... seperti yang dialami para selebritis kita, walaupun tidak semua orang seperti itu dan saya juga berharap kita semua tidak mengalaminya ... Itulah taktik syetan untuk menghancurkan manusia dengan mencerai beraikan manusia, suami dengan isterinya, bahkan umat islam ini pun dicerai beraikan dengan membuat agama islam ini menjadi kelompok kelompok. sampai dalam suatu hadist disebutkan umat islam terpecah menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu golongan yaitu mereka yang mengikuti Al-Qur'an dan sunnah sesuai dengan pemahaman para salafussoleh ( orang orang terdahulu yang soleh yaitu tiga generasi terbaik sepanjang masa ( generasi sahabat, Tabbi'in dan Tabi'uttabiin) bukan menafsirkan Al-Qur'an dan sunnah itu sesuai hawanafsunya atau pemikirannya sendiri. Ketahuilah wahai saudaraku salah satu taktik syetan untuk menghancurkan manusia adalah dengan menjadikan sesuatu yang haram itu indah, ada lagi cerita tentang seorang laki laki yang memiliki isteri yang sangat cantik, akan tetapi laki laki itu malah selingkuh dengan wanita berkulit hitam dan kurang cantik .. mengapa begitu ..? karena syetan membuat wanita yang bukan makhromnya itu terlihat lebih indah sehingga isterinya yang secara fisik lebih cantik pun karena sudah halal jadi syetan membuatnya menjadi kurang menarik. bisikan syetan itu tidaklah kelihatan akan tetapi terkadang berupa perasaan untuk melakukn perbuatan maksiat atau dosa pada saat kita lalai untuk mengingat Alloh. Jadi mencintailah karena Alloh dengan cara yang tidak melanggar syare'at-Nya karena dengan demikian cinta itu akan membuahkan hasil yang sangat manis baik didunia maupun diakherat, Cinta yang sebenar benar cinta yang bersumber dari Alloh Subahanhu wata'la yang akan melahirkan kebahagiaan yang hakiki . Cinta kepada bunga akan layu.. Cinta kepada manusia akan berpisah... Cinta kepada Alloh itulah cinta yang hakiki... Bahagia bukan berati memiliki orang yang kita cintai.. akan tetapi bahagia adalah mencintai orang yang kita miliki karena Alloh... Jiwa hampa tanpa cinta.. Hati hampa tanpa Iman.. Itu saja renungan kali ini, semoga bermanfaat dan Maaf apabila ada kalimat yang kurang berkenan dihati sobat semua..

Sumber: http://yusy-azzahro.blogspot.com/2013/04/sebenarnya-cinta-itu-apa-ya-mengapa.html
Yusy-Azzahro.blogspot.com

Rabu, 1 Julai 2015

PUASA RAJIN...TERTINGGAL KADHA@GANTI TAPI SOLAT TAK JAGA ATAU TAK SOLAT LANGSUNG...PUASA TAPI TAK TUTUP AURAT....PUASA TAPI BERGAUL BEBAS













7 Orang yang Tidak Bisa Mencium Bau Surga

Api neraka © ilustrasi scenicreflections.com
Surga adalah kenikmatan yang luar biasa. Baunya saja bisa tercium dari jarak 70 tahun perjalanan. Namun, ada orang-orang yang jangankan masuk surga, mencium bau surga saja tidak bisa. Siapakah mereka? Inilah hadits-hadits yang menerangkannya:

1. Orang yang sombong

Orang yang sombong, ia tidak bisa masuk surga. Juga tidak bisa mencium bau surga. Bahkan, sekalipun kesombongannya sangat kecil, sebesar biji dzarrah.
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَا مِنْ رَجُلٍ يَمُوتُ حِينَ يَمُوتُ وَفِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ تَحِلُّ لَهُ الْجَنَّةُ أَنْ يَرِيحَ رِيحَهَا وَلاَ يَرَاهَا. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ يُقَالُ لَهُ أَبُو رَيْحَانَةَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّ الْجَمَالَ وَأَشْتَهِيهِ حَتَّى إِنِّى لأَحِبُّهُ فِى عَلاَقَةِ سَوْطِى وَفِى شِرَاكِ نَعْلِى قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْسَ ذَاكَ الْكِبَرُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ وَلَكِنَّ الْكِبْرَ مَنْ سَفِهَ الْحَقَّ وَغَمَصَ النَّاسَ بِعَينَيْهِ
Dari Uqbah bin Amir, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang laki-laki meninggal dunia, dan ketika ia meninggal di dalam hatinya terdapat sebiji sawi dari sifat sombong, akan halal baginya mencium bau surga atau melihatnya.” Lalu seorang laki-laki dari suku Quraisy yang bernama Abu Raihanah berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, saya benar-benar menyukai keelokan dan menggemarinya hingga pada gantungan cemetiku dan juga pada tali sandalku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu tidaklah termasuk kesombongan, sesungguhnya Allah ‘azza wajalla itu Indah dan menyukai keindahan. Akan tetapi sombong itu adalah siapa yang menolak kebenaran dan meremehkan manusia dengan kedua matanya.” (HR. Ahmad)

2. Orang yang mencari ilmu akhirat untuk tujuan duniawi

Islam memerintahkan umatnya untuk menuntut ilmu, terutama ilmu akhirat. Menuntut ilmu akhirat ini dalam salah satu hadits juga disebut fi sabilillah. Namun, jika ilmu akhirat dicari dengan tujuan duniawi, maka orang tersebut terancam tidak bisa mencium bau surga.
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا
“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk Allah, namun ia tidak menuntutnya kecuali untuk mencari dunia, maka pada hari kiamat ia tidak akan mendapatkan bau surga.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud dan Ahmad; shahih)

3. Menisbatkan nasab bukan kepada ayahnya

Nasab merupakan salah satu hal yang dijaga oleh Islam. Orang yang mengaku sebagai anak orang lain yang bukan ayahnya, ia juga mendapat ancaman tidak bisa mencium bau surga. Karenanya Islam melarang umatnya menisbatkan nama kepada nama orang tua angkat.
مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ قَدْرِ سَبْعِينَ عَامًا أَوْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ عَامًا قَالَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Barangsiapa mengaku keturunan dari orang lain yang bukan ayahnya sendiri tidak akan mendapatkan bau surga. Padahal bau surga telah tercium pada jarak tujuh puluh tahun, atau tujuh puluh tahun perjalanan.” (HR. Ahmad; shahih)

4. Wanita yang berpakaian tapi telanjang

Jika orang yang sombong dan orang yang menisbatkan nasabnya kepada selain ayah pernah dijumpai di zaman Rasulullah, kelompok wanita yang berpakaian tapi telanjang ini tidak pernah dijumpai beliau. Namun, mereka pasti akan ada sebagai kelompok yang tidak bisa mencium bau surga. Dan kini, sabda beliau terbukti. Banyak wanita yang model demikian di zaman sekarang.
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat; kaum membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya ia memukuli orang dan wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan condong (dari ketaatan), rambut mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan sejauh ini dan ini.” (HR. Muslim)

5. Orang yang menyemir rambutnya, khususnya dengan warna hitam

Kelompok orang yang tidak bisa mencium bau surga ini juga akan ada di masa-masa setelah Rasulullah. Dan ternyata kini benar-benar ada. Menyemir rambut dengan warna hitam dianggap sebagai hal biasa, padahal itu membuat pelakunya tidak bisa mencium bau surga.
يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
“Pada akhir zaman nanti akan ada orang-orang yang mengecat rambutnya dengan warna hitam seperti warna mayoritas dada merpati, mereka tidak akan mendapat bau surga.” (HR. Abu Daud; shahih)

6. Wanita yang minta cerai tanpa alasan

Dalam Islam, perceraian adalah perkara halal yang paling dibenci Allah. Boleh dilakukan untuk menyelamatkan keluarga -baik suami, istri maupun anak- dari kemudharatan yang lebih besar. Namun jika ada wanita yang minta cerai tanpa suatu alasan, maka ancamannya adalah tidak bisa mencium bau surga.
أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلَاقَ مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ
“Siapa pun wanita yang meminta talak pada suaminya tanpa alasan maka bau surga haram baginya.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad; shahih)

7. Orang yang membunuh kafir mu’ahad

Islam sangat menjunjung kesetiaan dan perdamaian. Islam melindungi hak-hak manusia sebagaimana diatur dalam syariat. Maka seorang muslim tidak boleh membunuh orang kafir yang terikat perjanjian dengan pemerintah Islam (kafir mu’ahad). Jika seorang muslim membunuh kafir mu’ahad, ia terancam tidak bisa mencium bau surga.
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
“Barangsiapa membunuh orang kafir mu’ahad, maka dia tidak akan mencium bau wangi surga” (HR. Bukhari)
Demikian 7 orang yang tidak bisa mencium bau surga, semoga kita dan istri kita dijauhkan dari golongan yang demikian. [Keluargacinta.com]

Hukum Wajib Menutup Aurat bagi Wanita Muslimah.

Ibarat sebuah barang yang berharga maka akan diperlakukan secara khusus oleh pemiliknya, antara lain
dengan cara dikemas, dipak, dilapisi, dibungkus sedemikian rupa untuk menjaga agar barang tersebut
terkena goresan, rusak dan sebagainya. Misalnya kita membandingkan antara CD software asli yang
harganya ratusan ribu hingga jutaan rupiah dengan CD software bajakan. Dalam hal ini kita bisa
membedakan bungkus kemasan CD yang asli dengan yang bajakan. Contoh lain, dari benda yang berasal
dari batu. Kita bisa membedakan antara batu mulia dengan batu material jalan.
Tentu dalam hal ini kita tidak perlu memandang manusia sebagai diposisikan sama dengan benda.
Namun sedikitnya kita akan mengambil hikmah perumpamaan dari sisi kepatutan dan kesopanan
seseorang dari sudut normatis. Seekor burung merak jantan yang bulunya indah nan surgawi, tentu
akan tampak tidak menarik seandainya bulu-bulunya kita rontokkan semua, sehingga tampak bugil
tanpa busana, pasti mengerikan.

Dimensi aurat dalam pandangan Islam bukan hanya terfokus pada kaum wanita, kaum laki-laki pun
sama mempunyai kewajiban untuk membaguskan dandanannya di hadapan manusia. Allah SWT
berfiman :

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah,
dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihlebihan.
(QS. Al A’raf : 31)

Ayat ini menerangkan tentang kewajiban bagi kaum muslimin apabila hendak pergi beribadah ke masjid
baik untuk shalat, thawaf, maupun ibadah lainnya supaya mengenakan pakaian yang sopan. Dalam
pengertian yang lebih luas dapat disimpulkan bahwa berpakaian sopan itu merupakan ciri identitas
seorang muslim.

Dalam beberapa literatur fiqih dikatakan bahwa aurat laki-laki adalah bagian badan antara pusar perut
hingga lutut. Akan tetapi keterangan tersebut dapat diperlengkap dengan kandungan ayat 31 surat Al
A’raf di atas. Karena dalam ukuran akhlak kita ketika hendak beribadah yang hakikatnya menghadap
Allah SWT alangkah tidak sopan jika hanya mengenakan kain untuk menutupi daerah tersebut saja.
Dasar Hukum Hijab (pakaian penutup) bagi Wanita Muslimah
Allah SWT berfirman :
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:
"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya
mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab : 59)

Sebuah isyarat yang sangat mencengangkan, jika kita mendalami makna yang terkandung pada ayat di
atas. Sepintas, bisa saja ada orang yang memahami ayat ini hanya dari sudut tekstual, yaitu dengan
menyimpulkan bahwa kewajiban mengenakan jilbab itu dikhususkan bagi istri-istri dan anak-anak
perempuan Nabi. Namun secara kontektual dapat dimaknai bahwa Nabi-Nabi Allah itu adalah public
figur, ketika menyuarakan dengan lantang, mengajak, menyeru umat, berdakwah untuk berbuat
kebajikan, menutup aurat, dan sebagainya. Maka umat yang diseru secara langsung akan melakukan
pengamatan balik kepada si penyeru tersebut, termasuk tidak luput terhadap keluarganya. Di samping
itu, sifat dan karakter Rasulullah SAW ketika menyerukan atau memerintahkan sesuatu, sebelum
perintah itu disampaikan kepada umatnya maka beliau selalu menjadi pelaku utama dan yang pertama
memberikan contoh bagi umatnya.

Dalam ayat di atas juga disebutkan adanya kalimat  (dan istri-istri orang mu’min), hal
ini memberikan penjelasan bahwa perintah mengenakan jilbab itu bukan hanya ditujukan kepada istriistri
dan anak-anak anak perempuan Nabi saja, melainkan seluruh wanita yang merasa dirinya beriman.
Jilbab dalam pengertian umum artinya selendang yang berfungsi menutup seluruh tubuh wanita di atas
pakaiannya (Ash-Shabuni). Sedangkan dalam penjelasan ayat 59 surat Al Ahzab disebutkan bahwa yang
dimaksud dengan jilbab adalah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan
dada. Dengan demikian, asumsi tentang jilbab yang kita temukan sehari-hari di kalangan muslimin
Indonesia sepertinya keliru. Sebab kondisi ini sepertinya sudah terlebih dahulu memasyarakat bahwa
jilbab itu artinya “kerudung”. Oleh karenanya, bisa jadi salah kaprah ketika wanita muslimah kita
mengenakan kerudung, sementara badan ke bawahnya mengenakan pakaian serba ketat. Maka hal ini
jelas bukanlah busana muslimah. Namun demikian pakaian seperti ini tentu akan mendapat poin ---
misalnya nilai lumayan--- daripada tidak sama sekali.

Sekali lagi, acapkali sudah menjadi budaya bangsa kita yang memasyarakatkan sebuah istilah keliru atau
diposisikan tidak pas dengan makna sebenarnya. Misalnya, pada saat era reformasi didengungkan maka
orang rame-rame orang menurunkan pejabat pemerintah yang dipandang tidak adil. Upaya
menurunkan pejabat pemerintah itu mereka sebut dengan isitilah “direformasi”. Sehingga masyarakat
awam berasumsi bahwa “direformasi” itu artinya “diturunkan” dari suatu jabatan. Dalam hal ini persis
seperti asumsi tentang istilah “jilbab” yang secara umum dipahami bahwa “jilbab” itu artinya kerudung
wanita. Para pedagang busana pun ikut-ikutan mempopulerkan istilah jilbab untuk barang dagangan
yang mereka maksudkan dengan kerudung.

Salah satu tujuan disyari’atkannya berjilbab adalah agar manusia mudah mengenali identitas muslimah
dibadingkan dengan wanita-wanita non muslim. Karena diterangkan dalam ayat lain bahwa wanitawanita
yang mempunyai karakter suka memamerkan lekuk tubuh dan perhiasannya itu adalah bagian
dari moralitas wanita-wanita jahiliyah. Sebagaimana firman Allah :

dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah (QS. Al Ahzab : 33)

Maka tatkala wanita-wanita muslimah berpakaian mini, ketat, pamer aurat, nyaris bugil, dan seterusnya
dapatlah dipastikan bahwa mereka sudah tidak lagi memiliki integritas dalam keyakinannya. Patutlah
dipahami bahwa nilai keimanan seseorang tidak bisa ditawar menawar, apalagi dengan urusan duniawi
yang harganya sangat murah.

Wanita-wanita non-muslimah meskipun tidak diperintahkan untuk berjilbab, akan tetapi tidak boleh
dibiarkan untuk merusak kultur masyarakat muslim yang dengan seenaknya pamer tubuh dan telanjang
di dalam komunitas muslim. Karena masih ada norma kesopanan yang tetap harus dijaga dalam status
sosial kita, apalagi bangsa Indonesia yang dengan adat ke-timur-annya memiliki adat dan budaya
tersendiri dalam tata pergaulannya. Di samping itu, kita sebagai umat Islam meyakini bahwa tak ada
satu agama pun di dunia ini yang mengajarkan pada umatnya tentang bugil dan ketidaksopanan dalam
berbusana.
Dengan nada yang lebih tegas Asy Syaikh As Sayid Sabiq berkata bahwa yang membedakan antara
manusia dengan hewan adalah faktor pakaian dan alat-alat perhiasan. Allah SWT berfirman :

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu
dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu
adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS. Al
A’raf : 26)

Pakaian dan perhiasan adalah dua aspek kemajuan dan peradaban kontemporer umat manusia.
Mengabaikan keduanya berarti kembali ke zaman primitif. Sedangkan hak milik wanita yang paling
utama adalah kemuliaan, rasa malu, kehormatan dan harga dirinya. Tak ada yang bisa menghargai diri
seseorang selain dirinya sendiri. Memelihara keutamaan-keutamaan ini berarti memelihara hakikat
martabat kemanusiawian seorang wanita dalam derajat yang paling luhur.
Berbusana muslimah harus didasari dengan kesadaran yang tulus sebagai manifestasi pancaran iman.
Jika berjilbab hanya didasarkan karena faktor lingkungan, pergaulan, atau ekses penilaian manusia
secara umum. Atau lebih bernuansa motivasi mode dan kepatutan, alasan menutup rambut yang tidak
ditata kecantikan, alasan karena rambutnya sudah banyak ditumbuhi uban dan sebagainya. Maka jilbab
hanya berfungsi sebagai kedok kamuplase.
Takutlah kepada Allah, wahai saudariku. Tidak perlu merasa dipaksa hanya lantaran tuntutan
lingkungan, pergaulan suku dan kedaerahan. Karena berjilbab seperti itu tidak akan menjadi nilai ibadah
di hadapan-Nya. Yang pasti dari permainan sandiwara yang diperankan delam kehidupan seseorang,
bukanya akan membuat hidup seseorang menjadi lebih tenang, melainkan akan menyisakan rasa cape
yang tiada batas.

Sering kali kita menyaksikan beberapa tokoh wanita yang mencoba mengenakan jilbab pada acaraacara
yang bersifat insidental; antara lain ketika menarik simpati masyarakat, khusus pada forum-forum
tertentu agar tidak disangka bukan Islam, dan sebagainya. Sedangkan ketika mereka kembali pada
profesi dan komunitasnya, maka lepaslah jilbab itu. Na’uzubillah.

Persoalan hukum jilbab ini adalah bagian dari ruang lingkupnya hukum Allah. Tidak seorangpun yang
berhak melakukan opsi-opsian. Sehingga terjadilah pemungutan suara, alternatif pilihannya ada dua
antara setuju dengan tidak setuju. Hukum Allah itu tidak boleh dimasukan pada ranah hukum baru
produk manusia, apalagi melibatkan orang-orang yang tidak mengerti tentang syari’at sama sekali.
Sebab produk hukum manusia, jika tidak menemukan kata mufakat akan berakhir pada voting.
Sebut saja misalnya undang-undang tentang pornografi dan pornoaksi. Atau undang-undang
perkawinan. Kedua macam hukum ini diperguncingkan hingga tidak pernah putus, soalnya pada
substansi kedua aturan perundang-undangan ini jelas mangandung tuntutan syari’at Allah. Sementara
itu, ketika aturan syari’at ditawarkan dengan opsi “setuju” dan/atau “tidak setuju” maka
konsekuensinya adalah utuh keimanan atau murtad??

4 June 2011 at 01:19 · Public

Beratnya hukum meninggalkan solat dengan sengaja

. Posted in Soal Fiqh

SALAM Ustazah,
Saya berasa amat sedih sekali mendapati ramai dari kawan-kawan saya di IPT tempat saya menuntut ilmu sekarang meninggalkan solat.
 Hanya segolongan kecil sahaja dari kami yang menunaikan solat 5 kali sekali sehari, yang lain mungkin solat 3 atau 4 kali sehari. Manakala ada juga yang langsung tidak solat. Malah ada di antara kawan saya yang tidak tahu cara solat!

Apakah hukum seorang yang mengaku muslim meninggalkan solat dengan sengaja? Dan apakah yang patut saya lakukan dalam keadaan iman saya juga masih lemah. Bantulah saya ustazah.
Wirda Abdul Hadi
shahidah1
Ustazah Shahidah Sheikh Ahmad
Terima kasih adik Wirda. Semoga Allah SWT mengurniakan keteguhan iman buatmu, dapat bertahan dengan amal-amal soleh dalam suasana hidupn seperti disebutkan itu. Saya juga merasa sangat terpukul dengan keadaan remaja hari ini yang kelihatan hidup tanpa mengenal dirinya dan tidak kenal penciptanya.
Adik Wirda, seperti yang telah diketahui oleh seluruh ummat Islam bahawa solat adalah fardhu ke atas semua muslim yang mukallaf. Tidak ada sebarang kelonggaran bagi kita meninggalkan solat walau dalam apa keadaan sekalipun. Dan di sana juga telah lengkap petunjuk dari Allah akan hukumnya berkaitan orang yang tidak menunaikan kewajiban ini.

Allah SWT melalui Rasulullah s.a.w. telah memberi petunjuk, di antara sabda Nabi s.a.w.: maksudnya: "Antara seorang Islam dan antara kekafiran, ialah meninggalkan solat" (Riwayat Ahmad dan Muslim dari Jabir; At-Targhrib, 1:342).

"Urusan yang memisahkan antara kita (para muslimin) dengan mereka (orang-orang kafir) itu, ialah solat. Maka barangsiapa meninggalkannya, sungguh ia telah menjadi kafir". (Riwayat Ahmad dan Daud dari Buraidah, At-Targhib 1:342).

Dan di sana juga terdapat penetapan Fuqaha Sahabat, Tabi'in dan Imam-Imam terhadap orang-orang yang meninggalkan solat: 
Diterangkan oleh An-Nawawi bahawasanya:
Orang yang meninggalkan solat dengan jalan mengingkari kewajipannya, dipandang telah menjadi kafir, keluar dari millah (agama) Islam - (dengan ijma' segala ulama’ Islam) - terkecuali kalau ia baru memasuki Islam dan belum mengetahui hukum kewajipan solat itu.
Adapun jika ia meninggalkan solat dengan kemalasan serta masih mengi'tikadkan kewajibannya solat itu atas dirinya, maka Imam Malik dan Asy Syafi'i menetapkan bahawa:
"Orang itu, tidak dikafirkan, hanya dipandang fasiq dan disuruh bertaubat. Jika ia tidak mau bertaubat, nescaya dibunuh, selaku suatu hukuman yang mesti dijalankan".

Tetapi segolongan ulama’ salaf, diantaranya Ahmad dan Ishaq menetapkan, bahawa:
"Orang itu, dikafirkan dan dibunuh selaku seorang kafir".

Abu Hanifah dan al-Muzany menetapkan bahawa:
"Orang yang meninggalkan solat tidak dikafirkan dan tidak dibunuh, hanya dipenjarakan dan dita'zirkan, sehingga kembali mengerjakan solat".

Ulama’ yang mengkafirkan orang yang meninggalkan solat berhujjah dengan:
Zahir hadis-hadis di atas, mengqiaskan kepada kalimah Tauhid.

Ulama’ yang tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan solat mengambil hujah sabda Rasulullah s.a.w.bermaksud:
"Barangsiapa mengucapkan; "Lailla haillahllah", masuklah ia kedalam syurga". (Riwayat Ahmad dari Abu Hurairah; An-Nail 1:376 - As-Sholah Ibnul Qayyim 39).

Ulama’ yang menyuruh membunuh orang yang tidak mau bersolat sesudah disuruh bertaubat, berhujjah dengan: Sabda Rasulullah s.a.w.bermaksud:
"Saya diperintah memerangi manusia sehingga mereka mengucap Lailahaillahllah, mendirikan solat dan mengeluarkan zakat. Apabila mereka mengerjakan yang demikian, nescaya mereka pelihara darah-darah dan harta-harta mereka daripadaku". (Riwayat al Bukhari dan Muslim dari Ibn Umar; Nailul-Authar 1:364).

Firman Allah s.w.t.:bermaksud:"Maka jika mereka bertaubat, mendirikan solat dan mengeluarkan zakat, lepaskanlah perjalanan mereka". (At-Taubah ayat 12).

Ulama’ yang tidak menghukum membunuh orang yang tidak mengerjakan solat, berhujah dengan: Sabda Rasulullah s.a.w.bermaksud:
       "Tidak halal dari seorang Muslim yang mengaku bahawa sesungguhnya tak ada Tuhan melainkan Allah dan bahawasanya aku pesuruh Allah, melainkan dengan kerana salah satu dari tiga perkara; pertama tsaib (janda) mengerjakan zina, kedua membunuh orang dan ketiga meninggalkan agama dan menentang jamaah". (Riwayat Al Bukhary dan Muslim, Muftahul-Khathabah 219).

Dapat disimpulkan di sini bahawa:
a.  Seseorang yang meninggalkan solat pada suatu waktu dengan kerana kemalasan atau mengerjakan kemaksiatan kerana kejahilan dengan merasa penyesalan dan kekecewaan hati serta ingin bertaubat, tiadalah iman orang itu berlawanan dengan iman mutlaq dan tiadalah halnya itu mengeluarkan dirinya dari millah (agama) walaupun berulang-ulang.
b. Seorang yang terus menerus menginggalkan solat dengan tidak merasa keberatan apa-apa, tidak merasa penyesalan dan tidak merasa kekecewaan serta tidak merasa perlu bertaubat, maka orang itu dipandang dan dihukum kafir. Kerana meninggalkan solat yang semacam ini meniadakan iman.
Demikianlah pandangan syara’ tentang orang yang tidak solat.

Dalam keadaan begini apakah tugas kita?
Ketahuilah bahawa anda dan saya memikul tanggungjawab yang sama berat, yaitu wajib mengajar dan mengajak mereka untuk solat dan beristiqamah dengannya.
Untuk Wirda saya cadangkan ajaklah kawan-kawan wanita untuk solat bersama, jangan putus asa, mungkin kali pertama mereka enggan. Katakanlah kepada mereka bahawa jika mereka solat Allah akan menolong mereka, akan menyintai mereka. Jika ada masa, carilah artikel2 di internet tentang kewajipan solat dan poskan ke email mereka. Saya percaya jika mereka ada pengetahuan mereka akan solat. Di samping itu berdoalah sentiasa untuk mereka dengan ikhlas. Insya Allah anda akan dibantu oleh Allah.

Wallahu ‘a’lam



Azab Allah Kepada Yang Meninggalkan Solat

by admin on May 21, 2012
Dosa Meninggalkan Solat Fardhu :
1. Solat Subuh : satu kali meninggalkan akan dimasukkan ke dalam neraka selama 30 tahun yang sama dengan 60.000 tahun di dunia.
2. Solat Zuhur : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan membunuh 1.000 orang umat islam.
3. Solat Ashar : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan menutup/meruntuhkan ka’bah.
4. Solat Magrib : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan berzina dengan orangtua.
5. Solat Isya : satu kali meninggalkan tidak akan di redhai Allah SWT tinggal di bumi atau di bawah langit serta makan dan minum dari nikmatnya.
6 Siksa di Dunia Orang yang Meninggalkan Solat Fardhu :
1. Allah SWT mengurangi keberkatan umurnya.
2. Allah SWT akan mempersulit rezekinya.
3. Allah SWT akan menghilangkan tanda/cahaya soleh dari raut wajahnya.
4. Orang yang meninggalkan solat tidak mempunyai tempat di dalam islam.
5. Amal kebaikan yang pernah dilakukannya tidak mendapatkan pahala dari Allah SWT.
6. Allah tidak akan mengabulkan doanya.
3 Siksa Orang yang Meninggalkan Solat Fardhu Ketika Menghadapi Sakratul Maut :


1. Orang yang meninggalkan solat akan menghadapi sakratul maut dalam keadaan hina.
2. Meninggal dalam keadaan yang sangat lapar.
3. Meninggal dalam keadaan yang sangat haus.
3 Siksa Orang yang Meninggalkan Solat Fardhu di Dalam Kubur :
1. Allah SWT akan menyempitkan kuburannya sesempit sempitnya.
2. Orang yang meninggalkan solat kuburannya akan sangat gelap.
3. Disiksa sampai hari kiamat tiba.
3 Siksa Orang yang Meninggalkan Solat Fardhu Ketika Bertemu Allah :
1. Orang yang meninggalkan solat di hari kiamat akan dibelenggu oleh malaikat.
2. Allah SWT tidak akan memandangnya dengan kasih sayang.
3. Allah SWT tidak akan mengampunkan dosa dosanya dan akan di azab sangat pedih di neraka.
Mengenai balasan bagi orang yang meninggalkan Solat Fardu:
“Rasulullah SAW, diperlihatkan pada suatu kaum yang membenturkan kepala mereka pada batu, Setiap kali benturan itu menyebabkan kepala pecah, kemudian ia kembali kepada keadaan semula dan mereka tidak terus berhenti melakukannya. Lalu Rasulullah bertanya: “Siapakah ini wahai Jibril”? Jibril menjawab: “Mereka ini orang yang berat kepalanya untuk menunaikan Solat fardhu”. (Hadits Riwayat Tabrani, sanad shahih)

Sumber: http://khaulah-azwar.blogspot.com/

Menutup Aurat (Bagian ke-2): Aurat Laki-laki dan Hukum Menutupnya


Ilustrasi - Busana muslim (inet)
Aurat Laki-laki dan Hukum Menutupnya dakwatuna.com – Aurat laki-laki yang harus ditutup saat menunaikan shalat adalah qubul (kemaluan bagian depan) dan dubur (kemaluan bagian belakang), adapun di luar itu, mulai dari paha, pusar dan lutut, para ulama berbeda pendapat; sebagian ulama menganggapnya sebagai aurat dan sebagian lagi tidak menganggapnya sebagai aurat.
Pendapat pertama :
Bahwa paha, pusar dan lutut bukan aurat
Mereka beralasan :
Nabi bersabda :
عن عائشة رضي الله عنها: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان جالسا كاشفا عن فخذه، فاستأذن أبو بكر فأذن له وهو على حاله، ثم استأذن عمر فأذن له، وهو على حاله ثم استأذن عثمان فأرخى عليه ثيابه. فلما قاموا قلت: يا رسول الله استأذن أبو بكر وعمر فأذنت لهما.
وأنت على حالك، فلما استأذن عثمان أرخيت عليك ثيابك؟ فقال: “يا عائشة ألا أستحي من رجل والله إن الملائكة لتستحي منه” رواه أحمد، وذكره البخاري تعليقا.
Dari Aisyah RA, bahwa Rasulullah saw saat duduk pahanya terbuka, lalu Abu Bakar meminta izin kepada Rasul, beliau pun mengizinkannya dan beliau dalam keadaan seperti semula, kemudian Umar  meminta izin dan beliau mengizinkannya dan beliau dalam keadaan seperti itu, kemudian Utsman pun ikut meminta izin namun beliau menurunkannya pakaiannya, setelah mereka pergi aku berkata : Wahai Rasulullah ketika Abu Bakar dan Umar meminta izin engkau mengizinkan keduanya. Dan engkau dalam keadaan semula, namun ketika Utsman meminta izin engkau mengulurkan pakaianmu ? maka beliau bersabda : Wahai Aisyah,  apakah aku tidak malu dari seseorang, demi Allah para malaikat lebih malu darinya”. (HR. Ahmad, dan disebutkan oleh imam Bukhari dalam ta’liqnya)
وعن أنس: “أن النبي صلى الله عليه وسلم يوخ خيبر حسر الازار عن فخذه، حتى إني لانظر إلى بياض فخذه” رواه أحمد والبخاري.
Dari Anas RA: bahwa Nabi saw membuka pada saat Khaibar kain sarungnya sehingga terbuka pahanya, sampai aku dapat melihat pahanya yang berwarna putih. (HR. Ahmad dan Bukhari)
Ibnu Hazm berkata : Jelas bahwa paha bukan aurat, sekiranya merupakan aurat maka Allah tidak akan menyingkapkannya padahal beliau seorang yang suci dan maksum dari manusia, saat beliau menyampaikan risalahnya dan tidak diperlihatkan pahanya di hadapan Anas bin Malik dan yang lainnya.
وعن مسلم عن أبي العالية البراء قال: إن عبد الله ابن الصامت ضرب فخذي وقال: إني سألت أبا ذر فضرب فخذي كما ضربت فخذك وقال: إني سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم كما سألتني فضرب فخذي كما ضربت فخذك وقال: (صل الصلاة لوقتها) إلى آخر الحديث.
Dari Imam Muslim, dari Abu Al-‘Aliyah al-barra berkata : bahwa Abdullah bin As-shamit memukul paha saya, dia berkata : lalu saya bertanya kepada Abu Dzar, maka beliau memukul paha saya seperti Aku memukul paha kamu, kemudian dia berkata : kemudian saya bertanya kepada Rasulullah saw seperti yang kamu Tanya kepadaku maka beliau pun memukul saya seperti aku memukul paha kamu, dan beliau bersabda : “Dirikanlah shalat pada waktunya…sampai akhir hadits.
Ibnu Hazm  berkata : jika paha sebagai bagian dari aurat maka Rasulullah saw tidak akan menyentuhnya dari Abu Dzar dengan tangannya yang suci. Dan jika paha merupakan aurat menurut Abu Dzar maka tidak menyentuh paha Abdullah bin Shamit dengan tangannya, begitu pun Abdullah bin Shamit dan Abu al-Aliyah.
Pendapat kedua :
Bahwa paha, pusar dan lutut adalah aurat.
Mereka beralasan :
Hadits nabi saw :
عن محمد بن جحش قال: مر رسول الله صلى الله عليه وسلم على معمر، وفخذاه مكشوفتان فقال  :”يا معمر غط فخذيك فإن الفخذين عورة” رواه أحمد والحاكم والبخاري في تاريخه، وعلقه في صحيحه.
Dari Muhammad bin Jahsy berkata : Rasulullah saw melewati ma’mar sementara kedua pahanya tersingkap, beliau bersabda : “Wahai Ma’mar tutuplah kedua pahamu karena paha itu adalah aurat”. (HR. Ahmad, Hakim dan Bukhari).
وعن جرهد قال: مر رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلي بردة وقد انكشفت فخذي فقال: “غط فخذيك فإن الفخذ عورة” رواه مالك وأحمد وأبو داود والترمذي وقال: حسن: وذكره البخاري في صحيحه معلقا.
Dan dari Jurhud berkata : Rasulullah saw lewat pada Burdah dan kedua pahanya tersingkap, beliau bersabda : “Tutuplah kedua pahamu karena paha itu adalah aurat”. (HR. Malik, Ahmad, Hakim, Abu Dawud dan Tirmidzi serta Bukhari dalam shahihnya).
Demikian dua pendapat tentang batasan aurat laki-laki, namun bagi kita untuk lebih berhati-hati, saat akan menunaikan shalat maka kita menutup aurat kita mulai dari pusar hingga dua lututnya sebisa mungkin.
Aurat laki-laki bersama dengan laki-laki.
Bersama dengan kaum lelaki, ia tidak boleh menampakkan bagian antara lutut dan pusarnya, baik laki-laki yang melihatnya itu kerabatnya maupun orang lain, baik muslim maupun kafir. Adapun selain anggota tubuh itu boleh terlihat selama tidak ada fitnah.
Rasulullah bersabda :
Artinya: Apa yang ada di antara pusar dan lutut adalah aurat. (H.R.  Al Hakim)
Rasulullah saw bersabda :
Artinya: Tutuplah pahamu, karena paha lelaki adalah aurat”. (H.R. Al Hakim)
Aurat laki-laki di hadapan wanita
Seorang wanita muslimah diperbolehkan melihat kaum lelaki yang berjalan di jalan-jalan, atau memainkan permainan yang tidak diharamkan, yang sedang berjual beli, dan sebagainya.
Rasulullah SAW menyaksikan orang-orang Habsyiy bermain lembing di dalam masjid pada hari raya dan Aisyah ikut menyaksikan mereka dari belakang beliau. Rasulullah menghalangi Aisyah dari mereka, sampai ia merasa bosan dan pulang. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke tujuh Hijriyah. [1]
Sedangkan hadits yang mengatakan :
“Berhijablah kalian berdua dari padanya. Apakah kalian berdua buta? Bukankah kalian berdua melihatnya?”[2] Menunjukkan bahwa Ummu Salamah dan Maimunah berkumpul bersama Ibnu Ummi Maktum di dalam satu majelis, mereka bertemu pandang dan berhadap hadapan.
Pada kenyataannya, memang sangat berbeda antara pandangan laki-laki pada wanita dan pandangan wanita pada laki-laki. Wanita dengan rasa malu yang tinggi akan cenderung pasif, sedangkan laki-laki dengan sifat pemberaninya akan cenderung aktif dan kreatif.
Kesimpulannya, wanita diperbolehkan melihat lelaki lain dengan dua syarat, yaitu :
Pertama, tidak dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah.
Kedua, tidak berada dalam satu majelis  berhadap-hadapan.
— Bersambung
(hdn)

Catatan Kaki:[1] As Shan’ani, Subulusalam, (Riyadh: Mathabi’ Jami’ah Al Imam Muhammad Ibn Su’ud Al Islamiyah, 1408 H) Juz I h. 304
[2] Al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkam Al Qur’an, op  cit, Juz XII h. 228

Menutup Aurat (Bagian ke-3): Aurat Wanita Dan Hukum Menutupnya


Ilustrasi: ibu memakaikan kerudung ke anak (blogspot.com - serambidakwah)
Aurat Wanita Dan Hukum Menutupnya
Yang menjadi dasar aurat wanita adalah:
1. Al-Qur’an
Allah SWT berfirman :
“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (jilbab)nya ke dadanya”. (QS. An-Nur : 30-31)
Ayat ini menegaskan empat hal :
a. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh Allah.
b. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram.
c. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak.
d. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada. Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab.
Allah SWT berfirman :
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin : Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Ahzab: 59).
Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung), bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka.
2. Hadits Nabi SAW
Dalam riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata : Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haidh (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini, sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).
Hadits ini menunjukkan dua hal:
  1. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan.
  2. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.
Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa.
Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat shalat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya.
A. Aurat wanita bersama wanita
Wanita bersama dengan kaum wanita, bagaikan laki-laki bersama dengan laki-laki, diperbolehkan melihat seluruh badannya kecuali antara lutut dan pusarnya, kecuali diindikasikan akan membawa fitnah, maka tidak boleh menampakkan bagian tubuh itu. Hanya saja kepada wanita yang tidak seagama, wanita muslimah tidak boleh menampakkan auratnya sebagaimana kepada sesama wanita muslimah. Karena wanita yang tidak seagama berstatus orang lain bagi wanita muslimah. Allah berfirman :
Artinya: …atau wanita-wanita Islam…. (QS. An Nur/24:30)
B. Aurat wanita di hadapan laki-laki
Keberadaan wanita di hadapan lawan jenisnya memiliki rincian hukum yang berbeda-beda, yaitu:
a. Di hadapan laki-laki lain, yang tidak ada hubungan mahram.
Maka seluruh badan wanita adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan. Karena keduanya diperlukan dalam bermuamalah, memberi dan menerima.
Pandangan laki-laki kepada wajah dan telapak tangan wanita bisa diklasifikasikan dalam tiga kelompok, yaitu:
1. Tidak diperbolehkan dengan sengaja melihat wajah dan telapak tangan wanita lain tanpa tujuan syar’i. Dan jika tanpa sengaja melihatnya maka segera harus memalingkan pandangan seperti yang telah dijelaskan pada pandangan faj’ah (tanpa sengaja).
2. Melihat karena ada tujuan syar’i dan tidak ada fitnah, seperti melihat untuk melamar. Rasulullah menyuruh Mughirah bin  Syu’bah untuk melihat wanita yang hendak dinikahinya:
Jika salah seorang di antaramu, meminang seorang wanita maka jika ia mampu melihat bagian yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah. (H.R. Ahmad, dan Abu Daud)
Dan untuk semua tujuan itu,  seseorang diperbolehkan melihat wajahnya, yang dengan melihat wajah itu sudah cukup untuk mengenalinya.
3. Memandang dengan syahwat, inilah pandangan terlarang, seperti yang disebutkan dalam hadits Nabi:
Nabi saw bersabda :
“Telah ditetapkan atas setiap anak Adam bagian dari zina, zina mata adalah pandangannya, zina mulut adalah ucapannya, zina telinga adalah mendengarkannya, zina tangan adalah memegangnya, zina kaki adalah melangkah menemuinya, nafsunya berharap dan berselera, kemaluannya membenarkan atau mendustakannya. (H.R. Ibnu Majah)
Asbabun nuzul ayat 30 ini sangat memperjelas kewajiban menjaga pandangan, yaitu kisah seorang laki-laki yang lewat di salah satu jalan di Madinah, ia memandangi seorang wanita. Dan wanita itupun membalas memandanginya. Setan ikut bermain menggoda keduanya, sehingga keduanya saling mengagumi. Sambil berjalan laki-laki itu terus memandangnya hingga ia menabrak tembok dan berdarah hidungnya. Ia berkata:
“Demi Allah! Saya tidak akan membasuh darah ini sebelum saya menemui Rasulullah SAW lalu saya ceritakan kejadian ini.”
Laki-laki itu segera menemui Nabi dan menceritakan kejadiannya. Nabi bersabda:
“Inilah hukuman dosamu”. Dan Allah menurunkan  ayat 30 dan 31 ini.[1]
Pengecualian dalam hukum ini adalah jika berada dalam keadaan terpaksa, seperti penglihatan dokter muslim yang terpercaya untuk pengobatan, khitan, atau penyelamatan dari bahaya kebakaran, tenggelam, dsb.
b. Di hadapan laki-laki yang memiliki hubungan mahram
Ada ulama yang mengatakan bahwa dalam kondisi itu wanita hanya boleh menampakkan bagian tubuh yang biasa terlihat sewaktu bekerja, yaitu: rambut, leher, lengan, dan  betis.
Allah berfirman :
“Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasan-nya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra  saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka” ( QS. An Nur/24:31)
c. Di hadapan suami
Seorang wanita di hadapan suaminya boleh menampakkan seluruh anggota badannya. Karena segala sesuatu yang boleh dinikmati, tentu boleh juga dilihat.
Allah berfirman :
kecuali kepada suami mereka, …,
Ada sebagian ulama yang mengatakan makruh melihat kemaluan. Karena Aisyah RA mengatakan tentang hubungannya dengan Nabi Muhammad SAW:
Artinya: “Saya tidak pernah melihat darinya dan ia tidak pernah melihat dariku. (H.R. At Tirmidzi)
d. Budak wanita di hadapan orang yang tidak boleh menikmatinya
Aurat budak wanita di hadapan laki-laki yang tidak boleh menikmatinya adalah seperti aurat laki-laki, yaitu antara lutut dan pusar. Dan jika di hadapan tuan yang boleh menikmatinya maka kedudukannya bagaikan istri dengan suaminya.
Allah berfirman :
atau budak-budak yang mereka miliki,….
— Bersambung
(hdn)

Catatan Kaki:[1] Asy Syaukani, Fathul-Qadir, (Beirut: Dar El Fikr T th) Jilid IV h.25

Hukum Menutup Kedua Kaki bagi Wanita

Posted by Farid Ma'ruf pada 21 April 2014
Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.
Saya mohon jawaban atas pertanyaan saya jika Anda memiiki waktu, semoga Allah memberkahi Anda.
Pertanyaan dari buku Nizham al-Ijtima’iy:
  1. Dikatakan di dalam buku tersebut halaman 51 baris sebelum terakhir, “dan tidak perlu menutup kedua kaki karena keduanya tertutupi.” Apakah kalimat ini berarti tidak wajibnya mengenakan apa yang menutupi aurat “kedua kaki” di bawah pakaian kehidupan umum?
  2. Halaman 51 baris ke-8 dikatakan, “sebab pakaian luas yang diulurkan ke bawah hingga kedua kaki adalah fardhu.” Tidakkah lafazh “hattâ –hingga-“ disini mengisyaratkan tidak masuknya kedua kaki dalam tutup “jilbab” … Ini dari sisi bahasa. Dan jika tidak, paragraf sebelumnya menegaskan wajibnya menutupi, akan tetapi untuk perbaikan secara bahasa bukankah lebih utama dikatakan “hattâ asfali al-qadamayn -hingga bawah kedua kaki-” lebih dalam?
Semoga Anda diberkahi wahai amir kami.
Jawab:
Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuhu.
Pertama: pertanyaan tentang kedua kaki:
  1. Kalimat pertama dari pertanyaan Anda: “dan tidak perlu wanita menutupi kedua kaki dan kedua kaki itu tertutup” benar, itu berarti tidak perlu wanita mengenakan pakaian yang menutupi kedua kakinya di bawah pakaian kehidupan umum jika pakaian kehidupan umum itu terjulur ke tanah sejengkal atau sehasta tidak lebih seperti yang ada di paragraf itu secara utuh yang darinya Anda kutip kalimat pertama pertanyaan Anda.
  2. Kalimat kedua dari pertanyaan Anda: “karena pakaian luas yang terjulur ke bawah hingga kedua kaki adalah fardhu” berarti bahwa kedua kaki jika tertutupi dengan kaos kaki atau semacam itu, maka pakaian kehidupan umum cukup sampai ke kedua kaki tanpa terjulur ke tanah lebih bawah dari kedua kaki. Irkha’ yang dinyatakan di ayat telah terpenuhi. Demikian juga hal itu jelas di dalam paragraf tersebut secara utuh yang darinya Anda kutip kalimat kedua dari pertanyaan Anda.
  3. Sehingga jelas deskripsi tersebut, saya ulangi lagi jawaban pertanyaan terdahulu:
a. Dahulu para perempuan khususnya di kampung, berjalan bertelanjang kaki atau memakai terompah atau yang serupa yang tidak menutupi kedua kakinya seluruhnya. Maka kedua kaki perempuan itu terlihat kecuali ia mengulurkan pakaiannya sampai tanah supaya tidak terlihat kedua kakinya selama ia berjalan. Ketika Rasulullah saw melarang mengulurkan pakaian karena sombong, Ummu Salamah melihat bahwa perempuan jika pakaiannya tidak terulur sampai tanah, maka ketika dia berjalan, dan menggerakkan kedua kakinya pada saat berjalan, maka kedua kakinya terlihat. Hal itu karena kedua kaki itu tidak tertutup dan perempuan itu berjalan bertelanjang kaki atau memakai terompah yang tidak menutupi kedua kakinya… Maka Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah saw: “lalu bagaimana perempuan memperlakukan ujung pakaiannya?” Sebab perempuan waktu itu jilbabnya atau mantelnya diulurkan sampai nyasar tanah agar kedua kakinya tidak terlihat… Lalu Rasulullah saw memperbolehkan mereka untuk mengulurkannya sejengkal kemudian sehasta melebihi kedua kaki sehingga jika perempuan itu berjalan bertelanjang kaki tidak terlihat kedua kakinya selama pakaiannya diulurkan melebihi kedua kakinya sampai nyasar tanah… Jadi topiknya adalah: (mengulurkan pakaian untuk menutupi kedua kaki…) Artinya bahwa pertanyaan itu untuk menutupi kedua kaki. Dengan ungkapan lain, mengulurkan jilbab sampai tanah melebihi kedua kaki itu adalah untuk menutupi kedua kaki. Jadi ‘illat mengulurkan pakaian sampai tanah sebagai tambahan atas irkha’ adalah menutupi kedua kaki. Dan al-ma’lûl beredar bersama ‘illat dari sisi ada dan tidaknya. Jika kedua kaki tertutup maka tidak perlu mengulurkan pakaian sampai tanah, akan tetapi cukup agar memenuhi makna mengulurkan (al-idnâ’) yakni al-irkhâ’ yang dinyatakan di dalam ayat:
﴿يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ﴾
“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (TQS al-Ahzab [33]: 59)
Yakni, agar pakaian diulurkan sehingga kedua kaki tertutupi.
b. Adapun dari mana Ummu Salamah mengukur sejengkal atau sehasta, maka masalahnya tersebut adalah “mengulurkan pakaian sampai tanah”. Inilah yang ditanyakan oleh Ummu Salamah, dimana ia meminta penjelasan tentangnya. Ummu Salamah melihat bahwa jika pakaian tidak diulurkan sampai tanah maka kedua kaki akan terlihat ketika perempuan berjalan. Dan ini benar. Pakaian itu jika tidak diulurkan sampai tanah sedikit, dan seorang perempuan berjalan bertelanjang kaki atau memakai terompah yang tidak menutupi kaki, maka perempuan itu ketika menggerakkan kedua kakinya pada saat berjalan akan terlihat bagian-bagian kedua kakinya… Maka Rasulullah saw mengijinkan perempuan mengulurkan pakaiannya sejengkal sampai tanah sebab hadits tersebut tentang mengulurkan pakaian. Dan kata “jarra –mengulurkan-“ berarti sampai tanah. Dan ini menunjukkan bahwa sejengkal yang diulurkan sampai tanah itu yakni dari bawah (ujung-telapak) kaki.
Saya ulangi, bahwa ini supaya kaki tidak terlihat pada saat berjalan. Jika kaki tertutup dengan kaos kaki, maka cukuplah irkha’ (mengulurkan) jilbab ke bagian atas kaki yang tertutup dengan kaos kaki. Yakni cukup sampai kedua mata kaki, selama kedua kaki itu tertutup.” Selesai.
Sumber :
Silsilah Jawaban asy-Syaikh al-‘Alim Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah Amir Hizbut Tahrir atas Pertanyaan di Akun Facebook Beliau
Jawaban Pertanyaan: 1. Hukum Menutup Kedua Kaki. 2. Pernyataan Sultan Brunei Berniat Menerapkan Syariah.
Kepada Ahmad Uwais
Tulisan terkait :


13 ALASAN TAK ENDAH TUTUP AURAT

Pernahkah anda menasihat @ menegur kawan-kawan kita yang tidak menutup aurat? Mari kita tengok apakah jawapan yang selalu digunakan oleh wanita yang enggan menutup aurat. Bagaimana pula ayat @ jawapan yang mungkin sesuai untuk mereka.







1. Semua yang tutup aurat, pasti masuk syurga ke?
  • Setiap umat Islam perlu beramal di sepanjang hayatnya kerana tiada seorang pun yang pasti dirinya akan memasuki syurga. Namun apa yang pasti, tidak menutup aurat, neraka menantinya.
Dalam sebuah hadis Rasulullah S.A.W ketika baginda dalam Israk dan Mikraj yang berbunyi "Aku menjenguk ke dalam neraka, maka kulihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita, yang demikian disebabkan oleh kerana kurang taat kepada Allah dan Rasulullah dan suami mereka dan kerana banyak bertabarruj dedah aurat dan berhias-hias".

2. Tudung labuh pun bukan baik sangat, buat dosa jugak, mengumpat orang, maksiat & sebagainya.
  • Bila Iblis tidak mahu mengikut perintah Allah untuk bersujud kepada Adam, dia menyalahkan perintah Allah itu. "Kenapa pula aku perlu sujud, aku lebih baik dan mulia". Samalah dengan tudung. Yang bertudung pula yang disalahkan, " pakai tudung tak semestinya baik..." 
Firman Allah SWT yang bermaksud: "Hendaklah kamu bertolong-tolongan untuk membuat kebajikan dan bertakwa dan janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa (maksiat) dan pencerobohan.” (Al-Ma’idah: 2)

3. Macamlah kau bagus sangat nak tegur aku. Kau dulu lagi jahat.
  • Tidak tersabit larangan dari Nabi untuk seseorang yang bahkan baru masuk Islam untuk pergi berdakwah kepada kaumnya. Dakwah itu satu tuntutan Islam. Selagi kamu Islam, dakwah tu diwajibkan walaupun kamu sendiri tidak sempurna. Sekurang-kurangnya, yang menegur itu telah insaf dan bertaubat. 
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah S.A.W bersabda: "Sesiapa yang mengajak ke jalan mengerjakan sesuatu amal yang baik, adalah baginya pahala sebanyak pahala orang-orang yang menurutnya, dengan tidak mengurangi sedikit pun pahala itu dari pahala-pahala mereka, dan (sebaliknya) sesiapa yang mengajak kejalan mengerjakan sesuatu amal yang menyesatkan, adalah ia menanggung dosa sebanyak dosa orang-orang yang menurutnya, dengan tidak mengurangi sedikit pun dosa itu dan dosa-dosa mereka."

4. Walaupun kami berpakai seksi, tapi hati kami baik.
  • Adakah kamu mendakwa diri kamu mempunyai hati yang suci, iman yang tinggi dan ia sudah cukup menjamin maruah diri kamu tanpa perlu menutup aurat dan kembali ke jalan Allah S.W.T?
Rasulullah S.A.W pernah bersabda ertinya: “Ketahuilah, bahawa di dalam diri anak Adam itu ada seketul daging, yang bila ianya baik maka baik seseorang itu, dan apabila buruk, buruklah amalan seseorang itu, ketahuilah, ia adalah hati” (Riwayat Muslim)

5. Pakaian jarang @ ketat, itu hak kami. Kalau tak suka jangan tengok.
  • Adakah kamu menjamin bahawa semua "Lekaki Ajnabi" mempunyai hati suci dan iman yang tinggi untuk menahan godaan syaitan serta nafsu yang membuak-buak?
Firman Allah S.W.T yang bermaksud: "... dan janganlah kamu memperlihatkan perhiasan tubuh kamu kecuali yang zahir daripadanya..." (An-Nur: 31)

6. Kami rasa pakaian kami tidak seksi. Terpulang kepada individu yang memandang kami.
  • Seksi atau tidak, kamu tetap berdosa walaupun hanya mendedahkan sehelai rambut @ bentuk tubuh kamu.
Firman Allah S.W.T yang bermaksud:"... dan janganlah kamu memperlihatkan perhiasan tubuh kamu melainkan suami kamu, bapa kamu, bapa mertua kamu, anak-anak kamu, anak saudara kamu, saudara-saudara perempuan kamu, perempuan-perempuan Islam atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan..." (An-Nur:31)

7. Walaupun kami tidak bertudung, kami tetap sembahyang dan berpuasa.
  • Adakah kamu yakin bahawa seorang wanita Islam dijaminkan syurga dengan hanya bersolat 5 waktu dan berpuasa? Bagaimana dengan tuntutan Islam yang lain? 
Rasulullah S.A.W. bersabda yang bermaksud: "Perempuan-perempuan yang memakai pakaian tetapi masih seperti telanjang (dedah aurat) sehingga memalingkan pandangan lelaki ajnabi atas mereka, kepala mereka seperti bonggol unta Khurasan dan tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium baunya pun" (Riwayat Muslim).

8. Suka hati kamilah nak berpakaian macam ni. Kami tak susahkan hidup orang lain.
  • Kamu salah, sebenarnya kamu telah menyusahkan ibu-bapa kamu, abang-abang kamu, adik-adik kamu, suami kamu serta orang lain, dengan menarik mereka ke neraka bersama kamu disebabkan mereka tidak menegur dan gagal mendidik kamu. 
Firman Allah S.W.T yang bermaksud:"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isteri kamu, anak-anak perempuan dan isteri-isteri orang mukmin (yang benar-benar beriman), hendaklah mereka menghulurkan jilbab-jilbab mereka keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih dikenali, kerana mereka tidak diganggu, dan Allah maha pengampun lagi maha Penyayang" (Al-Ahzab: 59)

9. Apa yang kami pakai, ini antara kami dengan Tuhan.
  • Adakah ini jawapan yang akan kamu berikan pada Mungkar dan Nangkir sewaktu disoal mengenai segala perintah Allah S.W.T nanti?
Firman Allah S.W.T yang bermaksud; “ Dan sesiapa yang derhaka kepada Allah dan RasulNya, dan melampaui batas-batas SyariatNya, akan dimasukkan oleh Allah ke dalam api neraka, kekalah dia di dalamnya, dan baginya azab seksa yang amat menghina." (An-Nisa:14)

10. Kami berpakai seksi macam ni, sebab ikut arahan photographer @ pengarah filem untuk disesuaikan dalam scene demi mencari rezeki yang halal.
  • Kamu telah meletakkan arahan-arahan mereka itu lebih tinggi berbanding perintah Allah S.W.T. Adakah mencari rezeki dengan mengengkari perintah Allah S.W.T itu adalah sesuatu yang halal di sisi Islam? 
Rasulullah S.A.W bersabda yang bermaksud: “ Sesungguhnya roh al-Qudus telah datang kepada aku memberitahu bahawa seseorang itu tidak akan mati selagi tidak sempurna rezeki Allah S.W.T. kepadanya. Maka takutlah kepada Allah S.W.T. dan berusahalah dengan baik; dan lambatnya datang sesuatu rezeki itu janganlah menjadi pendorong kepada kamu untuk melakukan usaha mencari rezeki berbentuk maksiat kerana sesungguhnya rezeki Allah S.W.T. tidak akan dapat diperolehi melainkan dengan cara ketaatan.” (Riwayat Ibn Majah dan al- Tabrani)

11. Bukan kami tak mahu menutup aurat, cuma masih belum sampai seru.
  • Berdoalah supaya seruan keinsafan itu datang sebelum tibanya Izrail.
Firman Allah S.W.T yang bermaksud: “...dan juga orang-orang Yang apabila melakukan perbuatan keji, atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampun akan dosa mereka - dan sememangnya tidak ada Yang mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah -, dan mereka juga tidak meneruskan perbuatan keji Yang mereka telah lakukan itu, sedang mereka mengetahui (akan salahnya dan akibatnya)”. (Al-'Imran: 135)

12. Takkan nak buat perubahan secara drastik? Slow-slow la...
  • Sewaktu malaikat Izrail menjalankan tugasnya mencabut nyawa makhluk-makhluk dunia, ianya akan turun ke dunia bersama-sama dengan dua kumpulan malaikat iaitu malaikat Rahmat dan malaikat Azab. Kumpulan manakah yang akan kamu pohon untuk diperlahankan...?
Firman Allah S.W.T yang bermaksud:“Wahai anak-anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu (bahan-bahan untuk) pakaian menutup ‘aurat kamu, dan pakaian perhiasan; dan pakaian yang berupa taqwa itulah yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah dari tanda-tanda (limpah kurnia) Allah (dan rahmatNya kepada hamba-hambaNya) supaya mereka mengenangnya (dan bersyukur)”. (Al-A‘raaf: 26)

13. Menutup aurat tu bagus, tapi kami tidak mahu hipokrit kerana tiada keikhlasan melakukannya.
  • Inilah punca sebenar kerosakan di dalam Islam, keikhlasan beragama Islam telah dititikberatkan mengatasi seruan Islam itu sendiri.
Rasulullah S.A.W bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya Akulah Allah, tiada Tuhan yang sebenarnya berhak disembah kecuali Aku. Rahmat-Ku sudah mendahului kemurkaan-Ku. Barang sesiapa yang naik saksi bahawa tiada Tuhan yang sebenarnya berhak disembah kecuali Allah dan Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya, nescaya ia berhak mendapat syurga.” (Riwayat Al-Daimali)


FAHAMAN SONGSANG WANITA MENGENAI AURAT

Fahaman Pertama:
  • Menutup aurat itu adalah dengan memakai tudung sahaja.

Fahaman Kedua:
  • Bertudung tetapi berbaju lengan pendek.

Fahaman Ketiga:
  • Bertudung tetapi berbaju kebarung yang terbelah kainnya.

Fahaman Keempat:
  • Bertudung tetapi baju sendat, sempit dan nipis sehingga memaparkan bentuk tubuh yang menggoda.

Fahaman Kelima:
  • Bertudung tetapi amat longgar sehingga menampakkan jambul atau hujung rambutnya.

Fahaman Keenam:
  • Bertudung tetapi hanya di pejabat. Tidak bertudung di sekitar rumah, pasaraya dan sebagainya.

Fahaman Ketujuh:
  • Bertudung tetapi tudungnya diselitkan ke belakang leher sehingga mendedahkan bentuk dadanya.

Fahaman Kelapan:
  • Bertudung tetapi dengan kain tudungnya yang nipis sehingga boleh diihat sanggul, leher, dan dadanya.

RENUNGAN KAUM LELAKI

Islam mengangkat martabat kaum wanita di tempat yang tinggi yang selayaknya mengikut fitrah kejadian dan penciptaan mereka oleh Allah SWT. Seorang wanita adalah pelengkap dan sememangnya istimewa disisi seorang lelaki. Tetapi ingatlah wahai lelaki, kamu sebenarnya adalah istimewa disisi Allah, maka dengan sebab itu Allah mengangkat kamu menjadi pemimpin.

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap empat (4) golongan wanita iaitu isteri, ibu, anak perempuan dan saudara perempuan. Oleh hal yang demikian, jagalah dan hargailah wanita sebaik-baiknya supaya kelak kita dapat pulang mengadap Allah dalam keadaan istimewa disisiNYA..

Marilah kita sama-sama bertaubat sementara masih belum terlambat. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

“Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang Yang banyak bertaubat, dan mengasihi orang-orang Yang sentiasa mensucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)



 ------------------------------------------------
Artikel diatas telah disusun dan diolah semula oleh:
Badan Dakwah,
Sekretariat Pekida Malaysia.

DEFINISI JILBAB, BATASAN AURAT WANITA & HUKUM MENUTUPNYA
Oleh : Alif Kho Ta-Ro

Jilbab itu menurut Tafsir al Qurtubi dalam menafsiri ayat ke-59 dari surat al Ahzab, adalah:

Selembar pakaian yang lebih besar daripada kerudung.

Menurut riwayat Ibn Abbas dan Ibn Mas’ud, jilbab itu adalah selendang.

Ada yang mengatakan bahwa jilbab itu adalah cadar yang dipakai untuk menutupi muka wanita.

Yang benar, jilbab itu adalah pakaian yang dipakai untuk menutupi seluruh badan wanita.

Dengan demikian, maka masalah memakai jilbab adalah sama dengan masalah menutup aurat bagi wanita. Dalam hal menutup aurat bagi wanita ini menurut madzhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali, disebutkan dalam kitab al Fiqhul Islamy wa Adillatuhu karangan Dr. Wahbah az Zuhaili (terbitan Darul Fikr) juz 1 halaman 584-594 sebagai berikut:

1- مَذْهَبُ الحَنَفِيَّةِ: ج- المَرْأَةُ الحُرَّةُ وَمِثْلُهَا الخُنْثَى: جَمِيْعُ بَدَنِهَا حَتَّى شَعْرِهَا النَّازِلِ فِى الأصَحِّ, مَاعَدَا الوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ, وَالقَدَمَيْنِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا عَلَى المُعْتَمَدِ لِعُمُومِ الضَرُورَةِ.

2- المَذْهَبُ المَالِكِيَّةِ. والعَورَةُ بِالنِّسْبَةِ لِلرُّؤْيَةِ: للرَّجُلِ مَابَيْنَ السُرَّةِ وَالرُّكْبَةِ, وَلِلْمَرْأَةِ أمَامَ رَجُلٍ أجْنَبِيٍّ جَمِيْعُ بَدَنِهَا غَيْرَ الوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ, وَاَمَامَ مَحَارِمِهَا جَمِيعٌ جَسَدِهَا غَيْرَ الوَجْهِ وَالأطْرَافِ: وَهِيَ الرّأسُ وَالعُنُقُ وَاليَدَانِ وَالرِّجْلاَنِ, إلاَّ انْ يُخْشَ لَذَّةٌ, فَيَحْرُمُ ذَلِكَ, لاَ لِكَوْنِهِ عَوْرَةُ. وَالمَرْأَةُ مَعَ المَرْأةِ أو مَعَ ذَوِى المَحَارِمِهَا كَالرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ, تُرَى مَاعَدَا مَابَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ وَأمَامَ المَرْأَةُ فِى النَّظْرِ إلَى الأَجْنَبِيِّ فَهِيَ كَحُكْمِ الرَّجُلِ مَعَ ذَوَاتِ مَحَارِمِهِ وَهُوَ النَّظْرُ إلَى الوَجْهِ وَالأطْرَافِ (الرَّأسِ وَاليَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ).

3- مَذْ هَبُ الَشَّافِعِيَّةِ ج-عَوْرَةُ الحُرَّةِ وَمِثْلُهَا الخُنْثَى: مَاسِوَى الوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ, ظَهْرِهِمَاوَبَطْنِهِمَا مِنْ رُؤُوْسِ الاَصَابِعِ الَى الْكُعَيْنِ (الَرَّسْغُ اَوْ مَفْصِِلُ الزَّنْدِ) لِقَوْلِهِ تَعَلَى: وَلاَيُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّ مَاظَهَرَ مِنْهَا. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَعَائِشَهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ: هُوَ الوَجْهُ وَالْكَفَّانِ. وَلاَنَّ الَنَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَرْأَةَ الْحَرَامَ (الْمُحَرَّمَةَ بِحَجِّ اَوْعُمْرَةٍ) عَنْ لُبْسٍ الْقُفَّزَيْنِ وَالَّنقَابِ, وَلَوْكَانَ الَوجْهُ عَوْرَةً لَمَّاحُرِّمَاسَتْرُهُمَا فِى الاِحْرَامِ, وَلاَّنَ الْحَاجَةتَدْعُوْ اِلَى اِبْرَازِ الْوَجْهِ لِلْبَيْعِ وَالشَّرَاءِ, وَاِلَى اِبْرِازِ الْكَفِّ لِلاَ خْذِ وَالْعَطَاءِ, فَلَمْ يُجْعَلْ ذَالِكَ عَوْرَةً.

4-مَذْهَبُ اْلحَنَابِلَةِ وَعَوْرَةُ الْمَرْأَةِ مَعَ مَحَارِمِهَاالرَِّّجَالِ: هِيَ جَمِيْعُ بَدَنِهَامَاعَدَ الوَجْهِ وَالَّر قْبَةِ وَالْيَدَيْنِ وَالْقَدَمِ وَالسَّاقِ. وَجَمِيْعُ بَدَنِ الْمَرْأَةِ حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ خَارِجَاالصَّلاَةِ عَوْرَةٌ كَمَا قَالَ الشّضافِعِيَّةُ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّابِقِ: الَْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ. وَيُبَاحُ كَشْفُ الْعَوْرَةِ لِنَحْوِ تَدَاوٍ وَتَحِلُّ فِى الْخَلاَءِ, وَخِتَانٍ, وَمَعْرِفَةِ الْبُلُوْغِ, وَبِكَارَةٍ وَثَيُوْبَةٍ, وَعَيْبٍ. وَعَوْرَةٌ المُسْلِمَةِ اَمَامَ الكَافِرَةِ: عَوْرَةُ الْمُسْلِمَةِ اَمَامَ الْكَافِرَةِ عِنْدَ الْحَنَابَلَةِ كَاالرَّجُلِ الْمُحْرِمِ: مَابَيْنَ السُّرَّةِ وَالُّركْبَةِ. وَقَالَ الْجُمْهُوْرُ: جَمِيْعُ الْبَدَنِ مَاعَدَامَاظَهَرَ عِنْدَ الْمِهْنَةِ اَيِ الاَسْغَالِ الْمَنْزِلِيَّةِ.


Madzhab Hanafi: Wanita merdeka dan yang sepertinya adalah orang banci, auratnya adalah seluruh badanya sampai rambutnya turun, menurut pendapat yang paling kuat, selain dan tapak dua tangan, kedua kaki bagian dalam dan bagian luar menurut pendapat yang dapat di jadikan pegangan, karena keumuman dari keperluan yang mendesak.

Madzhab Maliki: Aurat dipandang dari segi melihatnya: bagi laki-laki adalah apa yang ada diantara pusat dan lutut. Dan bagi wanita dihadapan orang laki-laki lain adalah seluruh tubuhnya selain muka dan kedua telapak tangan. Dan di hadapan muhrimnya (laki-laki) adalah seluruh jasadnya selain muka dan anggauta –anggauta: kepala, leher, kedua tangan dan kedua kaki, kecuali jika di takutkan rasa lezat, maka hal tersebut haram, bukan karena keadaanya sebagai aurat. Dan wanita dengan wanita atau yang mempunyai hubungan muhrim adalah laki-laki, yaitu dapat dilihat apa yang ada dipusat dan lutut. Adapun wanita wanita dalam memendang ke laki-laki lain adalah seperti hukumnya lain adalah seperti hukumnya laki-laki beserta para wanita yang menjadi muhrimnya, yaitu memandang kepada anggauta-anggauta: kepala, kedua tangan dan kedua kaki.

Madzhab Syafii: Aurat wanita merdeka dan yang sepertinya adalah orang banci adalah: apa yang selain muka dan kedua telapak tangan, bagian luar dan dalam dari kedua ujung-ujung jari dan dari dua pergelangan tangan (ruas atau tempat pergelangan tangan) , berdasarkan firman Allah: Janganlah para wanita menampakan perhiasan mereka kecuali apa yang nampak dari padanya. Ibnu Abbas dan Aisyah ra. berkata: Yaitu muka dan kedua tapak tangan. Dan Nabi saw. Telah melarang wanita yang ihram untuk haji atau umroh untuk memakai dua sarung tangan dan kain tutup maka (cadar). Andaikata tapak tangan dan muka itu adalah aurat, niscaya tidak diharamkan menutup keduanya dalam ihram, dan karena hajat mengundang kepada penampakan muka untuk jual beli dan penampakan tpak tangan untuk mengambil dan memberi, maka hal itu tidak di jadikan aurat.

Madzhab Hambali: Aurat wanita beserta para muhrimnya laki-laki adalah selain badanya selain muka, tengkuk, dua tangan, kaki dan betis.

Semua badan wanita sampai muka dan kedua tapak tangan diluar salat adalah aurat, sebagaimana kata Asy Syafii berdasarkan sabda Nabi saw. yang telah lalu wanita adalah aurat.

Dan diperbolehkan membuka aurat karena keperluan seperti, berobat, berhajat di tempat yang sunyi, khitan, mengetahui masa baligh, perawan dan tidaknya wanita dan cacat.

Aurat wanita muslim dihadapan wanita kafir, menurut madzhab Hambali adalah seperti di hadapan laki-laki mahram, yaitu anggota badan yang ada diantara pusat dan lutut. Jumhur (sebagian besar ulama) berpendapat bahwa seluruh badan wanita itu adalah aurat, kecuali apa yang nampak pada waktu melakukan kesibukan-kesibukan rumah.

** ayat ke-59 dari surat al Ahzab

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَ‌ٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا ﴿٥٩﴾
(59) Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.

========
Sub : REALITA JILBAB vs KERUDUNG di INDONESIA

Oleh Admin : Umam Zein

Jilbab merupakan fenomena lokal Indonesia. Jadi semestinya di sini perlu telaah teks, konteks, dan kontekstualisasi.

Ranah teks ditunjukkan oleh QS. An-Nur: 31 untuk kerudung
"... Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya ..." (An-nur : 31)

Dan QS. Al-Ahzab: 59 untuk jilbab
"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka" (Al-ahzab : 59)

Konteksnya alias pengejawantahan teks bisa dipahamami dari penjelasan Lisanul 'Arab. Tertulis di kitab itu jilbab adalah sesuatu yg menutupi tubuh dari arah atas seperti halnya mantel. Ada juga yg menyebut jilbab sama dg kerudung.

Menurut Ibnu Mas'ud, 'Ubaidah, Hasan Bashri, dll jilbab adalah selendang yg dikenakan di atas kerudung.
Simpelnya, konteks jilbab diistilahkan berbeda-beda oleh orang Arab tempo dulu. Lalu bagaimana jika dihadapkan pd era kekinian? Nah, inilah tahap kontekstualisasi.

Jika anda mendalami bahasa Arab maka andanya tentunya mengerti telah terjadi penyempitan makna jilbab di masa sekarang. Jilbab sekarang ini terbatas pd pakaian terusan yg menutupi seluruh tubuh. Dikenal juga dg baju kurung di Indonesia, chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Libya, abaya di Irak, charsaf di Turki, serta hijab di beberapa negara Arab-Afrika seperti Sudan, Yaman, dan Mesir.
Sedangkan jilbab dalam artian penutup kepala hanya dikenal di Indonesia. Penutup kepala disebut khimar di negara-negara Arab, tudung di Malaysia, dan kerudung di Indonesia. Namun sejak awal 80'an masyarakat kita lebih populer menyebutnya jilbab.

Wanita yang Berpakaian Tapi Telanjang, Sadarlah!


Saat ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Sekarang para wanita sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang dibuka atau telapak kaki, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi. Namun, sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai celana atau rok setinggi betis. Ya Allah, kepada Engkaulah kami mengadu, melihat kondisi zaman yang semakin rusak ini. Kami tidak tahu beberapa tahun mendatang, mungkin kondisinya akan semakin parah dan lebih parah dari saat ini. Mungkin beberapa tahun lagi, berpakaian ala barat yang transparan dan sangat memamerkan aurat akan menjadi budaya kaum muslimin. Semoga Allah melindungi keluarga kita dan generasi kaum muslimin dari musibah ini.

Tanda Benarnya Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Hadits ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam ini. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275). Wahai Rabbku. Dan zaman ini lebih nyata lagi terjadi dan kerusakannya lebih parah.

Saudariku, pahamilah makna ‘kasiyatun ‘ariyatun

An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.

Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.

Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.

Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)
Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut.
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)
Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun, “Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)
Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna.

Pertama: wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang.

Kedua: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang.

Ketiga: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. (Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, 1/1031)

Kesimpulannya adalah kasiyatun ‘ariyat dapat kita maknakan: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup.

Tidakkah Engkau Takut dengan Ancaman Ini

Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memakaian pakaian tetapi sebenarnya telanjang, dikatakan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”
Perhatikanlah saudariku, ancaman ini bukanlah ancaman biasa. Perkara ini bukan perkara sepele. Dosanya bukan hanya dosa kecil. Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Wanita seperti ini dikatakan tidak akan masuk surga dan bau surga saja tidak akan dicium. Tidakkah kita takut dengan ancaman seperti ini?
An Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘wanita tersebut tidak akan masuk surga’. Inti dari penjelasan beliau rahimahullah:
Jika wanita tersebut menghalalkan perbuatan ini yang sebenarnya haram dan dia pun sudah mengetahui keharaman hal ini, namun masih menganggap halal untuk membuka anggota tubuhnya yang wajib ditutup (atau menghalalkan memakai pakaian yang tipis), maka wanita seperti ini kafir, kekal dalam neraka dan dia tidak akan masuk surga selamanya.
Dapat kita maknakan juga bahwa wanita seperti ini tidak akan masuk surga untuk pertama kalinya. Jika memang dia ahlu tauhid, dia nantinya juga akan masuk surga. Wallahu Ta’ala a’lam. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)
Jika ancaman ini telah jelas, lalu kenapa sebagian wanita masih membuka auratnya di khalayak ramai dengan memakai rok hanya setinggi betis? Kenapa mereka begitu senangnya memamerkan paha di depan orang lain? Kenapa mereka masih senang memperlihatkan rambut yang wajib ditutupi? Kenapa mereka masih menampakkan telapak kaki yang juga harus ditutupi? Kenapa pula masih memperlihatkan leher?!

Sadarlah, wahai saudariku! Bangkitlah dari kemalasanmu! Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Mulailah dari sekarang untuk merubah diri menjadi yang lebih baik ….
Baca artikel selanjutnya “Syarat-syarat Pakaian Muslimah yang Sempurna

***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com

Wanita-wanita yang Berpakaian tapi Telanjang

بسم الله الرحمن الرحيم
Berpakaian tapi Telanjang
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَ
“Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat, satu kaum yang selalu bersama cambuk bagaikan ekor-ekor sapi, dengannya mereka memukul manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang. Mereka berjalan dengan melenggak-lenggok menimbulkan fitnah (godaan). Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak masuk ke dalam surga. Dan mereka tidak mencium baunya. Dan sungguh bau surga itu bisa tercium dari jarak demikian dan demikian”. [HR. Muslim dari Sahabat yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
Ringkasan Penjelasan Makna “Wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang”:
1) Hanya menutupi sebagian tubuhnya dan menyingkap yang lainnya agar terlihat kecantikannya, kemolekannya, dan yang semisalnya
2) Mengenakan pakaian yang tipis, tembus pandang
3) Mengajarkan perbutan mereka kepada orang lain
4) Tampil modis di depan umum, bergaya dalam berjalan
5) Mengikuti mode rambut wanita-wanita nakal
6) Kepala-kepala mereka menonjol dengan hiasan-hiasan seperti punuk unta
7) Berpakaian nikmat Allah, tapi telanjang dari kesyukuran
[Syarh Shahih Muslim lin Nawawi rahimahullah, 14/110]
8) Menyambung rambut dengan rambut palsu [Fathul Bari, 10/375]
9) Berpakaian di dunia, telanjang di akhirat [Syarhul Bukhari libni Batthol rahimahullah, 3/117]
10) Pakaian ketat [Syarhul Muntaqo lil Baaji rahimahullah, 4/308]
11) Berpaling dari kebenaran dan durhaka kepada suami [Al-Istidzkar libni Abdil Barr rahimahullah, 9/283]
12) Menggoda kaum lelaki dan tidak menundukkan pandangan [Syarhus Sunnah lil Baghawi rahimahullah, 10/272]
13) Menutup bagian atas, bawah terbuka [Gharibul Hadits libnil Jauzi rahimahullah, 2/290]
14) Tertawa dengan keras hingga terdengar oleh kaum pria bahkan tertawa bersama kaum pria [Syarhu Riyadhis Shalihin libnil ‘Utsaimin rahimahullah]
15) Fitnah (cobaan) berpakaian tapi telanjang lebih dahsyat dibanding benar-benar telanjang, sebab nafsu akan menuntut untuk melihat lebih dari itu [Syarhut Tirmidzi lisy Syinqithi rahimahullah]
Terkait: https://nasihatonline.wordpress.com/2013/09/12/miss-world-wanita-tua-atau-muda/

Bisa diketahui dari uraian di atas bhw jilbab sebagai penutup kepala merupakan istilah mu'arrab (yg diarab-arabkan). Mirip dg ambiguitas istilah 'syekh' di Indonesia.

Lalu apakah jilbab sama dg kerudung? Kalau di Indonesia ya sama.

Batas Aurat Laki-laki

Aurat adalah setiap bagian dari tubuh yang wajib ditutup dan haram hukumnya untuk dinampakkan atau diperlihatkan kepada orang lain, baik di dalam maupun di luar shalat.
Jumhur fuqaha’ telah bersepakat bahwa aurat bagi kaum laki-laki adalah antara pusar sampai dengan lutut. Namun mereka berselisih apakah pusar dan lutut itu sendiri termasuk aurat ataukah tidak? Meski demikian mereka tidak berselisih bahwa paha adalah aurat. (1)
Imam Nawawi rahimahullah di dalam penjelasan Shahih Muslim sebagai berikut: “Sesungguhnya paha termasuk bagian dari aurat. Banyak hadits masyhur yang menjelaskan bahwa paha adalah termasuk aurat. Hal itu seperti hadits Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa jika terbukanya paha tanpa unsur kesengajaan serta dalam kondisi darurat masih dapat dimaafkan. Tetapi bila masih ada sarana yang memungkinkan untuk menutupnya, maka hukumnya wajib untuk menutupnya.”
Sayangnya perkara ini telah banyak dilupakan kaum pria. Mereka dengan santainya beraktifitas di luar rumah hanya bercelana pendek dan menampakkan paha-paha mereka.
Seorang lelaki yang baligh diperintahkan baginya menutup aurat sebagaimana hal ini telah jelas wajibnya bagi kaum wanita. Dari sini bisa dipetik faedah, bahwa adanya perintah tentu berkonsekuensi timbulnya larangan. Maka, kita diperintahkan untuk menutup aurat dan dilarang untuk menampakkan ataupun melihat aurat orang lain.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat laki-laki yang lain dan seorang wanita tidak boleh melihat aurat wanita lain.” (HR. Muslim no. 338)
Hal ini dikarenakan memandang aurat orang lain bisa menimbulkan fitnah yang keji, sehingga Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An-Nuur: 30)
Demikian pula Allah Azza wa Jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya yang wanita:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.” (An-Nuur: 31)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini: “Ini adalah hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya orang-orang mukmin untuk menundukkan pandangan mereka terhadap apa-apa yang dilarang memandangnya. Kecuali memandang apa yang diperbolehkan memandangnya, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka terhadap apa yang diharamkan. Tetapi bila tidak sengaja memandang, hendaklah segera memalingkan pandangan darinya. Allah juga menyuruh untuk menjaga kemaluan sebagaimana Dia menyuruh menjaga pandangan yang membangkitkan nafsu syahwat, karena keduanya akan mengarah kepada kerusakan hati dan akhlak. Menjaga pandangan mata dan kemaluan akan mencegah dan menjauhkan orang mukmin dari zina yang keji.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Dalam permasalahan ini (aurat laki-laki), Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Paha termasuk bagian dari aurat.” (HR. Bukhari)
Dari Muhammad bin Abdullah bin Jahsy radhiyallahu ‘anhu bahwasanya di halaman masjid, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lewat di depan Ma’mar dan terbukalah ujung paha Ma’mar. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tutuplah pahamu wahai Ma’mar, karena sesungguhnya paha itu adalah termasuk aurat.” (HR. Ahmad)
Bahkan didapati pula larangan melihat aurat orang yang sudah mati. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Janganlah kau buka pahamu, dan janganlah kau melihatnya baik orang yang sudah mati ataupun yang masih hidup.” (HR. Abu Daud)
Namun diperbolehkan bagi laki-laki memperlihatkan auratnya kepada isteri dan budak perempuan yang dimilikinya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (Al-Mu’minun: 5-6)
Demikianlah, sehingga tak pantas bagi seorang mukmin yang telah mengetahui agamanya ia melalaikan perkara ini. Selayaknya ia menutup pahanya karena ini adalah perintah agama.
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Diringkas dari Adab Berpakaian Pemuda Islam karya Ahmad Hasan Karzun, penerbit Darul Falah hal. 56-66)
_______________
(1) FAIDAH:
Silakan lihat pembahasan “Apakah Paha Termasuk Aurat?” oleh dua imam:
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah

LAKI-LAKI DAYYUTS DAN WANITA BERPAKAIAN TETAPI TELANJANG

Diposting oleh INDRI HARTOYO pada 21:13, 30-Mei-15 • Di: Keluarga

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum-Warahmatullaahi Wabarakaatuhu

pena6.jpg Ajaran Islam mengharamkan para lelaki menjadi "dayyuts". Makna dayyuts yaitu lelaki yang tidak mempunyai rasa cemburu terhadap keluarganya.
Mungkin dengan beberapa contoh akan terlihat jelas maksud dari sifat dayyuts ini, dan berikut ini adalah hanya sebagian contoh, masih banyak contoh yang lain:
1. Suami tidak memperhatikan laki-laki yang masuk ke dalam rumahnya yang di dalamnya ada istrinya dan keluarga perempuannya.
Lihat Kitab At Taisir bi Syarhi Al Jami' Ash Shaghir, karya Al Munawi, 1/972, dan Kitab Umdat Al Qari, karya Badruddin Al 'Aini Al Hanafi.
2. Suami tidak menjaga istrinya atau keluarga perempuannya dengan tidak melarang lelaki yang bukan mahram untuk tidak memasuki tempat istrinya atau melihat kepada istrinya.
Lihat Kitab Tufat Al Ahwadzi bi Syarh Jami' At Tirmidzi, karya Muhammad Al Mubarakfury, 9/357.
3. Suami membiarkan istri atau keluarga perempuannya berbuat fahisyah (segala macam syahwat yang diharamkan atas seorang wanita kepada lelaki atau sebaliknya/zina) atau membiarkan istri mengerjakan sarana yang memasukkannya ke dalam perbuatan zina.
Lihat Kitab Syarah Riyadh Ash Shalihin, karya Ibnu Utsaimin, 1/1932.
4. Suami membiarkan istri atau keluarga perempuannya keluar rumah dengan dandanan yang tidak boleh diperlihatkan kecuali kepada suami atau mahram.
5. Suami membiarkan istri memakai minyak wangi ketika keluar rumah.
6. Suami membiarkan istri atau keluarga perempuannya berduaan dengan lelaki yang bukan mahram istri atau keluarga perempuannya = khalwat.
7. Suami membiarkan istri atau keluarga perempuannya berkumpul dengan para lelaki tanpa ada pembatas diantara mereka (ikhtilath).
Dan masih banyak lagi contoh yang lain.
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Tiga orang yang benar-benar telah Allah Tabaraka wa Ta'ala haramkan atas mereka surga;
- Pecandu khamr (hal yang memabukkan),
- orang yang durhaka (kepada orangtuanya),
- laki-laki dayyuts yang menyetujui al khabats (perbuatan kefasikan, dosa atau zina) di tengah keluarganya". HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Al Jami', no. 3052.

Ajaran Islam mengahramkan para wanita menjadi wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Dua golongan dari penghuni neraka yang belum aku temui;
- suatu kaum yang selalu membawa cemeti bagaikan ekor-ekor sapi, dengannya dia memukuli manusia,
- dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, cenderung tidak taat, berjalan melenggak-lenggok, rambut mereka seperti punuk onta,
mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga padahal bau surga tercium dari jarak sekian". (HR. Muslim).
Beberapa penjelasan dari hadits ini dan khususnya dengan judul di atas:
Makna "berpakaian tapi telanjang"
- Wanita yang diberi nikmat tapi tidak bersyukur kepada Allah Ta'ala.
- Wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan membiarkan sebagian yang lain.
- Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga memperlihatkan warna kulit dan apa yang ada di belakang pakaian tersebut.
- Wanita yang memperhatikan dunia (termasuk pakaian, mode dsb) tetapi tidak memperhatikan ibadah dan kehidupan akhirat.
Lihat penjelasan ini di dalam kitab Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, karya An Nawawi.
Barakallaahu fiykum
Islam For Beginner

4 Golongan Ini Tak Akan Cium Bau Surga

Selasa 28 Syaaban 1436 / 16 Juni 2015 09:20


Karya-Fotografi-Model-alam-pemandangan-siluet
ADA empat golongan manusia. Mereka tak akan dapat bau surga. Padahal bau surga itu dapat dirasa sejarak lima ratus tahun perjalanan lamanya. Merekalah orang yang pelihara kekikiran.oang yang suka menyebut-nyebut pemberian. Peminum minuman memabukkan. Anak pada orang tua ia durhaka.
Jika seseorang memakai parfum, kita akan mencium bau wanginya bila berada di dekatnya. Apabila agak jauh darinya, bau harum itu tidak akan tercium. Bila kita ingin menikmati bau harumnya maka kita harus dekat-dekat dengan dirinya. Itu sudah sesuatu yang wajar.
Surga adalah bagaikan seorang wanita yang memakai parfum dengan bau yang sangat harum. Keharuman surga tercium hingga jarak yang sangat jauh. Kita tidak dapat membayangkan berapa jauhnya jika disebutkan lima ratus tahun perjalanan. Kalau manusia tidak mampu mencium harumnya surga, seberapa jauh dari surga sebenarnya dia berada.
Mengapa ada manusia yang demikian jauhnya dari surga? Surga, seperti juga wanita cantik berbau harum tersebut, tidak mau dekat-dekat dengan mereka yang tidak disukainnya. Misalnya, wanita tersebut tidak suka perokok. Maka ia akan berada jauh dari si perokok tersebut. Surga akan menjauh dari orang yang dibencinya. Atau orang yang dibencinya akan dijauhkan Allah dari surga. Siapa saja sebenarnya manusia yang dibenci surga sehingga mereka harus jauh-jauh dari surga yang untuk mencium baunya saja harus berjalan selama lima ratus tahun?
Merekalah orang yang selalu kikir. Tidak punya sifat kedermawanan sama sekali. Kekikirannya dipelihaa malah dari waktu ke waktu ditingkatkan. Juga orang yang tidak ikhlas dalam melakukan pemberian. Ketidakikhlasannya diwujudkan dengan selalu menyebut dan mengungkit-ngungkit pemberian yang relah dia lakukan baik kepada orang lain maupun orang yang diberinya.
Kemudian orang yang hobi minum. Sudah jelas mulut mereka bau, otak mereka kacau dan bicaranya ngelantur. Jangankan surga, wanita di dunia saja akan takut dan menjauh terhadap pemabuk seperti itu.
Terakhir adalah anak yang durhaka kepada orang tuanya. Anak seperti ini memang keterlaluan dan sudah selayaknya dijauhkan dari surga. Anak yang tak tahu balas budi, sudah susah payah dihidupi dan dibesarkan malah mendurhakai. Allah akan marah karena keridhaan-Nya adalah keridhaan orang tuanya. Anak yang durhaka tidak akan mendapat keridhaan Allah. Artinya, tidak akan mendapatkan surga-Nya. []
Sumber: Hikmah dari Langit/Yusuf Mansur/Pena Pundi Aksara/Januari 2007