Isnin, 11 Mei 2015

WAHN...CINTA DUNIA TAKUT MATI














Prediksi Rasulullah Mengenai Wahn (Cinta Dunia & Takut Mati)

Prediksi Rosulullah SAW bahwa umat Islam sepeninggalan beliau akan mengalami yang namanya Wahn, apa itu wahn ?
Wahn yaitu Cinta Dunia dn takut mati.Smakin trbukti sob! saat ini bnyak umat Islam yg msh blm mnyadari bhw hidup di dunia ni hanyalh smntara
dengan sifatnya yg sementara, hidup dunia adalah ladang untuk beramal sebanyak – banyaknya untuk bekal di akhirat kelak.
Berikut 37 tanda jika hati kita sudah terpaut kepada dunia, cekidot sob!

1. tidak bersiap siap saat waktu shalat akan tiba.
2. melalui hari ini tanpa sedikitpun membuka lembaran Al Qur'an lantaran engkau terlalu sibuk.
3. Hati yg cinta terhadap dunia biasanya terlalu sibuk dengan omongan orang lain tentang dirinya.
4. selalu berpikir setiap waktu bagaimana caranya agar harta semakin bertambah.
5. marah ketika ada orang yang memberikan nasihat bahwa perbuatan yang engkau lakukan adalah haram
6. terus menerus menunda untuk berbuat baik. "Aku akan mengerjakannya besok, nanti, dan seterusnya."
7. selalu mengikuti perkembangan gadget terbaru dan selalu berusaha memilikinya. Tiap ada yg baru ikutan beli biar dikata trendi...
8. sangat tertarik dengan kehidupan para selebriti.
9. sangat kagum dengan gaya hidup orang-orang kaya.
10. ingin selalu menjadi pusat perhatian orang.
11. selalu bersaing dengan orang lain untuk meraih cita-cita duniawi
12. selalu merasa haus akan kekuasaan dan kedigdayaan dalam hidup, dan perasaan itu tidak dapat dibendung.
13. merasa tertekan manakala Anda gagal meraih sesuatu.
14. tidak merasa bersalah saat melakukan dosa-dosa kecil.
15. tidak mampu untuk segera berhenti berbuat yang haram, dan selalu menunda bertaubat kepada Allah.
16. tidak kuasa berbuat sesuatu yang diridhai Allah hanya karena perbuatan itu bisa mengecewakan orang lain
17. sangat perhatian terhadap harta benda yang sangat ingin Anda miliki.
18. merencanakan kehidupan hingga jauh ke depan.
19. menjadikan aktivitas belajar agama sbg aktivitas pengisi waktu luang saja, setelah sibuk berkarir. Na'udzubillah
20. memiliki teman-teman yang kebanyakannya tidak bisa mengingatkan kepada Allah.
21. menilai orang lain berdasarkan status sosialnya di dunia.
22. melalui hari ini tanpa sedikitpun terbersit memikirkan kematian.
23. meluangkan banyak waktu sia-sia melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat.
24. merasa sangat malas dan berat untuk mengerjakan suatu ibadah.
25. tidak kuasa mengubah gaya hidup Anda yang suka berfoya-foya, walaupun tahu bahwa Allah tidak menyukai gaya hidup seperti itu.
26. senang berkunjung ke negeri-negeri kafir.
27. diberi nasihat ttg bahaya memkn harta riba, akn ttpi beralasan bhw beginilah satu satunya cra agar ttp brtahan dtngah kesulitan ekonomi.
28. ingin menikmati hidup ini sepuasnya.
29. sangat perhatian dengan penampilan fisik.
30. meyakini bahwa hari kiamat masih lama datangnya.
31. melihat orang lain meraih sesuatu dan selalu berpikir agar dapat meraihnya juga.
 IG @Sahabat_Islami      @Sahabat_Islami 29/01/2015 21:48:49 WIB
32. ikut menguburkan orang lain yang meninggal, tapi sama sekali tidak memetik pelajaran dari kematiannya.
33. ingin semua yang diharapkan di dunia ini terkabul.
34. mengerjakan shalat dengan tergesa-gesa agar bisa segera melanjutkan pekerjaan.
35. tidak pernah berpikir bahwa hari ini bisa jadi adalah hari terakhir Anda hidup di dunia.
36. merasa mendapatkan ketenangan hidup dari berbagai kemewahan yang miliki, bukan merasa tenang dengan mengingat Allah.
37. berdoa agar bisa masuk surga namun tidak sepenuh hati seperti halnya saat Anda meminta kenikmatan dunia.
nah sahabat, itulh tanda2 jka hati kita trkna penyakit wahn atau cinta dunia dan takut mati. smg kita trhindar ya dari penyakit yg satu ini
"Taruhlah kehidupan dunia itu dlm genggaman tanganmu! Jangan taruh dunia itu dlm hati kamu!"(Umar Ibnul-khaththab).
by @Sahabat_Islami :

Fenomena Cinta Dunia Takut Mati

cinta-duniaSetiap manusia hidup pasti akan mati. Tak ada seorang pun yang mengingkari hal ini. Malaikat maut sang pencabut nyawa, tidak pandang bulu ketika mengambil nyawa manusia dari jasadnya. Si kaya, si miskin, si mukmin maupun si kafir, muda atau tua, semua akan ia datangi, sesuai dengan perintah Allah – subhanahu wa ta’ala -. Semua akan dicabut nyawanya, tak peduli dengan suka atau terpaksa. Jika sudah waktunya, tak ada yang bisa menangguhkan kematian meski hanya sedetik saja.

Mungkin ada yang hampir tak percaya, ketika ada pemain sepakbola tiba-tiba meninggal saat sedang bermain bola di lapangan. Atau ketika seorang penceramah tiba-tiba menghentikan ceramahnya karena maut telah menjemputnya tanpa permisi. Memang begitulah maut. Tak ada yang tahu kapan ia akan menjemput.
Bagi seorang mukmin yang merindukan kebahagiaan abadi di negeri akhirat, tentu ia akan berusaha berbekal sebanyak-banyaknya, sehingga ia selalu siap kapan saja  sang maut akan menjemput. Ia selalu sadar jika kehidupan di dunia ini hanyalah fana. Semua kenikmatan dunia akan ditinggalkan, begitu nyawa keluar dari badan.
Sebagaimana firman Allah – subhanahu wa ta’ala -,
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali-Imran: 85)
Namun, sayang seribu sayang, seorang mukmin yang demikian itu, saat ini semakin sulit ditemukan. Karena kebanyakan kaum muslimin saat ini, terlihat lebih cinta dunia dan takut mati.
Fenomena ini begitu terasa, dan sangat mudah dibuktikan. Begitu banyak kaum muslimin yang mengisi kehidupannya untuk memburu dunia. Hanya kenikmatan dan pernik-pernik dunia yang ada di kepalanya, hingga tanpa terasa ia telah melupakan akhiratnya. Gaya hidup mewah, glamour dan berlebihan, kini semakin membudaya dalam kehidupan sebagian kaum muslimin. Halal haram pun tak lagi diperhatikan, baik dalam makan minum, pergaulan dan cara berpakaian. Bukan lagi Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – dan para sahabatnya yang dijadikan teladan dan panutan, melainkan para artis dan selebritis yang tiap hari mereka lihat di televisi.
Mereka begitu mencintai dunia. Materi, kedudukan, dan popularitas, begitu ramai diperebutkan. Bahkan anak-anak pun telah diajari  dengan gaya hidup demikian. Seorang muslim semakin jauh dari Islam, dan tak lagi mengenal agamanya. Mereka tak punya waktu untuk menuntut ilmu syar’i, atau beribadah sesuai sunnah. Maka sungguh benar sabda Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -,  “Akan terjadi masa dimana umat-umat di luar Islam berkumpul di samping kalian wahai umat Islam, sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang menyantap hidangan. Lalu seorang sahabat bertanya, ‘Apakah kami pada saat itu sedikit wahai Rasulullah?’  Beliau menjawab, ‘Tidak. Bahkan ketika itu jumlah kalian banyak. Akan tetapi kalian ketika itu bagaikan buih di lautan. Ketika itu Allah hilangkan dari musuh-musuh kalian rasa segan dan takut terhadap kalian, dan kalian tertimpa penyakit wahn. Sahabat tadi bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah apa yang engkau maksud dengan wahn itu?’ , Rasulullah menjawab, ‘Cinta dunia dan takut mati.’” (Riwayat Abu Dawud)
Dunia sebagai Ujian
Sesungguhnya segala macam kenikmatan dunia adalah ujian dari Allah – subhanahu wa ta’ala -, karena hampir setiap manusia memiliki kecenderungan atau rasa suka terhadap hal-hal duniawi. Allah berfirman, “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali-Imran: 14)
Namun kemudian Allah menegaskan bahwa semua kenikmatan tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan di sisi-Nya, yaitu kenikmatan yang kekal abadi, bukan kenikmatan semu seperti kenikmatan dunia ini, “Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.”(al-Mukmin: 39)
Kenikmatan dunia itu bermacam-macam sebagaimana yang telah disebutkan oleh Allah – subhanahu wa ta’ala -.  Masing-masing mengandung nilai godaan dengan kapasitas yang berbeda-beda. Wanita, harta dan anak-anak menempati posisi teratas sebagai bagian duniawi yang paling menggoda. Allah telah memperingatkan tentang godaan tersebut dalam firman-Nya, “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)
Begitulah dunia, tidak ada nilainya di sisi Allah yang Maha Pencipta. Dan begitu pula seharusnya manusia memandangnya.
Karena itulah Allah melarang kita memandang dengan penuh ketakjuban kepada manusia-manusia yang dianugerahi kenikmatan dunia.  Karena kelak mereka pun akan mati juga. “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami cobai mereka dengannya, dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 131)
Akhirat Semestinya di Hatimu    
Berbagai peringatan Allah – subhanahu wa ta’ala – yang menyebutkan tentang godaan dunia itu, bukan berarti kita harus melupakan sama sekali kehidupan dunia.
Allah berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 77)
Penerapan dari konsep ini adalah ketika seorang muslim menjadikan dunia di genggamannya, ia menguasainya. Bukan sebaliknya, ia dikuasai oleh dunia. Cukuplah dunia tersebut berada di tangannya tapi tidak pernah dia biarkan bersemayam di hatinya. Karena sesuatu yang kita pegang tentu akan mudah untuk kita lepaskan jika ia sudah membahayakan. Sebaliknya sesuatu yang sudah merasuk ke hati akan sulit untuk diangkat darinya. Sejarah telah mencatat orang-orang seperti ini. Lihatlah Abu Bakar – radhiyallahu ‘anhu -, Umar – radhiyallahu ‘anhu -, Abdurrahman bin Auf – radhiyallahu ‘anhu -, mereka sangat mudah menginfakkan setengah hartanya bahkan seluruh hartanya karena melihat ada keuntungan akhirat yang berlipat-lipat ketika mereka menginvestasikan harta mereka tersebut di jalan Allah. Saat mereka masih hidup di dunia, mereka menguasainya, namun jiwa dan cita-cita mereka telah terbang melayang ke alam akhirat. Maka layaklah bila Allah – subhanahu wa ta’ala – dan Rasul-Nya menjamin mereka dengan surga.
Coba bandingkan sikap mereka terhadap dunia dengan sikap sebagian dari kita, yang ketika kehilangan sedikit harta saja seperti kehilangan dunia seisinya. Kita begitu takut kehilangan dunia, padahal semua itu tak ada apa-apanya dibandingkan kenikmatan di akhirat. Jika kita terlalu mencintai dunia, Allah  telah memperingatkan kita dengan firman-Nya,
“Adapun orang yang melampaui batas, Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (an-Nazi’at: 37-41)
Maka jadikanlah diri kita di dunia ini seperti orang asing atau musafir yang  tidak tinggal menetap. Gunakan masa hidup kita untuk mengumpulkan perbekalan menuju ke kampung halaman, yaitu negeri akhirat yang kekal. Semoga Allah – subhanahu wa ta’ala – menjauhkan kita dari penyakit wahn, dan berkenan membukakan pintu surga bagi kita. Amiin. (***)

Wahn : Cinta Dunia dan Takut Mati

  • Written by  Nena Nikita
ilustrasi Cinta Dunia | Google - Gambar bisa saja memiliki hak cipta ilustrasi Cinta Dunia | Google - Gambar bisa saja memiliki hak cipta
Lebaran.com - Dikala mentari pagi  mulai menyapa, burung riang bernyanyi dan rerumputan hijau berlenggak- lenggok menari. Suasana asri nan damai yang sering kita dapati tatkala pagi hari.  Sang surya menyinari bumi hingga cakrawala tiba dan rembulan pun menyelimuti gelapnya malam. Dari bergantinya pagi hari menjadi malam atau sebaliknya tentunya bukanlah hal yang remeh atau bahkan dinilai sebatas kejadian alam. Memang benar sobat, ketika kamu duduk dibangku sekolah peristiwa tersebut adalah salah satu kejadian alam namun kita harus bisa menilik lebih jauh siapakah yang mampu melakukan hal itu ? Pastinya zat Yang Maha Besar dan Maha Agung yang hanya mampu melakukannya. Dialah Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang hanya berhak untuk diibadahi dan disembah dan tak ada sesembahan lain yang patut untuk diibadahi.
Dunia beserta isinya begitu indah dan mempesona. Siapapun akan tergiur dengan segala iming-iming di dalamnya. Harta yang melimpah, jabatan tinggi, atau menjadi artis yang tenar adalah cita-cita banyak kaum. Keinginan dan potensi seperti inilah sobat yang salah satunya menyebabkan seseorang cinta dunia. Jika sudah terlanjur cinta dunia, kemungkinan besar akan takut dengan kematian.
Ya, wahn adalah cinta dunia dan takut mati. Semua orang takut menghadapi kematian karena hal itu sudah menjadi fitrah manusia, terlebih kita yakin bekal amal masih kurang untuk mnghadapinya. Namun yang bernilai buruk disini adalah ketika kamu cinta dan tertipu oleh gemerlapnya dunia sehingga banyak memuaskan diri dengan kelezatan dan kesenangan tersebut. Dan inilah awalnya bahaya dan musibah untukmu wahai sobat !! Yang tepat adalah kamu jadikan rasa takut menghadapi kematian dengan banyak beramal shaleh sebagai bekal yang bermanfaat kelak tuk di akhirat.
Adapun dalam hadits telah disebutkan tentang penyakt wahn,
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».
Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani. Lihat penjelasan hadits ini dalam ‘Aunul Ma’bud).
Shobat Lebaran, janganlah engkau takut mati yang belebihan. Bukankah kau diciptakan hakikatnya untuk beribadah kepadaNya lalu berkumpulah seluruh manusia dan segala amalanmu dihisab dihadapanNya ? Hapus kegelisahanmu untuk menghadapi kematian dan perbanyaklah mengingat kematian. Dan tahukah kamu sobat siapa orang yang paling cerdas? Yuk kita simak hadits brikut dan jadikan pegangan hidup ,
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : "أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ".
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

Ringkasan Khutbah Jumat: Bahaya Cinta Dunia dan Ciri-Ciri Orang yang Terkena Penyakit Al-Wahn

Setiap manusia memiliki ambisi dan cita-cita dalam hidupnya. Mungkin di antara kita seringkali berfikir untuk menambah kekayaan kita, berfikir apa yang akan kita makan untuk esok hari, berfikir untuk masa depan anak-anak, berfikir untuk mendapatkan jabatan, berfikir untuk masa depan yang sejatinya singkat, yaitu kehidupan di dunia.
Namun, sering kita lalai dari memikirkan dan bercita-cita untuk hari yang lebih jauh, hari-hari di kehidupan yang kekal, yaitu kehidupan di akhirat. Setiap muslim hendaknya memikirkan bagaimana kondisi imannya saat ini? Apa yang telah ia siapkan untuk menghadapi hari akhirat nanti?
Salah satu hal yang sangat membahayakan keimanan seorang muslim adalah cinta dunia. Karena cinta dunia, maka seorang petani membanting tulang mati-matian untuk urusan pertaniannya, seorang pedagang rela berhutang di Bank demi kelancaran usahanya. Apakah mereka sudah melakukan hal yang sama untuk urusan agamanya? Jika tidak, maka ada indikasi penyakit Al-Wahn (cinta dunia) di dalam dirinya. Bahaya cinta dunia sangatlah besar, sampai-sampai hal tersebut bisa menyebabkan seseorang kafir dan menjual agamanya. Na’udzubillahi min dzalik.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah beramal shalih, sebelum datang fitnah-fitnah yang banyak. Seseorang di waktu pagi masih beriman, namun di sore hari ia kafir. Atau seseorang di sore hari ia beriman, dan di pagi hari ia kafir. Dia menjual agamanya dengan secuil kesenangan dunia.” (HR Muslim)
Demikianlah kondisi orang-orang di zaman sekarang, banyak dalil-dalil yang menjelaskan tentang bahayanya cinta dunia. Semoga Allah menyelamatkan kita dari penyakit Al-Wahn atau cinta dunia tersebut.
Apa saja ciri-ciri orang yang terkena penyakit Al-Wahn?
Di antara ciri-ciri orang yang terkena penyakit Al-Wahn adalah sebagai berikut:
1. Tidak senang beribadah.
Termasuk dalam hal ini adalah malas beribadah dan ketika beribadah ia melakukannya secara kilat dan ingin cepat-cepat selesai.
2. Bakhil dan kikir.
Orang yang cinta dunia akan cenderung kikir dan bakhil, ia khawatir jika akan bersedekah nanti akan mengurangi hartanya.
3. Suka berdusta.
Suka berdusta si sini sifatnya umum, baik itu dalam jual beli maupun dalam bidang yang lainnya. Ia tidak takut dengan ancaman dari Allah maka ia berdusta.
4. Suka berkhianat atau ingkar janji.
5. Pengecut dan malu dengan kebenaran.
6. Tidak mau beramar ma’ruf dan nahi munkar.
Silakan simak rekaman khutbah Jumat selangkapnya dan download khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A. ini.

Dengarkan dan Download Khutbah Jumat Masjid Al-Barkah: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A. – Bahaya Cinta Dunia dan Ciri-Ciri Orang yang Terkena Penyakit Al-Wahn

Mari raih kebaikan dengan membagikan link download khutbah Jumat ini kepada saudara-saudara kita, baik file hasil downloadnya maupun melalui akun Facebook, Twitter, dan Google+ kita. Semoga bermanfaat, jazakumullah


Meninjau Sifat Al-Wahn dalam Diri (1)

 
lemah
KEMAJUAN zaman yang serasa memudahkan telah membuat kita sedikit terlena. Memuja kemewahan dan kesenangan. Mestilah kita berhati-hati akan timbulnya penyakit yang satu ini. Namanya Hubbud Dunya. Yaitu cinta dunia yang berlebihan, merupakan induk segala kesalahan (maksiat) serta perusak agama.
Penyakit inilah yang menyebabkan seorang muslim menjadi lemah dan takut mati. Sehingga musuh-musuh dengan leluasa menebar rasa takut dan sifat pengecut dalam dirinya, syaitan-syaitan (manusia dan jin) dengan mudah menyesatkannya. Sementara orang-orang kafir dan musuh Islam lainnya memandangnya dengan sebelah mata.
Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745)
Zaman terus bergulir menghampiri penghabisannya. Hadits-hadits nabi tentang datangnya akhir dari alam semesta semakin terpenuhi. Kita telah melihat bahwa ummat ini semakin mengikuti tingkah laku yahudi dan nashara.
Ummat telah banyak yang melupakan Allah. Mereka terjebak dalam kenikmatan duniawi yang sementara. Mereka berbuat semaunya seolah surga dan neraka itu tak ada. Telah banyak diantara kita yang meninggalkan shalat fardhu sebagai tanda tak rindunya kita dengan Allah. Kalau pun kita shalat, kita shalat tanpa tahu ilmunya dengan baik dan benar. Kalau pun tahu ilmunya, hati dan fikirannya belum bisa benar dalam mendirikan sholat. Tetapi yang sangat perlu diperhatikan adalah mereka yang telah meninggalkan shalat fardhu. Apakah mereka tidak rindu untuk berjumpa dengan Allah?
Sebagian ummat Islam telah terjangkit dengan penyakit ‘hubbud dunya’, terlalu mencintai kehidupan duniawi. Mereka begitu bernafsu terhadap kehidupan dunia ini sehingga mereka lupa akan kematian, dan mereka tidak mau mengingat kematian, serta sangat takut terhadap mati. Mereka takut mati, selain karena amal mereka, juga lebih-lebih dikarenakan mereka tidak mau meninggalkan dunia yang sangat mereka cintai ini. Mereka mencintai dunia ini hingga malas beramal yang mendekatkan diri mereka kepada Allah. Mereka mencintai dunia ini hingga melupakan Allah, tidak merindukan-Nya, tidak pula mengharapkan pertemuan dengan-Nya. Kasihan, walau mereka sangat mencintai dunia ini, tetapi tetap saja, mereka pasti menemui kematian.
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110)
Inilah potret generasi kita, dimana ummat semakin terjangkit penyakit Al-Wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati.
Kemaksiatan, pada saat sekarang ini sudah menjadi pemandangan yang lazim di mana-mana. Lantas apakah kita akan berdiam diri melihat umat yang semakin hari semakin jauh dari tuntunan Allah dan Rasulnya?
BERSAMBUNG


Penyakit Berbahaya Itu Bernama Al Wahn

Penyakit Al Wahn adalah sejenis penyakit berat dan mudah menular. Biasanya menyerang akibat zat anti bodi sebagai aqidah dalam tubuh keislaman kita dalam kondisi lemah. Proses penularan penyakit Al Wahn ini melalui nafas dari mulut kemulut atau bersentuhan dengan tubuh jahiliyyah sebagai bibit penyakit.

Tanda-tanda orang yang terserang penyakit ini akan terlihat loyo, tak bergairah dalam berdakwah, tak mampu bergerak bahkan mati ruh jihad dalam dirinya. Karena penyakit Al Wahn langsung menyerang pada zat anti bodi yaitu suatu zat yang mampu memproduksi zat pertahanan dan zat aktivitas yaitu jihad. Sehingga bila tubuh sudah terserang, perlahan-lahan tubuh akan keropos dan memang penyakit ini sejenis penyakit AIDS ( Aku Ingin Dunia Sungkan Akhirat ) yang saat ini mewabah sebahagian besar tubuh kaum muslimin.

Rasulullah Saw (guru besar serta rektor) Universitas Islam Al Arqom mendefinisikan penyakit Al Wahn ketika ditanya sahabatnya, beliau menjawab : "Cinta Dunia dan Takut Mati". Alangkah tragisnya apabila tubuh keislaman kita sudah ketularan (terjangkit) penyakit berbahaya ini.

Pepatah bilang,"Tak ada penyakit yang tak ada obatnya" Tak ada masalah yang tak ada pemecahannya. Demikian juga dengan penyakit Al Wahn ini. Akan tetapi untuk penyembuhannya sudah tentu tak semudah membalikan telapak tangan sebab banyak faktor yang harus diperhatikan. Oleh karenanya jalan terbaik dengan mencegah, dan pencegahannya hendaklah dimulai sejak bayi dalam kandungan sampai lahir, hingga dewasa. Peran ibu dan ayah sebagai dokter pribadi anaknya sangat berpengaruh.

Adapun yang sudah tertular penyakit Al Wahn ini maka upaya penyembuhannya hendaklah memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Kondisi Tubuh
Kita tahu setiap muslim mempunyai kondisi tubuh (keislaman) yang berbeda, hal ini ditentukan oleh zat anti bodi (aqidah) masing-masing, Apakah kondisinya dalam keadaan ringan,sedang atau parah.

2. Kondisi Psikologis
Kondisi psikologis menyangkut kemauan atau niat si penderita terhadap kesembuhan, apabila kemauannya kuat maka akan mempercepat proses kesembuhannya, begitu pula sebaliknya.

3. Setiap muslim pada hakekatnya adalah seorang dokter (da'i) hanya kemampuannya berbeda-beda tergantung pendidikan, pengetahuan (pemahamannya terhadap Al Quran dan Assunnah) dan pengalamannya dalam bidang kedokteran (aktivitas dakwah). Oleh karenanya penyembuhan bisa dilakukan dengan sendiri, meskipun tak lepas dengan bantuan orang lain.

4. Alat dan teknik penyembuhan dan perawatan kesterilan alat kedokteran (kesucian media dakwah) - Harus diperhatikan dari segala macam bakteri-bakteri atau virus jahiliyyah - Sebab bila tidak, akan memperburuk keadaan pasien. Demikian pula terhadap teknik penyembuhan atau pengobatan (metoda dakwah) dan perawatan (pembinaan umat) Harus berhati-hati dan penuh ketelitian serta kesabaran untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Kesalahan dan kecerobohan dalam penggunaan alat dan teknik pengobatan dapat menyebabkan talbis. ( Qs.2:42 / 3:71 )

5. Bentuk dan Jenis Penyakit
Secara global penyakit ini ada 2 bentuk, yaitu Cinta Dunia dan Takut Mati. Dari dua bentuk ini terbagi lagi dalam berbagai bentuk, misalnya cinta dunia, harta, wanita / pria, jabatan, keluarga, anak, istri, pekerjaan (perniagaan), rumah / villa (semuanya dalam arti yang salah) Lihat Qs 9 : 24, takut berperang, takut miskin, takut dipenjara dan sebagainya. Disinilah keahlian seorang dokter sangat diperlukan dalam mendeteksi bentuk dan jenis penyakit untuk mempermudah dalam memberikan resep dan teknik penyembuhan yang akan diberikan.

6. Apotik dan Toko Obat
Karena yang berpenyakit adalah tubuh keislaman kita maka obatnya harus yang berasal dari apotik islam jangan apotik jahiliyyah yang sesat dan menyesatkan. Sebab apotik islam obatnya bersumber dari Al Quran dan As sunnah (Qs.7:82) sedangkan apotik jahiliyyah diambil dari ro'yu dan hawa nafsu (filsafat manusia).

7. Rumah Sakit
Rumah dalam keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan kerja, masjid, majlis taklim dan tempat-tempat yang selalu diagungkan 'Asma Allah bisa menjadi rumah sakit bagi penderita penyakit ini asal layak digunakan (Qs.24:36)

8. Makanan dan Minuman
Untuk mempercepat kesembuhan faktor ini pun harus diperhatikan terutama yang membahayakan tubuh si penderita (yang haram) misalnya : darah, daging babi, bangkai, khamar (minuman yang memabukan) semuanya harus dijauhi (Qs.5:3). Jenis lainnya seperti poster jahiliyyah, surat kabar non muslim, majalah kuffar, buku-buku perusak Aqidah dan apa saja berita-berita fasik yang bersumber dari media elektronik seperti radio, televisi, film dan musik yang akhir-akhir ini banyak menampilkan iklan-iklan sesat dan mempropagandakan (menyebarkan) virus-virus jahiliyyah. Semua makanan tersebut sangat membahayakan bagi kesehatan iman seorang muslim. Sebab dampaknya akan memperburuk kondisi tubuh (aqidah) keislaman. Dalam hal ini penderita sebaiknya memakan makanan dan minuman yang bergizi (Qs.2:172). Makanan yang bergizi itu haruslah mengandung dua unsur yakni yang "halal" lagi "baik" (Qs.2:168) misalnya seperti (Qs.5:4) termasuk juga didalamnya seperti poster, surat kabar, majalah dan buku-buku islam yang dapat memperkokoh Aqidah.

9. Iklim Lingkungan
Iklim lingkungan terbagi dua yakni iklim positif dan negatif. Pada saat ini kedua iklim sangat menentukan jalan proses penyembuhan. Iklim positif diantaranya kegiatan ibadah khos (mujahadatun nafsi), pengajian dan ceramah-ceramah islam, silaturahmi dan lain-lain yang mengarah kepada kebangkitan islam harus terus dihidupkan. Sedangkan iklim negatif seperti perjudian, perzinahan, khamar, penindasan, pemerkosaan, pembantaian dan kezaliman lainnya terhadap umat islam harus dapat membangkitkan ego (militansi) keislaman, militansi persaudaraan (ukhuwah) sesama umat islam, militansi untuk melenyapkan kebatilan dan kemungkaran yang merajalela untuk menegakan Dienul Islam.

Iklim ini harus bisa dimanfaatkan bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para dokter dalam membasmi penyakit Al Wahn yang telah lama menggerogoti Aqidah umat islam. Dengan begitu orang-orang kufar tak akan berani petantang-petenteng apalagi membantai, memperkosa, menganiaya umat islam. Apabila tubuh umat islam isi sudah sehat dan penyakit Al Wahn sudah sirna oleh ruh jihad, niscaya antibodi ini juga konon ditakuti tubuh penyebar penyakit (tubuh jahiliyyah).

10. Operasi
Bila kondisi tubuh keislaman sudah parah dan harus dilakukan operasi, maka diperlukan dokter-dokter yang berkualitas yaitu Mujahid haq yang beramal atas dasar ikhlas dan sabar karena yang akan dioperasi adalah jutaan bahkan miliyaran umat islam yang tertindas sejak berakhirnya kekhalifahan (Qs.2:153). Inilah Pembaharuan !!!

Antara Wahn dan Zuhud

Ilustrasi (blogspot.com/tiffinbiru)
dakwatuna.com – Suatu hari Rasulallah SAW pernah berkumpul di hadapan para sahabat. Beliau menyampaikan satu kalimat yang membuat para sahabat cukup tercengang. Beliau bertanya tentang apa yang disebut sebagai al wahn. Sahabat pun bertanya-tanya apa gerangan yang dimaksud al wahn. Rasulallah saw menjawab, “Al wahn adalah penyakit cinta dunia dan takut mati.”
Al wahn, pokok persoalan sebenarnya bukan pada cinta dunia, tetapi lebih kepada ketika hati sudah cinta dunia melebihi apapun. Di saat yang sama, Al wahn menyebabkan seorang mukmin takut pada kematian. Oleh karena itu, Al wahn menjelma menjadi sebuah penyakit yang bisa mematikan potensi keimanan. Tidak hanya itu, bahkan sampai pada potensi amal seorang insan. Lalu bagaimana agar hati tidak tertimpa penyakit al wahn. Jawabannya setiap kita harus memiliki satu sikap sebaliknya, yakni zuhud.
Zuhud sebagaimana Rasulallah saw sabdakan dalam bentuk perintah kepada kita, “Cukupkanlah dirimu terhadap apa yang ada di dunia, niscaya Allah swt akan mencintaimu. Dan cukupkanlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya engkau akan dicintai oleh manusia.” Al wahn dalam istilah sekarang ini, kita bisa menyebutnya penyakit materialisme. Jika jiwa seorang insan sudah tertimpa penyakit materialisme, apalagi jika secara materi ditopang dengan kekayaan dan kekuatan militer, maka dampak yang paling berbahaya adalah kekuatan harta dan kekuatan militer ini bisa dijadikan sebagai sarana untuk membumihanguskan orang-orang yang zuhud. Orang yang tertimpa penyakit materialisme atau al wahn cenderung merasa cemas dan khawatir. Mereka khawatir jika keberadaan orang-orang zuhud di tengah kehidupan mereka akan mengancam eksistensi mereka.
Sebuah sejarah panjang yang telah menimpa kehidupan anak manusia, ada qabil dan habil bis menjadi contoh. Qabil adalah orang yang membunuh Habil disebabkan penyakit Al wahn yang menimpa jiwa Qabil. Qabil sangat cemburu dengan pasangan yang akan menjadi pasangan Habil dalam pernikahan sehingga ia tega membunuh saudaranya.
Dibangkitkannya para nabi dan rasul di tengah-tengah kehidupan umat manusia sesungguhnya mengajarkan nilai-nilai kezuhudan dan memerangi Al wahn. Kita lihat bagaimana nabiyallah Ibrahim as yang zuhud adalah orang yang tegas memperjuangkan tegaknya tauhidullah. Namun, raja Nambrud begitu khawatir jika kezuhudan yang dibawa oleh nabi Ibrahim as justru menghancurkan eksistensi kerajaannya. Dampaknya ialah Ibrahim as dimusuhi sedemikian rupa, bahkan nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup. Namun, atas pertolongan Allah swt, api yang membakarnya dijadikan dingin dan sebagai penyelamat bagi Ibrahim. Zuhud tidak identik dengan kemiskinan. Zuhud adalah identik dengan kekuatan di mana mereka menjadikan dunia sebagai ladang amalan sementara orang yang wahn menjadikan dunia sebagai tujuan amalan.
Saya Sukeri Abdillah berzakat di Dompet Dhuafa.
Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Al-Wahn, Cinta Dunia dan Takut Mati

Rifqi Idrus Al Hamid, Jumat, 06 November 2009

يوشك أن تداعى عليكم الأمم من كل أفق كما تداعى الأكلة إلى قصعتها. قيل يا رسول الله أمن قلة يومئذ ؟ قال لا ولكنكم غثاء كغثاء السيل يجعل الوهن في قلوبكم و ينزع الرعب من قلوب عدوكم لحبكم الدنيا وكراهيتكم الموت). رواه أبو داود و احمد وصححه الألباني في صحيح الجامع الصغير 2/1359 ح 8183 و سلسلة الأحاديث الصحيحة ح 956.
Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745) Zaman terus bergulir menghampiri penghabisannya. Hadits-hadits nabi tentang datangnya akhir dari alam semesta semakin terpenuhi. Kita telah melihat bahwa ummat ini semakin mengikuti tingkah laku yahudi dan nashara.
Bukan hanya di mal-mal, bahkan di pasar-pasar tradisional, kita dapat melihat betapa ummat ini telah melangkah meninggalkan millah Islam dan terus saja mengikuti jejak yahudi dan nashara, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga ke lubang biawak pun mereka ikuti.
Ummat telah banyak yang melupakan Allah. Mereka terjebak dalam kenikmatan duniawi yang sementara. Mereka berbuat semaunya seolah surga dan neraka itu tak ada. Telah banyak diantara kita yang meninggalkan shalat fardhu sebagai tanda tak rindunya kita dengan Allah. Kalau pun kita shalat, kita shalat tanpa tahu ilmunya dengan baik dan benar. Kalau pun tahu ilmunya, hati dan fikirannya belum bisa benar dalam mendirikan sholat. Tetapi yang sangat perlu diperhatikan adalah mereka yang telah meninggalkan shalat fardhu. Apakah mereka tidak rindu untuk berjumpa dengan Allah?
Dari meninggalkan shalat itulah, ummat menjadi insan-insan yang mudah terjatuh kepada perbuatan keji dan mungkar. Narkoba dan minuman keras yang dulunya hanya diminum oleh orang-orang kafir, sekarang juga telah diminum oleh muslimin dengan penuh kebanggaan. Pembukaan aurat yang dulunya hanya dilakukan wanita-wanita kafir, kini juga dilakukan oleh muslimah dari yang muda hingga yang tua. Bahkan perzinahan di kalangan remaja pun menjangkiti para remaja muslim. Jika tahun baru dan valentine day tiba, hampir-hampir di muka bumi ini tidak tersisa lagi dari golongan Muhammad Rasulullah, kecuali sebagian kecil remaja yang meramaikan Masjid-Masjid dengan lafazh ‘Ya Allahu ya Allah’ untuk meredam musibah yang mungkin timbul akibat perbuatan sebagian besar ummat manusia yang terlena dalam kenikmatan duniawi di malam-malam tersebut.
Sebagian ummat Islam telah terjangkit dengan penyakit ‘hubbud dunya’, terlalu mencintai kehidupan duniawi. Mereka begitu bernafsu terhadap kehidupan dunia ini sehingga mereka lupa akan kematian, dan mereka tidak mau mengingat kematian, serta sangat takut terhadap mati. Mereka takut mati, selain karena amal mereka, juga lebih-lebih dikarenakan mereka tidak mau meninggalkan dunia yang sangat mereka cintai ini. Mereka mencintai dunia ini hingga malas beramal yang mendekatkan diri mereka kepada Allah. Mereka mencintai dunia ini hingga melupakan Allah, tidak merindukan-Nya, tidak pula mengharapkan pertemuan dengan-Nya. Kasihan, walau mereka sangat mencintai dunia ini, tetapi tetap saja, mereka pasti menemui kematian.
Jika mereka memang rindu untuk berjumpa dengan Allah, tentu mereka beramal shalih dengan penuh keikhlasan dengan mengharapkan keridhoan dari Allah. Tentu mereka berusaha untuk menyenangkan Allah dan melayani-Nya sebagaimana mestinya seorang hamba. Tetapi kebanyakan kita telah menjadi hamba dari nafsu kita sendiri dan terus melayani nafsu sebagai tuannya. Dan nafsunya begitu cinta terhadap kehidupan duniawi.
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110)
Inilah potret generasi kita, dimana ummat semakin terjangkit penyakit Al-Wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati.
Kemaksiatan, pada saat sekarang ini sudah menjadi pemandangan yang lazim di mana-mana. Lantas apakah kita akan berdiam diri melihat umat yang semakin hari semakin jauh dari tuntunan Allah dan Rasulnya? Saat ini Umat Islam diuji, sejauh mana mereka peduli kepada sesama manusia, terlebih kepada sesama Muslim, maka sejauh itu pula pertolongan Allah SWT akan datang kepadanya. Jika sebaliknya, maka umat Islam justru akan merasakan berbagai musibah dan bencana.
”Hendaklah kamu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jika tidak, maka Allah SWT akan menguasakan atasmu orang-orang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik di antara kamu berdoa dan tidak dikabulkan (doa mereka).” (HR Abu Dzar).
Inilah hakikat makna yang sesungguhnya dari pertalian persaudaraan sesama Muslim. Yakni, adanya rasa sedih bila melihat saudaranya belum mau menaati perintah Allah SWT, ada kerisauan yang mendalam akan kemurkaan Allah SWT kepada mereka.
”Tidaklah seseorang melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan ia berada dalam suatu kaum, namun kaum itu tidak mencegahnya walaupun mereka mampu, melainkan Allah SWT akan menimpakan bencana yang pedih ke atas kaum itu sebelum mereka mati.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).
Maka sudah jelas bagi kita, inilah sumber berbagai musibah, bencana, dan malapetaka yang berturut-turut datang silih berganti di negeri ini. Yaitu, kelalaian kita yang terus-menerus justru berkubang dalam sikap egois, membangun ketidakpedulian kepada saudara-saudara kita yang masih berani menentang perintah Allah SWT. Perhatikan perumpamaan Rasulullah saww berikut :
مَثَلُ القَائِمِ في حُدُودِ اللهِ وَالوَاقعِ فِيهَا ، كَمَثَلِ قَومٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصابَ بَعْضُهم أعْلاهَا ، وبعضُهم أَسْفلَهَا ، فكان الذي في أَسفلها إذا استَقَوْا من الماء مَرُّوا على مَنْ فَوقَهمْ ، فقالوا : لو أنا خَرَقْنا في نَصِيبِنَا خَرقا ولَمْ نُؤذِ مَنْ فَوقَنا ؟ فإن تَرَكُوهُمْ وما أَرَادوا هَلَكوا وهلكوا جَميعا ، وإنْ أخذُوا على أيديِهِمْ نَجَوْا ونَجَوْا جَميعا
“Perumpamaan orang yang teguh dalam menjalankan hukum-hukum Allah dan orang yang terjerumus di dalamnya adalah seperti sekolompok orang yang sedang membagi tempat di dalam sebuah kapal, ada yang mendapatkan tempat di atas, dan ada yang memperoleh tempat di bawah. Sedang yang di bawah jika mereka membutuhkan air minum, maka mereka harus naik ke atas, maka mereka akan mengatakan: “Lebih baik kami melobangi tempat di bagian kami ini, supaya tidak mengganggu kawan-kawan kami di atas. Rasulullah shallallahu’alaihi wa alihi wasallam berkata, Maka jika mereka yang di atas membiarkan mereka, pasti binasalah semua orang yang ada di dalam perahu tersebut, namun apabila mereka mencegahnya semuanya akan selamat” Kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar diberi kekuatan untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, yang ma’ruf dan yang mungkar, kemudian kita bersama-sama menegakkan yang ma’ruf dan memberantas segala bentuk kemungkaran dan kebatilan.
Cintakan Dunia Takutkan Mati

Abu Numair Nawawi B. Subandi
http://an-nawawi.blogspot.com


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الْأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا

قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ ؟

قَالَ: أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنْ تَكُونُونَ غُثَاءً كَغُثَاءِ السَّيْلِ، تُنْتَزَعُ الْمَهَابَةُ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ، وَيَجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ

قَالَ: قُلْنَا: وَمَا الْوَهْنُ ؟

قَالَ: حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Begitu hampir waktunya orang-orang kafir saling menyeru untuk menyerang kamu semua dari segala penjuru sebagaimana orang-orang lapar mengerumuni dulang berisi makanan.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah pada ketika itu bilangan kami sedikit?”

Nabi menjawab, “Tidak, sebaliknya pada ketika itu bilangan kamu amat ramai, tetapi kamu seperti buih-buih di air bah. Sesungguhnya Allah akan mencabut rasa takut dari hati musuh-musuh kamu terhadap kamu. Dan Allah mencampakkan dalam hati kamu al-Wahn.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksudkan dengan al-Wahn?”

Rasulullah menjawab, “Cintakan dunia dan takutkan mati.” (Hadis Riwayat Ahmad, 37/82, no. 22397. Dinilai hasan oleh Syu’aib al-Arnauth. Abu Daud, 11/371, no. 3745. Dinilai sahih oleh al-Albani)

Mungkinkah situasi ini telah berlaku dan sedang berlaku? Kerana pada hari ini orang-orang kafir berkumpul bersama-sama mereka menyerang umat Islam di segala penjuru dan sudut kawasan. Lihatlah apa yang berlaku di Mesir saat ini, apa yang berlaku di Palestin, apa yang berlaku di Iraq, apa yang berlaku di Afghanistan, apa yang berlaku di Libya, dan banyak lagi tempat-tempat lainnya.

Kaum Syi’ah Rafidhah bersama-sama kaum Nashara menyerang dan menguasai Iraq. Ratusan jiwa umat Islam di Iraq dikorbankan setiap hari. Kaum Nashara dan Yahudi menguasai dan menjajah bumi Palestin.

Baru-baru ini tersebar pendedahan penulis buku “Inside The Company: CIA Diary” – Phil Agee melalui Youtube.com – adanya agenda dan perancangan rapi Yahudi, Barat, dan sekutu-sekutu mereka untuk menguasai negara-negara dunia tertentu termasuk negara-negara Islam dan tanah-tanah ‘Arab pada hari ini.

Antaranya melalui agenda demokrasi, hak asasi manusia, ideologi revolusi, kemudian melalui cetusan ketegangan dan kemarahan di kalangan umat Islam sesama sendiri yang mengakibatkan demonstrasi jalanan, rusuhan, dan pemberontakan. Sehingga sekutu mereka ini tadi seperti NED, PBB, dan Nato pula akan memainkan peranan! Keadaan umat Islam menjadi lebih buruk dan tertindas setelah kedatangan mereka.

Arial Sharon, Moshe Dayan, Benjamin Netanyahu, Yeztak Rabin adalah antara individu yang dibuat-buat lupa oleh masyarakat dunia. Sedangkan setiap hari mereka ini semenjak Israel masih belum tertubuh membunuh ribuan jiwa umat Islam di bumi Palestin. Namun tidak ada pula serangan udara dari NATO atau Amerika kepada kelompok ini?

Iraq jatuh ke tangan Amerika dan sekutu mereka (kaum Syi’ah Rafidhah) masa ini akibat serangan bertali arus tentera penceroboh melalui udara. Taliban di Afghanistan dan Libya turut tumbang dengan kaedah yang sama.

Pelik atau tidak, cuba kita fikirkan bersama, walaupun Korea Utara merupakan negara paling aktif berkonfrantasi dengan Amerika Syarikat dan Sekutunya. Demikian juga beberapa negara kaum kuffar lainnya yang aktif berkonfrantasi dengan mereka. Tidak pula negara berkenaan diserang oleh Barat dan sekutunya. Malah tidak ada sebarang rekod bantuan dana kewangan kepada pembangkang di negara berkenaan bagi menyebarluaskan “Demokrasi” ke semenanjung Korea Utara.

Berbeza di negara-negara Islam, termasuk Malaysia sendiri. Agen-agen barat seperti CIA dan NED melalui beberapa siri pengakuan dan laporan telah menyalurkan bantuan kepada kumpulan-kumpulan pembangkang dan aktivis-aktivis demonstrasi jalanan tertentu! Maka, fikir-fikirkanlah agenda-agenda licik di sebalik slogan-slogan demokrasi yang wujud pada hari ini. Ia sebenarnya didalangi oleh musuh-musuh Islam dan dibantu pula oleh sebahagian umat Islam sendiri.

Dengan keadaan umat Islam yang sangat lemah, agenda-agenda dan siri konspirasi jahat tersebut kini sedang rancak berjalan! Ini sebagaimana yang kita lihat hari ini terhadap apa yang berlaku di Mesir, Libya, Syiria, Afghanistan, Iraq, Palestin, dan seumpamanya. Juga sebagaimana fenomena demonstrasi yang hangat melanda negara akhir-akhir ini.

Cintakan Dunia

Benarlah sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tersebut. Umat Islam pada hari ini dikerumuni oleh orang-orang kafir dari pelbagai arah dan penjuru. Dalam masa yang sama, hanya sedikit yang menyedari hakikat ini. Manakala sebahagian besar lainnya amat sibuk dengan dunia masing-masing.

Pada saat ini, adakah kita termasuk orang-orang yang menasihati anak-anak dengan nasihat, “Belajar rajin-rajin ya nak, nanti bila besar senang cari kerja, hidup pun senang.” Atau termasuk yang menasihati anak-anak dengan nasihat, “Jagalah aqidah baik-baik nak, sunnah-sunnah Nabi kena amalkan betul-betul, semoga nanti boleh menjadi orang beriman dan bertaqwa.”??

Kalau kita perhatikan baik-baik, hari ini umat Islam sanggup berhutang berhabis harta untuk mengejar kemewahan yang sementara. Dari saat di alam pengajian sehinggalah ke alam kerjaya, masyarakat Islam tidak sudah-sudah bermain dengan hutang. Hutang pengajian, hutang kenderaan, hutang rumah, hutang kad kredit, hutang riba, hutang perniagaan, hutang barang kemas, dan sebagainya. Kerana hutang itu akhirnya menjadikannya sibuk dan dilupakan dengan janji-janji akhirat.

Sedar atau tidak, sebenarnya cinta terhadap dunia akan menuntut adanya sikap pengagungan terhadapnya. Padahal ia adalah rendah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan di antara dosa yang besar adalah mengagung-agungkan sesuatu yang telah dihinakan oleh Allah.

Allah membenci mereka yang menjadikan dunia sebagai tujuan, sebaliknya mencintai mereka yang mengambil dunia sekadar keperluan atau sarana meraih keredhaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Sesiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan sesiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebahagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (Surah asy-Syuura, 42: 20)

Ayat ini antaranya menunjukkan bahawa sesiapa yang menjadikan amal perbuatannya untuk meraih hal-ehwal dunia dan bukan untuk tujuan mencari redha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kehidupan akhirat, maka dia akan mendapat apa yang dikehendakinya dari sebahagian keuntungan di dunia tetapi tidak mendapat bahagian di akhirat.

Sebenarnya mencintai dunia akan menjadi penghalang kepada seseorang hamba untuk melaksanakan amal-amal yang memberi manfaat kepadanya di akhirat kelak lantaran kesibukannya dengan apa yang dicintainya tersebut. Dari kecil sehingga dewasa ramai manusia yang menjadikan fokus hidupnya adalah untuk meraih gelaran dan kesenangan dunia.

Tidak sedikit dalam kalangan umat Islam sendiri yang hidupnya sibuk sehingga lupa untuk menuntut ilmu sebagai bekal memahami erti iman, Islam dan taqwa. Kerana terlalu ghairah mengejar masa depan dunia, terlupa pentingnya ilmu-ilmu aqidah untuk masa depan akhirat. Kerana terlalu sibuknya bekerja, sehingga terlupa untuk belajar tentang solat dan melaksanakannya. Anak-anak lebih dirisaukan tentang kehidupan dunianya dari kehidupan akhiratnya.

Malah pelbagai lagi cabang kewajiban agama dialalaikan kerana sibuk mengurus hal-ehwal keduniaan. Dan kebanyakan dari mereka hanya berhenti dari kesibukan tersebut setelah ajal yang amat ditakuti datang tanpa disedari.

Sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:

مَنْ كَانَتْ اْلآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Sesiapa yang akhirat menjadi harapannya, Allah akan menjadikan rasa cukup di dalam hatinya dan menyatukan urusannya, dan dunia akan datang tunduk kepadanya. Tetapi sesiapa yang menjadikan dunia sebagai harapannya, nescaya Allah akan menjadikan kefaqiran di antara dua matanya serta mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya melainkan sekadar apa yang telah ditetapkan baginya.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi, 9/5, no. 2389. Dinilai sahih oleh al-Albani)

Orang yang mencintai dunia dan menjadikannya sebagai tujuan adalah orang yang paling tersiksa hidupnya. Di dunia dia sibuk bersaing, berusaha mencari, dan menjaganya.

Di alam barzakh dia tersiksa dengan hilangnya dunia dan penyesalan pun datang kepadanya. Akhirnya dia disiksa kerana kecintaan kepada dunia dan mengabaikan kehidupan akhirat.

Hidup di dunia ini umpama khayalan dan hanya sebentar. Umpama mimpi indah yang akan hilang bila-bila masa terjaga.

Maka, janganlah kehidupan akhirat yang penuh keindahan dan kenikmatan dijual dengan harga yang sedikit. Kerana hasilnya adalah kehinaan dan penyiksaan yang dahsyat di akhirat. Malah sebahagiannya boleh dirasai semenjak di dunia lagi sebagaimana kelemahan dan kehinaan yang melanda umat Islam secara umum pada hari ini.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاَّ لاَ يَنْزِعُهُ عَنْكُمْ حَتىَّ تَرْجِعُوا إِلىَ دِيْنِكُمْ

“Sekiranya kamu melakukan perniagaan dengan ‘inah (sejenis riba), mengikuti belakang ekor lembu (sibuk bekerja), berpuas-hati dengan pertanian (sibuk dengan duniawi), serta meninggalkan jihad (tidak memperjuangkan agama Allah), maka Allah pasti membelenggu kamu dalam kehinaan. Dia tidak akan mencabut kehinaan tersebut dari diri kamu sehinggalah kamu kembali kepada agama kamu (Islam yang sebenar).” (Hadis Riwayat Abu Daud, 9/325, no. 3003. Dinilai sahih oleh al-Albani)

Wallahu a’lam.


Cinta Dunia dan Takut Mati


Semua tentu takut menghadapi kematian. Apalagi kita yakin bekal kita masih kurang untuk menghadapinya. Namun ada rasa takut akan kematian yang tercela dan ada pula yang tidak tercela. Yang tercela bila rasa takut tersebut didasari akan cinta yang berlebihan pada dunia sehingga melupakan akhirat.


Hadits “Suka Berjumpa dengan Allah”
Dalam hadits dari ‘Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ ». فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ فَقَالَ « لَيْسَ كَذَلِكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ »
Barangsiapa suka berjumpa dengan Allah, Allah juga mencintai perjumpaan dengannya. Sebaliknya barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allah, Allah juga membenci perjumpaan dengannya.” Kontan ‘Aisyah berkata, “Apakah yang dimaksud benci akan kematian, wahai Nabi Allah? Tentu kami semua takut akan kematian.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lantas bersabda, “Bukan begitu maksudnya. Namun maksud yang benar, seorang mukmin jika diberi kabar gembira dengan rahmat, keridhoan serta surga-Nya, ia suka bertemu Allah, maka Allah pun suka berjumpa dengan-Nya. Sedangkan orang kafir, jika diberi kabar dengan siksa dan murka Allah, ia pun khawatir berjumpa dengan Allah, lantas Allah pun tidak suka berjumpa dengan-Nya.” (HR. Muslim no. 2685).
Para ulama menggolongkan takut akan kematian menjadi dua macam:
1- Takut yang tidak tercela, yaitu takut mati yang sifatnya tabi’at yang setiap orang memilikinya.
2- Takut yang tercela, yaitu takut mati yang menunjukkan tanda lemahnya iman. Takut seperti ini muncul karena terlalu cinta pada dunia dan tertipu dengan gemerlapnya dunia sehingga banyak memuaskan diri dengan kelezatan dan kesenangan tersebut. Inilah yang disebutkan dalam hadits dengan penyakit wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati.
Hadits tentang penyakit wahn,
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».
Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani. Lihat penjelasan hadits ini dalam ‘Aunul Ma’bud).
Cinta dunia dan takut mati di sini adalah dua hal yang saling melazimkan. Itu berarti jika seseorang tertipu dan terlalu cinta pada dunia, maka ia pun begitu khawatir pada kematian. Lihat pembahasan dalam ‘Aunul Ma’bud. Inilah yang membuat rasa takut terhadap kematian itu tercela.
Baca artikel “Sebab Lemahnya Kaum Muslimin“.
Mengingat Mati
Namun mengingat mati sebenarnya suatu yang dituntut pada setiap orang. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).
Kita juga dapat mengambil pelajaran dari ayat,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2). Dalam Tafsir Al Qurthubi disebutkan bahwa As Sudi berkata mengenai ayat ini, yang dimaksud orang yang paling baik amalnya adalah yang paling banyak mengingat kematian dan yang yang paling baik persiapannya menjelang kematian. Ia pun amat khawatir menghadapinya.
Faedah Mengingat Mati
1- Mengingat kematian adalah termasuk ibadah tersendiri, dengan mengingatnya saja seseorang telah mendapatkan ganjaran karena inilah yang diperintahkan oleh suri tauladan kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2- Mengingat kematian membantu kita dalam khusyu’ dalam shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اذكرِ الموتَ فى صلاتِك فإنَّ الرجلَ إذا ذكر الموتَ فى صلاتِهِ فَحَرِىٌّ أن يحسنَ صلاتَه وصلِّ صلاةَ رجلٍ لا يظن أنه يصلى صلاةً غيرَها وإياك وكلَّ أمرٍ يعتذرُ منه
Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).” (HR. Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus. Hadits ini hasan sebagaimana kata Syaikh Al Albani)
3- Mengingat kematian menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah. Karena barangsiapa mengetahui bahwa ia akan menjadi mayit kelak, ia pasti akan berjumpa dengan Allah. Jika tahu bahwa ia akan berjumpa Allah kelak padahal ia akan ditanya tentang amalnya didunia, maka ia pasti akan mempersiapkan jawaban.
4- Mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه
Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani).
5- Mengingat kematian membuat kita tidak berlaku zholim. Allah Ta’ala berfirman,
أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ
Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al Muthoffifin: 4). Ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang berlaku zholim dengan berbuat curang ketika menakar. Seandainya mereka tahu bahwa besok ada hari berbangkit dan akan dihisab satu per satu, tentu mereka tidak akan berbuat zholim seperti itu.
Lihat selengkapnya mengenai Faedah Mengingat Mati.
Nasehat Imam Ad Daqoq
Imam Qurthubi menyebutkan dalam At Tadzkiroh mengenai perkataan Ad Daqoq mengenai keutamaan seseorang yang banyak mengingat mati:
1- menyegerakan taubat
2- hati yang qona’ah (selalu merasa cukup)
3- semangat dalam ibadah
Sedangkan kebalikannya adalah orang yang melupakan kematian, maka ia terkena hukuman:
1- menunda-nunda taubat
2- tidak mau ridho dan merasa cukup terhadap apa yang Allah beri
3- bermalas-malasan dalam ibadah.
Semoga Allah menghindarkan kita dari penyakit cinta dunia dan takut mati.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan