Khamis, 2 April 2015

SAKIT ITU....MUNGKIN SEBAGAI KIFARAH...MUNGKIN SEBAGAI UJIAN KESABARAN...MUNGKIN UNTUK DINAIKKAN DARJAT DI SISI ALLAH SWT...ATAU MUNGKIN SATU BALA BAGI KEINSAFAN DIRI












Islam For Beginner

Sakit dalam Pandangan Islam

Kamis 12 Rabiulakhir 1435 / 13 Februari 2014 07:31

orang sakit

NAMANYA juga manusia, tentu suatu waktu kita akan mengalami penurunan kondisi fisik. Penurunan itu menyebabkan kita sakit. Bagaimana Islam memandangnya soal sakitnya tubuh kita ini?
Saat Allah menakdirkan kita untuk sakit, pasti ada alasan tertentu yang menjadi penyebab itu semua. Tidak mungkin Allah subhanahu wa ta’ala melakukan sesuatu tanpa sebab yang mendahuluinya atau tanpa hikmah di balik semua itu. Allah pasti menyimpan hikmah di balik setiap sakit yang kita alami. Karenanya, tidak layak bagi kita untuk banyak mengeluh, menggerutu, apalagi su’udzhan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Lebih parah lagi, kita sampai mengutuk taqdir. Na’udzu billah…
Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam  pernah menemui Ummu As-Saa’ib, beliau bertanya : ”Kenapa engkau menggigil seperti ini wahai Ummu As-Saa’ib?” Wanita itu menjawab : “Karena demam wahai Rasulullah, sungguh tidak ada barakahnya sama sekali.” Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam  bersabda : ”Jangan engkau mengecam penyakit demam. Karena penyakit itu bisa menghapuskan dosa-dosa manusia seperti proses pembakaran menghilangkan noda pada besi”. (HR. Muslim)
Sakit adalah Ujian
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Quran, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.  (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.” (QS. Al-Baqarah: 155-156). Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman,
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. (QS. Al-Anbiyaa`: 35)
 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampuryang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”. (QS. Al-Insaan:2)
Begitulah Allah subhanahu wa ta’ala menguji manusia, untuk melihat siapa di antara hambaNya yang memang benar-benar berada dalam keimanan dan kesabaran. Karena sesungguhnya iman bukanlah sekedar ikrar yang diucapkan melalui lisan, tapi juga harus menghujam di dalam hati dan teraplikasian dalam kehidupan oleh seluruh anggota badan. Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa Dia akan menguji setiap orang yang mengaku beriman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabuut: 2-3)
Semua ujian yang diberikan-Nya semata-mata hanya agar hamba-Nya menjadi lebih baik di hadapanNya. Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam bersabda : ”Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, maka Dia akan menguji dan menimpakan musibah kepadanya”. (HR. Bukhari).
Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ’anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan : Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam bersabda : ”Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Kalau Allah mencintai seseorang, pasti Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang ridha menerima cobaanNya, maka ia akan menerima keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang kecewa menerimanya, niscaya ia akan menerima kermurkaan Allah”. (HR. Tirmidzi)
Sakit adalah Adzab
Bagi seorang mu`min sakit dapat menjadi tadzkirah atau ujian yang akan mendekatkan dirinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Namun bagi sebagian orang, sakit bisa menjadi adzab yang akan membinasakan dirinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimuatau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih bergantiagar mereka memahami(nya)”.” (QS. Al-An’aam: 65)
“Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian adzab yang kecil di dunia sebelum adzab yang lebih besar di akhirat, mudah-mudahan mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. As-Sajdah: 21)
Maka dari itu, pertaubatan adalah langkah nyata menuju kesembuhan. Seseungguhnya, segala macam bencana yang menimpa kita, pada hakikatnya adalah karena perbuatan kita sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, artinya, “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa semua musibah yang menimpa manusia, (baik) pada diri, harta maupun anak-anak mereka, serta pada apa yang mereka sukai, tidak lain sebabnya adalah perbuatan-perbuatan buruk (maksiat) yang pernah mereka lakukan.”[1]
Dari ‘A`isyah radhiyallahu ‘anha ia berkata , “Aku mendengar Rasulallah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah walau hanya tertusuk duri, kecuali Allah akan mencatat baginya kebaikan dan dihapus baginya kesalahan dan dosanya.” (HR.Muslim)
Ingatlah bahwa adzab yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap seseorang di dunia bisa berbagai macam bentuknya. Kekurangan harta, bencana alam, peperangan, sakit, atau bahkan kematian. Cukuplah kiranya pelajaran kaum terdahulu yang diadzab oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan berbagai macam penyakit yang aneh dan sulit disembuhkan. Hal itu dikarenakan mereka tetap bertahan di dalam kekafiran, padahal bukti-bukti dan tanda-tanda kebesaran-Nya telah ditampakkan di hadapan mereka. Firman Allah,
“Dan demikianlah Kami menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al-Quran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka” (QS. Thaahaa: 113)
Allah swt. juga berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir baik harta mereka maupun anak-anak mereka, sekali-kali tidak dapat menolak azab Allah dari mereka sedikitpun” (QS. Ali ‘Imraan: 116)
Sakit adalah Cinta
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menguji hamba-hambaNya untuk menilai siapa yang memang benar-benar memiliki ketulusan iman. Siapa di antara hamba-hambaNya yang sabar, yang sanggup bertahan, baik dalam susah maupun senang. Inilah golongan yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala. Para shahabat berkata saat golongan ini sedang ditimpa sakit, “Demam sehari dapat menghapuskan dosa setahun”.
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ath Thibb An Nabawi menafsirkan riwayat atsar ini dalam dua pengertian. Pertama, bahwa demam itu meresap ke seluruh anggota tubuh dan sendi-sendinya. Sementara jumlah tiap sendi-sendi tubuh ada 360. Maka, demam itu dapat menghapus dosa sejumlah sendi-sendi tersebut, dalam satu hari.
Kedua, karena demam itu dapat memberikan pengaruh kepada tubuh yang tidak akan hilang seratus persen dalam setahun. Sebagaimana Sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, “Barangsiapa meminum minuman keras, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.” Karena pengaruh minuman keras tersebut masih tetap ada dalam tubuhnya, pembuluh nadi, dan anggota tubuh lainnya selama empat puluh hari. Wallahu a’lam. Beliau mengakhiri perkataannya.
Hal tersebut dapat dipahami dan diterima walaupun beliau (Imam Ibn al-Qayyim) masih belum mengetahui kedudukan atsar tersebut, karena kita senantiasa mengingat do’a yang seringkali diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam saat beliau menjenguk orang sakit. Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam senantiasa mengucapkan, “Laa ba’sa thahuurun, insya Allahu ta’ala” Tidak mengapa, insya Allah menjadi pembersih (atas dosa-dosamu). Inilah yang dimaksud bahwa Islam memandang sakit bisa bermakna cinta. Cinta dari Sang Ilahy agar hambaNya tidak mendapatkan azab di akhirat, maka Dia membersihkan segala noda dan dosanya di dunia. Ma syaa Allah.
Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam pernah bersabda : ”Sesungguhnya besarnya pahala (balasan) sangat ditentukan oleh besarnya cobaan. Dan jika sekiranya Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji dan memberikan cobaan kepada mereka”. (HR. Tirmidzi dan Baihaqi).
Dari  Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ’anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan: Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam bersabda : ”Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan Allah hapuskan berbagai kesalahnnya, seperti sebuah pohon meruntuhkan daun-daunya.” (HR. Muslim)
Dari Abu Hurayrah radhiyallahu ’anhu diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam bersabda : ”Cobaan itu akan selau menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada diri anaknya ataupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Begitu pula, Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam bersabda : ”Tiadalah kepayahan, penyakit, kesusahan, kepedihan dan kesedihan yang menimpa seorang muslim sampai duri di jalan yang mengenainya, kecuali Allah menghapus dengan itu kesalahan – kesalahannya”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Seorang wanita datang menemui Nabi shallallahu ’alayhi wasallam, ia berkata : ”Saya mengidap penyakit epilepsi dan apabila penyakitku kambuh, pakaianku tersingkap. Berdoalah kepada Allah untuk diriku”. Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam bersabda : ”Kalau engkau bersabar, engkau mendapatkan jannah. Tapi kalau engkau mau, aku akan mendoakan agar engkau sembuh”. Wanita itu berkata : ”Aku bersabar saja”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan: Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam  bersabda :” Kalau seorang hamba sakit atau sedang bepergian, pasti Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia mengamalkan ibadah di masa masih sehat dan sedang bermukim.” (HR. Bukhari)
Syaikh Al Faqih Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaymin rahimahullah berkata: ”Apabila engkau ditimpa musibah maka janganlah engkau berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit yang menimpamu, sampaipun duri yang mengenai dirimu, akan berlalu tanpa arti. Bahkan Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik (pahala) dan menghapuskan dosa-dosamu dengan sebab itu. Sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.”
Hendaklah kita bersabar dan ridha terhadap sakit yang menimpa kita. Dengan bersabar, kita akan mendapatkan apa yang dijanjikan Allah terhadap orang yang bersabar : “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Selain itu, Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah berpendapat bahwa sakit, khususnya demam, sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Karena, menurutnya, orang yang sedang demam akan meninggalkan makanan yang buruk dan kemudian beralih kepada makanan yang baik-baik. Ia pun akan mengonsumsi obat-obatan yang bermanfaat bagi tubuh. Hal ini tentu akan membantu proses pembersihan tubuh dari segala macam kotoran dan kelebihan yang tidak berguna. Sehingga prosesnya mirip api terhadap besi yang berfungsi menghilangkan karat dari inti besi. Proses seperti ini sudah dikenal di kalangan medis. Karenanya tidak heran jika Abu Hurayrah radhiyallahu ‘anhu  pernah berkata, “Tidak ada penyakit yang menimpaku yang lebih aku sukai daripada demam. Karena demam merasuki seluruh organ tubuhku. Sementara Allah akan memberikan pahala pada setiap organ tubuh yang terkena demam.” Allahu alam. [alfadhli]


Sakit Itu Kifarah Dosa

Assalamualaikum. Cinta.

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada semasa sihat dan pada semasa waktu senangnya.”

Ujaran Rasulullah SAW tersebut diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili. Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda :

“Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.”
Allah memerintahkan :

1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.

2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lazatnya makanan dari mulutnya.

3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga
berubahlah wajah pesakit menjadi pucat lesi.

4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah pesakit menjadi suci dari dosa.

Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lazat, dan cahaya di wajah sang hamba.

Namun untuk malaikat ke 4, Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin. Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”
Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut”

Dengan ini, maka kelak pesakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”

“Tiada seorang mukmin yang ditimpa oleh kepenatan atau penyakit atau risau fikiran atau sedih hati, walaupun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan dijadikan penebus dosanya oleh Allah” (HR Bukhari-Muslim).

“Jika sakit seorang hamba hingga tiga hari, maka keluar dari dosa-dosanya sebagaimana keadaannya ketika baru lahir dari kandungan ibunya,” (HR Ath-Thabarani).

“Penyakit panas itu menjaga tiap mukmin dari neraka, dan panas semalam cukup dapat menebus dosa setahun,” (HR Al-Qadha’i).



Bersyukur atas ujian yang satu ini.. Sue buat masa ini memang kurang sihat.. Hari ni pun Sue mc. Terlantar terbaring je.. Langsung tak dapat buat apa-apa. Hopefully esok akan pulih semula.. Namun batuk-batuk ni macam lambat lagi je nak baik..huhu..

Another one is Sue sedang dalam sesi perubatan moden sebagai salah satu usaha untuk mendapatkan zuriat. Wish me luck! Teringin juga untuk menambahkan zuriat..

Semalam blood test results dah keluar. Hurmmmmm.. memang ada yang tak kena. Dah agak dah.. memang ada something wrong.. So buat masa ini berubat moden dulu.. tengok result another beberapa bulan nanti macam mana.. Then tengoklah macam mana.. cari usaha lain pulak..

Bersyukur menjadi insan terpilih untuk menghadapi ujianNya..

Wassalam.


Sakit Penghapus Dosa


Sakit Penghapus Dosa
Sakit Penghapus Dosa
 
"Tidak ada kesusahan (atau bala bencana) yang menimpa (seseorang) melainkan dengan izin Allah; dan sesiapa yang beriman kepada Allah, Allah akan memimpin hatinya (untuk menerima apa yang telah berlaku itu dengan tenang dan sabar); dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu".
(At-Tagaabun : 11)

"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya."
(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

"Jangan pandang sakit itu sebagai penderaan dan jangan pula mudah berburuk sangka kepada Allah. Bahkan sebaiknya kesakitan atau musibah itu dipandang sebagai nikmat untuk Allah membersihkan diri kita daripada segala dosa dan noda."
(Ustaz Zaharuddin Abdul Rahman, Penceramah Bebas)


Same2 baca kat cni >> Sumber


Musibah & Bala Bencana Adalah Teguran Dari Allah

Ahad, 21 Syawwal 1430 H / 11 Oktober 2009 03:03
Musibah & Bala Bencana Adalah Teguran Dari Allah
Ilustrasi - Musibah & Bala Bencana Adalah Teguran Dari Allah
Ditulis oleh: Abu Jibriel
Dari berbagai rangkaian musibah, ujian dan bala bencana yang menimpa manusia, khususnya negeri ini, adalah karena perbuatan maksiat dan dosa mereka kepada Allah Swt dan RasulNya dalam merespon dakwah para Nabi dan Rasul-rasul Allah Swt. Selain itu mereka juga mendustakan ayat-ayat Allah, mengkufuri nikmat-nikmatNya dan menukarkan kenikmatan itu dengan kekafiran, serta para penguasa dan pembesar-pembesarnya menukar hukum Allah dengan hukum jahiliyah dan kecenderungan masyarakat memilih serta mengikuti tradisi nenek moyang dengan ajaran sesatnya yang bertolak belakang dari hidayah dan Sunnah Rasulullah Saw.
Al Qur’an menjelaskan, membenarkan hal tersebut, Allah Swt berfirman:
“Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS. Al Qhashash, 28 : 59)
FirmanNya lagi:
“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud : 117)
FirmanNya lagi:
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa : 147)
FirmanNya lagi:
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Isra, 17 : 16)
FirmanNya lagi:
“Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al Isra, 17 : 58)
FirmanNya lagi:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (QS. As Syura, 42 : 30)
FirmanNya lagi:

“Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”
(QS. An-Nahl, 16 : 112)
FirmanNya lagi:
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan Itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS. Ibrahim, 14 : 28-29)
FirmanNya lagi:
“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan dimuka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat yang diderita oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih kuat dri merka,mereka telah mengolah bumi dan memakmurkannya lebih banyak dari apa yang mereka makmurkan.Dan telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan dan bukti-bukti yang nyata.Maka Allah sekali-kali tidak berlaku dzalim kepada mereka ,tetapi merekalah yang berlaku dzalim terhadap dir mereka.Kemudian akibat orang-orang yang melakukan kedurhakaan dan kejahatan adalah azab siksa yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olok.” (QS. Rum, 30 : 9-10).
Dan firmanNya lagi:
“(ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, Maka Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Kalau kamu melihat ketika Para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri), demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya, (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi amat keras siksaan-Nya, (siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri [Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.], dan sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui, (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya, maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Al An fal, 8 : 49-55)
Demikianlah diantara ayat-ayat Allah yang menerangkan sebab-sebab datangnya musibah dan bala bencana.
Rasulullah Saw juga menerangkan akan sebab-sebab musibah dalam haditsnya:
Berkata Ummu Salamah, istri Rasulullah Saw, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:
“Jika timbul maksiat pada ummatku, maka Allah akan menyebarkan azab-siksa kepada mereka.” Aku berkata : Wahai Rasulullah, apakah pada waktu itu tidak ada orang-orang shalih? Beliau menjawab: “ada!”. Aku berkata lagi: Apa yang akan Allah perbuat kepada mereka? Beliau menjawab: “Allah akan menimpakan kepada mereka azab sebagaimana yang ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat maksiat, kemudian mereka akan mendapatkan keampunan dan keredhaan dari dari Rabbnya.” (HR. Imam Ahmad)
Lima Sebab Datangnya Azab dan Siksa Allah
Rasulullah Saw bersabda:
“Bagaimana kalian apabila terjadi lima perkara, dan aku berlindung kepada Allah mudah-mudahan lima perkara itu tidak terjadi pada kamu atau kamu tidak menjumpainya, yaitu,
Tidaklah perbuatan zina itu tampak pada suatu kaum, dikerjakan secara terang-terangan, melainkan tampak dalam mereka penyakit ta’un dan kelaparan yang tidak pernah dijumpai oleh nenek moyang dahulu.
Dan tidaklah kaum itu menahan zakat, melainkan mereka ditahan oleh Allah turunnya hujan dari langit, andai kata tidak ada binatang ternak tentu mereka tidak akan dihujani.
Dan tidaklah kaum itu mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka disiksa oleh Allah dengan kesengsaraan bertahun-tahun dan sulitnya kebutuhan hidup dan nyelewengnya penguasa.
Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka itu menghukumi dengan selain kitab yang diturunkan oleh Allah, melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh yang merampas sebagian kekuasaan mereka.
Dan tidaklah mereka itu menyia-nyiakan kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya, melainkan Allah menjadikan bahaya di antara mereka sendiri.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Lima Belas Perkara Mendatangkan Musibah & Bala Bencana
Dari Ali bin Abi Thalib Ra berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Apabila umatku telah melakukan lima belas perkara, maka halal baginya (layaklah) ditimpakan kepada mereka bencana.” Ditanyakan, apakah lima belas perkara itu wahai Rasulullah?
Rasulullah Saw bersabda: “Apabila…
Harta rampasan perang (maghnam) dianggap sebagai milik pribadi,
Amanah (barang amanah) dijadikan sebagai harta rampasan,
Zakat dianggap sebagai cukai (denda),
Suami menjadi budak istrinya (sampai dia),
Mendurhakai ibunya,
Mengutamakan sahabatnya (sampai dia),
Berbuat zalim kepada ayahnya,
Terjadi kebisingan (suara kuat) dan keributan di dalam masjid (yang bertentangan dengan syari’ah),
Orang-orang hina, rendah, dan bejat moralnya menjadi pemimpin umat (masyarakat),
Seseorang dihormati karena semata-mata takut dengan kejahatannya,
Minuman keras (khamar) tersebar merata dan menjadi kebiasaan,
Laki-laki telah memakai pakaian sutera,
Penyanyi dan penari wanita bermunculan dan dianjurkan,
Alat-alat musik merajalela dan menjadi kebanggaan atau kesukaan,
Generasi akhir umat ini mencela dan mencerca generasi pendahulunya;
Apabila telah berlaku perkara-perkara tersebut, maka tunggulah datangnya malapetaka berupa; taufan merah (kebakaran), tenggelamnya bumi dan apa yang diatasnya ke dalam bumi (gempa bumi dan tananh longsor), dan perubahan-perubahan atau penjelmaan-penjelmaan dari satu bentuk kepada bentuk yang lain.”
(HR. Tirmidzi, 2136)
Itulah perkara-perkara yang menyebabkan suatu negeri mengalami kekacauan, kehancuran, kesempitan, kemelaratan, perseteruan, dan perpecahan satu sama lainnya, antara rakyat dengan rakyat dan rakyat dengan penguasa. Korupsi dan ketidakadilan merajalela, segala macam penyakit bermunculan menimpa manusia, yang benar-benar menyulitkan dan membinasakan kehidupan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Oleh sebab itulah, Rasulullah Saw berdoa agar sahabat-sahabatnya tidak menjumpai keadaan yang demikian dahsyat dan terpuruknya. Dari semua perkara yang menyebabkan datangnya siksa dan azab itu. Insya Allah akan berakhir jika manusia dan kaum Muslimin khususnya kembali kepada Allah dan Rasul Nya, berpegang teguh kepada Dinullah (Islam yang sebenar-benarnya, menurut Al Qur’an dan As Sunnah) mengikut petunjuk Rasulnya.
Sebagai penutup, renungkanlah firman Allah Swt berikut serbagai introfeksi kita semua:

”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri Beriman dan Bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
(QS. Al A’raf, 7: 96)
Wallahu’alam bis showab…

Apa itu Kifarah?

Kifarah adalah balasan Allah di dunia akibat dosa yang dilakukan oleh seorang
hambanya, juga ujian-ujian Allah itu boleh berlaku, yang mungkin melibatkan
kematian orang yang dikasihi, kehilangan harta benda ataupun penyakit, tidak kira
sama ada penyakit tersebut berlaku dalam tempoh masa yang lama ataupun
sekejap bergantung kepada ketentuan (qada’) Ilahi atau buat selama-lamanya
sehingga mati. Selagi ketentuan (qada’) bagi sakit itu belum menepati qada’ Allah,
maka sakit (kifarah) tadi tidak akan sembuh biarpun pelbagai usaha dilakukan oleh
manusia jelas di.sini membuktikan bahawa ada di antara penyakit itu akan sembuh
dengan sendiri biarpun tanpa usaha manusia untuk mendapatkan kesembuhan
ataupun tidak akan sembuh biarpun banyak usaha untuk menyembuhkannya telah
dilakukan.
Sesungguhnya, apabila Allah s.w.t. itu mengaishi seseorang hamba Ia akan
mengujinya. Dan apabila Ia mengujinya, sama ada dengan menurunkan penyakit
dan sebagainya, Allah akan memberikan kesabaran. Dalam menghadapi cubaan
seperti ini, kesabaran adalah paling utama. Sesungguhnya orang yang bersabar
akan diberikan pahala mereka tanpa hisab (az-Zumar: 10).
Allah s.w.t. menetapkan martabat seseorang pada maqam-maqam tertentu.
Namun amalan-amalan yang dilakukan olehnya tidak membolehkannya mencapai
martabat yang ditetapkan. Untuk membolehkan hamba berkenaan mencapai
martabat tadi, Allah akan mengujinya, mungkin dengan menurunkan bala ke
atasnya, seperti sakit, kehilangan pancaindera dan sebagainya. Apabila diberi
ujian maka Allah akan memberi kesabaran. Dengan ini hamba berkenaan akan
mencapai martabat tersebut. Demikianlah kehendak Allah terhadap hambanya
yang dikasihi.
Sayyidatina Aishah ada berkata, bahawa baginda Rasulullah ada bersabda yang
bermaksud: Tidak menimpa ke atas seorang mukmin satu kecelakaan, biarpun duri,
ataupun lebih daripada itu, melainkan Allah akan menggugurkan dengannya satu
dosa. (Maksud hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslirn)
Dalam sebuah hadis lain Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda yang bermaksud:
Rintihan orang sakit tercatat sebagai tasbih, kegelisahan dan jeritannya sebagai
tahlil, nafasnya seumpama sedekah, tidurnya sebagai ibadah dan kegelisahannya,
daripada satu,bahagian ke satu bahagian lain adalah bagaikan jihad kerana Allah
s.w.t. dan ditulis baginya sebaik-baik amalan yang pernah dilakukan semasa sihat.
Tidak dinafikan bahawa setiap sesuatu itu berlaku, mempunyai sebab musabab,
dan boleh dikaitkan dengan tingkah laku manusia, namun pada hakikatnya di
sebalik fakta-fakta yang dapat diterima akal rasionalnya, qada’ dan qadar Ilahi itu
mengandungi rahsia-rahsia Ilahiyah yang tidak difahami oleh manusia.
Kifarah adalah balasan Allah di dunia akibat dosa yang dilakukan oleh seorang hambanya, juga ujian-ujian Allah itu boleh berlaku, yang mungkin melibatkan kematian orang yang dikasihi, kehilangan harta benda ataupun penyakit, tidak kira sama ada penyakit tersebut berlaku dalam tempoh masa yang lama ataupun sekejap bergantung kepada ketentuan (qada’) Ilahi atau buat selama-lamanya sehingga mati. Selagi ketentuan (qada’) bagi sakit itu belum menepati qada’ Allah, maka sakit (kifarah) tadi tidak akan sembuh biarpun pelbagai usaha dilakukan oleh manusia jelas di.sini membuktikan bahawa ada di antara penyakit itu akan sembuh dengan sendiri biarpun tanpa usaha manusia untuk mendapatkan kesembuhan ataupun tidak akan sembuh biarpun banyak usaha untuk menyembuhkannya telah dilakukan.
Sesungguhnya, apabila Allah s.w.t. itu mengaishi seseorang hamba Ia akan mengujinya. Dan apabila Ia mengujinya, sama ada dengan menurunkan penyakit dan sebagainya, Allah akan memberikan kesabaran. Dalam menghadapi cubaan seperti ini, kesabaran adalah paling utama. Sesungguhnya orang yang bersabar akan diberikan pahala mereka tanpa hisab (az-Zumar: 10).
Allah s.w.t. menetapkan martabat seseorang pada maqam-maqam tertentu.Namun amalan-amalan yang dilakukan olehnya tidak membolehkannya mencapai martabat yang ditetapkan. Untuk membolehkan hamba berkenaan mencapai martabat tadi, Allah akan mengujinya, mungkin dengan menurunkan bala ke atasnya, seperti sakit, kehilangan pancaindera dan sebagainya. Apabila diberi ujian maka Allah akan memberi kesabaran. Dengan ini hamba berkenaan akan mencapai martabat tersebut. Demikianlah kehendak Allah terhadap hambanya yang dikasihi.
Sayyidatina Aishah ada berkata, bahawa baginda Rasulullah ada bersabda yang bermaksud: Tidak menimpa ke atas seorang mukmin satu kecelakaan, biarpun duri,ataupun lebih daripada itu, melainkan Allah akan menggugurkan dengannya satu dosa. (Maksud hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslirn)
Dalam sebuah hadis lain Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda yang bermaksud:Rintihan orang sakit tercatat sebagai tasbih, kegelisahan dan jeritannya sebagai tahlil, nafasnya seumpama sedekah, tidurnya sebagai ibadah dan kegelisahannya,daripada satu,bahagian ke satu bahagian lain adalah bagaikan jihad kerana Allah s.w.t. dan ditulis baginya sebaik-baik amalan yang pernah dilakukan semasa sihat.
Tidak dinafikan bahawa setiap sesuatu itu berlaku, mempunyai sebab musabab,dan boleh dikaitkan dengan tingkah laku manusia, namun pada hakikatnya di sebalik fakta-fakta yang dapat diterima akal rasionalnya, qada’ dan qadar Ilahi itu mengandungi rahsia-rahsia Ilahiyah yang tidak difahami oleh manusia.

KIFARAH,UJIAN DAN MUSIBAH

Kifarah adalah balasan Allah di dunia akibat dosa yang dilakukan oleh seorang hambanya,
juga ujian-ujian Allah itu boleh berlaku, yang mungkin melibatkan kematian orang yang dikasihi, kehilangan harta benda ataupun penyakit, tidak kira sama ada penyakit tersebut berlaku dalam tempoh masa yang lama ataupun sekejap bergantung kepada ketentuan (qada’) Ilahi atau buat selama-lamanya sehingga mati. Selagi ketentuan (qada’) bagi sakit itu belum menepati qada’ Allah, maka sakit (kifarah) tadi tidak akan sembuh biarpun pelbagai usaha dilakukan oleh manusia jelas di.sini membuktikan bahawa ada di antara penyakit itu akan sembuh dengan sendiri biarpun tanpa usaha manusia untuk mendapatkan kesembuhan ataupun tidak akan sembuh biarpun banyak usaha untuk menyembuhkannya telah dilakukan.
Sesungguhnya, apabila Allah s.w.t. itu mengaishi seseorang hamba Ia akan mengujinya. Dan apabila Ia mengujinya, sama ada dengan menurunkan penyakit dan sebagainya, Allah akan memberikan kesabaran. Dalam menghadapi cubaan seperti ini, kesabaran adalah paling utama. Sesungguhnya orang yang bersabar akan diberikan pahala mereka tanpa hisab (az-Zumar: 10).
Allah s.w.t. menetapkan martabat seseorang pada maqam-maqam tertentu.Namun amalan-amalan yang dilakukan olehnya tidak membolehkannya mencapai martabat yang ditetapkan. Untuk membolehkan hamba berkenaan mencapai martabat tadi, Allah akan mengujinya, mungkin dengan menurunkan bala ke atasnya, seperti sakit, kehilangan pancaindera dan sebagainya. Apabila diberi ujian maka Allah akan memberi kesabaran. Dengan ini hamba berkenaan akan mencapai martabat tersebut. Demikianlah kehendak Allah terhadap hambanya yang dikasihi.
Sayyidatina Aishah ada berkata, bahawa baginda Rasulullah ada bersabda yang bermaksud: Tidak menimpa ke atas seorang mukmin satu kecelakaan, biarpun duri,ataupun lebih daripada itu, melainkan Allah akan menggugurkan dengannya satu dosa. (Maksud hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslirn)
Dalam sebuah hadis lain Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda yang bermaksud:Rintihan orang sakit tercatat sebagai tasbih, kegelisahan dan jeritannya sebagai tahlil, nafasnya seumpama sedekah, tidurnya sebagai ibadah dan kegelisahannya,daripada satu,bahagian ke satu bahagian lain adalah bagaikan jihad kerana Allah s.w.t. dan ditulis baginya sebaik-baik amalan yang pernah dilakukan semasa sihat.
Tidak dinafikan bahawa setiap sesuatu itu berlaku, mempunyai sebab musabab,dan boleh dikaitkan dengan tingkah laku manusia, namun pada hakikatnya di sebalik fakta-fakta yang dapat diterima akal rasionalnya, qada’ dan qadar Ilahi itu mengandungi rahsia-rahsia Ilahiyah yang tidak difahami oleh manusia.

Ujian dan Musibah dalam Kaca Mata Sufi

Adapun para sufi menegaskan bahawa, ujian dan musibah merupakan suatu "ta'aruf" atau perkenalan dari Allah s.w.t., di mana setiap kali Allah s.w.t. menguji seseorang hamba tersebut, bererti Dia memperkenalkan diri-Nya kepada para hamba-Nya disamping menilai bagaimana hamba tersebut memperkenalkan dirinya kepada-Nya.


Ujian dari Allah s.w.t. ada dua jenis iaitu:


Pertama:
Ujian berbentuk Musibah.
Ujian ini merupakan suatu bentuk kesusahan yang ditimpakan ke atas manusia seperti kematian, kehilangan, kemiskinan, kesakitan dan sebagianya.


Dalam bentuk ujian ini, Allah s.w.t. memperkenalkan diri-Nya dengan sifat-sifat jalal-Nya (sifat-sifat keagungan-Nya) di mana pada ketika itu, hamba-hamba-Nya akan mendapati bahawa, Allah s.w.t. Maha Berkuasa dan hanya kepada Allahlah, tempat mengadu segala masalah, kerana hanya Dialah yang Maha Membantu dan sebaik-baik Penolong.


Dalam kondisi ini, seseorang hamba yang jujur dalam Ubudiyahnya (pengabdiannya) akan memperkenalkan dirinya kepada Allah s.w.t., sebagai seorang hamba-Nya yang sabar. Maka, ketika diuji dengan musibah, seseorang hamba dapat meningkatkan darjatnya di sisi Allah s.w.t. dengan kesabarannya, di mana setiap kali dia sabar dalam ujian, maka setingkat demi setingkat darjatnya semakin meningkat di sisi Allah s.w.t., di samping mendapat keredhaan Allah s.w.t. dengan izin-Nya..


Di samping itu juga, seseorang hamba yang diuji dengan musibah, perlu redho dengan setiap suratan dan ketentuan Allah s.w.t., yang menimpanya, dan sebagai balasan, Allah s.w.t. juga akan meredhai hamba-Nya yang redha dengan ketetapan-Nya, dengan izin Allah s.w.t..


Hamba yang diuji dengan musibah juga perlulah sentiasa merenung diri sendiri, dan bermuhasabah, kerana boleh jadi, musibah tersebut merupakan natijah dari dosa-dosa dan maksiat yang dikerjakannya, di samping bertaubat dari sebarang kesilapan dan dosa. Inilah adab seseorang hamba yang sentiasa merendahkan dirinya di hadapan Allah s.w.t.


Kedua:
Ujian berbentuk Kesenangan.
Allah s.w.t. juga turut menguji para hamba-Nya dengan nikmat kesenangan, seperti kekayaan, banyak zuriat, kedudukan, dan sebagainya.


Dalam ujian berbentuk kesenangan tersebut, Allah s.w.t. memperkenalkan diri-Nya kepada hama-hamba-Nya yang mendapat kesenangan tersebut, dengan sifat-sifat Jamal-Nya (sifat-sifat kecantikkan dan keindahan-Nya), di mana hamba-hamba-Nya akan dapati pada kondisi tersebut, bahawa mereka mempunyai Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Mulia.


Adapun hamba-hamba yang menerima kesenangan pula, hendaklah baginya memperkenalkan diri mereka sebagai hamba-hamba yang bersyukur, kerana dalam keadaan kesenangan, kesyukuran merupakan pintu-pintu untuk meningkatkan darjatnya di sisi Allah s.w.t.. Mereka hendaklah sentiasa mengingati bahawa, setiap nikmat tersebut datang dari Allah s.w.t., dan tidak lupa diri, dengan menyangka bahawa, merekalah sebenarnya yang menyebabkan kesenangan tersebut, kerana ia merupakan sikap biadab di hadapan Allah s.w.t.


Hamba-hamba yang dianugerahkan nikmat hendaklah berterima kasih kepada Allah s.w.t., di samping tidak merasa bangga dengan apa yang diterimanya. Mereka juga perlulah mengingatkan diri mereka, bahawa, boleh jadi nikmat yang Allah s.w.t. berikan kepada mereka merupakan suatu istidraj (tipu daya yang menyebabkan seseorang lebih jauh dari Allah s.w.t.) supaya mereka sentiasa meminta ampun dari Allah s.w.t. dan bersikap merendah diri di hadapan Allah s.w.t.


Apabila seseorang hamba itu berterima kasih, maka Allah s.w.t. akan meningkatkan darjat dan kedudukannya di sisi-Nya, di samping menambahkan lagi kenikmatan-kenikmatan yang telahpun diperolehinya.


Kesimpulannya, seluruh yang berlaku dalam kehidupan manusia merupakan ujian dari Allah s.w.t., samada dalam bentuk kesenangan atau dalam bentuk musibah. Apa yang penting, seseorang hamba yang memahami rahsia di sebalik ujian tersebut, maka dia perlulah sentiasa beradab dengan Allah s.w.t., samada di waktu susah atau senang, dengan kesabaran dan kesyukuran, kerana ianya merupakan pintu-pintu untuk meningkatkan darjat seseorang hamba di sisi Allah s.w.t..

Al Fadhil Ustaz Mukhlis @ AlFaqir101

Perbedaan Ujian dan Azab



Asww….pak Ustadz
Dalam kehidupan didunia ini dapatkah kita mengetahui perbedaan suatu kejadian yang tidak kita ingini adalah akibat dari perbuatan kita berbuat dosa kepada Allah atau merupakaan cobaan keimanan kita (bukan karena dosa kepada Allah). Apakah ada azab  yang ditimpakan seawaktu masih hidup didunia akibat berbuat dosa kepada Allah?
Waalaikumussalam Wr Wb
Firman Allah swt :
مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ
Artinya : “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An Nisaa : 79)
Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah” adalah dari karunia dan kasih sayang Allah swt. Sedangkan makna “dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Berarti dari dirimu sendiri dan dari perbuatanmu sendiri, sebagaimana firman-Nya :
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura : 30)
As Suddiy, Hasan al Bashri, Ibnu Juraih dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa makna “maka dari dirimu sendiri” adalah karena dosamu. Qatadah mengatakan bahwa makna” “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Adalah akibat dosamu wahai anak Adam.
Didalam sebuah hadits disebutkan,”Demi yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah seorang mukmin ditimpa kegalauan, kesedihan, kepayahan bahkan duri yang menancap padanya kecuali dengannya Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.” (Tafsir al Qur’an al Azhim juz II hal 363)
Sedangkan bala atau cobaan maupun ujian juga telah disebutkan didalam Al Qur’an diantaranya firman Allah swt :
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Artinya : “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al Anbiya : 35)
Cobaan atau ujian yang menimpa setiap orang dan ia ini isa berupa keburukan atau kebaikan, kesenagan atau kesengsaraan, sebagaimana disebutkan pula didalam firman-Nya yang lain :
Artinya : “Dan kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk.” (QS. Al A’raf : 168)
Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)” adalah terkadang Kami menguji dengan berbagai musibah dan terkadang dengan berbagai kenikmatan agar kami mengetahui orang-orang yang bersyukur dari orang-orang yang kafir, orang-orang yang bersabar dari orang-orang yang berpuus asa sebagaimana perkataan Ali bin Thalhah dari Ibnu Abbas bahwa makna “Dan Kami menguji kalian” dia mengatakan Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (cobaan), dengan kesulitan dan kelapangan, kesehatan dan rasa sakit, kekayaan dan kemiskinan, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan… sedangkan firman-Nya yang berarti “dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” adalah Kami akan memberikan ganjaran (balasan) atas amal kamu. (Tafsir al Qur’an al Azhim juz V hal 342)
Cobaan atau ujian ini juga terkadang disesuaikan dengan kadar dan kualitas keimanan seseorang serta sebagai sarana untuk menambahkan pahala orang yang terkena ujian ini, karena itu didalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori disebutkan bahwa orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi.
Syeikh Al Mubarokhfuriy mengatakan bahwa mereka (para nabi) yang paling berat ujian dan cobaannya karena mereka adalah orang-orang yang merasakan kelezatan semua cobaan itu sebagaimana kebanyakan orang merasakan lezat semua kenikmatan. Karena apabila para nabi tidak diuji maka keimanan kepada Allah yang ada didalam diri mereka hanya akan menjadi khayalan dan melemahkan umat didalam kesabarannya menghadapi suatu cobaan. Hal itu juga dikarenakan orang yang paling berat cobaan adalah yang paling kuat ketaatannya dan paling kuat didalam mengembalikan segala urusannya kepada Allah swt. (Tuhfatul Ahwadzi juz VI hal 185)
Cobaan atau ujian ini bisa juga disebabkan karena kesalahan atau dosa yang dilakukan seseorang, seperti dosa seseorang yang meninggalkan jihad dikarenakan para wanita-wanitanya, sebagaimana firman Allah swt :
وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ ائْذَن لِّي وَلاَ تَفْتِنِّي أَلاَ فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُواْ
Artinya : “Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.” (QS. At Taubah : 49)
Sesungguhnya ujian ataupun cobaan yang ditimpakan kepada orang itu adalah ketika orang itu mengatakan pemohonan izinnya kepada Rasulullah saw disebabkan kelemahan iman mereka untuk ikut berperang di jalan Allah melawan pasukan Romawi dengan mencari-cari alasan kecantikan para wanita Romawi yang bisa membuat mereka tidak tahan dan akan mempengaruhi jihad mereka.
Dengan demikian bisa difahami bahwa cobaan atau ujian adalah lebih luas atau lebih umum daripada musibah. Dikarenakan tidaklah disebut musibah kecuali untuk sesuatu yang tidak menyenangkan bagi seorang yang mendapatkannya sementara ujian atau cobaan bisa berupa kesenangan atau kesengsaraan. Dan terkadang efek dari bala’ ini lebih berat daripada musibah. Orang terkadang sanggup bertahan didalam keimanan saat mendapatkan kesulitan akan tetapi hilang imannya tatkala mendapatkan kesenangan.
Dan apapun yang diterima seorang muslim baik ia berupa ujian maupun cobaan baik berupa kesenangan ataupun kesengsaraan, kelapangan atau kesempitan, kekayaan atau kemiskinan maka semuanya adalah baik baginya karena mereka adalah orang-orang yang bersyukur ketika dirimpa kesenangan dan bersabar ketika ditimpa kesengsaraan.
Dan tidaklah suatu musibah atau ujian itu ditimpakan kepada seorang mukmin kecuali adalah sebagai pembersih dosa dan kesalahannya di dunia sehingga tidak ada lagi baginya siksa atas dosa itu di akhrat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,”Tidaklah seorang mukmin atau mukminah yang ditimpa suatu bala’ (cobaan) sehingga ia berjalan di bumi tanpa membawa kesalahan.”
Sementara musibah atau ujian yang diberikan kepada orang-orang kafir adalah bagian dari adzab Allah kepada mereka di dunia sementara adzab yang lebih besar telah menantinya di akherat, sebagaimana firman-Nya :
وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya : “Dan Sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As Sajdah : 21)
Artinya : “Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan. (QS. Huud : 16)
Didalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya Allah tidaklah menzhalimi seorang mukmin, diberikan kepadanya kebaikan di dunia dan disediakan baginya pahala di akherat. Adapun orang yang kafir maka ia memakan dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya di dunia sehingga ketika dia kembali ke akherat maka tidak ada lagi satu kebaikan pun sebagai ganjaran baginya. “ (HR. Muslim)
Wallahu A’lam
Ustadz Sigit Pranowo

Berbahagia Dengan Musibah Sakit

Orang yang sedang ditimpa sakit tidak perlu dicekam rasa takut selama ia mentauhidkan Allah dan menjaga shalatnya. Bahkan, meskipun di masa sehatnya ia banyak berkubang dalam dosa dan maksiat, karena Allah itu Maha Penerima taubat sebelum ruh seorang hamba sampai di kerongkongan. Dan sesungguhnya di balik sakit itu terdapat hikmah dan pelajaran bagi siapa saja yang mau memikirkan-nya, di antaranya adalah:

1.    Mendidik dan menyucikan jiwa dari keburukan

Allah Ta'ala berfirman, artinya, “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Dalam ayat ini terdapat kabar gembira sekaligus ancaman jika kita mengetahui bahwa musibah yang kita alami adalah merupakan hukuman atas dosa-dosa kita. Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallaahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melain-kan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.”

Dalam hadits lain beliau bersabda: “Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” Sebagian ulama salaf berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”

“Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”  al Hadits



2.    Mendapatkan kebahagiaan (pahala) tak terhingga di akhirat

Itu merupakan balasan dari sakit yang diderita sewaktu di dunia, sebab kegetiran hidup yang dirasakan seorang hamba ketika di dunia akan berubah menjadi kenikmatan di akhirat dan sebaliknya.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” Dan dalam hadits lain disebutkan, ”Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” (HR. Ibnu Abid Dunya dengan sanad hasan).

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Jabir secara marfu’, ”Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dicabik-cabik ketika di dunia karena iri melihat pahala orang-orang yang tertimpa cobaan.”

”Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dicabik-cabik ketika di dunia karena iri melihat pahala orang-orang yang tertimpa cobaan.” al Hadits

3.    Allah dekat dengan orang sakit

Dalam hadits qudsi Allah berfirman: ”Wahai manusia, si fulan hamba-Ku sakit dan engkau tidak membesuknya. Ingatlah seandainya engkau membesuknya niscaya engkau mendapati-Ku di sisinya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

4.    Sebagai parameter kesabaran seorang hamba

Sebagaimana dituturkan, bahwa kalau seandainya tidak ada ujian maka tidak akan tampak keutamaan sabar. Apabila ada kesabaran maka akan muncul segala macam kebaikan yang menyertainya, namun jika tidak ada kesabaran maka akan lenyap pula kebaikan itu.

Anas radliyallah 'anhu meriwayatkan sebuah hadits secara marfu’, “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barang siapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”

Apabila seorang hamba bersabar dan imannya tetap tegar maka akan ditulis namanya dalam daftar orang-orang yang sabar. Apabila kesabaran itu memunculkan sikap ridha maka ia akan ditulis dalam daftar orang-orang yang ridha. Dan jikalau memunculkan pujian dan syukur kepada Allah maka dia akan ditulis namanya bersama-sama orang yang bersyukur. Jika Allah mengaruniai sikap sabar dan syukur kepada seorang hamba maka setiap ketetapan Allah yang berlaku padanya akan menjadi baik semuanya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”

5.    Dapat memurnikan tauhid dan menautkan hati kepada Allah

Wahab bin Munabbih berkata, “Allah menurunkan cobaan supaya hamba memanjatkan do’a dengan sebab bala’ itu.” Dalam surat Fushilat ayat 51 Allah berfirman, artinya, “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.”

Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal, dan ikhlas dalam memohon. Dengan kembali kepada Allah (inabah) seorang hamba akan merasakan manisnya iman, yang lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang diderita.

Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal, dan ikhlas dalam memohon.

Apabila seseorang ditimpa musibah baik berupa kefakiran, penyakit dan lainnya maka hendaknya hanya berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah saja sebagiamana dilakukan oleh Nabi Ayyub 'alaihis salam yang berdoa, “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya, ”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS. Al Anbiyaa :83)

6.    Memunculkan berbagai macam ibadah yang menyertainya

Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah menjauhkan diri dari kesesatan.

Amat banyak hamba yang setelah di timpa sakit ia mau memulai bertanya persoalan agamanya, mulai mengerjakan shalat dan berbuat kebaikan, yang kesemua itu tak pernah ia lakukan sebelum menderita sakit. Maka sakit yang dapat memunculkan ketaatan-ketaatan pada hakekatnya merupakan kenikmatan baginya.

Maka sakit yang dapat memunculkan ketaatan-ketaatan pada hakekatnya merupakan kenikmatan baginya.

7.    Dapat mengikis sikap sombong, ujub dan besar kepala

Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah ditimpa musibah, biasanya akan bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya. Tetapi ketika ia ditimpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap, dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya. Dia tak akan mampu menguasai kematian, terkadang ia ingin mengetahui sesuatu tetapi tak kuasa, ingin mengingat sesuatu namun tetap saja lupa. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk dirinya, demikian pula orang lain tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Maka apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia?

8.    Memperkuat harapan (raja’) kepada Allah

Harapan atau raja’ merupakan ibadah yang sangat utama, karena menyebabkan seorang hamba hatinya tertambat kepada Allah dengan kuat. Apalagi pada penderita sakit yang telah sekian lama berobat kesana kemari namun tak kunjung sembuh. Maka dalam kondisi seperti ini satu-satunya yang jadi tumpuan harapan hanyalah Allah semata, sehingga ia mengadu: “Ya Allah tak ada lagi harapan untuk sembuhnya penyakit ini kecuali hanya kepada-Mu.” Dan banyak terbukti ketika seseorang dalam keadaan kritis, ketika para dokter sudah angkat tangan namun dengan permohonan yang sungguh-sungguh kepada Allah ia dapat sembuh dan sehat kembali. Dan ibadah raja’ ini tak akan bisa terwujud dengan utuh dan sempurna jika seseorang tidak dalam keadaan kritis.

Ibadah raja’ (berharap) ini tak akan bisa terwujud dengan utuh dan sempurna jika seseorang tidak dalam keadaan kritis.

9.    Merupakan indikasi bahwa Allah menghendaki kebaikan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ”Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari).

Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.

10.    Allah tetap menulis pahala kebaikan yang biasa dilakukan oleh orang yang sakit

Meskipun ia tidak lagi dapat melakukannya atau dapat melakukan namun tidak dengan sempurna. Hal ini dikarenakan seandainya ia tidak terhalang sakit tentu ia akan tetap melakukan kebajikan tersebut, maka sakinya tidaklah menghalangi pahala meskipun menghalanginya untuk melakukan amalan. Hal ini akan terus berlanjut selagi dia (orang yang sakit) masih dalam niat atau janji untuk terus melakukan kebaikan tersebut.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dari Abdullah bin Amr dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ”Tidak seorangpun yang ditimpa bala pada jasadnya melainkan Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk menjaganya, Allah berfirman kepada malaikat itu, “Tulislah untuk hambaKu siang dan malam amal shaleh yang (biasa) ia kerjakan selama ia masih dalam perjanjian denganKu.”

11.    Sakit dapat menghantarkan ke manzilah (kedudukan) tertentu di Surga

Terkadang seorang hamba memiliki manzilah di Surga, akan tetapi amalnya tidak dapat mengantarkannya ke sana maka Allah menimpakan kepadanya berbagai ujian secara bertubi-tubi sehingga sampailah ia kepada manzilah tadi, sebagaimana dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh imam Ibnu Hibban dari Abu Hurairah.

12.    Dengan sakit akan diketahui besarnya makna sehat

Jika seseorang selalu dalam keadaan sehat maka ia tidak akan mengetahui derita orang yang tertimpa cobaan dan kesusahan, dan ia tidak akan tahu pula besarnya nikmat yang ia peroleh. Maka ketika seorang hamba sakit, ia ingin agar bisa segera pulih sebagaimana kondisi semula ketika sehat, sebab setelah sakit itulah ia akan tahu apa artinya sehat.

Hendaknya seorang hamba bersabar dan memuji Allah ketika tertimpa musibah, sebab walaupun ia sedang sakit maka tentu masih ada orang lain yang lebih parah, dan jika tertimpa kefakiran maka pasti ada yang lebih fakir lagi. Hendaknya ia melihat sakit yang diderita dengan nikmat yang telah diterima dan dengan memikirkan faedah dan manfaat dari sakitnya.

Dalam urusan agama seseorang harus memandang yang di atasnya agar tidak merasa bahwa dirinyalah orang yang terbaik, sedang dalam urusan dunia ia harus memandang orang yang ada di bawahnya agar menimbulkan rasa syukur dan melahirkan pujian kepada Allah.

Jika seseorang selalu dalam keadaan sehat maka ia tidak akan mengetahui derita orang yang tertimpa cobaan dan kesusahan, dan ia tidak akan tahu pula besarnya nikmat yang ia peroleh.


13.    Bagi seorang hamba (muslim) sakit merupakan rahmat bukan siksa

Firman Allah, artinya. “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Menge-tahui.” (QS. an Nisaa:147)

Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengenal Allah dan hikmahNya, meskipun demikian Allah tetap menyayanginya karena itu semua disebabkan ketidak tahuan, kelemahan dan kekurangannya.

(PurWD/voa-islam)
•    Dari Nasyrah Darul Wathan, Min fawaidil Maradh, Subakir Ahmad, dari Buletin Al-Sofwah.




Ujian Itu Hadiah Dari Allah

ujian Allah

Ujian Dari Allah Buat Hambanya

Hari terus berganti hari. Kehidupan manusia juga terus berjalan pantas seiring dengan masa yang pantas berlari. Di celah-celah hari  berwarna-warni  yang di jalani dan ditelusuri, tanpa  disedari atau tidak, manusia sebenarnya  telahpun menempuh pelbagai ujian dan dugaan duniawi. Ujian-ujian yang diberi oleh Allah itu datang menyapa silih berganti dalam pelbagai bentuk dan rupa. Setiap orang diuji olah Allah berbeza-beza mengikut tahap kemampuannya.

“ Allah tidak membebani seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya, ia mendapat pahala kebajikan yang diusahakannya dan ia juga menanggung dosa kejahatan yang dilakukannya…     ( Al-Baqarah: 286)
ALLAH telah menyatakan dengan jelas di dalam Al-Quran bahawa DIA tidak akan sekali-kali menguji hambaNya diluar kemampuan hambaNya. ALLAH  mengetahui kita kuat dalam menghadapi ujianNya, oleh kerana itu  ALLAH memberikan  ujian itu ke atas diri kita. Di sini kita dapat lihat betapa sayang dan kasihnya ALLAH kepada kita sebagai hambaNya. ALLAH menguji seseorang bukan kerana ALLAH benci kepada kita tetapi percayalah  ALLAH menguji kita kerana DIA sangat kasih kepada kita. Cuma kita sebagai hambaNya, adakala tidak mampu bertahan dan bersabar dalam menghadapi ujianNya.

Hakikatnya saat ini, saat kita sedang mengecapi bahagia, ada berjuta manusia di luar sana yang sedang dihujani ujian atau dihimpit pelbagai derita. Ada di kalangan  manusia di luar sana yang saat ini sedang diuji dengan kehilangan orang tersayang. Tidak kurang juga ada manusia yang diuji apabila apa yang diingini dan diharapkan tidak terjadi dan diberi.

“ Kenapa aku yang diuji ? “
“ Mengapa aku diuji sebegini ?”
“ Ujian ini sangat berat. Aku tak mampu…”

Mungkin ini adalah antara persoalan dan keluhan yang meniti di bibir atau berlegar di fikiran kita sebagai seorang hamba saat dihimpit dengan secebis ujian. Kadangkala  tanpa sedar dan niat  kita juga  terlanjur marah pada DIA kerana menghujani kita dengan pelbagai ujian.

Tetapi, apabila kita menenangkan diri dan bermuhasabah  kembali, tenyata sebenarnya dengan ujian yang diberi kita adalah hamba yang beruntung . Mengapa saya katakan begitu? Kerana ujian hanyalah diberi oleh Allah kepada hamba-hambanya yang terpilih. Hamba-hambanya yang dikasihi dan disayangiNya. Dan jangan kita lupa bersama ujian itu juga ada pertolongan dari Allah sepertimana yang dinyatakan di dalam Al-Quran:

Adakah patut kamu menyangka bahawa kamu akan masuk syurga, padahal belum sampai kepada kamu (ujian dan cubaan) seperti yang telah berlaku kepada orang-orang yang terdahulu sebelum kamu? mereka telah ditimpa kepapaan (kemusnahan harta benda) dan serangan penyakit, serta digoncangkan (dengan ancaman bahaya musuh), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman yang ada bersamanya: “Bilakah (datangnya) pertolongan Allah?” Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat (asalkan kamu bersabar dan berpegang teguh kepada agama Allah). ( Al-Baqarah: 214)

Sebagai manusia biasa, kita pastinya tidak akan mampu menjangka bilakah ujian itu akan muncul tiba. Walaubagaimanapun, jika kita mengetahuinya, apalah kudrat kita sebagai seorang hamba yang kerdil lagi penuh dosa untuk menolak ujian-ujian yang bakal menyapa  itu. Jika direnungkan kembali, kita semua pastinya pernah dan akan ditimpa ujian dari yang Maha Esa, tetapi saat ujian itu tiba, mampukah kita menjadi manusia yang bersyukur dengan ujian itu dan memandangnya sebagai hadiah pemberian Allah?

Manusia itu sifatnya pelupa, Ada masanya dalam melayari kehidupan di dunia, kita lalai dan leka pada hakikat yang nyata bahwa kita hanyalah hamba DIA yang Esa. Jadi apakah sebenarnya yang mampu membangkitkan manusia dari kelalaian dan kealpaan ini? UJIAN. Ya, Ujian. Ujian atau mehnah yang menjengah dalam kehidupan kita itulah sebenarnya yang mampu mengejutkan kita dari mimpi dunia yang panjang.

Allah Tuhan yang Maha Mengetahui. Mungkin tanpa ujian-ujian dan dugaan yang dikirimkan khas oleh DIA untuk kita, kita masih lagi menjadi seorang hamba yang hanyut dan lemas dalam lautan kelalaian. Apa yang paling utama sebenarnya adalah “ hadiah ” itu dikirimkan oleh Allah bertujuan untuk menilai sejauh mana keimanan kita terhadapNya sepertimana yang dijelaskannya di dalam Al-Quran:

Patutkah manusia menyangka bahawa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata: “Kami beriman”, sedang mereka tidak diuji (dengan sesuatu cubaan)? (Al-Ankabut: 2)
Justeru, marilah kita sama-sama bermuhasabah dan menilai kembali segala prasangka buruk yang mungkin pernah bermain di fikiran kita saat kita diuji. Inilah saatnya bagi kita, saya dan anda yang sedang membaca, merubah fikiran kita dan mula memandang ujian-ujian yang telah dan akan kita lalui sebagai sebuah ‘ hadiah’ dari Allah dan bukan lagi satu bebanan. Apabila kita benar-benar menyedari hakikat ini, maka kita akan menjadi seorang hamba yang bersyukur dengan segala ujian yang diberi.

Pembaca yang dikasihi oleh Allah,

Jika anda saat ini sedang diuji, ingin saya sampaikan sesungguhnya bersyukur dan berbahagialah anda kerana
UJIAN  itu HADIAH  dari  ALLAH

Nur Hafizah Binti Mohd Saleh


JIWANG2 TU JUGA KURNIAAN ALLAH...TAPI BIARLAH MENGIKUT SYARIATNYA




































Rabu, 1 April 2015

GST...GASAK SAMPAI TEMBAM@GST....BAGI RAKYAT.... GASAK SAMPAI TEMPANG@GST












Kad prabayar sepatutnya tak kena GST
  • Kad prabayar sepatutnya tak kena GST Antara gambar yang dikongsi di laman Facebook
1 / 1
SHAH ALAM - Walaupun perlaksanaan cukai barang dan perkhidmatan (GST) yang bermula hari ini belum sampai 24 jam, namun telah banyak reaksi negatif mengenainya telah diluahkan menerusi laman-laman sosial.

Ini termasuk rasa tidak berpuas hati pengguna dengan tindakan pengusaha syarikat telekomunikasi yang mengenakan GST terhadap kad tambah nilai prabayar walaupun ia sepatutnya dikecualikan GST.

Antara komen-komen di laman Facebook ialah  "aku beli top up RM10 kena tambah lagi 60 sen menyusahkan aku.

" Aku baru sahaja topup.. Memang kena GST... kata seorang pengguna Facebook.

Sementara itu seorang Timbalan Menteri Kewangan dalam twitternya berkata, berlaku salah faham di antara syarikat telco dengan kerajaan.

"Surat kastam telah dihantar kepada syarikat telco tentang top-up prabayar sebelum ini. Tindakan susulan akan segera diambil agar diikuti arahan harganya", tulisnya.

Bermula hari ini, Malaysia menjadi negara kelapan dalam kalangan 10 negara Asean yang melaksanakan GST.

GST berkadar enam peratus menggantikan cukai jualan dan perkhidmatan (SST) sebanyak 16 peratus yang diguna pakai selama ini, merupakan kadar terendah dalam kalangan negara Asean.








Hari Tiada Satu Pun Rahsia Tersembunyi - Ustaz Shamsuri Hj AhmadFirman Allah berkaitan keadaan semasa ditiup sangkakala kali pertama.. menandakan berlakunya hari kiamat.. Menggerunkan..~ Tujuan dihidupkan semula semua manusia~ Saat dimana bukit dan gunung-ganang dihancurkan~ Malaikat mula berdiri ditepi langit..~ Peluang menghadap raja~ Perhitungan dihadapan Allah..
Posted by Zonkuliah on Wednesday, 1 April 2015



YANG DITOLAK DAN YANG DITERIMA...YANG BANYAK DISOALKAN DAN SIKIT2 SAJA DISOALKAN...YANG SUSAH DITERIMA DAN YANG SENANG DITERIMA...YANG NAK CARI SYURGA DAN YANG SEOLAH2 NAK CARI NERAKA..YANG SATU GULUNGAN NI TAK TAHU NAK KATA...NAK BEBAS...TAK PENDULI...LANTAK KAU LAH..ABANG2 HENSEM DAN ADIK2 MANIS FIKIRLAH METALITI JENIS APA....TAKUT PEJAM MATA TAK SEMPAT BERTAUBAT

ZAKAT DIKUTIP DAN DICARI JIKA TAK BAYAR...KELUARKAN NAS QURAN DAN HADIS TUNJUK WAJIBNYA DAN  KEPENTINGAN....GITU JUGA HAJI...SEBAB DAPAT HASIL@UNTUNG....HUDUD MACAM2 ALASAN...NI BUKAN BANYAK CEKADAK DENGAN MANUSIA TAPI DENGAN ALLAH MEMANG NAK TEMPAH MAUT



Ayuh fahami apa itu hudud
SEKARANG ini ramai bercakap dan berbahas mengenai hudud lebih berasaskan sentimen mahupun semangat semata-mata. Hari Jumaat minggu lalu, penulis berpeluang sembang santai dengan beberapa anak muda mengenai hudud.

Daripada air muka dan riak percakapan jelas terpampang wajah semangat dan keikhlasan anak-anak muda ini mahukan hukum syariah ditegakkan. Namun apabila ditanya berapa jenis hukuman jenayah di bawah hudud, mereka ragu-ragu lantas memberikan seribu satu jenis hukuman.

Tidak salah tanggapan awal penulis betapa ramai sebenarnya masih keliru, bahkan tidak memahami apa sebenarnya hukum hudud.

Penulis titipkan secara ringkas - hudud merupakan perkataan Arab yang bererti sekatan, penghalang, batasan, atau pemisah. Ia adalah kata jamak (plural) dari perkataan had.

Berasaskan pengertian ini, jika dikatakan hukuman had ke atas pencuri, ia bermaksud hukuman yang dapat cegah dan jadi pengajaran kepada orang itu daripada terus melakukannya.

Hudud juga boleh dikaitkan dengan batasan-batasan hukum ALLAH  berkenaan halal atau haram yang perlu dipatuhi oleh umat Islam dan tidak melampaui batasan hukum-hakam tersebut sebagaimana firman ALLAH dalam Surah al-Baqarah : 229.

Hudud, salah satu daripada tiga bentuk kesalahan atau hukuman selain qisas dan takzir yang terdapat dalam Hukum Jenayah Syariah.

Di bawah hukuman hudud ini, terdapat enam atau tujuh bentuk jenayah. Pertama ialah kesalahan mencuri, sebagaimana firman ALLAH dalam Surah al-Maidah : 38

“Dan orang lelaki yang mencuri dan orang perempuan yang mencuri, maka (hukumnya) potonglah tangan mereka sebagai satu balasan dengan sebab apa yang mereka telah usahakan, (juga sebagai) suatu hukuman pencegah daripada ALLAH. Dan (ingatlah) ALLAH Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.”

Kedua, jenayah merompak, sebagaimana firman ALLAH dalam Surah al-Maidah:33 “Hanyasanya balasan orang-orang yang memerangi ALLAH dan Rasul-Nya serta melakukan bencana kerosakan di muka bumi ialah dengan dibalas bunuh (kalau mereka membunuh sahaja dengan tidak merampas), atau dipalang (kalau mereka membunuh dan merampas), atau dipotong tangan dan kaki mereka bersilang (kalau mereka merampas sahaja), atau dibuang negeri (kalau mereka hanya mengganggu ketenteraman umum). Hukuman demikian itu adalah suatu kehinaan di dunia bagi mereka, dan di akhirat kelak mereka beroleh azab seksa yang amat besar.”

Ketiga, jenayah zina, sebagaimana firman ALLAH dalam Surah an-Nur: 2 “Perempuan yang berzina dan lelaki yang berzina, hendaklah kamu sebat tiap-tiap seorang daripada keduanya seratus kali sebat, dan janganlah kamu dipengaruhi oleh perasaan belas kasihan terhadap keduanya dalam menjalankan hukum agama ALLAH, jika benar kamu beriman kepada ALLAH dan hari akhirat, dan hendaklah disaksikan hukuman seksa yang dikenakan kepada mereka itu oleh sekumpulan daripada orang yang beriman.”

Keempat pula jenayah menuduh zina (qazaf), sebagaimana firman ALLAH dalam Surah an-Nur: 4 “Dan orang-orang yang melemparkan tuduhan (zina) kepada perempuan yang terpelihara kehormatannya, kemudian mereka tidak membawakan empat orang saksi, maka sebatlah mereka lapan puluh kali sebat, dan janganlah kamu menerima penyaksian mereka itu selama-lamanya, kerana mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Kelima, kesalahan minum arak sebagaimana hadis Riwayat Imam Bukhari Daripada as-Saib Bin Yazid berkata: “Apabila peminum arak dibawa kepada kami di zaman Rasulullah SAW, zaman pemerintahan Abu Bakar, dan di permulaan pemerintahan Umar, kami memukulnya dengan tangan, kasut, dan serban.

Di akhir pemerintahan Umar, mereka dirotan 40 kali. Sehinggalah perbuatan itu berlaku semakin menjadi-jadi dan melampaui batas, lalu mereka dirotan sebanyak 80 kali”.
Keenam, murtad, sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari: “Sesiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah dia”.

Perkara ketujuh yang menjadi khilaf ulama adalah bughah atau memberontak iaitu keluar daripada mematuhi pemerintah secara kekerasan, sebagaimana firman ALLAH dalam Surah al-Hujurat: 9 “Dan jika dua puak daripada orang-orang yang beriman berperang, maka damaikanlah di antara keduanya.

Jika salah satunya berlaku zalim terhadap yang lain, maka lawanlah puak yang zalim itu sehingga ia kembali mematuhi perintah ALLAH. Jika ia kembali patuh, maka damaikanlah di antara keduanya dengan adil (menurut hukum ALLAH), serta berlaku adillah kamu (dalam segala perkara), sesungguhnya ALLAH mengasihi orang-orang yang berlaku adil”.

Komponen jenayah syariah lain termasuk qisas. Di bawah hukuman qisas, terdapat hukuman bagi membunuh dan mencederakan anggota badan. Namun apabila syarat-syarat untuk dijatuhkan hukuman hudud dan qisas tidak dapat dipenuhi, maka hukuman itu beralih kepada hukuman takzir.

Termasuk dalam hukuman takzir ini juga apa sahaja hukuman selain hudud dan qisas, seperti berkhalwat antara lelaki dan perempuan, berpakaian tidak senonoh, saman lalu-lintas, tidak solat Jumaat, tidak berpuasa Ramadan, dan sebagainya. Hukuman Takzir ini tidak ditentukan secara khusus oleh syarak, tetapi tertakluk kepada apa yang dirasakan perlu oleh hakim atau pemerintah berasaskan maslahah atau kepentingan awam.

Dengan kata lain hudud hanyalah sebahagian daripada jenayah syariah yang melibatkan kesalahan jenayah seperti zina, qazaf (menuduh zina), minum arak, mencuri, merompak dan murtad.




Apa arti puasa " ( shaum )? 

Apa arti " shaum " dalam bahasa Arab?
Jawaban:
Makna puasa dalam bahasa Arab adalah '' shaum '' dan'' '' Siyam . Kata " shaum " berarti " untuk menjauhkan diri dari sesuatu, menahan diri , untuk mencegah diri dalam bahasa Arab .
Dalam istilah fikih, itu berarti " untuk menjauhkan diri dari makan , minum dan hubungan suami-istri ( jima ) antara suami dan istri dari fajar sampai matahari terbenam ( maghrib ) dengan sadar dan dengan mencari tujuan .

Kapan saya harus berniat untuk puasa Ramadhan ?
Bagaimana saya bisa terus berpuasa ketika saya tidak bisa bangun untuk sahur ? Kapan saya harus melafazkan niat( niyyah) saya?
Jawaban :
Jika seseorang tidak bisa bangun untuk sahur , dia harus berniat  untuk berpuasa sebelum siang
Menurut mazhab Syafi'i , jika itu adalah puasa wajib , niat harus dilakukan pada malam hari , tidak boleh ditunda sampai pagi hari . Jika tidak, harus meng-qodho puasa(mengganti) setelah eid .
Namun , menurut Hanafi, niat dapat dilakukan baik di malam hari maupun di pagi hari ( sampai siang ) untuk Ramadhan , nafila (puasa sunanah) dan puasa nazar .
Sehubungan dengan hal ini Ibnu Hajar  mengatakan bahwa ketika seorang Muslim Syafi'i lupa untuk berniat puasa di malam hari untuk puasa Ramadhan , ia bisa mengikuti  mazhab Hanafi untuk kasus ini dan berniatsebelum siang . hal ini dibolehkan  karena pentingnya puasa Ramadhan . Nabi kita yang tercinta ( saw ) menyatakan bahwa " Jika seseorang membatalkan puasanya bahkan hanya untuk satu hari di bulan Ramadhan tanpa uzur (halangan) atau tanpa sakit , maka jika ia berpuasa selama sisa hidupnya dia tidak bisa menggantikan puasa itu . " ( Bukhari )
Menurut mazhab Maliki ,  sudah cukup untuk berniat pada awal bulan Ramadhan . Niati tidak perlu diulangi  setiap malam .
Jadi , bagi kaum Muslim Syafi'i dan Hanafi , lebih baik untuk mengucapkan niat mereka pada awal Ramadan , karena , jika mereka lupa untuk berniat untuk satu hari , puasanya akantetap sah menurut mazhab Maliki . ( Ensiklopedia Fiqih Islam ) dengan demikian , puasa mereka tidak batal  Ramadhan hanya karena lupa atau terlambat untuk niat .

Oleh karena itu , puasa orang yang terlambat untuk sahur akan berlaku selama ia tidak makan apa-apa dan berniat sebelum siang .

Zakat - Apa itu Zakat, Nisab dan Cara Pengiraannya

July 15, 2013 by Fathihah Roslee in Cukai & Pendapatan,

Apa itu zakat? 


Zakat merupakan salah satu daripada lima rukun Islam dan wajib dilaksanakan oleh semua umat Islam. Di Malaysia, sesiapa yang tidak menunaikan zakat dengan sengaja akan dikenakan denda atau dimasukkan ke dalam penjara (di bawah undang-undang Enakmen Jenayah Syariah setiap negeri). Jadi umat Islam sekalian, tunaikan kewajipan anda!
Zakat wajib dibayar oleh umat Islam sahaja dan dikira mengikut pendapatan masing-masing. Zakat tidak hanya dibayar dalam bentuk wang, malah dalam sesetengah kes (untuk petani, dsb) zakat boleh ditunaikan dengan memberi hasil tanaman dan ternakan! Zakat di Malaysia diletakkan di bawah undang-undang negeri, dan setiap negeri menggunakan cara pengiraan yang berbeza bagi menentukan jumlah zakat yang perlu dibayar.

Syarat-syarat Zakat (serta beberapa definisi)

Zakat tidak semestinya perlu dibayar oleh setiap umat Islam kerana bayaran zakat ditentukan berdasarkan jumlah harta atau pendapatan seseorang. Sama seperti cukai pendapatan, zakat hanya wajib ditunaikan apabila seseorang itu telah mencapai jumlah harta milikan yang tertentu. Jika anda telah melepasi syarat-syarat ini, anda perlu membayar zakat.

Islam

Hanya mereka yang beragama Islam sahaja layak untuk menunaikan Zakat Fitrah dan Zakat Harta setiap tahun.

Nisab

Apa itu nisab?

Nisab adalah jumlah minima harta yang perlu seseorang Islam miliki sebelum dia diwajibkan membayar zakat. Nisab juga merupakan kayu ukur yang menentukan kewajipan terhadap seseorang untuk menunaikan zakat. Sebagai contoh, nisab yang ditentukan di Selangor untuk tahun 2013 ialah RM14,065.00 (seperti yang tertera di laman web Lembaga Zakat Selangor). Oleh itu, jika anda tinggal di Selangor dan pendapatan (yang layak dizakatkan) anda melebihi RM14,065, anda harus membayar zakat.
Kadar Nisab untuk Zakat
Secara amnya, kadar nisab zakat harta dinilai bersamaan dengan harga emas seberat 85 gram.
Kadar Nisab untuk Zakat di Malaysia
Di Malaysia, kadar nisab adalah di antara RM13,000 dan RM15,000 bergantung pada negeri yang anda tinggal. Jadual di bawah menunjukkan harga emas seberat 85 gram bagi setiap negeri di Malaysia:



Pengertian Faraid & Cara Pembahagiannya

Pengertian Faraid

Perkataan Faraid dari segi bahasa mempunyai maksud yang banyak. Antaranya ialah menentukan, memastikan, menghalalkan dan mewajibkan. Menurut istilah syarak, Faraid adalah pembahagian harta seorang Islam yang telah meninggal dunia sama ada beliau meninggalkan wasiat atau tidak sebelum kematiannya. Maka harta peninggalannya akan dibahagikan kepada ahli warisnya (seperti  anak, isteri, suami, ibu, dll), menurut hukum Islam. Harta yang dibahagikan kepada ahli waris adalah baki harta yang ditinggalkan setelah ditolak segala pembiayaan pengurusan jenazah, hutang pewaris (zakat, nazar, dll) dan wasiat yang dibenarkan oleh syarak (tidak melebihi 1/3 dari jumlah harta). Bentuk harta yang boleh dibahagikan secara Faraid ialah:
  1. Tanah
  2. Bangunan (rumah).
  3. Barang kemas (emas, perak dll).
  4. Insurans dan Wang tunai (sama ada dilaburkan atau tidak).
  5. Binatang ternakan seperti kambing, lembu, unta, kerbau dll.

Cara Pengambilan Harta Pusaka

Jalan untuk melakukan pembahagian pusaka ialah dengan terlebih dahulu meneliti siapakah di antara waris yang berhak menerima pusaka dengan jalan Ashabul-Furud, kemudian dicari siapakah yang Mahjud, barulah bakinya diberikan kepada yang berhak menerima Asabah.
1.  Ashabul-Furud
Golongan ini mengambil pusaka menurut bahagian yang telah ditetapkan oleh syarak iaitu sama ada 1/2, 1/3, 1/4, 2/3, 1/6 atau 1/8. Mereka terdiri daripada isteri atau suami, ibu atau nenek, bapa atau datuk, anak perempuan atau cucu perempuan, saudara perempuan kandung, saudara perempuan sebapa dan saudara seibu.
2. Asabah
Merupakan golongan yang akan terima baki setelah semua golongan (1) mendapat  bahagian golongan asabah.  Terdapat 3 jenis asabah iaitu:
(a)  Asabah Binafsih
Pembahagian pusaka dengan jalan menghabisi semua harta, atau mengambil semua sisa untuk sekelian orang lelaki, tidak bersebab atau beserta orang lain. Mereka terdiri daripada 12 orang lelaki iaitu bapa, datuk, anak lelaki, cucu lelaki anak lelaki, saudara lelaki kandung,  saudara lelaki sebapa, anak lelaki saudara lelaki kandung, anak lelaki saudara lelaki sebapa, bapa saudara kandung, bapa saudara sebapa, anak lelaki bapa sudara kandung dan anak lelaki bapa saudara sebapa.
(b)  Asabah Bil Ghoir
Pembahagian pusaka dengan jalan menghabiskan semua harta, atau pengambilan  semua baki untuk semua perempuan dengan sebab adanya orang lelaki lain. Terdiri daripada 4 orang iaitu: anak perempuan atau lelaki, cucu perempuan atau lelaki, saudara kandung perempuan atau lelaki, saudara sebapa atau lelaki perempuan.
(c)  Asabah Maal Ghoir
Pembahagian pusaka dengan jalan menghabisi semua harta, atau mengambil semua sisa untuk sekelian orang perempuan sebab beserta orang perempuan lain. Terdiri daripada 2 orang perempuan iaitu: saudara perempuan kandung  dan saudara perempuan sebapa (berkongsi dengan anak atau cucu perempuan).
3. Dhawil-Arham
Golongan ini akan menggantikan golongan (1) dan (2) setelah kedua-duanya tiada kecuali suami atau isteri tidak menghalang golongan ini mengambil bahagian harta. Tetapi biasanya golongan ini akan terhalang menerima harta. Keadaan ini disebut hijab iaitu dinding yang menjadi penghalang seseorang daripada ahli waris untuk menerima pusaka kerana masih ada ahli waris yang masih dekat hubungan kekeluargaannya dengan simati.  Terdapat 4 golongan Dhawil-Arham (masih ada hubungan kerabat) iaitu: golongan datuk dan nenek, golongan cucu dan cicit  (anak dari cucu), golongan anak saudara dari saudara perempuan dan golongan bapa saudara atau emak saudara atau saudara lelaki atau perempuan ibu. Manakala hijab yang telah disebutkan tadi terdiri daripada 2 jenis iaitu:
Hijab Nuqshon dan Hijab Hirman.
(a) Hijab Nuqshon
Terhalang dengan mengurangi pembahagian ahli waris dari menerima pembahagian  Ashabul-Furud yang lebih banyak menjadi lebih sedikit, kerana masih ada ahli waris  lain yang bersama-samanya.  Seperti suami dari menerima setengah menjadi seperempat kerana ada anak atau cucu.
(b) Hijab Hirman
Terhalang dengan tidak menerima pembahagian pusaka sama sekali kerana masih terdapat ahli waris yang lebih dekat hubungannya dengan yang mati yang lebih berhak untuk menerima harta pusaka. Misalnya saudara lelaki sebapa terhalang kerana adanya saudara lelaki kandung dan datuk terhalang sebab adanya bapa.
===
SUMBER:   Laman web Islam, USM.  Boleh merujuk ke laman web ini untuk maklumat lanjut dan cara pengiraannya.


BAB I Pengertian Haji dan Umrah Serta Keutamaannya

Di dalamnya terdapat delapan pembahasan :
Pembahasan Pertama : Pengertian Haji dan Umrah
Haji secara etimologi adalah berkunjung. Adapun secara terminologi adalah mengunjungi Baitul Haram dengan amalan tertentu, pada waktu  tertentu.
Adapun umrah secara etimologi adalah berkunjung. Sedangkan secara terminologi adalah mengunjungi Baitul Haram dengan amalan tertentu.
Pembahasan Kedua : Keutamaan Haji dan Umrah
Haji merupakan syiar yang agung dan ibadah yang mulia, dengannya seorang hamba akan mendapatkan rahmat dan berkah yang menjadikan setiap orang muslim sangat rindu untuk segera melaksanakannya.
Sesungguhnya haji merupakan jalan menuju syurga dan membebaskan diri dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ اِلاَّ الْجَنَّةَ
“ Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali syurga. “ (HR. Bukhari dan Muslim)
Haji dapat melebur dosa dan menghilangkan dampak maksiat dan perbutan jelek, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam :
مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Barang siapa yang hendak berhaji, dan tidak melakukan senggama (diwaktu terlarang) dan tidak berbuat fasiq (maksiat), maka ia akan kembali dari dosa-dosanya seperti saat ia dilahirkan oleh ibunya”.  (HR Bukhari dan Muslim )
Ibadah haji sebagaimana bisa membawa kepada kejayaan di akhirat, begitu juga bisa menyelamatkan dari kefakiran, sebagaimana hadist Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ
“Laksanakanlah haji dan umrah, karena keduanya menghapus kefakiran dan dosa sebagaimana api menghilangkan karat dari besi.” (HR. Tirmidzi  )
Seorang muslim jika melaksanakan ibadah haji, maka dia telah masuk dalam katagori jihad. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Aisyah ra bahwa beliau bertanya Nabi saw :
هَلْ عَلَى المَرْأةِ مِنْ جِهَادٍ, فَقَالَ عَلَيْكُنَّ جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيْهِ الْحَجُّ
“Apakah wanita itu wajib berjihad ? Maka beliau bersabda : “ Kalian  wajib berjihad yang tidak pakai perang, yaitu haji.”
Oleh karena itu, saya ucapkan selamat bagi yang  sangat rindu hatinya untuk mengerjakan ibadah haji dengan membawa bekal, meninggalkan keluarga dan negaranya, menjadi tamu Allah Yang Maha Pengasih, seraya memakai ihram, mengucapkan talbiyah, berdiri, berdo’a, berdzikir dan beribadah.
Pembahasan Ketiga : Kewajiban Haji Dan Umrah Hanya Sekali Seumur Hidup
Haji merupakan salah satu dari ibadah-ibadah faridhah yang agung dan salah satu rukunnya yang lima.  Hal itu berdasarkan sabda Nabi saw :
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقاَمِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ
“Islam dibangun di atas lima perkara yaitu syahadat laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji” ( HR Bukhari dan Muslim )
Seorang muslim wajib melaksanakan ibadah haji dan umrah sekali seumur hidup sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dari hadist Abu Hurairah berkata :
خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا. فَقَالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ. ثُمَّ قَالَ: ذَرُوْنِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ
“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami, beliau berkata: “Wahai sekalian manusia, sungguh Allah telah mewajibkan bagi kalian haji maka berhajilah kalian!” Seseorang berkata: “Apakah setiap tahun, ya Rasulullah?” Beliau terdiam sehingga orang tersebut mengulangi ucapannya tiga kali. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Kalau aku katakan ya, niscaya akan wajib bagi kalian dan kalian tidak akan sanggup.” Kemudian beliau berkata: “Biarkanlah apa yang aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya orang sebelum kalian telah binasa karena mereka banyak bertanya yang tidak diperlukan dan menyelisihi nabi-nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian maka lakukanlah sesuai dengan kesanggupan kalian. Dan bila aku melarang kalian dari s esuatu maka tinggalkanlah.”
Begitu juga seorang muslim wajib melaksanakan ibadah umrah sekali dalam hidupnya, Allah swt berfirman :
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah” (QS. Al Baqarah : 196)
Ibnu Abbas Berkata : Sesungguhnya umrah disebutkan bersama  haji di dalam kitab Allah, oleh karena itu, sebagaimana haji hukumnya wajib, maka umrahpun hukumnya wajib.
Pembahasan Keempat : Syarat-syarat Kewajiban Haji dan Umrah
Haji diwajibkan kepada :
  1. Seorang muslim, maka tidak diwajibkan kepada orang kafir, karena haji merupakan bentuk ibadah, sedang ibadah tidak boleh dilakukan oleh orang kafir, karena tidak sah niatnya
  2. Aqil (berakal)
  3. Baligh, haji tidak diwajibkan kepada orang gila dan orang  yang kurang waras pikirannya, begitu juga tidak diwajibkan kepada anak kecil, sebagaimana hadist Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi saw bersabda :
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّبيِ حَتَّى يبلغ وَعَنْ الْمَعْتُوهِ حَتَّى يَعْقِلَ
“Pena itu diangkat dari tiga golongan: orang tidur hingga terbangun, anak kecil hingga ia baligh, dan orang gila (kurang sehat akalnya) hingga ia berakal” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Nasai)
  1. Merdeka, haji tidak diwajibkan kepada hamba sahaya sebagai kemudahan baginya, karena dia sibuk melayani tuannya, dan karena haji  membutuhkan harta sedangkan hamba sahaya tidak mempunyai harta.
  2. Mampu, haji tidak wajib bagi orang yang tidak mampu, Allah swt berfirman :
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS. Ali Imran : 97)
Jika anak kecil melaksanakan ibadah haji, maka hajinya sah, dia dan walinya akan mendapatkan pahala, sebagaimana di dalam hadist :
عَنْ كُرَيْبٍ أَنَّ امْرَأَةً رَفَعَتْ صَبِيًّا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِهَذَا حَجٌّ قَالَ نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ
"Dari Kuraib bahwasanya; Ada seorang wanita yang sedang menggendong anaknya dan berkata, "Apakah bagi anak ini juga memiliki keharusan haji?" beliau menjawab: "Ya, dan kamu juga menjadapkan ganjaran pahala." (HR. Muslim)
Adapun caranya adalah wali dari anak kecil tersebut berniat haji untuknya. Ini dilakukan ketika membayar ongkos haji. Maksud seorang wali mewakili niat haji untuknya adalah wali tersebut ketika membayar ongkos haji diniatkan untuk ibadah haji anak kecil tersebut. Kecuali kalau anak kecil itu sudah mumayiz, maka dia boleh berniat sendiri untuk melakukan ihram dengan izin walinya. Walaupun begitu, kewajiban ibadah haji tidak gugur darinya, maka ketika dia sudah dewasa, dia wajib melaksanakan ibadah haji lagi.
Pembahasan Kelima : Kriteria Mampu
Kemampuan dalam melaksanakan ibadah haji bisa diukur dengan hal-hal sebagai berikut :
  1. Dikatakan mampu melaksanakan ibadah haji,  karena badannya sehat, sebagaimana hadist Ibnu Abbas :
أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمَ قَالَتْ: يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّ أَبِي أَدْرَكَتْهُ فَرِيْضَةُ الْحَجِّ شَيْخًا كَبِيْرًا لاَ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَسْتَوِىَ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: حُجِّى عَنْهُ
“Bahwasanya seorang wanita dari Khats’am berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku telah diwajibkan untuk melaksanakan ibadah haji disaat dia telah tua renta, dia tidak mampu untuk tetap bertahan diatas kendaraan, apakah aku melaksanakan haji untuk mewakilinya?’ Beliau menjawab: 'Lakukankah haji untuk (mewakilinya)” ( HR Bukhari dan Muslim )
2.  Mempunyai harta yang melebihi dari kebutuhan pokoknya, seperti kebutuhan untuk menafkahi istri dan anak-anaknya, uang sewa rumah, modal dagangannya yang menjadi sumber penghasilannya, seperti toko yang dari labanya dia bisa hidup dan bisa memenuhi kebutuhannya.

  1. Tidak mempunyai hutang, karena barang siapa yang mempunyai hutang, tidaklah ada kewajiban haji baginya, karena membayar hutang merupakan kebutuhan dasar dan merupakan hak manusia yang pada dasarnya harus dipenuhi dan tidak bisa ditolerir.

Hutang yang berjangka hukumnya seperti hutang yang jatuh tempo, karena yang berhutang sama-sama dikatakan tidak mampu. Tetapi jika dia percaya bisa mencari harta untuk membayarnya, seperi kredit yang dibayar secara teratur dan dipotong dari gaji bulanannya atau dipotong dari upah kerja ketrampilan atau sejenisnya, maka hal ini tidak menghalanginya untuk melaksanakan ibadah haji sesudah dapat izin dari orang yang dihutanginya.

  1. Dia harus mempunyai sesuatu yang bisa mengantarkannya ke kota Mekkah, tentunya disesuaikan dengan keadaannya. Misalnya  dari kendaraan seperti mobil, kapal, dan pesawat, atau dari  makanan,m, minuman serta tempat tinggal yang sesuai dengan keadaannya, sebagaimana hadist Anas ra, beliau berkata :
قِيلَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ, مَا اَلسَّبِيلُ ؟ قَالَ: اَلزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ
“Ada seseorang yang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah sabil (jalan) itu? beliau bersabda: “Bekal dan kendaraan” (HR. Daruquthni dan dishahihkan Hakim)
Jika tidak mampu, seseorang tidak diharuskan membebani diri sendiri dengan menjual rumah, atau sawahnya yang merupakan sumber mata pencahariannya, atau dari sawah itu dia memberikan nafkah kepada keluarganya.

Barang siapa yang tidak bisa haji karena antrian di dalam mendapatkan visa, maka dia dihukumi sebagai orang yang tidak mampu, seperti orang yang dipenjara dan sejenisnya.

Orang tua tidak boleh melarang anaknya untuk pergi melaksanakan ibadah haji yang wajib, berdasarkan hadist yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan dimarfu’kan kepada Nabi saw :
لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
"Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam bermaksiat kepada Allah 'azza wajalla." (HR. Ahmad)

Seorang anak hendaknya meminta keridhaan orang tuanya  ketika hendak melaksanakan ibadah haji. Begitu juga seorang suami tidak boleh melarang istrinya untuk pergi haji, karena haji hukumnya wajib, sedang kedua orang tua dan suami tidak mempunyai hak untuk melarang sesuatu yang wajib, walaupun begitu mereka berdua berhak untuk melarang anak dan istrinya untuk melaksanakan ibadah haji yang sunnah.

Pembahasan  Keenam : Bersegera Melaksanakan Ibadah Haji
Barang siapa yang mendapatkan dirinya mampu melaksanakan ibadah haji, dan telah terpenuhi syarat-syaratnya, maka wajib baginya untuk segera melaksanakan ibadah haji, tidak boleh diundur-undur lagi. Allah swt berfirman :
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
”Berlomba-lombalah kalian dalam mengerjakan kebaikan” (QS. Al Baqarah : 148)
Hal itu, karena kewajiban itu sudah ada dipundaknya, dan sesungguhnya dia tidak mengetahui barangkali di masa mendatang keberangkatan hajinya bisa saja terhalangi dengan sakit, atau jatuh miskin atau bahkan datangnya kematian. Sebagaimana dalam hadist Ibnu Abbas :
تَعَجَّلُوا إِلَى الْحَجِّ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي مَا يَعْرِضُ لَهُ
“Bersegeralah melaksanakan ibadah haji ( yaitu haji yang wajib) karena kalian tidak tahu apa yang akan di hadapinya (HR. Ahmad dan Baihaqi)
Telah diriwayatkan dari Sa’id bin Manshur dan Hasan bahwa Umar ra berkata:
لَقَدْ هَمَمْتُ أنْ أبْعَثَ رِجَالاً إلَى هذِهِ الأَمْصَارِ فَيَنْظُرُوْا كُلَّ مَنْ كَانَ لَهُ جَدَّةٌ وَلَمْ يَحُجَّ لِيَضْرِبُوْا عَلَيْهِمُ الْجِزْيَةَ مَا هُمْ بِمُسْلِمِيْنَ مَاهُمْ بِمُسْلِمِيْنَ
“Aku bertekad mengutus beberapa orang menuju wilayah-wilayah untuk meneliti siapa yang memiliki kecukupan harta namun tidak menunaikan ibadah haji agar diwajibkan atas mereka membayar jizyah. Mereka bukanlah umat Islam ! mereka bukanlah umat Islam !”
Tidaklah pantas seseorang yang mempunyai kemampuan, untuk mengundur-undur pelaksanakan ibadah haji, karena jika dia masih muda dan terus-menerus dalam maksiat, maka hal ini merupakan bisikan syetan yang menghalanginya untuk berbuat kebaikan. Dan telah diterangkan di atas tentang kewajiban seseorang untuk segera melaksanakan ibadah haji. Dan selayaknya orang yang sudah melaksankan ibadah haji, baik ketika masih kecil, atau sudah tua, untuk selalu berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk.
Adapun syarat haji bagi perempuan  adalah adanya muhrim jika memang jaraknya di atas 80 km dari Mekkah. Adapun yang dimaksud muhrim adalah suami atau laki-laki yang haram untuk menikahinya selama-lamanya, karena hubungan nasab (darah) atau karena sebab lain yang mubah, jika memang laki-laki tersebut baligh dan berakal. Hal itu berdasarkan hadist Abu Hurairah bahwasanya nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda  :
لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ
“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk safar sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahramnya.” (HR Bukhari dan Muslim )
Jika perempuan melakukan ibadah haji tanpa muhrim, maka hajinya tetap sah, tetapi dia berdosa karena melanggar larangan. Jika dia pergi  haji bersama rombongan perempuan dan aman dari fitnah, maka mereka itu diangap muhrimnya.
Adapun  perempuan yang tinggal di Mekkah dan sekitarnya yang jaraknya dengan Mekkah tidak lebih dari jarak dibolehkannya sholat qashar, maka muhrim bukanlah syarat didalam melaksanakan ibadah haji.



Pembahasan Ketujuh : Hukum Orang Yang Tidak Mampu Haji dan Menjadi Wakil Untuknya

Barangsiapa yang tidak mampu melaksanakan haji sendiri, karena sakit atau sudah lanjut usia, sehingga kesulitan untuk menaiki kendaran atau kesulitan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat  yang lain dalam ibadah haji, maka dia boleh mencari orang yang mampu mewakilinya,  jika hal itu bisa dilakukannya. Sebagaimana hadist Ibnu Abbas :
أنّ اِمْرَأَةٌ مَنْ خَثْعَمَ قَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ, إِنَّ فَرِيضَةَ اَللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي اَلْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا, لَا يَثْبُتُ عَلَى اَلرَّاحِلَةِ, أَفَأَحُجُّ عَنْهُ? قَالَ: نَعَمْ
“Sesungguhnya seorang perempuan dari Kats’am berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya haji yang diwajibkan Allah atas hamba-Nya itu turun ketika ayahku sudah tua bangka, tidak mampu duduk di atas kendaraan. Bolehkah aku berhaji untuknya? Beliau menjawab: “Ya Boleh.” ( HR Bukhari dan Muslim )
Dan disyaratkan bagi yang mewakili haji, bahwa dia sudah pernah melaksanakan ibadah haji. Hal ini sesuai dengan hadist :
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ قَالَ مَنْ شُبْرُمَةُ قَالَ أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي قَالَ حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ قَالَ لَا قَالَ حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ
“Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shalla Allahu 'alaihi wa sallam mendengar seseorang mengucapkan; Labbaika 'An Syubrumah (ya Allah, aku memenuhi seruan-Mu untuk Syubrumah), beliau bertanya: "Siapakah Syubrumah tersebut?" Dia menjawab; saudaraku! Atau kerabatku! Beliau bertanya: "Apakah engkau telah melaksanakan haji untuk dirimu sendiri?" Dia menjawab; belum! Beliau berkata: "Laksanakan haji untuk dirimu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah." (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan hadist ini dishahihkan Ibnu Hibban)

Yang mewakili hendaknya berangkat dari kota tempat tinggal orang yang diwakilinya, seorang laki-laki boleh mewakili perempuan dan sebaliknya perempuan boleh mewakili laki-laki.

          Jika yang berhalangan tadi kemudian menjadi mampu, maka tidak wajib baginya melaksanakan ibadah haji lagi, karena dia telah mengerjakan apa–apa yang diperintahkan kepadanya, sehingga tidak diwajibkan mengulanginya.

Yang mewakilinya berhak mengambil biaya haji darinya, dan jika dia mengambil lebih dari biaya yang dibutuhkan maka hal itu dibolehkan.

  1. Adapun jika dia sudah mati, maka tidak apa-apa seorang wakil menghajikannya secara cuma-cuma tanpa seijinnya.    

Pembahasan Kedelapan : Adab-adab Haji
Selayaknya bagi yang melakukan ibadah haji, untuk memperhatikan adab-adab di bawah ini :

  1. Mengikhlaskan niat di dalam ibadah haji.
Seyogyanya bagi yang ingin melaksankan ibadah haji, sebelum meninggalkan rumahnya, untuk menghadirkan niat bahwa dia keluar melaksanakan ibadah haji hanya karena Allah semata, dengan mengharap pahala dari-Nya, bukan mengharap untuk diberi gelar pak haji, atau agar orang sekitarnya melihat bahwa dirinya pergi haji dan pergi ke Mekkah, sebagaimana hadist Umat bahwasanya nabi shallallahu ‘alahi wassalam bersabda :
 إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
"Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan" (HR Bukhari dan Muslim )
Artinya barang siapa yang hajinya diniatkan karena Allah dan benar-benar dilaksanakan karena-Nya, maka akan mendapatkan pahala di sisi Allah.

  1. Mempelajari hukum-hukum tentang haji
Seyogyanya bagi yang ingin pergi haji untuk mempelajari hukum-hukum terkait dengan haji dan serta mengikuti nabi dalam melaksanakan ibadah haji secara keseluruhan, baik perkataan dan perbuatannya. Hal itu sesuai dengan hadist Jabir bahwasanya nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
لِتَأْخُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ
“Hendaknya kalian mengambil manasik haji kalian dariku” (HR. Muslim)
Ini bisa terlaksana dengan mempelajari hukum-hukum terkait dengan haji serta membaca buku yang lebih terperinci. Kemudian memperbanyak di dalam menela’ahnya sehingga dia bisa melaksanakan ibadah haji ini dengan lebih sempurna dan lebih sesuai dengan sunnah. Begitu juga hendaknya dia menghadiri kajian-kajian yang membahas tentang haji, sehingga dari kajian-kajian tersebut akan diketahui hukum-hukum haji dan tata cara pelaksanaannya.
Hendaknya dalam perjalanan hajinya dia mencari  orang-orang yang mulia, mempunyai sopan-santun dan berakhlaq baik, yaitu dengan cara memilih travel yang sudah terkenal profesional, melaksanakan kewajibannya,  membantu orang-orang yang ikut dengannya untuk bisa melaksanakan ibadah haji dengan sebaik-baiknya.
Hendaknya mencari seorang penuntut ilmu untuk menyertai rombongan haji, karena amalan-amalan haji tidak cukup hanya berbekal pengetahuan saja, tetapi perlu ada seorang ulama yang berusaha mengamalkan sunnah dan mengetahui tentang hukum-hukum haji. Jika tidak didapatkan seorang ulama atau penuntut ilmu, maka paling tidak ada orang yang pernah melaksankan haji yang berusaha untuk menyempurnakan ibadah haji ini.
  1. Menghindari dari para penganggur dan orang-orang yang suka bermain-main. Yaitu orang-orang yang jika bergaul dengan mereka akan menyebabkan terjatuh di dalam maksiat, membuang-buang waktu dan banyak ngobrol.
  2. Menghindari dari ahli bid’ah dan khurafat yang sering memalingkan dari beribadah dan berdo’a kepada Allah kepada berdo’a kepada selain-Nya serta lebih memilih untuk mencari bangunan–bangunan dari peninggalan bersejarah untuk mengusap-usapnya dan mengusap-usap Ka’bah serta Maqam Ibrahim yang sering menyebabkan pertengkaran, padahal mestinya mereka menunaikan ibadah haji ini dengan baik
  3. Hendaknya berusaha untuk ekonomis di dalam berbelanja dan jangan berlebih-lebihan serta membebani diri di dalam hidupmu dan dalam perjalanan hajimu. Serta jangan berbangga-bangga dengan kehidupan yang serba hedonis di dalam melaksanakan ibadah haji.
  4. Jauhilah hal-hal yang melengahkan, seperti menonton chanel-chanel Televisi yang berisi hiburan-hiburan, atau mendengarkan musik dan hal-hal lain yang termasuk katagori maksiat.
  5. Berusaha untuk menerapkan akhlaq yang baik selama perjalanan, dan selama pelaksanaan ibadah haji, serta berusaha untuk melawan hawa nafsu untuk mewujudkan hal itu, sehingga temanmu menjadi rela untuk bersamamu. Dan hendaknya anda bisa bersabar untuk menjauhi dari permusuhan dan perkelahian yang sering timbul pada saat melakukan perjalanan dan pada saat terjadinya desak-desakan.
  6. Selalu berdzikir dengan dzikir pagi dan petang, dan berdo’a ketika keluar rumah dan ketika hendak melakukan perjalanan. Hendaknya dia berdo’a ketika keluar rumah, sebagaimana di dalam hadist Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam jika keluar rumah beliau berdo’a :
بِسْمِ اللهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. َاللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ.
“Dengan nama Allah. Aku bertawakkal kepadaNya dan tiada daya dan upaya kecuali karena pertolongan Allah. Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu jangan sampai aku sesat atau disesatkan, berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya, berbuat bodoh atau dibodohi”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dengan sanad shahih)
Kemudian dilanjutkan dengan do’a safar :
بسم الله الحمد لله سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي اْلأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَاْلأَهْلِ. وَإِذَا رَجَعَ قَالَهُنَّ وَزَادَ فِيْهِنَّ: آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ.
“Dengan menyebut nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedang sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat). Ya Allah! Sesungguhnya kami memohon kebaikan dan taqwa dalam bepergian ini, kami mohon perbuatan yang meridhakanMu. Ya Allah! Permudahlah perjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah! Engkaulah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan perubahan yang jelek dalam harta dan keluarga.” Apabila kembali, doa di atas dibaca, dan ditambah: “Kami kembali dengan bertaubat, tetap beribadah dan selalu memuji kepada Tuhan kami.” (HR. Muslim dari hadist Ibnu Umar)
Jika jalan sedang menanjak hendaknya dia mengucapkan : “ Allahu Akbar ” , jika dia menuruni lembah  atau tempat yang rendah, hendaknya mengucapkan : “ Subhanallah “ , ini berdasarkan hadist Jabir :
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا
“Dari Jabir bin 'Abdullah radhiyallahu 'anhuma berkata: "Apabila kami berjalan mendaki (naik), kami bertakbir dan apabila menuruni jalan kami bertasbih” (HR. Bukhari)
 Hendaknya dia jangan lupa untuk selalu berdzikir ketika berpindah-pindah tempat, dan untuk selalu mengulangi hafalan al Qur’annya dan untuk selalu melaksanakan sholat witir walaupun sedang berada di atas kendaran atau di atas pesawat terbang, karena sholat nafilah boleh dilakukan oleh muafir di atas kendaraannya.
  1. Hendaknya dia membawa bekal lebih jika dia termasuk orang yang mampu, sehingga bisa membantu temannya dan berbuat baik kepadanya, sebagaimana di dalam hadist :
والله فِيْ عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أخِيْهِ
 "Sesungguhnya Allah senantiasa menolong hambaNya, selama hamba tersebut menolong saudaranya" (HR. Muslim dari hadist Abu Hurairah )
Hendaknya dia bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan dan orang-orang yang kehabisan bekal perjalanan.
Hendaknya dia menjadikan bekal haji dari hartanya yang terbaik , karena sesungguhnya Allah adalah baik dan tidaklah menerima kecuali yang baik juga.

  1. Hendaknya dia selalu menjaga kewajiban-kewajiban syari’ah. Seorang musafir harus tetap menjaga sholat dan bersuci serta kewajiban-kewajiban yang lain, dan jangan bermalas-malas untuk mengerjakan itu semua tepat pada waktunya.
Dia hendaknya meng-qashar sholat dan menjama’nya jika hal itu dibutuhkan, karena dia sedang melakukan perjalanan atau sedang istirahat, maka membutuhkan untuk menjama’ sholatnya karena kecapaian atau mengantuk.
  1. Hal ini berdasarkan hadist bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda  :
السَّفَرُ قِطْعًةُ مِنَ العَذَابِ يَمْنَعُ اَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ فَاِذَاقَضَى اَحَدُكُمْ نهمته مِنْ سَفَرِهِ فَلْيُعَجِّلْ اِلَى اَهْلِهِ ‎
          “Bepergian itu adalah sepotong dari adzab, (karena) ia menghalangi seseorang daripada kamu tentang makanannya, minumannya dan tidurnya. (Oleh karena itu) apabila salah seorang dari kamu telah menyelesaikan keperluannya dari kepergiannya, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya” (HR. Muslim dari hadist Abu Hurairah)
  1. Jika dalam perjalanan pulang dia melewati jalan yang menanjak hendaknya mengucapkan  :
اَللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اَكْبَرُ, لاَاِلهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشِرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ, ايِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ, صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ, وَهَزَمَ اْلاَ حْزَابَ وَحْدَهُ
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan kecuali Allah, dzat yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kepunyaan-Nyalah segala kekuasaan dan segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kami kembali bertaubat serta kami menyembah kepada Tuhan kami , seraya kami memuji-Mu. Allah menetapi pada janji-Nya, menolong hamba-Nya, serta mampu (memporak porandakan) pasukan Ahzab dengan sendiri”.
          Sesungguhnya Nabi saw mengucapkan do’a tersebut dalam perjalanan pulang dari haji atau jihad, sebagaimana dalam hadist Ibnu Umar yang disebutkan Imam Malik dalam kitab al Muwattha’ dalam riwayat Muhammad bin Hasan.
Hendaknya dia jangan mengagetkan keluarganya pada waktu malam, tetapi memberitahu terlebih dahulu tentang waktu kedatangannya, atau hendaknya dia datang pada waktu pagi atau sore saja. Bersabda Nabi shallallahu ‘alahi wassalam :
كَيْ تَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ وَتَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ
“Berilah kesempatan kepada keluarga kalian untuk bersiap-siap dan berhias (untuk menyambut kedatangan kalian)." (Hr Bukhari dan Muslim dari hadist Jabir)
Dan hendaknya dia menuju masjid terlebih dahulu jika sudah sampai, untuk melakukan sholat dua reka’at. Karena sesungguhnya perbuatan ini merupakan sunnah nabi  yang pertama kali beliau laksanakan ketika sampai di kotanya.


Rukun & Syarat Sah Nikah

Rukun nikah
  1. Pengantin lelaki (Suami)
  2. Pengantin perempuan (Isteri)
  3. Wali
  4. Dua orang saksi lelaki
  5. Ijab dan kabul (akad nikah)
   * singkatan S.I.S.W.A.
Syarat Sah Nikah
Syarat bakal suami
  • Islam
  • Lelaki yang tertentu
  • Bukan lelaki mahram dengan bakal isteri
  • Mengetahui wali yang sebenar bagi akad nikah tersebut
  • Bukan dalam ihram haji atau umrah
  • Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan
  • Tidak mempunyai empat orang isteri yang sah dalam satu masa
  • Mengetahui bahawa perempuan yang hendak dikahwini adalah sah dijadikan isteri
Syarat bakal isteri
  • Islam
  • Perempuan yang tertentu
  • Bukan perempuan mahram dengan bakal suami
  • Bukan seorang khunsa
  • Bukan dalam ihram haji atau umrah
  • Tidak dalam idah
  • Bukan isteri orang
Syarat wali
  • Islam, bukan kafir dan murtad
  • Lelaki dan bukannya perempuan
  • Baligh
  • Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan
  • Bukan dalam ihram haji atau umrah
  • Tidak fasik
  • Tidak cacat akal fikiran,gila, terlalu tua dan sebagainya
  • Merdeka
  • Tidak ditahan kuasanya daripada membelanjakan hartanya
* Sebaiknya bakal isteri perlulah memastikan syarat WAJIB menjadi wali. Sekiranya syarat wali bercanggah seperti di atas maka tidak sahlah sebuah pernikahan itu. Sebagai seorang mukmin yang sejati, kita hendaklah menitik beratkan hal-hal yang wajib seperti ini. Jika tidak di ambil kira, kita akan hidup di lembah zina selamanya.
Syarat-syarat saksi
  • Sekurang-kurangya dua orang
  • Islam
  • Berakal
  • Baligh
  • Lelaki
  • Memahami kandungan lafaz ijab dan qabul
  • Dapat mendengar, melihat dan bercakap
  • Adil (Tidak melakukan dosa-dosa besar dan tidak berterusan melakukan dosa-dosa kecil)
  • Merdeka
Syarat ijab
  • Pernikahan nikah ini hendaklah tepat
  • Tidak boleh menggunakan perkataan sindiran
  • Diucapkan oleh wali atau wakilnya
  • Tidak diikatkan dengan tempoh waktu seperti mutaah(nikah kontrak e.g.perkahwinan(ikatan suami isteri) yang sah dalam tempoh tertentu seperti yang dijanjikan dalam persetujuan nikah muataah)
  • Tidak secara taklik(tiada sebutan prasyarat sewaktu ijab dilafazkan)
* Contoh bacaan Ijab:Wali/wakil Wali berkata kepada bakal suami:"Aku nikahkan/kahwinkan engkau dengan Diana Binti Daniel dengan mas kahwinnya/bayaran perkahwinannya sebanyak RM 3000 tunai".
Syarat qabul
  • Ucapan mestilah sesuai dengan ucapan ijab
  • Tiada perkataan sindiran
  • Dilafazkan oleh bakal suami atau wakilnya (atas sebab-sebab tertentu)
  • Tidak diikatkan dengan tempoh waktu seperti mutaah(seperti nikah kontrak)
  • Tidak secara taklik(tiada sebutan prasyarat sewaktu qabul dilafazkan)
  • Menyebut nama bakal isteri
  • Tidak diselangi dengan perkataan lain
* Contoh sebutan qabul(akan dilafazkan oleh bakal suami):"Aku terima nikah/perkahwinanku dengan Diana Binti Daniel dengan mas kahwinnya/bayaran perkahwinannya sebanyak RM 3000 tunai" ATAU "Aku terima Diana Binti Daniel sebagai isteriku".

Apa beza antara mahkamah (undang-undang) sivil dan syariah di Malaysia?
Apakah yang dimaksudkan dengan undang-undang syariah (sepertimana yang diamalkan di negara kita)?
Dalam Perundangan - Ditanya oleh Hasanah bt Ismail - ahun lalu
Tags:  syariah sivil
Jawaban
Accepted Answer
Ramai di kalangan kita mengetahui akan wujudnya undang-undang Syariah di negara kita yang pada dasarnya dijalankan prosidingnya oleh Mahkamah Syariah. Namun ramai yang menyangka bahawa undang-undang Syariah itu hanya bersangkutan dengan perkara-perkara Munakahat semata-mata iaitu nikah-kahwin, cerai-rujuk, hak-hak barkaitan selepas perceraian untuk orang-orang Islam dan tidak lebih dari itu.
Adakah undang-undang Syariah itu hanya mencakupi bidang yang terbatas sebagaimana sangkaan ramai orang? Untuk mengetahui jawapannya dengan lebih lanjut, marilah kita semua berlapang dada dan minda untuk membaca dan memahami maksud sebenar undang-undang Syariah, yang sebenarnya sangat luas dan menyeluruh baik dari segi pengertiannya mahupun amalan dan perlaksanaannya.
Undang-undang Syariah adalah undang-undang yang bukan ciptaan manusia bahkan ia merupakan undang-undang dari Pencipta iaitu Allah S.w.t yang diperturunkan menerusi Rasul-Nya. Syariah dari segi bahasa membawa maksud “Jalan yang Lurus” sebagaimana Firman Allah S.w.t di dalam Al-Quran,“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu jalan yang lurus (Syariah) maka hendaklah kamu mengikutnya. Dan jangan sekali-kali mengikuti nafsu mereka yang tidak mengetahui” (Al-Quran 45:18) Antara maksudnya juga ialah sebagai ‘saluran air yang mengalir yang menjadi sumber minuman’.
Ahli-ahli perundangan Islam yang terdiri dari Ulama’-ulama’ Muktabar kemudiannya meluaskan lagi definisi Syariah ini daripada maksud jalan yang lurus tadi iaitu meliputi segala hukum-hakam yang diatur oleh Allah S.w.t kepada umat manusia. Syariah Islam adalah merupakan hukum-hukum perundangan Allah yang termaktub di dalam sumber perundangan utama bagi umat Islam iaitu Al-Quran dan Sunnah Rasulullah S.a.w. Sumber perundangan kedua iaitu hasil ijtimak para Ulama’ termasuk Ijma’, Qiyas, Istihsan, Mursalah Mursoleh dan sebagainya yang berasaskan Quran dan Sunnah juga termasuk di dalam sumber perundangan Syariah. Undang-undang Syariah ini adalah sebagai pengatur hidup manusia yang perlu berlandaskan segala Perintah dan Larangan dari Allah sebagai Pencipta kepada kita, makhluk dan hamba-Nya.
Undang-undang Syariah ini sesuai dengan fitrah semulajadi kita tidak kira tempat dan masa. Tujuannya diperturunkan dan disyariatkan tidak lain adalah untuk kita manusia beriman dan beramal dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Firman Allah S.w.t lagi :
“Dan tidaklah patut bagi lelaki yang mukmin dan juga bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan Rasulnya telah menetapkan sesuatu ketetapan akan ada pula pilihan yang lain dari mereka”
Justeru itu, undang-undang Syariah ini jelas meliputi seluruh kehidupan kita manusia iaitu dalam bidang Ibadah, Muamalat (urusan perniagaan), Munakahat (urusan perkahwinan), Wasiat dan Perwarisan, Jenayah, Pemerintahan, Perhubungan manusia dan lain-lain lagi. Allah S.w.t menetapkan undang-undang ini untuk menjaga Maqasid Al-Syariah (maksud-maksud Syariah) itu sendiri iaitu lima (5) perkara yang sangat penting yang perlu dititikberatkan dalam kehidupan umat manusia seperti :-
1) Menjaga Agama
Agama sangat perlu dititikberatkan dan dipertahankan dalam kehidupan manusia sejagat. Dengan agama iaitu memurnikan sepenuh ketaatan kepada Allah S.w.t, kita manusia menjadi sebaik-baik makhluk yang mulia di sisi Allah S.w.t. Justeru itu orang Islam dilarang sama-sekali menukar agama atau murtad kerana ini bermakna engkar dan derhaka kepada Allah yang Mencipta dan sesiapa yang engkar sedemikian rupa adalah halal darahnya di sisi Allah (dihukum bunuh).
2) Menjaga Nyawa
Nyawa adalah hak dan pemberian Allah dan bukan milik kita manusia. Orang Islam dilarang keras membunuh diri sendiri apatah lagi membunuh orang lain. Membunuh diri sendiri adalah termasuk dalam dosa besar manakala membunuh orang di dalam Islam akan dikenakan hukum Qisas iaitu bunuh balas melainkan jika dimaafkan oleh waris yang kena bunuh, maka Diyat (bayaran hutang darah) perlu diberikan.
3) Menjaga Akal
Umat Islam perlu bersih akal dan mindanya dari perkara-perkara yang boleh menyebabkan terjerumus ke dalam maksiat. Hanya orang yang waras akalnya akan tunduk kepada Perintah Allah dan menjauhi Larangan-Nya. Oleh itu sebarang minuman arak yang memabukkan adalah Haram di sisi orang Islam dan orang Islam yang meminum minuman yang memabukkan ini boleh dihukum sebat dengan lapan puluh (80) kali sebatan.
4) Menjaga Keturunan
Islam sangat menitikberatkan hubungan sesama manusia untuk meneruskan kelangsungan sebagai Khalifah di muka bumi. Institusi perkahwinan adalah satu-satunya jalan yang diredhai Allah dan menerusinya manusia melahirkan zuriat-zuriat yang sah dan suci. Islam tidak mengiktiraf sebarang hubungan di luar perkahwinan untuk maksud melahirkan keturunan. Zina merupakan satu dosa besar dan Allah memerintahkan agar penzina dihukum berat dengan direjam bagi yang telah berkahwin dan dihukum sebat seratus (100) kali bagi yang bujang.
5) Menjaga Harta
Harta yang diberikan oleh Allah S.w.t juga perlu dijaga dengan baik. Memperolehinya juga perlu dengan jalan yang baik, syarak dan tidak melanggar hokum Allah. Dari harta yang baik inilah datangnya rezeki yang baik dan halal untuk keluarga, dapat diinfaq, sedekah dan dikeluarkan zakat. Islam menetapkan agar orang-orang yang memperolehi harta dengan jalan fasik seperti mencuri, menyamun dan merompak hak orang lain akan dijatuhkan hukuman yang berat iaitu dipotong tangan atau kakinya.
Bagi orang-orang yang melanggar hukum Allah yang bersangkutan dengan lima perkara Maqasid Al-Syariah di atas, maka mereka akan dihukum dengan hukuman Hudud manakala bagi kesalahan-kesalahan yang lain hukuman dan perlaksanaannya adalah di bawah Hukum Takzir. Maka jelas kepada kita bahawa sebenarnya undang-undang Syariah ini sangat luas pengertiannya, sangat berkait rapat dengan kita bahkan meliputi segenap ruang-lingkup kehidupan kita seharian. Dari parkara-perkara asas berkaitan hukum-hakam yang menentukan halal-haramnya sesuatu perkara kepada kita umat Islam kepada perkara-perkara lain yang relevan dalam hidup kita semuanya terkandung di dalam perundangan Syariah.

Namun dari segi perlaksanaan, kita di Malaysia adalah tertakluk dan menerimapakai Undang-undang Perlembagaan Malaysia yang menjadi teras dan dasar perundangan utama. Tidak dapat dinafikan bahawa undang-undang Syariah di Malaysia hanya terbatas setakat beberapa perkara terutamanya hal-hal Munakahat orang-orang Islam dan perkara-perkara yang bersangkutan dengannya. Itupun setelah diberikan sedikit ruang dengan adanya pindaan terhadap Perkara 121 Perlembagaan Malaysia dengan menambah Fasal (1A) Perkara 121 tersebut pada tahun 1988. Sebelum 1988, semua perkara berkaitan adalah boleh juga dibicarakan di bawah bidang kuasa Undang-undang Sivil dan selalunya memberikan satu keputusan yang bercanggah kerana penghakiman tersebut dibuat berdasarkan undang-undang sivil. Perkara 121 (1A) antara lain menyebut: “Mahkamah-mahkamah yang disebutkan dalam Fasal 1 {Perkara 121 (1) iaitu Mahkamah-mahkamah Tinggi Malaya dan Sabah dan Sarawak} tidak mempunyai bidang kuasa berkenaan dengan apa-apa perkara yang di dalam bidang kuasa Mahkamah Syariah”
Dengan pindaan tersebut, maka perkara-perkara di bawah bidang kuasa Mahkamah Syariah adalah tertakluk sepenuhnya di bawah bidang kuasanya sendiri dan hak eksklusif yang diberikan tersebut tidak memungkinkan Mahkamah Sivil campur tangan. Enakmen-enakmen Negeri di Malaysia telah menentukan perkara-perkara berikut menjadi bidang kuasa Mahkamah Syariah sepenuhnya, iaitu :-
1. PERKARA-PERKARA MAL (SIVIL) MAHKAMAH SYARIAH
a) Pertunangan, nikah cerai, membatalkan nikah atau perceraian atau pembubaran nikah kehakiman.
b) Tuntutan ke atas hartabenda atau pemberian harta benda yang berbangkit daripada perkara (a) di atas.
c) Nafkah orang-orang di bawah tanggungan, anak yang sah, penjagaan atau pemeliharaan anak-anak.
d) Pemberian inter-vivos, harta sepencarian, wakaf atau nazar
e) Perkara lain yang diberi kuasa tadbir kepadanya oleh mana-mana undang-undang yang berkanun.
2. PERKARA-PERKARA JENAYAH MAHKAMAH SYARIAH
a) Kesalahan-kesalahan matrimoni seperti menganiaya isteri dan tidak taat kepada suami.
b) Kesalahan-kesalahan berhubungan dengan hubungan tidah sah di sisi syarak seperti persetubuhan haram, sumbang mahram pelacuran dan khalwat
c) Kesalahan-kesalahan berkaitan dengan aspek ibadah dan iman seperti tidak sembahyang Jumaat, tidak berpuasa dan tidak membayar zakat dan fitrah
d) Kesalahan-kesalahan menjual dan membeli minuman keras
e) Kesalahan berhubung dengan pertukaran agama iaitu tidak melaporkan, mendaftar masuk atau keluar dari agama Islam dan kesalahan berkaitan pengambilan anak angkat.
f) Lain-lain jenis kesalahan selain daripada kategori di atas.

Jika dilihat dari segi perlaksanaan perundangan Syariah di Malaysia, boleh dikatakan bahawa perlaksanaannya masih terbatas dan belum menyeluruh. Kesalahan-kesalahan yang disifatkan sebagai dosa besar dan/atau maksiat di sisi syarak seperti meminum arak, terlibat dalam persetubuhan haram seperti zina dan pelacuran dan sebagainya diberikan hukuman yang ringan dan tidak memadai. Perkara-perkara bejat dan tidak bermoral yang berlaku dikalangan orang-orang Islam perlu dibendung mengikut perundangan Syariah yang sebenarnya, sesuai dengan statusnya sebagai perundangan yang bersifat fitrah dan maha adil, juga untuk memastikan orang-orang Islam tunduk dan patuh hanya kepada Yang Maha Pencipta. Mahkamah-mahkamah Syariah di seluruh negara juga berdepan dengan isu perlaksanaan kuasa yang tidak selaras dan seragam.
Walaubagaimanapun, kita berdoa dan berharap agar kelemahan dan kekurangan perlaksanaan dalam perundangan Syariah di negara kita dapat dipertingkatkan dari masa ke semasa. Hakikat ini mampu kita capai sekiranya semua pihak terutama masyarakat Islam seluruhnya (bukan hanya penggerak dan kakitangan Mahkamah Syariah sahaja) mempunyai kefahaman yang jelas tentang perundangan Syariah yang sesungguhnya bukan ciptaan manusia. Marilah kita sama-sama meningkatkan kesedaran, pengetahuan dan kefahaman kita terhadap perundangan Syariah dan suatu masa nanti semoga perundangan Syariah di negara kita dapat dimartabatkan sebagai satu sistem perundangan yang unggul bagi kita semua khususnya yang beragama Islam.