Rabu, 22 April 2015

JANGAN KITA JADIKAN ISLAM HAK ORANG MELAYU ATAU ISLAM NI MELAYU PUNYA...ATAU ISLAM KENA IKUT ADAT KITA....ATAU ISLAM NI DALAM KAWALAN KITA...BERMAKNA ISLAM KENA IKUT KITA BUKAN KITA KENA IKUT ISLAM....BAHAGIAN 4

ADAKAH INI DARI ISLAM YANG ADA NAS QURAN ATAU HADIS@SUNNAH...ATAU DARI TINGGALAN HINDU ATAU KITA CIPTA SENDIRI....FIKIR2KAN....JANGAN PULA ORANG TAK IKUT CARA KITA...KITA TAK BERHUJAH PUN TERUS TUDUH SESAT....NI BAHAYA

Tidak Ada Tuntunan Doa Khusus Akhir dan Awal Tahun Hijriyah

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Hari ini, Jum’at (2410/2015) hari terakhir dari tahun 1435 H. Saat Ghurub (matahari tenggelam) sudah masuk tahun baru 1436 H. Di masyarakat kita ritual doa bersama (berjamaah) dengan bacaan-bacaan khusus pada akhir dan awal tahun hijriyah sangat marak. Doa akhir tahun dibaca sesudah shalat ‘Ashar di penghujung bulan Dzulhijjah, sedangkan awal tahunnya dibaca sesudah shalat Maghrib di awal Muharram tahun hijriyah yang baru.
Maraknya pelaksanaan ini menjadikannya seolah amalan sangat istimewa. Bacaan khusus padanya seolah menjadikannya amal ibadah yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan landasan dalil syar’i yang shahih. Padahal tidak demikian. Doa dengan bacaan, tata cara dan waktu tertentu, ba'da Ashar dan ba’da Maghrib pada akhir dan awal tahun, tidak memiliki dasar perintah khusus. Maka kita tidak boleh mengikat ibadah doa dengan waktu tersebut karena Al-Qur’an atau sunnah shahihah tidak ada yang menyebutkan mengenai perintahnya di akhir dan awal tahun, tentang tata caranya, jumlahnya, waktu dan tempatnya. [Baca: Jangan Asal Beribadah, Karena Ibadah Bersifat Tauqifiyah!]


Tidak Ada Tuntunan Doa Khusus Akhir dan Awal Tahun Hijriyah 
 
Tidak Ada Tuntunan Doa Khusus Akhir dan Awal Tahun Hijriyah

Memang ada riwayat yang dijadikan sandaran oleh orang-orang yang meyakini adalah ibadah yang utama dengan pahala dan keutamaan tertentu. Di antara dalil yang dijadikan sandaran antara lain sebagai berikut:
“Barangsiapa membacanya syaitan akan berkata: Kami telah penat letih bersamanya sepanjang tahun, tetapi dia (pembaca doa berkenaan) merusak amalan kami dalam masa sesaat (dengan membaca doa tersebut).”
Mengenai nas hadits tersebut, Jamaluddin Al-Qasimy menerangkan riwayat ini tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits shahih, dan tidak juga di dalam kitab-kitab hadits maudhu’ (palsu). (Islahul Masajid: 108). Maka nash di atas tidak pernah diucapkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam. Kenyataannya, Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam, para shahabat dan para tabiin tidak pernah mengamalkan doa tersebut.
Ini telah diakui oleh beberapa ulama seperti Abu Syamah (seorang ulama Syafi’iyah wafat pada tahun 665H), Muhammad Jamaluddin Al-Qasimiy (Islahul Masajid:129), Muhammad Abdus Salam As-Shuqairy (As-Sunan wal-Mubtadaa’at:167), dan DR Bakr Abu Zaid (Tashihhud Do'a:108), yang menegaskan bahwa doa awal dan akhir tahun tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, para shahabat, tabiin, atau tabi’ut tabiin.‎
Dalam hal ini kita haruslah berhati-hati, karena seseorang yang telah mengetahui bahwa derajat hadits itu palsu tetapi tetap meriwayatkannya sebagai hadits, maka ia akan termasuk dalam ancaman Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam, “Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaknya ia menempati tampat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari)
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda,‎ "Barangsiapa yang meriwayatkan dariku sepotong hadits sedangkan dia tahu bahwa hadits itu palsu, maka dia adalah salah seorang pembohong.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya: I/62)
Kemudian, ada sebagian golongan yang berdalih bahwa doa tersebut sebenarnya adalah sebagian dari amalan para salafus shalih karena fadilah doa tersebut diterangkan dalam kitab Majmu’ Syarif, tetapi bukan di dalam bentuk hadits.
Perkara ini sangatlah menyesatkan dan berbahaya karena di antara fadilah doa tersebut diriwayatkan bahwa akan diampuni dosa-dosanya setahun yang lalu dan konon syaitan akan berkata: “Kami telah penat letih bersamanya sepanjang tahun, tetapi dia merusak amalan kami dalam masa sesaat (dengan membaca doa tersebut).
Ini semua adalah perkara-perkara gaib yang tidak boleh diimani kecuali yang bersumber dari Al-Qur’an atau Sunnah. Oleh karena Al-Qur’an dan Sunnah tidak menyebutkan fadilah-fadilah tersebut, maka bagaimana boleh seseorang yang mengetahui bahwa syaitan telah berkata demikian dan sebagainya, dan kita tetap beriman dengannya? [Baca: Mengoreksi Doa Akhir dan Awal Tahun]
Kesimpulan
Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah mengajarkan doa akhir tahun atau awal tahun. Yang diajarkan beliau adalah doa awal bulan hijriyah atau ketika melihat hilal. Karenanya merutinkan doa tersebut dengan berharap janji dalam riwayat-riwayat yang disebutkan di atas tidak dibenarkan. Apalagi penggunaan tahun Hijriyah ini baru ditetapkan pada zaman Umar bin Khatthab pada tahun 16 Hijriyah.
Kita tidak boleh menetapkan adanya ibadah doa khusus pada akhir dan awal tahun kecuali dengan dalil, karena itu termasuk ibadah khusus yang terikat dengan waktu. Dan ibadah tidak ditetapkan kecuali dengan dalil syar’i dari Al-Qur’an dan Sunnah shahihah. Wallahu a’lam. [PurWD/may/voa-islam.com]









Bid’ah-bid’ah Menyambut Tahun Baru Hijriyah

Dalam menghadapi tahun baru hijriyah atau bulan Muharram, sebagian kaum muslimin salah dalam menyikapinya. Sebagian mereka berpikiran: Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, maka mengapa kita selaku umat Islam tidak menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan atau pun amalan?
Satu hal yang mesti diingat bahwa sudah semestinya kita mencukupkan diri dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Jika mereka tidak melakukan amalan tertentu dalam menyambut tahun baru Hijriyah, maka sudah seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam hal ini. Bukankah para ulama Ahlus Sunnah seringkali menguatarakan sebuah kalimat,
لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا‎ ‎إِلَيْهِ
“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya.” [1]
Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya. [2]
Sejauh yang kami tahu, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah.
Berikut adalah beberapa amalan keliru dalam menyambut awal tahun Hijriyah:
• Do’a Awal dan Akhir Tahun
Amalan seperti ini sebenarnya tidak ada tuntunannya sama sekali. Amalan ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in dan ulama-ulama besar lainnya. Amalan ini juga tidak kita temui pada kitab-kitab hadits atau musnad. Bahkan amalan do’a ini hanyalah karangan para ahli ibadah yang tidak mengerti hadits.
Yang lebih parah lagi, fadhilah atau keutamaan do’a ini sebenarnya tidak berasal dari wahyu sama sekali, bahkan yang membuat-buat hadits tersebut telah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya. Jadi mana mungkin amalan seperti ini diamalkan. [3]
• Puasa Awal dan Akhir Tahun
Sebagian orang ada yang mengkhsuskan puasa dalam di akhir bulan Dzulhijah dan awal tahun Hijriyah. Inilah puasa yang dikenal dengan puasa awal dan akhir tahun. Dalil yang digunakan adalah berikut ini,
مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي‎ ‎الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ‏‎ ‎المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ‏‎ ‎السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ،‏‎ ‎وَافْتَتَحَ السَّنَةُ‏‎ ‎المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ‏‎ ‎اللهُ لَهُ كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ‏‎ ‎سَنَةً
“Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan kaffarot/tertutup dosanya selama 50 tahun.”
Lalu bagaimana penilaian ulama pakar hadits mengenai riwayat di atas?
1. Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at (181) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya –Wahb bin Wahb- yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.
2. Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu’ah (96) mengatakan bahwa ada dua perowi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.
3. Ibnul Jauzi dalam Mawdhu’at (2/566) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan Wahb yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits. [4]
Kesimpulannya hadits yang menceritakan keutamaan puasa awal dan akhir tahun adalah hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan dalil dalam amalan. Sehingga tidak perlu mengkhususkan puasa pada awal dan akhir tahun karena haditsnya jelas-jelas lemah.
• Memeriahkan Tahun Baru Hijriyah
Merayakan tahun baru hijriyah dengan pesta kembang api, mengkhususkan dzikir jama’i, mengkhususkan shalat tasbih, mengkhususkan pengajian tertentu dalam rangka memperingati tahun baru hijriyah, menyalakan lilin, atau membuat pesta makan, jelas adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Karena penyambutan tahun hijriyah semacam ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, para sahabat lainnya, para tabi’in dan para ulama sesudahnya. Yang memeriahkan tahun baru hijriyah sebenarnya hanya ingin menandingi tahun baru masehi yang dirayakan oleh Nashrani. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas telah menyerupai mereka (orang kafir). Secara gamblang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ‏‎ ‎مِنْهُمْ
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [5]
Penutup
Menyambut tahun baru hijriyah bukanlah dengan memperingatinya dan memeriahkannya. Namun yang harus kita ingat adalah dengan bertambahnya waktu, maka semakin dekat pula kematian.
Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا‎ ‎أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ‏‎ ‎كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ‏‎ ‎شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.” [6]
Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanya memiliki beberapa hari. Tatkala satu hari hilang, akan hilang pula sebagian darimu.” [7]
Semoga Allah memberi kekuatan di tengah keterasingan. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Catatan kaki:
[1] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tafsir surat Al Ahqof: 11, 7/278-279, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.
[2] Idem.
[3] Lihat Majalah Qiblati edisi 4/III.
[4] Hasil penelusuran di http://dorar.net
[5] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.
[6] HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi.
[7] Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi.
(Diambil dari Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriyyah, penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, ST)




Ahad, 27 November 2011


Sambutan Maal Hijrah, Antara Sunnah dan Bidaah di Bulan Muharram


Allah S.W.T dengan sifat-Nya yang Maha Pemurah (al-Rahmah) lagi Maha Penyayang (al-Rahman) telah menetapkan sesesetengah bulan itu memiliki keutamaan yang lebih berbanding dengan bulan-bulan yang lain agar Dia dapat memberi ganjaran yang lebih kepada hamba-hamba-Nya pada kadar-kadar masa yang tertentu itu. Di antara bulan yang dianggap istimewa itu adalah bulan Muharram yang merupakan bulan yang pertama dalam kalendar hijrah dan ia juga merupakan salah satu dari empat bulan-bulan haram yang penuh berkat.



Firman-Nya:





إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan-bulan di sisi (hukum) Allah ialah dua belas bulan, (yang telah ditetapkan) dalam Kitab Allah semasa Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati. Ketetapan yang demikian itu ialah agama yang betul lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar larangan-Nya); dan perangilah kaum kafir musyrik seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu seluruhnya; dan ketahuilah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa. (al-Tawbah (9) : 36 )



Menerusi firman-Nya “maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar larangan-Nya)” ia menunjukkan bahawa pada bulan-bulan haram yang mana Muharram adalah salah satu darinya kita dilarang dari melakukan perbuatan-perbuatan yang terlarang kerana dosa melakukan kemungkaran pada bulan-bulan ini adalah lebih buruk balasannya daripada Allah S.W.T. berbanding dengan bulan-bulan yang lain. Namun begitu bagi mereka yang melakukan amal-amal yang soleh ganjaran pahalanya juga adalah lebih tinggi berbanding dengan bulan-bulan yang lain.



Jika firman-Nya di atas hanya menunjukkan terdapat empat bulan yang dihormati dalam setahun maka sabda Nabi s.a.w. ini memperincikan lagi tentang nama bulan-bulan tersebut:





إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ.
Sesungguhnya zaman itu akan terus berlalu sebagaimana saat Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan. Empat di antaranya ialah bulan-bulan yang haram, tiga di antaranya ialah berturut-turut, iaitu bulan-bulan Dzulqaedah, Dzulhijjah dan Muharram. Bulan Rejab adalah bulan Mudhar (nama satu kabilah) yang terletak di antara Jamadilakhir dan Sya’ban. ( riwayat Imam al-Bukhari, no: 4662)


Oleh itu hendaklah pada bulan Muharram yang mulia ini kita hindarkan diri dari melakukan amalan yang dilarang dan mempertingkatkan amal ibadah yang boleh mendekatkan diri kita kepada Allah S.W.T. terutamanya ibadah puasa. Ini adalah kerana Rasulullah s.a.w. telah bersabda:




أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ.
Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah bulan Allah al-Muharram dan sebaik-baik solat setelah solat fardhu adalah solat malam. (riwayat Imam Muslim, no: 1163.)


Sabda baginda ‘Bulan Allah al-Muharram” menegaskan lagi betapa mulianya bulan Muharram ini. Oleh itu hendaklah kita bersungguh-sungguh untuk berpuasa sebanyak mungkin pada bulan Muharram ini. Namun ini tidak bermakna kita disyari’atkan untuk berpuasa sepanjang bulan Muharram ini kerana Rasulullah s.a.w. hanya berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan sahaja. Aisyah r.a berkata:



كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.
Aku sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah s.a.w menyempurnakan puasa sebulan melainkan di bulan Ramadan dan aku tidak pernah melihatnya lebih banyak berpuasa melainkan pada bulan Sya’ban. (riwayat Imam al-Bukhari, no: 1969.)


Pada bulan Muharram ini juga terdapat hari yang digelar sebagai Asyura iaitu hari di mana Nabi Musa a.s. dan pengikutnya diselamatkan oleh Allah S.W.T. dari tentera Fir’aun.




قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَالْيَهُودُ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ ظَهَرَ فِيهِ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لأَصْحَابِهِ أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصُومُوا.
Nabi s.a.w. datang ke Madinah, dan dilihatnya orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Menurut mereka: Ini hari baik di saat mana Allah membebaskan Nabi Musa dari Fir’aun. Maka sabda Nabi s.a.w.: “Kamu lebih berhak terhadap Musa daripada mereka maka berpuasalah. (riwayat Imam al-Bukhari, no: 4680.)


Melalui hadith di atas ini juga dapat kita fahami bahawa amal ibadah khusus sempena hari Asyura yang diiktiraf oleh Rasulullah s.a.w. adalah ibadah puasa. Disunnahkan juga untuk menambahkan puasa pada hari Asyura tersebut dengan berpuasa sehari sebelum ataupun sehari sesudahnya. Rasulullah s.a.w. memerintahkan hal ini bertujuan untuk menyelisihi amalan orang Yahudi. Rasulullah s.a.w. bersabda:



صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا.
Berpuasalah kalian pada hari Asyura dan berselisihlah dengan orang Yahudi di dalamnya, dan berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.(riwayat Imam Ahmad, no: 2047)
.
Kemunculan bulan Muharram sebagai bulan pertama bagi kalendar umat Islam sentiasa dihiasai dengan beberapa amal ibadah tertentu. Upacara-upacara tersebut bermula pada hari terakhir bulan Dzulhijjah iaitu diambang menjelangnya 1 Muharram. Umat Islam digalakkan untuk berpuasa pada hari terakhir bulan Dzulhijjah dan membaca doa akhir tahun selepas solat Asar. Seterusnya setelah menjelangnya 1 Muharram iaitu selepas solat Maghrib dibaca pula doa awal tahun, bacaan Surah Yassin, zikir-zikir tertentu malah ada juga yang mengerjakan solat sunat sempena 1 Muharram dan berpuasa pada siang harinya.


Sebenarnya kesemua amalan-amalan yang disebutkan di atas atau apa jua amalan sempena tibanya tahun baru hijrah tidak memilki dalil-dalil yang sah daripada Rasulullah s.a.w. bahkan para Imam-Imam mazhab seperti Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad r.h juga tidak pernah mengamalknnya. Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. tidak pernah menyambut kehadiran bulan Muharram atau kedatangan tahun baru dengan upacara yang tertentu. Kalendar Hijrah juga tidak wujud pada zaman Rasulullah kerana ianya hanya diperkenalkan pada zaman pemerintahan ‘Umar al-Khaththab r.a iaitu tujuh tahun setelah baginda wafat. ‘Umar yang memperkenalkan kalendar ini juga tidak pernah melakukan atau menganjurkan upacara terterntu sempena kedatangan tahun baru dan begitu juga para sahabat serta para al-Salafussoleh yang lain.



Adapun hadis-hadis yang dijadikan hujjah oleh golongan yang melakukan amalan tertentu sempena kedatangan tahun baru merupakan hadis-hadis lemah (dha’if) dan palsu (mawdhu’). Antara hadis-hadis tersebut adalah:



Daripada Ibn ‘Abbas, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah s.a.w.: 
Barangsiapa berpuasa pada hari akhir bulan Zulhijjah dan hari pertama di bulan Muharam, maka sesungguhnya dia telah menghabiskan tahun yang lalu dan memulakan tahun baru dengan puasa yang Allah jadikannya sebagai penghapus dosanya lima puluh tahun”. Menurut Ibnul Jauzi di dalam al-Mawdhu’at bahawa hadis ini palsu (maudhu’)



Rasulullah s.a.w. bersabda: Barangsiapa berpuasa sembilan hari dari awal Muharram maka Allah membina untuknya sebuah kubah di udara yang luasnya satu batu persegi dan mempunyai empat buah pintu. Hadis ini adalah palsu (mawdhu’) menurut Ibnul Jauzi di dalam al-Mawdhu’aat dan Imam al-Suyuthi di dalam La’aali al-Mashnu’ah.



Setiap kali di ambang munculnya tahun hijrah yang baru seluruh media serta kebanyakan jabatan-jabatan atau majlis-majlis agama Islam di Malaysia menganjurkan untuk dibacakan bacaan doa akhir tahun dan doa awal tahun. Masjid-masjid diseluruh tanah air juga mengadakan upacara-upacara khas untuk membaca doa-doa awal dan akhir tahun itu. Lafaz doa tersebut adalah sepeti berikut:




Doa Akhir Tahun



Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Penyanyang, segala puji bagi Allah, Tuhan Pentadbir seluruh alam, Semoga Allah cucurkan rahmat dan sejahtera atas junjungan kami Nabi Muhammad s.a.w., serta keluarga dan sahabat-sahabat baginda sekalian. Ya Allah wahai Tuhan kami, perkara-perkara yang telah kami lakukan daripada perbuatan-perbuatan yang Engkau larang dalam tahun ini maka kami belum bertaubat daripadanya padahal Engkau tiada meredhainya dan Engkau memang tiada melupakannya (Tuhan tidak bersifat lupa) dan Engkau berlembut tiada mengazab kami malah memberi peluang supaya kami bertaubat selepas kami menceburkan diri melakukan maksiat itu. Maka kami sekalian memohon keampunan Mu. Ya Allah, ampunilah kami dan mana-mana perbuatan yang telah kami lakukan sepanjang tahun ini yang Engkau redhai dan yang telah Engkau janjikan ganjaran pahalanya. Maka kami mohon diperkenankan akan perbuatan (amal bakti) yang telah kami lakukan itu dan Engkau tidak menghampakan harapan kami. Ya Allah, Tuhan yang Maha Pemurah.


Doa ini hendaklah dibaca 3 kali pada akhirnya waktu Asar hari ke 29 atau 30 daripada bulan Dzulhijjah, maka barangsiapa membaca doa ini daripada waktu yang telah tersebut maka berkatalah syaitan kesusahanlah bagiku dan sia-sialah pekerjaanku pada setahun ini dibinasakan dengan satu saat jua dengan sebab membaca doa-doa ini maka diampuni Allah Ta’ala sekalian dosanya yang setahun ini.




Doa Awal Tahun



Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Penyanyang, segala puji bagi Allah, Tuhan Pentadbir seluruh alam, Semoga Allah cucurkan rahmat dan sejahtera atas penghulu kami Nabi Muhammad s.a.w., serta keluarga dan sahabat-sahabat baginda sekalian. Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang kekal selama-lamanya, sedia ada, tiada permulaan. Kelebihan Mu maha besar dan kemurahan Mu sangat-sangat diharapkan. Tibalah sudah tahun baru, kami mohon kepada Mu agar terpelihara kami sekalian di dalam tahun baru ini daripada tipu daya syaitan-syaitan yang terlaknat juga dari kuncu-kuncunya syaitan dan bala tenteranya. Dan kami mohon daripada Mu akan pertolongan mengalahkan runtunan nafsu amarah (nafsu yang mendorong kepada kejahatan). Kami mohon juga kepada Mu ya Allah akan rasa sedia ingin membuat kerja-kerja kebajikan yang boleh mendampingkan diri kami kepada Mu. Ya Allah Tuhan yang Maha Agung lagi Mulia. Ya Allah Tuhan yang sebaik-baik yang mengurniakan rahmat.

Doa awal tahun iaitu hendaklah dibaca 3 kali setelah solat Maghrib pada malam 1 haribulan Muharram dan barangsiapa membaca ini maka bahawasanya syaitan berkata telah amanlah anak adam ini daripada aku barang yang tinggal dari umurnya pada ini tahun kerana bahawasanya Allah Ta’ala telah mewakilkan dua malaikat memelihara akan dia daripada fitnah syaitan.



Pada hakikatnya kedua-dua lafaz doa ini serta fadhilat yang ditetapkan itu tidak pernah wujud dalam mana-mana kitab-kitab hadis dan tidak ada juga hadis walaupun yang bertaraf lemah (dha’if) mahupun palsu (mawdhu’) yang mengkhabarkan tentangnya. Menurut Syeikh Jamaluddin al-Qasimi r.h doa ini ialah doa yang direka dan tidak berasal daripada Nabi s.a.w. tidak juga berasal daripada para sahabat, tabi’in dan tidak diriwayatkan dalam musnad-musnad sehinggakan ianya tidak wujud dalam kitab maudhu’at (iaitu kitab yang memuatkan hadis-hadis palsu). Doa ini hanya dicipta oleh syeikh jadi-jadian. Dan perkataan “berkatalah syaitan kesusahanlah bagiku dan sia-sialah pekerjaanku pada setahun ini dibinasakan dengan satu saat jua dengan sebab membaca doa-doa ini” merupakan suatu pembohongan yang sangat besar ke atas Allah dan Rasul-Nya.



Tetapi sekiranya sesiapa yang hendak membacanya tanpa beri'tiqad seperti yang ada di dalam fadhilat yang direka tersebut silakan, kerana ia termasuk di dalam keumuman doa, dan perlu diingat tidak ada upacara khas atau dibaca beramai-ramai (untuk membaca doa tersebut).


Hendaklah kita sentiasa berdoa memohon keampunan daripada Allah S.W.T., memohon perlindungan dari hasutan syaitan, memohon perlindungan dari mengerjakan perbuatan maksiat dan memohon agar kita sentiasa terbuka hati untuk mengerjakan amal-amal soleh. Menetapkan doa-doa tertentu, dibaca pada waktu tertentu dengan fadhilat-fadhilat yang tertentu tanpa perintah daripada Allah dan Rasul-Nya merupakan satu perbuatan mencipta hukum syarak yang baru dan perbuatan ini adalah diharamkan. Firman-Nya:


وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dan bahawa sesungguhnya inilah jalan-Ku (agama Islam) yang betul lurus, maka hendaklah kamu menurutnya; dan janganlah kamu menurut menurut jalan-jalan (yang lain dari Islam), kerana jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah, Dengan yang demikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu bertaqwa. –(al-An’aam (6) : 153)

Selanjutnya Allah S.W.T. menegaskan lagi hal ini melalui firman-Nya:


فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah dirimu ke arah agama yang jauh dari kesesatan; (turutlah terus) agama Allah, iaitu agama yang Allah menciptakan manusia (dengan keadaan bersedia dari semulajadinya-fitrah) untuk menerimanya; tidaklah patut ada sebarang perubahan pada ciptaan Allah itu; itulah agama yang betul lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (al-Rum (30) : 30)



Maksud melakukan perubahan terhadap ciptaan Allah dalam ayat di atas adalah mengubah agama Islam seperti menambah-nambah satu upacara ibadah yang tiada sandarannya dari al-Qur’an dan al-Sunnah iaitu dengan mengamalkan amalan bidaah seperti mengkhususkan amalan-amalan yang tertentu sempena kedatangan tahun baru hijrah. Adalah penting bagi kita untuk memastikan kesahihan sesuatu perkara berkaitan dengan amal ibadah sebelum kita mengamalkannya. Ini adalah kerana setiap amal ibadah yang tidak didirikan atas dalil-dalil yang sah maka ianya terbatal. Ini sebagaimana sabda Rasulullah:




مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ.

Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam urusan kami (iaitu di dalam perkara berkaitan agama) apa-apa yang tidak ada padanya, maka tertolaklah ia.” (Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 2697)




مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.
Barangsiapa yang melakukan satu amal yang bukan dari suruhan kami (iaitu di dalam perkara berkaitan agama), maka tertolaklah ia. (Hadis riwayat Imam Muslim, no: 1718)


Sekiranya sesuatu ibadah itu tidak wujud pada zaman Rasulullah s.a.w. seperti ibadah tertentu sempena kedatangan bulan Muharram ini pada hakikatnya ia bukan sebahagian dari agama pada masa itu. Sekira ianya bukan sebahagian dari agama pada zaman Rasulullah s.a.w. maka sehingga kini ibadah itu juga dianggap tidak termasuk sebahagian dari Islam. Imam Malik r.h berkata:



Sesiapa yang membuat bidaah dalam Islam dan menganggapnya baik (hasanah) maka dia telah mendakwa Muhammad s.a.w. mengkhianati risalah. Ini kerana Allah telah berfirman:


الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
Pada hari ini aku telah sempurnakan agama kamu. - al-Maaidah (5) : 3

Apa yang pada hari tersebut bukan sebahagian dari agama, maka ia tidak menjadi sebahagian dari agama pada hari ini. – Diriwayatkan oleh Imam al-Syathibi di dalam al-I’tishom, jilid 1, ms. 49

oleh Ustaz Mohd Yaakub bin Mohd Yunus
Dikemas kini oleh pihak WADi


- Amal Dengan Ilmu -

WADi 

ISLAM BUKAN IKUT DEMOKRASI...YANG RAMAI ITU BETUL....YANG SIKIT ITU SALAH....YANG BETUL BERDASARKAN QURAN DAN HADIS...ISLAM TAK BOLEH TOLAK DAN TAK BOLEH TAMBAH

WALLAHU'ALAM

Tiada ulasan:

Catat Ulasan