Khamis, 14 Mei 2015

KEMEWAHAN..GAJI YANG BESAR...HARTA YANG MENIMBUN...LAKI BINI BEKERJA..HIDUP SENANG LENANG HINGGA LUPA MATI....LUPA AKHIRAT...LUPA MENCARI BEKAL AKHIRAT ...SANGKA MATI LAMBAT LAGI....NI SEMUA TIPU DAYA IBLIS BHG 5






























Apa yang dimaksud dengan Ikhtilath dan Hijab Syar’i


sigitAssalamu’alaikum Wr.Wb.
Ustadz yang dirahmati Allah, saya ingin bertanya tentang apa yang dimaksud dengan ikhtilath dan hijab syar’i?
Lalu bila kami mengadakan ta’lim yang diikuti muslimin dan muslimah apa harus dibatasi dengan kain?
Apakah boleh bila dibatasi dengan pembatas yang ada celah-celahnya?
JazakAllah Ustadz, atas jawabannya
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Waalaikumussalam Wr Wb
Perihal ikhtilath atau percampuran antara kaum pria dan wanita didalam suatu kesempatan seringkali kita dapati di masyarakat dan berbagai pendapat pun bermunculan didalam permasalahan ini dari yang sama sekali tidak memperbolehkannya secara mutlak hingga yang membolehkannya juga secara mutlak.
Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan bahwa pada zaman Rasulullah saw dan para Khulafaur Rasyidin tampak kaum wanita melakukan sholat berjama’ah dan jum’at di Masjid Rasul saw. Beliau saw juga menganjurkan mereka agar mencari shaff di bagian akhir di belakang kaum pria. Setiap shaff yang lebih dekat dengan bagian terakhir adalah lebih utama dikarenakan khawatir akan tampak aurat kaum pria terlebih lagi kebanyakan mereka tidak menggunakan celana panjang.. dan tidak ada pembatas antara kaum pria dan wanita baik pembatas yang terbuat dari kayu, kain atau yang lainnya.
Pada awalnya kaum pria dan wanita masuk dari pintu mana saja yang disepakati bagi mereka sehingga tampak padat saat memasuki dan keluar dari masjid. Rasulullah saw bersabda,”Seandainya saja kalian menjadikan satu pintu bagi kaum wanita.” Kemudian mereka pun mengkhususkan satu pintu bagi kaum wanita setelah itu yang saat ini dikenal dengan nama “Pintu Wanita”
Kaum wanita pada masa Nabi saw juga menghadiri sholat jum’at, mendengarkan khutbah sehingga salah satu dari mereka berhasil menghafalkan surat Qaff dari lisan Rasulullah saw dikarenakan sering mendengarnya dari atas mimbar jum’at.
Kaum wanita juga menghadiri sholat dua hari raya, pertemuan-pertemuan besar islami yang mengumpulkan orang-orang dewasa dan anak-anak, kaum pria dan wanita di suatu tanah lapang sambil bertahlil dan bertakbir. Diriwayatkan oleh Muslim dari Ummu ‘Athiyah berkata,”Kami diperintahkan untuk keluar pada waktu dua hari raya, dengan menutup aurat dan juga para perawannya.”..
Dahulu kaum wanitanya juga menghadiri berbagai pengajaran bersama dengan kaum pria. Mereka bertanya tentang berbagai permasalahan agama yang sering dirasakan malu oleh kebanyakan wanita pada hari ini sehingga Aisyah pernah memuji para wanita Anshor bahwa mereka tidak dihalangi oleh rasa malu untuk mengetahui perihal agama mereka, seperti tentang junub, bermimpi, mandi, haidh, istihadhoh dan lain-lain.
Mereka merasa belum cukup mendapatkan pengajaran bersama kaum laki-laki dalam berdialog dengan Rasulullah saw, untuk itu mereka meminta agar beliau menyediakan waktu (hari) khsusus bagi mereka yang tidak didominasi dan bersama-sama kaum pria. Mereka mengatakan secara terang-terangan,”Wahai Rasulullah kami telah dikalahkan oleh kaum laki-laki saat bersamamu maka jadikanlah bagi kami satu hari dari dirimu.” (HR. Bukhori)
Kaum wanita pernah ikut serta dalam peperangan membantu para tentara dan mujahidin dalam hal-hal yang mereka sanggupi dan pada posisi yang tetap baik bagi mereka, seperti memberikan perawatan, pengobatan, menjaga mereka yang terluka disamping bantuan-bantuan lainnya seperti menyediakan konsumsi dan berbagai peralatan yang dibutuhkan oleh para mujahidin.
Dari Ummu ‘Athiyah berkata,”Aku pernah berperang bersama Rasulullah saw sebanyak tujuh kali peperangan. Aku berada di bagian belakang saat berjalan, aku mempersiapkan makanan bagi mereka, mengobati yang terluka dan membantu yang sakit.” (HR. Muslim)
Bahkan pernah para wanita (sahabat) ikut serta didalam berbagai peperangan dan pertempuran islam dengan membawa senjata saat ada kesempatan bagi mereka. Seperti apa yang dilakukan ‘Amaroh Nusaibah binti Ka’ab pada peperangan Uhud sehingga Rasulullah saw mengatakan tentangnya,”Posisinya lebih baik dari posisi fulan dan fulan.” Demikian juga apa yang dilakukan Ummu Sulaim yang memegang sebilah pisau yang akan ditusukan terhadap musuh manakala ia mencoba mendekatinya pada saat perang Hunain.
Kaum wanita pun berpartisipasi didalam kehidupan sosial sebagai seorang da’i yang mengajak kepada kebaikan, menyeru yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, sebagaimana firman Allah swt :
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ
Artinya : “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar.” (QS. At Taubah : 71)
Ada suatu peristiwa yang sudah masyhur saat seorang wanita muslimah menentang Umar di masjid tentang permasalahan mahar sehingga beliau ra mengambil pendapat wanita tersebut dengan mengatakan,”Wanita ini benar dan Umar salah.” Dan peristiwa ini disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsir surat An Nisaa serta mengatakan bahwa sanadnya baik. Umar juga pernah menunjuk Syifa binti Abdullah al Adawiyah sebagai bendahara pasar.
Jadi pertemuan antara kaum pria dan wanita tidaklah diharamkan bahkan dibolehkan dan menjadi tuntutan selama untuk tujuan yang mulia, berupa mencari ilmu yang bermanfaat, amal sholeh, proyek kebaikan, jihad yang wajib atau yang lainnya selama didalam hal itu membutuhkan kerjasama diantara dua jenis tersebut didalam perencanaan, pengarahan dan pengimplementasian.
Namun bukan berarti bahwa hal itu melenyapkan batasan-batasan diantara kedua jenis tersebut serta melupakan rambu-rambu syari’ah pada setiap pertemuan diantara mereka… Diantara rambu-rambunya adalah :
1. Berkomitmen untuk senantiasa menjaga pandangan dari kedua belah pihak. Tidak melihat aurat, tidak memandangnya dengan syahwat, tidak melamakan pandangan tanpa suatu keperluan, firman Allah swt :
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
Artinya : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An Nuur : 30 – 31)
2. Para wanitanya berkomitmen dengan pakaian yang sesuai syari’ah (hijab syar’i) serta menjaga malu. Pakaian yang menutup seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan, tidak transparan dan tidak ketat..
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
Artinya : “Dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya.” (QS. An Nuur : 31)
3. Komitmen dengan adab-adab islam khususnya dalam bermuamalah dengan kaum pria :
a. Dalam berbicara hendaknya menghindari perkataan-perkataan yang mengarah kepada godaan atau rangsangan, firman Allah swt :
فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا
Artinya : “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah Perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab : 32)
b. Dalam berjalan, sebagaimana firman Allah swt :
وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ
Artinya : “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nuur : 24)
فَجَاءتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاء
Artinya : “kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan.” (QS. Al Qoshosh : 25)
c. Dalam bergerak; tidak berlenggak-lenggok seperti wanita-wanita yang disebutkan didalam hadits,”Wanita-wanita yang berlenggak-lenggok kesana kemari.” Serta menghindari dari berhias seperti hiasan wanita-wanita jahiliyah pertama atau pun terakhir.
4. Menghindari segala sesuatu yang dapat menggoda atau merangsang seperti minyak wangi, warna-warna perhiasan yang seharusnya digunakan di rumahnya bukan di jalan atau di tempat pertemuan dengan kaum pria.
5. Berhati-hati untuk tidak terjadi kholwat (berdua-duaan) antara pria dan wanita yang tidak ada mahramnya, sebagaimana larangan didalam hadits-hadits tentang itu, seperti : “Sesungguhnya yang ketiganya adalah setan.” Jadi tidak boleh adanya kholwat diantara ‘api’ dan ‘kayu bakar’ Terlebih lagi apabila kholwat terjadi dengan kaum kerabat daru suami.
6. Hendaklah pertemuan tersebut untuk sesuatu keperluan yang mengharuskan adanya kerja sama (diantara kaum pria dan wanita) tanpa berlebih-lebihan atau terlalu melapangkan wanita keluar dari fitrah kewanitaannya, menjadikannya sebagai bahan pembicaraan orang, menghambatnya dari kewajibannya yang mulia berupa mengurus rumah tangga dan mendidik generasi (anak-anak). (www.qaradawi.net)
Adapun tentang pembatas yang membatasi antara kaum pria dan wanita dengan menggunakan kain, kayu dan lainnya bukanlah menjadi suatu kewajiban. Yang demikian dikarenakan bahwa pada masa Rasulullah saw dan para sahabat tidak ditemukan hal seperti itu. Akan tetapi mereka tetap bisa menjaga diri untuk tidak terjadi kholwat antara orang yang menyampaikan pengajaran dengan kaum wanita yang mendengarkannya.
Akan tetapi apabila dikhawatirkan terjadi fitnah antara para peserta pria dan wanita didalam pertemuan-pertemuan besar seperti pernikahan, tabligh bulanan, rapat umum di tempat yang luas atau yang lainnya dan juga apabila kaum wanitanya ditempatkan bersebelahan dengan tempat duduk khusus kaum prianya maka menggunakan pembatas diantara mereka adalah lebih baik dan lebih utama.
Wallahu A’lam
Ustadz Sigit Pranowo,Lc

TUGAS SEBENAR PARA ISTERI

Aku biasa menerima email dari rakan-rakan tentang berbagai perkara. Antara yang menarik perhatian ku ialah perbincangan tentang tanggungjawab isteri. Macam-macam ulasan yang dibuat teman-teman tentang itu. Ada yang kata isteri tidak wajib masak untuk suami dan ada yang kata isteri wajib masak untuk suami. Aku senyum membacanya kerana aku pun dulu macam tu juga. Cakap bab hukum pakai akal dan rasa serta emosi. Bukan cakap guna wahyu dan hadis serta ijmak ulama. Ahhh… aku tersenyum lagi bila mengenangkan aku terlalu emosi dalam bab tanggungjawab isteri ini.

Apabila aku belajar dan mendalami tentang hakikat tanggungjawab isteri ini, barulah aku faham dan sedar serta insaf bahawa bukan masalah masak atau basuh kain itu yang utama. Hukum kata wajib bagi isteri melayan suami dan kehendaknya selagi tidak bertentangan dengan hukum syarak. Itulah kata kuncinya. Kalau suami suruh masak ikan masin campur terung. Maka wajib bagi isteri buat kerana perintah suami itu bukan menyalahi hukum syarak. Ia satu permintaan yang baik. Jadi wajib itu bukan sebab masak. Wajib itu dengan sebab melayan kehendak suami. Ahhhh.. begitu mudah ye Islam ini. Tak perlu gaduh-gaduh dalam soal ini. Sebab itu rumahtangga orang yang faham hukum agama adalah bahagia. Kerana mereka tahu apa yang perlu mereka buat. Suami tahu kewajipan dia apa. Isteri pun tahu kewajipan dia apa. Malah kedua-duanya pun tahu kewajipan bersama.

Kepada para isteri yang membaca nukilan ini, kembalilah berpegang ajaran agama. Suami yang tidak menjalankan tugasnya nanti mati kena siksa dan masuk neraka. Allah akan balas mereka. Begitu juga dengan isteri yang tidak menjalankan tugasnya, mati nanti akan disiksa, di akhirat masuk neraka. Jangan jadi seperti kebanyakkan isteri bila suami dia tidak menjalankan tugas dengan baik sebagai suami, maka dia pun tidak menjalankan tugas dengan baik sebagai isteri. Logiknya kalau suami masuk neraka , isteri pun masuk neraka. Ahhh…. Kan bodoh namanya itu. Lantaran itu jalankan apa saja . perkara yang termasuk dalam kategori melayan suami. Mudahan kamu semua wahai para isteri masuk syurga seperti Asiah isteri firaun. Walaupun suaminya jahat tapi isteri nya baik . Allah masukkan Asiah itu dalam syurga.
Nah … aku tuliskan buat tatapan mu wahai para isteri tentang tanggung jawab seorang isteri menurut cara Islam
1. Mentaati perintah suami kecuali dalam perkara yang haram seperti suami mengajak ke majlis tari menari.
2. Memberi layanan baik kepada suami - mesra dan bijak mengambil hati suami
3. Memelihara kehormatan diri (Menjaga maruah dengan menjauhi perkara yang boleh menimbulkan fitnah, Wajib menjaga akhlak dan aurat pada setiap masa, Haram menceritakan keaiban suami kepada orang lain)
4. Menjaga harta suami - Bijak merancang perbelanjaan keluarga
5. Tinggal di rumah suami - duduk rumah suami mengikut kemampuan suami

Wahai sekelian para isteri, yakin lah kamu bahawa jika kamu mengamalkan sepenuhnya lima perkara di atas, syurga bagi mu dan kamu akan masuk ke dalamnya lebih awal dari suami kamu. Oleh itu jangan abaikan persoalan ini dan ikutlah perintah agama walaupun perintah itu bertentangan dengan kehendak kamu. Pasti disana ada berkat dan redho Allah. Itulah bekalan kamu nanti. Ku doakan semoga aku dan kamu semua mendapat apa yang kita impi-impikan iaitu isteri solehah. Amin..

Suami tak boleh paksa isteri keluar kerja

January 21st, 2013 | 7:48 pm | Perkahwinan
zahar
Memetik artikel Pengerusi Himpunan Ustaz dan Pendakwah Dr Zaharuddin Abdul Rahman menerusi www.zaharuddin.net bertajuk Hukum Wanita Bekerja Dengan Keputusan Fiqh Dunia menyatakan Islam membenarkan isteri bekerja tetapi semua kebenaran tadi adalah diikat dengan syarat-syaratnya.
Keharusan ini termasuk dalam umum sebagai firman ALLAH SWT yang bermaksud: “Bagi lelaki bahagian yang ia usahakan dan bagi wanita bahagian yang ia usahakan.” (Suran An Nisa’ : 32)
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud, “Tiada seorang pun yang makan lebih baik dari orang yang makan hasil dari tangannya sendiri” (Riwayat, Al-Bukhari, no 1966, Fath Al-bari, 4/306).



Justeru, bekerja dan mencari nafkah adalah wajib bagi lelaki yang tiada sebarang keuzuran tubuh dan akal bagi menanggung isteri dan keluarganya.
Manakala wanita pada asasnya, hukum Islam meletakkannya untuk berperanan di rumah dan keluarga bagaimanapun wanita tidak dilarang bekerja di luar rumah jika terdapat keperluan serta mampu menepati syarat-syarat yang ditetapkan Islam. Isu ini tidak dibincangkan meluas di zaman Nabi atau sahabat kerana terlalu kurang keperluan untuk itu pada zaman tersebut (Nizam Al-Usrah, Dr Uqlah Al-Ibrahim, 2/280).
Isteri mempunyai kelayakan sepenuhnya dan hak harta yang tersendiri. Menurut hukum Syariah, isteri mempunyai hak penuh (harta) yang diusahakan, sama ada untuk menggunakannya, memiliki sesuatu, membelanjakannya sementara suami tidak punyai sebarang berkuasa ke atas harta isterinya itu.
Isteri juga tidak perlu mendapat izin suami dalam pemilikan hartanya itu dan cara belanjakannya. Selain itu, tanggungjawab asas seorang isteri mengurus keluarga, mendidik anak dan memberi sepenuh perhatian terhadap generasi masa depan itu.
Ketika perlu, isteri berhak bekerja dalam bidang yang bersesuaian dengan tabiat dan kemahirannya menurut yang diiktiraf syarak dengan syarat menjaga hukum agama.
Kewajipan suami memberi nafkah kepada isteri yang bekerja tidak gugur menurut Islam, selagi mana tidak berlaku ketika keluarnya isteri tersebut untuk bekerja menyebabkan berlakunya isteri ‘nusyuz’, tatkala itu gugur kewajipan suami memberi nafkah kepada isterinya yang nusyuz.
Menyentuh soal isteri turut serta membiayai perbelanjaan keluarga, menurut pandangan Islam, isteri tidak wajib berkongsi peranan membiayai nafkah yang diwajibkan ke atas suami. Suami juga tidak harus mewajibkan isteri membantunya (dengan bekerja).
Kerelaan isteri untuk turut berperanan membantu perbelanjaan keluarga adalah dibenarkan menurut pandangan syarak. Diharuskan untuk membuat persefahaman dan persepakatan antara suami dan isteri akan cara pengurusan pendapatan mereka termasuk pendapatan yang diperoleh oleh isteri.
Isteri dibenarkan untuk meletakkan syarat pada akad perkahwinannya bahawa ia hendaklah dibenarkan bekerja, apabila suami reda dengan syarat itu, ia menjadi kemestian baginya untuk membenarkan (setelah kahwin). Syarat itu hendaklah dinyatakan secara jelas ketika akad.
Suami pula harus meminta isteri meninggalkan kerjayanya walaupun sebelum ini ia membenarkannya, iaitu sekiranya meninggalkan pekerjaan itu dibuat atas tujuan kepentingan keluarga dan anak-anak.
Tidak harus, pada pandangan syarak, suami menjadikan keizinannya kepada isteri bekerja dengan syarat isteri hendaklah membantu perbelanjaan keluarga yang diwajibkan ke atas suami, mahupun mensyaratkan isteri memberi sebahagian daripada pendapatannya kepada suami. Suami tidak boleh memaksa isteri untuk keluar bekerja.
Sinar

Hukum Wanita Bekerja Dengan Keputusan Fiqh Dunia

Hukum Wanita Kerjaya Beserta
Keputusan Majlis Fiqh Dunia
Oleh
Zaharuddin Abd Rahman
Islam membenarkan isteri bekerja tetapi semua kebenaran tadi adalah diikat dengan syarat-syaratnya. 
Keharusan ini termasuk dalam umum ayat Allah SWT iaitu :-
للرجال نصيب مما اكتسبوا وللنساء نصيب مما اكتسبن
Ertinya : "Bagi lelaki bahagian yang ia usahakan dan bagi wanita bahagian yang ia usahakan" ( An-Nisa : 32 )
Nabi SAW pula telah menyebutkan bahawa :-
ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده
Ertinya : "Tiada seorang pun yang makan lebih baik dari orang yang makan hasil dari tangannya sendiri" ( Riwayat, Al-Bukhari, no 1966, Fath Al-bari, 4/306)
Disebut juga dalam sebuah hadith dhoif :
من بات كالاًّ من عمل يده بات مغفورًا له
Ertinya : Sesiapa yang tidur dengan keletihan dari kerja tangannya sendiri, ia tidur dalam keadaan diampunkan oleh Allah SWT" ( Riwayat Ibn 'Asakir & At-Tabrani ; Al-Haithami dalam Majma Az-Zawaid : Ramai perawinya tidak aku kenali )
Justeru, bekerja dan mencari nafqah adalah wajib bagi lelaki yang tiada sebarang keuzuran tubuh dan aqal bagi menanggung isteri dan keluarganya manakala wanita pada asasnya, hukum Islam meletakkannya untuk berperanan di rumah dan keluarga bagaimanapun wanita tidak dilarang bekerja di luar rumah jika terdapat keperluan serta mampu menepati syarat-syarat yang ditetapkan Islam. Isu ini tidak dibincangkan meluas di zaman Nabi atau sahabat kerana terlalu kurang keperluan untuk itu pada zaman tersebut ( Nizam Al-Usrah, Dr Uqlah Al-Ibrahim, 2/280)
mesejSejarah Wanita Bekerja di Zaman Nabi
Kebanyakan wanita di zaman Nabi dahulu tidak bekerja di luar rumah dan hanya bekerja di sekitar rumahnya sahaja. Cuma sebahagian waniat islam adakalanya bertugas di luar rumah sekali sekala berdasarkan keperluan.
Ummu Atiyah sebagai contoh yang bertugas menguruskan jenazah wanita Islam di Madinah, merawati lelaki yang cedera di medan peperangan disamping itu menyediakan makanan buat pejuang-pejuang Islam.
Termasuk juga adalah Rufaydah Al-Aslamiyyah, yang merupakan doktor wanita Islam pertama yang mana Nabi SAW menyediakan sebuah khemah khas di masjid Nabi untuk tujuan rawatan bagi pejuang Islam yang cedera ketika peperangan 'Khandaq'.
Demikian juga Ar-Rabaiyyi` bint Mu`awwiz and Umm Sulaim yang bertugas di luar rumah untuk memberi minuman dan makanan kepada pejuang. Ash-Shifa' binti `Abdullah pula pernah bertugas sebagai guru yang mengajar wanita-wanita islam membaca dan menulis di ketika baginda nabi Muhammad SAW masih hidup.
Umm Mihjan pula bertugas sebagai pembantu membersihkan masjid nabi sehingga ketika ia meninggal dunia, nabi tercari-carinya dan diberitahu kemudiannya, ia telah meninggal dunia. Sebagai penghormatan, baginda Nabi SAW pergi di kuburnya lalu menunaikan solat jenazah buatnya.
Selain itu, Khalifah `Umar ibn Al-Khattab juga pernah melantik wanita bernama Ash-Shifa' untuk menjalankan tugas al-hisbah atau 'Shariah auditor' di pasar di ketika itu bagi memastikan ia dijalankan menepati Shariah.
Semua ini menunjukkan keharusannya, cuma semua keharusan tadi diikat dengan syarat tertentu sebagaimana yang disebut oleh Prof. Dr Md Uqlah Al-Ibrahim antaranya ( Nizam Al-Usrah, 2/282 ; Al-Mar'ah Bayna Al-bayt Wal Mujtama', hlm 18) :-
1) Terdapat keperluan : menyebabkan ia terpaksa keluar dari tanggungjawab asalnya (iaitu peranan utama kepada rumahtangga) seperti :-
a- Kematian suami dan memerlukan belanja kehidupan.
b- Memberikan bantuan kepada dua ibu bapa yang sangat miskin atau suami yang uzur tubuhnya.
c- Membantu bisnes suami yang memerlukan banyak tenaga dan kos.
d- Mempunyai keistemewaan yang hebat sehinggakan kemahiran ini sangat diperlukan oleh masyarakat umumnya.
2) Mestilah kerja ini bersesuaian dengan fitrah seorang wanita dan kemampuan fizikalnya.
3) Mestilah keluarnya untuk bekejra dengan menutup aurat dan sentiasa menjauhi fitnah di tempat kerja.
4) Mestilah kerjanya tidak memerlukannya berdua-duanya dan bercampur baur dengan lelaki.
Sebagaimana antara dalil yang menunjukkan keperluan untuk tidak bercampur dan berasak-asak dengan kumpulan lelaki sewaktu bekerja adalah firman Allah SWT :-
وَلَمَّا وَرَدَ مَاء مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاء وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ
Ertinya : "Dan tatkala ia ( Musa a.s) sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang (lelaki) yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia mendapati di belakang lelaki-lelaki itu, ada dua orang wanita yang sedang memegang (ternaknya dengan terasing dari lelaki).
Musa berkata: ""Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?"" Kedua wanita itu menjawab: ""Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya" (Al-Qasas : 24 )
5)  Mendapat izin wali atau suami.
6) Mestilah kerjayanya tidak menyebabkan terganggu dan terhentinya tanggung jawab di rumah terhadap anak serta suami. (Nazarat Fi Kitab As-Sufur, hlm 84)
7) Tujuan dan niat utama bekerja bukanlah kerana keasyikan dan keghairahan kepada mengumpul harta dan niat semata-mata menyaingi lelaki.
8)  Mestilah berhenti sekiranya terdapat keperluan dan kecatatan dalam pendidikan anak-anak.
9) Digalakkan ianya dilakukan dalam tempoh tertentu sahaja dan bukan selama-lamanya sehingga pencen. Sepatutnya berhenti sejurus suami mempunyai kemampuan menanggung seluruh keluarga dengan baik. Kecuali jika mempunyai kualiti yang amat diperlukan oleh masyarakat umum.
Sebagai panduan buat suami isteri bekerja, disertakan keputusan majlis Fiqh Sedunia tentang perkara berkaitan.
Keputusan Majlis Fiqh Sedunia dalam persidangan yang ke-16  bertempat di Dubai pada 9-14 April 2005 telah membuat ketetapan seperti berikut :-
1.       Pemisahan tanggungan harta di antara suami isteri
Isteri mempunyai kelayakan sepenuhnya dan hak harta yang tersendiri. Menurut hukum Shariah, isteri mempunyai hak penuh terhadap (harta) yang diusahakan, samada untuk menggunakannya, memiliki sesuatu, membelanjakannya sementara suami tidak punyai sebarang berkuasa ke atas harta isterinya itu. Isteri juga tidak perlu mendapat izin suami dalam pemilikan hartanya itu dan cara belanjakannya.

2.       Nafkah perkahwinan
Seorang isteri berhak menerima nafkah yang telah ditetapkan mengikut kemampuan suami bersesuaian dengan uruf yang benar juga kebiasaan masyarakat setempat yang diterima syara'. Kewajipan memberi nafkah ini tidak gugur kecuali jika berlaku nusyuz (di pihak isteri).

3.       Isteri keluar bekerja
  •  Tanggungjawab asas bagi seorang isteri ialah mengurus keluarga, mendidik anak-anak dan memberi sepenuh perhatian terhadap generasi masa depan itu. Walaubagaimanapun, di ketika perlu, isteri berhak untuk bekerja dalam bidang yang bersesuaian dengan tabiat dan kemahirannya menurut uruf yang diiktiraf syara' dengan syarat hendaklah dia beriltizam (menjaga) hukum-hukum agama.
  •  Kewajipan suami memberi nafkah kepada isteri yang berkerja tidak gugur menurut Islam, selagi mana tidak berlaku ketika keluarnya isteri tersebut untuk bekerja menyebabkan berlakunya isteri 'nusyuz', tatkala itu gugur kewajipan suami memberi nafkah kepada isterinya yang nusyuz.

4.       Isteri turut serta membiayai perbelanjaan keluarga
  •  Menurut pandangan Islam, dari awal mula lagi, isteri tidak wajib berkongsi peranan membiayai nafkah (perbelanjaan) yang diwajibkan ke atas suami. Suami juga tidak harus mewajibkan isteri membantunya (dengan bekerja).
  •  Kerelaan seorang isteri untuk turut berperanan membantu perbelanjaan keluarga merupakan suatu perkara dibenarkan menurut pandangan syara' demi menjayakan makna bantu membantu dan bertolak ansur di antara suami isteri.
  •  Diharuskan untuk membuat persefahaman dan persepakatan di antara suami isteri akan cara pengurusan pendapatan merkea termasuk pendapatan yang diperolehi oleh isteri.
  •  Jika keluarnya isteri bekerja memerlukan kos tambahan, maka isteri menanggung sendiri kos tersebut ( seperti pengangkutan dan lain-lain)
5.       Kerja Sebagai Syarat
  •  Seorang isteri dibenarkan untuk meletakkan syarat pada akad perkahwinannya bahawa ia hendaklah dibenarkan bekerja, apabila suami redha dengan syarat itu, ia menjadi kemestian baginya untuk membenarkan (setelah kahwin). Syarat itu hendaklah dinyatakan secara jelas ketika akad.
  •  Suami pula harus meminta isteri meninggalkan kerjayanya walaupun sebelum ini ia membenarkannya, iaitu sekiranya meninggalkan pekerjaan itu dibuat atas tujuan kepentingan keluarga dan anak-anak.
  •  Tidak harus, pada pandangan syara' bagi seorang suami untuk menjadikan keizinannya kepada isteri untuk bekerja dengan syarat isteri hendaklah membantu perbelanjaan keluarga yang diwajibkan ke atas suami; tidak harus juga suami mensyaratkan isteri memberi sebahagian daripada pendapatannya kepada suami.
  •  Suami tidak boleh memaksa isteri untuk keluar bekerja.


6.       Perkongsian isteri dalam pemilikan harta
Apabila isteri benar-benar turut menyumbang harta dan pendapatannya bagi mendapatkan dan memilki rumah, aset tetap atau sebarang projek perniagaan, ketika itu isteri mempunyai hak perkongsian pemilikan terhadap rumah atau projek tersebut mengikut kadar harta yang disumbangkannya.


7.       Penyalahgunaan hak dalam bidang pekerjaan
  •  Sebuah perkahwinan itu mempunyai beberpaa kewajiban bersama yang patut ditanggung oleh pasangan suami isteri dan ia ditentukan oleh Shariah Islam dengan jelas. Justeru hendaklah perhubungan antara suami isteri dibina adalah landasan keadilan, tolak ansur dan saling menyayangi. Sebarang tindakan yang melangkaui batasan berkenaan adalah haram pada kacamata syara'.
  •  Seorang suami tidak harus menyalahgunakan haknya sebagai suami untuk menghalang isteri bekerja atau memintanya meninggalkan kerjayanya sekiranya ia hanya bertujuan untuk memudaratkannya (isteri) atau diyakini tindakan itu hanya akan menyebabkan keburukan melebihi kepentingan yang diperolehi.
  •  Demikian juga halnya ke atas isteri (tidak harus menyalahgunakan keizinan dan hak yang diberikan), iaitu jika ia berterusan dengan kerjayanya hingga menyebabkan mudarat kepada suami dan keluarga atau melebihi maslahat yang diharapkan.  Tamat terjemahan
Kesimpulan saya
  • Fitrah wanita menuntut perhatian utama mereka untuk suami, anak dan keluarga. Dan silibus kejayaan mereka adalah dalam bidang ini.
  • Wanita dibenarkan bekerja jika keperluan yang disebutkan di atas benar-benar berlaku.
  • Walaupun wanita dibenarkan bekerja, ia tidak bererti suami boleh duduk berehat jaga anak di rumah. Sepatutnya suami perlu meningkatkan kualiti diri untuk lebih kehadapan sehingga boleh menanggung keluarga tanpa bantuan isteri.
  • Suami isteri bekerja adlaah diterima dalam Islam selagi mereka tahu dan bijak merancang pendidikan dan penjagaan anak-anak dan tidak digalakkan isteri berterusan bekerja tanpa sebab-sebab yang mendesak. Sekadar disandarkan oleh perasaan untuk lebih bermewah dan mudah membeli belah (sehingga mengadaikan masa depan anak dan keluarga) dengan menggunakan duit sendiri adalah tidak diterima oleh Islam.
  •  Menurut Syeikh Prof Dr Md 'Uqlah, tugas asasi wanita adalah amat besar iaitu sebagai penentu dan pencipta kerjaya seluruh manusia ( menurut asbab kepada hukum alam ),
  •  Komen saya : ini kerana mereka diberikan kedudukan oleh Islam untuk mencorak segala pemimpin lelaki masa akan datang iaitu dari kecil hingga besar. Malangnya mereka tidak menganggap besar dan mulianya tugasan itu sehingga mereka mencari kerjaya di luar rumah yang menghasilkan sedikit gaji yang dicintainya. Justeru, kembalilah sebagai pencipta kejayaan lelaki dan wanita dari rumah. Ia adalah silibus kejayaan wanita dalam Islam.
Sekian,
Zaharuddin Abd Rahman
24 Ogos 2007
11 Syaaban 1428 H
Berikut adalah teks arab keputusan Kesatuan Fiqh Sedunia :-
وقد ناقش مجمع الفقه الإسلامي في دورته السادسة عشرة هذا الموضوع ، وخرج بهذا القرار:-
إن مجلس مجمع الفقه الإسلامي الدولي المنبثق عن منظمة المؤتمر الإسلامي المنعقد في دورته السادسة عشرة بدبي ( دولة الإمارات العربية المتحدة ) من 30 صفر إلى 5 ربيع الأول 1426هـ ، الموافق 9 - 14 نيسان ( أبريل ) 2005م ،
بعد اطلاعه على البحوث الواردة إلى المجمع بخصوص موضوع اختلافات الزوج والزوجة الموظفة ، وبعد استماعه إلى المناقشات التي دارت حوله ،

قرر ما يأتي :
أولاً : انفصال الذمة المالية بين الزوجين :
للزوجة الأهلية الكاملة والذمة المالية المستقلة التامة ، ولها الحق المطلق في إطار أحكام الشرع بما تكسبه من عملها ، ولها ثرواتها الخاصة ، ولها حق التملك وحق التصرف بما تملك ولا سلطان للزوج على مالها ، ولا تحتاج لإذن الزوج في التملك والتصرف بمالها .

ثانياً : النفقة الزوجية :
تستحق الزوجة النفقة الكاملة المقررة بالمعروف ، وبحسب سعة الزوج وبما يتناسب مع الأعراف الصحيحة والتقاليد الاجتماعية المقبولة شرعاً ، ولا تسقط هذه النفقة إلا بالنشوز .

ثالثاً : عمل الزوجة خارج البيت :
(1) من المسؤوليات الأساسية للزوجة رعاية الأسرة وتربية النشء والعناية بجيل المستقبل ، ويحق لها عند الحاجة أن تمارس خارج البيت الأعمال التي تتناسب مع طبيعتها واختصاصها بمقتضى الأعراف المقبولة شرعاً مع طبيعتها واختصاصها بشرط الالتزام بالأحكام الدينية ، والآداب الشرعية ، ومراعاة مسؤوليتها الأساسية .
(2) إن خروج الزوجة للعمل لا يسقط نفقتها الواجبة على الزوج المقررة شرعاً ، وفق الضوابط الشرعية ، ما لم يتحقق في ذلك الخروج معنى النشوز المُسقط للنفقة .

رابعاً : مشاركة الزوجة في نفقات الأسرة :
(1) لا يجب على الزوجة شرعاً المشاركة في النفقات الواجبة على الزوج ابتداء ، ولا يجوز إلزامها بذلك .
(2) تطوع الزوجة بالمشاركة في نفقات الأسرة أمر مندوب إليه شرعاً لما يترتب عليه من تحقيق معنى التعاون والتآزر والتآلف بين الزوجين .
(3) يجوز أن يتم تفاهم الزوجين واتفاقهما الرضائي على مصير الراتب أو الأجر الذي تكسبه الزوجة .
(4) إذا ترتب على خروج الزوجة للعمل نفقات إضافية تخصها فإنها تتحمل تلك النفقات .

خامساً : اشتراط العمل :
(1) يجوز للزوجة أن تشترط في عقد الزواج أن تعمل خارج البيت فإن رضى الزوج بذلك ألزم به ، ويكون الاشتراط عند العقد صراحة .
(2) يجوز للزوج أن يطلب من الزوجة ترك العمل بعد إذنه به إذا كان الترك في مصلحة الأسرة والأولاد .
(3) لا يجوز شرعاً ربط الإذن ( أو الاشتراط ) للزوجة بالعمل خارج البيت مقابل الاشتراك في النفقات الواجبة على الزوج ابتداء أو إعطائه جزءاً من راتبها وكسبها .
(4) ليس للزوج أن يُجبر الزوجة على العمل خارج البيت .

سادساً : اشتراك الزوجة في التملّك :
إذا أسهمت الزوجة فعلياً من مالها أو كسب عملها في تملك مسكن أو عقار أو مشروع تجاري فإن لها الحق في الاشتراك في ملكية ذلك المسكن أو المشروع بنسبة المال الذي أسهمت به .

سابعاً : إساءة استعمال الحق في مجال العمل :
(1) للزواج حقوق وواجبات متبادلة بين الزوجين ، وهي محددة شرعاً وينبغي أن تقوم العلاقة بين الزوجين على العدل والتكافل والتناصر والتراحم ، والخروج عليها تعدٍ محرم شرعاً .

(2) لا يجوز للزوج أن يسيء استعمال الحق بمنع الزوجة من العمل أو مطالبتها بتركه إذا كان بقصد الإضرار ، أو ترتب على ذلك مفسدة وضرر يربو على المصلحة المرتجاة .
ينطبق هذا على الزوجة إذا قصدت من البقاء في عملها الإضرار بالزوج أو الأسرة أو ترتب على عملها ضرر يربو على المصلحة المرتجاة منه .

Tiada ulasan:

Catat Ulasan