Isnin, 11 Mei 2015

NIKAH KAHWIN
















Memilih Pasangan Idaman Menurut Sunnah Rasulullah
Terikatnya jalinan cinta dua orang insan dalam sebuah pernikahan adalah perkara yang sangat diperhatikan dalam syariat Islam yang mulia ini. Bahkan kita dianjurkan untuk serius dalam permasalahan ini dan dilarang menjadikan hal ini sebagai bahan candaan atau main-main.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
ثلاث جدهن جد وهزلهن جد: النكاح والطلاق والرجعة
“Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius: nikah, cerai dan ruju.’” (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali An Nasa’i. Dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah)
Salah satunya dikarenakan menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu-dua hari saja bahkan seumur hidup, insya Allah. Jika demikian, merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahwa orang yang hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup.
Sungguh sayang, anjuran ini sudah semakin diabaikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Sebagian mereka terjerumus dalam perbuatan maksiat seperti pacaran dan semacamnya, sehingga mereka pun akhirnya menikah dengan kekasih mereka tanpa memperhatikan bagaimana keadaan agamanya. Sebagian lagi memilih pasangannya hanya dengan pertimbangan fisik. Mereka berlomba mencari wanita cantik untuk dipinang tanpa peduli bagaimana kondisi agamanya. Sebagian lagi menikah untuk menumpuk kekayaan. Mereka pun meminang lelaki atau wanita yang kaya raya untuk mendapatkan hartanya. Yang terbaik tentu adalah apa yang dianjurkan oleh syariat, yaitu berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup serta menimbang anjuran-anjuran agama dalam memilih pasangan.
Setiap muslim yang ingin beruntung dunia akhirat hendaknya mengidam-idamkan sosok suami dan istri dengan kriteria sebagai berikut:
1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Ini adalah kriteria yang paling utama dari kriteria yang lain. Maka dalam memilih calon pasangan hidup, minimal harus terdapat satu syarat ini. Karena Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al Hujurat: 13)
Sedangkan taqwa adalah menjaga diri dari adzab Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Maka hendaknya seorang muslim berjuang untuk mendapatkan calon pasangan yang paling mulia di sisi Allah, yaitu seorang yang taat kepada aturan agama. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun menganjurkan memilih istri yang baik agamanya,
تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك
“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير
“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)
Jika demikian, maka ilmu agama adalah poin penting yang menjadi perhatian dalam memilih pasangan. Karena bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, padahal dia tidak tahu apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan apa saja yang dilarang oleh-Nya? Dan disinilah diperlukan ilmu agama untuk mengetahuinya.
Maka pilihlah calon pasangan hidup yang memiliki pemahaman yang baik tentang agama. Karena salah satu tanda orang yang diberi kebaikan oleh Allah adalah memiliki pemahaman agama yang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan akan dipahamkan terhadap ilmu agama.” (HR. Bukhari-Muslim)
2. Al Kafa’ah (Sekufu)
Yang dimaksud dengan sekufu atau al kafa’ah -secara bahasa- adalah sebanding dalam hal kedudukan, agama, nasab, rumah dan selainnya (Lisaanul Arab, Ibnu Manzhur). Al Kafa’ah secara syariat menurut mayoritas ulama adalah sebanding dalam agama, nasab (keturunan), kemerdekaan dan pekerjaan. (Dinukil dari Panduan Lengkap Nikah, hal. 175). Atau dengan kata lain kesetaraan dalam agama dan status sosial. Banyak dalil yang menunjukkan anjuran ini. Di antaranya firman Allah Ta’ala,
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)
Al Bukhari pun dalam kitab shahihnya membuat Bab Al Akfaa fid Diin (Sekufu dalam agama) kemudian di dalamnya terdapat hadits,
تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك
“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (keislamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Salah satu hikmah dari anjuran ini adalah kesetaraan dalam agama dan kedudukan sosial dapat menjadi faktor kelanggengan rumah tangga. Hal ini diisyaratkan oleh kisah Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Zainab adalah wanita terpandang dan cantik, sedangkan Zaid adalah lelaki biasa yang tidak tampan. Walhasil, pernikahan mereka pun tidak berlangsung lama. Jika kasus seperti ini terjadi pada sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi kita?
3. Menyenangkan jika dipandang
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang telah disebutkan, membolehkan kita untuk menjadikan faktor fisik sebagai salah satu kriteria memilih calon pasangan. Karena paras yang cantik atau tampan, juga keadaan fisik yang menarik lainnya dari calon pasangan hidup kita adalah salah satu faktor penunjang keharmonisan rumah tangga. Maka mempertimbangkan hal tersebut sejalan dengan tujuan dari pernikahan, yaitu untuk menciptakan ketentraman dalam hati.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
“Dan di antara tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram denganya.” (QS. Ar Ruum: 21)
Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan 4 ciri wanita sholihah yang salah satunya,
وان نظر إليها سرته
“Jika memandangnya, membuat suami senang.” (HR. Abu Dawud. Al Hakim berkata bahwa sanad hadits ini shahih)
Oleh karena itu, Islam menetapkan adanya nazhor, yaitu melihat wanita yang yang hendak dilamar. Sehingga sang lelaki dapat mempertimbangkan wanita yang yang hendak dilamarnya dari segi fisik. Sebagaimana ketika ada seorang sahabat mengabarkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia akan melamar seorang wanita Anshar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أنظرت إليها قال لا قال فاذهب فانظر إليها فإن في أعين الأنصار شيئا
“Sudahkah engkau melihatnya?” Sahabat tersebut berkata, “Belum.” Beliau lalu bersabda, “Pergilah kepadanya dan lihatlah ia, sebab pada mata orang-orang Anshar terdapat sesuatu.” (HR. Muslim)
4. Subur (mampu menghasilkan keturunan)
Di antara hikmah dari pernikahan adalah untuk meneruskan keturunan dan memperbanyak jumlah kaum muslimin dan memperkuat izzah (kemuliaan) kaum muslimin. Karena dari pernikahan diharapkan lahirlah anak-anak kaum muslimin yang nantinya menjadi orang-orang yang shalih yang mendakwahkan Islam. Oleh karena itulah, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih calon istri yang subur,
تزوجوا الودود الولود فاني مكاثر بكم الأمم
“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur! Karena aku berbangga dengan banyaknya ummatku.” (HR. An Nasa’I, Abu Dawud. Dihasankan oleh Al Albani dalam Misykatul Mashabih)
Karena alasan ini juga sebagian fuqoha (para pakar fiqih) berpendapat bolehnya fas-khu an nikah (membatalkan pernikahan) karena diketahui suami memiliki impotensi yang parah. As Sa’di berkata: “Jika seorang istri setelah pernikahan mendapati suaminya ternyata impoten, maka diberi waktu selama 1 tahun, jika masih dalam keadaan demikian, maka pernikahan dibatalkan (oleh penguasa)” (Lihat Manhajus Salikin, Bab ‘Uyub fin Nikah hal. 202)
Kriteria Khusus untuk Memilih Calon Suami
Khusus bagi seorang muslimah yang hendak memilih calon pendamping, ada satu kriteria yang penting untuk diperhatikan. Yaitu calon suami memiliki kemampuan untuk memberi nafkah. Karena memberi nafkah merupakan kewajiban seorang suami. Islam telah menjadikan sikap menyia-nyiakan hak istri, anak-anak serta kedua orang tua dalam nafkah termasuk dalam kategori dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كفى بالمرء إثما أن يضيع من يقوت
“Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud. Al Hakim berkata bahwa sanad hadits ini shahih).
Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membolehkan bahkan menganjurkan menimbang faktor kemampuan memberi nafkah dalam memilih suami. Seperti kisah pelamaran Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha:
عن فاطمة بنت قيس رضي الله عنها قالت‏:‏ أتيت النبي صلى الله عليه وسلم، فقلت‏:‏ إن أبا الجهم ومعاوية خطباني‏؟‏ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏‏”‏أما معاوية، فصعلوك لا مال له ، وأما أبوالجهم، فلا يضع العصا عن عاتقه‏
“Dari Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya”.” (HR. Bukhari-Muslim)
Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merekomendasikan Muawiyah radhiyallahu ‘anhu karena miskin. Maka ini menunjukkan bahwa masalah kemampuan memberi nafkah perlu diperhatikan.
Namun kebutuhan akan nafkah ini jangan sampai dijadikan kriteria dan tujuan utama. Jika sang calon suami dapat memberi nafkah yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan keluarganya kelak itu sudah mencukupi. Karena Allah dan Rasul-Nya mengajarkan akhlak zuhud (sederhana) dan qana’ah (menyukuri apa yang dikarunai Allah) serta mencela penghamba dan pengumpul harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تعس عبد الدينار، والدرهم، والقطيفة، والخميصة، إن أعطي رضي، وإن لم يعط لم يرض
“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah dan celakalah hamba khamilah. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.” (HR. Bukhari).
Selain itu, bukan juga berarti calon suami harus kaya raya. Karena Allah pun menjanjikan kepada para lelaki yang miskin yang ingin menjaga kehormatannya dengan menikah untuk diberi rizki.
وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kalian. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An Nur: 32)
Kriteria Khusus untuk Memilih Istri
Salah satu bukti bahwa wanita memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam adalah bahwa terdapat anjuran untuk memilih calon istri dengan lebih selektif. Yaitu dengan adanya beberapa kriteria khusus untuk memilih calon istri. Di antara kriteria tersebut adalah:
1. Bersedia taat kepada suami
Seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An Nisa: 34)
Sudah sepatutnya seorang pemimpin untuk ditaati. Ketika ketaatan ditinggalkan maka hancurlah ‘organisasi’ rumah tangga yang dijalankan. Oleh karena itulah, Allah dan Rasul-Nya dalam banyak dalil memerintahkan seorang istri untuk taat kepada suaminya, kecuali dalam perkara yang diharamkan. Meninggalkan ketaatan kepada suami merupakan dosa besar, sebaliknya ketaatan kepadanya diganjar dengan pahala yang sangat besar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا صَلَتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ
“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.” (HR. Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Al Albani)
Maka seorang muslim hendaknya memilih wanita calon pasangan hidupnya yang telah menyadari akan kewajiban ini.
2. Menjaga auratnya dan tidak memamerkan kecantikannya kecuali kepada suaminya
Berbusana muslimah yang benar dan syar’i adalah kewajiban setiap muslimah. Seorang muslimah yang shalihah tentunya tidak akan melanggar ketentuan ini. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’” (QS. Al Ahzab: 59)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengabarkan dua kaum yang kepedihan siksaannya belum pernah beliau lihat, salah satunya adalah wanita yang memamerkan auratnya dan tidak berbusana yang syar’i. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نساء كاسيات عاريات مميلات مائلات رؤسهن كأسنة البخت المائلة لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وإن ريحها ليوجد من مسيرة كذا وكذا
“Wanita yang berpakaian namun (pada hakikatnya) telanjang yang berjalan melenggang, kepala mereka bergoyang bak punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan bahkan mencium wanginya pun tidak. Padahal wanginya surga dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)
Berdasarkan dalil-dalil yang ada, para ulama merumuskan syarat-syarat busana muslimah yang syar’i di antaranya: menutup aurat dengan sempurna, tidak ketat, tidak transparan, bukan untuk memamerkan kecantikan di depan lelaki non-mahram, tidak meniru ciri khas busana non-muslim, tidak meniru ciri khas busana laki-laki, dll.
Maka pilihlah calon istri yang menyadari dan memahami hal ini, yaitu para muslimah yang berbusana muslimah yang syar’i.
3. Gadis lebih diutamakan dari janda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar menikahi wanita yang masih gadis. Karena secara umum wanita yang masih gadis memiliki kelebihan dalam hal kemesraan dan dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis. Sehingga sejalan dengan salah satu tujuan menikah, yaitu menjaga dari penyaluran syahawat kepada yang haram. Wanita yang masih gadis juga biasanya lebih nrimo jika sang suami berpenghasilan sedikit. Hal ini semua dapat menambah kebahagiaan dalam pernikahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عليكم بالأبكار ، فإنهن أعذب أفواها و أنتق أرحاما و أرضى باليسير
“Menikahlah dengan gadis, sebab mulut mereka lebih jernih, rahimnya lebih cepat hamil, dan lebih rela pada pemberian yang sedikit.” (HR. Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al Albani)
Namun tidak mengapa menikah dengan seorang janda jika melihat maslahat yang besar. Seperti  sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang menikah dengan janda karena ia memiliki 8 orang adik yang masih kecil sehingga membutuhkan istri yang pandai merawat anak kecil, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyetujuinya (HR. Bukhari-Muslim)
4. Nasab-nya baik
Dianjurkan kepada seseorang yang hendak meminang seorang wanita untuk mencari tahu tentang nasab (silsilah keturunan)-nya.
Alasan pertama, keluarga memiliki peran besar dalam mempengaruhi ilmu, akhlak dan keimanan seseorang. Seorang wanita yang tumbuh dalam keluarga yang baik lagi Islami biasanya menjadi seorang wanita yang shalihah.
Alasan kedua, di masyarakat kita yang masih awam terdapat permasalahan pelik berkaitan dengan status anak zina. Mereka menganggap bahwa jika dua orang berzina, cukup dengan menikahkan keduanya maka selesailah permasalahan. Padahal tidak demikian. Karena dalam ketentuan Islam, anak yang dilahirkan dari hasil zina tidak di-nasab-kan kepada si lelaki pezina, namun di-nasab-kan kepada ibunya. Berdasarkan hadits,
الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجْرُ
“Anak yang lahir adalah milik pemilik kasur (suami) dan pezinanya dihukum.” (HR. Bukhari)
Dalam hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menetapkan anak tersebut di-nasab-kan kepada orang yang berstatus suami dari si wanita. Me-nasab-kan anak zina tersebut kepada lelaki pezina menyelisihi tuntutan hadits ini.
Konsekuensinya, anak yang lahir dari hasil zina, apabila ia perempuan maka suami dari ibunya tidak boleh menjadi wali dalam pernikahannya. Jika ia menjadi wali maka pernikahannya tidak sah, jika pernikahan tidak sah lalu berhubungan intim, maka sama dengan perzinaan. Iyyadzan billah, kita berlindung kepada Allah dari kejadian ini.
Oleh karena itulah, seorang lelaki yang hendak meminang wanita terkadang perlu untuk mengecek nasab dari calon pasangan.
Demikian beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan oleh seorang muslim yang hendak menapaki tangga pernikahan. Nasehat kami, selain melakukan usaha untuk memilih pasangan, jangan lupa bahwa hasil akhir dari segala usaha ada di tangan Allah ‘Azza Wa Jalla. Maka sepatutnya jangan meninggalkan doa kepada Allah Ta’ala agar dipilihkan calon pasangan yang baik. Salah satu doa yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan shalat Istikharah. Sebagaimana hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
إذا هم أحدكم بأمر فليصلِّ ركعتين ثم ليقل : ” اللهم إني أستخيرك بعلمك…”
“Jika kalian merasa gelisah terhadap suatu perkara, maka shalatlah dua raka’at kemudian berdoalah: ‘Ya Allah, aku beristikharah kepadamu dengan ilmu-Mu’… (dst)” (HR. Bukhari)
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shaalihat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Semoga Tulisan Ini Bermanfaat Untuk Anda Semua Dan Semoga Berguna Untuk Kehidupan Didunia Maupun Diakhirat. Amien.
Sumber : http://muslim.or.id/

Tips dan Panduan Memilih Jodoh

Mencari pasangan hidup bukan mudah. Pasangan hidup maknanya pasangan untuk hidup bersama, bukan sekejap.
cari jodohJika umur panjang mungkin bersama sehingga 50 tahun.
Bangun bersama, makan bersama, berbual bersama, tidur bersama. Berkongsi anak, berkongsi rumah, berkongsi rasa, berkongsi kasih. Maka, mencari pasangan hidup ini memang perkara serius. Serius. Memang serius.
Jangan akibat si dia mengurat anda, maka anda terus terpesona dan bersetuju. Jangan semata si dia comel atau glamour, maka anda terus mengambilnya.
Fikir betul-betul. Solat istikharah dan banyakkan berdoa. Selagi belum tenang jiwa, tunggu dulu. Usah tergopoh gapah. Mencari jodoh, perlukan panduan. Perlu ada sandaran ilmu dan petunjuk.
Dalam banyak-banyak penulisan, saya suka memetik sebahagian dari artikel Ust. Hasrizal (Abu Saif) dalam lamannya SaifulIslam.com.
Antara yang menarik tulisan berikut:
Hadis Nabi SAW yang diulang-ulang sebagai slogan memanifestasikan keinginan berumahtangga.
Bukan tidak banyak penjelasan tentang hadis ini di pelbagai sumber maklumat yang ada. Tetapi sering anak muda kecundang dalam mengimbangkan kefahamannya dalam konteks TEPAT dan JELAS.
Selagi mana tidak tepat, selagi itulah jalannya tersasar ke sana sini. Kehidupan yang tidak ditentukan arahnya, adalah kehidupan yang tidak tentu arah.
Apa Tujuan Berumahtangga?
“Begin with the end in mind”, adalah slogan kita untuk menepatkan matlamat kehidupan dan segenap peringkat perjalanannya.
Soal menentukan matlamat yang tepat, tidaklah begitu susah.
Berkahwin kerana harta? Harta bukan sumber bahagia.
Donald Trumph yang kaya raya itu pun pernah mengeluh dalam temubualnya bersama John C. Maxwell..
“Aku melihat ramai orang yang lebih gembira hidupnya dari hidupku. Padaku mereka itulah orang yang berjaya. Tetapi semua orang mahu menjadi aku.”
Harta bukan matlamat atau pertimbangan utama dalam menentukan pemilihan pasangan.
Berkahwin kerana keturunan? Keturunan bukan jaminan sumber bahagia.
Syarifah hanya boleh berkahwin dengan Syed? Puteri hanya layak untuk Megat?
Atau pantang keturunan berkahwin dengan ahli muzik bak kata Mak Dara?
Soal keturunan bukan penentu mutlak kerana setiap manusia lahir dengan fitrah yang satu dan murni, lantas setiap mukallaf dan mukallafah mampu kembali kepada kemurnian itu, biar pun lahir ke dunia tanpa bapa yang sah sekali pun.
Keturunan bukan matlamat atau pertimbangan utama dalam menentukan pemilihan pasangan.
Berkahwin kerana kecantikan? Ahh, yang ini rumit barangkali.
Cinta itu dari mata turun ke hati. Maka mata pemutus pertama.
Jika berkenan di mata, mudahlah mata memujuk hati.
Tetapi selama mana kecantikan menyenangkan kehidupan?
Kecantikan, biar secantik mana pun, akan pudar dengan perjalanan masa. Kecantikan, biar secantik mana sekali pun, boleh dicabar oleh naluri manusia yang mudah kalah dengan alasan JEMU.
Mahu berkahwin sementara cantik, dan buang selepas cantik dan kacak bergaya itu dimamah usia?
Cantik bukan sumber bahagia, ia bukan matlamat atau pertimbangan utama dalam menentukan pemilihan pasangan.
“Maka pilihlah yang memiliki agama.. Nescaya sejahtera hidupmu”, pesan Nabi SAW.
Benar sekali, pilihlah yang beragama.
“Maka saya kena kahwin dengan ustazah, saya kena kahwin dengan ustaz!”, kata seorang pelajar ‘bidang bukan agama’.
Doa Cari JodohPenyakit “Tidak Jelas”
Setelah begitu tepat sekali kita menolak harta, keturunan dan rupa paras sebagai sebab untuk memilih pasangan, tibalah kita kepada masalah paling besar menguruskan fikiran tentang perkahwinan, iaitu penyakit “tidak jelas”, apabila tiba kepada soal beragama.
Apakah yang memiliki agama itu mesti seorang yang ustazah atau ustaz?
Maka berkahwin dengan golongan ini, jaminan bahagia. Benarkah begitu?
Di sinilah penting untuk kita bezakan golongan yang TAHU agama, MAHU beragama dan MAMPU dalam beragama.
Soal mendapatkan ilmu sebagai jalan beragama, adalah prinsip besar di dalam Islam. Lihat sahaja langkah pertama proses wahyu, ia bermula dengan perintah BACA sebagai wasilah menggarap pengetahuan.
Tetapi apakah TAHU itu merupakah maksud kita beragama dengan agama Islam ini?
Sejauh mana gred ‘A’ yang digarap dalam subjek “PengeTAHUan Agama Islam” menjadi bekal dan perisai generasi Muslim dalam beragama?
“Yang memiliki agama” itu lebih luas dari sekadar sempadan tahu agama. Ia adalah soal MAHU yang menjadikan pengetahuan agama itu dihayati, dan MAMPU dalam erti dia sentiasa bermujahadah untuk memperbaiki diri.
Maka janganlah disempitkan maksud mencari yang beragama itu hanya pada mereka yang berlabelkan “jenama TAHU agama” tetapi apa yang lebih penting adalah mereka yang MAHUdan terbukti pada perbuatan hariannya dia sentiasa berusaha menuju MAMPU.
Dia mungkin seorang ustazah.
Dia juga mungkin seorang jurutera dan doktor.
Dia mungkin bertudung labuh.
Dia juga mungkin belum bertudung tetapi sentiasa mencari jalan untuk menuju kesempurnaan kebaikan. Dia seorang yang membuka dirinya untuk dibimbing dan diajar. Seorang yang ‘teachable”.
Hanya ‘Beragama’?
Ada pula yang menyangka bahawa kebahagiaan rumahtangga itu terletak pada beragamanya pasangan kita. Soal harta, keturunan dan rupa paras tidak punya sebarang makna.
Maka jadilah seorang perempuan itu fasih lidahnya tentang agama dan rapi pakaiannya sebagai isyarat dia beragama, tetapi dia tidak mengetahui nilai harta.
Dia boros dan tidak bijak menguruskan harta rumahtangganya.
Dia nampak elok beragama, malah mungkin seorang pejuang agama, tetapi dia tidak peduli nilai keturunan dan kekeluargaan.
Dia tidak menghargai keluarganya sendiri, tidak menghargai keluarga suami atau juga keluarga isteri.
Padanya, soal keluarga dan keturunan bukan urusan agama.
Dia bijak dalam memperkatakan tentang agama, tetapi dia menjadikan alasan agama untuk tidak peduli kepada penampilan diri. Pakaiannya selekeh atas nama agama, kulitnya tidak dijaga bersih, beralasankan agama.
Jika perempuan, dia tidak peduli untuk mewangikan diri atau bersolek mengemas diri, kerana padanya itu semua bukan kehendak agama, dan si suami menikahinya bukan kerana itu.
Saban hari mukanya bertepek dengan bedak sejuk dan tubuhnya bersarung baju kelawar. Hambar..
Jika lelaki, dia biarkan diri selekeh dan sentiasa berkemban di dalam kain pelekat dan baju pagoda, membiarkan bau peluh jantannya tidak berbasuh, kerana semua itu tiada kena mengena dengan agama.
Jadilah agama, sebagai alasan untuk sebuah rumahtangga itu menjadi rumahtangga terhodoh, terburuk dan terselekeh… atas nama berkahwin kerana beragama.
doa pendekat jodoh

Memilih Jodoh

Memilih Jodoh
Indah suaranya, belum tentu elok rupanya. Semakin tinggi gelarnya, juga belum tentu tinggi ilmu agama atau akhlaknya
“Kapan kalian menikah, kapan punya anak, kapan punya adik?” Demikian salah satu bunyi iklan KB di TV. Sudah menjadi fitrah, jika manusia memiliki rasa mencintai terhadap lawan jenisnya. Laki-laki mencintai wanita, begitu pula sebaliknya, wanita mencintai laki-laki.
Yang tidak fitrah, jika ia mencintai sesama jenis. Karena hal ini telah menjadi naluri, mau-tidak mau, ia pun harus memenuhi kebutuhannya. Kalau tidak, justru akan berdampak buruk pada diri sendiri, dan tentu saja terhadap keeksistensian manusia. Karena itu, biasanya, pertanyaan-pertanyaan seperti iklan itu selalu hadir pada setiap orang, mana-kala ia telah mengalami cukup umur untuk itu.
Secara umum, semua orang pasti menginginkan pendamping yang mampu memberikannya kebahagiaan. Dan seiring dengan perkembangan zaman (teknologi dan informasi), berbagai acara dimunculkan sebagai media penghantar, yang memfasilitasi tercapainya tujuan tersebut. Sebagai contoh, acara gelar jodoh di sebuah stasiun TV semarak pengikut.
Ada juga, SMS jodoh. Tinggal ketik “REG (spasi) Jodoh dan kirim ke ….” Maka secara spontanitas, ciri/tipe pasangan yang cocok bagi pemirsa yang sedang berkelana mencari pasangan, akan muncul. Gaung bersambut, acara sejenis ini, banyak digandrungi oleh masyarakat Indonesia.
Pertanyaannya, benarkah cara-cara demikian akan menghasilkan pasangan yang akan memberi kebahagiaan seperti yang didamba-dambakan? Lalu, bagaimana sebenarnya tipe pasangan yang bisa menghantarkan kepada kebahagiaan hakiki itu?
Nikah Sebagai Ibadah
Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur kehidupan manusia secara proporsional, sehingga tidak satu pun ajaran yang telah ditetapkannya, kecuali membawa kemaslahatan bagi manusia itu sendiri. Sebagai makhluk biologis, sudah barangtentu mereka (manusia) membutuhkan pasangan hidup, untuk melampiaskan hasrat birahinya.
Dan demi kebaikan tatanan manusia, baik secara individu ataupun jama’ah, syari’ah atau sosial, Islam menganjurkan kepada bani Adam untuk menikah, sebagai sarana yang suci, yang diberkahi, dalam menyalurkan naluri biologisnya tersebut. Selain itu, ia juga menjadi sarana yang akan menjauhkan manusia dari perbuatan zina, yang mana tindakan tersebut telah diharamkan oleh Allah. “Janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang paling buruk” (QS. Al-Israa':32). Demikianlah ketegasan Allah, mengenai hubungan di luar nikah.
Anjuran untuk menikah, secara langsung difirmankan oleh Allah dalam Al-Quran, surat An-Nisa’ ayat 2, ”Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi….”
Sedangkan dalam hadits, Rasulullah bersanda: “Hai para pemuda! Barangsiapa di antara kamu sudah mampu kawin, maka kawinlah; karena hal itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.” (HR. Bukhari)
Karena menikah adalah ibadah, oleh sebab itu proses menuju ke sana juga harus berlandaskan syari’at (silakan dibuka semua kitab fikih yang membahas tentang syarat dan rukun nikah). Tidak itu saja, untuk memastikan bahwa calon pasangan kita itu merupakan tipe orang yang akan membawa keselamatan bagi keluarga di dunia dan akhirat, maka kita harus memperhatikan, kemudian malaksanakan pesan Nabi mengenai kriteria calon pasangan hidup, yang dapat membawa angin keselamatan.
Sabda beliau, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir, ”Sesungguhnya Nabi Shalallahu ’alaihi wassallama, bersabda ”sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, hartanya, dan kecantikannya; maka pilihlah yang beragama.” (Riwayat Muslim dan Tirmidzi)
Melalui sabdanya ini, beliau, Rasulullah, menjelaskan secara transparan bahwa dalam memilih calon pendamping hidup, siapapun dia, tiga alasan yang menjadi standar acuan seseorang mencari pendamping hidup; kecantikan/ketampanan, kekayaan, nasab (keturunan), dan agama.
Bagi mereka yang normal, tentu sangat mengharapkan kalau calon pasangannya itu, merupakan perpaduan dari tiga unsur ini. Siapa yang tidak bangga memiliki pendamping yang shaleh/shalehah, tampan/cantik, lagi tajir. Akan tergambar begitu indahnya mahligai rumah tangga masa depan, yang dibangun dengan berpondasikan keimanan, serta dihiasai oleh kecantikan dan kemewahan. Terbayang jelas di pelupuk mata, betapa indahnya surga dunia yang akan mereka lalui berdua bersama anak-anak keturunan mereka mendatang.
Masalahnya, manakah yang harus diprioritaskan, ketika kita ditemukan dengan mereka yang tidak memenuhi tiga standart di atas? Karena bukan sesuatu yang mudah, untuk menemukan tipe macam ini. Jawabannya, perhatikanlah kalimat terakhir dari sabda Nabi di atas, ”Maka pilihlah yang beragama”.
”Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kecantikannya, karena nasabnya, karena agamanya. Maka pilihlah alasan menikahinya karena agamanya. Kalau tidak maka rugilah engkau,” demikian sabda Nabi.
Jelas sudah, seberapapun elok, cantik, tampan, paras calon pasangan kita, dan setinggi apapun gundukan permata dan berlian yang menumpuk di rumahnya, tetapi ketika nilai-nilai keagamaan tidak terpancar dari jiwanya, maka tetap agama menjadi prioritas utama.
Model pilihan macam ini harus kita hindari, sebab bisa jadi, wajah nan cantik/tampan bak sinar rembulan di tengah gelapnya malam, harta yang berlimpah ruah hingga tak terhitung jumlahnya, justru menjadi momok penghancur mahligai rumah tangga, karena kesombongan diri terhadap apa yang mereka miliki. Sungguh hamba sahaya yang hitam kelam lagi beriman, takut kepada Allah dan Rosul-Nya, lebih baik dari mereka tersebut.
Rasulullah mengingatkan kita melalui sabdanya:
”Janganlah kamu menikahi perempuan karena kecantikannya, mungkin kecantikan itu akan membawa kerusakan bagi diri mereka sendiri. Dan janganlah kamu menikahi karena mengharap harta mereka, mungkin hartanya itu menyebabkan mereka sombong, tetapi nikahilah mereka atas dasar agama. Dan sesungguhnya hamba sahaya yang hitam lebih baik, asal ia beragama,” (Riwayat Baihaqi)
Lebih tegas lagi, dalam sabdanya yang lain Rasulullah menjelaskan, ”Barang siapa yang menikahi seorang perempuan karena hartanya, niscaya Allah akan melenyapkan harta dan kecantikannya. Dan barang siapa yang menikahi karena agamanya, niscaya Allah akan memberi karunia kepadanya dengan harta dan kecantikannya.” (Al- Hadits)
Mereka Perhiasan Dunia
Kasus perceraian artis karena skandal perselingkuhan, sudah menjadi rahasia umum. Betapa sakitnya perasaan salah satu pihak, mengetahui kalau istri/suaminya, bergandengan mesra dengan orang lain. Hal tersebut tidak mungkin terjadi, sekiranya kedua belah pihak benar-benar faqih fiddien (faham agama).
Si suami, misalnya, tidak mungkin berselingkuh ketika ia bertugas di luar rumah, karena dia faham akan syari’at. Lebih-lebih, ketika ia mengingat, bagaimana si istri melayaninya dengan begitu baik, mendidik anak tanpa kenal lelah, menjaga harta dengan amanah, mengingatkan ketika dia lalai, memberi motivasi ketika semangat turun, dan sebagainya, dan sebagainya.
Pria/wanita yang menjadikan syariat sebagai landasan hidupnya, menjadi pegangan dalam bekerja di manapun berada. Selain itu, akan lebih mudah baginya, mendepak godaan dari luar. Bayangkan, sekiranya ada suami tak tunduk syariat, juga ada istrinya tidak bisa menjaga hijabnya, istri tidak taat kepada suami? Pasti kesempatan buruk sangat terbuka lebar. Dan contoh yang demikian itu, bisa kita ambil sampelnya dari kasus perceraian para selebritis.
Suami yang saleh –yang taat kepada Allah dan Rosul-Nya– ia akan senantiasa menenangkan hati dan menentramkan jiwa istrinya. Begitu sebaliknya. Istri yang beriman, ia senantiasa menjaga harta dan dirinya di kala suami tak ada di rumah. Hal ini sejalan lurus dengan sabda Rosulullah, ”Sebaik-baik perempuan yang apabila engkau memandangnya, ia menyenangkanmu; dan jika engkau menyuruhnya, diturutnya perintahmu; dan jika engkau bepergian, dipeliharanya hartamu dan dijaganya kehormatanya.”
Betapa banyak artis yang lebih memilih “kembali ke panggung” untuk mencari ketenaran dibanding menjaga rumah-tangganya di rumah? Tak sedikit di antara mereka bahkan rela memilih cerai daripada kehilangan ketenaran yang pernah diraihnya.
Apakah tipe seperti ini yang sedang Anda cari? Tentu tidak. Lantas wanita yang bagaimanakah yang mampu mencerminkan sosok di atas ini? Tidak lain, hanya mereka yang faham akan agama, karena dengan faham agama, mereka akan mengerti akan tugas-tugas sebagai istri terhadap suami.
”Sebab itu maka wanita yang salehah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri sepeninggal suaminya karena Allah telah memelihara,” terang Allah dalam surat An-Nisa’, ayat 34, mengenai keutamaan wanita salehah.
Trik Syar’i
Islam adalah agama yang memberi solusi. Begitu pula dengan permasalahan di atas. Al-Quran telah menyodorkan rahasianya kepada kaum muslimin, sehingga mampu mendapatkan pasangan, yang sesuai dengan kriteria di atas, tanpa harus melanggar syari’at, seperti, berkhalwat, dan sejenisnya. Lalu apa rahasianya?
Allah menerangkan dalam Al-Quran :
”Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji, untuk perempuan-perempuan yang keji pula (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik, untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untu perempuan-perempuan yang baik (pula)……….” (An-Nur 26).
Mustahil akan ditemukan yang saleh/salehah, jika seseorang mencarinya di tempat-tempat yang tidak baik dan dengan cara yang tidak diridai Allah dan Rasul-Nya. Pasangan yang mulia tak mungkin didapatkan dengan ramalan dukun, atau mengikuti anjuran TV dengan ikut reg_spasi. Akan lebih mudah dengan memperbaiki diri dengan sempurna mungkin, maka jodoh yang sempurna itu akan tiba. Dalam kata lain, jodohnya tergantung kepada kepribadiannya. Ketika kepribadiannya baik, maka, ia pun akan mendapatkan yang terbaik, ketika kepribadiannya buruk, ia pun akan mendapatkan yang setimpal.
Kesimpulannya, mencari pasangan hidup, bukan seperti seseorang yang membeli kucing di dalam karung. Sebab, indah suaranya, belum tentu elok rupanya. Semakin tinggi gelarnya, juga belum tentu tinggi ilmu agama atau akhlaknya. Sekali lagi, “Jangan ceroboh dalam mencari jodoh, sebab ia merupakan salah satu penentu dari kebahagiaan Anda!” Wallahu ‘alam bis-shawab. [Robin Sah/www.hidayatullah.com]

Tips Memilih Pasangan Hidup

Nov 252010
bismillahirrahmanirrahim
Menikah mengandung tanggung jawab yang besar. Oleh karena itu, memilih pasangan hidup juga merupakan hal yang harus benar-benar diperhatikan. Rasulullah SAW telah memberikan teladan dan petunjuk tentang cara memilih pasangan hidup yang tepat dan islami. Insya Allah tips-tips berikut ini akan dapat bermanfaat.
A. Beberapa kriteria memilih calon istri
  1. Beragama islam (muslimah). Ini adalah syarat yang utama dan pertama.
  2. Memiliki akhlak yang baik. Wanita yang berakhlak baik insya Allah akan mampu menjadi ibu dan istri yang baik.
  3. Memiliki dasar pendidikan Islam yang  baik. Wanita yang memiliki dasar pendidikan Islam yang baik akan selalu berusaha untuk menjadi wanita sholihah yang akan selalu dijaga oleh Allah SWT. Wanita sholihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia.
  4. Memiliki sifat penyayang. Wanita yang penuh rasa cinta akan memiliki banyak sifat kebaikan.
  5. Sehat secara fisik. Wanita yang sehat akan mampu memikul beban rumah tangga dan menjalankan kewajiban sebagai istri dan ibu yang baik.
  6. Dianjurkan memiliki kemampuan melahirkan anak. Anak adalah generasi penerus yang penting bagi masa depan umat. Oleh karena itulah, Rasulullah SAW menganjurkan agar memilih wanita yang mampu melahirkan banyak anak.
  7. Sebaiknya memilih calon istri yang masih gadis terutama bagi pemuda yang belum pernah menikah. Hal ini dimaksudkan untuk memelihara keluarga yang baru terbentuk dari permasalahan lain.
B. Beberapa kriteria memilih calon suami
  1. Beragama Islam (muslim). Suami adalah pembimbing istri dan keluarga untuk dapat selamat di dunia dan akhirat, sehingga syarat ini mutlak diharuskan.
  2. Memiliki akhlak yang baik. Laki-laki yang berakhlak baik akan mampu membimbing keluarganya ke jalan yang diridhoi Allah SWT.
  3. Sholih dan taat beribadah. Seorang suami adalah teladan dalam keluarga, sehingga tindak tanduknya akan ‘menular’ pada istri dan anak-anaknya.
  4. Memiliki ilmu agama Islam yang baik. Seorang suami yang memiliki ilmu Islam yang baik akan menyadari tanggung jawabnya pada keluarga, mengetahui cara memperlakukan istri, mendidik anak, menegakkan kemuliaan, dan menjamin kebutuhan-kebutuhan rumah tangga secara halal dan baik.
Sebagai catatan tambahan, dianjurkan memilih calon pasangan hidup yang jauh dari silsilah kekerabatan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keturunan dari penyakit-penyakit menular atau cacat bawaan kekerabatannya. Selain itu juga dapat memperluas pertalian kekeluargaan dan ukhuwah islamiyah.
Semoga kita semua dibimbing oleh Allah SWT dalam berikhtiar mendapatkan pasangan hidup yang terbaik dan diridhoi-Nya serta dapat ikut serta menemani kita ke surga dunia dan akhirat. Amin.
alhamdulillahirabbilalaminReferensi:
  1. Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda : “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
  2. “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu … .” (QS. Al Baqarah : 221)
  3. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) … .” (QS. An Nur : 26)
  4. “Maka wanita-wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara dirinya, oleh karena itu Allah memelihara mereka.” (QS. An Nisa’ : 34)
  5. “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)
  6. Dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : ” … kawinilah perempuan penyayang dan banyak anak … .” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)
  7. Dari Jabir, dia berkata, saya telah menikah maka kemudian saya mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan bersabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Apakah kamu sudah menikah ?” Jabir berkata, ya sudah. Bersabda Rasulullah : “Perawan atau janda?” Maka saya menjawab, janda. Rasulullah bersabda : “Maka mengapa kamu tidak menikahi gadis perawan, kamu bisa bermain dengannya dan dia bisa bermain denganmu.”
  8. “ … dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita Mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang Mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al Baqarah : 221)
  9. “Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang Dien dan akhlaknya kamu ridhai maka kawinkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi ini dan tersebarlah kerusakan.” (HR. At Tirmidzi)
  10. “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (nikah) dan hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur : 32)
  11. Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi WaSallam : “Jangan membenci seorang Mukmin (laki-laki) pada Mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai.” (HR. Muslim)
  12. Al Hasan bin Ali rahimahullah pernah berkata pada seorang laki-laki : “Kawinkanlah puterimu dengan laki-laki yang bertakwa sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya maka dia tidak akan mendzaliminya.”
  13. http://tipsoke.com/tips-oke-memilih-pasangan-hidup-menurut-islam.html

Rukun dan Syarat Nikah

4 Apr. 20109 comments
Menurut syariat Agama Islam, setiap perbuatan hukum harus memenuhi dua unsur, yaitu rukun dan syarat. Rukun ialah unsur pokok (tiang) dalam setiap perbuatan hukum, sedangkan syarat ialah unsur pelengkap dalam setiap perbuatan hukum.
Apabila kedua unsur ini tidak dipenuhi, maka suatu perbuatan dianggap tidak syah menurut hukum, demikian pula untuk syahnya suatu pernikahan harus dipenuhi rukun dan syaratnya (rukun dan syarat nikah).
1. Rukun Nikah
1) Calon mempelai pria
2) Calon mempelai wanita
3) Wali
4) Dua orang saksi (laki-laki)
5) Ijab (dari wali calon mempelai perempuan atau wakilnya) dan Qabul (dari calon mempelai laki-laki atau wakilnya)
2.  Syarat Nikah
Menurut syariat Islam syarat nikah sebagai berikut :
1.  Syarat calon pengantin pria sebagai berikut :
a) Beragama Islam
b) Terang prianya (bukan banci)
c) Tidak dipaksa
d) Tidak sedang beristri 4 (empat) orang
e) Bukan mahrom calon isteri
f) Tidak mempunyai isteri yang haram dimadu dengan calon isterinya
g) Mengetahui calon isterinya bukan perempuan yang haram dinikahinya
h) Tidak dalam ihram haji atau umroh
2. Syarat calon pengantin wanita sebagai berikut
a) Beragama Islam
b) Terang wanitnya (bukan banci)
c) Telah member izin pada wali untuk menikahkanya
e) Tidak bersuami dan tidak dalam keadaan iddah
f) Bukan mahrom bakal suami
g) Belum pernah di li’an (sumpah li’an) oleh bakal suami
h) Terang orangnya
i)  Tidak dalam ihram haji atau umroh
3. Syarat wali nikah sebagai berikut
a) Baragama Islam
b) Baligh
c) Berakal
d) Tidak dipaksa
e) Terang lelakinya
f) Adil (bukan fasiq)
g) Tidak sedang ihram haji atau umroh
h) Tidak dicabut haknya dalam menguasai harta bendanya oleh pemerintah (mahjur bissafah)
i) Tidak rusak fikiranya karena tua atau sebagainya
4. Syarat saksi nikah :
a) Baragama Islam
b) Laki-laki
c) Baligh
d) Berakal
e) Adil
f) Mendengar
g) Tidak tuli
h) Bisa bercakap-cakap (tidak bisu)
i) Tidak pelupa (mughoffal)
j) Menjaga harga diri ( menjaga muru’ah)
k) Mengerti ijab dan qabul
l) Tidak merangkap menjadi wali nikah
3. Ijab dan Qabul
Ijab dan Qabul harus berbentuk dari asal kata “inkah” atau “tazwij” atau terjemahan dari kedua kata tersebut yang dalam bahasa berarti “menikahkan”.
Contoh kalimat ijab dan qobul bisa dilihat di postingan ini, kalimat ijab dan qobul nikah (3 bahasa).
Persyaratan Nikah menurut Peraturan Perundang-Undangan bisa dilihat di postingan ini : Prosedur Pernikahan Dan Rujuk Di Kantor Urusan Agama.

Rukun-Rukun Dan Syarat Sah Nikah

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

.

Rukun Nikah

1.      Pengantin lelaki (Calon Suami)
2.      Pengantin perempuan (Calon Isteri)
3.      Adanya Wali
4.      Dua orang saksi lelaki
5.      Ijab dan Qabul (akad nikah)
.
.

Syarat-Syarat Sah Nikah

.
a) Syarat-Syarat Bakal Suami
.
1.      Islam
2.      Lelaki yang tertentu
3.      Bukan mahram dengan bakal isteri
4.      Bukan dalam ihram haji atau umrah
5.      Dengan kerelaan sendiri (tidak sah jika dipaksa)
6.      Mengetahui wali yang sah bagi akad nikah tersebut
7.      Mengetahui bahawa perempuan itu boleh dan sah dinikahi
8.      Tidak mempunyai empat orang isteri yang sah dalam satu masa.
.
.
b) Syarat-Syarat Bakal Isteri
.
1.      Islam
2.      Bukan seorang khunsa
3.      Perempuan yang tertentu
4.      Tidak dalam keadaan idah
5.      Bukan dalam ihram haji atau umrah
6.      Dengan rela hati (bukan dipaksa kecuali anak gadis))
7.      Bukan perempuan mahram dengan bakal suami
8.      Bukan isteri orang atau masih ada suami
.
.

Syarat Wali

.
1.      Adil
2.      Islam
3.      Baligh
4.      Lelaki
5.      Merdeka
6.      Tidak fasik, kafir atau murtad
7.      Bukan dalam ihram haji atau umrah
8.      Waras – tidak cacat akal fikiran atau gila
9.      Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan
10.  Tidak muflis atau ditahan kuasa atas hartanya.
.
* Sebaiknya bakal isteri perlulah memastikan syarat WAJIB menjadi wali. Sekiranya syarat wali bercanggah seperti di atas maka tidak sahlah sebuah pernikahan itu. Sebagai seorang mukmin yang sejati, kita hendaklah menitik beratkan hal-hal yang wajib seperti ini. Jika tidak di ambil kira, kita akan hidup di lembah zina selamanya.


Jenis-Jenis Wali

.
1.  Wali mujbir: Wali dari bapa sendiri atau datuk sebelah bapa (bapa kepada bapa) mempunyai kuasa mewalikan perkahwinan anak perempuannya atau cucu perempuannya dengan persetujuannya atau tidak (sebaiknya perlu mendapatkan kerelaan bakal isteri yang hendak dikahwinkan)
2.      Wali aqrab: Wali terdekat mengikut susunan yang layak dan berhak menjadi wali
3.    Wali ab’ad: Wali yang jauh sedikit mengikut susunan yang layak menjadi wali, jika ketiadaan wali aqrab berkenaan. Wali ab’ad ini akan berpindah kepada wali ab’ad lain seterusnya mengikut susunan tersebut jika tiada yang terdekat lagi.
4.   Wali raja/hakim: Wali yang diberi kuasa atau ditauliahkan oleh pemerintah atau pihak berkuasa negeri kepada orang yang telah dilantik menjalankan tugas ini dengan sebab-sebab tertentu
.
.

Syarat-Syarat Saksi

.
1.      Islam
2.      Lelaki
3.      Baligh
4.      Berakal
5.      Merdeka
6.      Sekurang-kurangya dua orang
7.      Memahami kandungan lafaz ijab dan qabul
8.      Dapat mendengar, melihat dan bercakap (tidak buta, bisu atau pekak)
9.      Adil (Tidak melakukan dosa besar dan tidak berterusan melakukan dosa-dosa kecil)
10.  Bukan tertentu yang menjadi wali.

(Misalnya, bapa saudara lelaki yang tunggal. Katalah hanya ada seorang bapa saudara yang sepatutnya menjadi wali dalam perkahwinan itu tetapi dia mewakilkan kepada orang lain untuk menjadi wali sedangkan dia hanya menjadi saksi, maka perkahwinan itu tidak sah kerana dia dikira orang tertentu yang sepatutnya menjadi wali.)
.
.

Syarat-Syarat Ijab Dan Qabul

.
Syarat Ijab
.
1.      Pernikahan hendaklah dengan perkataan nikah atau dengan perkataan yang sama maksudnya secara terang dan tepat.
2.   Tidak diikatkan dengan tempoh waktu tertentu (seperti ikatan perkahwinan yang dijanjikan dan dipersetujui dalam tempoh tertentu dalam nikah kontrak/mutaah)
3.      Tidak secara taklik. Tiada sebutan prasyarat sewaktu ijab (lafaz akad) dilafazkan
4.      Tidak boleh menggunakan perkataan kiasan dan sindiran.
5.      Dilafazkan oleh wali atau wakilnya
.
* Contoh lafaz ijab:

“Daku nikahkan dikau dengan ….. binti …. (sebutkan nama pengantin perempuan) dengan mas kahwin sebanyak RM ……  tunai.”
.
.

Syarat Qabul

.
1.      Lafaz Qabul  (terima) hendaklah sesuai dengan lafaz ijab
2.      Hendaklah terang dan nyata, bukan kiasan.
3.      Dilafazkan oleh bakal suami atau wakilnya (atas sebab-sebab tertentu)
4.      Tidak diikatkan atau mengandungi perkataan yang terbatas tempoh waktunya
5.      Tidak secara taklik (tiada sebutan prasyarat sewaktu qabul dilafazkan)
6.      Menyebut nama bakal isteri
7.      Tidak diselangi dengan perkataan lain.
.
* Contoh lafaz qabul (akan dilafazkan oleh bakal suami) :

i) “Daku terima nikahnya ….. binti …. (sebutkan nama pengantin perempuan) dengan mas kahwin sebanyak RM ……  tunai.”
ATAU
ii) “Daku terima nikahnya ….. binti …. (sebutkan nama pengantin perempuan) sebagai isteriku.”
.
.
والله أعلم بالصواب
Wallahu A’lam Bish Shawab
 (Hanya Allah Maha Mengetahui apa yang benar)
.
.
Artikel Berkaitan:
  1. Ciri-Ciri Calon Suami Yang Baik Menurut Islam  (Klik Di Sini)
  2. Lafaz Ucapan Yang Baik Diamalkan Dalam Majlis Akad Nikah  (Klik Di Sini) 
.
.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكَمْ وَرَحْمَةُ اللهُ وَبَرَكَاتُه
.
.
.

Tanggungjawab suami isteri mengikut Islam

assalamualaikum semua,

dah lama sangat menyepi kan?

cuma post-post kecil je yang bersinggah.... maaf ye... mood berblog entah ke mana.... ditambah dengan beban kerja setelah bercuti selama seminggu....lelah belum abis lagi ni....

petang-petang ni aku nak kongsikan bacaan ilmiah yang didapati dari blog yang sangat berinformasi....

SUMBER : AIRMIEN : Sesuatu Tentang Kehidupan

semoga kita semua dapat manfaat darinya...amin...




Tanggungjawab Seorang Suami Mengikut Islam


ADIL
Salah satu tanggungjawab utama seorang suami terhadap isterinya (isteri-isteri) ialah mengawal isterinya serta berlaku adil kepadanya kerana isteri itu adalah amanah Allah yang diserahkan kepada si suami.

Sabda Rasulullah SAW:

(Fear) God, (fear) God in the matter of women. They are weak partners, a trust from God with you; and they are made by the divine word permissible for you.

Ini menunjukkan bahawa suami hendaklah menjaga amanah yang telah diberikan oleh Allah kepadanya. Ini merupakan tunggak utama dalam menjalankan tanggungjawab sebagai seorang suami. Jika si suami dapat menghayati maksud sabda Rasulullah SAW ini, sudah tentu masalah rumahtangga yang banyak berlaku pada zaman ini dapat dielakkan. Suami hendaklah menjaga si isteri dan bukannya memperhambakannya walaupun disebutkan di atas sebagai mengawal isteri. Di sini, mengawal isteri bukanlah bermaksud mengawalnya sebagai hamba tetapi mengawal isteri itu daripada melakukan perkara-perkara yang ditegah oleh Islam. Jika sesorang lelaki itu mengahwini lebih daripada seorang isteri, bermakna suami itu perlulah bersikap adil terhadap semua isterinya. Suami hendaklah memenuhi keperluan isteri-isterinya tanpa melebih-lebihkan salah seorang daripada mereka. Suami perlulah mengaturkan jadual bermalam yang adil supaya tidak berlaku perbalahan sesama isteri dan juga dengan si suami yang akan menghalang pembentukan keluarga bahagia.

PEMIMPIN
Suami juga bertindak sebagai ketua rumah dalam sesebuah keluarga. Suami bertindak sebagai pemerintah yang bertanggungjawab terhadap pemerintahannya iaitu keluarganya. Suamilah yang akan membuat keputusan yang membabitkan keluarganya.

Suami juga hendaklah bertanggungjawab menjaga keselamatan dan kebajikan orang-orang dibawahan jagaannya, iaitu isteri serta anak-anaknya. Tanggungjawab yang dipikul ini adalah besar, oleh itu si suami hendaklah bersedia untuk memimpin sebuah kerajaan yang dibinanya.

Firman Allah

Lelaki itu pemimpin bagi perempuan dengan apa-apa yang Allah telah lebihkan sebahagian mereka ke atas sebahagian yang lain, dan lantaran lelaki itu telah memberikan nafkah dengan harta mereka. Perempuan-perempuan yang baik ialah perempuan yang setia dan menjaga diri di belakang suami akan apa-apa yang disuruh Allah menjaganya.

(An-Nisak:34)

NAFKAH

Si suami juga hendaklah memberi nafkah zahir dan batin kepada isterinya mengikut kemampuannya. Menyediakan keperluan asas kepada si isteri iaitu: makanan yang mencukupi, pakaian mengikut keperluan dan tempat tinggal.

Firman Allah

“Dan kewajipan suami memberi makan dan pakaian kepada isteri dengan cara yang baik.”

(Al-Baqarah:233)

Suami juga hendaklah memberikan wang yang secukupnya kepada si isteri supaya ia boleh membeli keperluan rumahtangga. Untuk pakaian pula, si isteri berhak untuk pakaian yang sesuai mengikut keadaan dan kemampuan si suami. Si isteri juga berhak untuk mendapatkan tempat tinggal yang selesa, selamat dan sekurang-kurangnya mempunyai keperluan yang minimum. Nafkah anak-anak juga adalah tanggungjawab suami. Menurut Rasulullah, memberi nafkah kepada anak dan isteri sama hukumnya dengan orang yang berjihad ke jalan Allah. Suami haruslah ikhlas, walaupun kepenatan kerana apa yang dilakukan adalah ibadah.

Untuk keperluan batin pula, si suami hendaklah memenuhi keperluan isteri tanpa mementingkan diri sendiri.

PENDIDIKAN

Pendidikan agama sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita perlulah sentiasa memperbaiki diri kita yang serba kekurangan ini. Dalam sesebuah institusi keluarga, suamilah yang bertanggungjawab memberikan nasihat dan pengetahuan serta pengajaran hukum Islam dalam hal-hal fardu ain kepada isteri dan anak-anak. Oleh sebab itu, suami perlulah melengkapkan dirinya dengan pendidikan agama supaya ia dapat mengajar isterinya.

Dengan memberi panduan kepada isteri tentang pendidikan agama ini, tentulah ia akan mengelakkan keruntuhan sesebuah institusi keluarga yang disebabkan oleh kejahilan tentang hukum-hukum agama. Suami hendaklah memastikan bahawa isteri mempunyai pendidikan agama yang mencukupi dan menggalakkannya menjalankan ibadat-ibadat sunat dan sebagainya.

PELINDUNG

Si suami juga bertanggungjawab memberi perlindungan, penjagaan dan kegembiraan kepada si isteri. Isteri adalah amanah Allah, maka sudah tentu si suami hendaklah menjaganya serta menggembirakan hatinya. Hendaklah si suami memastikan bahawa si isteri sentiasa berasa senang tanpa rasa susah hati dan sengsara:

Tempatkanlah mereka (perempuan-perempuan yang idah) di tempat kediaman yang sesuai dengan kemampuan kamu, dan janganlah menyengsarakan mereka untuk menimpakan kesusahan kepada mereka.

(at-Talaq :6)

Menurut ayat di atas juga, suami bertanggungjawab menyediakan kediaman (yakni perlindungan) kepada si isteri. Suami hendaklah memastikan bahawa keselamatan si isteri adalah terjamin. Perempuan adalah kaum yang lemah, oleh sebab itu, sebagai kaum yang berdaya, suami hendaklah menjaga si isteri daripada sebarang bahaya. Untuk mencapai kebahagiaan dalam rumahtangga, rasa cinta dan kasih sayang perlulah wujud antara suami isteri. Suami hendaklah memberikan kasih sayang kepada si isteri dengan menjaga hatinya dan melayannya dengan baik.

Suami hendaklah memastikan bahawa hati si isteri tidak terluka dengan sikap si suami. Jika si isteri melakukan sesuatu perkara yang kurang disenangi oleh suami, maka si suami hendaklah bersabar dan beralah dengannya asalkan ia tidak merosakkan peribadi si isteri dan si isteri tidak melakukan perkara-perkara yang ditegah dalam Islam.

Sabda Rasulullah SAW:

Whoever of you whose wife behaves in a disagreeable manner and he responds by kindness and patience, God will give him rewards as much as job will be given for his forbearance.

Untuk memastikan bahwa si suami dapat bersabar dengan karenah si isteri, si suami hendaklah mempunyai sikap memahami dan memaafkan. Ini adalah perlu supaya tidak terjadi perbalahan sesama sendiri walaupun punca masalah yang timbul adalah kecil sahaja. Si suami hendaklah bersabar dengan keletah si isteri, bertimbang rasa, dan memahami penderitaan yang ditanggung oleh si isteri ketika hamil, melahirkan anak dan mengasuhnya. Pada ketika inilah si isteri kadang-kadang bertindak mengikut perasaan. Oleh sebab itulah pada ketika ini, si suami hendaklah melayan si isteri dengan baik dan lemah lembut. Janganlah kerana perkara yang kecil sahaja maka si suami menengking si isteri itu. Akibatnya, rumahtangga akan menjadi goyah.

Jika terdapat kecacatan secara fizikal atau sebagainya, si suami hendaklah merahsiakannya daripada pengetahuan orang ramai. Apa-apa tanda yang terdapat pada tubuh si isteri, adalah menjadi amanah kepada si suami merahsiakan segalanya kerana ia boleh mengaibkan si isteri jika dihebohkan. Kita perlulah mengasihi semua anggota keluarga kita. Setelah berkahwin, semua ahli keluarga pihak si isteri akan menjadi keluarga pihak si suami. Oleh sebab itu, si suami hendaklah menyayangi keluarga pihak si isteri seperti keluarganya sendiri.


MELAYAN & MENGGAULI ISTERI DENGAN BAIK
Gurauan adalah perlu dalam perhubungan suami isteri kerana ia boleh merapatkan lagi perhubungan mereka. Ia juga merupakan salah satu cara untuk merehatkan badan dan pemikiran. Suami hendaklah menggembirakan hati si isteri apabila berehat dengannya dengan berjenaka secara sederhana. Apabila menggauli si isteri, suami hendaklah melakukannya dengan lemah lembut, sopan santun dan tidak zalim.




Tanggungjawab Seorang Isteri Mengikut Islam



TAAT

Tanggungjawab utama seorang isteri ialah isteri perlulah taat dan patuh kepada suaminya. Kesetiaan isteri kepada suaminya perlu diutamakan terlebih dahulu lebih daripada keluarga terdekatnya sendiri.

Ini berdasarkan kepada sabda Rasulullah SAW:

Sekiranya aku ini orang yang menyuruh mana-mana orang supaya sujud kepada orang lain tentu sekali aku akan menyuruh isteri sujud kepada suaminya.

(Riwayat Abu Daud dan al-Hakim)

Isteri hendaklah mematuhi perintah si suami asalkan ia tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Andainya suami menyuruh melakukan dosa maka isteri dibenarkan membantah.

Sabda Rasulullah SAW:

Tidak boleh memtaati mahluk dalam perkara menderhaka kepada Allah SWT.

(Riwayat Ahmad)

Setelah berkahwin, suami mempunyai hak ke atas isteri. Oleh sebab itu, jika isteri ingin keluar rumah atau berpuasa sunat, ia hendaklah meminta izin daripada suami.

Sabda Rasulullah SAW:

Tidak halal bagi sesorang isteri yang beriman dengan Allah dan hari akhirat untuk berpuasa, sedangkan suaminya ada di sampingnya kecuali dengan keizinan suaminya itu.

(Riwayat al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad Ibn Hanbal)

Larangan berpuasa tanpa keizinan suami ini diwujudkan kerana dikhuatiri si isteri tidak dapat melayan kemahuan si suami dengan baik. Oleh sebab itu, meminta izin adalah sangat penting.

MELAYAN SUAMI

Si isteri juga hendaklah melayan kehendak suami dengan baik pada bila-bila masa sahaja. Hubungan yang perlu dijaga ialah hubungan kelamin antara kedua-duanya. Oleh sebab itu, si isteri hendaklah memastikan bahawa ia melayan kehendak suaminya.

Sabda Rasulullah SAW:

Apabila seorang suami mengajak isterinya ke tempat tidur, tetapi ia enggan melayan ajakan suaminya, maka suami tidur dengan marah pada waktu malam itu, nescaya malaikat mengutuknya sampai waktu subuh.

(Riwayat sebahagian Ahli Sunnah)

Untuk mengelakkan daripada digolongkan dalam golongan yang ingkar, maka isteri perlulah memenuhi kemahuan si suami jika tidak mempunyai alasan yang kukuh untuk menolaknya.

MENGURUS RUMAHTANGGA

Tugas seorang isteri ialah untuk menjadikan tempat tinggalnya sebagai satu tempat untuk berehat serta menghasilkan persekitaran yang menyenangkan. Isteri hendaklah menghias rumah itu supaya ia kelihatan damai dan rasa senang hati untuk tinggal di situ. Untuk menghias rumah itu, si isteri perlulah menghias mengikut kemampuan keperluan keluarga itu. Citarasa hiasan dalaman itu bergantung kepada suami isteri asalkan ia tidak melanggar hukum Islam.

Apabila si suami memberi wang perbelanjaan kepada si isteri, maka si isteri mestilah berbelanja dengan bijak serta tidak membazir-bazirkan wang pemberian suaminya. Si isteri hendaklah berbelanja mengikut keperluan dan bukannya hawa nafsu. Si isteri mestilah memahami keadaan ekonomi suami yang sibuk mencari nafkah yang mencukupi untuk keluarganya. Oleh sebab itu, si isteri hendaklah membuat perbelanjaan keluarganya dengan bijak supaya tidak ada perbelanjaan melebihi pendapatan. Maka, si isteri hendaklah berjimat- cermat dalam membuat pembelian supaya suami isteri itu hidup dalam serba kesederhanaan sahaja.

-Tanggungjawab Bersama.

Pengurusan rumahtangga adalah tanggungjawab seorang isteri. Walaupun mempunyai pembantu rumah, isteri masih bertanggungjawab untuk menyelia segala pengurusan rumah itu. Suami pula diharapkan dapat membantu si isteri dalam melakukan kerja-kerja rumah. Dengan adanya kerjasama daripada kedua-dua belah pihak, maka akan wujudlah sebuah keluarga bahagia serta dapat merapatkan lagi hubungan sesama mereka.

MENJAGA MARUAH DIRI, SUAMI DAN KELUARGA

Sebagai seorang isteri, isteri hendaklah menjaga maruah dan akhlak terutamanya apabila keluar dari rumah. Apabila si isteri keluar rumah kerana sebab-sebab tertentu seperti bekerja, melawat sanak saudara atau keluar membeli-belah, pakaian yang dipakai hendaklah menutup aurat dan tidak menjolok mata, berjalan dengan cara yang tidak menarik perhatian ramai serta berkelakuan baik. Si isteri perlulah menundukkan pandangan serta menjauhkan dirinya daripada segala fitnah yang mungkin akan berlaku.

Firman Allah:

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka menghulurkan Jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kerana itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(Al-Ahzab: 59)

Seperti juga tanggungjawab si suami terhadap si isteri, segala kecacatan yang ada pada si suami hendaklah dirahsiakan. Ini adalah untuk mengelakkan perasaan aib timbul yang boleh menjurus kepada perbalahan. Sudah tentu perbalahan seperti ini perlulah dielakkan kerana ia boleh mengganggu pembentukan keluarga bahagia.

MENYENANGKAN HATI SUAMI

Apabila si suami memberikan pemberian dalam apa sahaja bentuk, adalah menjadi tanggungjawab si isteri untuk menghargai pemberian suami itu. Si isteri tidak boleh meminta-minta hadiah daripada si suami yang melebihi daripada kemampuannya. Jika mendapat hadiah walaupun yang kecil sahaja, isteri hendaklah menghargainya dan tidak mengkritik-kritik bentuk hadiah itu.

Dalam pepatah Arab ada menyebut:

Accept the little I may give you, my love for you will grow deeper, and raise not your voice in my presence, especially when I am in a moody crisis.

(Imam al-Ghazzali)

Untuk menyenangkan hati si suami melihat si isteri, maka si isteri haruslah menjaga dirinya supaya kelihatan ceria dan menarik. Ketika berada di dalam rumah, si isteri perlulah mengenakan solekan yang sewajarnya agar suami tertarik hati melihatnya. Si isteri juga hendaklah memakai wangi-wangian yang boleh menarik perhatian si suami.

Seorang perempuan tua Arab ada menasihatkan anaknya pada hari perkahwinannya:

O my daughter! You are leaving the home in which you were brought up for a house in which you brought up for a house unknown to you and to a companion unfamiliar to you. Be a floor to him, he will be a roof to you; be a soft seat to him, he will be a pillar for you; and be like a slave girl to him and he will be a slave boy to you. Avoid inopportune behaviour, least he should be bored with you; and be not aloof lest he should become indifferent to you. If he approaches you, come running to him; and if he turns away, do not impose yourself upon him. Take care of his nose, his eye and his ear. Let him not smell except a good odour from you; let not his eye see you except in an agreeable appearance; and let him hear nothing from you except nice, fine words.

(Imam al-Ghazzali)

PENDORONG DAN MEMBERI MOTIVASI

Isteri yang solehah seharusnya menjadi teman berunding bagi suami, menjadi sahabt dalam menyelesaikan masalah. Itulah sebabnya hubungan suami isteri itu diertikan orang sebagi “teman hidup”. Jika suami menghadapi masalah untuk mencapai cita-citanya dan keluarganya, maka berilah motivasi kepada suami disamping menghiburkan hatinya.

Dalam sesebuah institusi keluarga, ahli-ahlinya perlulah bersama-sama memikul tanggungjawab supaya pembentukan keluarga bahagia akan tercapai. Dalam hal yang sedemikian, terdapat beberapa tanggungjawab yang dipikul bersama oleh suami isteri. Kedua-duanya perlulah mendalami ilmu fardu ain. Ini adalah perlu kerana ilmu ini merupakan panduan untuk mereka dalam menjalani kehidupan seharian. Kita juga wajib menuntut ilmu sampai ke liang lahad. Dengan mempelajari lebih banyak ilmu fardu ain, suami isteri dapat menghayati kehidupan Islam lebih bermakna lagi.

Untuk menyelesaikan apa juga masalah keluarga, suami isteri perlulah sentiasa berbincang demi kebaikan bersama. Perbincangan adalah lebih baik daripada bersikap autokratik kerana kata sepakat dapat dicapai untuk kebaikan bersama dan tidak untuk kepentingan satu pihak sahaja. Malah, dengan perbincangan juga suami isteri boleh mendapat ilham baru untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama. Dalam menunaikan tanggungjawab masing-masing, kadang-kadang kita memerlukan pertolongan dalam hal-hal kebajikan.

Isteri kadang-kadang memerlukan pertolongan si suami untuk membuat kerja-kerja rumah. Dalam hal sebegini, adalah perlu bagi pasangannya untuk meringankan beban yang dihadapi oleh pasangannya supaya kerja-kerja dapat dilaksanakan dengan cepat dan betul. Apabila seorang daripada mereka melakukan perkara yang ditegah, adalah menjadi tanggungjawab pasangannya untuk menegur kesilapan yang telah dilakukan. Suami isteri hendaklah saling tegur menegur dan menghalang pasangan masing-masing daripada melakukan kemungkaran, sebaliknya melakukan lebih banyak hal-hal kebajikan.

Kedua-duanya perlulah bersikap jujur dan selalu menepati janji antara satu sama lain kerana perkahwinan dianggap sebagai satu institusi yang mana ahli-ahlinya perlulah saling percaya mempercayai antara satu lama lain tanpa perlu berbohong atau menyimpan rahsia. Oleh sebab itulah maka suami isteri hendaklah bersikap terbuka dan berterus terang dalam banyak hal tanpa menyembunyikan kebenaran.

Suami isteri perlulah saling memaafkan dan menasihati kerana sebagai manusia, kita tidak dapat lari daripada melakukan kesilapan. Ini adalah penting kerana tanpa sikap pemaaf dan saling tegur menegur ini, maka suami isteri itu akan hidup dalam kekacauan kerana sering melakukan kesilapan tanpa ada orang yang ingin menegurnya ataupun sering berbalah kerana tidak ada sikap pemaaf itu.

Salah satu hikmah berkahwin ini ialah suami isteri dapat melakukan solat berjemaah. Seperti yang diketahui, jika kita solat berjemaah, maka pahala yang diperolehi adalah berganda-ganda daripada solat secara sendiri. Dengan melakukan solat berjemaah ini maka perhubungan ukhwah antara suami isteri dapat dipereratkan. Yang paling penting dalam kehidupan sebagai suami isteri ini ialah bertawakal kepada Allah setelah berusaha sedaya upaya untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup berumahtangga.

KESIMPULAN


Secara kesimpulannya, dapatlah kita lihat bahawa perkahwinan ini adalah penting dalam sesebuah masyarakat kerana keluarga merupakan batu asas dalam pembinaan sesebuah masyarakat. Untuk melahirkan sesebuah masyarakat yang bahagia, kita perlulah memastikan bahawa ahli-ahli masyarakat itu menjalankan tanggungjawab masing-masing. Untuk melahirkan masyarakat yang yang kuat, mulia, dan saling bertangungjawab, pembentukan keluarga yang bahagia adalah sangat penting. Oleh sebab itu, adalah penting untuk membentuk sesebuah keluarga bahagia.
SUMBER 1
SUMBER 2


Tiada ulasan:

Catat Ulasan