Isnin, 11 Mei 2015

ZUHUD SATU SIFAT YANG PAYAH DILAKSANAKAN WALAUPUN DIKALANGAN USTAZ2@USTAZAH2 DAN ULAMAK2...SEBAB BERGAYA NI SYOK...NAMPAK MEWAH SYOK...NAMPAK HEBAT SYOK













Pengertian dari sifat zuhud

Pengertian dari sifat zuhud
1. Pengertian dari sifat zuhud.
Zuhud secara bahasa artinya meninggalkan, tidak menyukai, atau menjauhkan diri. Sedangkan zuhud secara istilah berarti tidak mementingkan hal - hal yang bersifat keduniawian, atau meninggalkan gemerlap kehidupan yang bersifat material dalam mengabdikan diri kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Zuhud termasuk salah satu ajaran agama islam yang sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh negatif kehidupan dunia. Orang zuhud lebih mengutamakan atau mengejar kebahagiaan hidup di akhirat yang abadi daripada mengejar kehidupan dunia yang fana. Hal ini dapat dipahami dari isyarat ayat - ayat berikut.
4:77
Artinya : "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun." (Q.S An - Nisa ayat 77 )
6:32
Artinya : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Q.S Al -an'am ayat 32
Ayat - ayat diatas memberi petunjuk bahwa kehidupan dunia yang sekejap ini sungguh tidak sebanding bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal dan abadi. Kehidupan akhirat lebih baik dari kehidupan dunia. Lebih lanjut Allah subhanahu wata'ala berfirman :
87:17
Artinya : "Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (Q.S Al - A'la ayat 17)
Walaupun demikian, orang zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total. Mereka justru menjadikan kekayaan dunia sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata'ala. Inilah hakikat zuhud. Perhatikan ayat berikut.
28:77
Artinya : "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (Q.S Al - Qasas ayat 77)
Dalam ayat tersebut, Allah subhanahu wata'ala memerintahkan agar kita menggunakan segala kenikmatan yang diberikan - Nya untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat. Namun Allah subhanahu wata'ala menegaskan bahwa kehidupan dunia juga tidak boleh kita lupakan. 
Merujuk pada ayat ini, kita bisa menyimpulkan bahwa orang zuhud sangat mengutamakan kehidupan akhirat, namun mereka tidak meninggalkan kehidupan dunia. Dengan begitu akan terjadi keseimbangan antara kebahagiaan dunia dan akhirat.
2. Fungsi zuhud dalam kehidupan.
Zuhud dapat membuat manusia memikirkan dan merenungi akhirat. Zuhud juga dapat mengalahkan hawa nafsu manusia. Zuhud dapat menghadirkan perasaan bahwa kenikmatan duniawi tidak boleh memalingkan hati dan zikir kepada Allah subhanahu wata'ala.
Zuhud dapat memberikan pemahaman sepenuhnya bahwa dunia adalah perkara yang tidak ada maknanya dan akan cepat sirna jika dibandingkan dengan yang ada di sisi Allah subhanahu wata'ala. Zuhud dapat menghadirkan perasaan bahwa kehidupan di dunia sifatnya hanya sementara, sehingga dalam kehidupan sehari - hari seseorang akan menganggap cukup (kanaah) terhadap rezeki dan ketentuan Allah subhanahu wata'ala. Zuhud melahirkan sikap warak (menjaga diri agar tidak terjatuh kepada yang syubhat), tawakal (berserah diri kepada Allah), sabar, dan syukur.

Memahami Arti Zuhud


Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi berbagai nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
Sebagian orang salah paham dengan istilah zuhud. Dikira zuhud adalah hidup tanpa harta. Dikira zuhud adalah hidup miskin. Lalu apa yang dimaksud dengan zuhud yang sebenarnya? Semoga tulisan berikut bisa memberikan jawaban berarti.
Mengenai zuhud disebutkan dalam sebuah hadits,
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِىَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِىَ النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّوكَ ».
Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, ia berkata ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan begitu pula manusia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah dan selainnya. An Nawawi mengatakan bahwa dikeluarkan dengan sanad yang hasan)
Dalam hadits di atas terdapat dua nasehat, yaitu untuk zuhud pada dunia, ini akan membuahkan kecintaan Allah, dan zuhud pada apa yang ada di sisi manusia, ini akan mendatangkan kecintaan manusia.[1]
Penyebutan Zuhud Terhadap Dunia dalam Al Qur’an dan Hadits
Masalah zuhud telah disebutkan dalam beberapa ayat dan hadits. Di antara ayat yang menyebutkan masalah zuhud adalah firman Allah Ta’ala tentang orang mukmin di kalangan keluarga Fir’aun yang mengatakan,
وَقَالَ الَّذِي آَمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ (38) يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآَخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ (39)
Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 38-39)
Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17)
Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17)
Mustaurid berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ
Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti jari salah seorang dari kalian yang dicelup -Yahya berisyarat dengan jari telunjuk- di lautan, maka perhatikanlah apa yang dibawa.” (HR. Muslim no. 2858)
Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Dunia seperti air yang tersisa di jari ketika jari tersebut dicelup di lautan sedangkan akhirat adalah air yang masih tersisa di lautan.”[2] Bayangkanlah, perbandingan yang amat jauh antara kenikmatan dunia dan akhirat!
Dari Sahl bin Sa’ad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
Seandainya harga dunia itu di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk tentu Allah tidak mau memberi orang orang kafir walaupun hanya seteguk air.” (HR. Tirmidzi no. 2320. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Tiga Makna Zuhud Terhadap Dunia
Yang dimaksud dengan zuhud pada sesuatu –sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab Al Hambali- adalah berpaling darinya dengan sedikit dalam memilikinya, menghinakan diri darinya serta membebaskan diri darinya.[3] Adapun mengenai zuhud terhadap dunia para ulama menyampaikan beberapa pengertian, di antaranya disampaikan oleh sahabat Abu Dzar.
Abu Dzar mengatakan,
الزَّهَادَةُ فِى الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِتَحْرِيمِ الْحَلاَلِ وَلاَ إِضَاعَةِ الْمَالِ وَلَكِنَّ الزَّهَادَةَ فِى الدُّنْيَا أَنْ لاَ تَكُونَ بِمَا فِى يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِمَّا فِى يَدَىِ اللَّهِ وَأَنْ تَكُونَ فِى ثَوَابِ الْمُصِيبَةِ إِذَا أَنْتَ أُصِبْتَ بِهَا أَرْغَبَ فِيهَا لَوْ أَنَّهَا أُبْقِيَتْ لَكَ
Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadapp apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.”[4]
Yunus bin Maysaroh menambahkan pengertian zuhud yang disampaikan oleh Abu Dzar. Beliau menambahkan bahwa yang termasuk zuhud adalah, “Samanya pujian dan celaan ketika berada di atas kebenaran.”[5]
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Zuhud terhadap dunia dalam riwayat di atas ditafsirkan dengan tiga hal, yang kesemuanya adalah amalan batin (amalan hati), bukan amalan lahiriyah (jawarih/anggota badan). Abu Sulaiman menyatakan, “Janganlah engkau mempersaksikan seorang pun dengan zuhud, karena zuhud sebenarnya adalah amalan hati.“[6]
Cobalah kita perhatikan penjelasan dari Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah terhadap tiga unsur dari pengertian zuhud yang telah disebutkan di atas.
Pertama: Zuhud adalah yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih diharap-harap dari apa yang ada di sisinya. Ini tentu saja dibangun di atas rasa yakin yang kokoh pada Allah. Oleh karena itu, Al Hasan Al Bashri menyatakan, “Yang menunjukkan lemahnya keyakinanmu, apa yang ada di sisimu (berupa harta dan lainnya –pen) lebih engkau harap dari apa yang ada di sisi Allah.”
Abu Hazim –seorang yang dikenal begitu zuhud- ditanya, “Apa saja hartamu?” Ia pun berkata, “Aku memiliki dua harta berharga yang membuatku tidak khawatir miskin: [1] rasa yakin pada Allah dan [2] tidak mengharap-harap apa yang ada di sisi manusia.”
Lanjut lagi, ada yang bertanya pada Abu Hazim, “Tidakkah engkau takut miskin?” Ia memberikan jawaban yang begitu mempesona, “Bagaimana aku takut miskin sedangkan Allah sebagai penolongku adalah pemilik segala apa yang ada di langit dan di bumi, bahkan apa yang ada di bawah gundukan tanah?!”
Al Fudhail  bin ‘Iyadh mengatakan, “Hakikat zuhud adalah ridho pada Allah ‘azza wa jalla.” Ia pun berkata, “Sifat qona’ah, itulah zuhud. Itulah jiwa yang “ghoni”, yaitu selalu merasa cukup.”
Intinya, pengertian zuhud yang pertama adalah begitu yakin kepada Allah.
Kedua: Di antara bentuk zuhud adalah jika seorang hamba ditimpa musibah dalam hal dunia berupa hilangnya harta, anak atau selainnya, maka ia lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada dunia tadi tetap ada. Ini tentu saja dibangun di atas rasa yakin yang sempurna.
Siapakah yang rela hartanya hilang, lalu ia lebih harap pahala?! Yang diharap ketika harta itu hilang adalah bagaimana bisa harta tersebut itu kembali, itulah yang dialami sebagian manusia. Namun Abu Dzar mengistilahkan zuhud dengan rasa yakin yang kokoh. Orang yang zuhud lebih berharap pahala dari musibah dunianya daripada mengharap dunia tadi tetap ada. Sungguh ini tentu saja dibangun atas dasar iman yang mantap.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini telah mengajarkan do’a yang sangat bagus kandungannya, yaitu berisi permintaan rasa yakin agar begitu ringan menghadapi musibah. Do’a tersebut adalah,
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا
Allaahummaqsim lanaa min khosy-yatika maa yahuulu bihii bainanaa wa baina ma’aashiika, wa min thoo’atika maa tuballighunaa bihi jannatak, wa minal yaqiini maa tuhawwinu bihi ‘alainaa mushiibaatid dunyaa” (Ya Allah, curahkanlah kepada kepada kami rasa takut kepadaMu yang menghalangi kami dari bermaksiat kepadaMu, dan ketaatan kepadaMu yang mengantarkan kami kepada SurgaMu, dan curahkanlah rasa yakin yang dapat meringankan berbagai musibah di dunia) (HR. Tirmidzi no. 3502. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Inilah di antara tanda zuhud, ia tidak begitu berharap dunia tetap ada ketika ia tertimpa musibah. Namun yang ia harap adalah pahala di sisi Allah.
‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan, “Siapa yang zuhud terhadap dunia, maka ia akan semakin ringan menghadapi musibah.” Tentu saja yang dimaksud zuhud di sini adalah tidak mengharap dunia itu tetap ada ketika musibah dunia itu datang. Sekali lagi, sikap semacam ini tentu saja dimiliki oleh orang yang begitu yakin akan janji Allah di balik musibah.
Ketiga: Zuhud adalah keadaan seseorang ketika dipuji atau pun dicela dalam kebenaran itu sama saja. Inilah tanda seseorang begitu zuhud pada dunia, menganggap dunia hanya suatu yang rendahan saja, ia pun sedikit berharap dengan keistimewaan dunia. Sedangkan seseorang yang menganggap dunia begitu luar biasa, ia begitu mencari pujian dan benci pada celaan. Orang yang kondisinya sama ketika dipuji dan dicela dalam kebenaran, ini menunjukkan bahwa hatinya tidak mengistimewakan satu pun makhluk. Yang ia cinta adalah kebenaran dan yang ia cari adalah ridho Ar Rahman.
Orang yang zuhud selalu mengharap ridho Ar Rahman bukan mengharap-harap pujian manusia. Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud, “Rasa yakin adalah seseorang tidak mencari ridho manusia, lalu mendatangkan murka Allah. Allah sungguh memuji orang yang berjuang di jalan Allah. Mereka sama sekali tidaklah takut pada celaan manusia.”
Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang zuhud adalah yang melihat orang lain, lantas ia katakan, “Orang tersebut lebih baik dariku”. Ini menunjukkan bahwa hakekat zuhud adalah ia tidak menganggap dirinya lebih dari yang lain. Hal ini termasuk dalam pengertian zuhud yang ketiga.
Pengertian zuhud yang biasa dipaparkan oleh ulama salaf kembali kepada tiga pengertian di atas. Di antaranya, Wahib bin Al Warod mengatakan, “Zuhud terhadap dunia adalah seseorang tidak berputus asa terhadap sesuatu yang luput darinya dan tidak begitu berbangga dengan nikmat yang ia peroleh.” Pengertian ini kembali pada pengertian zuhud yang kedua. [7]
Pengertian Zuhud yang Amat Baik
Jika kita lihat pengertian zuhud yang lebih bagus dan mencakup setiap pengertian zuhud yang disampaikan oleh para ulama, maka pengertian yang sangat bagus adalah yang disampaikan oleh Abu Sulaiman Ad Daroni. Beliau mengatakan, “Para ulama berselisih paham tentang makna zuhud di Irak. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah enggan bergaul dengan manusia. Ada pula yang mengatakan, “Zuhud adalah meninggalkan berbagai macam syahwat.” Ada pula yang memberikan pengertian, “Zuhud adalah meninggalkan rasa kenyang” Namun definisi-definisi ini saling mendekati. Aku sendiri berpendapat,
أَنَّ الزُهْدَ فِي تَرْكِ مَا يُشْغِلُكَ عَنِ اللهِ
“Zuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah.[8]
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Definisi zuhud dari Abu Sulaiman ini amatlah bagus. Definisi telah mencakup seluruh definisi, pembagian dan macam-macam zuhud.”[9]
Jika bisnis yang dijalani malah lebih menyibukkan pada dunia sehingga lalai dari kewajiban shalat, maka sikap zuhud adalah meninggalkannya. Begitu pula jika permainan yang menghibur diri begitu berlebihan dan malah melalaikan dari Allah, maka sikap zuhud adalah meninggalkannya. Demikian pengertian zuhud yang amat luas cakupan maknanya.
Dunia Tidak Tercela Secara Mutlak
Ada sebuah perkataan dari ‘Ali bin Abi Tholib namun dengan sanad yang dikritisi. ‘Ali pernah mendengar seseorang mencela-cela dunia, lantas beliau mengatakan, “Dunia adalah negeri yang baik bagi orang-orang yang memanfaatkannya dengan baik. Dunia pun negeri keselamatan bagi orang yang memahaminya. Dunia juga adalah negeri ghoni (yang berkecukupan) bagi orang yang menjadikan dunia sebagai bekal akhirat. …”[10]
Oleh karena itu, Ibnu Rajab mengatakan, “Dunia itu tidak tercela secara mutlak, inilah yang dimaksudkan oleh Amirul Mukminin –‘Ali bin Abi Tholib-. Dunia bisa jadi terpuji bagi siapa saja yang menjadikan dunia sebagai bekal untuk beramal sholih.”
Ingatlah baik-baik maksud dunia itu tercela agar kita tidak salah memahami! Dunia itu jadi tercela jika dunia tersebut tidak ditujukan untuk mencari ridho Allah dan beramal sholih.
Zuhud Bukan Berarti Hidup Tanpa Harta
Sebagaimana sudah ditegaskan bahwa dunia itu tidak tercela secara mutlak. Namun sebagian orang masih salah paham dengan pengertian zuhud. Jika kita perhatikan pengertian zuhud yang disampaikan di atas, tidaklah kita temukan bahwa zuhud dimaksudkan dengan hidup miskin, enggan mencari nafkah dan hidup penuh menderita. Zuhud adalah perbuatan hati. Oleh karenanya, tidak hanya sekedar memperhatikan keadaan lahiriyah, lalu seseorang bisa dinilai sebagai orang yang zuhud. Jika ada ciri-ciri zuhud sebagaimana yang telah diutarakan di atas, itulah zuhud yang sebenarnya. Berikut satu kisah yang bisa jadi pelajaran bagi kita dalam memahami arti zuhud.
Abul ‘Abbas As Siroj, ia berkata bahwa ia mendengar Ibrahim bin Basyar, ia berkata bahwa ‘Ali bin Fudhail berkata, ia berkata bahwa ayahnya (Fudhail bin ‘Iyadh) berkata pada Ibnul Mubarok,
أنت تأمرنا بالزهد والتقلل، والبلغة، ونراك تأتي بالبضائع، كيف ذا ؟
“Engkau memerintahkan kami untuk zuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan (tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta. Mengapa bisa begitu?”
Ibnul Mubarok mengatakan,
يا أبا علي، إنما أفعل ذا لاصون وجهي، وأكرم عرضي، وأستعين به على طاعة ربي.
“Wahai Abu ‘Ali (yaitu Fudhail bin ‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari ‘aib (meminta-minta). Juga aku bekerja untuk memuliakan kehormatanku. Aku pun bekerja agar bisa membantuku untuk taat pada Rabbku”.[11]
Semoga pembahasan kami kali ini dapat memahamkan arti zuhud yang sebenarnya. Raihlah kecintaan Allah lewat sifat zuhud. Semoga Allah menganugerahkan pada kita sekalian sifat yang mulia ini.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Artikel www.rumaysho.com
Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal
Diselesaikan di sore hari, 17 Jumadits Tsani 1431 H (30/05/2010), di Panggang-GK

Perkataan zuhud bila dilihat ertinya dalam kamus Arab atau mengikut pengertian bahasa biasa ialah meninggalkan dunia. Tetapi mengikut istilah Islam, erti zuhud itu ialah hati tidak terpaut atau tidak terpengaruh dengan dunia dan nikmat-nikmatnya. Pengertian yang kedua, iaitu mengikut pengertian syariat inilah yang akan dibentangkan. Kerana zuhud mengikut syariat adalah disukai oleh Allah dan Rasul. Ia juga termasuk dalam sifat-sifat mahmudah.
Kalau demikianlah pengertian zuhud itu, tidak semestinya orang yang zuhud itu tidak memiliki dunia atau mesti meninggalkan segala nikmat-nikmat dunia. Boleh jadi nikmat dunia yang dimilikinya lebih banyak dari orang lain atau dia mengendalikan dunia dengan banyaknya. Namun demikian, dunia yang banyak itu, yang dimilikinya atau yang dikendalikannya itu tidak mempesonakannya. Sedikit pun dunianya yang banyak itu tidak terjatuh ke hatinya. Bahkan dunia itu ada atau tidak, sama saja baginya. Dia memiliki dunia serta mentadbirnya adalah dengan tujuan agar dunia itu dijadikan alat untuk membolehkannya beribadah kepada Allah SWT dan berkhidmat sesama manusia. Dunia yang dimilikinya itu dijadikan jambatan untuk ke Akhirat. Ini sesuai pula dengan tuntutan ajaran Islam yang dinyatakan dalam sabda Rasulullah SAW: “Dunia itu adalah tanam-tanaman untuk Akhirat.” (Riwayat Al ‘Uqaili)
Itulah Islam. Islam mengajar atau mendidik kita bahawa dunia itu boleh diambil tetapi biarlah ia boleh dijadikan modal untuk beribadah kepada Allah dan melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya kepada manusia. Demikianlah, supaya dengan itu membolehkan seseorang itu mengaut pahala sebanyak-banyaknya untuk dia memperolehi nikmat Syurga di Akhirat. Siapa yang menjual dunianya untuk Allah atau untuk Akhiratnya, maka Allah akan beli dengan bayaran yang ber-ganda-ganda tinggi nilainya. Iaitu digantikan dengan nikmat Syurga yang kekal abadi dan terhindar daripada seksa Neraka yang amat azabnya.
Persoalannya sekarang, bagaimana hukum dan cara kita mengambil dunia ini? Dan bagaimana cara mengendalikan dunia ini setelah realitinya ia berada di hadapan kita?
Ada beberapa kategori iaitu:
1. DUNIA YANG WAJIB
Dunia yang wajib diambil selagi ia halal ialah sekadar keperluan asas saja. Yang tidak boleh tidak (dharuri), yang mesti ada seperti tempat tinggal, makan minum, pakaian dan lain-lain lagi. Kalau tidak diambil akan berlaku kecacatan di segi syariat atau di sudut fizikal. Siapa meninggalkannya, haram hukumnya kecuali setelah diusahakan tidak berjaya memperolehinya. Ini tidak menafikan zuhud.
2. DUNIA YANG SUNAT
Dunia yang sunat diambil ialah perkara yang digunakan (selagi halal) untuk kemudahan di dalam menunaikan tanggungjawab yang wajib serta digunakan untuk menghasilkan perkara yang tidak boleh tidak. Seperti kenderaan yang perlu, alat-alat rumah yang memudahkan menjalankan tugas rumah tangga seperti dapur gas, pinggan mangkuk, periuk, dulang, mesin basuh, mesin jahit dan lain-lain lagi. Agar dengan itu tidak membuang masa yang banyak. Dan memudahkan menjalankan tanggungjawab. Bahkan adakalanya menjadi wajib aradhi. Kalau tidak ada alat-alat itu maka tergendalalah urusan yang wajib. Ini juga tidak menafikan zuhud. Perlu diingat, keperluan seseorang antara satu sama lain tidak sama. Maka sudah tentulah pula alat-alat keperluan tidak sama. Sebagai contoh, alat-alat keperluan seorang guru sudah tentu tidak sama dengan alat-alat keperluan seorang petani. Kiaskanlah yang lain-lainnya.
3. DUNIA YANG HARAM
Dunia yang haram kenalah ditolak terus seperti arak, wang judi, rasuah, hasil riba, hasil zina, tipu, rompak dan lain-lain lagi. Ini kerana perbuatan yang haram itu akan membawa ke Neraka.
4. DUNIA YANG MAKRUH
Dunia yang makruh diambil iaitu harta-harta yang syubhat. Yakni perkara-perkara yang samar-samar bercampur antara yang halal dan yang haram, yang tidak dapat dipastikan yang mana halal dan yang mana haram. Maka hukumnya makruh. Bagi orang yang warak, dia terus meninggalkannya. Sesiapa yang terlibat dengan harta syubhat ini ternafilah zuhudnya kerana ia dibenci.
5. DUNIA YANG HARUS
Dunia yang mubah (harus) diambil iaitu yang berbentuk untuk bersedap-sedapan, untuk keselesaan seperti kerusi yang mewah, buaian, kerusi rehat, tilam, katil yang mahal, bilik yang agak luas daripada kadar biasa tetapi tidak keterlaluan besarnya, kenderaan yang mewah dan lain-lain lagi, selagi halal. Cuma hisabnya banyak dan ia juga menafikan zuhud.
6. PEMBAZIRAN
Perkara yang halal sekalipun, kalau digunakan terlalu berlebih-lebihan, sudah melebihi batas keselesaan dan bersedap-sedapan, ini sudah dianggap pembaziran. Sedangkan pembaziran adalah haram di sisi Allah. Dalam Al Quran pembaziran itu dianggap sebagai kawan syaitan. Firman-Nya: “Sesungguhnya orang yang membazir itu adalah saudara kepada syaitan.” (Al Israk: 27)
Jadi, jika kita dapat menggunakan atau mengendalikan dunia yang dimiliki, yang tidak menafikan zuhud iaitu cara yang pertama dan kedua (dunia yang wajib dan sunat), ia masih dikatakan zuhud.
Dalam Islam, kalau seseorang itu mengambil dunia sekadar yang perlu dan untuk kemudahan atau paling tidak untuk keselesaan, kemudian selain daripada itu, dia tidak mahu mengusahakannya kerana kurang yakin yang dia boleh amanah dalam menggunakan dunia itu untuk Allah dan masyarakat, maka tidak salah dia berbuat demikian. Demikianlah sebaliknya, kalau seseorang itu yakin yang dia dapat berlaku amanah pada dirinya terhadap dunia atau dapat mengendalikan dunia untuk Allah dan masyarakat dengan sebaik-baiknya, yakni dia yakin boleh berbuat kebaikan dan kebajikan yang banyak serta boleh bersyukur, maka tidak mengapa dia usaha mencari kekayaan selagi halal. Padanya ada keharusan berbuat demikian. Ini juga tidak menafikan zuhud.
Sebagai contoh: Katalah dunia itu ialah jawatan tinggi. Kita tidak yakin dengan jawatan itu kita boleh berlaku amanah terhadap Allah dan masyarakat, maka tidak salah kalau kita menolak jawatan tersebut. Sebaliknya, kalau kita yakin dengan jawatan itu kita dapat amanah dengan Allah dan masyarakat, maka tidak salah pula kita mengambilnya. Kalau harta, kita boleh mengambil sebanyak mana sekalipun. Oleh itu kenalah kita hadapi dunia ini dengan iman dan taqwa agar dapat diuruskan penuh amanah dan rasa tanggungjawab.
Perlu rasanya saya ingatkan, jika berlaku dalam satu masa atau satu zaman, secara umum masyarakat Islam tidak dapat melaksanakan fardhu kifayah; menyediakan keperluan makan minum yang halal, membangunkan tempat-tempat pendidikan, membeli alat-alat senjata untuk melawan musuh-musuh, memberi biasiswa pada anggota-anggota masyarakat yang cerdik supaya berilmu di berbagai-bagai bidang yang menjadikan masyarakatnya tidak bergantung kepada orang lain; maka bagi orang yang mampu di waktu itu, wajib aradhi dia mengusahakan hingga terlaksananya fardhu kifayah tadi. Kalau tidak, akan menjadi satu kesalahan pada mereka.
Juga diingatkan, apabila berzuhud jangan sampai kita atau Islam terhina. Ini dilarang kecuali kita memang tidak mampu walaupun sudah berusaha untuk mengadakan keperluan-keperluan yang asas. Di waktu itu tidak mengapa dan kenalah kita bersabar. Jadi, kita kena faham sungguhsungguh akan pengertian zuhud ini. Kalau tidak, jadilah kita orang yang mewah tidak bertempat atau miskin sampai terhina atau bermewah-mewah di sebarang tempat.
Maksudnya begini: untuk dapat mengekalkan zuhud mesti dilakukan beberapa cara. Di antaranya:
1. Mewah mesti kena pada tempatnya. Umpamanya, kalau makan kenduri atau makan berjemaah, dibenarkan kita bermewah-mewah lauk-pauknya. Tetapi kalau kita makan seorang, eloklah berzuhud.
2. Miskin itu tidaklah dilarang tetapi tidak dibenarkan sampai tidak mencukupi keperluan-keperluan asas. Jadi dibenarkan miskin asal cukup keperluan asas.
3. Bermewah-mewah tidak boleh di sebarang tempat yakni di waktu orang semuanya miskin, tidak dibenarkan kita bermewah-mewah. Agar kekayaan itu dapat disalurkan kepada orang miskin.
Secara ringkasnya, kita boleh mengambil dunia ini tetapi perlu pertimbangkan mengikut ukuran semasa atau individu atau jemaah atau kumpulan atau pemimpin atau mengikut tanggungjawab serta tugas-tugas yang dipikul oleh seseorang dan lain-lain lagi.
Contoh: Mengikut ukuran semasa yang tidak menafikan zuhud:
1. Di zaman ini untuk menjimatkan masa, tenaga dan lain-lain lagi, kenalah naik kenderaan kapal terbang untuk perjalanan yang jauh, bukan pakai kereta lembu atau kuda atau kereta.
2. Di zaman moden ini untuk berhadapan dengan musuh-musuh, kenalah kita gunakan senjata-senjata canggih bukan lagi menggunakan keris.
Contoh: Mengikut ukuran kumpulan atau jemaah yang tidak menafikan zuhud:
Tidak salah bagi orang yang berjuang yang sentiasa sibuk, demi menjimatkan masa, tenaga dan lain-lain lagi serta selalu didatangi tetamu, maka di rumahnya dilengkapkan dengan peti ais, dapur gas, mesin basuh dan lain-lain kemudahan. Tidak salah pula mengadakan permaidani di rumah, di pejabat dan di masjid selagi halal dengan tujuan menghormati tetamu atau kepentingan umum. Bahkan di negeri-negeri sejuk, mengadakan permaidani di rumah dan di masjid sudah menjadi wajib aradhi pula.
Bahkan melengkapkan alat-alat kemudahan ini sudah jadi perlu bagi orang yang berjuang yang masanya terbatas. Kalau terlalu lama masa dihabiskan untuk membasuh misalnya, ini dikira termasuk pembaziran masa, tenaga dan lain-lain lagi. Sedangkan waktu itu sepatutnya lebih baik digunakan untuk pengurusan hal-hal yang lebih perlu. Katalah contohnya, dengan adanya mesin basuh, kita ada lebih masa untuk melayan suami terutama kalau suami kita pulangnya pun hanya sekali-sekala. Boleh juga diniatkan semasa mesin basuh itu bekerja, kita dapat rehat atau tidur, dengan tujuan dapat bangun sembahyang malam. Kecuali untuk orang perseorangan yang tidak berjuang atau tidak ada tanggungjawab mengadakan kemudahan-kemudahan ini, dia tergolong orang yang tidak zuhud sebab kalau diberi kemudahan dia akan relaks saja. Mungkin tidur baring saja atau duduk-duduk berbual kosong atau membolehkan dia berlalai-lalai. Ini menjadikan dia cinta dunia.
Berbeza dengan orang yang berjuang, yang masanya terbatas, banyak tanggungjawab dan sentiasa bergerak cepat. Kalau tidak ada alat-alat kemudahan ini, ia akan melambatkan atau mengganggu program-program yang lain. Atau banyak tanggungjawab tidak dapat dilaksanakan.
Contoh lain: Mengikut ukuran pemimpin yang tidak menafikan zuhud. Bagi seorang pemimpin, penting padanya keperluan alat-alat kemudahan yang canggih seperti kereta, telefon, faks, komputer, perbelanjaan perjalanan dan lain-lain lagi. Kalau tidak ada kemudahan alat-alat tadi, sudah tentu tergendala perjuangannya.
Juga diingatkan, kalau duit kita terbatas, janganlah dihabiskan untuk membeli barang-barang untuk kemudahan. Dibimbangkan, nanti tidak ada langsung bahagian untuk kita berbelanja pada perkara-perkara yang asas atau terabai kewajipan fardhu kifayah. Ini akan jadi satu kesalahan. Kerana perkara yang asas, wajib ditunaikan dan membangunkan masyarakat itu adalah lebih perlu supaya terlaksananya fardhu kifayah. Itu lebih patut kita utamakan. Biarlah kita susah sedikit asalkan kewajipan dapat ditunaikan.
CINTA DUNIA
Lawan zuhud ialah cinta dunia. Yakni orang yang hatinya terpaut dengan dunia atau mencintai dunia. Sama ada dia boleh memiliki dunia atau tidak, sedikit atau banyak, maka ternafilah sifat zuhudnya. Antara dunia itu ialah harta, yakni yang berupa wang, emas, intan berlian, rumah, kenderaan, tanah, kebun dan lain-lain lagi. Atau pangkat seperti jawatan raja, perdana menteri, menteri, pengarah, pegawai tadbir, kerani, mufti, kadhi dan lain-lain lagi.
Dunia ini sifatnya mempesonakan macam gadis cantik yang menggamit-gamit. Siapa yang terpandang semua akan jatuh hati. Jadi siapa saja yang memandang atau memiliki gadis cantik ini tidak lepas dari tertarik atau tergoda padanya. Begitulah juga dengan orang yang cinta dunia. Sudah pasti dunia itu akan mempesonakannya. Orang ini tidak akan dapat lepas lari dari ditipu daya olehnya. Allah nyatakan hal ini di dalam firman-Nya: “Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang yang terpedaya.” (Al Hadid: 20 / Ali Imran: 185)
Allah juga memberi peringatan keras di dalam firman-Nya: “Jangan sampai dunia itu menipu daya kamu.” (Luqman: 33)
Itulah dunia. Kenapa setelah Allah beri dunia, kemudian dilarang-Nya kita mengambil sewenang-wenangnya dan dunia itu dikatakan penipu pula? Apa maksudnya? Maksud dunia itu menipu ialah ia menjadikan manusia lalai, tidak dapat tunduk dan tidak patuh lagi pada syariat Allah SWT. Kemudian cinta dunia boleh menyebabkan seseorang itu menjadikan matlamat hidupnya hanya untuk dunia walaupun dia tahu dunia ini tidak kekal. Dia tahu dia juga akan mati dan akan kembali ke Akhirat. Namun dia tidak buat persiapan atau persediaan apa-apa untuk ke sana.
AKIBAT CINTA DUNIA
Cinta dunia ini boleh mengakibatkan beberapa hal. Di antara-nya ialah:
1. Dia sentiasa bertungkus-lumus memburu dunia sehingga tidak pernah memperhitungkan halal atau haram.
2. Hatinya sentiasa bimbang atau tidak tenang kalau-kalau dia tidak mendapat dunia yang diburunya itu.
3. Dia jadi manusia yang inferiority complex atau hina diri dengan manusia yang berada bilamana dunia itu tidak dapat dimilikinya.
4. Kalau dia memiliki dunia itu, bimbang pula kalau-kalau hilang atau berkurangan daripada tangannya. Bimbang dibinasakan oleh bencana alam atau dicuri oleh manusia dan sebagainya.
5. Kalau dia lihat ada orang lain dapat lebih darinya, dia akan susah hati. Dia akan berusaha mencari lagi untuk mengatasi orang itu dengan apa cara pun, selain merasa hasad dengki terhadap orang itu.
6. Dia jadi orang yang berangan-angan untuk sentiasa menokok tambah lagi dunia yang telah sedia ada dan fikiran serta usahausahanya sentiasa ke arah itu.
7. Dia akan jadi orang yang tamak dan rakus.
8. Kalau dia memiliki dunia, dia akan jadi manusia yang sombong dan boleh jadi kejam.
9. Walaupun niatnya untuk mencari kebahagiaan atau ketenangan tetapi badan, hati dan fikiran tidak kenal rehat, tidak ada ketenangan dan kebahagiaan lagi.
10. Ia tidak akan tunaikan kewajipan dengan dunia yang dimilikinya. Umpamanya, jika dia dapat pangkat atau jawatan dia akan jadikan itu semua untuk kepentingan diri peribadinya lebih daripada Allah SWT dan dari berbakti kepada masyarakat.
11. Kalau dia orang yang berharta, ia tidak akan keluarkan zakat yang menjadi kewajipannya. Apatah lagi kewajipan yang aradhi dan untuk bersedekah.
12. Ia tidak akan tunaikan kewajipan yang aradhi (mendatang). Contoh, orang yang susah tidak dibantunya. Kalau negaranya menghadapi perang, bencana atau kesusahan, dia tidak akan memberi bantuan.
13. Akan timbul pecah belah dan hilang kasih sayang dan persaudaraan kerana sombong dengan dunia dan kepentingan diri sendiri.
14. Manusia akan membencinya. Apatah lagi Allah. Sebab itu sebuah Hadis Rasulullah SAW menyeru: “Hendaklah kamu zuhud dengan apa yang ada di dunia nescaya kamu akan dicintai Allah. Hendaklah kamu berzuhud dari apa yang ada pada manusia nescaya kamu akan dicintai oleh manusia.” (Riwayat Ibnu Majah)
15. Ia akan jadi perosak masyarakat. Kerana hendakkan dunia, dia sanggup menipu, menyogok, rasuah, makan riba, beli undi, beli ijazah, beli kertas periksa, beli perempuan atau lelaki dan lain-lain lagi.
16. Kalau dia berjawatan pemerintah, mungkin dia jadi diktator, kejam, zalim, yang sanggup menjatuhkan lawan dengan menaburkan wang untuk mempertahankan kedudukannya, menghina dan memfitnah orang demi mempertahankan jawatan atau kerana inginkan jawatan itu.
17. Timbullah huru-hara, haru-biru, kucar-kacir, demontrasi atau mungkin juga peperangan di tengah-tengah masyarakat.
Demikianlah buruknya akibat cinta dunia ini. Maka berlakulah kemuncak kerosakan di kalangan umat Islam di akhir zaman ini. Hatta tidak berpadunya mereka kerana inilah. Hingga mereka menjadi lemah dan binasa. Rasulullah sendiri pernah berpesan:  “Akan tiba ketikanya kamu akan dikeronyok oleh musuh-musuh sebagaimana orang-orang yang berebut untuk makan suatu hidangan.” Para Sahabat bertanya: “Apakah ketika itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?” Jawab Baginda: “Tidak, bahkan jumlah kamu ketika itu ramai sekali tetapi seperti buih-buih ketika air bah, sedang kamu ditimpa penyakit wahan.” Mereka bertanya lagi: “Apakah penyakit wahan itu ya Rasulullah?” Baginda menjawab: “Kecintaan kepada dunia dan takut mati.” (Riwayat Abu Daud) Bahkan cinta dunia inilah yang menimbulkan seribu satu macam penyakit masyarakat. Sebab itu Rasulullah mengingatkan kita: “Cinta dunia kepala segala kejahatan.” (Riwayat Al Baihaqi)
Di sinilah pentingnya memiliki sifat zuhud itu. Dunia itu boleh diambil atau dikendalikan dengan syarat kita tidak jatuh hati padanya dan mengambilnya mengikut keperluan-keperluan yang telah disenaraikan tadi. Tetapi kalau tidak ada dunia dalam tangan sedangkan hati gila dunia, tetap juga tidak dikatakan zuhud. Kalau begitu sebagai kesimpulannya, asas zuhud itu terletak pada hati itu sendiri. Bukan bererti tidak ada dunia, bahkan ada dunia tetapi hatinya tidak terpaut dan pandai menggunakan dunia itu pada tempatnya seperti yang telah kita jelaskan, orang itu tetap bersifat zuhud. Sebaliknya kalau tidak ada dunia tetapi hatinya terpaut dengan dunia, tetap dianggap tidak zuhud.



Zuhud

Zuhud adalah salah satu akhlak utama seorang muslim. Terutama saat di hadapannya terbentang lebar kesempatan untuk meraih dunia dengan segala macam perbendaharaannnya. Apakah itu kekuasaan, harta, kedudukan, dan segala fasilitas lainnya. Karenanya, zuhud adalah karakteristik dasar yang membedakan antara seorang mukmin sejati dengan mukmin awam. Jika tidak memiliki keistimewaan dengan karakteristik ini, seorang mukmin tidak dapat dibedakan lagi dari manusia kebanyakan yang terkena fitnah dunia.
Apalagi seorang dai. Jika orang banyak mengatakan dia ”sama saja”, tentu nilai-nilai yang didakwahinya tidak akan membekas ke dalam hati orang-orang yang didakwahinya. Dakwahnya layu sebelum berkembang. Karena itu, setiap mukmin, terutama para dai, harus menjadikan zuhud sebagai perhiasan jati dirinya. Rasulullah saw. bersabda,”Zuhudlah terhadap apa yang ada di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di sisi manusia, maka manusia pun akan mencintaimu” (HR Ibnu Majah, tabrani, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
Makna dan Hakikat Zuhud
Makna dan hakikat zuhud banyak diungkap Al-Qur’an, hadits, dan para ulama. Misalnya surat Al-Hadiid ayat 20-23 berikut ini.
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Ayat di atas tidak menyebutkan kata zuhud, tetapi mengungkapkan tentang makna dan hakikat zuhud. Ayat ini menerangkan tentang hakikat dunia yang sementara dan hakikat akhirat yang kekal. Kemudian menganjurkan orang-orang beriman untuk berlomba meraih ampunan dari Allah dan surga-Nya di akhirat.
Selanjutnya Allah menyebutkan tentang musibah yang menimpa manusia adalah ketetapan Allah dan bagaimana orang-orang beriman harus menyikapi musibah tersebut. Sikap yang benar adalah agar tidak mudah berduka terhadap musibah dan apa saja yang luput dari jangkauan tangan. Selain itu, orang yang beriman juga tidak terlalu gembira sehingga hilang kesadaran terhadap apa yang didapatkan. Begitulah metodologi Al-Qur’an ketika berbicara tentang nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mengarahkan manusia untuk bersikap zuhud.
Dari ayat itu juga, kita mendapat pelajaran bahwa akhlak zuhud tidak mungkin diraih kecuali dengan mengetahui hakikat dunia –yang bersifat sementara, cepat berubah, rendah, hina dan bahayanya ketika manusia mencintanya– dan hakikat akhirat –yang bersifat kekal, baik kenikmatannya maupun penderitaannya.
Demikian juga ketika Rasulullah saw., ingin membawa para sahabatnya pada sikap zuhud, beliau memberikan panduan bagaimana seharusnya orang-orang beriman menyikapi kehidupannya di dunia. Rasulullah bersabda, ”Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau musafir.”(HR Bukhari). Selanjutnya Rasulullah mencontohkan langsung kepada para sahabat dan umatnya bagaimana hidup di dunia. Beliau adalah orang yang paling rajin bekerja dan beramal shalih, paling semangat dalam ibadah, paling gigih dalam berjihad. Tetapi pada saat yang sama beliau tidak mengambil hasil dari semua jerih payahnya di dunia berupa harta dan kenikmatan dunia. Kehidupan Rasulullah saw. sangat sederhana dan bersahaja. Beliau lebih mementingkan kebahagiaan hidup di akhirat dan keridhaan Allah swt. Ibnu Mas’ud ra. melihat Rasulullah saw. tidur di atas kain tikar yang lusuh sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata, ”Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur?” Maka Rasulullah saw. menjawab, ”Untuk apa dunia itu! Hubungan saya dengan dunia seperti pengendara yang mampir sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)
Para ulama memperjelas makna dan hakikat zuhud. Secara syar’i, zuhud bermakna mengambil sesuatu yang halal hanya sebatas keperluan. Abu Idris Al-Khaulani berkata, ”Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan membuang semua harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah lebih menyakini apa yang ada di sisi Allah ketimbang apa yang ada di tangan kita. Dan jika kita ditimpa musibah, maka kita sangat berharap untuk mendapatkan pahala. Bahkan ketika musibah itu masih bersama kita, kita pun berharap bisa menambah dan menyimpan pahalanya.” Ibnu Khafif berkata, ”Zuhud adalah menghindari dunia tanpa terpaksa.” Ibnu Taimiyah berkata, ”Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akhirat nanti, sedangkan wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang ditakuti bahayanya di akhirat nanti.”
Keutamaan Zuhud terhadap Dunia
Zuhud merupakan sifat mulia orang beriman karena tidak tertipu oleh dunia dengan segala kelezatannya baik harta, wanita, maupun tahta. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia. Tapi, orang beriman beramal shalih di dunia, memakmurkan bumi, dan berbuat untuk kemaslahatan manusia, kemudian mereka meraih hasilnya di dunia berupa fasilitas dan kenikmatan yang halal di dunia. Pada saat yang sama, hati mereka tidak tertipu pada dunia. Mereka meyakini betul bahwa dunia itu tidak kekal dan akhiratlah yang lebih baik dan lebih kekal. Sehingga, orang-orang beriman beramal di dunia dengan segala kesungguhan bukan hanya untuk mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia, tetapi untuk meraih ridha Allah dan surga-Nya di akhirat.
Berikut ini ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa Hadits yang menerangkan keutamaan zuhud terhadap dunia:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah; dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali Imran: 14-15).
Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Al-Kahfi: 45-46)
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Al-Ankabut: 64).
Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takuti atas kalian, tetapi aku takut pada kalian dibukakannya dunia bagi kalian sebagaimana telah dibuka bagi umat sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Rasulullah saw. mengabarkan kepada kita bahwa didatangkan orang yang paling senang di dunia sedang dia adalah ahli neraka di hari kiamat, dicelupkan ke dalam api neraka satu kali celupan. Kemudian ditanya, ”Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kebaikan? Apakah engkau merasakan kenikmatan (di dunia)?” Maka dia menjawab, ”Tidak, demi Allah, wahai Rabbku.” Kemudian didatangkan orang yang paling menderita di dunia dan dia ahli surga, dicelupkan satu kali celupan di surga. Kemudian ditanya, ”Wahai Anak Adam, apakah engkau pernah menderita kesulitan? Apakah lewat padamu suatu kesusahan (di dunia)?” Maka ia menjawab, ”Tidak, demi Allah, wahai Rabbku, tidak pernah aku mengalami kesusahan dan kesulitan sedikitpun.” (HR Muslim)
Rasulullah bersabda, “Demi Allah, perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang menyelupkan tangannya ke dalam lautan, lihatlah apa yang tersisa.” (HR Muslim)
Tanda-tanda Zuhud
Imam Al-Ghazali menyebutkan ada 3 tanda-tanda zuhud, yaitu: pertama, tidak bergembira dengan apa yang ada dan tidak bersedih karena hal yang hilang. Kedua, sama saja di sisinya orang yang mencela dan mencacinya, baik terkait dengan harta maupun kedudukan. Ketiga, hendaknya senantiasa bersama Allah dan hatinya lebih didominasi oleh lezatnya ketaatan. Karena hati tidak dapat terbebas dari kecintaan. Apakah cinta Allah atau cinta dunia. Dan keduanya tidak dapat bersatu.
Jadi, tanda zuhud adalah tidak adanya perbedaan antara kemiskinan dan kekayaan, kemuliaan dan kehinaan, pujian dan celaan karena adanya dominasi kedekatan kepada Allah.
Yahya bin Yazid berkata, ”Tanda zuhud ada dermawan dengan apa yang ada.” Imam Ahmad bin Hambal dan Sufyan r.a. berkata, ”Tanda zuhud adalah pendeknya angan-angan.”
Kehidupan zuhud ini dicontoh oleh para sahabatnya: Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah beberapa sahabat yang kaya raya, tetapi tidak mengambil semua harta kekayaannya untuk diri sendiri dan keluarganya. Sebagian besar harta mereka habis untuk dakwah, jihad, dan menolong orang-orang beriman. Mereka adalah tokoh pemimpin dunia yang dunia ada dalam genggamannya, namun tidak tertipu oleh dunia. Bahkan, mereka lebih mementingkan kehidupan akhirat dengan segala kenikmatannya. Abu Bakar berkata, ”Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami.”
Suatu saat Ibnu Umar mendengar seseorang bertanya, ”Dimana orang-orang yang zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat?” Lalu Ibnu Umar menunjukkan kuburan Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar, seraya balik bertanya, ”Bukankah kalian bertanya tentang mereka?”
Abu Sulaiman berkata, ”Utsman bin ‘Affan dan Abdurrahman bin Auf adalah dua gudang harta dari sekian banyak gudang harta Allah yang ada di bumi. Keduanya menginfakkan harta tersebut dalam rangka mentaati Allah, dan bersiap menuju Allah dengan hati dan ilmunya.”
Dengan demikian hanya orang yang berimanlah yang dapat memakmurkan bumi dan memimpin dunia dengan baik, karena mereka tidak menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Demikianlah cara umat Islam memimpin dunia, mulai dari Rasulullah saw., khulafaur rasyidin sampai pemimpin berikutnya. Pemerintahan Islam berhasil menghadirkan keamanan, perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Perdaban dibangun atas dasar keimanan dan moral. Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, salah satu pemimpin yang paling zuhud, masyarakat merasakan ketentraman, kesejahteraan, dan keberkahan. Tidak ada lagi orang yang miskin yang meminta-minta, karena kebutuhannya sudah tercukupi.
Tingkatan Zuhud
Zuhud orang-orang beriman memiliki tingkatan. Zuhud terhadap yang haram, zuhud terhadap yang makruh, zuhud terhadap yang syubhat, dan zuhud terhadap segala urusan dunia yang tidak ada manfaatnya untuk kebaikan hidup di akhirat.
Zuhud terhadap yang haram hukumnya wajib. Orang-orang beriman harus zuhud atau meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan Allah. Bahkan sifat-sifat orang beriman, bukan hanya meninggalkan yang diharamkan, tetapi meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna. Kualitas keimanan dan keislaman seseorang sangat terkait dengan kemampuannya dalam meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna. Allah swt. berfirman, “Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (Al-Mu’minun: 3). Rasulullah saw. bersabda, ”Diantara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna.” (HR At-Tirmidzi)
Imam Ahmad mengatakan, ”Zuhud ada tiga bentuk. Pertama, meninggalkan sesuatu yang haram, dan ini adalah zuhudnya orang awwam. Kedua, meninggalkan berlebihan terhadap yang halal, ini adalah zuhudnya golong yang khusus. Ketiga, meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkannya dari mengingat Allah, dan ini adalah zuhudnya orang-orang arif.”
Hal yang berkaitan dengan zuhud ada 6 perkara. Seseorang tidak berhak menyandang sebutan zuhud sehingga bersikap zuhud terhadap 6 perkara tersebut, yaitu; harta, rupa (wajah), kedudukan (kekuasaan), manusia, nafsu, dan segala sesuatu selain Allah. Namun demikian, ini bukan berarti menolak kepemilikan terhadapnya. Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. adalah orang yang paling zuhud di zamannya, tetapi memiliki banyak harta, wanita, dan kedudukan.
Nabi Muhammad saw. adalah nabi yang paling zuhud, tetapi juga punya beristri lebih dari satu. Sembilan dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga tanpa hisab, kecuali Ali bin Abi Thalib, semuanya kaya raya, tetapi pada saat yang sama mereka adalah orang yang paling zuhud. Mereka adalah Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdurahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqqas, dan Said bin Abdullah. Sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah sahabat yang paling zuhud. Meskipun demikian ketika meninggal dunia, beliau meninggalkan 21 wanita: 4 orang istri merdeka dan 17 budak wanita.
Setiap orang beriman harus senantiasa meningkatkan kualitas zuhudnya. Itulah yang akan memberinya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat serta meraih ridha Allah swt. Orang-orang yang berkerja keras mencari nafkah dengan cara yang halal. Ketika berhasil meraih banyak harta kemudian menunaikan kewajiban atas harta tersebut, seperti zakat, infak, dan lainnya. Dengan berlaku seperti itu, dia termasuk orang zuhud. Orang-orang yang beriman yang memiliki istri lebih dari satu untuk membersihkan dirinya (iffah) adalah termasuk orang yang zuhud.
Sedangkan orang kafir, karakteristiknya adalah rakus terhadap kehidupan dunia dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Bagi mereka tidak ada istilah halal dan haram. Mereka tidak mengenal perbedaan antara nikah dengan zina, antara hadiah dengan suap, antara bisnis dengan riba, antara makanan halal dengan yang haram. Bahkan pada hal yang dianggap tabu saja orang-orang kafir berupaya menghalakan semuanya. Perzinaan mereka menghalalkan dengan dalil hak asasi manusia.
Berawal dari kebebasan hak untuk membuka aurat dalam berbusana. Permisif dalam pergaulan dengan membolehkan berduaan di tempat sepi. Berciuman di tempat umum dijadikan hal lumrah. Sehingga, perilaku perzinaan menjadi berita yang selalu dipertontonkan di teve dan dikabarkan di tabliod. Dari mulai perzinaan lelaki dengan perempuan yang belum menikah, perzinaan lelaki dan perempuan yang sudah menikah, sampai perzinaan sejenis: lelaki dengan lelaki, perempuan dengan perempuan. Dari perzinaan inces sampai perzinaan yang dilakukan bukan pada tempatnya. Begitulah kehidupan orang kafir. Mereka seperti hewan, bahkan lebih rendah lagi. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)
Fudhail bin ‘Iyyadh berkata, “Allah menjadikan segenap keburukan dalam sebuah rumah, dan menjadikan kuncinya adalah cinta dunia. Dan Allah menjadikan segenap kebaikan dalam sebuah rumah, dan menjadikan kuncinya adalah zuhud dari dunia.”
Tragisnya, kepemimpinan dunia saat ini dikuasai oleh orang-orang kafir. Sehingga, kerusakannya sangat dahsyat. Jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Pola hidup materialisme mendominasi di hampir semua lapangan kehidupan. Tolok ukur kesusesan diukur dari sejauh mana berhasil meraup sebanyak-banyak materi, tanpa memperhatikan ukuran agama dan moral. Maka berlomba-lombalah setiap orang menjual diri dan harga diri untuk meraih sebanyak-banyaknya materi. Dan mayoritas umat Islam terimbas budaya materialisme itu. Pola hidupnya mirip dengan orang kafir sehingga terjadilah kerusakan yang sangat dahsyat. Realitas seperti inilah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah haditsnya dimana umat Islam terkena virus wahn (cinta dunia dan takut mati) dan berpola hidup materialisme hampir sama dengan orang kafir.
Cinta dunia dan rakus terhadap harta adalah penyakit yang paling berbahaya. Segala bentuk kejahatan bermuara dari kerakusan terhadap dunia dan pola hidup materialisme: perzinaan dan seks bebas, penjualan bayi, narkoba, perjudian, riba, korupsi, dan lain sebagainya. Karenanya, Rasulullah saw. mengingatkan akan bahaya rakus terhadap harta, ”Tidaklah dua serigala lapar yang dikirim pada kambing melebihi bahayanya daripada kerakusan seseorang terhadap harta dan kedudukan.” (HR At-Tirmidzi)
Upaya penyadaran kembali umat Islam tentang hakikat dunia dan akhirat sangat penting. Bahwa keimanan terhadap hari akhir adalah prinsip yang harus terus menerus diingat dan ditanamkan kepada umat Islam sehingga motivasi dan tujuan hidup mereka sesuai dengan nilai-nilai Islam. Semakin kuat keimanan seseorang kepada hari akhir, akan semakin baik dan semakin zuhud. Sebaliknya, semakin lemah keimanan seseorang kepada hari akhir, akan semakin jahat dan semakin rakus.
Dalam sebuah riwayat disebutkan dua orang zuhud bertemu, Ibrahim bin Adham dan Syaqiq Al-Balkhi. Syaqiq bertanya kepada Ibrahim, “Apa yang Anda ketahui tentang dunia?” Ibrahim balik bertanya, “Kalau menurut Anda, bagaimana?” Syaqiq menjawab, “Jika kami tidak mendapatkanya, maka kami harus bersabar. Dan jika mendapatkannya, maka kami harus bersyukur.” Ibrahim bin Adham berkata, “Kalau seperti itu, maka anjing Balakh (sebuah kota di Afghanistan) pun melakukannya.” Syaqiq bertanya, “Lalu, bagaimana menurut pendapat anda?” Ibrahim menjawab, “Jika tidak mendapatkan dunia, kami bersyukur. Dan jika mendapatnya, kami itsaar (mengutamakannya untuk orang lain).” Demikianlah bahwa zuhud memang memiliki tingkatan.
Kesalahpahaman terhadap Zuhud
Banyak orang yang salah paham terhadap zuhud. Banyak yang mengira kalau zuhud adalah meninggalkan harta, menolak segala kenikmatan dunia, dan mengharamkan yang halal. Tidak demikian, karena meninggalkan harta adalah sangat mudah, apalagi jika mengharapkan pujian dan popularitas dari orang lain. Zuhud yang demikian sangat dipengaruhi oleh pikiran sufi yang berkembang di dunia Islam. Kerja mereka cuma minta-minta mengharap sedekah dari orang lain, dengan mengatakan bahwa dirinya ahli ibadah atau keturunan Rasulullah saw. Padahal Islam mengharuskan umatnya agar memakmurkam bumi, bekerja, dan menguasai dunia, tetapi pada saat yang sama tidak tertipu oleh dunia.
Segala yang halal itu jelas dan segala yang haram itu jelas, di antara keduanya ada yang syubhat yang harus kita jauhi dan tinggalkan. Semoga Allah menjadi kita bagian orang yang zuhud dan diberi kita pemimpin zuhud yang membimbing kita dalam memakmurkan dunia.

3 Makna Zuhud




Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan
Kesimpulannya, zuhud terhadap dunia bisa ditafsirkan dengan tiga pengertian yang kesemuanya merupakan amalan hati dan bukan amalan tubuh. Oleh karenanya, Abu Sulaiman mengatakan,
لَا تَشْهَدْ لِأَحَدٍ بِالزُّهْدِ، فَإِنَّ الزُّهْدَ فِي الْقَلْبِ
“Janganlah engkau mempersaksikan bahwa seorang itu telah berlaku zuhud (secara lahiriah), karena zuhud itu letaknya di hati”
Makna pertama
Zuhud adalah hamba lebih meyakini rezeki yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya. Hal ini tumbuh dari bersih dan kuatnya keyakinan, karena sesungguhnya Allah telah menanggung dan memastikan jatah rezeki setiap hamba-Nya sebagaimana firman-Nya,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا (٦)
“Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya [Huud: 6].
Dia juga berfirman,
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ (٢٢)
Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu [Adz Dzaariyaat: 22].
فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ (١٧)
Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia [Ankabuut: 17].
Al Hasan mengatakan,
إِنَّ مِنْ ضَعْفِ يَقِينِكَ أَنْ تَكُونَ بِمَا فِي يَدِكَ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Salah satu bentuk lemahnya keyakinanmu terhadap Allah adalah anda lebih meyakini apa yang ada ditangan daripada apa yang ada di tangan-Nya”.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, beliau mengatakan,
إِنَّ أَرْجَى مَا أَكُونُ لِلرِّزْقِ إِذَا قَالُوا لَيْسَ فِي الْبَيْتِ دَقِيقٌ
“Momen yang paling aku harapkan untuk memperoleh rezeki adalah ketika mereka mengatakan, “Tidak ada lagi tepung yang tersisa untuk membuat makanan di rumah”
Masruq mengatakan,
إِنَّ أَحْسَنَ مَا أَكُونُ ظَنًّا حِينَ يَقُولُ الْخَادِمُ: لَيْسَ فِي الْبَيْتِ قَفِيزٌ مِنْ قَمْحٍ وَلَا دِرْهَمٌ
“Situasi dimana saya mempertebal husnuzhanku adalah ketika pembantu mengatakan, “Di rumah tidak ada lagi gandum maupun dirham.” [Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah (34871); Ad Dainuri dalam Al Majalisah (2744); Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (2/97)].
Imam Ahmad mengatakan,
أَسَرُّ أَيَّامِي إِلَيَّ يَوْمٌ أُصْبِحُ وَلَيْسَ عِنْدِي شَيْءٌ
“Hari yang paling bahagia menurutku adalah ketika saya memasuki waktu Subuh dan saya tidak memiliki apapun.” [Shifatush Shafwah 3/345].
Abu Hazim Az Zahid pernah ditanya,
مَا مَالُكَ؟
“Apa hartamu”,
beliau menjawab,
لِي مَالَانِ لَا أَخْشَى مَعَهُمَا الْفَقْرَ: الثِّقَةُ بِاللَّهِ، وَالْيَأْسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ
“Saya memiliki dua harta dan dengan keduanya saya tidak takut miskin. Keduanya adalah ats tsiqqatu billah (yakin kepada Allah) dan tidak mengharapkan harta yang dimiliki oleh orang lain [Diriwayatkan Ad Dainuri dalam Al Mujalasah (963); Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 3/231-232].
Pernah juga beliau ditanya,
أَنَا أَخَافُ الْفَقْرَ وَمَوْلَايَ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى؟ !
“Tidakkah anda khawatir akan kefakiran?” Beliau menjawab, “Bagaimana bisa saya takut fakir sementara Pemelihara-ku memiliki segala yang ada di langit, bumi, apa yang ada diantara keduanya, dan di bawah tanah.”
Selembar kertas pernah diserahkan kepada ‘Ali ibnu Muwaffaq, dia pun membacanya dan di dalamnya tertulis,
يَا عَلِيَّ بْنُ الْمُوَفَّقِ أَتَخَافُ الْفَقْرَ وَأَنَا رَبُّكَ؟
“Wahai ‘Ali ibnul Muwaffaq, masihkah engkau takut akan kefakiran sementara Aku adalah Rabb-mu?”
Al Fudhai bin ‘Iyadh mengatakan,
أَصْلُ الزُّهْدِ الرِّضَا عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Akar zuhud adalah ridha terhadap apa yang ditetapkan Allah ‘azza wa jalla.” [Diriwayatkan Ad Dainuri dalam Al Mujalasah (960, 3045); Abu ‘Abdirrahman As Sulami dalam Thabaqatush Shufiyah (10)].
Beliau juga mengatakan,
الْقَنُوعُ هُوَ الزُّهِدُ وَهُوَ الْغِنَى
“Qana’ah (puas atas apa yang diberikan oleh Allah ta’ala) merupakan sikap zuhud dan itulah kekayaan yang sesungguhnya.”
Dengan demikian, setiap orang yang merealisasikan rasa yakin kepada Allah, mempercayakan segala urusannya kepada Allah, ridha terhadap segala pengaturan-Nya, memutus ketergantungan kepada makhluk baik rasa takut dan harapnya, dan semua hal tadi menghalanginya untuk mencari dunia dengan sebab-sebab yang dibenci, maka setiap orang yang keadaannya demikian sesungguhnya dia telah bersikap zuhud terhadap dunia. Dia termasuk orang yang kaya meski tidak memiliki secuil harta dunia sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ammar,
كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا، وَكَفَى بِالْيَقِينِ غِنًى، وَكَفَى بِالْعِبَادَةِ شُغُلًا
“Cukuplah kematian sebagai nasehat, yakin kepada Allah sebagai kekayaan, dan ibadah sebagai kesibukan.” [Diriwayatkan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman (10556) dari ‘Ammar bin Yasar secara marfu’].
Ibnu Mas’ud mengatakan,
الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسُخْطِ اللَّهِ، وَلَا تَحْمَدَ أَحَدًا عَلَى رِزْقِ اللَّهِ، وَلَا تَلُمْ أَحَدًا عَلَى مَا لَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ، فَإِنَّ الرِّزْقَ لَا يَسُوقُهُ حِرْصُ حَرِيصٍ، وَلَا يَرُدُّهُ كَرَاهَةُ كَارِهٍ، فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى – بِقِسْطِهِ وَعِلْمِهِ وَحُكْمِهِ – جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الْيَقِينِ وَالرِّضَا، وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنَ فِي الشَّكِّ وَالسُّخْطِ
“Al Yaqin adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, engkau tidak memuji seseorang demi mendapatkan rezeki yang berasal dari Allah, dan tidak mencela seseorang atas sesuatu yang tidak diberikan Allah kepadamu. Sesungguhnya rezeki tidak akan diperoleh dengan ketamakan seseorang dan tidak akan tertolak karena kebencian seseorang. Sesungguhnya Allah ta’ala –dengan keadilan, ilmu, dan hikmah-Nya- menjadikan ketenangan dan kelapangan ada di dalam rasa yakin dan ridha kepada-Nya sserta menjadikan kegelisahan dan kesedihan ada di dalam keraguan dan kebencian” [Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (118) dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman (209)].
Di dalam sebuah hadits mursal disebutkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dengan do’a berikut,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا يُبَاشِرُ قَلْبِي، وَيَقِينًا [صَادِقًا] حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يَمْنَعُنِي رِزْقًا قَسَمْتَهُ لِي، وَرَضِّنِي مِنَ الْمَعِيشَةِ بِمَا قَسَمْتَ لِي
“Ya Allah saya memohon kepada-Mu iman yang mampu mengendalikan hatiku, keyakinan yang benar sehingga saya mengetahui bahwasanya hal itu tidak menghalangi rezeki yang telah Engkau bagikan kepadaku, dan jadikanlah saya ridha atas sumber penghidupan yang telah Engkau bagikan kepadaku.” [Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (112)].
Dulu, ‘Atha Al Khurasani tidak akan beranjak dari majelisnya hingga mengucapkan,
اللَّهُمَّ هَبْ لَنَا يَقِينًا مِنْكَ حَتَّى تُهَوِّنَ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، وَحَتَّى نَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يُصِيبُنَا إِلَّا مَا كَتَبْتَ عَلَيْنَا، وَلَا يُصِيبُنَا مِنَ الرِّزْقِ إِلَّا مَا قَسَمْتَ لَنَا
“Ya Allah, berilah kami rasa yakin terhadap diri-Mu sehingga mampu menjadikan kami menganggap ringan musibah dunia yang ada, sehingga kami meyakini bahwa tidak ada yang menimpa kami kecuali apa yang telah Engkau tetapkan kepada kami, dan meyakini bahwa rezeki yang kami peroleh adalah apa yang telah Engkau bagi kepada kami.” [Driwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (108)].
Diriwayatkan kepada kami secara marfu’ bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَكُونَ أَغْنَى النَّاسِ، فَلْيَكُنْ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ أَوْثَقَ مِنْهُ بِمَا فِي يَدِهِ
“Barangsiapa yang suka menjadi orang terkaya, maka hendaklah dia lebih yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya.” [Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 3/218-219; Al Qadha’i dalamMusnad Asy Syihab (367 & 368) dari hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas].
Makna Kedua
Zuhud adalah apabila hamba tertimpa musibah dalam kehidupan dunia seperti hilangnya harta, anak, atau selainnya, maka dia lebih senang memperoleh pahala atas hilangnya hal tersebut daripada hal itu tetap berada di sampingnya. Hal ini juga muncul dari sempurnanya rasa yakin kepada Allah.
Diriwayatkan dari ‘Ibnu ‘Umar bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam do’anya,
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.” [HR. Tirmidzi (3502); An Nasaai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (402); Al Hakim (1/528); Al Baghawi (1374). At Tirmidzi mengatakan, “Hadits hasan gharib”].
Do’a tersebut merupakan tanda zuhud dan minimnya kecintaan kepada dunia sebagaimana yan dikatakan oleh ‘Ali radhiallahu ‘anhu,
مَنْ زَهِدَ الدُّنْيَا، هَانَتْ عَلَيْهِ الْمُصِيبَاتُ
“Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, maka berbagai musibah akan terasa ringan olehnya.”
Makna Ketiga
Zuhud adalah hamba memandang sama orang yang memuji dan mencelanya ketika dirinya berada di atas kebenaran. Hal ini merupakan tanda bahwa dirinya zuhud terhadap dunia, menganggapnya sebagai sesuatu yang remeh, dan minimnya kecintaan dirinya kepada dunia.
Sesungguhnya setiap orang yang mengagungkan dunia akan cinta kepada pujian dan benci pada celaan. Terkadang hal itu menggiring dirinya untuk tidak mengamalkan kebenaran karena takut celaan dan melakukan berbagai kebatilan karena ingin pujian.
Dengan demikian, setiap orang yang memandang sama orang yang memuji dan mencelanya ketika dirinya berada di atas kebenaran, maka hal ini menunjukkan bahwa jabatan/kedudukan yang dimiliki manusia tidaklah berpengaruh di dalam hatinya dan juga menunjukkan bahwa hatinya dipenuhi rasa cinta akan kebenaran serta ridha kepada Allah. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud,
الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسُخْطِ اللَّهِ
“Yakin itu adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan cara menimbulkan kemurkaan Allah. Dan sungguh Allah telah memuji mereka yang berjuang di jalan-Nya dan tidak takut akan celaan.”
Sumber : Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hlm. 644-646.
Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Pengertian Zuhud Dalam Islam


 Writen by: Sri Widayati

(Pengertian Zuhud Dalam Islam) – Arti kata zuhud adalah tidak ingin kepada sesuatu dengan meninggalkannya. Menurut istilah zuhud adalah berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi dengan mengharap dan menginginkan sesuatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akherat.
Ada 3 tingkatan zuhud yaitu:
  1. Tingkat Mubtadi’ (tingkat pemula) yaitu orang yang tidak memiliki sesuatu dan hatinya pun tidak ingin memilikinya.
  2. Tingkat Mutahaqqiq yaitu orang yang bersikap tidak mau mengambil keuntungan pribadi dari harta benda duniawi karena ia tahu dunia ini tidak mendatangkan keuntungan baginya.
  3. Tingkat Alim Muyaqqin yaitu orang yang tidak lagi memandang dunia ini mempunyai nilai, karena dunia hanya melalaikan orang dari mengingat Allah. (menurut Abu Nasr As Sarraj At Tusi)
Menurut AI Gazali membagi zuhud juga dalam tiga tingkatan yaitu:
  1. Meninggalkan sesuatu karena menginginkan sesuatu yang lebih baik dari padanya
  2. Meninggalkan keduniaan karena mengharap sesuatu yang bersifat keakheratan
  3. Meninggalkan segala sesuatu selain Allah karena terlalu mencintai-Nya
Dalam keterangan di atas dapat disimpulkan pandangan bahwa harta benda adalah se’suatu yang harus dihindari karena dianggap dapat memalingkan hati, dari mengingat tujuan perjalanan sufi yaitu Allah.
Namun ada yang berpendapat bahwa zuhud bukan berarti semata-mata tidak mau memiliki harta benda dan tidak suka mengenyam nikmat duniawi, tetapi sebenarnya adalah kondisi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam mengabdikan diri kepada Allah
Tags:





Konsep Zuhud Dalam Islam: Suatu Renungan di Alaf Baru


Professor Madya Dr. Abdul Halim Muhammady
PENDAHULUAN

Zuhud adalah satu dari sifat kesempurnaan peribadi Muslim. la merupakan tanda kemantapan iman dalam hubungan manusia dengan Allah s.w.t. Memandangkan zuhud ini penting dalam kehidupan Muslim maka tulisan yang ringkas ini Cuba memberi huraian terhadap perkara-perkara berikut; definisi zuhud, asas-asas idea serta tingkatan-tingkatan zuhud, petanda-petanda dan kepentingannya dalam kehidupan Muslim.
DEFINISI ZUHUD

Perkataan "zuhud' adalah dari perkataan Arab. Ia berasal dari kata dasar "zahida" yang bermaksud mengelak dan meninggalkan sesuatu kerana kehinaannya atau kerana kekurangannya. Perkataan ini ada juga digunakan dalam al-Qur'an dengan ungkapan "al-Zahidin" maksudnya 'orang yang tidak suka'. Demikian jugs penggunaannya di dalam hadith-hadith dengan ungkapan yang berbeza-beta tetapi mempunyai pengertian yang tidak jauh berbeza.

Perkataan Zuhud dalam penggunaan biasa memberi erti sebagaimana di alas. Tetapi pengertian zuhud yang lebih khusus, seperti yang dimaksudkan dalam tulisan ini ialah kebencian hati terhadap perkara-perkara keduniaan dan mengelak diri daripadanya kerana mentaati Allah s.w.t. sedangkan dia mempunyai keupayaan untuk mendapatkannya, tapi is mengelakkan diri dari kegemaran itu dan meninggalkannya.3

ASAS IDEA

Analisa tentang zuhud ini adalah berasaskan kepada al-Qur'an dan al-Sunnah. Antara ayat-ayat yang berkaitan dengannya adalah sebagai berikut:

Terjemahan: Lalu mereka menjualnya dengan harga yang murah iaitu beberapa dirhani yang dihituuzg kerana mereka adalah orang yang tidak suka kepadanya.3
Firman-Nya lagi,

Terjemahan: Telah diperhiaskan manusia cinta kepada perkara perkara yang diingini iaitu perempuan perempuan, anak-anak, emas dan perak yang berpikul pikul, kuda yang balk, binatang-binatang temakan dan sawah ladang, yang demikian itu perhiasan hidup di dunia sedangkan dirinya di sisi Allah tempat kembali yang baik.

RasuluLlah s.a.w. juga pernah bersabda tentang zuhud antaranya ialah;

Tcrjemahan: Zahidlah kamu di dunia nescaya ALlah menciniai kurnu, dun zahidluh kanui apa yang ada pada tangan manusia, nescaya kamu dicintai oleh manusia.

Sabda Rasulullah s.a.w. lagi:

Terjemahan: Apabila ALlah menghendaki seseorang itu balk maka dizahidkannya hidup di dunia dan mengemarkannya kepada akhirat dan mempcrlihatkan kekurangun dirinya.

ULASAN TERHADAP DEFINISI DAN NAS

Difahami darn definisi dan nas-nas di alas jclas mcnunjukkan hahawa apa yang dikehendaki dengan zuhud itu ialah mengelak dan menyisihkan diri darn pcrkara-pcrkara kcduniaan kcrana mentaati ALlah dan rnematuhi hukum-Nya.

Apakah sebenarnya yang dimaksudkan dcngan pcrkara-pcrkara keduniaan itu'? Kita t1dak akan dapat mcmahami hakikat h1dupzulucd, tanpa mcmahami terlehih dahulu maksud pcrkara-pcrkara kcduniaan iii. Apa yang dimaksudkan dengan pcrkara-pcrkara kcduniaan itu ialah seperti apa yang dijclaskan oleh al-Our'an. ALlah s.w.t berfirman:

Terjemahan: Telah diperhiaskan manusia cinta kepada perkura-perkaru yang diingini iaitu perempuan-peremputill, anak-cucu, emus dan perak yang berpikul-pikul, kudu-kudu yang balk, binatang-binalang ternakan dun sawuh ludang, yang demikian itu perhiasan hidup di duniasedangkun di sisr ALlah tempal kennbali yang balk.

Dalam ayat yang lain pula Allah berfirman,

Terjemahan: Ketahui olehmu bahawa sesungguhnya hidup di dunia itu adalah mainan, leka, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu, membnyakkan harta dan anak-pinak…tidaklah kehidupan dunia itu kecuali kepuasan yang tertipu.
AL1ah s.w t. berfirman lagi,

Terjemahan: adalah mainan dan leka.

Kesimpulan dari nas di alas mengenai kehidupan dunia itu ialah kecenderungan manusia dan tumpuannya dalam usaha mencari kepuasan yang hanya mementingkan kebendaan semata-mata tanpa mengambil kira batasan hukum dan adab syara'. Ini termasuklah mencari kepuasan nafsu dengan perempuan, berbangga dengan anak dan keturunan, tamak dan mengumpul harta berpikul-pikul, dalam bentuk emas, perak, binatang-binatang ternakan, kebun-kebun dan sawah ladang. Mereka bukan sahaja berusaha untuk mengumpul harta malah mereka juga turut merasa bangga dengan pencapaian itu. ALlah s.w.t. meletakkan orang yang menumpukan perhatian kepada perkara-perkara itu sebagai mereka yang hidup dalam main- dan kelekaan semata-mata. Kepuasan yang mereka rasai itu sebenarnya kepuasan yang tertipu, bersifat sementara, merugikan dan melalaikan manusia dari menumpukan kepada hakikat yang lebih bernilai dan lebih tinggi.

Sungguhpun perkara ini dianggap sebagai perkara-perkara keduniaan tetapi keperluannya kepada manusia tidak dapat dinafikan. Justeru itu, manusia mengambil manfaat sekadar keperluannya sahaja, dan itu tidak dikira sebagai keduniaan tetapi sebagai memenuhi keperluan (hajat), dan keperluan ini adalah sebagai ketentuan yang mesti dipenuhi (darurat). Maka untuk menentukan pengambilan dan penggunaan perkara-perkara itu secara baik, sifat zuhud ini amat diperlukan untuk membendung diri dari kegelojohan nafsu manusia itu; nafsu syahawat dan nafsu membina rasa, melalui rasa keindahan dalam berbagai bentuknya.

Termasuk dalam perkara keduniaan juga ialah cinta hidup lama dan takut kepada mati. ALlah berfirman:

Terjemahan: Dan mereka berkata, Tuhan kami, kenapakah Kamu mewajibkan ke atas kami berperang, mengapakah Kamu tidak membiarkan kami hingga ajal yang hampir.

Cita-cita ingin hidup lama dan takut kepada mati adalah dikira sebagai perkara keduniaan. Ini kerana dengan cita-cita itu kita seolah-olah ingin memanjangkan masa untuk memuankan kecenderungan nafsu yang buas. Kita juga ingin memenulu masa dengan keseronokan yang bersifat sementara, yang mempunyai kemahuan tanpa batasan.

PERKARA KEDUNIAAN DAN KEPERLUAN

Melalui tujuh perkara yang disebut dalam ayat di atas, terdapat di dalamnya dua penilaian hukum, iaitu keduniaan dan keakhiratan. Jika penggunaan perkara-perkara yang disebutkan adalah sekadar keperluannya sahaja maka itu tidaklah dikira sebagai keduniaan tetapi sebagai darurat dan sebagai hajat yang mesti dipenuhi." Bagi mereka yang zuhud , perkara yang halal itu digunakan tidak lebih dari keperluan asasinya kerana mereka takut terlibat dengan persoalan yang lebih lama dan perkiraan yang lebih panjang di akhirat.

Dalam kita menilai keperluan yang wajib diambil kira sebagai penggunaan dan pengambilan yang tidak dapat dielakkan, maka keperluan itu harm dilihat dari berbagai aspek. Ini kerana keperluan itu adalah berbagai; ada keperluan yang wujud dalam hubungan individu, keluarga, masyarakat dan ada dalam hubungan negara.

Jadi, supaya penyaluran dan penggunaan perkara-perkara di alas tidak membazir dan tidak melampaui batas-batas hukum, maka zuhud dapat memainkan peranan supaya penyaluran dan penggunaannya berlaku dengan sebaik-baiknya. Dengan itu penggunaan perkara-perkara itu bukan lagi bersifat keduniaan tetapi adalah untuk kepentingan akhirat dan keredaan Allah.

TINGKATAN-TINGKATAN ZUHUD

Dipandang kepada pencapaian manusia didapati zuhud itu ada beberapa peringkat;

1. zuhud yang paling rendah ialah zuhud dari perkara-perkara keduniaan, iaitu walaupun pembawaan dan kecenderungan kepada keduniaan itu masih ada dalam dirinya, tetapi is berjihad untuk Cuba menjauhkan dirinya dan Cuba mengelak darinya. Orang yang berada dalam tingkatan ini masih berada dalam bahaya iaitu sekiranya dia dikuasai maka dia akan terjerumus ke dalam lubuk keduniaan itu.

2. zuhud yang pertengahan ialah apabila seseorang itu meninggalkan perkara-perkara keduniaan secara taat kepada hukum Allah s.w.t. Ini adalah untuk mengelakkan kehinaan dari perkara itu di samping kecenderungannya mencari ketaatan dan untuk mendapat keuntungan yang lebih dari Allah.


3. zuhud yang paling tinggi ialah zuhud yang semata-mata taat kepada ALlah dengan tidak ada sebarang pertimbangan yang lain. Bagiuya perkara dunia itu tidak ada nilai langsung. Ada atau tidaknya sama sahaja, jika dibandingkan dengan nikmat di akhirat, dan dengan meninggalkan perkara itu dia tidak akan merasai apa-apa kesan pun. zuhud dalam peringkat ini akan menyebabkan is merasa aman di dalam dirinya kerana kesempurnaan ma'rifatnya, dan tidak ada sebarang lintasan dalam dirinya terhadap perkara-perkara keduniaan itu.


TANDA-TANDA ZUHUD

Untuk mengetahui zuhud di dalam diri seseorang maka terdapat tiga petanda yang digariskan oleh Imam Ghazali'S iaitu:

1. Tidak merasa gembira dengan apa yang dapat dicapai dan tidak merasa dukacita dengan apa yang hilang, iaitu berdasarkan kepada firman ALlah s.w.t.;

Ini adalah tanda zuhud pada harta.

2. Sikapnya sama sahaja sama ada dipuji atau dicela. Ini adalah tanda zuhud pada pangkat dan kedudukan.

3. Sentiasa mendampingi diri dengan ALlah s.w.t. Hatinya sentiasa dipenuhi oleh kemanisan ketaatannya kepada ALlah kerana sifat hati sememangnya tidak boleh kosong dari kemanisan dan kecintaan sama ada kepada ALlah atau kepada yang lain.

ASAS ZUHUD

Tanda permulaan zuhud itu ialah memasukkan dalam hati ingatan yang patuh kepada akhirat, kemudian timbul kemesraan perhubungan dengan ALlah s.w.t. Ingatan hati secara penuh kepada akhirat tidak boleh berlaku kecuali apabila seseorang itu hilang ingatan hati kepada keduniaan. Kemesraan perhubungan dengan Allah pula tidak boleh berlaku kecuali hilang kecenderungan hawa nafsu. Orang yang bertaubat dari dosa sedangkan is tidak merasa kemanisan taat maka dirinya tidak akan terjamin aman dari mengulangi kembali, perbuatan dosanya, dan orang yang meninggalkan perkara dunia sedangkan is tidak merasa kemanisan zuhud maka is akan kembali pula kepada keduniaan.16

KEPENTINGAN ZUHUD DALAM KEHIDUPAN MUSLIM

Zuhud sebagaimana yang dijelaskan, adalah menimbulkan kecenderungan untuk mengelak dan menyisihkan diri dari perkara-perkara keduniaan kerana taat kepada ALlah, iaitu mengelak diri dari perkara-perkara keduniaan yang menghalang dirinya dari sampai kepada tahap untuk menuju ke arah keridaan ALlah s.w.t.

Zuhud dapat menimbulkan kecenderungan hubungan yang tinggi di antara manusia dengan ALlah s.w.t, iaitu hubungan yang diasaskan kepada rasa cinta dari ma'rifat ALlah yang penuh melalui basirah. Di samping itu kesan yang balk dan menyeluruh berlaku dalam tindak-tanduk seseorang. Ini termasuklah mengambil segala perkara yang ada di hadapannya sekadar keperluan dan yang lebihan disalurkan untuk kepentingan kebajikan masyarakat.


setuju...ada kenyataan mengatakan.....berdakwah/kerja dakwah jangan jadikan kerjaya...hingga kaya raya dan hidup mewah

1 ulasan: