Rabu, 2 Disember 2015

BILA KERJA2 ISLAM DIBUAT UNTUK DAPAT HABUAN DUNIA

AKHIRNYA ILMU AGAMA DAN AKHERAT DIJUAL DEMI KEPENTINGAN DUNIA

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz
Bismillah. Berikut ini adalah untaian nasihat emas Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarok rahimahullah (seorang ulama as-salafus sholih dari generasi atba’/pengikut Tabi’in) kepada Ibnu ‘Ulayyah rahimahullah:
imagesيا جاعل العلم له بازيا *
يصطاد أموال المساكين احتلت للدنيا ولذاتها *
بحيلة تذهب بالدين فصرت مجنونا بها بعدما *
كنت دواء للمجانين أين رواياتك فيما مضى *
عن ابن عون وابن سيرين ودرسك العلم بآثاره *
في ترك أبواب السلاطين تقول: أكرهت، فماذا كذا *
زل حمار العلم في الطين لا تبع الدين بالدنيا كما *
يفعل ضلال الرهابين
» “Wahai orang yang menjadikan ilmu sebagai barang dagangan untuk menjaring harta orang-orang miskin, diambil demi dunia dan kesenangannya.
» Dengan tipu daya engkau menghilangkan agama,
» lalu engkau menjadi orang yang gila setelah dulunya engkau adalah obat bagi orang-orang gila.
» Di manakah riwayat-riwayatmu yang lampau dari Ibnu ‘Aun dan Ibnu Sirin.
» Dan manakah ilmu yang kamu pelajari dengan atsar-atsarnya (riwayat-riwayat) yang berisi anjuran untuk meninggalkan pintu-pintu penguasa? Kamu berkata: “Aku terpaksa.” Lalu apa?
» Demikianlah keledai ilmu tergelincir di tanah liat yang basah.
» Janganlah kamu jual agama dengan dunia sebagaimana perbuatan para rahib yang sesat.”
(Lihat Siyaru A’lamin Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi IX/110).
Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yg dpt kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Dan semoga Allah memberikan taufik kpd kita utk istiqomah dlm mempelajari dan mengamalkan ajaran agama-Nya, serta mendakwahkannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam tanpa menjual ilmu syar’i (agama) dan merendahkan diri di hadapan penguasa dan orang-orang kaya. Amiin. (Klaten, 2 Desember 2014).
# Grup Majlis Hadits, chat room Faedah dan Mau’izhoh Hasanah. BB: 7FA61515  WA: 082225243444


Monday, 23 May 2011


"Mengejar AKhirat Dengan Dunia" Dan "Beramal Akhirat Untuk Mengejar Dunia"

"Mengejar AKhirat Dengan Dunia" Dan "Beramal Akhirat Untuk Mengejar Dunia"


إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُ باِللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيْئَاِتِ أَعْمَالِلنَا , مَنْ يَهْدِهِ اللهِ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ . وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْـدُ
إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

 Segala puji bagi ALLAH, kami memuji-NYA dan kami memohon pertolongan-NYA dan kami memohon keampunan-NYA, dan kami berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri kami dan dari keburukan perbuatan kami. Sesiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tiadalah kesesatan baginya dan sesiapa yang disesatkan oleh ALLAH maka tiadalah petunjuk baginya. Kami bersaksi bahawa tiada Tuhan Yang Berhak Di Ibadahi kecuali ALLAH yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-NYA dan kami bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba-NYA dan Rasul-NYA

"Sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah (Al-Quran), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru/diada-adakan (muhdats), dan setiap perkara yang baru/diada-adakan (muhdats) adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesasatan tempatnya neraka."

Di antara "Mengejar AKhirat Dengan Dunia" Dan "Beramal Akhirat Untuk Mengejar Dunia"

Gulungan yang "Beramal Akhirat Untuk Mengejar Dunia" adalah seperti yang di jelaskan oleh Allah Azzawajalla dalam Firmannya.

Firman Allah Subhanahuwata'ala
,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ...16

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11] : 15-16)

Firmannya lagi :

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۖ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ

"Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong." Al Baqarah : 86


Gulungan yang "Mengejar AKhirat Dengan Dunia" adalah seperti yang di jelaskan oleh Allah Azzawajalla dalam Firmannya.

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?
Al An'am : 32

Firmannya lagi :

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا

Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.
An Nisaa : 77

Firman Allah Ta'ala lagi

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ

Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah keadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” [Al-Qashash : 77]

Ini lah kenyataan  yang sering kita lihat pada umat Islam saat ini. Mereka memang gemar melakukan perkara-perkara Ibadah ,contonya puasa sunnah (iaitu puasa Isnin-Khamis dan lainnya), namun semata-mata hanya untuk menyehatkan badan sebagaimana di nasehat dari beberapa kalangan. Ada juga yang gemar sekali bersedekah, namun dengan tujuan untuk memperlihatkan oleh manusia untuk kepentingan projek atau urusan perniagaan

Begitu pula ada yang rajin bangun di tengah malam untuk bertahajud, namun tujuannya hanyalah ingin menguatkan badan. Semua yang dilakukan memang suatu amalan yang baik tapi niatnya hanya sekadar kepentaingan diri sendiri

Firman Allah Subhanahuwata'ala
,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ...16

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11] : 15-16)


Yang dimaksud dengan “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia”  iaitu barangsiapa yang menginginkan kenikmatan dunia dengan melakukan amalan akhirat.
Yang dimaksud “perhiasan dunia” adalah harta dan anak.

Mereka yang beramal seperti ini: “niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”.

Maksudnya adalah mereka akan diberikan dunia yang mereka inginkan. Ini semua diberikan bukan kerana mereka telah berbuat baik, namun semata-mata akan membuat terlena dan terjerumus dalam kebinasaan kerana rusaknya amalan mereka. Dan juga mereka tidak akan pernah "yubkhosuun", iaitu dunia yang diberikan kepada mereka tidak akan dikurangi.

Ini bererti mereka akan diberikan dunia yang mereka cari se Nikmat nya (sempurna).
Dunia, mungkin saja mereka peroleh. Dengan banyak melakukan amalan soleh, boleh jadi seseorang akan bertambah sehat, rezeki semakin mewah dan pekerjaan terus meningkat. Dan itu selayaknya yang mereka peroleh dan Allah ta'ala pun tidak akan mengurangi hal tersebut sesuai yang Dia tetapkan.

Apakah Balasan Nikmat  yang mereka peroleh di akhirat?


Lihatlah firman Allah selanjutnya (yang ertinya), 

“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka”. Inilah akibat orang yang hanya beribadah untuk mendapat tujuan dunia saja.

Sememangnya di dunia akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Adapun di akhirat, mereka tidak akan memperoleh pahala kerana mereka dalam beramal tidak menginginkan akhirat. Ingatlah, balasan akhirat hanya akan diperoleh oleh orang yang mengharapkannya. Allah Ta’ala berfirman,


وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Israa’: 19)


Orang-orang seperti ini juga dikatakan: “lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”.
Ini semua dikarenakan mereka dahulu di dunia beramal tidak ikhlas untuk mengharapkan wajah Allah sehingga ketika di akhirat, sia-sialah amalan mereka. (Lihat penjelasan ayat ini di I’aanatul Mustafid, 2/92-93)

Sungguh betapa banyak orang yang melaksanakan solat malam, puasa sunnah dan banyak sedekah, namun itu semua dilakukan hanya bertujuan untuk memperoleh kekayaan dunia, memewahkan riezeki, umur panjang, dan lain sebagainya.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu- menafsirkan surat Hud ayat 15-16. Beliau radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

“Sesungguhnya orang yang riya’, mereka hanya ingin memperoleh balasan kebaikan yang telah mereka lakukan, namun mereka minta segera dibalas di dunia.”

Ibnu ‘Abbas juga mengatakan,

“Barangsiapa yang melakukan amalan puasa, solat atau solat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan bahaginnya didunia yang dia cari-cari. Namun amalannya akan sia-sia (lenyap) di akhirat nanti kerana mereka hanya ingin mencari dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.”


Perkataan yang sama dengan Ibnu ‘Abbas ini juga dikatakan oleh Mujahid, Adh Dhohak dan selainnya.
Qotadah mengatakan,

“Barangsiapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan solehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di akhirat, dia tidak akan memperoleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang mukmin yang ikhlas dalam beribadah (yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di dunia juga dia akan mendapatkan balasan di akhirat.”

(Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, tafsir surat Hud ayat 15-16)

Hanya Beramal Untuk Mendapat Dunia, Tidak Akan Dapat Satu Bahagian pun Di Akhirat

Kenapa seseorang beribadah dan beramal hanya ingin mendapat dunia? Jika seseorang beramal untuk mencari dunia, maka  sememangnya ia  akan diberi.

Jika solat tahajud, puasa Isnin-khamis yang dia lakukan hanya ingin meraih dunia, maka dunia memang akan dia peroleh dan tidak akan dikurangi. Namun apa akibatnya di akhirat? Sungguh di akhirat dia akan sangat merugi. Dia tidak akan memperoleh balasan di akhirat disebabkan amalannya yang hanya ingin mencari-cari dunia.

Namun bagaimana dengan orang yang beramal dengan ikhlash, hanya ingin mengharap wajah Allah? Di akhirat dia akan memperoleh pahala yang berlipat ganda.
Allah Ta’ala berfirman,


مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu bahaginnya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebahagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” ( Asy Syuraa: 20)

Ibnu Katsir rahimahullah- menafsirkan ayat di atas,

“Barangsiapa yang mencari keuntungan di akhirat, maka Kami akan menambahkan keuntungan itu baginya, iaitu Kami akan kuatkan, beri nikmat padanya kerana tujuan akhirat yang dia harapkan.

Kami pun akan menambahkan nikmat padanya dengan Kami balas setiap kebaikan dengan sepuluh kebaikan hingga 700 kali ganda hingga  begitu banyak sesuai dengan kehendak Allah. … Namun jika yang ingin dicapai adalah dunia dan dia tidak punya keinginan menperolehi akhirat sama sekali, maka balasan akhirat tidak akan Allah beri dan dunia pun akan diberi sesuai dengan yang Allah kehendaki.

Dan jika Allah kehendaki, dunia dan akhirat sekaligus tidak akan dia peroleh. Orang seperti ini hanya merasa senang dengan keinginannya saja, namun barangkali akhirat dan dunia akan lenyap seluruhnya dari dirinya.”

Ats Tsauri berkata, dari Mughiroh, dari Abul ‘Aliyah, dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,


بشر هذه الأمة بالسناء والرفعة والدين والتمكين في الأرض فمن عمل منهم عمل الآخرة للدنيا لم يكن له في الآخرة من نصيب

“Umat ini diberi khabar gembira dengan kemuliaan, kedudukan, agama dan kekuatan di muka bumi. Barangsiapa dari umat ini yang melakukan amalan akhirat untuk meraih dunia, maka di akhirat dia tidak mendapatkan satu bahagian pun.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dalam kitab Sahihnya, Al Hakim dan Al Baihaqi. Al Hakim mengatakan sanadnya sahih. Syeikh Al Albani mensahihkan hadith ini dalam Sahih At Targhib wa At Tarhib)

Terdapat pula riwayat dalam Al Baihaqi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بشر هذه الأمة بالتيسير والسناء والرفعة بالدين والتمكين في البلاد والنصر فمن عمل منهم بعمل الآخرة للدنيا فليس له في الآخرة من نصيب

“Umat ini diberi khabar gembira dengan kemudahan, kedudukan dan kemulian dengan agama dan kekuatan di muka bumi, juga akan diberi pertolongan. Barangsiapa yang melakukan amalan akhirat untuk mencari dunia, maka dia tidak akan memperoleh satu bahagian pun di akhirat. ”


Tanda Seseorang Beramal Untuk Tujuan Dunia


Al Bukhari membawakan hadith dalam Bab “Siapa yang menjaga diri dari fitnah harta”. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ ، وَالدِّرْهَمِ ، وَالْقَطِيفَةِ ، وَالْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ

“Celakalah hamba dinar, dirham, qothifah dan khamishah. Jika diberi, dia pun redha. Namun jika tidak diberi, dia tidak redha, dia akan celaka dan akan kembali binasa.” (HR. Bukhari).


Qothifah adalah sejenis pakaian yang memiliki beludru. Sedangkan khamishah adalah pakaian yang berwarna hitam dan memiliki bintik-bintik merah. (I’aanatul Mustafid, 2/93)
Kenapa dinamakan hamba dinar, dirham dan pakaian yang mewah? kerana mereka yang disebutkan dalam hadith tersebut beramal untuk meperolehi harta-harta tadi, bukan untuk mengharap wajah Allah. Demikianlah sehingga mereka disebut hamba dinar, dirham dan seterusnya. Adapun orang yang beramal kerana ingin mengharap wajah Allah semata, mereka itulah yang disebut hamba Allah (sejati).

Di antara tanda bahawa mereka beramal untuk memperolehi harta-harta tadi atau ingin mendapatkan dunia disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya:  

“Jika diberi, dia pun redha. Namun jika tidak diberi, dia pun tidak redha (murka), dia akan celaka dan kembali binasa”.

Hal ini juga yang dikatakan kepada orang-orang munafik sebagaimana dalam firman Allah,

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembahagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (At Taubah: 58)

Itulah tanda seseorang dalam beramal hanya ingin memperoleh habuan dunia. Jika dia diberi kenikmatan dunia, dia redha. Namun, jika kenikmatan dunia tersebut tidak kunjung datang, dia akan murka dan marah. Dalam hatinya seraya berujar, “Sudah sebulan saya merutinkan solat malam, namun rezeki dan usaha belum juga lancar.” Inilah tanda orang yang selalu berharap dunia dengan amalan solehnya.

Adapun seorang mukmin, jika diberi nikmat, dia akan bersyukur. Sebaliknya, jika tidak diberi, dia pun akan selalu sabar. kerana orang mukmin, dia akan beramal bukan untuk mencapai tujuan dunia. Sebahagian mereka bahkan tidak menginginkan mendapatkan dunia sama sekali. Diceritakan bahwa sebagian sahabat tidak redha jika mendapatkan dunia sedikit pun. Mereka pun tidak mencari-cari dunia kerana yang selalu mereka harapkan adalah negeri akhirat. Semua ini mereka lakukan untuk senantiasa komitmen dan istiqhomah dalam amalan mereka, agar selalu timbul rasa harap pada kehidupan akhirat. Mereka sama sekali tidak menyukai untuk disegerakan balasan terhadap kebaikan yang mereka lakukan di dunia.
Akan tetapi, barangsiapa diberi dunia tanpa ada rasa keinginan sebelumnya dan tanpa ada rasa tamak terhadap dunia, maka dia boleh mengambilnya. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadith dari ‘Umar bin Khattab,

قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُعْطِينِى الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. حَتَّى أَعْطَانِى مَرَّةً مَالاً فَقُلْتُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « خُذْهُ وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ فَخُذْهُ وَمَا لاَ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ ».

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan suatu pemberian padaku.” Umar lantas mengatakan, “Berikan saja pemberian tersebut pada orang yang lebih memerlukan (lebih miskin) dariku. Sampai beberapa kali, beliau tetap memberikan harta tersebut padaku.” Umar pun tetap mengatakan, “Berikan saja pada orang yang lebih memerlukan (lebih miskin) dariku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Ambillah harta tersebut dan harta yang semisal dengan ini di mana engkau tidak merasa mulia dengannya dan sebelumnya engkau pun tidak meminta-mintanya. Ambillah harta tersebut. Selain harta semacam itu (yang di mana engkau punya keinginan sebelumnya padanya), maka biarkanlah dan janganlah hatimu bergantung padanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekali lagi, begitulah orang beriman. Jika dia diberi nikmat atau pun tidak, amalan solehnya tidak akan pernah berkurang. kerana orang mukmin sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Adapun orang yang selalu mengharap dunia dengan amalan solehnya, dia akan bersikap berbeza. Jika dia diberi nikmat, baru dia redha. Namun, jika dia tidak diberi, dia akan murka dan marah. Dia redha kerana mendapat kenikmatan dunia. Sebaliknya, dia murka kerana kenikmatan dunia yang tidak kunjung menghampirinya padahal dia sudah gemar melakukan amalan soleh. Itulah sebabnya orang-orang seperti ini disebut hamba dunia, hamba dinar, hamba dirham dan hamba pakaian.

Beragamnya Niat dan Amalan Untuk Memperoleh Dunia

Niat seseorang ketika beramal ada beberapa Tujuan:

[Pertama] Jika niatnya adalah murni untuk mendapatkan dunia ketika dia beramal dan sama sekali tidak punya keinginan mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat, maka orang semacam ini di akhirat tidak akan mendapatkan satu bahagian nikmat pun. Perlu diketahui pula bahwa amalan semacam ini tidaklah muncul dari seorang mukmin. Orang mukmin walaupun lemah imannya, dia pasti selalu mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat.

[Kedua] Jika niat seseorang adalah untuk mengharap wajah Allah dan untuk mendapatkan dunia sekaligus, entah niatnya untuk kedua-duanya sama atau mendekati, maka semacam ini akan mengurangi tauhid dan keikhlasannya. Amalannya dinilai memiliki kekurangan kerana keikhlasannya tidak sempurna.

[Ketiga] Adapun jika seseorang telah beramal dengan ikhlas, hanya ingin mengharap wajah Allah semata, akan tetapi di balik itu dia mendapatkan upah atau hasil yang dia ambil untuk membantunya dalam beramal (semacam mujahid yang berjihad lalu mendapatkan harta rampasan perang, para pengajar dan pekerja yang menyokong agama yang mendapatkan upah dari negara setiap bulannya), maka tidak mengapa mengambil upah tersebut. Hal ini juga tidak mengurangi keimanan dan ketauhidannya, kerana semula dia tidak beramal untuk mendapatkan dunia. Sejak awal dia sudah berniat untuk beramal soleh dan menyokong agama ini, sedangkan upah yang dia dapatkan adalah di balik itu semua yang nantinya akan menolong dia dalam beramal dan beragama. (Lihat Al Qoulus Sadiid, 132-133)

Adapun amalan yang seseorang lakukan untuk mendapatkan balasan dunia ada dua macam:

[Pertama] Amalan yang tidak disebutkan di dalamnya balasan dunia. Namun seseorang melakukan amalan tersebut untuk mengharapkan balasan dunia, maka semacam ini tidak diperbolehkan bahkan termasuk kesyirikan.
Misalnya: Seseorang melaksanakan shalat Tahajud. Dia berniat dalam hatinya bahwa pasti dengan melakukan shalat malam ini, anaknya yang akan lahir nanti adalah laki-laki. Ini tidak dibolehkan karena tidak ada satu dalil pun yang menyebutkan bahwa dengan melakukan shalat Tahajud akan mendapatkan anak laki-laki.

[Kedua] Amalan yang disebutkan di dalamnya balasan dunia. Contohnya adalah silaturrahim dan berbakti kepada kedua orang tua. Semisal silaturrahim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturrahim (hubungan antara kerabat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang melakukan amalan semacam ini, namun hanya ingin mengharapkan balasan dunia saja dan tidak mengharapkan balasan akhirat, maka orang yang melakukannya telah terjatuh dalam kesyirikan. Namun, jika dia melakukannya tetap mengharapkan balasan akhirat dan dunia sekaligus, juga dia melakukannya dengan ikhlash, maka ini tidak mengapa dan balasan dunia adalah sebagai tambahan nikmat untuknya karena syari’at telah menunjukkan adanya balasan dunia dalam amalan ini. (Lihat At Tamhid Li Syarh Kitabit Tauhid)

Perbedaan dan Kesamaan Beramal untuk Meraih Dunia dengan Riya’
Syaikh Muhammad At Tamimi –rahimahullah- membawakan pembahasan ini dalam Kitab Tauhid pada Bab“Termasuk kesyirikan, seseorang beribadah untuk mencari dunia”. Beliau –rahimahullah- membawakannya setelah membahas riya’. Kenapa demikian?

Riya’ dan beribadah untuk mencari dunia, keduanya sama-sama adalah amalan hati dan terlihat begitu samar karena tidak nampak di hadapan orang banyak. Namun, Keduanya termasuk amalan kepada selain Allah Ta’ala. Ini berarti keduanya termasuk kesyirikan yaitu syirik khofi (syirik yang samar). Keduanya memiliki peredaan. Riya’ adalah beramal agar dilihat oleh orang lain dan ingin tenar dengan amalannya. Sedangkan beramal untuk tujuan dunia adalah banyak melakukan amalan seperti shalat, puasa, sedekah dan amalan sholeh lainnya dengan tujuan untuk mendapatkan balasan segera di dunia semacam mendapat rizki yang lancar dan lainnya.

Tetapi perlu diketahui, para ulama mengatakan bahwa amalan seseorang untuk mencari dunia lebih nampak hasilnya daripada riya’. Alasannya, kalau seseorang melakukan amalan dengan riya’, maka jelas dia tidak mendapatkan apa-apa. Namun, untuk amalan yang kedua, dia akan peroleh kemanfaatan di dunia. Akan tetapi, keduanya tetap saja termasuk amalan yang membuat seseorang merugi di hadapan Allah Ta’ala. Keduanya sama-sama bernilai syirik dalam niat maupun tujuan. Jadi kedua amalan ini memiliki kesamaan dari satu sisi dan memiliki perbedaan dari sisi yang lain.

Ikhlaskan Amalan Mu Wahai Umat

Sebenarnya jika seseorang memurnikan amalannya hanya untuk mengharap wajah Allah dan ikhlas kepada-Nya niscaya dunia pun akan menghampirinya tanpa mesti dia cari-cari.
Namun, jika seseorang mencari-cari dunia dan dunia yang selalu menjadi tujuannya dalam beramal, memang benar dia akan mendapatkan dunia tetapi sekadar yang Allah takdirkan saja. Ingatlah ini … !!

Semoga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh menjadi renungan bagi kita semua,

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk memperolehi akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk memperolehi dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi Syeikh Al Albani mengatakan bahwa hadith ini sahih.
Lihat penjelasan hadith ini di Tuhfatul Ahwadzi,  Wahai Umat.marilah kita ikhlaskan selalu niat kita ketika kita beramal. Murnikanlah semua amalan hanya untuk memperoleh redha Allah. Janganlah niatkan setiap amalanmu hanya untuk meraih kenikmatan dunia semata. Ikhlaskanlah amalan tersebut pada Allah, niscaya dunia juga akan engkau raih. Yakinlah hal ini …!!

Semoga Allah selalu memperbaiki aqidah dan setiap amalan kita dan kaum muslimin. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita ke jalan yang lurus.

Wallahua'lam



JANGAN LELONGKAN AGAMA UNTUK KEUNTUNGAN PENIAGAAN
Prof Madya Dato’ Dr Mohd Asri Zainul Abidin
(sertai facebook DrMAZA.com dan twitter realDrMAZA)
Oleh kerana agama mempunyai fungsinya yang besar dalam masyarakat manusia, maka berbagai pihak cuba menggunakan nama agama atas berbagai tujuan. Ada yang ikhlas, ada pula yang mengambil kesempatan atas nama agama untuk mengaut harta atau pengaruh. Maka penyalahgunaan nama agama bukan perkara baru dalam sejarah manusia. Bukan sahaja Islam yang menerima bahana tersebut, agama-agama lain juga demikian. Namun bagi Islam, ia lebih lebih perit, kerana Islam agama wahyu. Seorang muslim yang sebenar tentu akan merasai penyalahgunaan nama Islam adalah satu dosa yang amat serius kerana ianya adalah pemalsuan wahyu. Dalam ertikata lain menyalahgunakan nama Allah dengan membuat dakwaan palsu kononnya Allah memerintah atau melarang itu dan ini, padahal tiada sebarang nas dari Allah ataupun rasulNya adalah satu jenayah besar.
Agama Rekaan
Firman Allah dalam Surah al-A’raf ayat 33

(maksudnya): Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan-perbuatan yang keji, sama ada yang nyata atau yang tersembunyi; dan perbuatan dosa; dan perbuatan menceroboh dengan tidak ada alasan yang benar; dan (diharamkan) kamu mempersekutukan sesuatu dengan Allah sedang Allah tidak menurunkan sebarang bukti (yang membenarkannya); dan (diharamkan) kamu memperkatakan terhadap Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya”.
Baginda s.a.w.: juga menegaskan hal yang sama dalam banyak hadis baginda, antara daripada ‘Aisyah r.ha, katanya: sabda Nabi S.A.W.:

“Sesiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini (Islam) apa yang bukan daripadanya maka ia tertolak”. (Riwayat Muslim).
Maka setiap insan muslim hendaklah berhati-hati tentang kesempatan yang diambil oleh banyak pihak untuk menjadikan agama saluran keuntungan atau menempatkan pemikiran peribadi yang akhirnya diberikan cop agama. Jika hal ini dibiarkan, maka ajaran-ajaran palsu akan muncul atas nama agama dan Islam yang tulen akan hilang dari sesetengah masyarakat.
Lelong Syurga
Justeru itu saya amat menentang seorang ‘warga seberang‘ yang menggelarkan diri al-Banjari dengan kononnya memiliki beberapa kelebihan mendakwa bahawa sesiapa yang berjabat tangan dengannya, seakan berjabat tangan dengan Rasulullah s.a.w. Lantas sesiapa berjabat tangan dengannya akan masuk syurga. Demikianlah murahnya harga syurga yang dilelong olehnya. Dakwaan palsu ini dibuat olehnya dengan menggunakan hadis palsu kononnya Nabi s.a.w.bersabda:

“Sesiapa yang berjabat tangan denganku, atau dengan orang yang berjabat tangan denganku maka dia masuk syurga”. Maka setiap mereka akan berjabat tangan dengan guru mereka dengan dakwaan kononnya tangan tersebut telah berjabat dengan tangan sebelumnya secara berangkaian sehingga kepada Nabi s.a.w.
Sebenarnya, para ulama hadis telah mengingatkan tentang pembohongan hadis berkenaan. Kata al-Syeikh `Abd al-Fattah Abu Ghuddah dalam komentarnya bagi kitab Zafar al-Amani:
“Hadith musalsal (berangkai) berjabat tangan tersebut adalah batil dan dusta. Tiada asalnya dan tidak pernah wujud”. Katanya juga: “Tiada keberkatan bagi pendustaan dan pembohongan hadis ini ke atas Nabi s.a.w. tidak dikira ibadat menulis cerita dongeng ini melainkan dengan niat untuk memusnahkannya”. (m.s. 272, 273, Damsyik: Maktab al-Matbu`at al-Islamiyyah).
Dalam Lisan al-Mizan Ibn Hajar al-Asqalani menyebut:
”Riwayat berjabat tangan Mu`ammar tidak akan diterima oleh orang yang berakal” (jilid 6, m.s. 68, Beirut: Muassasah al-`Ilm li al-Matbu`at,).
Ertinya begitu mudah orang kita ditipu dan tidak menggunakan akal yang waras dalam beragama. Al-Imam al-Sayuti (meninggal 911H) di dalam fatwanya bila ditanya mengenai hadis ini, beliau berkata:
“Mu`ammar adalah pendusta lagi dajal, hadithnya adalah batil, tidak halal meriwayatkannya”. (lihat: Tahqiq Zafar al-Amani, m.s.275).

Demikianlah mudahnya agama kita dilelong oleh orang lain hanya kerana terpengaruh dengan fesyen serban dan jubah warga berkenaan. Jikalaulah mereka sedikit berfikir; pada zaman Nabi s.a.w entah berapa ramai sahabah yang bersalaman dengan baginda, pernahkah mereka mendakwa demikian? Pernahkah mereka mengadakan majlis menjemput orang ramai bersalam dengan mereka untuk masuk syurga. Pernahkah ini dibuat oleh Abu Bakar, atau Umar, atau Uthman, atau Ali atau lain-lain? Saya dukacita apabila yang bangun bersalaman ialah orang-orang masjid dan ‘kaki dengar kuliah agama’. Sehingga saya tertanya-tanya; apakah segala pengajaran agama yang dipelajari gagal menjadikan mereka cerdik, atau sekurangnya menghidupkan fungsi akal mereka. Sedangkan agama datang untuk mencerdikkan akal bukan membodohkannya.
Barangan Khurafat
Demikian juga orang kita percaya adanya kayu atau rajah atau bahan tertentu mempunyai kesaktian tertentu. Ini seperti percaya dengan kayu kokka yang dijual di negara ini. Bahkan kayu tersebut dijual di Mekah dan Madinah oleh warga Bangladesh yang bertaburan di sana. Ramai pula yang membeli. Menggunakan nama agama lalu kayu itu dijual, kononnya tongkat Nabi Musa a.s dibuat daripadanya. Demikian juga kononnya bahtera Nabi Nuh a.s juga diperbuat daripadanya. Maka dibohongilah orang ramai kononnya kayu itu jika disimpan membawa rezeki, atau menolak bala dan berbagai kesaktian yang lain. Maka harga kayu tersebut yang beberapa ringgit di negaranya bertukar menjadi ratusan bahkan ribuan ringgit di negara kita. Padahal tidak satu dalil yang sahih pun dalam Islam mengenai kayu kokka tersebut. Mustahil pula untuk Islam membicarakan perkara yang bodoh seperti itu. Bahkan itu termasuk dalam sabda Nabi s.a.w.

“Sesiapa yang menggantung (tangkal) maka dia melakukan kesyirikan” (Riwayat al-Imam Ahmad, dinilai sahih oleh al-Albani).
Menggantung di sini bermaksud menggantung sesuatu yang dipercayai dapat menangkis bala atau mendatang sesuatu kebaikan. Perbuatan itu di samping ia syirik, ia adalah satu kebodohan dan penipuan syaitan. Apabila saya mengeluarkan kenyataan akhbar mengenai hal ini, ada yang hubungi saya dan minta tolong jangan ganggu bisnesnya. Begitu manusia, dia sanggup lelong agamanya demi bisnesnya.

Melebihi Nabi
Serupa dengan itu, atas nama agama dijual air dan barangan jampi yang pelik-pelik. Sehingga ada yang membuat bisnes air tertentu yang dijampi secara tulisan dan bacaan. Diberi pula nama yang berbagai-bagai. Kononnya itulah ajaran Islam. Saya tidak menafikan baginda Nabi s.a.w pernah menjampi penyakit seperti mana baginda juga berubat dengan bahan-bahan perubatan yang lain. Ini disebut dalam hadis-hadis yang sahih. Namun dakwaan bahawa dengan air atau kismis atau apa bahan-bahan jampi orang yang tidak pintar pun boleh dipintarkan, suami atau anak yang tidak baik perangainya boleh dipulihkan, ini sudah luar biasa lagi mengatasi Nabi s.a.w. sendiri. Baginda tidak menjampi kaum Quraish agar beriman, bahkan bapa saudaranya yang dekat dan dikasihi iaitu Abu Talib pun meninggal dalam keadaan kufur tanpa dijampinya. Kalau dengan menjampi manusia boleh berubah sikap, pasti Nabi s.a.w akan menjampi telaga zam-zam kerana itu sumber air Quraish ketika itu. Pasti Quraish akan berubah apabila terminum. Hal ini tidak berlaku dalam sirah baginda. Kalau benar ada orang boleh menjampi sehingga mengubah sikap manusia kepada baik, atau mencerdikkan manusia maka eloklah kita mengupahnya menjampi empangan-empangan air di negara ini agar semua rakyat menjadi baik dan cerdik. Ketahuilah sesungguhnya jalan untuk manusia mendapat hidayah adalah dakwah yang benar, keikhlasan hati penerimanya dan keizinan Allah s.w.t. Firman Allah dalam Surah al-Baqarah ayat 256-257

(maksudnya): “Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), kerana sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). oleh itu, sesiapa yang tidak percayakan taghut, dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpulan (tali ugama) yang teguh yang tidak akan putus. Dan (ingatlah), Allah Maha Mendengar, lagi Maha mengetahui. Allah Pelindung (yang mengawal dan menolong) orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang engkar, penolong-penolong mereka ialah taghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan-kegelapan. Mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya”.
Jampi Cerdik
Dalam hadis ada beberapa orang sahabah yang didoakan oleh Nabi s.a.w. agar diberikan ilmu dan kepandaian. Antaranya tokoh sahabah yang masih muda Ibn ‘Abbas r.a.huma yang baginda doakan untuknya :

Maksudnya: “Ya Allah! Ajarkanlah dia al-Kitab (al-Quran).(Riwayat al-Bukhari).
Ibn ‘Abbas benar-benar muncul sebagai tokoh ilmu pengetahuan, penafsir al-Quran dan sahabi yang alim yang menjadi rujukan umat. Namun Ibn ‘Abbas bukanlah seorang yang hanya menunggu hasilnya doa baginda datang bergolek seperti mana sesetengah pihak menunggu kesan bahan jampi. Sebaliknya sejarah mencatatkan kesungguhan beliau dalam berusaha memperolehi ilmu. Selain daripada berkesempatan mengambil ilmu secara langsung daripada baginda s.a.w selama tiga puluh bulan. Kemudian baginda wafat ketika umur Ibn ‘Abbas tiga belas tahun. Beliau terus mengambil hadith daripada para sahabah seperti ‘Umar ibn Khattab, ‘Ali, Mu’az, bapanya sendiri iaitu ‘Abbas, ‘Abd al-Rahman bin ‘Auf, dan ramai yang lain. (lihat: al-Zahabi, Siyar ‘Alam al-Nubala`, 3/332-337, Beirut: Maktabah al-Risalah). Maksudnya, doa Nabi s.a.w. memang dimakbulkan Allah melalui proses keilmuan yang sepatutnya.
Sebaliknya, keadaan sesetengah masyarakat muslim seakan cuba digula-gula dengan meminum atau memakan bahan jampi orang agama, maka akan berlaku keajaiban dalam kehidupan. Sepatutnya yang ditekankan adalah soal kesungguhan menuntut ilmu seperti yang difardukan oleh Islam. Malangnya dalam masyarakat muslim, kesungguhan membaca, memiliki buku, memenuhi perpustakaan, menulis bahan ilmiah tidak digembar-gemburkan, bahkan ‘orang lain’ mendahului kita. Tiba-tiba jampi menjadi cerdik pula yang mendapat publisiti dan dijual secara komersial. Tidakkah kita merendahkan Islam apabila orang bukan Islam melihat anak orang kita yang minum air jampi ‘ustaz’ tidak lebih cemerlang atau jauh ketinggalan dibandingkan anak ‘orang lain’ yang berbekalkan air mineral?. Janganlah kita lelongkan agama kerana bisnes kita.

Kilang Cetak Pahala
Menjelang bulan puasa, ramai pula yang buat bisnes borang atau kupon amalan tertentu yang kononnya jika dibeli maka pahala akan diposkan kepada arwah yang disebut namanya dalam borang atau kupon berkenaan. Maka seakan pahala akan dicetak oleh pengeluar borang untuk kegunaan arwah di alam barzakh dengan bayaran yang diupahkan. Entah kilang mana yang mencetaknya atau posmen mana yang mengirimnya, kita tidak pasti. Demikian mereka melelongkan agama sehingga ada individu tertentu yang mengaut keuntungan puluhan bahkan ratusan ribu ringgit dengan melelong pahala di bulan puasa. Seakan siapa duit banyak, maka selamatlah dia di akhirat. Dunia rasuah kita bagai menjelma juga selepas kematian. Nabi s.a.w. pernah memberi ingatan:

“Bacalah al-Quran dan mintalah daripada Allah (pahala), kerana selepas kamu akan ada kaum yang membaca al-Quran dan meminta (upah) daripada manusia” (Riwayat Ahmad dan al-Tirmizi, dinilai hasan oleh al-Albani).

Namun masyarakat kita ramai yang terpengaruh dengan perkara-perkara yang disebutkan ini kerana ingin jalan pintas tanpa usaha. Mereka ingin cerdik secara pintas tanpa belajar, kaya pintas tanpa usaha, masuk syurga pintas tanpa beramal dan seumpamanya. Golongan yang berkepentingan pula, mengambil kesempatan atas nama Islam. Kalau demikian cara kita beragama, maka tidak hairanlah jika ramai orang melayu suka ‘ali baba’kan segala peluang yang diberikan kepadanya.

Hayati Tiga Sifat Ahli Syurga Dan Jauhi Lima Sifat Ahli Neraka
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم
Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.
Sahabat yang dirahmati Allah,
Dari Iyadh bin Himar r.a, bahawa sesungguhnya didalam khutbahnya Rasulullah SAW bersabda maksudnya : “Ahli syurga ada 3 golongan, iaitu para penguasa yang menggunakan kekuasaannya untuk keadilan dan kebenaran, seseorang yang penyayang dan lembut hatinya kepada siapa saja dan orang muslim yang menjaga diri dari kemaksiatan. Sedangkan ahli neraka ada lima golongan iaitu: orang lemah yang tidak peduli sesamanya, para pengkhianat, penipu yang memperdaya keluarga dan harta orang lain, kikir dan pendusta, serta orang yang berakhlak tercela” (Hadis Riwayat Muslim)
Berdasarkan hadis di atas Nabi SAW ada menyatakan bahawa terdapat :
Tiga golongan ahli syurga iaitu :
1. Penguasa yang menggunakan kekuasaannya untuk keadilan dan kebenaran.
2. Seorang penyayang dan lembut hatinya kepada siapa saja.
3. Orang muslim yang menjaga diri dari kemaksiatan.
Lima golongan ahli neraka iaitu :
1. Orang lemah yang tidak peduli sesamanya.
2. Para pegkhianat, penipu yang memperdaya keluarga dan harta orang lain.
3. Kikir (kedekut).
4. Pendusta.
5. Orang yang berakhlak tercela.
Huraiannya :
Tiga golongan ahli syurga iaitu :
1. Penguasa yang menggunakan kekuasaannya untuk keadilan dan kebenaran.
Penguasa/ ketua negara yang menjalankan pemerentahan dengan adil dan saksama memberi hak kepada rakyat tidak berlaku pilih kasih, tidak mengambil rasuah atau penyelewengan akan mendapat rahmat Allah SWT dan dengan mudah akan dapat memasuki syurga Allah SWT. Dalam hadis yang lain baginda ada menyatakan bahawa salah satu daripada 7 golongan yang akan mendapat lindungan Arasy di hari akhirat nanti adalah seorang pemimpin yang adil dalam pemerentahannya.
Sabda Nabi SAW, maksudnya; “Dua golongan dalam umatku, apabila mereka baik, maka baiklah seluruh manusia dan apabila mereka rosak, maka seluruh umat turut menjadi rosak. Mereka ialah para umara’ (pemimpin) dan ahli feqh (ulama)” (Hadis Riwayat Ibnu Abdil Bar dan Abu Naim).
Pemimpin yang adil dalam Islam adalah pemimpin yang berusaha bersungguh-sungguh untuk menegakkan syariat Allah SWT dan hukum-hukum yang terdapat di dalam al-Quran dan sunah Rasulullah SAW.Pemimpin yang mengutamakan ajaran Islam dalam setiap keputusan yang dibuat dan beliau cukup takut melanggar hukum-hukum Allah SWT.
2. Seorang penyayang dan lembut hatinya kepada siapa saja.
Sesiapa yang memiliki sifat penyayang dan lemah lembut adalah sifat Nabi SAW. Baginda cukup penyayang dan berlemah lembut kepada ahli keluarga. khadam baginda , para sahabat dan kepada umatnya.
Pernah baginda bersabda maksudnya : "Sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya." Prihatin, sabar dan tawaduknya baginda dalam menjadi ketua keluarga langsung tidak sedikitpun menjejaskan kedudukannya sebagai pemimpin umat.
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:“Sesiapa yang dikurniakan sifat lemah lembut nescaya ia akan memperolehi kebaikan dalam semua hal.” (Hadis Riwayat Muslim)
Mukmin yang memiliki hati yang lembut tidak mudah marah dan tidak suka menghina orang lain baik dalam percakapan dan perbuatannya. Mudah diajak berbincang dan suka memudahkan urusan orang lain.
3. Orang muslim yang menjaga diri dari kemaksiatan.
Seorang muslim yang beriman dan bertakwa akan memiliki sifat malu untuk melakukan maksiat dan sentiasa berhati-hati tidak terjerumus kelembah maksiat dan dosa.
Rasulullah SAW pernah menggambarkan rasa takut dan malu kepada Allah yang benar dalam sabda Baginda bermaksud: “Malulah kepada Allah dengan benar. Kami pun menyahut: “Wahai Rasulullah, Alhamdulillah kami memiliki rasa malu. Baginda menjawab: “Bukan itu, tetapi rasa malu kepada Allah yang benar adalah dengan menjaga kepala dan isinya (fikirannya), perut dan sekitarnya serta ingat kematian dan kehancuran. Siapa yang menginginkan akhirat, nescaya meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang berbuat demikian, maka telah malu kepada Allah dengan benar. (Hadis riwayat al-Baihaqi).
Mukmin adalah orang yang takut kepada dosa. Daripada Abdullah bin Mas’ud , Nabi sallallahu alaihi wasalam bersabda (maksudnya):
“Sesungguhnya mukmin melihat dosanya seolah-olah dia sedang berada di kaki bukit dan dia takut bukit itu akan runtuh menghempap dirinya. Dan sesungguhnya fajir (orang jahat) melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, lalu dia menepis-nepisnya.” (Hasid Riwayat at-Tirmizi dan Ahmad)
Mukmin akan sentiasa menghisab dirinya. Dia takut kepada dosa walaupun kecil kerana mungkin dosa yang kecil akan memusnahkan pahalanya yang besar. Sejak dahulu para salaf yang soleh berpesan: “Jangan engkau lihat kepada kecilnya dosa, tetapi lihatlah kepada siapa engkau derhaka!”
Sesungguhnya dosa dan maksiat akan meninggalkan kesan yang sangat buruk, memudaratkan diri lahir dan batin, sama ada di dunia mahupun akhirat.
Lima golongan ahli neraka iaitu :
1. Orang lemah yang tidak peduli sesamanya.
Orang yang lemah adalah mereka yang jahil (tidak ada ilmu) dan tidak mahu pula menuntut ilmu. Dari kejahilannya dia melakukankan maksiat dan melanggar peraturan dalam agama. Mereka bersama kumpulan mereka yang jahil sedangkan tidak ada inisiatif untuk melakukan perubahan dan kembali kepangkal jalan. Orang yang jahil seperti ini tidak akan terlepas daripada soalan di akhirat nanti kenapa dia enggan menuntut ilmu.
Salah satu golongan yang lemah ini adalah mereka yang tidak mahu berhijrah.
Firman Allah SWT maksudnya : "Sesungguhnya orang-orang yang diambil nyawanya oleh malaikat semasa mereka sedang menganiaya diri sendiri (kerana enggan berhijrah untuk membela Islam dan rela ditindas oleh kaum kafir musyrik), mereka ditanya oleh malaikat dengan berkata: "Apakah yang kamu telah lakukan mengenai ugama kamu?" Mereka menjawab: "Kami dahulu adalah orang-orang yang tertindas di bumi". Malaikat bertanya lagi: "Tidakkah bumi Allah itu luas, yang membolehkan kamu berhijrah dengan bebas padanya?" Maka orang-orang yang sedemikian itu keadaannya, tempat akhir mereka ialah neraka jahanam, dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali." (Surah an-Nisaa' ayat 97)
2. Para pegkhianat, penipu yang memperdaya keluarga dan harta orang lain.
Golongan pengkhianat ini hina di dunia dan hina di akhirat. Mereka disebut dalam hadis Rasulullah SAW sebagai pembawa bendera khianat di Padang Mahsyar kelak dan akan dikenali sebagai pengkhianat. Betapa hidupnya tercela di akhirat bahkan semenjak di dunia ini lagi. Mereka ini duduk didalam kelambu perjuangan tetapi akhirnya sanggup berpindah dan merempat hina ditepi rumah musuh dengan menadah tempurung mengharapkan kepentingan duniawi.
Amaran Allah SWT kepada mereka yang suka mengambil harta orang tanpa kerelaannya . Firman-Nya yang bermaksud : "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan (gunakan) harta-harta kamu sesama kamu dengan jalan yang salah (tipu, judi dan sebagainya), kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan secara suka sama suka di antara kamu, dan janganlah kamu berbunuh-bunuhan sesama sendiri. Sesungguhnya Allah sentiasa Mengasihani kamu." (Surah an-Nisaa' ayat 29)
Daripada Abdullah bin Umar ra yang berkata yang bermaksud : “Sesiapa yang mengambil tanah orang lain tanpa hak walaupun sedikit maka dia pasti akan ditenggelamkan dengannya di hari kiamat sehingga ke tujuh lapis bumi.” (Hadis Riwayat Bukhari)
3. Kikir (kedekut).
Rasulullah SAW telah memberikan peringatan tentang bahaya sifat kikir itu, sebagaimana dalam hadis yang ertinya, “Jauhilah olehmu sifat kikir, sebab kikir itulah yang menyebabkan kerusakan orang-orang sebelum kamu. Kikir pula yang membawa mereka suka menumpahkan darah sesamanya serta menghalalkan segala apa yang dilarangkan kepada mereka.”
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasullullah Sallallahu ‘Alaihi Wa sallam telah bersabda, "Jauhillah tujuh kehancuran yang dapat menimpa kalian." Lalu (sahabat) bertanya, "Apakah itu wahai Rasulullah?’"Lalu beliau menjawab, "Menyekutukan Allah, kikir (kedekut) , membunuh jiwa yang diharamkan Allah, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan, menuduh zina wanita mukminat yang suci.” (Hadis Riwayat an-Nasa`i)
4. Pendusta.
Surah al-Maa’uun memaparkan perilaku manusia dalam kehidupan sosial yang dikategorikan sebagai pendusta agama. Mereka memiliki kebiasaan mengherdik anak yatim dan tidak memberi makanan kepada fakir miskin. Perilaku seperti ini merupakan cerminan sikap takbur dalam diri sendiri. Mereka menganggap anak yatim serta fakir miskin sebagai anggota masyarakat yang rendah dan hina.
Surah al-Maa’uun juga memperlihatkan perilaku manusia dalam beribadah yang dikategorikan pendusta agama. Mereka melalaikan solat, dalam erti melaksanakan solat tanpa keikhlasan dan kekhusyukan, atau tidak menunaikan solat dengan benar.
Solat mereka tidak lebih daripada ucapan lisan serta gerakan badan yang telah terbentuk sedemikian rupa tanpa penghayatan makna serta hikmah setiap ucapan dan gerakan yang mereka lakukan.
Dalam surah al-Maa’uun juga disebutkan bahawa orang yang berbuat riak akan dibalas oleh Allah SWT . Riak ialah melakukan suatu amal perbuatan untuk mencari pujian yang ia anggap ibadah itu. Allah SWT sendiri mengancam mereka yang berbuat riak dengan seksaan yang berat di neraka.
Pendusta agama adalah mereka yang tidak mengambil Islam sebagai satu cara hidup dan mengatakan bahawa hukum Islam tidak sesuai dijalankan dalam masyarakat majmuk. Pendusta agama juga adalah mereka yang cuba mentafsirkan Islam mengikut hawa nafsunya bukan mengikut kaedah yang dibenarkan syarak semata-mata untuk mendapat habuan dunia. Termasuk seseorang menjadi pendusta apabila dia membuat fitnah dan mereka cipta gambar dan vedio fitnah semata-mata untuk mengaibkan seseorang.
Seorang pendusta adalah seorang yang selalu berbohong, mungkir janji dan tidak amanah terhadap tugas yang dipikulnya. Suka bersumpah palsu dan menjadi saksi palsu dan menuduh seseorang tanpa saksi yang adil.
5. Orang yang berakhlak tercela.
Akhlak tercela (sifat mazmumah), iaitu segala tingkah laku yang tercela atau akhlak yang jahat, dan hal tersebut sangat di benci oleh Allah SWT. Terdapat sifat-sifat akhlak tercela iaitu kufur, riya’, nifaq, syirik dan sombong.
Sahabat yang dikasihi,
Marilah kita sama-sama beramal dengan sifat dan amalan ahli syurga dan menjauhi sifat dan akhlak ahli neraka. Walaupun di dunia ini kita tidak boleh tahu siapa di antara yang akan masuk syurga dan neraka tetapi kita boleh lihat ciri-ciri dan peribadi ahli syurga dan neraka.
Jika seorang mukmin itu kekal dengan sifat-sifat ahli syurga dan sentiasa bertaubat dan berdoa kepada Allah SWT supaya memberi kekuatan untuk istiqamah diatas jalan yang lurus insya Allah hajatnya untuk memasuki syurag akan dikabulkan oleh Allah SWT. Sebaliknya pula jika seseorang sentiasa kekal dengan sifat-sifat ahli neraka dan tidak mahu bertaubat dan hidup dipenuhi maksiat dan dosa dikhuatiri dia akan mendapat su'ul khatimah diakhir hayatnya. Oleh itu berhati-hatilah kalian dan berwaspadalah kerana saat bertemu Allah SWT akan datang bila-bila tanpa kita sedari. Jangan ditangguh-tangguh untuk taubat dan beramal soleh.



Selasa, 28 September 2010


Golongan Yang Memasuki Neraka

PENGENALAN

Allah telah menjanjikan kepada orang yang beriman kepada-Nya balasan syurga dan orang yang mengingkari-Nya akan diberikan balasan neraka. Allah telah pun menurunkan segala amanat yang patut dipikul bagi seorang mukmin untuk menjalani kehidupan yang lurus. Sebagai seorang umat Islam, kita hendaklah berselawat ke atas Nabi Muhammad, orang yang diutus oleh Allah kepada seluruh umat manusia membawa khabar yang menggembirakan dan membawa khabar yang menakutkan.

Di dalam Al-Quran surah An-Nazi’at ayat 37 – 41, ada menerangkan: “Maka adapun yang congkak, dan selalu mementingkan kehidupan di dalam dunia. Maka sesungguhnya neraka jahim adalah tempatnya. Dan adapun orang yang takut dengan kebesaran Tuhannya, dan dapat ia mempertahankan hawa nafsu dia yang jahat, maka sesunguhnya Syurga adalah tempatnya. ”

Jika kita telah mengingkari perintah Allah, kita hendaklah segera bertaubat kepada-Nya supaya dijauhkan daripada api neraka.

Syurga merupakan satu pengakhiran yang sangat indah dan amat mewah. Semua penghuninya berada dalam keadaan bahagia, tidak ada kepayahan sekalipun. Tidak perlu tidur, tidak ada kekotoran. Di sana terdapat benda-benda yang pernah dilihat dan didengari oleh manusia. Syurga bukanlah suatu tempat yang boleh digambarkan dalam hati.

MEREKA YANG MEMASUKI API NERAKA

1.Golongan yang tidak ikhlas

Dalam hadis Muslim, riwayat Tarmizi: Sabda Nabi yang bermaksud: Sesungguhnya yang pertama manusia dipanggil hari qiamat adalah yang mati di medan perang ingin mati syahid, dihadapkan di pengadilan, Allah tampakkan kepadanya segala nikmatNya, maka dia akui segala nikmat yang Allah kurniakan terhadapnya. Apakah engkau yang laksanakan terhadap itu? Jawabnya aku gunakan di medan perang untuk membela agamaMu sampai aku mati syahid. Tuhan memberitahu kepadanya, engkau bohong, engkau berjuang hanya untuk menampakkan ketangkasan supaya dikenal. Dengan terbuka latar belakangnya dia berjuang, lalu disuruh diseret mukanya menuju neraka terus dilontarkan kepadanya.

Dalam hadis ini dapat disimpulkan bahawa manusia yang beramal bukan kerana Allah, maka pada hari kiamat nanti akan terbuka kesemua niatnya yang tidak ikhlas itu lalu dicampakkan ke dalam api neraka.

2.Golongan yang menzalimi manusia

Jika seseorang itu semasa hidupnya mencaci orang, mengumpat, mencela, menuduh orang berzina, mencuri, menumpahkan darah orang, memukul, maka segala kebaikannya akan diberikan kepada mereka yang terzalim itu. Apabila habis kesemua kebaikannya, maka kejahatan yang terzalim akan dipikul atas yang menzalimi. Kemudiannya dia akan dilontarkan ke dalam api neraka.

Itu merupakan balasan yang setimpal atas orang yang selalu dalam waktu hidupnya menzalimi manusia. Oleh itu, kita hendaklah menghindarkan diri daripada menzalimi manusia yang lain.

3.Golongan yang membunuh manusia

“Apabila berhadapan dua muslim dengan pedangnya masing-masing. Maka yang membunuh dan yang dibunuh kedua-duanya dimasukkan dalam api neraka. Orang yang membunuh memang bersalah, tetapi bagaimana pula yang dibunuh. Dijawab Nabi, yang dibunuh itu sebenarnya dia juga mahu membunuh temannya itu tadi. ”

Di dalam hadis ini jelas Nabi terangkan bahawa mereka yang bergaduh, kedua-duanya akan diazabkan ke api neraka. Jika seseorang itu terpaksa menggunakan senjata bagi membela dirinya atau keluarganya dari ancaman telah terbunuh, maka hukumnya adalah mati syahid. Dia akan syahid di syurga tetapi yang membunuhnya tetap di masukkan ke dalam neraka.

4.Wanita yang meminta talak

Rasulullah mengeluarkan hadis kepada kaum wanita yang meminta talak daripada suaminya tanpa sebarang sebab yang munasabah. Golongan ini akan dilontarkan ke dalam api neraka. Selama si suami masih sanggup memberikan satu liter beras dengan lauknya yang sederhana, dan selembar pakaian sewaktu sejuk, selembar sewaktu panas, serta kediaman yang sederhana walaupun rumah sewa, maka selama itulah si isteri tidak dibenarkan menuntut talak, kecuali jika suami mengidap penyakit impoten.

5.Orang yang memfitnah

Kebusukan fitnah akan menjatuhkan manusia ke dalam api neraka. Seperti menuduh orang pada bukan sebenarnya, sehingga yang dituduh merasa tersinggung dan malu, terkadang sampai dia terpenjara, akibat berita yang direka reka sengaja untuk mencemarkan nama seseorang, maka golongan ini akan di campakkan ke dalam api neraka kiamat nanti.

6.Golongan yang takbur

Mereka yang terlalu bangga terhadap diri sendiri boleh mengakibatkan syirik. Sifat terlalu sombong itu akan mencengkam jiwa mereka dan akan membuatkan mereka alpa tentang kewajipan mereka terhadap Allah. Maka golongan ini akan di campakkan kea pi neraka.

7.Orang yang bunuh diri

“Yang mencekik lehernya (menggantung dirinya) akan di gantungkan dalam api neraka, yang menikam dirinya. Akan diazab dengan menikam juga dalam api neraka. Yang membakar dirinya, juga akan dibakar dengan api neraka. ”

Dalam hadis ini telah dinyatakan dengan tegas bahawa sesiapa yang membunuh dirinya dengan apa cara sekalipun akan diseksa dalam api neraka. Orang Islam dilarang berputus asa, dan disuruh menghadapi cubaan hidup.

8.Mubaligh yang membuat munkar

Alangkah jahatnya orang yang hanya pandai menyuruh orang berbuat baik, sedangkan dia tidak berbuat demikian. Dia yang melarang orang untuk curang, tetapi dia yang melakukan curang. Pada hari kiamat nanti, dia akan diazab dahulu daripada orang jahil

9.Si jahil yang menafsirkan Al-Quran

Bagi mereka yang mentafsirkan Al-quran yang berpendapat demi kepentingan sendiri. Apabila meninggalkan sembahyang, dikatakan tidak perlu qada. Mereka memberikan alasan tidak perlu qada sembahyang, tetapi perlu qada puasa. Alangkah dangkalnya pemahaman mereka. Golongan ini juga akan dilontarkan ke dalam api neraka.

10.Orang yang menyinggung orang lain

Sesiapa yang menyakiti orang lain, dengan menggunakan lidahnya atau anggota badannya, maka dia akan mendapat balasan akhirat dalam api neraka.

11.Yang mencaci dan membela kesalahan

“Yang mengaduasah, dan menyumpah, dan membela yang salah, kesemuanya akan diazab dalam api neraka sifat-sifat ini tidak terhimpun di dalam dada orang mu’min”.

Sesiapa yang melontarkan perkataan yang boleh mengakibatkan kepada perpecahan, membela kesalahan oleh sebab sanak saudara, ia akan mendapat azab akhirat nanti.

12.Musuh dalam selimut

Bagi mereka yang bermuka dua, mereka akan diberikan dua lidah dari api neraka. Muka nya juga akan terbakar dan dilontarkan ke dalam api neraka.

13.Golongan yang memusuhi saudaranya sesama muslim

Seorang muslim dilarang memusuhi saudaranya. Perbantahan yang dilarang adalah kerana bukan kepentingan agama. Jika seseorang itu menasihati untuk tidak berjudi dan minum arak, tetapi tidak dituruti dan timbul pergaduhan, bagi yang menasihati tidak haram hukumnya. Tetapi kalau terjadi pergaduhan akibat daripada perkara remeh, haram hukumnya.

14.Golongan yang memutuskan silaturrahim

Golongan ini jelas akan dicampakkan ke dalam api neraka. Silaturrahim ini adalah khusus kepada hubungan kekeluargaan. Sesiapa yang bersalah tidak meminta maaf tidak mahu berbaik, ia seolah olah dia menumpuk api.

15.Golongan yang derhaka kepada ibu bapa

“Empat jenis orang yang ALLAH pastikan mereka itu tidak dimasukkan ke syurga dan tidak dirasakan kebahagiaan nikmat syurga. Peminum minuman keras. Yang makan harta riba. Yang makan harta anak yatim secara zalim dan tidak berbakti pada ibu bapanya. ”

Anak-anak tidak sepatutnya menderhaka kepada ibu bapanya yang telah membesarkannya dengan baik. Walaupun ibu bapa telah meninggal dunia, kita hendaklah mendoakan mereka setiap waktu, semoga roh mereka dicucuri rahmat.

16.Golongan yang ingin dimuliakan

“Barang siapa ingin supaya orang berdiri memuliakannya, maka bersedia sajalah mengambil kedudukannya dalam api neraka. ”

Adalah satu ancaman bagi orang yang ingin minta dimuliakan atau minta dihormati orang. Kalau dia masuk ke suatu tempat, orang yang tidak berdiri terhadapnya, maka lalu timbul marah. Kemungkinan yang membawa dia semacam itu, adalah kerana sifat takbur dalam hatinya. Dengan sifat takbur dalam diri, sudah pastinya diri nya akan tercampak ke dalam api neraka

17.Wanita-wanita yang berpakaian tidak senonoh

Wanita-wanita yang sebahagian badannya terbuka atau tertutup, tetapi kainnya tipis sehingga kelihatan kulitnya, maka wanita-wanita ini akan diseksa dalam api neraka. Agama Islam telah menyuruh mereka supaya bertutup rapi. Ini adalah kerana, cara pemakaian bagi wanita satu penghormatan kepada mereka.

18.Golongan yang melakukan zina

“Hindarilah kamu perbuatan zina. Sesungguhnya penzinahan itu ada empat bahaya. Pertama, menghilangkan cahaya muka, orang melihat dia tidak memberikan penghormatan lagi. Kedua, memutuskan rezeki. Ketiga, menyebabkan marahnya Allah yang bersifat Rahman. Keempat, menyebabkan kekalnya berada dalam api neraka. ”

19.Golongan yang memakan harta haram

Orang yang makan dan minum yang diharamkan adalah satu ancaman, kerana apa yang dimakan itu akan menjadi darah daging. Perkara yang haram dimakan ada dua jenis. Satu adalah makanan yang diusahakan secara haram seperti mencuri. Lagi satu adalah makanan yang diharamkan seperti babi, anjing, tikus dan binatang yang tidak disembelih.

20.Golongan yang minum minuman keras

“Tiap-tiap minuman keras yang memabukkan adalah haram dan sesungguhnya Allah menetapkan janji kepada peminum yang memabukkan, akan diberi minuman yang bernama (thinatul khabal) Apakah itu wahai Rasulullah? Jawabnya ialah keringat-keringat orang penghuni api neraka, atau kotoran yang keluar waktu mereka diperas. ”

21.Orang yang tidak berzakat

Bagi mereka yang tidak berzakat, akan dijadikan emas dan kepingan perak yang lebar dari api neraka, lalu digosokkan ke pinggangnya, ke dahinya dan ke belakangnya. Apabila kepingan itu sejuk, akan dipanaskan semula dengan api neraka. Itulah yang akan terjadi selama lima puluh ribu tahun. Dia akan dibebaskan ke syurga atau dikekalkan di dalam api neraka selama-lamanya.

22.Golongan yang menjadi saksi palsu

Akibat perbuatan saksi palsu, keadilan akan hilang dan punah. Yang bersalah akan menang ketika persidangan. Yang benar pula akan dizalimi. Saksi palsu dengan tidak malunya bersumpah menggunakan nama Allah. Azab bagi orang yang jadi pembela di pihak penzalim akan dijanjikan api neraka.

23.Golongan yang memakan harta anak yatim

“Dibangkitkan pada hari kiamat satu golongan dari kubur mereka, berkobar-kobar api pada mulut mereka. Ditanya, Wahai Rasulullah siapakah mereka itu? Jawabnya apakah tidak tahu engkau bahawasanya ALLAH berfirman. Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta-harta anak yatim secara zalim, sesungguhnya yang mereka makan ke perut adalah api, dan mereka akan masuk ke neraka Sa’ir. ”

24.Lelaki yang memakai emas

Emas haram ke atas lelaki yang memakainya. Apa saja berupa pakaian dari emas, kalung, utas haram bagi lelaki memakainya. Mana-mana lelaki yang memakainya bererti dia sudah pun memakai api, dan pada hari akhirat, dia akan mendapat azab yang lebih berat. Tidak ada satu hadis yang membolehkannya, kecuali menggantikan gigi dan hidung.

25.Golongan yang takbur

Golongan yang takbur merupakan golongan yang sangat berani akan dirinya, yang tidak takut akan kebesaran ALLAH. Golongan ini akan melupai masa depannya di akhirat kelak. Maka dengan ini mereka akan dikenakan azab api neraka.

26.Orang yang mengamalkan rasuah

Apabila rasuah berlaku, keadilan tidak dapat dicapai. Harta akan hilang begitu sahaja mengikut kepentingan orang lain. Allah telah menentukan nasib orang yang menerima dan memberi rasuah di dalam api neraka.

27.Hakim yang tidak adil

“Qadhi (hakim) adalah terbagi kepada tiga. Satu ke syurga. Dua akan ke api neraka. Adapun yang akan ke dalam syurga. Ialah lelaki yang mengetahui kebenaran, tetapi berlaku zalim dalam tindakannya. Dan yang selanjutnya, ialah lelaki yang melakukan hukuman pada manusia, diatas dasar kejahilan, maka diapun akan dimasukkan ke api neraka.

Sesiapa yang melakukan hukuman yang tidak adil terhadap orang yang tidak bersalah, maka orang tersebut akan dilontarkan ke api neraka.

28.Golongan yang mengemis walaupun kaya

Agama Islam melarang orang mengemis, kecuali semasa keadaan yang sempit, seperti harta yang habis terbakar dalam kebakaran, tidak dapat bekerja kerana lumpuh dan sebagainya. Tetapi jika seseorang itu masih mampu untuk mencari rezeki, maka haram baginya untuk mengemis. Oleh itu, golongan ini akan dikenakan azab api neraka.

29.Golongan yang belajar bukan kerana Allah

“Barang siapa yang menuntut ilmu dengan niat untuk menandingi ulama, dan mau bertengkar dengan orang jahil. Dan supaya orang yang mengarahkan muka mereka kepada dia. Nescaya Allah masukkan dia ke dalam api neraka. ”

Seseorang itu hendaklah belajar kerana Allah dan bukan kerana kepentingan sendiri atau ingin memegahkan dirinya, atau untuk mendapat kedudukan semata-mata, maka perkara yang dipelajarinya itu adalah haram sama sekali. Golongan ini akan diberikan azab api neraka akhirat kelak.

30.Yang mengukir benda sepertinya yang hidup

Para ulama telah bersepakat dan berpendapat bahawa orang-orang yang mengukir meniru seperti yang ada roh, mengukir manusia diancam api neraka. Ini adalah kerana mereka cuba untuk menandingi perbuatan Allah. Gambar-gambar lukisan dan foto dikecualikan. Oleh itu, ukirlah benda-benda yang tiada roh di dalamnya seperti pokok-pokok dan bunga-bunga.

KESIMPULAN

Marilah kita menjauhi perbuatan dan perkara yang boleh menjahanamkan kita ke api neraka yang sungguh dashyat. Bagi mereka yang telah pun melanggar perintah Allah, hendaklah disegerakan bertaubat kerana Allah Maha Pengampun. Setiap perbuatan yang dilakukan merupakan cermin bagi muslim yang lain terhadap orang bukan Islam. Ya Allah! Hindarkanlah kami dari azab api neraka jahanam dan masukkanlah kami ke dalam syurga dengan tidak diperiksa apa-apa bebas dari menjadi tanggungjawab apa sekali pun.

Disediakan untuk : Ustaz Abd Aziz bin Harjin
Disediakan oleh : Puteri Nabila Hamzah

Orang Pertama Dicampakkan ke Neraka


| Posted in

Daripada Abu Hurairah R.A ,Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud :"Sesungguhnya manusia yang pertama yang diadili pada hari kiamat ialah seseorang yang mati syahid.Orang itu dihadirkan di hadapan Allah ,lalu diingatkan nikmat-nikmat yang pernah diberikan kepadanya.Orang itu mengingati semua nikmat tersebut.Allah bertanya :Apakah yang engkau lakukan untuk mensyukuri nikmat-nikmat ini ?"Orang itu menjawab ."Aku berjuang di jalan-Mu sehingga terbunuh."Allah berfirman :"Engkau berdusta!!Akan tetapi engkau berjuang agar disebut sebagai pemberani."Dan sememangnya orang ramai menyebutkannya sebegitu.Orang itu lalu diseret di atas wajahnya ,kemudian dicampakkan ke dalam neraka.Allah lalu memanggil seseorang yang belajar ilmu,mengajarkannya dan membaca al-Quran .Orang ini dihadirkan ,lalu disebutkan kepadanya semua nikmat Allah sehingga ia mengingatinya.Allah lalu bertanya :"Apakah yang engkau lakukan untuk mensyukuri nikmat-nikmat ini ?"Dia menjawab :"Aku mempelajari ilmu ,lalu mengajarkannya dan membaca al-Quran."Allah berfirman:"Engkau berdusta!!Akan tetapi engkau belajar agar disebut alim ,dan membaca al-Quran agar disebut qari(hafiz)".Dan sememangnya orang ramai menyebutnya seperti itu.Orang itu lalu diseret di atas wajahnya ,kemudian dicampakkan ke dalam neraka.Allah lalu memanggil seseorang yang telah diberikan harta yang melimpah ruah .Orang ini dihadirkan ,lalu disebutkan kepadanya nikmat-nikmat Allah s.w.t sehingga ia mengingatinya .Allah bertanya:"Apakah yang engkau lakukan untuk mensyukuri nikmat-nikmat ini?"Dia menjawab :"Aku membelanjakannya di tempat-tempat yang engkau kehendaki."Allah berfirman:"Engkau berdusta!!Akan tetapi engaku melakukannya agar dikenali sebagai dermawan."Dan memang orang telah menyebutnya seperti itu .Orang itu lalu diseret di atas wajahnya dan kemudian dicampakkan ke dalam neraka."(Riwayat Muslim)



Riyak dan Sum'ah

Hadis ini menyebut bahawa antara orang pertama yang masuk ke neraka ialah mereka yang suka menipu agama Allah.Mereka memang beribadah ,namun ibadat itu tidak diniatkan kerana Allah,sebaliknya mereka beribadah agar menjadi buah mulut dan sebutan ramai.Sikap seperti ini disebut riyak dan sum'ah ,melakukan ibadah  untuk manusia bukan kerana Allah .Riyak berkaitan dengan penglihatan manusia ,sementara sum'ah berkaitan dengan pendengaran.Sesiapa beramal agar dilihat manusia ,maka itu riyak ,dan siapa yang beramal agar berita amalan itu didengar manusia ,maka itu sum'ah .Kedua-duanya mengundang murka Allah s.w.t.Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim,Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:"Allah s.w.t berfirman:"Sesiapa yang melakuakn suatu amalan sambil mempersekutukan diri-Ku dengan yang lain,maka Aku berlepas daripadanya.Amalan itu untuk pihak yang disekutukannya itu."Qatadah seorang ulama tabiin di Basrah berkata:"Apabila seorang hamba melakukan ibadah dengan riyak,Allah s.w.t berfirman kepada para malaikat :"Tengoklah hamba-Ku ini,dia sedang mempersendakan diri-Ku."Riyak dan sum'ah ialah syirik kecil yang merosakkan ibadah.Sesiapa yang melakukan ibadah kerana menginginkan pujian manusia,hakikatnya dia telah menghapuskan pahala ibadah tersebut.Dia tidak akan mendapatkan apa-apa  ganjaran daripada Allah s.w.t kelak.

Penyakit Orang Baik.

Penyakit ini hanya menghinggapi "orang baik" sahaja.Orang jahat dan tidak mengenali Allah tidak memiliki sifat-sifat ini kerana mereka tidak melakukan ibadah sama sekali.Mereka akan menjadi bara api neraka tanpa dihisab.Adapun orang yang baik ini ,maka ia mesti terus menjaga kemurnian ibadahnya.Setiap kali melakukan ibadah,dia wajib meluruskan niat agar ibadahnya diterima oleh Allah s.w.t ,terutamanya apabila manusia mula menyebut-nyebut kebaikannya dan memuji dirinya.Syeikh Ali al-Khawas berkata:"Jika engkau sedang berada di jalan istiqamah ,lalu seseorang memujimu ,maka ia satu peringatan atas kekurangan yang terdapat dalam diri.Maka periksalah dirimu,Carilah sebabnya,kenapa manusia memujimu?Boleh jadi Allah melihat kamu menyukai pujian ,maka Allah memberikan pujian itu untukmu sebagai satu-satunya balasan atas ibadah tersebut.Seperti seorang ayah yang menggembirakan anaknya dengan gelang dan kalung tiruan."Untuk menghindari sifat ini,kita wajib mengetahui tanda-tandanya.Pastikan tanda-tanda tersebut tidak terdapat dalam diri kita.Ali bin Abi Talib pernah berkata;"Tanda riyak tiga perkara:

  • Malas beramal jika sendirian
  • Rajin beramal jika dalam ramai
  • Menambah amalan jika dipuji dan menguranginya jika dicela."
Tanda pertama dan kedua sangat jelas.Orang yang memiliki sifat riyak bermotivasi untuk beramal hanya apabila ramai orang yang melihatnya.Namun apabila tidak ada sesiapa yang melihatnya ,dia akan malas melakukan amalan tersebut.Adapun tanda ketiga tersebut oleh Saiyidina Ali ,ia sangat halus dan jarang disedari.Yakni,sesiapa yang tidak suka pujian ,maka ia tidak takut celaan.Sesiapa yang bebas daripada sifat riyak,ia akan terus istiqamah beramal walaupun semua makhuk mencela dan memulaukannya.Celaan tidak menghentikan amalannya sebagaimana pujian tidak mengerakkanya untuk beramal.Para ulama:"Tidak ada yang mampu menanggung celaan makhluk selain orang yang tidak mengharapkan penghormatan daripada mereka."
Riyak kerana Amalan Orang Lain
Riyak dengan amalan sendiri memang sangat buruk.Namun jauh lebih buruk daripada itu,orang yang riyak dengan amalan orang lain.Berkata al-Fudhail bin 'Iyad:Orang terdahulu riyak dengan amalannya.Namun manusia hari ini riyak dengan apa yang tidak pernah dilakukannya."Orang seperti ini ramai kita temui dalam masyarakat kita kini.CIrinya antara lain suka menyebut kebesaran nenek moyangnya,keturunannya atau orang yang hebat dalam keluarganya padahal ia sendiri tidak memiliki kehebatan tersebut.Dia ingin orang lain menghormatinya atas perkara yang tidak dimilikinya,Imam al-Sha'rani berkata:"Hendaklah orang yang memuji bapa atau datuknya selalu memeriksa hati.Sering kali pujian itu hanya perwujudan hawa nafsu belaka."Orang seperti ini hakikatnya sedang mempersendakan dirinya sendiri.Kalaupun ada orang yang memujinya ,dia bukan kawan sejati.Dia hanya memuji kerana menginginkan sesuatu disebaliknya.Apabila dia tidak mendapat sesuatu yang dihajati itu,pujian tersebut akan segera berubah menjadi celaan.Imam al-Syafi'i berkata:"Sesiapa yang memujimu kerana sesuatu yang tidak engkau miliki,suatu hari nanti dia juga akan mencelamu kerana sesuatu yang engkau tidak miliki."

Hamba yang Dicintai Allah

Ibn Majah dan al-Hakim meriwayatkan daripada Aslam :"Pada suatu hari,Umar bin al-Khattab melihat Mu'az bin Jabal sedang menangis di sisi kubur Nabi s.a.w.Belau lalu bertanya:"Apakah yang menyebabkanmu menangis?"Mu'az menjawab :"Aku teringat sesuatu yang aku dengar daripada penghuni kubur ini.Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda(yang bermaksud):"Sesungguhnya sedikit riyak ialah syirik.Sesiapa yang memusuhi wali Allah ,maka dia telah menyatakan perang kepada-Nya.Sesungguhnya Allah mencintai hamba-hamba yang berbakti ,bertakwa dan tersembunyi.Jika mereka hadir ,tidak ada yang mengenalinya.Hati mereka ialah lentera-lentera petunjuk."Kekasih Allah tidak menyukai kemasyhuran.Mereka selalu khuatir andai amal ibadahnya ditolak,meskipun telah melakukannya dengan sempurna.Kesibukannya dengan Allah tidak meninggalkan baki masa baginya untuk mendengar pujian atau celaan orang lain .Berkata Syeikh Abdul Qadir Dastuti:"Seorang hamba tidak patut berbangga dengan ilmu ,harta dan jabatan yang dimilikinya sebelum ia selamat melintasi titian sirat.Apa gunanya pujian jika ia tetap terjatuh ke dalam neraka pada hari kiamat nanti?"Semoga Allah memberikan keikhlasan dalam hati-hati kita,mengampuni dosa-dosa kita dan menerima amal ibadah kita.

                                                                (sumber daripada Majalah Solusi Isu 36 2011)


Tiada ulasan: