Isnin, 4 Mei 2015

MAJLIS2 ILMU@PENGAJIAN2 DISURAU DAN MASJID DIPANDANG SEPI@DIABAIKAN...WALAUPUN IA PERJUANG@PENDOKONG ISLAM...KUMPULAN PENDAKWAH2...AHLI2 TAREKAT DLL...MEREKA SUKA CERAMAH@SYARAHAN.... AKTIVITI2 GULUNGAN MEREKA SAJA...TINGGALLAH YANG MENDENGAR WARGA2 EMAS...TAKUT KITA DITIPU SYAITAN...AKTIVITI BIASA TERTUMPU HARI CUTI...TAK CUTI MAKNA TAK DE AKTIVITI HADIRLAH KE MAJLIS2 ILMU...TAPI PAYAH KOD...SUSAH KALAU TAK MAU PERGI KE TAMAN2 SYURGA...TAMAN2 SYURGA DIDUNIA TAK NAK...AGAK2NYA SENANG KE UNTUK MASUK SYURGA...BHG 2






ILMU DAN IBADAT
TANJAKAN ILMU DAN MA'RIFAT PETIKAN DARI KITAB MINHAJUL ABIDIN
"Diharamkan mereka itu sampai kepada Allah kerana meninggalkan mengikut"Thoriqat Muhammadiyah"  dan berjalan mereka itu dengan keinginan mereka".(Wali Qutub Sheikh Abi Madyan r.a).
Wahai orang-orang yang ingin lepas dari bahaya dan ingin beribadah dengan yang murni terhadap Tuhan,  semoga Allah memberi taufiq kepadamu,  tetapi sebelumnya engkau harus memiliki Ilmu dahulu.
Sebab ibadah itu percuma dan sia-sia kalau tanpa ilmu,  sebab ilmu itu adalah porosnya,  segala sesuatu berputar disekitarnya.
Ketahuilah ! bahwa ilmu dan ibadah itu adalah dua permata.  Untuk ilmu dan ibadah itulah maka terjadi semua apa-apa yang engkau lihat dan dengar itu;  hanya untuk Ilmu dan Ibadah.
Apa yang engkau lihat dan dengar,  yaitu kitab-kitab yang dikarang oleh ulama-ulama,  ajaran guru-guru,  nasihat dari penasihat-penasihat,  fikiran dari para pemikir,  itu semuanya demi untuk Ilmu dan Ibadah.
Dan karena untuk ilmu dan ibadah juga maka Kitab-kitab Suci itu diturunkan oleh Allah S.W.T,  dan semua Rasul-rasul diutus hanya untuk ilmu dan ibadah,  bahkan lebih dari itu : langit dan bumi diciptakan Tuhan hanya untuk ilmu dan ibadah,  dan begitu pula semua apa yang ada dilangit dan dibumi,  semua makhluk yang hidup dan yang tidak hidup.  Sekarang renungkanlah dua ayat dalam kitab suci Allah S.W.T. (Al-Qur'an).
Yang satu diantara dua ayat itu adalah :
 "Allah yang menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi,  seperti langit,  turun berkali-kali perintah Allah antara langit dan bumi,  supaya engkau memperoleh ilmu,  supaya kamu sekalian mempunyai ilmu,  bahwa Allah itu kuasa atas segala sesuatu dan bahwa Allah sudah berilmu,  sudah mengetahui segala sewatu yang meliputi ilmu itu untuk segala sesuatu".
Dengan tafakur tentang langit dan bumi,  kita berharap akan memperoleh ilmu itu nanti.
Dengan satu ayat itu sebagai dalil, sudah cukup untuk diketahui bahwa Ilmu itu memang mulia.
Terutama Ilmu Tauhid,  sebab mengenai Allah S.W.T. dan Asma-Nya dan Sifat-Nya dan lain-lain-Nya.
Ayat yang kedua yang harus kita renungkan itu ialah : firman Allah S.W.T. :
"Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepadaku".
Jadi ini menunjukkan kemuliaanya Ibadah.  Cukup dengan ayat yang satu ini sebagai petunjuk bahawa ibadah itu mulia,  dan bahawa kita harus beribadah.  Besar nian dua hal yang dimaksud dari penciptaan dunia dan akhirat,  iaitu ilmu dan ibadah. Jadi wajib bagi tiap-tiap hamba untuk memperhatikan ilmu dan ibadah saja,  yang lainnya batil (kerana dalam ilmu dan ibadah sudah masuk semua apa-apa yang membuat maju dunia dan akhirat).
Pembangunan,  melaksanakan kamakmuran,  kalau kerana Allah,  termasuk ibadah.  Jadi cukup dengan perkataan ilmu dan ibadah telah mencakup semua kebahagiaan dinia dan akhirat,  yang sihat,  bukan kemajuan yang jahat,  tapi kemajuan yang sihat.  Cukup dengan ilmu dan ibadah,  jangan kita mengerjakan yang lain,  melainkan hanya ilmu dan ibadah.
Walaupun hanya untuk membuat jalan,  membuat kebun dan apa saja,  masuk dalam ibadah kalau diniatkan supaya dunia ini menjadi ladang (sawah) bagi akhirat.  Dengan demikian setiap orang itu jangan mengerjakan sesuatu melainkan ilmu dan ibadah sahaja.
Jangan kita mempergunakan otak kita melainkan untuk ilmu dan ibadah,  dipusatkan sekarang ini perhatian kita kepada ilmu dan ibadah.  Kalau sudah terpusat,  maka jadi kuat,  dan kalau sudah kuat jadi berhasil.
Jangan banyak berfikir,  satu saja sudah,  ilmu dan ibadah,  satukan saja,  di situ ada konsentrasi di situ ada sukses.
Yang selain ilmu dan ibadah,  batil,  sesat.   Yang selain daripada ilmu dan ibadah,  akan menghancurkan dunia.  Insya-Allah dunia ini akan hancur kalau tidak kembali kepada ilmu dan ibadah.
Tidak ada yang baik selain ILMU dan IBADAH.
Jika engkau telah mengetahui yang demikian itu,  yakinlah bahawa ilmu adalah yang termulia dan utama diantara dua permata itu. Oleh kerananya Nabi S.A.W. bersabda :
"Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang ibadah seperti kelebihanku atas orang yang terendah dari umatku" (Ini hadiths hasan sanadnya,  dan diperkuat oleh yang lainnya,  diriwayatkan oleh Al-Harith bin Abi Uzamah dan Abi Said Al-Khudri dan dikuatkan oleh riwayat dari Turmudzi dari Abi Umamah).
 Dan bersabda Rasullah S.W.T. :
"Sekali melihat kepada wajah orang yang berilmu,  lebih suka bagiku daripada ibadah satu tahun,  penuh puasa siangnya,  penuh salat malam harinya".  (Ini fadilahnya ilmu,  tapi hanya bagi orang yang berilmu yang ilmunya diamalkan).
"Inginkah kamu sekelian tahu,  siapa yang paling mulia diantara penghuni Syurga ?".
Jawab para sahabat : "Bahkan,  kami ingin tahu ya Rasullah".
Sabda Rasullah S.W.T. : "Ialah Ulama-ulama,  Ahli Ilmu dan umatku".
Sekarang jelaslah bahawa ilmu itu permata,  yang lebih mulia darpada ibadah,  tapi ibadahpun tidak boleh tiada,  harus dikerjakan dengan disertai ilmu.  Jika demikian,  ilmunya itu akan menjadi debu yang berhamburan ditiup angin,  sebab ilmu ibarat pohon dan ibadah ibarat buah,  yang menjadikan pohon lebih mulia, kerana pohon itu pokok,  tapi manfaatnya ialah buahnya.  Oleh kerananya maka tak dapat tiada bagi,  manusia itu harus mempunyai keduanya,  yakni ilmu dan ibadah.  Kerana itu berkata Imam Al-Hasanul Basri :
"Tuntutlah ilmu,  tapi tidak melupakan ibadah,  dan kerjakanlah ibadah,  tapi tidak boleh lupa pada ilmu".
Oleh kerana itu sudah jelas bahwa manusia itu harus memiliki  kedua-duanya (ilmu dan ibadah ),  dan yang utama harus didahulukan ialah ilmu,  sebab ia pokok dan petunjuk.  Bagaimana akan dapat beribadah jika tidak mengetahui cara-caranya.
Dan kerana itu bersabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud:
"Ilmu itu Imamnya amal,  sedangkan amal makmumnya".
Sebab-sebab yang menjadikan ilmu itu pokok dan harus didahulukan dari ibadah,  didasarkan pada dua perkara;
Pertama agar ibadah itu berhasil dan sihat,  maka wajib bagimu mengenal dahulu siapa yang harus disembah,  setelah itu baru engkau menyembah kepadanya.  Bagaimana jadinya,  apabila engkau menyembah yang engkau belum kenal dengan AsmaNya dan Sifat-sifat Zat-Nya,  dan yang wajib baginyaNya dan yang mustahil pada Sifat-Nya.  Sebab terkadang engkau mengiktikadkan sesuatu yang tidak layak bagi-Nya dan Sifat-Nya.  Jika demikian,  maka ibadahmu itu berhamburan seolah-olah sebagai debu ditiup angin.
Ada hikayat dua orang,  yang seorang berilmu tapi tidak beribadah dan yang seorang lagi beribadah tapi tidak berilmu.
Maka mereka dicuba oleh seseorang,  sampai di mana jahatnya orang yang berilmu tapi tidak beribadah,  dan jahatnya orang yang beribadah tapi tidak berilmu.  Dia mendatangi mereka dengan pakaian yang hebat.
Kepada orang yang beribadah,  ia berkata begini :   "Hai! hambaku aku sudah ampuni dosamu seluruhnya,  sekarang kau tidak usah ibadah lagi",  maka jawab orang yang ibadah itu :
"Oh,  itulah yang kuharapkan daripadamu ya Tuhanku".  dikiranya orang itu TuhanNya,  sebab dia tidak mengetahui Sifat-sifat Tuhan.
Kemudian dia datang kepada orang yang berilmu yang sedang minum arak,  dan berkata :  "Hai,  kamu akan diampuni dosa kamu,  ya!"  Maka ia menjawab :  "Kurang ajar kau ! (lalu dicabutnya pedang) engkau kira aku tidak tahu Tuhan?!".
Demikianlah bahawa orang yang berilmu itu tidak mudah tetipu syaitan,  tapi sebaliknya orang yang tidak berilmu,  mudah saja ditipu oleh syaitan.
Sudah jelas dan sudah pasti bahawa hamba Allah perlu memiliki ilmu dan melakukan ibadah,  ilmu lebih utama didahulukan,  ertinya harus mengaji ilmunya dahullu (ilmu untuk  beribadah).  sebab,  ilmu itu pokok dan petunjuk jalan,  oleh kerananya Rasulullah bersabda :
"Ilmu itu adalah pemimpin amal,  sedangkan amal adalah yang dipimpin".
Kelanjutan hadits ini adalah sebagaimana berikut:
"Diberi ilmu itu oleh Allah kepada orang-orang yang bahagia dan tidak tidak diberikan kepada orang-orang yang celaka".(Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam kitab Al-Hilya dan oleh Abu Thalib Al-Makki dalam kitabnya Qutul-qulub dan juga oleh Al-Chotib serta Ibnu Qayyim,  diriwayatkan sebagai Hadits yang mauquf jadi hadits ini banyak jalannya).
Kerananya,  ilmu yang menjadi pokok yang diikuti dan harus didahulukan sebelum ibadah; diharuskan kerana berdasarkan dua sebab :
Pertama :  agar ibadahnya berhasil dan sihat.  Tanpa ilmu,  ibadahmu akan banyak hama-hamanya yang akan merosaknya.
Sebab,  mula-mula engkau harus mengenal dahulu siapa yang disembah iaitu akan Sifat-sifat dan Nama-nama-Nya,  kemudian sesudah kenal barulah menyembah-Nya.
Tanpa mengetahui ini,  dapat menyebabkan Suul Khotimah,  kerana salah mengiktikadkan Sifat-sifat Allah dan hal ini dapat menyebabkan ibadahmu akan sia-sia belaka.
Dan kami sudah menerangkan bahaya yang tersembunyi di sini,  bahaya-bahaya besar,  iaitu dalam rangka menerangkan apa ertinya Suul Khotimah dari kitab Al-Khouf,  yang terdapat dalam jumlah kitab-kitab yang dinamai Ihya Ulumuddin. Sila lihat bicaranya pada bab Suul Khotimah
Yang keduanya;  engkau wajib mengetahui,  apa yang harus engkau kerjakan,  iaitu:  Sholat,  Puasa dan lain-lain.  Menurut sebagaimana mestinya yang diperintahkan oleh Allah S.W.T. supaya engkau bisa memenuhi sepenuh mungkin ,  dan engkau juga harus mengetahui apa yang perlu dan wajib ditinggalkan,  iaitu larangan-larangan dari Allah swt seperti : riak,  ujub,  dsb nya ; iaitu sifat-sifat yang tercela yang nanti akan diterangkan dalam kitab ini,  agar engkau bisa menjauhi sifat-sifat yang demikian.  Apabila tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus ditinggalkan,  maka tidak mungkin seseorang melakukan taat yang belum dikenalnya.
Apakah taat itu?,  dan bagaimana cara mengerjakan?.  Dan bagaimana engkau bisa menjauhi maksiat yang engkau sendiri tidak mengetahui jenisnya?.
Bila seseorang tidak tahu bahawa berdusta itu haram,  mana mungkin ia meninggalkannya!.
Kita harus belajar apa yang wajib dan apa yang haram,  supaya kita jangan jatuh ke dalam kedurhakaan.  Jadi kita harus belajar,  harus mengaji mengenai ibadat syar'i,  seperti: bersuci,  mandi dan berwuduk,  solat,  puasa dan sebagainya kerana inilah tugas-tugas keagamaan yang Fardu Ain hukumnya. Tiap-tiap muslim wajib mengaji ilmu fekah,  hukum-hukumnya dan syarat-syaratnya,  agar dapat melakukannya dengan sebenar-benarnya.
Terkadang engkau terus menerus melakukan sesuatu yang engkau kira baik,  bertahun-tahun lamanya,  padahal sebenarnya merusak; dan engkau terus melakukan hal-hal yang merusak kesetiaanmu,  solatmu dsbnya. (Sebab ada pernah ada orang di masjid di suatu tempat ia tidak mengetahui bagaimana caranya sujud,  bagaimana caranya menaruh tangan.  Sudah baik hatinya mau solat,  tetapi belum belajar bagaimana caranya solat; solatnya itu tidak cocok dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW).
Sedang kau sendiri tidak merasa salah. Kerana itu Fardu 'Ain harus dikaji; kemudian dilengkapi dengan sunat-sunat; sunat 'ain yang biasa dikerjakan oleh tiap-tiap orang.  Terkadang ada sesuatu yang sulit;   Misalnya:  dalam berpergian/musafir dengan keretapi,  ini sulit,  bagaimana solatnya?,  sedang engkau sendiri belum pernah mengaji dan pada waktu itu tidak seorang ulama pun untuk tempat bertanya.  Oleh sebab itu kita harus mengaji,  bagaimana solatnya.
Kalau sedang berada di dalam kapal,  atau kita mau naik haji misalnya.  Kalau di kapal haji tentunya banyak ulamak-ulamak yang bisa kita tanya,  tapi bagaimana kalau sedang berada dalam keretapi,  sedangkan tidak ada ulama yang bisa kita tanya?
Oleh sebab itu sekali lagi ditekankan,  bahawa mengaji itu sangat penting.  Demikian pula mengenai ibadah batin,  inipun harus kita kaji. Sebagaimana ada ibadah lahir,  juga ada ibadah batin,  bidangnya ialah Ilmu Tasauf.  Ibadah-ibadah seperti : solat,  puasa,  naik haji,  mengeluarkan zakat; ini semua termasuk ibadah lahir.  Sedangkan ibadah batin di antaranya,  kita tidak boleh takabbur.
Lawan takabbur ialah Tawaddu;  Zikrul Minnah lawannya Ujub;   Kisorulamal lawannya Tulil-amal; semu ibadah batin.  Hati kita harus diisi dengan sifat-sifat yang baik.  Kalau kita tidak mengaji / tidak tahu,  kadang-kadang kita melakukan ibadah lahir sahaja,  sedangkan hati kita tidak melakukan ibadah batin.  Kedua-duanya harus dilakukan,  agar tidak pincang. Ibadah batin itu ialah amal-amal yang dilakukan oleh hati.  Engkau harus mengetahui dan mengajinya.
Ibadah batin itu diantaranya ialah tawakkul (dalam bahasa kita tawakkal dan dalam bahasa Arab tawakkul).
Tawakkal itu ialah percaya kepada Allah S.W.T.  Dalam segala urusan yang kita khawatirkan,  kita serahkan kepada Allah S.W.T.
Manusia itu tidak luput dari kekuatiran,  misalnya : kita berusaha mencari rezki yang halal tapi kita kuatir akan rugi dalam dagang kita atau sawah kita kena hama yang tidak diduga-duga.  Nah kekuatiran itu,  kita serahkan kepada Allah S.W.T.  (Boleh dilihat dengan panjang lebar akan diterangkan oleh Imam Ghazali,  dalam kitabnya Minhadjul-Abidin)
Kita jangan menentang,  kita harus redho menerima apa yang ditakdirkan oleh Allah S.W.T.
Bagaimana caranya?  nanti akan diterangkan.(dalam Kitab Minhajul Abidin)
Sabar,  tahan uji,  tahan derita,  tahan payah dalam megerjakan taat kepada Allah adalah sifat orang yang kuat batinya,  sebab erti sabar itu adalah tahan uji batin.
Taubat,  bagaimana caranya taubat itu ?  nanti Insya Allah akan diterangkan dalan kitab Minhadjul-Abidin dan diambil juga dari kitab-kitab lainya yang sebahagian besar karangan Imam Ghazali juga.  Ikhlas,  meskipun ikhlas itu sudah masuk kedalam bahasa kita,  tapi perlu juga diterangkan erti Ikhlas yang sebenar-benarnya : iaitu meninggalkan riya dalam amal,  dan lain-lainnya.  Nanti semua akan diterangkan.
Engkau harus tahu apa yang dilarang mengenai pekerjaan hati,  hati kita suka melakukan apa-apa yang dilarang oleh Allah S.W.T.  Kita harus tahu larangan-larangan batin itu,  sebab kalau kita tidak menjauhi larangan-larangan batin dan tidak melakukan kewajiban-kewajiban batin,  apa ertinya beragama Islam ?  Jadi hati nantinya kosong; kalau hati jahat atau busuk ,  berarti kosong,  sebab agama Islam bertugas membersihkan hati.  Kalau hati kita tidak bersih dan tidak Sholeh,  apa ertnya beragama Islam ?,  hanya disunat dan membaca Syahadat waktu mau Nikah.
Sholat juga dicampuri dengan riya dan udzub,  apa ertinya itu ?.
Tidak ada ertinya sama sekali.  Islam itu harus melakukan amal-amal batin dan menjauhi larangan-larangan batin.  Contoh larangan batin,  seperti telah disebutkan tadi,  ialah tidak redho terhadap takdir Allah S.W.T.
Saya pernah membaca suatu cerita dalam bahasa Inggeris,  ada orang yang kematian isteri dan anak-anaknya,  akhirnya ia memaki-maki Tuhan.  Orang itu keterlaluan,  tidak rela menerima takdir Allah S.W.T. Perbuatanya itu merupakan dosa besar.
Amal, (dengan hamzah di hadapan) ertinya lupa bahwa kita akan mati,  rasanya akan hidup terus.
Itu amal dan bukan amal(dengan huruf ain di hadapan).
Kalau 'amal dengan ' ain ertinya perbuatan.
Kalau amal dengan hamzah ertinya rasa tidak akan mati,  itu dosa besar.  Sebab kalau kita merasa tidak akan mati,  semua ta'at  itu akan diundur-undur sahaja.
Dan riya itu perbuatan pura-pura,  hanya ingin dipuji oleh manusia dan tidak kerana Allah S.W.T.
Dan kibir itu ialah merasa diri besar (sombong).  Sebetulnya manusia dirinya besar,  kenapa ?  Dan manusia tidak akan tahu bahawa dirinya besar,  sebab ia tahu bahawa dirinya besar dan baik,  nanti kalau umurnya sudah berakhir,  matinya Husnul-Khotimah. Kalau matinya Husnul-Khotimah,  dia besar dan bahagia.  Kalau matinya Suul-Khotimah,  meskipun orang itu,  merasa dirinya besar didunia,  namun sebetulnya ia hanya kerdil belaka.  Supaya engkau menjauhi semuanya itu.
Dalam Al-Qur'an dengan jelas nash ayat-ayat yang mewajibkan kita beribadah batin dan melarang maksiat batin.  Ayat-ayat yang mengenai hukum lahir hanya ada beberapa ratus ayat,  tapi yang mengenai ibadah batin itu hampir dari awal sampai akhir,  juga diterangkan mengenai maksiat-maksiat batin.  (Yang menentukan hukum lahir itu hanya  500 ayat).
Allah jelas menyuruh ibadah batin,  menyuruh Sabar;  menyuruh Tawakkal,  menyuruh Redho bil Qoda,  menyuruh Dzikrul-minnah ,  dan lain-lainnya. (kalau ibadah batin semacam itu dianjurkan oleh al-Qur'an dan  Al-Hadits,  apa ertinya ke-Islaman kita kalau kita masih bergunjing(mengumpat),  masih membohong,  masih suka derhaka terhadap ibu dan bapa,  masih suka su'udzon(buruk sangka) terhadap Muslimin  apa ertinya kita menjadi Muslim kalau begitu?.
Apa bendanya dengan orang yang jahat yang bukan muslim ?.  Misalnya dengan Abu Jahal,  apa bendanya ?  Dia tahu bahwa Tuhan itu ada,  tapi hatinya busuk.  Iblis tahu bahwa Allah itu Maha Esa,  tapi hatinya busuk.  Jadi sangat penting sekali ibadah hati itu.
Dan Allah dengan jelas melarang lawan-lawan ibadah batin itu, yakni : maksiat batin.
Begitu pula di dalam Hadits,  bahkan yang mengenai ini,  kebanyakan hadits mutawatir.
Cukup sekadar ini sebagai menyatakan bahawa betapa pentingnya Ilmu yakni Ilmu untuk beribadat.  Saudara boleh mendapatkan kelanjutan bicaranya dengan memiliki Kitab Minhajul Abidin.  Sebaiknya yang versi Jawi dan mengaji dengan seorang guru yang tahu/ada Karangan Asalnya dari bahasa Arab.  Jika tidak belilah sahaja terjemahannya dalam bahasa Indonesia atau bahasa Melayu yang boleh didapati di mana-mana kedai yang menjual Kitab-kitab dan buku-buku agama.
Jika direzeki Allah Taala...Insya Allah akan dipanjangkan lagi bicara ini yang akan menjuruskan kepada hubungan antara Ilmu tentang cara-cara beramal dengan Ilmu Yang Hasil dari amalan yang akan membawa kita kepada jalan-jalan yang dilalui oleh golongan-golongan Ahli Tasauf.  Pada jalan-jalan inilah nanti kita akan mengerti betapa istimewa dan betapa mistiknya Ilmu-ilmu yang dimiliki oleh mereka iaitu gabungan di antara Ilmu tentang cara-cara beramal(Fekah/Wirid) dan Ilmu yang hasil dari amalan(Warid) yang akan membawa kita kepada satu Muara ke Lautan Ilmu Yang Tiada Bertepi.  Tetapi sebelumnya perlu diingat asasnya ialah anda perlu memiliki Ilmu-ilmu Fardu Ain dan mengamalkannya mengikut jalan-jalan yang telah ditetapkan.  Tidak dapat tidak anda perlu mengakui bahawa;
"Hakikat tidak akan muncul sewajarnya jika Syariat dan Thoriqat belum betul lagi kedudukannya. Huruf-huruf tidak akan tertulis dengan betul jika pena tidak betul keadaannya."
Allahu A'lam.

SYARAT UTAMA DITERIMANYA AMAL IBADAH / شروط قبول العمل


Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz
 A.    TUJUAN DAN HIKMAH PENCIPTAAN MANUSIA dan JIN
Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan alam semesta tidaklah dengan sia-sia atau tanpa hikmah di balik penciptaan tersebut. Aka tetapi Allah memiliki maksud dan tujuan yang mulia. Allah Ta’ala berfirman :
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلاً
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya keduanya tanpa hikmah” (QS. Shaad : 27)
Adapun hikmah dari penciptaan jin dan manusia di alam semesta ini adalah agar mereka beribadah kepada Allah dan tidak mensekutukan-Nya. Allah Ta’ala berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah-Ku”. ( (QS. Al Dzariyat : 56)
Inilah tujuan yang agung dari penciptaan jin dan manusia, yaitu agar mereka hanya beribadah kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa tidaklah Allah menciptakan mereka karena Allah butuh kepada mereka, akan tetapi justru merekalah yang membutuhkan Allah. Dan ayat ini menunjukkan pula tentang wajibnya manusia dan jin untuk mentauhidkan Allah dan barang siapa mengingkarinya maka ia termasuk orang yang kafir, yang tidak ada balasan baginya kecuali neraka.   
B.   MAKNA IBADAH
Arti Ibadah ( العِبَادَةُ ) secara bahasa adalah tunduk dan menghinakan diri serta khusyu’. Di dalam kamus Al Mu’jam Al Wasith ibadah artinya ”tunduk kepada Tuhan yang menciptakan”. Imam Al Qurthuby berkata ”Asal ibadah ialah  tunduk dan menghinakan diri”.
Secara istilah arti ibadah adalah sebagaimana  perkataan Ibnu Katsir : “Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan hal-hal yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang”. Kemudian Ibnu Taimiyah berkata : “Ibadah ialah sesuatu yang mencakup semua perkara yang dicintai dan diridhoi Allah berupa perkataan atau perbuatan yang nampak atau pun tidak nampak”.
C.   HUKUM IBADAH
Hukum asal dari ibadah adalah haram kecuali ada dalil. Maksudnya adalah semua bentuk ibadah adalah haram untuk dikerjakan kecuali kalau ada dalil dari Al-Qur’an Al-Karim atau Hadits Shohih yang mewajibkannya atau mensunahkannya. Seperti sholat, puasa, zakat, haji adalah haram dikerjakan pada asalnya, namun dikarenakan ada dalil yang mewajibkannya maka hukumnya menjadi wajib untuk dikerjakan.
Dalil tentang wajibnya sholat dan zakat adalah firman Allah Ta’ala:
وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ
“Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat” ( QS. Al Baqoroh : 83 )
Dalil tentang kewajiban puasa adalah firman Allah Ta’ala:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” ( QS. Al Baqoroh : 183 )
Dalil tentang kewajiban haji adalah firman Allah Ta’ala :
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”. ( QS. Ali ‘Imran : 97 )
Kemudian sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ
“Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu : persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah I semata dan persaksian bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul –Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa romadhon dan pergi haji”. [ HR. Bukhari dan Muslim]
D.   SYARAT UTAMA DITERIMANYA IBADAH
Peribadatan seorang hamba yang muslim akan diterima dan diberi pahala oleh Allah I apabila telah memenuhi dua syarat utama berikut ini, yaitu :
1.    IKHLAS  ( اَلإِخْلاَصُ )
Ikhlas merupakan salah satu makna dari syahadat (  أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) ‘bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah I’ yaitu agar menjadikan ibadah itu murni hanya ditujukan kepada Allah semata. Allah I berfirman :
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”. [QS. Al Bayyinah : 5]
فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan (mu) untuk-Nya.” [QS. Az Zumar : 2]
Kemudian Rasulullah r bersabda :
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
“Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan kecuali yang murni dan hanya mengharap ridho Allah”. [HR. Abu Dawud dan Nasa’i]
Lawan daripada ikhlas adalah syirik (menjadikan bagi Allah tandingan/sekutu di dalam beribadah, atau beribadah kepada Allah tetapi juga kepada selain-Nya). Contohnya : riya’ (memperlihatkan amalan pada orang lain), sum’ah (memperdengarkan suatu amalan pada orang lain), ataupun ujub (berbangga diri dengan amalannya). Kesemuanya itu adalah syirik yang harus dijauhi oleh seorang hamba agar ibadahnya itu diterima oleh Allah I . Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ
“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syrik kecil”, para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa itu syirik kecil ? Rasulullah menjawab : “Riya’”. [HR. Ahmad]
Kemudian firman Allah tentang larangan syirik ialah,
فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui”. [QS. Al-Baqoroh :22]
Orang yang rajin beribadah kepada Allah I namun dalam waktu yang bersamaan ia belum bertaubat dari perbuatan syirik dengan berbagai bentuknya, maka semua amal ibadah yang telah dikerjakannya menjadi terhapus dan ia menjadi orang yang merugi di akhirat kelak, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. [QS. Al-An’aam: 88]
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi”. [QS. Az-Zumar: 65]
2. AL-ITTIBA’ ( اَلْاِتِّبَاعُ )
Al-Ittiba’ (Mengikuti Tuntunan Nabi Muhammad r) merupakan salah satu dari makna syahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah (أَنَّمُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ), yaitu agar di dalam beribadah harus sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad r . Setiap ibadah yang diadakan secara baru yang tidak pernah diajarkan atau dilakukan oleh Nabi Muhammad maka ibadah itu tertolak, walaupun pelakunya tadi seorang muslim yang mukhlis (niatnya ikhlas karena Allah dalam beribadah). Karena sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kita semua untuk senantiasa mengikuti tuntunan Nabi Muhammad  dalam segala hal, dengan firman-Nya :
وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”.[QS. Al Hasyr : 7]
            Dan Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”. [QS. Al-Ahzaab: 21]
Dan Rasulullah r  juga telah memperingatkan agar meninggalkan segala perkara ibadah yang tidak ada contoh atau tuntunannya dari beliau, sebagaimana sabda beliau:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada urusannya dari kami maka amal itu tertolak”. [HR. Muslim]
Itulah tadi dua syarat yang menjadikan ibadah seseorang diterima dan diberi pahala oleh Allah, sebagaimana firman-Nya :
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. [QS. Al Kahfi : 110]
Berkata Ibnu Katsir di dalam menafsirkan ayat ini : “Inilah 2 landasan amal yang diterima (dan diberi pahala oleh Allah), yaitu harus ikhlas karena Allah dan benar / sesuai dengan syari’at Rasulullah .
Jadi kedua syarat ini haruslah ada pada setiap amal ibadah yang kita kerjakan dan tidak boleh terpisahkan antara yang satu dan yang lainnya. Mengenai hal ini berkata Al Fudhoil bin ‘Iyadh :
“Sesungguhnya andaikata suatu amalan itu dilakukan dengan ikhlas namun tidak benar (tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad ), maka amalan itu tidak diterima. Dan andaikata amalan itu dilakukan dengan benar (sesuai dengan tuntunan Nabi ) tapi tidak ikhlas, juga tidak diterima, hingga ia melakukannya dengan ikhlas dan benar. Ikhlas semata karena Allah, dan benar apabila sesuai dengan tuntunan Nabi ”.
Maka barang siapa mengerjakan suatu amal dengan didasari ikhlas karena Allah semata dan cocok dengan tuntunan Rasulullah niscaya amal itu akan diterima dan diberi pahala oleh Allah. Akan tetapi kalau hilang salah satu dari dua syarat tersebut, maka amal ibadah itu akan tertolak dan tidak diterima oleh Allah I. Hal inilah yang sering luput dari perhatian orang banyak karena hanya memperhatikan satu sisi saja dan tidak  memperdulikan yang lainnya. Oleh karena itu sering kita dengar mereka mengucapkan : “yang penting niatnya, kalau niatnya baik maka amalnya akan baik”.
Perlu diketahui bahwa sikap ittiba’ (berupaya mengikuti tuntunan Nabi Muhammad r) tidak akan tercapai / terwujud kecuali apabila amal ibadah yang dikerjakan sesuai dengan syari’at dalam 6 (enam) perkara, yaitu :
1.    SEBAB ( اَلسَّبَبُ )
Jika seseorang melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak di syari’atkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tertolak. Contohnya: ada orang melakukan sholat Tahajjud khusus pada malam 27 Rajab dengan dalih bahwa malam itu adalah malam Isro Mi’rajnya Nabi Muhammad r. Sholat Tahajjud adalah ibadah yang dianjurkan, tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut yang tidak ada syari’atnya, maka ia menjadi bid’ah.
2.    JENIS ( اَلْجِنْسُ )
Ibadah harus sesuai dengan syari’at dalam jenisnya. Contohnya: bila seseorang menyembelih kuda atau ayam pada hari Iedul Adha untuk korban, maka hal ini tidak sah karena jenis yang boleh dijadikan untuk korban adalah unta, sapi dan kambing.
3.    BILANGAN ( اَلْعَدَدُ )
Kalau ada orang yang menambahkan rokaat sholat yang menurutnya hal itu diperintahkan, maka sholatnya itu adalah bid’ah dan tidak diterima oleh Allah. Jadi apabila ada orang yang sholat Dhuhur 5 rokaat atau sholat Shubuh 3 rokaat dengan sengaja maka sholatnya tidak diterima oleh Allah karena tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad.
4.    TATA CARA ( اَلْكَيْفِيَّةُ )
Seandainya ada orang berwudhu dengan membasuh kaki terlebih dulu baru kemudian muka, maka wudhunya tidak sah karena tidak sesuai dengan tata cara yang telah disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya di dalam Al-Qur’an Al-Karim dan Al-Hadits Asy-Syarif.
5.    WAKTU ( اَلزَّمَانُ )
Apabila ada orang yang menyembelih korban sebelum sholat hari raya Idul Adha atau mengeluarkan zakat Fitri sesudah sholat hari raya Idul Fitri, atau melaksanakan shalat fardhu sebelum masuk atau sesudah keluar waktunya, maka penyembelihan hewan korban dan zakat Fitrinya serta shalatnya tidak sah karena tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh syari’at Islam, yaitu menyembelih hewan korban dimulai sesudah shalat hari raya Idul Adha hingga sebelum matahari terbenam pada tanggal 13 Dzul Hijjah (hari Tasyriq ketiga), dan mengeluarkan zakat Fitri sebelum dilaksanakannya sholat Idul Fitri.
6.    TEMPAT ( اَلْمَكَانُ )
Apabila ada orang yang menunaikan ibadah haji di tempat selain Baitulah Masjidil Haram di Mekah, atau melakukan i’tikaf di tempat selain masjid (seperti di pekuburan, gua, dll), maka tidak sah haji dan i’tikafnya. Sebab tempat untuk melaksanakan ibadah haji adalah di Masjidil Haram saja, dan ibadah i’tikaf tempatnya hanya di dalam masjid.
Sehingga dengan memperhatikan enam perkara tersebut, maka kita dapat mencocokkan / mengoreksi apakah amal ibadah yang kita lakukan sudah sesuai dengan syariat Allah dan Rasul-Nya atau tidak?.
Demikian pembahasan singkat tentang syarat-syarat utama diterimanya amal ibadah. Semoga bermanfaat bagi kita semua di dunia dan akhirat. Amiin…
(Sumber: Buletin Dakwah Al-Ittiba’, Yayasan Mutiara Hikmah Klaten – Jawa Tengah, edisi 21 tahun II, 2008 M)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan