Khamis, 1 Mac 2012

JANGAN TANYA MENGAPA...SEBAB APA...KENAPA BEGINI...FIKIRLAH SENDIRI..SAPE BODOH DAN SAPE DIPERBODOHKAN....

Timbalan Presiden Bukan Islam?

Nasruddin Hassan, 01 Mac 2012
Dalil larangan syara' terhadap perlantikan orang bukan Islam dalam kepimpinan jamaah Islam atau ahli mesyuarat utama dan tetap

1. Larangan mengambil “Bithanah” dari kalangan orang bukan Islam
Firman Allah;
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil bithanah (teman kepercayaanmu) dari orang-orang yang bukan dari kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya”.

(Ali Imran: 118)

Apa makna Bithanah dalam ayat di atas? Dalam Tafsir Pimpinan ar-Rahman, bithanah diterjemahkan sebagai “orang dalam” (yang dipercayai).

Menurut Tafsir al-Jalalain; Bithanah ialah; orang-orang terpilih yang didedahkan rahsia kaum muslimin kepada mereka.

Menurut Imam ar-Raghib al-Asfahani dalam kitabnya al-Mufradaat; Bithanatan” maknanya; “Orang-orang yang (mempunyai kedudukan) khusus bagi kamu di mana ia mengetahui secara dalaman urusan-urusan kamu”.

Berdasarkan huraian Said Hawa, termasuk juga dalam pengertian Bithanah ialah; al-istisyarah (iaitu meminta pandangan atau pendapat)[1], al-Istinshah (iaitu meminta nasihat), menjadi penyimpan rahsia dan teman rapat”.[2]

Adapun pengertian “min dunikum” (orang-orang yang bukan dari kalangan kamu), menurut Imam Ibnu Kathir; “orang-orang dari agama selain kamu (yakni orang-orang bukan Islam)”.

Menurut Tafsir al-Jalalain; “Orang-orang yang bukan dari kamu (kaum muslimin) iaitu Yahudi, Nasara dan munafik”. [3]
Lebih jelas, Syeikh Said Hawa menerangkan dalam al-Asas fi at-Tafsir; Firman Allah “Min Dunikum” termasuk dalam pengertiannya sekelian penganut agama-agama (selain Islam), orang-orang mulhid dan munafik, serta juga orang yang tergolong dalam ucapan Rasulullah “Laisa minna” (bukan dari kalangan kami)…..[4]

Beliau menjelaskan lagi; “Maksud pertama bagi yang demikian itu (yakni “orang-orang yang bukan dari kalangan kamu”) ialah orang-orang kafir ahli Kitab (yakni Yahudi dan Nasara). Jika begitu, maka orang-orang kafir lainnya sudah tentunya lebih utama untuk kita berhati-hati dan (lagipun) tegahan dalam ayat tersebut adalah bersifat umum.

Maka asas tegahan tersebut ialah ketidakharusan mengambil bithanah dari orang-orang yang bukan dari kalangan kita dan termasuk di dalam pengertiannya orang-orang kafir sekeliannya sama ada ahli kitab (yakni Yahudi dan Nasara), orang-orang Musyrikin, mulhid serta orang-orang munafik kerana mereka bukan dari kalangan kita….

dan sebagai ihtiyat (*yakni mengambil pendirian yang lebih berhati-hati) kita memasukkan juga dalam pengertiannya orang-orang orang yang dinafikan oleh Rasulullah bahawa ia tergolong dari kalangan kita (yakni kaum muslimin) seperti sabda baginda;

من غشنا فليس منا
“Sesiapa yang menipu kami maka ia bukan dari kami”

من رغب عن سنتي فليس مني

“Sesiapa yang berpaling dari sunnahku, ia bukan dari kalanganku”

من لم يهتم بأمر المسلمين فليس منهم
“Sesiapa tidak mengambil berat urusan kaum muslimin, maka dia bukan dari kalangan mereka”.

ليس منا من دعا إلى عصبية، وليس منا من قاتل على عصبية، وليس منا من مات على عصبية
“Bukan dari kalangan kami seorang yang mengajak kepada ‘Asabiyyah, bukan dari kalangan kami seorang yang berperang di atas dasar ‘Asabiyyah”.

Beliau (yakni Syeikh Said Hawa) menegaskan; “Orang-orang seumpama mereka hendaklah kita berhati-hati/berjaga-jaga. Maka janganlah kita menjadikan mereka orang-orang yang khusus bagi kita dan janganlah kita mendedahkan rahsia-rahsia kita kepada mereka, mendedahkan kejelikan/keburukan kita (yakni menceritakan masalah-masalah dalaman), menceritakan perancangan-perancangan kita dan bermesyuarat dengan mereka dalam masalah-masalah kita…”5]

2. Larangan memberikan wala' kepada orang bukan Islam

Allah tidak melarang kaum muslimin untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang bukan Islam sebagaimana firmanNya;
Namun wala' tidak diizinkan Allah untuk diberikan melainkan kepada orang mukmin sahaja. Berbuat baik kepada orang bukan Islam dan berlaku adil kepada mereka tidak harus dicampur adukkan dengan wala'. Al-Birr wa al-Adl adalah hak untuk semua manusia tanpa mengira agama dan pegangan hidup. Adapun wala' hanya khusus untuk orang yang seaqidah sahaja.

Apa maksud wala'? Dan apa yang terkandung dalam skop wala'?

Di antara ayat Allah yang menyentuh tentang walak ialah;

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)”.

(Ali Imran: 28)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?”.

(an-Nisa’: 144)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil untuk menjadi wali-wali kamu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman”.

(al-Maidah; 57).

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَاوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُوا وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.

(al-Anfal: 72)

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

(at-Taubah: 71)

Ayat-ayat di atas menegas satu perkara kepada kita iaitu; larangan menjadikan orang-orang bukan Islam sama ada ahli Kitab (yakni orang-orang Yahudi dan Nasara/Kristian) atau penganut-penganut agama lainnya sebagai wali-wali kita, atau dalam pengertian yang lain, dilarang kita memberi wala’ kita kepada mereka.

Maksud wali secara amnya ialah rakan atau teman khusus yang dipercayai, diberi kesetiaan, diserahkan urusan dan kepimpinan, diambil pandangan atau perdapatnya, diamanahkan menjaga rahsia, diberi pertolongan (tatkala ia memerlukannya) dan dipohon pertolongan darinya (tatkala diperlukan bantuan darinya). Rakan atau teman khusus ini paling utama difahami dalam konteks perjuangan dan jihad kerana ia memiliki implikasi langsung dengan Islam dan masa depan umat Islam.

Syeikh Muhammad as-Shobuni dalam tafsirnya Sofwatu at-Tafasir menghuraikan wala’ kepada orang kafir dengan makna; “Memberi pertolongan kepada mereka, meminta pertolongan dari mereka, bersama-sama mereka dalam saf/barisan dan bergaul-rapat dengan mereka sebagaimana pergaulan dengan kaum muslimin”.[6]

Menurut Syeikh Musthafa al-Khairi; “Terkandung juga dalam makna memberi al-Wala’ kepada orang kafir ialah meminta pertolongan dari mereka dalam peperangan. Sebahagian ulama’ mengharuskannya jika ada keperluan dan diyakini kejujuran mereka…”.[7]

Dalam tafsir al-Qurthubi, Imam al-Qurthubi menaqalkan dari Ibnu Khuwaiz Mindad yang menyatakan; “Ayat ini (*yakni ayat 57 dari surah al-Maidah) sama seperti firman Allah dalam surah al-Maidah (ayat 51) dan Ali Imran (ayat 118) yang terkandung di dalamnya tegahan at-ta’yiid (yakni menguatkan pasukan) dan al-isti’anah (yakni memohon pertolongan/bantuan) dengan orang-orang Musyrikin dan yang seumpama mereka (yakni orang-orang bukan Islam).

Diriwayatkan dari Jabir r.a. yang menceritakan; “Tatkala Rasulullah s.a.w. hendak keluar ke peperangan Uhud, datang satu kumpulan orang Yahudi dan berkata; ‘Kami ingin keluar berperang bersama kamu’. Lalu Rasulullah s.a.w. menjawab; ‘Sesungguhnya kami tidak akan meminta pertolongan dalam urusan kami dari orang-orang Musyrikin”.[8]
Dan lebih tegas lagi, ada sebahagian ulama’ memasukkan juga dalam pengertian memberi wala’ kepada orang kafir; memberi jawatan kepada mereka dalam bidang/skop yang sepatutnya diisi oleh orang Islam seperti mengambil mereka untuk bekerja atau berkhidmat di diwan-diwan (yang merekod dan menjaga maklumat-maklumat dan rahsia Negara).[9]

Hujjah mereka ialah riwayat yang menceritakan celaan Umar terhadap gabenornya di Yaman iaitu Abu Musa al-Asy’ari yang mengambil seorang bukan Islam sebagai pencatat (bagi urusan yang bersangkutan kaum muslimin) dan ia mengarahkan Abu Musa supaya memecatnya.[10] (Sila baca riwayat ini di depan nanti bawah tajuk; Tegahan para sahabat
Sebagai penjelasan akhir bagi wala’ ini, kita memetik ulasan Asy-Syahid Syed Qutb dalam kitab tafsirnya yang terkenal “Fi Dzilalil-Quran”;

Islam tidak menegah orang Islam untuk bermu’amalah (yakni berinteraksi) secara baik dengan orang yang tidak memeranginya kerana agama sekalipun orang itu tidak seagama dengannya. Akan tetapi wala’ adalah suatu yang lain dari bermu’amalah dengan baik itu.[11]

Wala’ adalah irtibath (keterikatan), tanashur (saling bantu-membantu) dan tawaaddu (saling kasih-mengasihi). Wala’ ini tidak wujud dalam hati seorang yang benar-benar beriman kepada Allah melainkan untuk diberikan kepada orang-orang beriman yang mempunyai ikatan dengannya kerana Allah, yang tunduk bersamanya kepada manhaj Allah dalam kehidupan dan yang berhukum kepada kitabNya dengan penuh taat, patuh dan berserah[12]”.

(Fi Dzilalil-Quran, Jil. 1, hlm. 387 (Surah Ali Imran, ayat 28))

3. Larangan Nabi dari melibatkan orang bukan Islam dalam permesyuaratan yang khusus berkait dengan maslahah agama dan kaum muslimin
Sabda Nabi s.a.w.;
لَا تَسْتَضِيئُوا بِنَارِ الْمُشْرِكِينَ

“Janganlah kamu menumpang cahaya orang-orang Musyrik” (Hadis riwayat Imam Ahmad dan an-Nasai dari Anas r.a.).
Menurut Imam Ibnu al-Athir dalam kitabnya an-Nihayah fi Gharibil-Hadith; maksud hadis ini ialah;

أي لا تستَشِيُروهم ولا تأْخُذوا آراءهم، جعل الضوءَ مَثلا للرأي عند الحيرة

“Yakni; janganlah kamu bermesyuarat dengan mereka dan janganlah mengambil pandangan-pandangan mereka. Rasulullah menjadikan cahaya sebagai misalan bagi pandangan/pendapat …”.

Menurut Imam al-Hasan al-Basri, maksud hadis tersebut ialah;[13]Janganlah kamu bermesyuarat dengan orang-orang musyrikin dalam urusan-urusan kamu”. Dalil bagi tafsiran ini menurut beliau ialah firman Allah;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil bithanah (teman kepercayaanmu) dari orang-orang yang bukan dari kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya”. (Ali Imran: 118)

4. Keengganan Rasulullah s.a.w. untuk menerima penyertaan orang kafir dalam saf jihad

Terdapat riwayat-riwayat hadis menceritakan Rasulullah s.a.w. menolak orang kafir dari menyertai jihad/peperangan bersama pasukan baginda meskipun ketika dalam keadaan gawat (seperti dalam peperangan Badar, Uhud dan Ahzab di mana bilangan tentera Islam amat sedikit). Antara riwayat yang dapat kita kemukakan di sini;
1. Imam Muslim meriwayatkan dari Saidatina Aisyah r.a. yang menceritakan; “Semasa Rasulullah sedang berjalan bersama tenteta Islam menuju ke Badar, ketika sampai di Harratil-Wabarah seorang lelaki datang menemui baginda. Lelaki itu dikenali sebagai seorang yang kuat dan berani menyebabkan para sahabat berasa gembira apabila melihat kedatangannya.

Lelaki itu berkata kepada Rasulullah; “Aku datang untuk menyertaimu dan memperolehi habuan rampasan perang bersamamu”. Lalu baginda bertanya kepadanya; “Adakah kamu beriman dengan Allah dan RasulNya”. Ia menjawab; “Tidak”.

Rasulullah lalu berkata kepadanya; “Pulanglah. Sesungguhnya aku sekali-kali tidak akan meminta bantuan dari seorang musyrik (فَارْجِعْ، فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ )”. Saidatina Aisyah r.a. menceritakan lagi; ‘Kemudian Rasulullah meneruskan perjalanannya, hinggalah tatkala kami singgah berhampiran sebuah pokok, lelaki itu datang lagi dan meminta seperti tadi.

Rasulullah juga menjawab sebagaimana tadi; “Pulanglah! Aku sekali-kali tidak akan meminta bantuan dari seorang musyrik”. Rasulullah meneruskan lagi perjalanannnya hingga sampai di al-Baida’. Di situ lelaki tersebut datang lagi dan mengulangi permohonannnya itu. Rasulullah bertanya sekali lagi kepadanya; “Adakah kamu beriman kepada Allah dan RasulNya”. Kali ini ia menjawab; “Ya (saya telah beriman)”. Lalu Rasulullah berkata kepadanya: “Ayuh! Bergeraklah (bersama kami)”.

(Lihat; Soheh Muslim, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, bab Karahati al-Isti’anah fi al-Ghazwi bi kafirin…)
2. Diriwayatkan dari Jabir r.a. yang menceritakan; “Tatkala Rasulullah s.a.w. hendak keluar ke peperangan Uhud, datang satu kumpulan orang Yahudi dan berkata; ‘Kami ingin keluar berperang bersama kamu’. Lalu Rasulullah s.a.w. menjawab; ‘Sesungguhnya kami tidak akan meminta pertolongan dalam urusan kami dari orang-orang Musyrikin”.

(Lihat Riwayat ini dalam; Tafsir al-Qurthub, surah al-Maidah, ayat 57).

3. Ibnu Abbas r.a. menceritakan; seorang sahabat iaitu ‘Ubadah bin as-Shomit r.a. mempunyai rakan-rakan dari kalangan orang Yahudi. Semasa peperangan Ahzab, beliau (yakni Ubadah) berkata kepada Nabi s.a.w.; “Wahai Nabi Allah, saya mempunyai rakan-rakan dari orang Yahudi seramai 500 orang dan saya merasakan perlu untuk mengajak mereka keluar bersama saya untuk memerangi musuh. Lalu Allah menurunkan ayat;
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

“Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min”.

(Ali Imran: 28)

(Rujuk riwayat ini dalam Tafsir al-Qurthubi dan juga Rawai’ul Bayan, Syeikh Muhammad Ali as-Shobuni, jil. 1, hlm. 440).

Perhatikan; jika untuk menjadi tentera biasa telahpun ditolak atau dilarang oleh Nabi, maka bagaimana untuk mengambil mereka (yakni orang-orang bukan Islam) bagi mengisi barisan kepimpinan? Sudah tentu ianya lebih dilarang oleh baginda.

4. Tegahan para sahabat terhadap perlantikan orang bukan Islam untuk jawatan yang berkait urusan kaum muslimin

Dalam Tafsir Ibnu Kathir, terdapat riwayat dari Ibnu Abi Dahqanah yang menceritakan; pada zaman Umar r.a., terdapat seorang budak lelaki dari al-Hirah yang memiliki kepandaian menulis, namun ia tidak Islam. Lalu dicadangkan kepada Umar supaya mengambilnya sebagai penulis Negara. Namun umar menjawab; “Jika aku mengambilnya bermakna aku mengambil orang kepercayaan bukan dari kalangan orang-orang beriman”.[14]

Ibnu Kathir mengulas; Athar dari Saidina Umar ini berserta ayat di atas menjadi dalil bahawa tidak harus mengambil ahli zimmah (yakni orang bukan Islam yang menjadi warganegara daulah Islam) untuk bekerja atau bertugas (sebagai pencatat/penulis atau sebagainya) dalam hal-hal dalaman kaum muslimin kerana dibimbangi mereka akan mendedahnya kepada musuh-musuh Islam. Kerana itu Allah berfirman;
لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ
“…mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu”.[15]

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Iyadh yang menceritakan bahawa Abu Musa al-Asy’ari melantik seorang Nasrani sebagai pencatatnya. Pada suatu hari, atas suatu urusan ia membawa pencatatnya itu berjumpa Umar. Melihat kebolehan pencatat tersebut, Umar berasa takjub dengannya, lalu Umar memintanya untuk membaca suatu surat yang datang dari Syam yang berada di dalam masjid. Namun Abu Musa menjawab; ‘Ia tidak boleh memasuki masjid (wahai Umar)’. Umar bertanya; ‘Apakah ia berjunub?’. Jawab Abu Musa; ‘Bukan, tetapi kerana ia seorang Nasrani’. Umar lalu memarahi Abu Musa dan menampar pahanya. Kemudian Umar membaca firman Allah;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali-wali kamu”. (al-Maidah: 51)

(Lihat riwayat ini dalam Tafsir Ibnu Kathir, surah al-Maidah, ayat 51).

AMALAN RASULULLAH S.A.W. DALAM PENGLIBATAN KERJASAMA DAN PAKATAN DENGAN ORANG BUKAN ISLAM

Menolak perlantikan orang bukan Islam untuk jawatan dalam kepimpinan tertinggi Jamaah tidak bermakna kita menentang segala bentuk pakatan atau kerjasama dengan orang bukan Islam. Jika kita membaca Sirah Nabi –khusus berkenaan interaksi baginda dengan orang bukan Islam- kita akan perhatikan; dalam aspek-aspek tertentu baginda amat bertegas menolak penglibatan orang bukan Islam (iaitu aspek yang berkait dengan bithanah, walak dan sebagainya tadi), namun dalam aspek-aspek lain pula baginda menerima penglibatan mereka, antara contoh yang boleh kita sebutkan ialah;

1. Hilful Fudhul
Nabi pernah bersabda;

لقد شهدتُ في دار عبد الله بن جُدعان حلفاً لو دُعيتُ له في الإسلام لأجبت، تحالفوا أن يردوا الفضول على أهلها، وألاّ يغزوَ ظالمٌ مظلوماً

“Aku pernah menyaksikan suatu perjanjian di rumah Abdullah bin Jud’an yang seandainya sekarang ini (yakni di masa Islam) jika aku diajak untuk ikut serta dalam perjanjian tersebut pasti aku akan ikut. Mereka berjanji untuk mengembalikan semua hak orang yang teraniaya kepada pemiliknya agar orang yang zalim tidak dapat berbuat sewenang-wenangnya kepada orang lemah”

(Riwayat Imam al-Humaidi dalam

Dalam riwayat yang dicatatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra, lafaznya;

لَقَدْ شَهِدْتُ فِى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ حِلْفًا مَا أُحِبُّ أَنَّ لِى بِهِ حُمْرَ النَّعَمِ وَلَوِ أُدْعَى بِهِ فِى الإِسْلاَمِ لأَجَبْتُ

“Sesungguhnya aku pernah menyaksikan satu perjanjian di rumah Abdullah bin Jud’an. Ia lebih aku suka dari unta merah. Jika aku diajak untuk turut sama menyertai persepakatan serupa, nescaya aku akan menyertainya”

(as-Sunan al-Kubra, Imam al-Baihaqi, hadis no. 13461. Riwayat ini dikemukakan oleh Imam al-Mawardi dalam kitabnya; al-Ahkam al-Sultaniyah).

Perjanjian di atas dikenali dengan Halful-Fudhul iaitu satu persepakatan yang dibuat oleh beberapa pemimpin dari pelbagai Kabilah Quraiysh yang berpengaruh di Mekah untuk menuntut hak dan keadilan bagi orang-orang yang ditindas di Mekah.

Perjanjian tersebut berlaku 20 tahun sebelum Nabi Muhammad dilantik menjadi Rasul dan Rasul, iaitu pada zaman Jahiliyah. Perhatikan, bagaimana Rasulullah berhasrat menyertai persepakatan yang baginda sendiri tahu bahawa mereka yang terlibat semuanya bukan Islam. Namun oleh kerana isi persepakatan itu sama dengan apa yang dituntut oleh Islam iaitulah keadilan untuk manusia, maka baginda menyokongnya.

2. Piagam Madinah; Kontrak Sosial

Di antara yang pernah dilakukan oleh Nabi ialah mengadakan Mitsaq al-Madinah (Piagam/Perjanjian Madinah) sebaik baginda tiba di Madinah selepas hijrahnya. Perjanjian/Piagam ini tidak hanya membabitkan orang Islam (Ansar dan Muhajirin), tetapi juga membabitkan orang-orang bukan Islam yang tinggal di Madinah (khususnya golongan Yahudi). Di antara nas yang terkandung dalam piagam tersebut;

“Bahawa orang Yahudi yang menyertai kita mereka mendapat pertolongan dan bimbingan tanpa dizalimi dan tidak boleh ada pakatan yang tidak baik terhadap mereka”

(nas ke 16. Rujukan; Fiqh al-Harakah, Tn Guru Hj Abdul Hadi, jilid 2, halaman 23).

“Bahawa kaum-kaum Yahudi (dari bani Auf, Bani an-Najjar dan sebagainya) adalah satu umat (warganegara) bersama-sama kaum mukminin. Bagi mereka kebebasan menganut agama mereka dan bagi kaum muslimin agama mereka sendiri. Hak ini meliputi orang-orang yang bersekutu dengan mereka dan untuk diri mereka sendiri, kecuali terhadap orang yang berbuat zalim dan melakukan dosa, maka akibat perbuatannya tidak menimpa melainkan dirinya sendiri dan keluarganya”

(nas ke 25, kitab yang sama, halaman 23).

3. Nabi menerima perlindungan dari orang bukan Islam

Kisah yang masyhur ialah; Nabi menerima perlindungan bapa saudaranya Abu Thalib yang tidak pernah masuk Islam, memerintahkan golongan mustadh’afin berhijrah ke Habsyah untuk berlindung di bawah pemerintah Najasyi (seorang raja Kristian yang belum memeluk Islam ketika itu, tetapi terkenal dengan sikap adilnya), baginda menerima perlindungan Mat’am bin ‘Adiy ketika pulang dari Taif dan baginda mengizinkan Abu Bakar untuk menerima perlindungan yang ditawarkan oleh Ibnu Daghnah (seorang pemimpin Mekah yang bersimpati dengan Abu Bakar, tetapi tidak memeluk Islam).

(Rujuk; Fiqh a-Harakah, Tn Guru Hj Hadi, jilid 1, halaman 142-145).

4. Mengadakan perjanjian Hudaibiyah dengan Musyrikin Quraiysh
Berlaku pada tahun ke 6 hijrah (bulan Dzul Qaedah); perjanjian perdamaian di antara Rasulullah dan Quraiysh Mekah. Antara isi utama perjanjian ialah; gencatan senjata selama 10 tahun

(Rujuk; Fiqh a-Harakah, Tn Guru Hj Hadi, jilid 2, halaman 240).

5. Nabi menjalankan mu’amalah dengan orang bukan Islam
Telah sabit dengan nas yang soheh bahawa Nabi pernah melakukan hal berikut;

a) Menerima hadiah dari orang bukan Islam
b) Meminjam wang dari orang bukan Islam dengan menggadaikan baju besinya.
c) Menziarahi orang bukan Islam yang sakit.
d) Bangun menghormati jenazah orang bukan Islam yang dibawa lalu di hadapannya.

6. Saranan al-Quran dan as-Sunnah supaya kaum muslimin berbuat baik dan berlaku adil kepada orang bukan Islam dan memelihara hak mereka

"Dan tidak Kami utuskan engkau wahai Muhammad melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam"

(al-Anbiya', ayat 107).

"Allah tidak menegah kamu dari berbuat baik dan berlaku adil (kepada orang-orang bukan Islam) yang tidak memerangi kamu kerana agama kamu dan tidak mengusir kamu dari tanah air kamu. Allah mengasihi orang-orang yang berlalu adil"

(Surah al-Mumtahanah, ayat 8).

“Dan jika mereka berdua (yakni ibu dan bapa) mendesakmu supaya engkau mempersekutukan denganKu sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, maka janganlah engkau taat kepada mereka dan bergaullah dengan mereka di dunia dengan cara yang baik…”

(Surah Luqman, ayat 15)

Diceritakan dalam hadis bahawa Asma’ binti Abu Bakar, tatkala datang kepadanya ibunya yang masih kafir (musyrik) untuk mengikat hubungan, ia (yakni Asma’) bertanya Nabi; “Ya Rasulullah, perlukah aku mengikat hubungan dengan ibuku itu?”. Nabi menjawab; “Ikatlah hubungan dengannya”.

(HR Imam al-Bukhari dan Muslim)

CADANGAN
Melihat kepada amalan Rasulullah di atas, saya mencadangkan;

1. Aspek-aspek dalam jamaah yang ada kaitan dengan persoalan bithanah dan wala' (antaranya soal kepimpinan tertinggi, ahli permesyuaratan atau majlis Syura, keanggotaan jamaah, dalam menentukan halatuju jamaah dan sebagainya) tidak perlu dilibatkan orang bukan Islam. Ia hendaklah khusus kepada orang beriman sahaja sebagai mengambil contoh dan tauladan dari amalan Nabi tadi.

2. Aspek-aspek yang membabitkan hak rakyat, keadilan, kesamarataan, membenteras penyelewengan, mencari alternative pemerintahan terbaik dan sebagainya; inilah ruang yang terbuka luas untuk kita mengadakan kerjasama dan pakatan dengan sesiapa sahaja yang memperjuangkan hak dan keadilan termasuk dengan orang bukan Islam selagi tidak melanggar batasan Syariat (al-Quran dan as-Sunnah).

3. Kesimpulannya; tidak usahlah kita membuka kepimpinan Jamaah kepada orang bukan Islam kerana ia bercanggah dengan ayat-ayat walak dan bithanah tadi, sebaliknya kita mengeratkan kerjasama dan pakatan dengan mereka dalam mewujudkan amalan politik dan pemerintahan yang bersih dan adil untuk semua rakyat Malaysia.

PAS mesti dikekalkan sebagai Parti yang 100% berjiwa dan berwajah Islam (dalaman dan luarannya) dan pada masa yang sama ia membuka ruang ta’awun (kerjasama) dan tahaluf (pakatan) yang seluas-luasnya dengan siapa sahaja yang memperjuangkan keadilan selagi tidak melanggari Syariat.

Mengapa AirAsia untung, MAS gulung tikar?

Harakahdaily, 01 Mac 2012
KUALA LUMPUR, 1 Mac: Dewan Pemuda PAS Malaysia (DPPM) mendesak kerajaan melakukan sesuatu bagi mengelakkan Sistem Penerbangan Malaysia (MAS) terus mengalami kerugian.


Dalam laporan terbaru menunjukkan MAS mencatat kerugian untuk tahun 2011 sebanyak RM2.52 bilion.

“DPPM mempersoalkan mengapa syarikat tersebut mengalami kerugian begitu banyak untuk tahun lepas.

“Apakah ia berpunca dari kelemahan dari segi urus tadbir dan strategi perniagaan yang tidak berkesan?” tanya Ketua Penerangan DPPM, Riduan Mohd Nor (gambar).

Katanya, keadaan ekonomi global yang tidak berkembang dengan sihat tidak boleh dijadikan alasan mengapa MAS rugi kerana banyak lagi syarikat penerbangan negara serantau mencatat keuntungan yang baik.

Bagi DPPM, ujarnya MAS perlu dipulihkan bagi menyelamatkannya dari terus mengalami kerugian.

Menurutnya lagi, MAS adalah sistem penerbangan utama negara, justeru ia tidak patut dibiarkan gulung tikar.

Katanuya, mungkin pihak pengurusan MAS belajar dengan syarikat penerbangan seperti AirAsia yang terus cemerlang dengan keuntungan.

Beliau menambah, AirAsia yang baru ditubuhkan beberapa tahun lepas dan hanya mempunyai operasi perniagaan yang lebih kecil mampu membina empayar kejayaan mereka.

“Apakah rahsia kejayaan ini sehingga mampu melakar kejayaan bermakna sebaliknya MAS pula menanggung kerugian?” katanya.

Baginya, MAS adalah identiti penerbangan utama negara, kegagalan MAS bererti kegagalan negara dalam melahirkan syarikat penerbangan bertaraf dunia.

Justeru, ujarnya imej negara pula akan jatuh di peringkat antarabangsa kerana gagal mengurus syarikat penerbangannya setanding dengan syarikat penerbangan negara-negara lainnya.

“Tidak ada ertinya kehebatan lapangan terbang negara ini bertaraf dunia dan mendapat pengiktirafan antarabangsa sekiranya syarikat yang menguruskan sistem penerbangan utama negara pula gagal menempatkan kedudukannya,” ujarnya.

Rakyat Malaysia, kata beliau pastinya malu apabila mendengar MAS terus mencatat kerugian buat beberapa tahun lagi dan akhirnya terpaksa menggulung tikar dan menyerah kalah.

“Apakah lagi kebanggaan rakyat Malaysia pada industri penerbangan negara?” soalnya.

Surat kepada Israel dedah sikap pura-pura BN

Harakahdaily, 01 Mac 2012
KUALA LUMPUR, 1 Mac: Pendedahan surat-surat yang ditulis Tun Dr Mahathir Mohammad kepada tiga Perdana Menteri Israel – Yitzhak Rabin, Benjamin Netanyahu dan Ehud Barak mengesakan kebenaran dakwaan Datuk Seri Anwar Ibrahim dan membuktikan sikap kepura-puraan Dr Mahathir selama ini.

Setiausaha Agung PKR, Saifuddin Nasution berkata, Mahathir sering tampil dengan imej luaran yang mengambil sikap keras dengan Israel dan memfitnah Anwar sebagai ‘pro-Yahudi’, namun secara senyap-senyap rapat dengan pemimpin Zionis.

“Mahathir pula bertemu dan berhubungan dengan PM-PM Israel dan menegaskan berulang kali keinginannya mengadakan hubungan antara Malaysia dengan Israel. Malah hasrat ini dilahirkan menerusi tulisan tangan di dalam suratnya kepada Yitzhak Rabin.

“Pendedahan ini telah mengesahkan apa yang dikatakan PKR selama ini. Mahathir dan Najib harus menghentikan kepuraan ini,“ katanya.

Sebelum ini kata Saifuddin lagi, Anwar diserang teruk oleh pemimpin dan media Umno-BN apabila disoal akhbar antarabangsa Wall Street Journal berkaitan dasar luar negara dan isu Palestin.

Ketika itu, Anwar menegaskan bahawa kemahuan dan hak rakyat Palestin mesti dibela dan itu merangkumi hak untuk mendirikan negara sendiri serta tidak terus dizalimi.

Sikap berbaik dengan Israel itu juga kata Saifuddin diteruskan oleh pentadbiran Datuk Seri Najib Razak yang melantik APCO sebagai perunding kerajaan BN.

Sedangkan ujarnya, antara penasihat APCO adalah Doron Bergerbest-Eilon, bekas Ketua Perlindungan dan Keselamatan, Agensi Keselamatan Israel.

“Kerajaan Malaysia juga selama ini mengambil sikap berat sebelah di dalam isu Palestin dengan hanya mengiktiraf Fatah, tanpa mengambilkira Hamas yang telah dipilih rakyat Palestin.

“Ini membuktikan kerajaan Umno-BN tunduk kepada tekanan Amerika Syarikat dan Israel,” tegasnya.

Kenapa konsesi Jambatan Pulau Pinang 17 tahun?

Lim Guan Eng, 01 Mac 2012
Kenapakah tempoh konsesi Jambatan Pulau Pinang dilanjutkan 17 tahun dari 2021 ke 2038 hanya untuk mengelak daripada membayar kenaikan tol 10% setiap lima tahun?


Saya berasa dukacita bahawa Menteri dalam Jabatan Perdana Menteri Tan Sri Nor Mohamed Yakcop gagal untuk menerima cabaran debat umum di kawasan beliau malam ini atas topik sama ada pemansuhan tol Lebuhraya Utara-Selatan (NSE) dan Jambatan Pulau Pinang akan menjadikan negara kita bankrap.

Malaysia tidak akan bankrap jika PR memansuhkan tol NSE dan Jambatan Pulau Pinang sekiranya kita memenangi Pilihan Raya Umum yang akan datang. Yang akan menjadikan Malaysia bankrap adalah rasuah, penyalahgunaan kuasa dan kronisme.

Saya juga ingin tanya Tan Sri mengenai semakan semula tol. Kenapakah Kerajaan Persekutuan memangsakan Pulau Pinang dengan melanjutkan tempoh konsesi Jambatan Pulau Pinang selama 17 tahun sehingga 2038 dan Lebuhraya Butterworth-Kulim (BKE) selama 11 tahun sehingga 2038, sebagai balasan untuk pembekuan kenaikan tol (lihat rajah di bawah)? Untuk BKE, pembekuan kenaikan tol hanya sampai 2015, dan kadar tol akan dinaikkan 5% setiap 3 tahun dari 2016.

PENGECUALIAN PAMPASAN TOL ~ SEMAKAN SEMULA TERMA KONSESI

Lebuhraya
Sekarang hingga 2015
Struktur tol Semasa
Struktur tol baru
Tarikh luput semasa konsesi
Tarikh luput baru konsesi
NSE
Tiada kenaikan
10% setiap tiga tahun

5% pada 2016 and setiap tiga tahun selepas
Dec 31, 2038





Dec 31, 2038

Elite
Tiada kenaikan
10% setiap tiga tahun
May 31, 2030
Linkedua
Tiada kenaikan
25% setiap lima tahun
Dec 31, 2038
BKE
Tiada kenaikan
15% - 25% setiap lima tahun
June 27, 2026
Penang Bridge
Tiada kenaikan
10% setiap lima tahun
Tiada kenaikan
Dec 31, 2021

Pemansuhan tol NSE dan Jambatan Pulau Pinang tidak akan menjadikan negara bankrap tetapi adalah betul dari segi moral dan etika. Yang tidak berhati perut dan tidak adil kepada rakyat adalah hakikat bahawa syarikat-syarikat pengendali tol sedang mengaut keuntungan yang sangat tinggi walaupun kos pelaburan asal untuk pembinaan sudah habis dikutip.

Jawapan bertulis Parlimen kepada saya telah menunjukkan bahawa syarikat pengendali tol NSE telah membelanjakan RM5,945 juta untuk pembinaan lebuhraya tersebut, tetapi sudah menerima sebanyak RM24,266 juta daripada kutipan tol dan pampasan kerajaan setakat 31.12.2010. Dalam erti kata lain, syarikat pengendali tol NSE telah mencatat lebihan sebanyak RM18,321 juta setakat 31.12.2010 daripada pelaburan asal.

Adakah perlu lagi untuk syarikat tersebut untuk mengutip lagi banyak tol daripada rakyat apatah lagi untuk menaikkan kadar tol? Sepatutnya, dan jika diambil kira kepentingan rakyat, kutipan tol bagi NSE patut dihentikan serta merta memandangkan hasil kutipannya yang berjumlah RM18.3 bilion sudah pun 3 kali ganda pelaburan asal iaitu RM6 bilion.

Keadaannya serupa untuk Jambatan Pulau Pinang yang telah mengutip sebanyak RM1,859 juta dengan kos pembinaan RM944 juta. Lebihan yang dicatat sebanyak RM924 juta. Bagi BKE, tol yang dikutip berjumlah RM340 juta manakala kos pembinaannya RM256 juta, iaitu lebihan sebanyak RM84 juta. Rakyat Pulau Pinang bukan sahaja tidak sepatutnya terus dibebani tol sehingga 31 Disember 2038, malah tol bagi Jambatan Pulau Pinang dan BKE harus dihentikan serta merta.

Kos Maksimum RM50 Bilion Untuk Pemansuhan NSE dan Jambatan Pulau Pinang Tidak Akan Menjadikan Malaysia Bankrap

Kos maksimum untuk pemansuhan NSE dan Jambatan Pulau Pinang adalah RM50 bilion, iaitu RM40 bilion untuk NSE dan RM10 bilion untuk Jambatan Pulau Pinang. RM50 bilion tidak akan menjadikan negara bankrap. Yang akan menjadikan negara bankrap adalah rasuah, penyalahgunaan kuasa dan kronisme. Lagipun, kos projek MRT baru pun sudah mencecah RM50 bilion.

Malaysia mampu membayar RM50 bilion untuk memansuhkan tol Jambatan Pulau Pinang dan NSE tetapi tidak mampu menanggung rasuah yang berjumlah 100 bilion dolar Amerika (RM350 bilion). Laporan Global Financial Integriti telah menunjukkan bahawa sejumlah RM1,077 bilion wang haram telah dibawa keluar dari Malaysia dalam dekad yang hilang dek korupsi dari tahun 2000-2009.

Tan Sri Nor harus menjelaskan bagaimana semakan semula dan pelanjutan konsesi tol Jambatan Pulau Pinang dari tahun 2021 ke 2038 sebagai balasan untuk pembekuan tol 10% betul-betul boleh membawa manfaat kepada rakyat Pulau Pinang. Sekiranya diberi pilihan, rakyat Pulau Pinang lagi sanggup menerima kenaikan tol 10% setiap 5 tahun jika tol dimansuhkan pada 31.12.2021 daripada menunggu sampai 31.12.2038 walaupun tiada kenaikan tol dikenakan.

Serupa juga untuk BKE, rakyat Pulau Pinang lagi sanggup membayar kenaikan tol 15-25% setiap 5 tahun sampai 27.6.2026 daripada membayar sehingga 31.23.2038. BKE adalah lebih teruk berbanding Jambatan Pulau Pinang kerana bermula dari tahun 2016 kadar tol akan dinaikkan 5% setiap 3 tahun berbanding setiap 5 tahun.

Semakan semula dan pelanjutan tempoh konsesi tol sehingga 2038 sebagai balasan pengecualian pampasan kerajaan sebanyak RM6.5 bilion telah dilakukan tanpa rundingan dengan rakyat dan hanya menguntungkan syarikat-syarikat pengendali tol sementara yang ruginya rakyat Pulau Pinang dan Malaysia.

Rencana di atas adalah ucapan Ketua Menteri Pulau Pinang, Lim Guan Eng semasa Debat PR Pulau Pinang di Dewan Besar Sungai Dua di Teluk Air Tawar, Pulau Pinang pada 29 Februari (malam tadi).

ADA YANG PRO...ADA PENYAMUN TERBUS..KAKI SONGLAP...KAKI KONGKALIKONG..KAKI KELENTUNG...KAKI BELIT...KAKI PUTAR ALAM DLL...AKHIRAT NANTI MEREKA2 TAK TERLEPAS....

Hubungan dagang Malaysia-Israel sejak 2001

Harakahdaily, 01 Mac 2012
KUALA LUMPUR, 1 Mac: Malaysia telah berdagang dengan negara haram Israel sejak tahun 2001 lagi ataupun lebih awal dari itu.

Menurut Data Statistik Perdagangan Komoditi Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu, pada tahun 2001 sahaja, Malaysia telah mengimport USD615.924 juta (RM1,847 juta) barangan Israel.

Pada tahun itu, Malaysia telah mengeksport USD26.553 juta (RM79.65 juta) barangannya ke negara haram itu.

Sejak itu, perdagangan antara Malaysia dengan Israel sentiasa saja meningkat dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2010, Malaysia mengimport USD798.069 juta (RM2,394 juta) barangan Israel berbanding USD85.129 juta (RM255.38 juta) barangan yang dieksport Malaysia ke Israel.



(Data hubungan dagang antara Israel dan Malaysia yang dikeluarkan oleh salah satu badan di bawah PBB)

Menurut database itu juga, Malaysia adalah negara ke 18 di dunia yang menerima barangan eksport dari Israel dengan Amerika menjadi negara paling banyak menerima barangan dari negara haram itu.

Dengan kedudukan ke 18, nilai eksport Israel ke Malaysia jauh lebih tinggi berbanding Cyprus yang berrada di kedudukan ke-19, Kanada (20), Taiwan (21), Japan (22), Australia (23), Singapura (24) dan Thailand (25).

Antara barangan eksport utama Israel ke Malaysia adalah barangan elektrik dan peralatan elektronik yang bernilai USD777.940 juta (RM2,333.82 juta) pada tahun 2010.

Selain itu, Malaysia juga mengimport mesin, reaktor nuklear dan pemanas (USD4.66 juta), baja (USD3.6 juta) dan bahan kimia organik (USD2.998 juta).

Turut diimport dari Israel adalah permata, bahan kimia bukan organik, pelastik, aluminium, sayuran dan buah-buahan, optical dan bahan edible, sabun, minyak pelincir, kacang, minyak bijian, wangian dan lain-lain lagi.

Umno perlu perjelas dagangan M’sia-Israel

Harakahdaily, 01 Mac 2012
KUALA LUMPUR, 1 Mac: PAS Wilayah Persekutuan (PAS WP) melahirkan rasa terkejut dengan pendedahan suatu maklumat di Harakahdaily pada hari ini yang mendakwa bahawa Malaysia telah berdagang dengan negara haram Israel sejak tahun 2001 lagi ataupun lebih awal dari itu.
Ketua Penerangannya, Mohamad Suhaimi Abdul Aziz berkata, maklumat yang dikutip dari Data Statistik Perdagangan Komoditi Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu menunjukkan, pada tahun 2001 sahaja, Malaysia telah mengimport USD615.924 juta (RM1,847 juta) barangan Israel.

Pada tahun itu, Malaysia telah mengeksport USD26.553 juta (RM79.65 juta) barangannya ke negara haram itu.

Pada tahun 2010, Malaysia mengimport USD798.069 juta (RM2,394 juta) barangan Israel berbanding USD85.129 juta (RM255.38 juta) barangan yang dieksport Malaysia ke Israel.

Malaysia pula dicatatkan menjadi  negara ke 18 di dunia yang menerima barangan eksport dari Israel dengan Amerika menjadi negara paling banyak menerima barangan dari negara haram itu.

Dengan kedudukan ke 18, nilai eksport Israel ke Malaysia jauh lebih tinggi berbanding Cyprus yang berrada di kedudukan ke-19, Kanada (20), Taiwan (21), Japan (22), Australia (23), Singapura (24) dan Thailand (25).

“PAS WP berpandangan, kedudukan ini menunjukkan bahawa Malaysia benar-benar serius mengadakan hubungan dengan Israel.

“Dengan fakta yang dikemukakan ini, apakah alasan lain yang boleh diberikan oleh pemimpin Umno bagi menafikan maklumat ini,” ujarnya kepada Harakahdaily.

PAS WP, ujarnya merasa sedih kerana pemimpin Umno tidak menjaga sensitiviti umat Islam dunia dan negara ini.

Beliau berkata, dalam keadaan umat Islam seluruh dunia bangkit menyatakan kemarahan terhadap rejim Zionis yang zalim dan kejam itu, Malaysia pula tanpa segan silu mengadakan hubungan langsung dengan Israel.

“Soalnya, apakah pemimpin Umno menyedari perkara ini, atau pura-pura tidak sedar?

“Tidakkah mereka berfikir, wang yang dilaburkan hasil perniagaan tersebut boleh digunakan oleh Israel untuk membeli peluru buat membunuh rakyat Palestin yang tidak berdosa?

“Ke mana perginya suara Menteri di Jabatan Perdana Menteri selaku penasihat agama kepada Perdana Menteri, bersama ulama-ulama di dalam Umno untuk menasihati Perdana Menteri agar tidak berhubungan dengan Israel?” soalnya.

Katanya, apa yang dikesalkan adalah, pemimpin Umno BN selama ini menuduh Pakatan Rakyat dan pemimpinnya sebagai ejen Israel.

Menurutnya lagi, mereka mempolitikkan isu Israel dan Palestin dengan membesar-besarkan isu itu di khalayak, seolah-olah mereka adalah pejuang sebenar rakyat Palestin, manakala pemimpin Pakatan Rakyat pula bersekongkol dengan rejim itu.

“Apa yang berlaku menunjukkan sebenarnya pemimpin Umno adalah hipokrit, di depan rakyat ‘marah bukan main’ dengan rejim itu, di belakang pula bersalaman dan adakan hubungan langsung,” ujarnya.

Justeru itu, katanya PAS WP merasakan Umno tidak layak melaungkan perjuangan rakyat Palestin.

“PAS WP juga merasa yakin umat Islam di negara ini pasti tidak boleh menerima hakikat bahawa Malaysia sudah menjalin hubungan dengan Israel sejak sekian lama dan menolak pemimpin umat Islam seperti ini,” katanya lagi

Bersih: Mohamad Sabu dan 16 lagi diarah bela diri

Harakahdaily, 01 Mac 2012
KUALA LUMPUR, 1 Mac: Mahkamah Tinggi Kuala Lumpur hari ini memerintahkan 17 orang termasuk Timbalan Presiden PAS, Mohamad Sabu, Ahli Parlimen Batu, Tian Chua dan Ahli Parlimen Padang serai, N. Gobalakrishnan membela diri terhadap pertuduhan terlibat dalam perhimpunan Bersih pada 2007.

Hakim Datuk Ghazali Cha mendapati terdapat kes prima facie terhadap mereka setelah meneliti hujah rayuan yang dikemukakan pihak pendakwa di Mahkamah Sesyen pada 19 November 2010.

Mereka diperintah membela diri di hadapan Hakim Mahkamah Sesyen, Datuk Jagjit Singh Bant Singh pada tarikh yang akan ditetapkan kemudian dan menaikkan ikat jamin daripada RM2,000 kepada RM5,000 setiap seorang.

Menurut Ketua Penerangan Dewan Muslimat PAS Pusat, Aiman Athirah Al-Jundi yang turut berada di mahkamah hari ini, sekretariat Bersih 2.0 dengan bantuan Menteri Besar Selangor, Tan Sri Abdul Khalid Ibrahim sedang menyediakan wang ikat jamin untuk setiap orang kena tuduh (OKT).

"Kesemua OKT perlu menjelaskan ikat jamin hari ini, kalau gagal mereka akan diperintah masuk lokap," kata beliau ketika dihubungi Harakahdaily.

Bagaimanapun, seorang daripada OKT telah meninggal dunia tahun lalu manakala seorang lagi sakit dan tidak dapat hadir.

Mohamad Sabu, 57, dan Tian Chua atau nama sebenarnya Chua Tian Chang, 39, menghadapi dua pertuduhan iaitu tuduhan utama dan tuduhan pilihan.

Bagi tuduhan utama, mereka didakwa bersama-sama sebagai anggota perhimpunan yang menyalahi undang-undang dan boleh membawa kepada kemudaratan awam.

Bagi tuduhan pilihan, mereka didakwa bersama-sama mengambil bahagian dalam perhimpunan tersebut dan didakwa mengikut Seksyen 27 (5)(a) Akta Polis 1967 yang membawa hukuman denda sehingga RM10,000 dan penjara tidak melebihi setahun, jika sabit kesalahan.

Mohamad Sabu dan Tian Chua didakwa melakukan kesalahan itu di Jalan Istana Baru di sini pada 3.05 petang 10 November 2007.

Umno bukan lagi pejuang Melayu – bekas PPM

Mohd Nor Yahya, 01 Mac 2012

KOTA BHARU, 1 Mac: Akibat terlalu banyak dakwaan berlaku penyelewengan membabitkan kepimpinan Umno di Kubang Kerian, seorang pemimpin di peringkat cawangan tekad mahu meninggal parti tersebut.

Mat Riduan Abd Kadir, 48, (gambar) bekas Penyelia Pembangunan Mukim (PPM) Dun Demit (kini dikenali sebagai JKKKP) tidak mahu bersekongkol lagi dengan parti tersebut.

“Umno kini sudah lari dari perjuangan asal dan bukan lagi membela umat Melayu dan agama Islam. Kini saya sudah sedar.

“Banyak kepincangan terutamanya amanah sebagai seorang pemimpin parti. Saya mengambil langkah untuk keluar Umno dan akan bersama PAS demi memperjuangkan Islam dan bangsa Melayu,” katanya ketika ditemui malam tadi.

Sebelum itu beliau diraikan Naib Presiden PAS, Datuk Husam Musa dan Timbalan Yang Dipertua PAS Kubang Kerian, Abdul Rahman Yunus pada pertemuan.

Mat Riduan bertugas sebagai PPM sejak 2004 sehingga tahun lepas mempunyai hubungan rapat dengan Ketua Bahagian Umno Kubang Kerian, Datuk Mohd Fauzi Ismail.

Beliau mendakwa banyak projek kerajaan pusat yang dilaksanakan di Kubang Kerian disyaki berlaku penyelewengan.

“Banyak nilai projek tidak sepadan dengan kerja-kerja dibuat. Saya syaki ada unsur-unsur penyelewengan dalam peruntukan projek dilulus kerajaan pusat,” ujar beliau.

(Tunggu pendedahan lanjut dalam Harakah edisi cetak keluaran akan datang)

Kerugian MAS kerana pengurusan tidak pro

Lim Guan Eng, 01 Mac 2012
Kerugian mengejutkan sebanyak RM2.52 bilion yang dialami oleh syarikat penerbangan kebangsaan Malaysia Airlines (MAS) untuk tahun 2011 adalah peringatan jelas bahawa salah urus dan model bisnes yang gagal telah mengakibatkan krisis dalam syarikat penerbangan yang pernah menjadi kebanggaan ramai apabila simpanan tunainya juga sudah hampir kehausan.

Sebenarnya, MAS sudah pun mula menjunam sejak pemergian Menteri dalam Jabatan Perdana Menteri Datuk Seri Idris Jala pada tahun 2009, apabila keuntungan bersihnya telah merudum dari tahun ke tahun.

Keuntungan RM490 juta pada tahun 2009 telah diikuti oleh keuntungan RM234 juta pada 2010 dan kemudiannya kerugian sebanyak RM2.52 bilion untuk tahun 2011.

Kerugian yang dialami ini jauh berbeza dengan prestasi beberapa tahun lalu apabila Datuk Seri Idris Jala telah dilantik untuk memulihkan MAS sebagai CEO.

Beliau dilantik pada tahun 2005 dan telah berjaya mencatatkan keuntungan RM850 juta pada tahun 2007 berbanding dengan kerugian RM1.3 bilion hanya 2 tahun sebelum itu.

Idris telah memulihkan MAS tetapi semua usahanya sudah sia-sia sekarang. Adakah kita memerlukan Datuk Seri Idris Jala untuk kembali menerajui kokpit MAS untuk menyelamatkannya?

Di samping kerugian yang teruk itu, simpanan tunai MAS telah diseparuhkan kepada RM1 bilion pada akhir tahun lepas daripada RM2.1 bilion pada akhir tahun 2010, sementara aset bersih telah menurun daripada RM3.5 bilion kepada RM1.1 bilion.

Dalam kata lain, MAS sudah tidak lagi terbang dengan bahan api tetapi hanya terbang dengan asap. Inilah pewarisan “piratisation” atau perompakan yang menyamar sebagai penswastaan dan kemudian pengambil alihan semula oleh kerajaan secara tidak keruan.

Malah tindakan Kerajaan Persekutuan untuk menyelamatkan MAS pada tahun 2001 dengan membayar dua kali ganda harga pasaran tidak dapat membantu.
Kerajaan Persekutuan telah membayar RM1.8 bilion ataupun RM8 setiap saham kepada Tan Sri Tajudin Ramli walaupun harga pasaran pada masa itu hanya RM3.68 setiap saham.

MAS tidak boleh menyalahkan keadaan ekonomi global yang kurang sihat kerana Singapore Airlines telah mencatatkan keuntungan untuk tahun lepas.

Malah, kita tidak perlu pergi jauh kerana syarikat penerbangan bajet tempatan Air Asia pun telah mengalahkan MAS.

Kita hanya perlu melihat permodalan pasaran Air Asia yang bernilai RM10.1 bilion, berbanding MAS yang hanya bernilai RM4.8 bilion.

Meskipun Air Asia hanya berumur satu dekad dan jauh lebih kecil dari segi operasi, ia bernilai lebih dua kali ganda dalam permodalan pasaran.

Tentunya terdapat masalah apabila syarikat penerbangan bajet yang mengenakan caj yang lebih rendah boleh lebih berjaya dan untung berbanding syarikat penerbangan yang mengenakan caj yang tinggi.

Daya maju syarikat penerbangan kebangsaan kita akan terus dipersoalkan melainkan isu-isu fundamental diselesaikan. Adakah ianya satu masalah model bisnes yang gagal atau pengurusan yang gagal, ataupun kedua-duanya?

Adalah jelas bahawa cara untuk mengelakkan aset kebangsaan kita daripada terhempas adalah untuk menggunakan model bisnes baru yang berdasarkan prinsip Cekap, Akauntabel dan Telus yang telah membawa kejayaan kepada Kerajaan Negeri Pulau Pinang.

Bukan sahaja kita berjaya meyakinkan dan menarik pelabur dan menjadi destinasi pelaburan pembuatan nombor satu di Malaysia untuk dua tahun berturut-turut pada tahun 2010 dan 2011, Pulau Pinang juga telah mencatatkan lebihan bajet pada setiap tahun sejak 2008 dan telah mengurangkan hutang Kerajaan Negeri sebanyak 95% daripada RM630 juta kepada RM30 juta.

Model bisnes yang sedang digunakan MAS jelas sudah gagal.

Sekiranya MAS terus menggunakan kaedah perancangan pusat dan membenarkan campur tangan politik yang membiakkan rasuah dan ketidak cekapan, syarikat penerbangan kebangsaan kita akan ditakdirkan untuk gagal.

Akhirnya, soalan yang ingin ditanya oleh rakyat Malaysia adalah siapakah yang akan bertanggungjawab untuk kerugian yang besar ini? Sudah tentu kerugian RM2.52 bilion oleh syarikat penerbangan kebangsaan kita ini tidak boleh diterima semua, terutamanya apabila sebab utama ia diselamatkan oleh kerajaan adalah untuk menyelamatkannya daripada masalah-masalah salah urus dan model bisnes yang lemah.

Kerajaan mestilah mengenal pasti mereka yang bertanggungjawab untuk kerugian yang besar ini dan mengambil tindakan ke atas mereka kerana itulah yang diharapkan oleh rakyat Malaysia.

Selangor cetak semula borang rumah mampu milik

Harakahdaily, 01 Mac 2012
KUALA LUMPUR, 1 Mac: Borang pendaftaran untuk membeli Rumah Mampu Milik (RMM) Negeri Selangor telah dicetak semula, kata Exco Perumahan, Pengurusan Bangunan Dan Setinggan negeri Iskandar A. Samad (gambar).


Katanya, borang-borang boleh diperolehi dari Lembaga Perumahan Dan Hartanah Selangor (LPHS) di Tingkat 5, Bangunan Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah, 40503 Shah Alam.

Beliau memberitahu, borang-borang tersebut mulai dijual pada bulan Jun tahun lepas apabila Perbadanan Kemajuan Negeri Selangor (PKNS) melancarkan RMM mereka di Bandar Baru Bangi.

“Walau bagaimanapun kesemua 2,700 borang bagi cetakan pertama telah habis dijual dan memerlukan cetakan kedua,” ujarnya lagi.

Jelasnya, setiap borang telah dijual dengan harga RM5 yang termasuk kos memproses.

Katanya, untuk projek RMM PKNS di Bangi, sebanyak 640 permohonan telah diterima untuk 124 unit yang dibina.

Beliau dalam satu kenyataan hari ini menambah, nama-nama mereka yang terpilih untuk membeli RMM itu telah dipamerkan di dalam laman web LPHS selama 2 minggu mulai 16 Disember lepas.

“Tetapi dengan pengumuman bahawa 136 unit RMM akan disiapkan  oleh sebuah pemaju swasta di Sg. Long, Kajang pada bulan September ini maka adalah dijangka lebih ramai yang akan mendapatkan borang ini,” ujarnya yang juga Adun Chempaka.

Katanya, mereka yang mempunyai  sebarang pertanyaan bolehlah menghubungi LPHS di talian 03-5544 7078.

MP Sabak Bernam dipenjara 6 tahun, denda RM400,000

Muhammad Faizal, 01 Mac 2012
SHAH ALAM, 1 Mac: Ahli Parlimen Sabak Bernam, Datuk Abdul Rahman Bakri (depan) dan pembantunya, Rosli Busro, 44, dijatuhi hukuman enam tahun penjara dan denda RM400,000 atau 1 tahun penjara bagi setiap pertuduhan.

Hakim Mahkamah Sesyen Shah Alam, Azhaniz Teh Azman Teh membuat keputusan tersebut selepas mendapati pihak pendakwaraya berjaya mengemukakan bukti tanpa menimbulkan keraguan serta mengambil rayuan dari pihak pembela.

Abdul Rahman Bakri didapati bersalah kerana membuat lapan tuntutan palsu berjumlah RM80,000.

Sementera itu, pembantu khasnya, Rosli Busro yang juga didapati bersalah atas tuduhan yang sama dijatuhkan hukuman.

Hakim memerintah kesemua hukuman penjara dijalankan serentak manakala denda sebanyak RM400 ribu dikenakan bagi semua tuduhan atau 8 tahun penjara jika gagal membayar denda tersebut.

Namun, Mahkamah menangguhkan hukuman tersebut dengan ikat jamin sebanyak RM50 ribu kepada Abdul Rahman, manakala pembantu khasnya sebanyak RM30 ribu sementara menunggu kes tersebut dibawa ke Mahkamah Rayuan.

Semalam, di mahkamah yang sama hakim telah membuat keputusan mendapati kedua-duanya bersalah terhadap tuduhan tersebut, namun atas rayuan pihak peguam bela keputusan menjatuhkan hukuman ditunda ke hari ini.

Mereka dituduh mengikut Seksyen 11(c) Akta Pencegahan Rasuah 1997 dan boleh dihukum mengikut Seksyen 16 akta sama.

Seksyen tersebut memperuntukkan hukuman penjara maksimum 20 tahun dan denda RM10,000 atau lima kali nilai suapan, yang mana lebih tinggi, jika sabit kesalahan.

Tertuduh didapati membuat tuntutan palsu sebanyak RM10,000 setiap satu di antara 21 Januari dan 4 Februari 2008 ketika menjadi Adun Sungai Ayer Tawar.

Pendakwaan dikendalikan oleh Ketua Unit Pendakwaan Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM), Datuk Abdul Razak Musa manakala peguam Kamarul Hisham Kamaruddin mewakili Abdul Rahman.

Sementara itu, mengikut Perkara 48(1)(e) Perlembagaan Persekutuan seseorang Ahli Parlimen hilang kelayakan jika beliau disabitkan oleh mahkamah dan dihukum penjara tidak kurang setahun atau denda tidak kurang daripada RM2,000 dan beliau tidak mendapat pengampunan.

ISLAM ADA CARA UNTUK MENGELAKKAN MURTAD...LAKSANAKANLAH..SEMUA AGAMA NAK MENGEMBANGKAN AGAMA MASING2..DAN TIADA PAKSAAN...

Buktikan atau diam, kata MCCBCHST pada Hasan Ali
Majlis Perundingan Buddha, Kristian, Hindu, Sikh dan Tao Malaysia (MCCBCHST) menggesa bekas exco kerajaan Selangor Datuk Dr Hasan Ali membuktikan dakwaannya bahawa terhadap mubaligh Kristian cuba menarik umat Islam terhadap agama mereka.

azlan"Terhadap cukup undang-undang jenayah di negara ini untuk mendakwa pihak yang terlibat memurtadkan umat Islam dan Dr Hasan sepatunya membuat laporan polis dan mengemukakan bukti," kata NGO itu dalam satu kenyataan.

Majlis antara agama itu berkata, beberapa kenyataan Dr Hasan yang dibuat sebelum ini tidak disertakan dengan buktinya dan ia dianggap tidak lebih daripada "sindiran".

MCCBCHST juga mendakwa, sebagai ahli politik, retorik berterusan Dr Hasan berhubung dakwaan itu menjadi petanda kemungkinan dia mungkin mempunyai "agenda tersembunyi".
MB minta badan agama siasat dakwaan Hasan Ali
Menteri besar Selangor, Tan Sri Abdul Khalid Ibrahim akan meminta badan agama negeri menyiasat dakwaan berlakunya amalan memurtadkan umat Islam, seperti yang didakwa bekas exco kerajaan negeri, Datuk Hasan Ali.

NONEKatanya, ini kerana dakwaan Hasan itu dapat mewujudkan suasana tidak stabil dalam masyarakat pelbagai kaum.

"Apa yang jelas, ia mewujudkan rasa tidak selesa dalam suasana masyarakat majmuk di negeri ini," katanya selepas mesyuarat exco kerajaan negeri hari ini.

Khalid berkata perkara yang dimajukan termasuklah dakwaan penggunaan injil berkuasa solar untuk memurtadkan umat Islam, dakwaan terdapat mubaligh Kristian berjubah di tempat ibadat Islam dan pembaptisan umat Islam.
"Nasib baik menteri besar Selangor tak pakai jubah, kalau tidak susah," katanya berseloroh.

Khalid berkata, permintaan kepada Majlis Agama Islam Selangor (MAIS) dan Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) itu dibuat kerana dakwaan Hasan bersangkutan dengan peranan badan itu.

Tiada garis masa ditetapkan untuk siasatan itu diselesaikan kerana ia berkaitan dengan usaha dakwah.

Dalam masa sama, Khalid juga berharap pihak NGO yang membuat pendedahan itu menghormati keterbukaan kerajaan negeri memberikan tempat mengadakan program dengan membuat dakwaan berasaskan bukti.

"(Sepatutnya) Panggil orang bercakap, saya ada injil bertenaga solar. Itu mesti dibuat.," katanya.
Hasan Ali akan dedah video 'pembaptisan'
Presiden pertubuhan pro-Melayu JATI Datuk Hasan Ali berkata, badan itu akan mendedahkan satu bukti video berhubung usaha memurtadkan orang Islam yang ditimbulkannya sebelum ini.

Katanya, rakaman yang menunjukkan pengakuan yang dibuat oleh sepasang suami isteri itu akan didedahkan dalam beberapa hari lagi.

Dalam video tersebut, pasangan berkenaan antara lainnya menimbulkan dakwaan mengenai kegiatan gereja tertentu yang berlaku secara rahsia dan juga secara terang-terangan.

NONE"Mereka memang telah pun dibaptis, telah masuk Kristian dan dimurtadkan, mereka kembali semula kepada Islam dengan bantuan Lembaga Zakat Selangor, dengan bimbingan JAIS (Jabatan Agama Islam Selangor) dan MAIS (Majlis Agama Islam Selangor).

"Siapa yang berkehendakkan (video itu) kita akan dedahkannya," katanya lagi dalam sidang media selepas pelancaran NGO tersebut di Shah Alam hari ini.

Video berkenaan akan didedahkan oleh Unit Selamatkan Akidah, satu unit yang sebelum ini diletakkan di bawah portfolio beliau, kata bekas exco hal ehwal agama Selangor itu lagi.

Katanya, unit berkenaan kini bebas daripada JAIS namun masih bekerjasama rapat dengan jabatan tersebut dan juga dengan Lembaga Zakat Selangor.

NONE"Jadi mudah kita hala tuju bila letakkan di luar sistem JAIS," katanya yang menjelaskan bahawa unit berkenaan sejak awal lagi digerakkan dengan sumbangan individu dan bukannya sumbangan JAIS.

Malah, individu yang didakwa telah dimurtadkan itu juga telah dibawa ke lembaga berkenaan untuk diberikan bantuan, katanya lagi.

Selain Hasan sebagai presiden, JATI yang didaftarkan minggu lalu turut membariskan beberapa lagi pemimpin dalam jawatankuasa syuranya termasuk pensyarah Universiti Islam Antarabangsa Malaysia, Prof Datuk Sidek Baba.

Turut hadir dalam majlis perasmian program hari ini ialah bekas pemimpin angkatan muda PKR, Senator Ezam Mohd Nor (atas).
Hasan Ali: Maklumat murtad dari 'mubaligh berjubah'
Datuk Hasan Ali berkata umat Islam yang dimurtadkan sendiri yang memberi maklumat berhubung wujudnya dakwaan mubaligh Kristian mendekati umat Islam melalui pemakaian jubah dan bersolat Zohor berjemaah sekali dengan mereka.

NONEBeliau berkata, maklumat itu diperolehi dalam sesi pendengaran bawah 'Unit Selamatkan Akidah' (USA) yang ditubuhnya sewaktu masih bertugas sebagai exco hal ehwal Islam.

Unit itu kini diuruskannya walaupun selepas dipecat dari jawatan itu.

"(Maklumat) daripada mereka itu kita petik... Kenyataan mereka kita petik. Saya tidak boleh menyatakan siapa dan bila, atas sebab-sebab keselamatan mereka.

"Cukuplah saya menyatakan apa yang disebut hasil daripada pendengaran yang kita dapat daripada teman-teman terbabit," katanya dalam sidang media di Shah Alam.

Dr Hasan berkata, ketika ini seramai 56 orang yang berada dalam unit itu dan masih memberi maklumat bagaimana mereka terbabit dengan gejala murtad.

"Dalam hati mereka masih ada keimanan dan nak balik kepada Islam. Kita memberi kaunseling serta memberi gambar tentang kehidupan dalam Islam dan hati sebagai seorang Muslim," katanya.

NONEHasan diminta menjelaskan berhubung dakwaannya sebelum ini bahawa ada usaha licik memurtadkan umat Islam melalui kaedah itu.

Beliau dilapor sebagai berkata ada 51 orang Islam yang sudah menjalani proses pembaptisan dan minum ‘air suci' sedang dibantu untuk mengembalikan semula akidah mereka.

Hasan dalam jelajahnya dilapor berkata, sasaran utama golongan itu ialah orang Islam miskin, kurang pengetahuan agama, lemah akidah, berhutang, menghadapi masalah keluarga.

Golongan berfikiran liberal, terbuka dan tidak mengamalkan cara hidup Islam juga termasuk dalam senarai itu.
Tanya hukuman murtad
Ditulis oleh Pengendali Laman   

--- In fikrah@yahoogroups.com, Tok Janggut wrote:Assalamualaikum
allah2.jpgPertanyaan mengenai hukuman murtad. Apakah procedure hukuman murtad? Apakah hanya yg menentang akan dibunuh tetapi yg murtad tidak menentang tidak akan dibunuh?

Minta pandangan dari ulama mazhab dan yg lain2nya kalau ada.

Di dahulukan dgn ucapan terima kasih.TJ

 
Jawapan (oleh Salafi2Sunnah):
wsm
1. Hukum murtad

Ia salah satu hukum jinayah Islam yg jika thabit, dikenakan hukum had.
Dalil:
a. "
Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati di dlm kekafiran maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat dan mereka adalah penghuni Neraka, kekal di dalamnya." AQ-2: 217 (terjemahnya)

b. Hadis-hadis.

i) Jalur Ibn Abbas ra, "Barangsiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah ia." (HR alJama'ah kecuali* Muslim) 
{Ruj: Nailool Author: 8/2; Majma' azZawaid: 6/261} * alJama'ah = 7 Imam hadis yg muktabar: Bukhari - Muslim - Ahmad - Abu Daud- Ibn Majah - anNasa'iy - atTermidzi

ii) Jalur Ibn Mas'ood r.a., "Tidak halal darah muslim yg bersyahadah kecuali: (yang) membunuh manusia dgn sengaja, janda/duda yg berzina dan yang meninggalkan agamanya dan berpisah dgn jama'ah (ummah)."
(HR alJama'ah)

iii) Jalur Ibn Abbas,Abu Hurayra, Anas r.a., "Tidak halal darah seorang yg mengucap syahadah) kecuali seorang lelaki yg kufur
setelah beriman, zina setelah merasai nikah atau membunuh tanpa alasan."
(Sahih dikeluarkan oleh Abu Daud, annasa'iy dan Ibn Majah)

2. Jinayah Murtad mandatori Bunuh?

a. Ianya ijma' menurut Ibn Rajab alhanbali (Jami' alUlum wal Hikam, syarah hadis no 14, tahqeeq Syu'aib alArnauth)

b. Jumhur (majoriti) menurut catatan Ibn Hazm (alMuhalla:11/227); arRimli, alNihayah: 7/299), namun Jumhur ini merangkumi empat madzhab Mega.


Prosedur jenayah murtad


3. Takrifan hukum bunuh

Jumhur berpendapat semua wajib dibunuh (tanpa mengira lelaki atau perempuan, tua atau muda. Kecuali Hanafi (alBada'iy :7/135) yang menetapkan wanita tidak dibunuh kerana memadai dengan penjara sehingga dia taubat.

Imam-Imam Salafi (Syaikhul Islam IT, asSyarim alMaslul, Tahqeeq Muhyiddin Abd Hamid, ms 368) menetapkan hukuman bunuh dikenakan kepada jenayah murtad diklasifikasikan kpd dua jenis:
a. murtad yg senyap dan personal
b. murtad yg disertai aktivitas memerangi Islam

Maka hukum bunuh dijatuhkan kepada yang (b), spt kemurtadan Salman Rusydie (tambahan s2s).

Dalil Ibn Taymiyah ialah Fiqh Umar alKhattab r.a. yg melaksanakan hukum murtad di zamannya (lihat Abd Razzaq, alMusyanif: 10/168 Atsar no 18707) ada unsur tolakansur Omar terhadap kaum murtad Iraq dan tidak memerintahkan mereka semuanya dibunuh sebelum dialog dan kaunseling.

4. Bentuk Hukuman mati:

Khalifah Ali bin Abu Talib ra ialah dibakar jika thabit (Nailool Author: Jld 8)

Fiqh Ibn Abbas r.a. tidak boleh dibakar kerana bertentangan dgn perintah nabi s.a.w. yang menegah di azab dengan azab Allah (api neraka)

Komentar Dr Qardhawi: jenis dan cara membunuh pesalah murtad bukan perinsip cuma teknikal (furu'iyah)

5. Prosedur jinayah murtad:

Teknik tarbiyah dan saikologi supaya bertaubat diutamakan oleh jumhur.

a. Jika thabit kesalahan murtad, pesalah akan dikaunseling dan
dipinta bertaubat dalam tmepoh 3 hari. Jika masih enggan, maka akan dibunuh (Maliki, Syafi'iy dan Hanbaliah) [Ibn Qudamah alMaqdisi, alMughny: 9, ms 4 ke atas]

b. Menyuruh taubat bukan wajib cuma mustahab (baik dilakukan)..sebahagian Syafi'iyah dan sebahagian hanbaliah (asSyirazi, alMuhadzhab: 2/222)

c. Fuqaha' muttakhir
Imam Muhd Abu Zuhrah misalnya (alUqubah/195) mengkategorikan kesalahan murtad dari Muslim yang asli dan muslim convert (yg memeluk Islam dari agama lain). Jika Muslim yg asli tidak perlu diminta taubat dan jika muslim saudara baru, maka perlu diminta taubat dan diberi kaunseling. sekian