Khamis, 16 Julai 2015

MENGAWAL EMOSI NI SANGAT SUSAH....LEBIH2 ORANG TENGAH BEREMOSI..MEMANG TAK MAHU DINASIHAT...DAN TAK MAHU DENGAR CAKAP ORANG SEBAB SYAITAN DAH MASUK....JIKA TAK DAPAT MENGAWAL...TERUK PADAHNYA...BOLEH SESAL SEUMUR HIDUP...EMOSI DAPAT DIKAWAL DENGAN SIFAT MAHMUDAH...MAHMUDAH DAPAT DENGAN BELAJAR/DE ILMU...DAPAT DISERAP SELEPAS DIAMAL DENGAN PENUH KETAKQWAAN SERTA IKHLAS...INSYA ALLAH EMOSI DAPAT DIKAWAL DENGAN BAIK




Emosi... mood.. kne di jaga dgn baik... de juga yg kata perasan... pe pun semua milik Allah... Allah bole anugerah ketenangan dan kegembiraan sentiasa..tiada gundah gelana... keluh kesah... apa saja keadaan... ini ttu org sgt2 hampir dgn Allah swt... kita bagaimana... emosi... perasan satu perkara yg ujud tapi xbole d lihat ain/benda nya...mcm kita lihat pokok... baik pempuan dgn merajuk... menangis dan mgkin sikit2 nk bunuh diri dan berbagai2la... lelaki dgn ego... degil ...baran dll... bahaya hingga boleh jdi ganas... oleh sbb emosi xnampak... cuma kita tahu dlm bdn... kalau d dlm... termasuk darah... d mana syaitan boleh myelinap masuk... ni berdalil surah an nas...jadi pyakit emosi xbole dkawal dan bole kena pd siapa pun xkira umur... status... berilmu atau bodoh... maka kita kena akui... mgkin kita buat kputusan xboleh kawal emosi...mjdi perkara yg xelok... termasuk cerai talak dll... ni yg bahaya... bagaimana kalau terus tertalak 3...maka emosi ni berlaku ssb jahil... sombong kerana status... ilmu yg tinggi dll... ni semua datang dari hasutan iblis.... maka mohonlah perlindungan Allah... ikhlas dlm semua pkerjaan....


Pengertian Emosi


Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak.
Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.
Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995)
Pengertian EmosiDalam kehidupan banyak sekali permasalahan, dalam berita-berita banyak dikabarkan orang masuk bui hanya karena tidak dapat menahan emosi. Pemukulan, adu fisik dan bahkan pembunuhan. Alangkah sayangnnya permasalah itu timbul hanya karena masalah sepele dan emosi yang meluap-luap.
Beberapa kejadian buruk diakibatkan karena emosi, sungguhnya emosi sendiri itu apa? banyak pakar psikologi yang meguraikan emosi itu seperti apa, yaitu :


Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak.
Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.
Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995)
Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta).
Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu :
a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa
c. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri
d. Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat,  dan kemesraan
f. Terkejut : terkesiap, terkejut
g. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
h. malu : malu hati, kesal
Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada.
Dalam the Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. T
etapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2002 : xvi).
Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pengertian Emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.


Pengertian: Kecerdasan Emosional Itu Apa?

Aristoteles: "Marahlah dengan orang yang tepat, dengan kadar yang tepat, pada saat yang tepat, untuk maksud yang tepat, dan dengan cara yang tepat."
Begitulah kecerdasan emosional, suatu kemampuan untuk mencerap, memakai, memahami, dan mengelola emosi.
Anda di sini:  Kecerdasan / Lejitkan Kecerdasan Emosional » Pengertian: Kecerdasan Emosional Itu Apa?
gambar kover buku Psychology: a journey 5e

Kecerdasan Emosional: Seni Pengendalian Diri

Diterjemahkan dari buku kuliah Dennis Coon & John O. Mitterer, Psychology: A Journey, 5th Ed. (Wadsworth, 2014), p. 392-394 | Hak cipta terjemahan Indonesia © 2014 Tiga Idiot
Aristoteles sang filsuf Yunani punya resep untuk menangani hubungan-hubungan [antarmanusia] dengan lancar: "Marahlah dengan orang yang tepat, dengan kadar yang tepat, pada saat yang tepat, untuk maksud yang tepat, dan dengan cara yang tepat." Psikolog Peter Salovey dan John Mayer menyebut pengendalian diri semacam itu kecerdasan emosional, suatu kemampuan untuk mencerap, memakai, memahami, dan mengelola emosi. Pada umumnya, menjadi cerdas secara emosional itu berarti menerima bahwa emosi merupakan bagian mendasar dari siapa kita dan bagaimana kita bertahan hidup. Menjadi terampil secara emosional itu dapat menjadikan kita lebih lentur, mudah menyesuaikan diri, dan dewasa secara emosional.
Orang-orang yang unggul dalam kehidupan cenderung cerdas secara emosional. Jika emosi kita merupakan musik kehidupan, maka orang-orang yang cerdas secara emosional itu merupakan musisi yang hebat. Mereka tidak melumpuhkan emosi mereka. Alih-alih, mereka menggubahnya menjadi irama-irama kehidupan berkelanjutan yang saling bertautan dengan baik dengan orang-orang lain. Mereka lebih mudah sepakat daripada orang-orang dengan keterampilan emosional yang rendah.
Bahkan, ongkos keterampilan emosional yang payah itu bisa tinggi. Ongkosnya berkisar dari masalah perkawinan dan pengasuhan anak sampai kesehatan fisik yang payah. Kurangnya kecerdasan emosional dapat meruntuhkan karir dan menyabotase prestasi. Barangkali yang paling terpengaruh ialah anak-anak dan remaja. Bagi mereka, memiliki keterampilan emosional yang payah itu dapat turut menyebabkan depresi, kelainan makan, kehamilan yang tak diinginkan, agresi, kejahatan dengan kekerasan, dan prestasi akademik yang jelek. Jadi, di banyak situasi kehidupan, kecerdasan emosional itu sepenting IQ.
Adakah keterampilan tertentu yang menjadi penyusun kecerdasan emosional? Banyak unsur berkontribusi terhadap kecerdasan emosional. Berikut ini paparan sebagian dari keterampilan-keterampilan terpentingnya:

Mencerap Emosi

Pondasi kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mencerap emosi diri Anda sendiri dan emosi orang-orang lain. Tidak seperti orang-orang yang kehilangan kemampuan untuk membaca, orang-orang yang cerdas secara emosional itu menyimak perasaan mereka sendiri. Mereka mampu mengenali dengan cepat kalau-kalau mereka marah, dengki, merasa bersalah, atau pun merasa depresi. Ini berharga karena banyak orang memiliki emosi yang terpecah-belah tanpa mampu menunjukkan mengapa mereka merasa tidak nyaman. Pada saat yang sama, orang-orang yang cerdas secara emosional itu memiliki empati. Mereka secara akurat mencerap emosi orang-orang lain dan mengerti apa yang mereka rasakan. Mereka lihati "membaca" ekspresi wajah, nada suara, dan tanda-tanda emosi lainnya.

Memakai Emosi

Orang-orang yang cerdas secara emosional itu memakai perasaan mereka untuk meningkatkan pemikiran dan pengambilan keputusan. Contohnya, kalau Anda dapat mengingat bagaimana Anda bereaksi secara emosional pada masa lalu, ini dapat membantu Anda bereaksi dengan lebih baik terhadap situasi-situasi baru. Anda dapat pula memakai emosi untuk mendorong pengembangan pribadi dan mengembangkan hubungan dengan orang-orang lain. Sebagai misal, bisa Anda perhatikan bahwa menolong orang lain menjadikan Anda merasa lebih baik juga. Secara demikian, bila keberuntungan menghampiri mereka, orang-orang yang cerdas secara emosional itu berbagi kabar dengan orang-orang lain. Melakukan itu hampir selalu memperkuat hubungan dan meningkatkan kebugaran emosional.

Memahami Emosi

Emosi mengandung informasi yang berfaedah. Misalnya, kemarahan merupakan isyarat bahwa sesuatu keliru; kecemasan menunjukkan ketidakpastian; depresi berarti kita merasa tak berdaya; antusiasme kita memberitahu bahwa kita bergairah. Orang-orang yang cerdas secara emosional itu tahu apa yang menyebabkan berbagai emosi, apa maknanya, dan bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku.

Mengelola Emosi

Kecerdasan emosional meliputi suatu kemampuan untuk mengelola emosi Anda sendiri dan emosi orang-orang lain. Contohnya, Anda tahu bagaimana menenangkan diri ketika Anda marah dan Anda juga tahu bagaimana menenangkan orang lain. Sebagaimana telah diperhatikan oleh Aristoteles sejak dahulu kala, orang-orang yang cerdas secara emosional itu memiliki kemampuan untuk menguatkan atau pun melemahkan emosi-emosi, tergantung pada situasinya.

Menjadi Cerdas secara Emosional

Pilihan-pilihan yang tepat dalam kehidupan seringkali hanya bisa ditentukan dengan mempertimbangkan nilai-nilai, kebutuhan-kebutuhan, dan emosi-emosi pribadi. Penentuan pilihan secara terlalu rasional dapat menghasilkan putusan-putusan yang masuk akal, tetapi hampa secara emosional. Singkatnya, kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk secara sadar menjadikan emosi-emosi itu bekerja untuk Anda.
Ada banyak pelajaran berharga yang perlu dipelajari dari menaruh perhatian sedekat-dekatnya pada emosi Anda dan emosi orang lain. Tidak mengherankan, banyak orang mengagumi selebritis yang bukan hanya cerdas melainkan juga cerdas secara emosional. (Aktris drama Korea?)
gambaran kecerdasan emosional dalam drama Korea, 49 Days
Mereka itu orang-orang yang tahu bagaimana menawarkan tos sewaktu makan-minum bersama di resepsi pernikahan, bersenda-gurau di warung tegal, menghibur tuanrumah yang berduka sewaktu melayat, menyelipkan gairah untuk memeriahkan pesta, atau pun menenangkan anak yang ketakutan. Keterampilan-keterampilan begini layak dibudidayakan.

Manusia Seutuhnya

Ada kecenderungan alamiah untuk menyambut emosi-emosi positif (seperti kenikmatan), tetapi memperlakukan emosi-emosi negatif (seperti kemarahan) sebagai malapetaka yang perlu dicampakkan. Namun ingat-ingatlah, emosi negatif merupakan bagian dari manusia seutuhnya. Emosi negatif itu juga bisa berharga dan konstruktif. Emosi negatif itu cenderung mempersempit fokus perhatian pada tindakan-tindakan yang membantu para leluhur kita untuk bertahan hidup: melarikan diri, menyerang, membuang racun, dan sebagainya. Secara demikian, kepedihan yang berlangsung lama dapat mendorong orang untuk mencari bantuan, memperbaiki hubungan, atau pun menemukan arah baru dalam kehidupan.
Sebaliknya, emosi positif bukanlah sekadar efek samping yang menyenangkan dari keadaan-keadaan bahagia; emosi positif itu cenderung memperluas fokus perhatian kita. Sebagai misal, emosi-emosi seperti kenikmatan, minat, dan kepuasan-hati menciptakan dorongan untuk bermain, kreatif, merambah, menyelamatkan kehidupan, mencari pengalaman baru, melakukan integrasi, dan mengembangkan diri. Ini semua membuka kemungkinan-kemungkinan baru dan mendorong pengembangan diri dan peluasan jaringan sosial.
Kebahagiaan dapat dibudidayakan dengan menggunakan kekuatan-kekuatan yang sudah kita punyai--termasuk keramahan, orisinalitas, humor, optimisme, dan kemurahan-hati. Kekuatan semacam itu merupakan benteng alamiah terhadap kesialan. Kekuatan semacam itu dapat pula turut menjadikan orang menjalani hidup dengan lebih positif, kehidupan yang sungguh-sungguh bahagia. Kapasitas untuk memiliki emosi-emosi positif itu merupakan kekuatas-dasar manusia, dan membudidayakan perasaan yang baik itu merupakan bagian dari kecerdasan emosional.


Apakah arti emosi?

Achmanto Mendatu
.
"Ayolah, jangan emosi dong!", kata Rina pada Roni saat Roni dikibuli. Pada percakapan itu, kentara sekali bahwa yang dimaksud emosi adalah marah. ‘Jangan emosi’ sama artinya dengan ‘jangan marah’. Begitulah yang umumnya dimengerti. Emosi adalah marah. Sebaliknya, marah adalah emosi. Kerap sekali, dalam kehidupan sehari-hari, secara bergantian, kata marah dan emosi digunakan untuk hal yang sama. "Dina lagi emosi tuh!" (artinya Dina sedang marah).

Tentu saja emosi bukan hanya marah. Ada banyak macam-macam emosi yang lain, seperti sedih, takut, jijik, sedih dan terkejut. Setiap budaya melakukan kategorisasi berbeda berdasarkan kosakata emosi yang dimiliki dalam bahasanya. Orang Amerika Serikat yang memakai bahasa inggris, membedakan sekurangnya 213 jenis kata emosi, sedangkan dalam bahasa Indonesia terdapat 229 kata emosi. Jadi, tidak sedikit seperti yang disangka umumnya orang.

Dari mana kata emosi berasal? Kata emosi adalah kata serapan dari bahasa inggris, yakni ‘emotion’. Dalam kamus, kata ‘emotion’ digunakan untuk menggambarkan perasaan yang kuat akan sesuatu dan perasaan yang sangat menyenangkan atau sangat mengganggu. Misalnya Anda merasakan perasaan yang kuat dan menyenangkan saat bersama seseorang, mungkin Anda menganggap diri Anda sedang dalam keadaan emosi. Jenisnya, emosi cinta.

Bagaimana arti emosi secara ilmiah? Psikologi adalah cabang ilmu yang paling intensif dan ekstensif dalam melakukan penelitian mengenai emosi. Namun, diantara para penelitinya yang paling brilian sekalipun, tidak terdapat kesamaan pendapat mengenai arti emosi. Terdapat sekurang-kurangnya 92 definisi emosi yang berbeda. Hal ini menjelaskan bahwa emosi merupakan fenomena yang sangat kompleks. Namun demikian, semuanya tetap ada benang merahnya. Nah, ada lima benang merah diantara definisi emosi, yakni emosi dipicu oleh interpretasi seseorang terhadap suatu kejadian, adanya reaksi fisiologis yang kuat, ekspresi emosionalnya berdasarkan pada mekanisme genetika, merupakan informasi dari satu orang ke yang lainnya, dan membantu seseorang beradaptasi terhadap perubahan situasi lingkungan.

Emosi dipicu oleh interpretasi terhadap suatu kejadian. Proses emosi dimulai ketika Anda memberikan makna secara pribadi terhadap beberapa kejadian anteseden. Situasi yang sama belum tentu akan menghasilkan emosi yang sama karena tergantung pemaknaan terhadap situasi tersebut. Misalnya teman Anda menipu Anda. Jika Anda menilainya hal biasa, maka mungkin Anda tidak mengalami emosi. Tapi jika Anda menilainya melanggar nilai-nilai perkawanan dan merugikan Anda, maka mulailah Anda kecewa terhadapnya.

Reaksi fisiologis yang kuat. Emosi muncul disertai adanya reaksi fisiologis yang cukup untuk membuat Anda menyadari adanya perbedaan dalam diri Anda. Misalnya detak jantung meningkat cepat, tangan gemetar, ingin kabur, dan sebagainya.

Ekspresi emosionalnya berdasarkan pada mekanisme genetika. Artinya, semua orang memiliki kemiripan dalam mengekspresikan emosi. Ekspresi wajah sedih pada orang Skandinavia, sangat mirip dengan ekspresi wajah sedih pada orang Papua. Demikian juga ekspresi wajah bahagia orang Arab, mirip dengan ekspresi bahagia orang Jawa.

Emosi merupakan informasi dari satu orang ke yang lainnya. Melalui emosi, seseorang menyampaikan maksud pada orang lain. Takut yang dialami seseorang sebagai informasi bahwa ia tidak mau melakukan sesuatu. Marah yang dialami merupakan informasi bahwa ia tidak suka diperlakukan seperti perlakuan yang sudah diterimanya. Pendek kata, melalui emosi kita tahu apa yang telah terjadi.

Emosi membantu adaptasi terhadap perubahan situasi lingkungan. Bayangkan jika manusia tidak merasa takut terjun ke dalam jurang. Maka, mungkin kematian manusia adalah hal yang biasa terjadi. Karena adanya takut, maka manusia berupaya menyiasati adanya jurang, mungkin membuat jembatan, membuat pagar pembatas, atau menjauhinya.

Kemunculan emosi biasanya spontan, tidak disadari dan tanpa diniatkan. Tiba-tiba saja Anda mengalami emosi tertentu. Anda baru sadar mengalami sebuah emosi setelah emosi itu Anda alami. Misalnya Anda bertemu orang asing, maka spontan saja Anda mengalami emosi. Anda tidak akan bisa meniatkan untuk mengalami emosi tertentu. Anda tidak bisa berniat untuk takut saat pergi ke hutan. Nah sampai di sini bisakah Anda menyimpulkan apa yang dimaksud dengan emosi?

 Apakah itu emosi (perasaan) spiritual (bhāv)?
 what is spiritual emotion
Dalam kehidupan kita sehari-hari, saat melakukan setiap tindakan, kita selalu berada dalam kesadaran akan diri kita sendiri karena hal itu tertanam secara mendalam di dalam diri kita. Kesadaran akan diri kita sendiri ini tertanam melalui ke 5 panca indera, pikiran dan intelek (akal budi) kita. Dengan demikian, semua peristiwa terjadi atau dialami sehubungan dengan kesadaran akan diri tersebut. Dalam istilah spiritual, kami menyebut kesadaran/ eksistensi ini sebagai ‘aku’ kecil. Di sisi lain, kami menyebut Jiwa (Roh/ Atma) atau Tuhan di dalam kita sebagai ‘Aku’ besar.
The soul
Ketika kita memulai untuk melakukan praktik spiritual, kita mulai merasakan suatu kuasa/ kekuatan yang lebih tinggi, yaitu Tuhan YME yang bekerja di dalam hidup kita. Sewaktu kita maju secara spiritual, terdapat peningkatan dalam kesadaran ini akan Tuhan di dalam kehidupan kita dan juga di sekitar kita. Dengan sendirinya juga terjadi pengurangan fokus pada eksistensi diri kita atau ‘aku’ kecil.
Emosi/ perasaan spiritual adalah menggantikan ‘aku’ kecil dalam kehidupan seseorang dengan kesadaran akan keberadaan Tuhan YME atau Guru (Prinsip pengajar dari Tuhan YME) dengan intensitas yang seimbang. Suatu kesadaran yang intensif/ kuat akan keberadaan Tuhan atau Guru dalam wujud apapun ketika melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari yang berdasarkan pada perasaan ini dan juga mengalami kehidupan berdasarkan atas latar belakang ini, disebut sebagai emosi spirtual (bhāv) kepada Tuhan atau Guru.
Ketika seseorang berada dalam keadaan dari emosi spiritual, Pikiran bawah sadarnya menyatu dengan Tuhan untuk saat itu. Pikiran dan Intelek nya mundur ke belakang dan orang tersebut dapat mengalami persekutuan yang lebih besar dengan Tuhan. Oleh karena itu, dalam keadaan ini orang tersebut tidak memiliki pemikiran atau keraguan tentang spiritualitas atau Tuhan YME.
Emosi spiritual adalah suatu keadaan yang dialami dalam Jalan Pengabdian/ Devosi (Bhaktiyoga) dan Jalan Rahmat Karunia Guru (Gurukrupāyoga).
Berikut ini adalah gambar yang diperoleh melalui pengetahuan Semesta yang menunjukkan seseorang dengan emosi/ perasaan spiritual (bhāv). Sketsa ini digambar oleh pencari SSRF dengan indera keenam penglihatannya yang mendalam.
Spiritual emotion (bhaav)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan