Rabu, 13 Mei 2015

KEMEWAHAN..GAJI YANG BESAR...HARTA YANG MENIMBUN...LAKI BINI BEKERJA..HIDUP SENANG LENANG HINGGA LUPA MATI....LUPA AKHIRAT...LUPA MENCARI BEKAL AKHIRAT...SANGKA MATI LAMBAT LAGI....NI SEMUA TIPU DAYA IBLIS BHG 2










Konsep Harta Dalam Islam

Ditulis oleh Putri Dwi Cahyani
(eksionline.com)
A. PENDAHULUAN
Al-Qur’an menyebut kata al-mal (harta) tidak kurang dari 86 kali. Penyebutan berulang-ulang terhadap sesuatu di dalam al-Qur’an menunjukkan adanya perhatian khusus dan penting terhadap sesuatu itu. Harta merupakan bagian penting dari kehidupan yang tidak dipisahkan dan selalu diupayakan oleh manusia dalam kehidupannya terutama di dalam Islam.

Islam memandang keinginan manusia untuk memperoleh, memiliki, dan memanfaatkan harta sebagai sesuatu yang lazim, dan urgen. Harta diperoleh, dimiliki, dan dimanfaatkan manusia untuk memenuhi hajat hidupnya, baik bersifat materi maupun non materi. Manusia berusaha sesuai dengan naluri dan kecenderungan untuk mendapatkan harta.
Al-Qur’an memandang harta sebagai sarana bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Khaliq-Nya, bukan tujuan utama yang dicari dalam kehidupan. Dengan keberadaan harta, manusia diharapkan memiliki sikap derma yang memperkokoh sifat kemanusiannya. Jika sikap derma ini berkembang, maka akan mengantarkan manusia kepada derajat yang mulia, baik di sisi Tuhan maupun terhadap sesam manusia.
Oleh karena itu, harta dalam perspektif Al-Qur’an sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut dalam makalah ini baik dalam hubungannya kepada sang Khaliq, maupun harta yang bersifat materi maupun non materi.
B. PEMBAHASAN







    1. 1. Konsep Harta
Harta di dalam bahasa Arab disebut al-mal atau jamaknya al-amwal (Munawir, 1984). Harta (al-mal) menurut kamus Al-Muhith tulisan Al Fairuz Abadi, adalah ma malaktahu min kulli syai (segala sesuatu yang engkau punyai). Menurut istilah syar’i harta diartikan sebagai segala sesuatu yang dimanfaatkan pada sesuatu yang legal menurut hukum syara’ (hukum Islam) seperti jual beli, pinjaman, konsumsi dan hibah atau pemberian (An-Nabhani, 1990). Di dalam Al Quran, kata al mal dengan berbagai bentuknya disebut 87 kali yang terdapat dalam 79 ayat dalam 38 surat. Berdasarkan pengertian tersebut, harta meliputi segala sesuatu yang digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari (duniawi)[1], seperti uang, tanah, kendaraan, rumah, perhiasan, perabotan rumah tangga, hasil perkebunan, hasil perikan-lautan, dan pakaian termasuk dalam katagori al amwal. Islam sebagai agama yang benar dan sempurna memandang harta tidak lebih dari sekedar anugerah Allah swt yang dititipkan kepada manusia.
Islam telah menggambarkan jalan yang suci dan lurus bagi umatnya guna memperoleh harta yang halal dan baik. Dibawah ini disebutkan beberapa cara meraih harta dalam islam:
  • Meraih harta secara langsung dari hasil keringatnya sendiri.
Inilah yang sering di puji oleh islam, yaitu meraih harta dengan jerih payah keringatnya sendiri selama hal itu berada pada koridor yang telah ditentukan oleh Allah dan ini merupakan cara meraih harta yang paling mulia dalam islam. Islam adalah satu-satunya agama samawi yang memuliakan pekerjaan bahkan memposisikan pekerjaan sebagai ibadah disisi-Nya. menjadikannya asas dari kebaikan didunia dan akhirat. Pada surat Al-Mulk ayat:15 Allah memerintahkan kita untuk berjalan di muka bumi guna meraih kehidupan:
Dialah yang menjadikan bumi itu mudah buat kamu,maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Mu. Dan hanya kepadaNya kamu kembali (setelah) dibangkitkan.”
Dalam surat Al-Muzammil ayat:20 Allah menjelaskan bahwa mencari kehidupan dengan cara bekerja setara kedudukannya dengan berjihad di jalan Allah:
“… dan orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah;dan orang yang lain lagi berperang di jalan Allah.
  • Harta warisan
Dalam islam harta warisan adalah salah satu jalan yang diperbolehkan guna meraih harta kekayaan. Ini disebut meraih harta secara tidak langsung. Dalam artian si-penerima harta,tidaklah bersusah payah untuk mendapatkannya. Karena itu adalah peninggalan dari oarng yang meninggal (ayah atau keluarga dekatnya). Kepemilikan yaitu seseorang memiliki wewenangan untuk bertindak atas apa yang ia miliki. Tetapi ketika hubungan yang mengikat antara si-pemilik harta dengan harta yang ia miliki terputus disebabkan wafatnya si-pemilik, maka harus ada pemilik baru yang menggantikan wewenang kepemilikan harta yang ia miliki. Dan Islam menjadikan orang yang paling dekat hubungannya dengan si-mayit yang menerima wewenang dalam kepemilikan harta si-mayit. Ini sesuai dengan fitrah manusia. Dalam hal ini yang paling dekat adalah anak dan keluarga terdekat.
  1. 2. Hakikat Hak Milik
  • Allah adalah Pencipta dan Pemilik Harta yang Hakiki
Di dalam ayat-ayat Al-Quran, Allah Swt kadang-kadang menisbatkan dalam ayat-ayat Al-Quran kepemilikan harta itu langsung kepada Allah Swt.
“Dan berikanlah kepada mereka, sebagian harta Allah yang telah Dia berikan kepada kalian.” (QS Al-Nur:33)
Allah Swt langsung menisbatkan (menyandarkan) harta kepada diri-Nya yang berarti harta milik Allah. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan kata ‘min malillah’, yang bermakna Allah merupakan pemilik mutlak atas seluruh harta yang ada di dunia.
  • Harta adalah fasilitas bagi Kehidupan Manusia
Allah adalah pemilik mutlak harta yang kemudian menganugrahkannya kepada umat manusia. Penganugrahan dari Allah ini dalam rangka memberikan fasilitas bagi kelangsungan kehidupan manusia. Allah memberikan segalanya kepada manusia termasuk harta kekayaan yang ada di muka bumi ini. Seperti firman Allah:
“Dialah (Allah) yang telah menciptakan apa saja yang ada di muka bumi buat kalian semuanya”. (QS Al Baqarah: 29)
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar”. (QS Al Hadid:7)
Yang dimaksud dengan menguasai di sini ialah penguasaan oleh manusia yang bukan secara mutlak hak milik karena pada hakikatnya pemilik sebenarnya ada pada Allah. Manusia menafkahkan hartanya itu haruslah menurut hukum-hukum yang telah disyariatkan Allah, oleh karena itu manusia tidaklah boleh kikir dan boros. Allah memberikan kuasa kepada manusia untuk mengusahakan, memanfaatkan dan melestarikan harta yang ada di bumi dengan bijak serta memerintahkan manusia untuk senantiasa berupaya mencari harta agar dapat memilikinya.
  • Allah Menganugrahkan Kepemilikan Harta kepada Manusia.
Allah memberi manusia sebagian dari harta-Nya setelah manusia tersebut berupaya mencari kekayaan, maka jadilah manusia disebut “mempunyai” harta. Hal ini tampak dalam Al Quran yang menyebutkan harta sebagai milik manusia:
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.” (QS Al Baqarah : 188)
Dalam ayat di atas memberikan pengertian bahwa harta ketika dikaitkan dengan manusia berarti dimiliki oleh manusia sebatas hidup di dunia, dan itu pun bila diperoleh dengan cara yang legal menurut syariah Islam.
Pelapangan rezeki yang diberikan Allah tidak berkaitan dengan keimanan serta kekufuran seseorang, seperti firman Allah:
Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, Padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS Ar Ra’d : 26)
Dalam ayat ini, Allah melapangkan rezeki bagi sebagian hambaNya dan menyempitkan bagi sebagian yang lain, sesuai dengan tuntutan kebijaksanaanNya. Pelapangan dan penyempitan rezeki ini tidak berkaitan dengan keimanan dan kekufuran. Barangkali Allah melapangkan bagi orang kafir dengan maksud memperdayakan dan menyempitkan orang Mu’min dengan maksud menambah pahalanya.
Allah melapangkan rezeki bagi siapa pun yang Dia kehendaki di antara para hambaNya yang pandai mengumpulkan harta dan mempunyai kemudahan dalam mendapatkan harta dimana hal ini tidak berhubungan dengan keimanan dan kekufuran seseorang. Pada hakikatnya, kenikmatan dunia jika dibandingkan dengan kenikmatan akhirat hanyalah sedikit dan akan cepat hilang. Oleh sebab itu, mereka yang berharta di dunia tidak berhak untuk membanggakan dan menyombongkan bagian dari dunia yang diberikan Allah kepada mereka.
  1. 3. Sikap Islam terhadap harta.
Dalam memandang dunia, Islam selalu bersikap tengah-tangah dan seimbang. Islam tidak condong kepada paham yang menolak dunia secara mutlak, yang menganggap dunia adalah sumber kejahatan yang harus dilenyapkan, yaitu dengan menolak kawin dan melahirkan keturunan, berpaling dari kesenangan kenikmatan dunia dari hal makanan, minuman, pakaian, perhiasan, dan kesenangan- kesenangan lainnya serta menolak kerja keras untuk kepentingan duniawi.
Dunia adalah jalan menuju tempat yang lebih kekal. Karena dunia ini merupakan jalan, maka ia dibuat sedemikian rupa agar manusia yang melewatinya merasa aman dan sampai ke tujuan dengan selamat. Misalnya, kita dapat melihat ungkapan Al- Quran tentang umat Islam yang hidup moderat : ” Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala di akhirat”[2]
Dalam hadist dijelaskan “ Ketika datang seorang lelaki kepada Rasulullah ia berkata, “ Ya Rasulullah, apa yang saya ucapkan tatkala meminta kepada Allah?” Nabi menjawab, “Katakanlah, “Ya Allah, ampunilah saya, selamatkan saya (dari penyakit dan malapetaka), karuniakan rizki bagiku.’ Sesungguhnya doa-doa ini menghimpun bagimu kebahagiaan dunia dan akhirat. Ta’awwudz merupakan ungkapan meminta perlindungan dari Allah, baik dunia dan akhirat. Dengan demikian, sikap jalan tengah merupakan prinsip dan syiar Islam, seperti para sahabat yang hidup berlimpah harta untuk kepentingan agama tanpa sedikitpun melupakan kehidupan dunia dan akhiratnya. Diantara sahabat merupakan pedagang sukses dan orang kaya seperti Ibnu Affan dan Ibnu Auf dan ada juga yang hidup sederhana dan zuhud seperti Abud Darda dan Salman.
  1. 4. Harta adalah Perhiasan Dunia.
Menurut Islam, harta adalah sarana untuk memperoleh kebaikan. Miskin bukanlah sebagai symbol manusia bertaqwa sebagaimana pandangan para penganut sufisme. Harta dalam konteks Al-Quran adalah suatu kebaikan (khairun).
ü   “ Dan sesungguhnya dia (manusia) sangat bakhil karena cintanya kepada khairun (kebaikan).”[3] Pencinta kebaikan di sini meksudnya pencinta harta. Ayat ini menerangklan bahwa cinta akan harta adalah tabiat manusia.
ü   “ Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawaban, ‘Apa saja khairun (harta) yang kamu nafkahkan hendaknya diberikan kepada ibu, bapak, kaum kerabat, anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang  dalam perjalanan …”[4]
ü   “ Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan khairun (harta) yang banyak, berwasiatlah untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf …[5]
Pada ayat lainnya, Allah berfirman “ … Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangknya … ”[6]
Maka harta menurut Islam adalah perhiasan kehidupan dunia dan pengokohannya seperti pilar.
Firman Allah : “ Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalam-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”[7]
Dalam ayat ini, dengan harta tercapailah kemakmuran dunia dari segi materi dan dengan anak tercapai kemakmuran dunia dari segi kelangsungan hidup.
Allah mengaruniakan sebagian kekayaan dan kehidupan nyaman yang diperuntukkan bagi hamba-Nya yang beriman dan bertakwa sebagai balasan atas amal saleh dan syukurnya. Sedangkan kehidupan yang sempit, kemiskinan dan kelaparan sebagai hukuman yang dipercepat Allah bagi mereka yang berpaling dari jalan Allah. Pentingnya harta menurut Islam tampak dari kenyataan bahwa Allah menurunkan surat yang berisikan peraturan tentang keuangan, cara penggunaannya, anjuran bermualah dengan cara menuliskannya dan perlunya dua orang saksi.
  1. 5. Harta merupakan sesuatu yang dibanggakan
Harta merupakan sesuatu yang dibanggakan oleh manusia, namun Al Quran memandang orang yang membanggakan harta sebagai orang yang sombong dan tidak terhormat.
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS Al Isra :31)
Dalam ayat di atas, kebanggaan manusia terhadap harta, disejajarkan dengan kebanggaannya terhadap anak dan keturunan. Hal ini terjadi karena harta yang diupayakan, dan di saat seseorang gagal dalam mendapatkan harta terkadang dengan sikap frustasi seseorang dapat berbuat dosa dengan melampiaskan kemiskinan dengan membunuh anaknya. Tindakan ini dikecam Allah karena manusia tidak percaya bahwa sebenarnya kehidupan telah dijamin oleh Allah.
  1. 6. Harta sebagai Ujian dan Cobaan
Harta bukan sebagai ukuran untuk menilai seseorang. Mulia atau hinanya seseorang tidak dinilai dari harta yang dimilikinya. Harta hanyalah kenikmatan dari Allah sebagai fitnah atau ujian untuk hambaNya apakah dengan harta tersebut mereka akan bersyukur atau akan menjadi kufur.
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”[8]
Allah menguji seseorang dengan perasaan takut terhadap musuh, musibah, kelaparan dan kekurangan, serta kekurangan harta. Dalam ayat ini memberi pengertian bahwa iman tidak menjamin seseorang untuk mendapatkan rizki yang banyak, kekuasaan dan tidak ada rasa takut. Bagi seseorang yang mempunyai kesempurnan iman maka tiap musibah akan semakin membersihkan jiwanya.
Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar.”[9]
Harta merupakan poros penghidupan seseorang dan sebagai sarana untuk mencapai segala keinginan dan hasrat duniawi. Untuk mendapatkan harta manusia rela menanggung kesusahan dan kesulitan, namun hukum syara menhgaruskan\ manusia untuk mencari harta halal dan mendorong manusia untuk berhemat. Begitupula untuk memelihara harta, mereka bersedia susah payah namun hawa nafsunya saling bertempur dengan hati nuraninya sendiri dimana syariat mewajibkan penyisihan atas harta dimana ada hak-hak tertentu yang harus dikeluarkan untuk zakat, nafkah lainnya, baik untuk anak dan istri, dll.
Sedangakan cinta kepada anak sering membawa orang sanggup melakukan dosa dan perbuatan jahat demi dapat membiayai mereka, menjadi kikir untuk berzakat, dan jika terjadi kesedihan atas anak mereka maka mereka membenci Tuhan atau mementangnya. Fitnah yang ditimbulkan oleh anak lebih besar dari pada yang ditimbulkan oleh harta, sehingga mereka mau saja mencari harta haram dan mengambil harta orang lain secara batil demi anak.
Maka dalam ayat ini, seorang mukmin seharusnya dapat memelihara diri dari kedua fitnah, yaitu pertama mendapatkan harta halal dan menafkahkan pada jalan kebaikan. Dan juga menjaga fitnah anak dengan mendidik mereka dengan sebaik-baiknya dan melatih mereka melaksanakan perintah agam.
Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipatganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).”[10]
Dalam ayat di atas Al Quran mengingatkan manusia bahwa harta dan anak yang dibanggakan tidak menjamin dapat menyelamatkan dirinya dari siksaan Tuhan. Terkadang manusia sifat kebanggaan yang berlebihan tersebut dapat menjadikan sikap kikir serta mengumpulkan harta dengan sangat perhitungan dan menjadikan kecintaan terhadap harta membabi buta. Akhirnya dengan pandangan bahwa harta dapat membawa kesentosaan hidup maka nereka beranggapan harta adalah segalanya dalam hidup. Dalam Al Quran tersirat bahwa hak pemilikan manusia terhadap harta, hanya berfungsi untuk menunjukkan “pemilik” dan “penanggung jawabnya”. Adapun fungsi harta dalam pendistribusian sesuai dengan syariat adalah nilai yang patut diupayakan oleh pemilik harta.
Contohnya seperti golongan orang kaya dan angkuh dengan hartanya dan tidak mau mengakui kerasulan Nabi Muhammad sedangkan mereka tahu, misalnya Abu Jahal Ibnu Hisyam[11], Abu Lahab [12], Abu Ibnu Khalaf [13], Walid Ibnu Mughairah [14] dan juga Karun[15].
  1. 7. Harta sebagai Penyangga Stabilitas Sosial
Harta merupakan salah satu dari beberapa kekuatan suatu bangsa dan penopang kebangkitan dan kemajuan. Namun, harta bisa membahayakan suatu bangsa dan rakyatnya, juga membahayakan etika spiritual mereka, jika mereka menjadikannya suatu prioritas dalam hidup ini. Islam mengajarkan kepada pengikutnya bahwa harta bukan segala-galanya dalam kehidupan ini, namun ironisnya kebanyakan manusia sangat berambisi dan memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan mengabaikan sesuatu yang lebih besar yaitu kehidupan di akhirat.
Sesungguhnya etika yang mulia dan norma yang tinggi dari iman, amal saleh dan akhlak mulia. Itulah kekayaan yang tidak pernah habis dan pusaka-pusaka yang tidak akan sirna.oleh sebab itu Al Quran mengarahkan ambisi dan angan-angan orang-orang mukmin kepadanya seperti firman Allah:
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” [16]

  1. 8. Ekonomi yang Baik Sarana Mencapai Tujuan yang Lebih Besar
Islam tidak melupakan unsur materi dan eksistensinya dalam memakmurkan bumi dan meningkatkan taraf hidup manusia. Namun, Islam selalu menekankan bahwa kehidupan berekonomi yang baik  walaupun itu merupakan target yang perlu dicapai dalam kehidupan dan bukanlah tujuan akhir. Peran harta dianggap sangat penting seperti untuk berjihad[17] dengan memperjuangkan kemaslahatan yang diperintahkan Allah, harta menopang manusia upaya untuk bertahan dalam kondisi kehidupan yang wajar, dah harta dapat digunakan menjadi bagian penjagaan kehidupan (contonya dalam Al Quran memberikan alasan bahwa kekuasaan laki laki atas wanita di antaranya karena prestasinya dalam mencukupi kehidupan wanita), dll.
Manusia diciptakan bukan untuk menjalankan aktivitas ekonomi, tetapi ekonomi diciptakan untuk manusia. Manusia diciptakan untuk Allah, akal dan hatinya hanya terfokus kepadaNya, sehingga jadwal kehidupannya harus diatur sesuai dengan keridhaan Allah. Inilah arti ibadah yang dijadikan Allah sebagai kewajiban manusia.
“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya  mereka member Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” [18]
  1. 9. Manusia Mulia Bukan Karena Harta Tetapi Karena Amalan-amalannya
Seperti yang diuraikan di atas, manusia tidak mulia karena harta dan kekayaannya atau kedudukannya tetapi karena hatinya bertaqwa kepada Allah dan takut kepada Nya. Ia ikhlas berbuat meskipun tidak memiliki apa-apa dan berpakaian compang-camping.
Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk luar tetapi Allah melihat pada hati manusia.”[19]
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [20]
Dalam surat ini diketahui bahwa cirri-ciri orang yang berbahagia adalah yang dapat menjalankan muamalah dengan Allah secara baik, dan muamalah mereka dengan sesama makhluk. Allah dalam surat ini juga memberikan keringanan kepada umatnya dari kesukaran menuju kemudahan, dimana Allah meminta kepada manusia agar mengerjakan shalat malam dengan waktu sepertiga malam sesuai yang dapat kamu kerjakan (karena manusia tidak sanggup menentukan waktu secara pasti). Sehingga dengan keringanan yang diberikan, manusia dapat mengerjakan shalat yang difardhukan sehingga hati mereka tidak lalai dan perbuatan mereka tidak keluar dari apa yang ditentukan agama. Serta tunaikan zakat yang wajib, dan memberikan pinjaman yang baik kepada Allah dengan jalan menafkahkan harta di jalan kebaikan, untuk tiap individu dan golongan, sehingga dapat membawa manfaat bagi  mereka dalam kemajuan peradaban dan sosial. Dan jaminan terhadap apa yang manusia kerjakan di dunia, merupakan sedekah atau nafkah yang kamu belanjakan di jalan Allah (seperti shalat, puasa, haji, dll)  akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Sehingga menusia yang mulia adalah manusia yang dapat membelanjakan hartanya di jalan Allah dan beribadah sesuai yang diperintahkan Allah (amal-amalnya).
10. Pengharaman Menimbun Harta
Islam mengharamkan seseorang menimbun harta, Islam mengancam mereka yang menimbuh dengan siksa yang sangat pedih kelak di hari kiamat. Ancaman-ancaman itu tertera dalam nash-nash yang tegas dalam Al Quran, dalam firmanNya:
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.”  ( QS At Taubah : 34-35)
Menimbun harta maksudnya membekukannya, menahannya, dan menjauhkannya dari peredaran. Penimbunan harta menimbulkan bahaya besar terhadap perekonomian dan terhadap moral. Bahaya dari penimbunan ini dapat menimbulkan hilangnya kesempatan kerja (identik dengan menimbulkan pengangguran), dapat mengurangi pendapatan yang akhirnya akan mengurangi daya beli masyarakat, produksi dan permintaan menjadi menurun, dan akhirnya dapat menciptakan penurunan ekonomi dalam masyarakat.
11. Zakat Harta
Setelah Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang bertaqwa itu mendirikan sholat, maka dilanjutkan dengan menceritakan bahwa manusia harus menunaikan zakat dan berbuat kebajikan kepada orang-orang kafir. Seperti dalam firmanNya:
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”[21]
Di antara mereka ada sebagian ada sebagian yang harus dipisahkan oleh mereka yang dikhususkan untuk orang yang melarat meminta, atau orang yang menahan diri dari meminta-minta, yang tidak memperoleh sesuatu yang membuatnya tidak berhajat, namun tidak meminta kepada orang lain (disebut orang yang mahrum atau tudak kebagian) dan tidak suka berbuat seperti itu supaya diberi sedekah. Orang miskin yang tidak mendapat bagian maksudnya ialah orang miskin yang tidak meminta-minta.
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”[22]
Allah memerintahkan Rasul untuk mengambil harta orang-orang yang tidak ikut perang, kaum mu’min yang kaya dan orang mu’min lainnya. Zakat ini dimaksudkan untuk membersihkan manusia dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda dan tamak dan dapat mensucikan  yaitu menanamkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka sehingga mereka patut mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan Rosul mendoakan bagi orang-orang yang mau bersedekah dengan memohonkan ampun mereka untuk ketenangan hati mereka dan Allah Maha Tahu taubat mereka serta keikhlasan mereka dalam menyerahkan sedekah tersebut.
12. Etika Terhadap Harta
  • Etika mencari harta
Kehidupan seorang muslim selalu dituntun untuk bekerja (etos gerak). Al Quran mendorong muslim untuk bergerak dan berbuat sesuatu yang baik secara aktif. Isalm yang dikonotasikan dengan “jalan”, memberikan gambaran bahwa ajarannya adalah ajaran dinamis, bergerak, dan berubah menuju kesempurnaan sesuai dengan yang divita-citakan. Orang Islam yang berjalan di atas jalan tersebut lazimnya bergerak, dinamis, aktif serta tidak diam (pasif) dalam suatu kondisi. Bagi orang yang mencari perubahan, Allah menjanjikan kemudahan dan keleluasaan sebagai apresiasi atas usaha yang dilakukan oleh manusia. Seperti pada QS An Nisa :100
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Sehingga pada dasarnya Al Quran maupun al Sunah telah memberikan berbagai apresiasi untuk mendorong manusia agar berbuat dan berkreasi sesuai dengan profesi dan potensi masing-masing untuk mendapatkan harta secara halal serta mendistribusikan.
  • Etika mencari Harta
Anjuran dan suruhan Al Quran terhadap usaha dan pemenuhan tanggung jawab, bukan sedekar parintah bekerja yang hanya menghasilkan materi. Al Quran menghendaki agar kerja manusia diorientasikan pada nilai-nilai suci, bukan sekedar materi secara unsich. Nilai suci dari materi ditentukan oleh fungsi dan kegunaan untuk kemaslatan dalam memenuhi hajat hidup manusia. Al Quran memberikan orientasi melalui tata cara dalam mencari materi yang harus dipatuhi oleh manusia. Orientasi tersebut untuk memberikan keseimbangan usaha manusia dalam mendapatkan materi agar sesuai dengan harapan yang dicita-citakan sebagai khalifah di bumi.keseimbangan tersebut baik terhadap Tuhan, terhadap dirinya sendiri, terhadap lingkungan, maupun terhadap sesama manusia. Tata cara tersebut di antaranya adalah melarang manusia bertransaksi yang tidak legal baik dalam perspektif yuridis maupun etis[23], penyempurnaan timbangan atau takaran dalam transaksi[24], larangan bersistem raba[25], dan menekankan tanggung jawab.[26]
  1. C. KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat diambil kesimpulan, bahwa harta meliputi segala sesuatu yang digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari (duniawi)[27], seperti uang, tanah, kendaraan, rumah, perhiasan, perabotan rumah tangga, hasil perkebunan, hasil perikan-lautan, dan pakaian termasuk dalam katagori al amwal. Islam sebagai agama yang benar dan sempurna memandang harta tidak lebih dari sekedar anugerah Allah swt yang dititipkan kepada manusia. Oleh karena itu, di dalam Islam terdapat etika di dalam memperoleh harta dengan bekerja. Dalam artian, terdapat keseimbangan usaha manusia dalam mendapatkan materi agar sesuai dengan harapan yang dicita-citakan sebagai khalifah di bumi.keseimbangan tersebut baik terhadap Tuhan,.
DAFTAR PUSTAKA
–         Q ardhawi ,Yusuf, Norma dan Etika Islam, Jakarta : Gema Insani Press, 1997.
–         Sholahuddin, Asas-Asas Ekonomi Islam, Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2007.
–         At-Thariqi, Abdullah Abdul Husain, Ekonomi Islam, Prinsip Dasar dan Tujuan, Magistra Insani Press, 2004.
–         Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir  al-Maraghi, Semarang : CV. Toha Putra.
–         Munir, Abdul, Harta Dalam Perspektif Al Quran, Disertasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2006
———————————————–
[1] Ensklopedi Indonesia (Bandung: PT Van Hoeve,tt)
[2] QS Ali Imran : 148
[3] QS Al Adiyat : 8
[4] QS Al Baqarah : 215
[5] QS Al Baqarah : 180
[6] QS Ah Thalaq : 2-3
[7] QS  Al Kahfi : 46
[8] QS Al Baqarah : 155
[9] QS Al Anfal : 28.
[10] QS As Saba : 35-37
[11] “ Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS Al Alaq : 6-7). Manusia di sini maksudnya adalah Abu Jahal.
[12] “ Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang telah ia usahakan.” (QS Al Lahab : 1-2)
[13] “ Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.” (QS Al Humazah : 2-3) Yang dimaksud di sini adalah Abu Ibnu Khulf.  Sesungguhnya yang mendorong seseorang meremehkan orang lain karena kesukaannya mengumpulkan harta benda dan menghitung hartanya. Ia berpendapat bahwa tidak ada kemuliaan melainkan hanya dengan harta, derajat seseorang dinilai dengan harta tanpa melihat amal shalih yang dilakukan. Mereka juga memiliki rasa sombong, bahkan mereka meyakini bahwa harta benda dapat menyelamatkannya dari kematian.
[14] “ Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakanya sendirian. Dan aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kulapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahkannya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah) karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al Quran).” (QS Al Muddatstsir : 11-16)
[15] “ Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugrahkan kepadanya berbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya bertanya kepadanya, ‘ Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.’ Dan carilah pada apa yang dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al Qashash : 76-77). Golongan orang ini menggambarkan sosok Karun dengan type egois dan lupa akan teman yang hidup dalam kemiskinan.
[16] QS Al Kahfi : 46
[17] 41. Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.(QS At Taubah : 41)
[18] QS Adz Dzariyat : 56-58
[19] HR Muslim dari Abu Hurairah no. 2564.
[20] QS Al Muzammil : 20
[21] (QS Adz Dzariyat : 19
[22] (QS At Taubah : 103)
[23] “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.” (QS Al Baqarah : 188)
[24] “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS Al Muthaffifi : 1-3) Yang dimaksud dengan orang-orang yang curang di sini ialah orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang.
[25] “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al Baqarah : 278-279) Yang dimaksud Riba di sini ialah Riba nasi’ah. menurut sebagian besar ulama bahwa Riba nasi’ah itu selamanya haram, walaupun tidak berlipat ganda. Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini Riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.
[26] “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh” (QS Al Ahzab : 72)
[27] Ensklopedi Indonesia (Bandung: PT Van Hoeve,tt)

Apakah Menyimpan Uang / emas termasuk "Menimbun"?

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Maaf ustadz saya mau tanya mengenai ayat tentang pelarangan menimbun harta seperti dalam surat berikut :
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas-perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengan dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan kepada mereka): “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS.at-Taubah, 9:34-35)
lalu bagaimana kalau kita menyimpan harta dalam bentuk tabungan di bank, apakah itu juga bisa disamakan dengan menimbun emas dan perak?
lalu jika kita berinvestasi dalam bentuk emas dan perak (dinar dan dirham) apakah itu juga dilarang? Mohon penjelasannya.
Terimakasih sebelumnya.. ..
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.
(onie_lies@xxxxxx.co.id)
Jawaban :
Wa’alaikum Salam wr. Wb.
Audzubillah, bismillah, wassholatu wassalamu “˜ala rasulillah Muhammad ibni Abdillah Wa’ala alihi washahbihi wa man walah amma ba’du.
Saudaraku,
Pengertian menimbun harta (kanzul maal) yang diharamkan Allah dalam QS At-Taubah [9] :34, adalah menimbun emas dan perak (atau uang) tanpa suatu keperluan (hajat). Yakni semata menyimpan uang agar tidak beredar di pasar atau menyimpan mata uang tertentu dalam rangka profit taking (menunggu harga naik, lalu dijual), maka Ini haram berdasar firman Allah :
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beri mereka kabar gembira berupa azab yang pedih.” (QS At-Taubah [9] : 34).
Adapun jika menyimpan harta karena ada suatu keperluan, misalnya untuk membangun rumah, untuk biaya nikah, untuk modal usaha, atau untuk berhaji, maka ini tidak termasuk menimbun harta, tapi disebut menabung (al-iddikhar) yang hukumnya boleh asalkan tidak mengandung riba.
Rasulullah saw dalam hadisnya cukup memberikan arahan kepada umatnya supaya menabung untuk tujuan yang telah ditentukan. Ini dapat kita lihat dari beberapa hadis :
“…Rasulullah saw pernah membeli kurma dari Bani Nadhir dan menyimpannya untuk perbekalan setahun buat keluarga…” (Hadis riwayat Bukhari);
“Simpanlah sebagian dari hartamu untuk kebaikan masa depan kamu, karena itu jauh lebih baik bagimu.” (Hadis riwayat Bukhari).
Namun, perlu diketahui ada kewajiban berzakat jika simpanan uang atau emas kita yang ada di deposito atau tabungan telah  (1) mencapai nishab, (2) sudah haul (berlalu setahun).
Nishab emas adalah 85 gr emas sedang nishab perak 595 gr perak. Perhitungan haul (mengendap setahun) didasarkan pada sistem kalender Islam (qamariyah), bukan kalender masehi (syamsiyah). Zakatnya 2,5 %.
Misal, pada 1 Muharam 1428 H Assegaf punya emas yang telah mencapai nishab, katakan 100 gr emas. Jika dia memiliki emas itu selama satu tahun hingga 1 Muharam 1429 H (sudah haul), wajib dizakati sebesar 2,5 % X 100 gr = 2,5 gr emas. Zakat boleh dikeluarkan dalam bentuk emas, atau harta lain yang senilai (qimah), misal diuangkan senilai 2,5 gr emas. Nabi SAW pernah mengambil baju sebagai pembayaran zakat emas (Abdul Qadim Zallum, Al-Amwal fi Daulah Al-Khilalah, hal. 169).
Uang kertas yang kita tabungkan di bank atau di bawah bantal juga wajib dizakati, meski bukan berstandar emas dan perak. Sebab fungsinya sama dengan dinar dan dirham yakni sebagai alat tukar serta pengukur nilai barang dan jasa. Ketentuan zakat uang sama dengan ketentuan zakat emas dan perak.  Contoh, Nani punya uang Rp 20 juta. Ini berarti sudah melebihi nishab (asumsinya harga 1 gr emas = Rp 200 ribu, berarti nishab zakat uang Rp 17 juta). Jika uang itu sudah dimiliki selama satu tahun (haul), wajib dizakati 2,5 % X Rp 20 juta = Rp 500 ribu.
Wallahu a’lam bishawab.


Khutbah Jum'at: Fitnah Syubhat dan Syahwat

12 Nov 2011
Bacaan Khutbah pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ . وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا.  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
Sidang Jum’at rahimakumullah
Ingatlah, wahai kaum muslimin, sungguh kemaksiatan selalu membayangi kita, kapan dan di mana saja kita berada. Kemaksiatan adalah senjata syetan yang tersohor. Dia membisikkan bujuk rayu dan tipuan kepada hati agar melakukan dosa .
Bagaimana hati manusia dapat terkena bujuk rayu syetan? jawabannya, karena manusia tidak taat kepada Allah Ta’aala. Sungguh, amal pekerjaan manusia tidak akan sempurna tanpa bekal ketaqwaan. Dan tidaklah benar ketaqwaan tanpa dasar ilmu. Perumpamaannya adalah seperti buah yang baik, aromanya enak dan rasanya lezat. Aromanya adalah ilmu dan nasehat, sedangkan rasanya adalah amal perbuatan.
Sungguh manusia tergantung pada hatinya, sebab ia memberi komando kepada semua anggota tubuh, mulai akal pikiran sampai kepada panca indera. Sehingga apabila hatinya baik maka baik pula anggota badan yang lainnya, tetapi apabila jahat maka binasalah semua anggota yang lainnya.
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. (رواه البخاري ومسلم
“Ingatlah dalam badan ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah semua badannya, jika ia rusak, maka rusaklah semua badannya. Ingatlah dia adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ketahuilah bahwa hati manusia dibagi tiga macam:
Pertama: hati yang sehat/shahih, yaitu hati yang bersih dan terlepas dari selubung syahwat dan kegelapan syubhat. Pemilik hati ini adalah orang-orang yang bertaqwa kepada Allah Ta’aala. Ia senantiasa melakukan amal shalih dengan ikhlas dan mematuhi aturan Allah dan Rasulnya.
FirmanNya:
“(Yaitu) di hari harta dan anak laki-laki tiada berguna, kecuali bagi orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’araa: 88-89)
Kedua: Hati yang mati, yaitu lawan dari hati yang sehat. Pemilik hati ini adalah orang-orang kafir. Mereka tidak mengimani Allah, tidak mengakui bahwa hanya kepada Allah Ta’ala ibadahnya ditujukan, serta tidak mempercayai nama-nama dan sifat Allah Ta’ala. Setiap tindakannya hanya menuruti hawa nafsu semata. Hawa adalah pemimpin dan syahwat adalah prinsip. Mereka jauh dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Sungguh merupakan tempat yang nyaman bagi syetan untuk mengajak kepada kebinasaan.
Ketiga, Hati yang sakit, Yaitu hati yang berada di antara hati yang sehat dan mati. Pemiliknya adalah orang-orang munafik. Ia mengaku beriman, beramal shalih, bertawakkal, namun lebih menyukai riya’,ujub, sombong, bila berjanji tidak ditepati, bila berkata tidak bisa dipegang. Allah Ta’ala berfirman:
“Di hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakit-nya. Bagi mereka adzab yang pedih disebabkan kedustaannya”. (QS. Al-Baqarah: 10).
Salah satu syarat untuk meraih badan yang sehat adalah menjauhkan diri dari makanan yang dapat menyebabkan sakit. Begitu pula dengan hati, bila ingin hati yang sehat maka jauhkanlah hati dari faktor-faktor yang merusaknya. Antara lain fitnah syahwat dan syubhat. Fitnah syahwat dapat berasal dari wanita, anak,dan kekayaan harta. Allah Ta’ala berfirman:
“Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak,harta yang banyak dari jenis emas,perak,kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang.” (QS. Ali Imran:14)
Sidang Jum’at rahimakumullah.
Sungguh fitnah wanita sangat berbahaya dan dahsyat. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ. (متفق عليه
“Tidak kutinggalkan sesudah matiku suatu fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi laki-laki dari fitnah wanita.” (Muttafaq alaih)
Fitnah dari wanita sangat banyak sekali ragamnya, antara lain dalam hal pakaian. Tak dapat dipungkiri bahwa jika seorang wanita keluar dari rumahnya tanpa menjaga auratnya, maka syetan akan menjadikan ia menarik pandangan mata lelaki. Tidak hanya satu laki-laki yang tergoda tetapi puluhan, ratusan dan bahkan lebih. Hal itulah yang menyebabkan jatuhnya akhlak kaum lelaki, sehingga sangat jorok. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا؛ قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَتُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا. (رواه مسلم

“Dua manusia dari ahli Neraka yang belum ku lihat di zamanku, yaitu kaum yang membawa cemeti-cemeti seperti ekor sapi. Mereka memukul manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berjalan berlenggak-lenggok kepala mereka seperti punuk unta yang condong., mereka tidak akan masuk Surga. Dan sesungguhnya bau Surga bisa tercium dari jarak yang sangat jauh” (HR.Muslim)
Wanita mempunyai sifat yang kurang mulia, antara lain: mudah mengeluh, suka menuntut, suka membicarakan orang lain(ghibah), kurang pandai berterimah kasih kepada suami. Seorang istri yang kurang puas terhadap kondisi ekonomi dan sosial yang telah diusahakan suaminya, sering kali tidak sabar dan mendesak suaminya untuk berbuat kolusi, korupsi, berkhianat, dan tindakan maksiat lainnya. Memang tidak semua wanita seperti itu, hanya wanita yang shalihahlah yang tidak melakukan seperti itu. Merekalah perhiasan dunia yang terbaik, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
اَلدُّنْياَ مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ. (رواه مسلم
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)
Maka bagi kita, haruslah berhati-hati dengan fitnah wanita dan wajib untuk mendidik istri, anak dan saudari-saudari kita agar menutup auratnya dan menjaga kehormatannya, sehingga dapat menjadi wanita yang shalihah.
Anak dapat membutakan orang tua dari kebenaran. Demi anak orang tua rela mengorbankan keimanannya,kejujurannya. Bahkan kadang kala mampu menjerat orang tua untuk bermalas-malasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, bakhil dalam berinfaq, bershadaqah, maupun zakat. Kepentingan sang anak dijadikan alasan atas kebakhilannya, kemalasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Allah berfirman:
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah bagimu. Dan di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. At-Thaghabun: 15)
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
اَلْوَلَدُ مَحْزَنَةٌ مَجْبَنَةٌ مَجْهَلَةٌ مُبْخَلَةٌ.
“Anak itu (dapat mendatangkan) kesedihan, rasa takut, kebodohan dan kebakhilan.” (HR. Ath-Tabrani, dishahihkan oleh Syekh Al-Albani)
Maka wajiblah bagi orang tua untuk bersabar dan istiqomah dalam menjaga anak sebagai amanat dari Allah Ta’aala.
Sidang Jum’at rahimakumullah.
Ketahuilah bahwa fitnah harta merupakan awal kebobrokan akhlaq manusia. Korban dari fitnah ini senantiasa haus dan lapar untuk menimbun harta. Ia membanting tulang siang malam untuk harta, tidak ada waktu untuk yang lain. Bahkan ia rela melepas kejujurannya, dan keimanannya untuk digadaikan demi harta. Kekayaan dan harta membuat ia lupa kepada Allah Ta’ala. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ. (حديث حسن رواه الترمذي
“Tiap umat mempunyai cobaan dan ujian sendiri-sendiri dan fitnah cobaan umatku adalah kekayaan harta.” (HR. Tirmidzi, sanadnya hasan disepakati oleh Adz-Dzahabi)
Sidang Jum’at rahimakumullah.
Selain fitnah syahwat, ada fitnah yang lain yang tak kalah berbahayanya, yaitu fitnah syubhat. Apakah fitnah syubhat itu?Yaitu fitnah atau ujian yang ditimbulkan dari sesuatu yang status halal haramnya. Hal ini sering menimpa orang-orang yang telah belajar dan menerima ilmu, tetapi tidak memahaminya dan tidak amanah . Dengan ilmunya yang minim, ia merasa telah mengetahui dien Islam, lalu memahaminya dengan seenaknya . Ia tidak tahu dimana kebenaran yang haq itu berada?.
Pendapatnya salah tetapi ia tidak tahu letak kesalahannya dan tidak mau menerima pendapat yang benar dari pihak lain. Yang halal dikatakan haram, yang sunnah dikatakan bid’ah. Ia menjadi fitnah bagi orang lain. Akibat dari fitnah syubhat adalah taqlid buta atau mengikuti pendapat orang lain tanpa ilmu. Taklid yang tidak diperbolehkan apabila mengikuti adat istiadat atau ajaran nenek moyang yang bertentangan dengan ketentuan dari Allah Ta’ala, mengikuti pendapat orang lain yang tidak mengetahui proporsionalitasnya (kebenarannya). Tetapi diperbolehkan mengikuti pendapat orang yang diketahui telah berusaha keras dan konsekwen dalam ketaatannya kepada Allah Ta’ala dan RasulNya. Hanya ketentuan Allah dan RasulNya yang layak dijadikan dalil dan hujah serta harus diikuti. Sungguh tidak ada pendapat manusia yang layak untuk didikuti kecuali pendapat Rasulullah. Malik bin Anas berkata :
لَيْسَ أَحَدٌ بَعْدَ النَّبِيِّ إِلاَّ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ إِلاَّ النَّبِيَّ .
“Tidaklah seorangpun sepeninggal Nabi n yang patut diikuti perkataannya dan ditinggalkan, kecuali perkataan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ” (harus diikuti semuanya).
Maka marilah kita menimba ilmu dengan bersungguh-sungguh dan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah dengan pemahaman para salafus shalih untuk selamat dari bahaya fitnah Syubhat.
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ، أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا. أَمَّا بَعْدُ؛
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Saya mengajak para jama’ah dan diri saya sendiri untuk bertaqwa dan memerangi syetan yang senantiasa menggoda manusia dengan tipuan-tipuannya. Senjata yang bisa kita gunakan yaitu pertama: Keyakinan yang shahih berdasar Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah n. Inilah yang menghancurkan syubhat dan khayalan-khayalan kosong. Kedua; Kesabaran, dengan inilah kita dapat memberangus syahwat dan hawa nafsu. Allah berfirman:
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pimpinan yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. (QS. As-Sajdah: 24)
Demikian khotbah Jum’at ini mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Ya Allah lindungilah kami dari segala macam bahaya, dan kesukaran, serta berilah kemudahan untuk mengatasi-nya.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ 



KITA DALAM GOLONGAN YANG MANA??

Assalamu'alaikum dan salam sejahtera..
KITA DALAM GOLONGAN YANG MANA?? - Hari ini aku ingin kongsikan semula perkongsian yang dihantar oleh sahabat aku melalui emel sejak 3 hari yang lepas. Lama rasanya aku tak buka emel. Memang berlambak la kiriman yang tak berbalas. Maafkan aku ye sahabat-sahabat kesayangan...hehehe
Kalau entri ini mempunyai persamaan dengan mana-mana entri yang kamu ada. Aku minta maaf sangat-sangat. Sama tidak semestinya serupa. 

Masing-masing ada cara masing-masing. Terpulanglah.... 

Kita dalam Golongan Yang Mana????

fikir,otak ligat,bijaksana,hikmah,kartun
Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil berat akan waktu solatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s

Siapakah orang yang manis senyumanya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia katakan "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu diikuti dengan berkata,"Ya Rabbi Aku redha dengan ketentuan-Mu ini." sambil mengukir senyuman.

Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada dan sentiasa 'menimbunkan' harta.

Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai ke pertengahan usia namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.

Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata yang memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya.

Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang akan menghuni syurga kelak kerana telah mengunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.

Siapakah org yg KEDEKUT?
Orang yang kedekut ialah org yg tidak menyampaikan kepada orang lain setiap perkara kebaikan.

p/s: Aku ni golongan yang mana satu agaknya????
 http://kum-pun.blogspot.com/

Bagaimana Menjadikan Kehidupan Dunia Bernilai Akhirat

Hadis Rasulullah SAW ada menyebutkan:
“Kebaikan itu adalah bukan orang yang mengambil dunia tapi meninggalkan Akhirat dan yang mengambil Akhirat meninggalkan dunianya.”
Hadis lain menyebut:
“Tidak dianggap orang yang meninggalkan dunianya karena Akhirat, dan tidak juga orang yang meninggalkan Akhirat yang karena dunianya sehingga sekaligus mendapatkan kedua-duanya.” (Riwayat Ibnu Asakir)
keranda1
Karena ada Hadis yang menyebutkan seperti itu, maka lumrahlah jika orang berkata termasuk orang yang cinta dan bergelimang dengan dunia. Bahkan semua golongan mengatakan tentang ini. Maklumlah manusia mudah cenderung pada dunia, apa lagi bila ada hujah dan dalilnya, jadi ada alasan yang mengesahkan mereka untuk memburunya tanpa memikirkan pedoman dan ‘guideline‘nya. Mereka buru dunia semau-maunya. Tidak perduli dengan cara apapun dan bagaimanapun.
Di antara perkataan yang selalu kita dengar dan baca baik di arena dakwah, di majelis-majelis ceramah, di arena politik, di dalam majlis-majlis pengajian, dan juga melalui TV, surat khabar, majalah dan lain-lain, seperti berikut:
  • “Dunia kita kehendaki, Akhirat pun kita kehendaki.”
  • “Janganlah tinggalkan dunia karena Akhirat. Begitulah juga jangan tinggalkan Akhirat karena dunia. Tuhan menyuruh kita mengambil kedua-duanya sekalian, yaitu dunia dan Akhirat.”
  • “Akhirat memanglah kita tidak dapat nafikan, tapi kita tinggal di dunia sekarang, maka kita juga harus memikirkan tentang dunia.”
  • “Akhirat, Akhirat juga, dunia, dunia juga. Jangan lupakan kedua-duanya.”
  • “Kalau kita tidak punya harta dunia, Akhirat kita pun tidak sempurna.
  • “Habis bagaimana hendak berzakat, kalau kita tidak ada harta?”
  • “Kalau kita tidak ada harta, bagaimana hendak naik haji.”
  • “Bagaimana hendak membuat kebaikan, kalau tidak ada duit.”
  • “Ambillah dunia, tapi jangan sampai lupa Akhirat.”
  • “Dia itu asyik ibadah saja, apa yang hendak dimakan anak isterinya?”
  • “Ibadah, ibadahlah. Bekerja juga harus untuk mencari rezeki.”
  • “Siapa hendak memberi makan anak isteri?”
  • “Dia itu mengambil keduanya, dunia dia buru, Akhiratpun juga dia buru.”
  • Ada yang berkata lebih hebat lagi dan mengherankan kita, ” Dia itu walaupun penari atau pelacur tapi dia sembahyang.”
Inilah di antara kata-kata yang kita dengar yang diucapkan oleh orang kampung sampai dengan orang kota, pendakwah, guru, alim ulama, penceramah, ahli-ahli politik, ahli-ahli ekonomi, pembesar-pembesar dan lain-lain lagi. Apabila kita ambil sekalian kedua-duanya, barulah seimbang, kata mereka.
Bagi orang yang gila dunia, perkataan-perkataan seperti tadi sudah cukup memuaskan dan sudah memadailah untuk dijadikan hujah dan dalil untuk memburu dunia tanpa lagi memikirkan bagaimana caranya, bagaimana syarat-syaratnya, bagaimana cara mengambil sekalian kedua-duanya.
Bagi mereka percakapan yang seperti itu sudah dapat memuaskan hati. Tidak ada yang menyalahkannya. Maka mereka buru dunia dengan tidak berfikir halal dan haram. Tidak memikirkan mana cara yang benar dan bagaimana cara yang dibenarkan. Yang penting lakukan apa saja asalkan bisa mendapat keuntungan.
“Tuhan kan menyuruh kita mencari kekayaan? Asal jangan tinggalkan sembahyang!”
“Bulan puasa, kita puasa.”
“Sampai waktunya nanti, kita naik haji cukuplah.”
Bagi orang yang ingin mencari kebenaran tapi juga menginginkan kedua-duanya, itu masih keliru. Ucapan-ucapan itu masih bersifat umum. Mereka masih bingung karena huraiannya tidak ada. Tidak bisa dengan begitu saja. Harus ada cara-caranya. Harus ada syarat-syaratnya. Harus ada panduannya. Akhirat itu Akhirat yang bagaimana? Dunia pun dunia yang bagaimana. Itulah pendirian orang yang ikhlas yang ingin cari kebenaran. Mereka tidak menolak pandangan yang berpendapat bahwa dunia Akhirat itu seharusnya diambil sekalian kedua-duanya. Tapi perbincangan seperti itu, untuk mereka masih belum bisa untuk dijadikan tindakan. Takutnya nanti jatuh ke dalam kesalahan. Mereka mau ada penjelasan. Mereka mau ada panduan. Mereka memerlukan uraian/penjabaran yang jelas Jika mengambil keduanya secara melulu (terburu-buru/gegabah), itu bukan ajaran Islam. Islam mempunyai peraturan mengenai kedua-duanya. Islam adalah ajaran yang indah, selamat menyelamatkan. Kalau mengambil kedua-duanya harus ada caranya. Bila dalam melaksanakannya menyenangkan. Tidak ada was-was lagi. Kalau kita ingin menganalisa dan membaca keinginan-keinginan mereka yang tersirat dari hasil percakapan mereka seolah-olah mereka mengambil dunia atau Akhirat itu, yaitu mengambil kedua-duanya sekaligus ialah:
“Kita cari dunia sebanyak-banyaknya, tidak usah fikir halal dan haram. Tidak usah fikir bagaimana caranya. Lakukanlah apa saja dan buatlah cara apapun asalkan bisa mendapat keuntungan. Tapi jangan tinggal sembahyang, puasa, zakat, naik haji bila mampu. Itulah yang dimaksudkan dengan kehendak Hadist itu. Yaitu dunia harus dibuat, Akhirat pun mesti dibuat. Kita cari dunia tapi agama jangan ditinggalkan. Carilah kekayaan, buatlah kemajuan. Buatlah pembangunan tapi jangan tinggal sembahyang dan yang lain-lain seperti yang telah disebutkan tadi.”
Kalau kita terima begitu saja pandangan mereka itu, itu sangat berbahaya. Dia keliru dan mngelirukan. Nanti kita akan terjatuh ke lembah kesesatan. Memang kita disuruh mengimbangkan di antara dunia dan Akhirat. Atau kita memang menerima bahkan wajib menerima bahwa dunia dan Akhirat itu harus seimbang, atau agama dan dunia mesti seimbang. Kalau tidak seimbang di antara dunia dan Akhirat atau agama dan dunia, berarti kita akan terjebak kepada kesalahan dan kehilafan yang besar. Pada waktu itu agama akan rusak, dunia juga akan rusak. Kalau dunia akan rusak, Akhirat lebih-lebih lagi akan rusak. Oleh sebab itu keseimbangan di antara kedua-duanya amat diperlukan sekali.
Contohnya pada badan manusia saja , kalau keperluan makan minum tidak seimbang, yaitu jenis-jenis apa saja yang dimakan untuk keperluan dan kesehatan tubuh dan badannya, niscaya badan tidak akan sehat. Dia akan menjadi masalah pada badan. Badan akan berpenyakit. Mungkin bermacam-macam penyakit akan menyerangnya.Begitu jugalah keseimbangan di antara dunia dengan Akhirat atau di antara agama dengan dunia harus ada. Kalau tidak, pasti akan terjadi kerusakan.
Kalau tidak terjadi pada kedua-duanya sekalian, maka akan terjadi salah satunya. Oleh sebab itu keseimbangan itu perlu diperjuangkan di antara dunia dan Akhirat agar dunia selamat, Akhirat pun selamat.
Memang agama Islam itu, kalau dapat difahami dan mampu mengamalkannya, dia akan membawa pada keselamatan dunia dan Akhirat. Di sinilah keistimewaan ajaran Islam yang tidak ada pada agama lain.
Apabila kita telah dapat menerima bahawa dunia Akhirat mesti seimbang atau agama dan dunia itu mesti seimbang, bagaimana hendak mengimbangkannya? Apa maksud dari seimbang di antara dunia dan Akhirat? Apakah maksud seimbang di sini? Kalau menurut ukuran bilangan, kalau satu sama-sama satu. Kalau dua, sama-sama dua. Atau kalau ia jenis yang dapat diukur untuk dibagi seimbang, kalau satu kaki itu hendaknya kita bagi sama-sama enam inci. Atau kalau dua orang yang berkongsi dagang, mereka mengeluarkan modal yang sama banyaknya, kemudian apabila mendapat untung dua ratus rupiah, maka hendaknya setiap orang mendapat seratus rupiah? Atau kalau barang yang akan ditimbang yang beratnya satu kg maka batu timbangannya harus satu kg juga beratnya. Barulah ia seimbang. Ya! Kalau terjadi kepada benda sama benda. Jenisnya sama seperti yang disebutkan di atas tadi, yang sama jenis maka kita bisa dan dapat menerimanya.
Kalau ukuran panjang, akan di bagi, maka haruslah sama panjangnya. Jangan sampai ada yang lebih, ada yang kurang. Dia jadi tidak seimbang. Kalau jenis timbangannya sama beratny, Begitulah seterusnya.
Kemudian, apakah yang dimaksud dengan seimbang di antara dunia dan Akhirat, atau di antara agama dengan dunia itu seperti ukuran benda-benda tadi? Kalau kita kata ya, tanggapan itu adalah satu kesalahan atau kehilafan, karena kedua persoalan yang hendak diseimbangkan ini tidak sama sifatnya. Dunia adalah alam syahadah atau alam benda atau alam fisik. Sedangkan Akhirat adalah alam ghaib yang waktunya tidak terbatas. Alam
syahadah yaitu dunia ini waktunya terbatas atau ada keakhirnya.
Agama, ia bersifat maknawiyah dan rohaniah sedangkan dunia bersifat maddiah yaitu fisikal dan material. Maknawiah dan rohaniah dapat ditangkap dan dirasakan oleh akal dan jiwa atau roh, sedangkan dunia yang bersifat maddiah itu dapat dirasa oleh mata dan sentuhan lahir. Dia bersifat hissiah, dan kalau begitu kedudukannya, kedua-duanya tidak sama. Satu bersifat material atau maddiah dan yang satu lagi bersifat maknawiah dan rohaniah. Dua perkara ( persoalan) yang tidak sama ini akan diseimbangkan, mana yang dapat digunakan dengan mengikut hukum logik atau mana yang dapat diukur menggunakan teori ilmu akal atau ilmu mantik. Kalau kita lakukan juga, ini sangat tidak tepat. Dia merupakan satu kesalahan yang besar. Satu kesilapan yang akan berakibat pada kerusakan yang besar sekali. Dia akan merusakkan peranan agama itu sendiri.
Oleh sebab itu kalau hendak mengimbangkan di antara dunia dengan Akhirat atau di antara agama dengan dunia, harus berhati-hati. Pada dunia ada campur tangan manusia, tapi agama, manusia tidak dapat campur tangan langsung. Dia adalah hak mutlak Allah Taala. Oleh sebab itu sekali lagi saya katakan berhati-hatilah.
Karena demikian itu maka disini apakah yang dimaksud dengan seimbang ? Dan bagaimana hendak menyeimbangkannya di antara dua persoalan yang berlainan sifatnya itu? Adakah ia berbeda di antara satu sama lain? Atau satu sama lain itu terserap menjadi satu? Kalau kedua-duanya bersifat material atau fisikal tentu dapat dilihat. Tapi satu bersifat material, kelihatan dan bisa dirasakan dan satu lagi bersifat maknawiah dan rohaniah, tidak kelihatan oleh mata dan tidak dapat dirasa oleh sentuhan karena dia bukan bersifat hissiah. Kalau kelihatan atau dapat dilihat maka mudah dan suka untuk menyukat (membedakan) sejauh mana yang dikatakan seimbang itu.
Pada pandangan dan pendapat saya, arti seimbang di antara dunia dan Akhirat atau di antara agama dengan dunia itu ialah, setiap usaha atau perjuangan yang akan dibangun baik bersifat material maupun fisikal, seperti bidang pembangunan, ekonomi, kebudayaan, militer, pertanian, perhubungan dan lain-lain lagi, hendaklah Islam sebagai panduan pendisiplinnya atau dia tidak bisa lari dari keterikatannya dengan tauhid dan syariat Islam atau Islam menjadi penyelarasnya.
Sebagai contoh:
Pertama: Niat.
Niat membangun projek atau tujuan projek itu dibuat hendaklah karena Allah Taala, yang mana Allah Taala menyuruh membuat untuk kepemimpinan manusia.
Kedua:
Persoalan yang hendak dilakukan itu memang dibenarkan atau diwajibkan oleh Islam seperti membuat jalan raya atau bangunan kantor . Bukan bangunan tempat judi atau tempat arak atau diskotik tempat bergaul bebas antara laki-laki dan perempuan.
Ketiga:
Pelaksanaannya harus betul. Seperti duitnya dari hasil yang halal, tidak boleh terjadi korupsi di situ atau bahan-bahannya harus dari yang halal.
Keempat:
Membangun projek itu jangan sampai meninggalkan ibadah yang asas yaitu jangan sampai tertinggal atau mengabaikan Rukun Islam yang lima. Terutama sholat lima waktu. Artinya janganlah karena membangun, sampai meninggalkan sholat.
Kelima:
Dipergunakan secara betul seperti digunakan untuk kantor, tempat sholat, tempat pendidikan, tempat pertemuan, benteng pertahanan, untuk menerima tamu, tempat perdangan dan lain-lain yang jelas tidak bertentangan dengan Islam.
Lima syarat tadi itulah agamanya atau Islamnya atau Akhiratnya. Dia telah menjadi pendisiplin di dalam membangun dunia tadi, yaitu projek itu. Maka pada dunia tadi ada Akhiratnya, yaitu lima syarat itu. Dunia tadi telah ‘beragama’ atau dengan kata-kata lain projek-projek dunia tadi telah jadi Islam atau telah di-Islamkan, karena projek yang bersifat dunia itu telah memenuhi syarat-syarat yang Islam kehendaki.
Kalau begitulah keadaannya, projek-projek tadi telah menjadi dunia dan Akhirat. Itulah juga agama, dan itu juga dunia.Yang berusaha membangun projek itu mendapat dua keuntungan, yaitu keuntungan dunia dan keuntungan Akhirat. Dunia pun menjadi maju, karena projek tadi dapat dimanfaatkan di dunia. Dan dapat keuntungan Akhirat, karena mengikut lima syarat itu diberi pahala di Akhirat dengan Syurga, yaitu untung yang maha besar lagi kekal abadi.
Jadi seandainya kita faham ajaran Islam dan tidak buruk sangka dengannya dan mau bersungguh-sungguh mengamalkannya dan kita jadikan Islam sebagai pengawal, maka apa lagi yang hendak ditakutkan dengan Islam.
“Nanti kalau ikut Islam mundur, kita akan ketinggalan, kita tidak maju.” Fikiran seperti ini seharusnya tidak timbul, kalau kita mengikut ajaran Islam, dunia yang kita bangun itu benda juga. Itul juga yang hendak jadi dunia sahajakah, atau itu jugalah yang hendak jadi kedua-duanya sekaligus yaitu dunia dan Akhirat, atau agama dan dunia.
Apabila lima syarat tadi jadi pendisiplin, maka usaha kita itu walau di bidang yang manapun ia menjadi dunia Akhirat, atau agama dan dunia. Bukan terpisah. Bukan terasing seperti yang banyak difaham oleh umat Islam selama ini, maka seimbanglah sudah di antara dunia dan Akhirat atau agama dengan dunia.
Jika sekiranya lima syarat tadi tidak diperdulikan, usaha kita itu jadi dunia semata-mata. Kalau pun tidak ada unsur- unsur yang menyebabkan kita berdosa tapi sayang dan rugilah usaha kita itu tidak mendapat pahala apa-apa. Hanya mendapat untung di dunia saja. Tidak sampai mendapat keuntungan di Akhirat. Maka tidak seimbanglah usaha kita itu. Hanya jadi dunia semata, tidak mendapatakan Akhirat.
Oleh karena demikian maka timbul, ambil dunia tinggal akhirat, ambil Akhirat, tinggal dunia. Sedangkan persoalannya satu, kecuali ibadah asas. Apa yang saya katakan itu cukuplah saya datangkan satu contoh. Kalau kita faham, kiaskanlah saja usaha-usaha dan perjuangan kita itu di aspek-aspek yang lain.

Jangan terpesona dengan dunia...


بسم الله الرحمن الرحيم

Sahabat yang dimuliakan...

Dunia ini satu masa nanti akan musnah, jadi apalah gunanya kita mengejar dunia setelah kita tahu bahawa akhirat sahaja yang kekal. Orang yang mengejar dunia iaitu mencari harta dunia dan mencari pangkat dan kedudukan sekiranya ia melupakan akhirat semasa ia mencarinya dan tidak peduli halal atau haram atau merampas hak orang lain sebenarnya ia sedang dikuasai oleh dunia dan akan hanyut dibawa arus kebinasaan. Tetapi sekiranya seseorang mencari harta di dunia ini dengan mengikut peraturan Allah S.W.T., tidak melupakan kewajipan terhadap~Nya, tidak menipu, menindas, mengambil rasuah dan tidak mengambil hak orang lain maka harta itu akan membawa keberkatan dan disalurkan pula harta itu untuk zakat, sedekah jariah, infak di jalan Allah dan membantu fakir miskin maka harta itu sebagai alat yang akan membantunya mendapat keredhaan Allah dan akan menjadi saham akhirat.

Daripada Abu Hurairah r.a. berkata, bersabda Rasulullah s.a.w., "Akan datang suatu zaman seseorang tidak memperdulikan dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari sumber yang halal atau pun haram." [H.R. Muslim]

Orang yang bijak adalah orang yang merasai bahawa hidup di dunia ini adalah sementara saja, ia tidak buru dunia siang malam hingga melupakan amal soleh, amal ibadah dan melaksanakan amanah dan tanggungjawabnya sebagai hamba Allah S.W.T. di muka bumi ini. Sebab ia tahu satu hari nanti ia akan mati dan meninggalkan dunia yang fana' ini. Ia akan meninggalkan anak-anak, isteri-isteri, rumah, kenderaan, ladang-ladang pertanian, saham-saham dan gedung-gedung perniagaan. Bila mati hanya yang dibawa bersama adalah amal soleh yang telah dikerjakan semasa di dunia dulu.

Jika sekiranya seseorang itu masih memikirkan cara-cara untuk mendapatkan kebendaan dunia tanpa mendekatkan diri kepada Allah S.W.T., melupakan solat dan zikir kepada~Nya, maka tidaklah ada makhluk Allah yang paling rugi adalah insan sepertinya kerana setiap apa yang Allah ciptakan itu baik tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang atau apa sahaja makhluk ciptaan Allah semuanya berzikir memuji kebesaran Allah. Jadi siapakan makhluk yang paling rugi? Tidak lain melainkan manusia itu sendiri.

ALLAH berfirman yang bermaksud: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kamu, (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah kamu (kepada orang lain) seperti mana Allah berbuat baik kepada kamu dan janganlah kamu berbuat kerosakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerosakan.” [QS al-Qasas : 77]

Ingatlah! Hiduplah cara Islam, cara yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w. Jangan mengikut cara lain selain dari Islam. Selain cara Islam semuanya adalah penipuan ke atas manusia. Orang yang mengaku Islam tetapi tidak mengamalkan Islam adalah mereka itu orang-orang yang tidak redha kepada apa yang telah Allah S.W.T. tetapkan. Dan bagi mereka yang tidak redha kepada perintah Allah maka sudah semestinya mereka itu berasa malu sebab masih menduduki di bumi Allah dan hendaklah mereka itu tidak memakan sesuatu pun yang keluar dari bumi Allah.

Sahabat yang dikasihi, janganlah tangguh lagi, segeralah bertaubat kepada Allah dan lakukanlah ketaatan kepada~Nya kerana ajal itu tidak ada tarikh atau masa yang tetap yang kita ketahui, semuanya menjadi rahsia Allah. Umur muda bukan dan tidak sekali-kali menjamin kita hidup hingga umur yang tua, maut itu adalah seperti telur dihujung tanduk.

Apabila sudah sampai saat dan masanya ajal, maka kita akan bertemu Allah di alam barzakh dan segala jawapan yang akan diberikan nanti adalah amalan yang kita kerjakan ketika di dunia ini. Jika banyak amalan yang baik maka amalan tersebut akan tolong memberi jawapan dan sebagai peguam bela, tetapi jika amalan keburukan yang banyak maka tidak ada siapa yang dapat membantunya dan terimalah balasan azab siksa kubur yang amat dahsyat.

Yang amat malang lagi selepas alam barzakh ada alam lain yang lebih dahsyat siksaan dan penderitaan yang akan ditanggung iaitu di Padang Mahsyar dan siksaan api Neraka Jahannam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati dunia dengan firman~Nya, “...Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” [QS Al-Mukmin: 39]

Oleh itu marilah kita muhasabah diri kita sendiri, ambillah dunia seadanya dan salurkanlah apa yang ada di dunia ini untuk akhirat dan perbanyakkan amal ibadah sebagai bekalan kita untuk bertemu Allah S.W.T. nanti.

Wallahu'alam

Bahagia di Dunia, Mulia di Akhirat

Sebaliknya, orang yang orientasinya dunia belaka, hidupnya akan berantakan
Bahagia di Dunia, Mulia di Akhirat


SIAPA yang tidak ingin hidup bahagia di dunia? Seluruh manusia tentu sangat mendambakannya. Tetapi, sebagai Muslim, tentu saja tidak sekedar berharap bahagia di dunia, tetapi juga mulia di akhirat. Inilah harapan terdalam dari sanubari setiap insan beriman.
Akan tetapi, di era yang umat Islam terhegemoni oleh peradaban materialisme, tidak sedikit dari kalangan umat Islam yang mengalami disorientasi, sehingga iman di dadanya tidak lebih dari sekedar penguatan ritual semata. Belum sampai pada penguatan iman yang sesungguhnya, yakni bagaimana sejatinya hidup di dunia ini yang sesuai dengan tuntunan-Nya.
Akibatnya jelas, perselisihan, pertengkaran dan permusuhan masih acapkali mewarnai kehidupan umat Islam sendiri. Bahkan tidak jarang terjadi di kalangan para pemimpin. Mungkin wajar dari sisi kemanusiaan, dimana manusia memang sering salah dan lupa. Tetapi sangat tidak relevan jika melihat secara mendalam bagaimana semestinya seorang Muslim hidup di dunia ini.
Jika memang sama-sama memiliki keinginan hidup bahagia di dunia dan mulia di akhirat, tidak mungkin seorang Muslim akan bertindak ceroboh atau gegabah dalam kehidupan sehari-harinya. Apalagi sampai melukai atau menjatuhkan orang lain dengan maksud-maksud yang tidak semestinya.
Apabila hal itu terjadi, maka bisa dipastikan bahwa dunia telah menjadi orientasi yang menjadikannya kehilangan kendali untuk mempersiapkan diri bagi kemuliaan hidupnya di akhirat. Dan, inilah sejatinya biang dari seorang Muslim tidak benar-benar mampu menampilkan imannya dalam konteks yang lebih nyata dalam pola pikir, tindak-tanduk ataupun perilakunya.
Boleh jadi masih mendirikan sholat, membaca kitab suci. Tetapi, orientasi yang mewarnai pemikiran dan rasa jiwanya tidak lebih dari sekedar urusan kesenangan dunia semata. Orang yang demikian, biasanya akan sangat mudah menjatuhkan vonis yang menyengsarakan bila ia pemimpin. Akan mudah memutus silaturrahim dan sangat gemar membicarakan kekurangan saudara seimannya.
Jika ini terjadi pada diri seorang Muslim, bukankah ini akan menciderai kemuliaan ibadah yang dilakukannya. Bahkan mungkin tidak sekedar menciderai tetapi akan menghanguskannya. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak sepatutnya menjadikan kehidupan dunia ini sebagai tujuan. Kembalilah pada ajaran Islam, jadikan dunia sebatas sarana meraih kebahagiaan hakiki.
Akhirat yang Utama
Dalam logika manusia, untuk bahagia di dunia maka harus melakukan banyak usaha untuk kesenangan pribadinya, selagi masih hidup. Logika ini sepintas benar, tetapi sesat. Mengapa? Jika memang demikian adanya, Allah tidak perlu mengutus Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wasallam membimbing umat manusia. Artinya, logika itu salah.
Al-Qur’an telah memberikan bukti sejarah akan hal tersebut. Bagaimana orang yang berkuasa dan kaya ternyata harus mati dalam kondisi mengenaskan lagi terhina. Termasuk kehidupan kaum-kaum terdahulu, yang sangat gagah, canggih, modern, tetapi akhirnya binasa seketika.
Jelas, mereka memiliki kekuatan materi di dunia, tetapi mereka tidak bahagia. Sebaliknya, para Nabi dan Rasul, kecuali Nabi Sulaeman Alayhissalam, seluruhnya hidup biasa-biasa saja. Namun, mereka sangat bahagia. Bahkan Allah menyebut mereka semua yang mulia itu sebagai orang-orang yang beruntung. Mengapa demikian?
Ternyata hal ini Rasulullah Shallallahu Alayhi wasallam terangkan dalam satu haditsnya. “Barangsiapa yang kehidupan akhirat menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah akan meletakkan rasa cukup di dalam hatinya dan menghimpun semua urusan untuknya serta datanglah dunia kepadanya dengan hina. Barangsiapa yangkehidupan dunia menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah meletakkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan menceraiberaikan urusannya dan dunia tidak bakal datang kepadanya, kecuali sekedar yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmidzi).
Artinya, Allah akan memberikan rasa puas di dalam hati seorang Muslim yang memang benar-benar mengutamakan akhiratnya, sehingga ia tidak pernah digempur oleh perasaan kurang, sehingga terus-menerus ingin menambah perbendaharaan hartanya dengan bersusah payah, sampai lupa waktu, lupa saudara dan lupa persaudaraan.
Ia merasa cukup, dan merasa cukup itulah kebahagiaan sesungguhnya.
Namun perlu digarisbawahi, bukan berarti orang yang merasa puas dengan dunia lantas hidup santai dan berleha-leha dengan alasan mengejar akhirat. Figur penting akan hal ini lengkap pada seluruh sosok sahabat Rasulullah Shallallahu Alayhi wasallam.
Umar Radhiyallahu anhu misalnya, beliau sebagai pemimpin tidak pernah berpikir harta untuk keluarganya. Namun demikian, tanggungjawabnya terhadap keadaan umat Islam, sampai sekarang tidak ada yang menandinginya. Demikian pula halnya dengan Abu Bakar, Utsman dan Ali Radhiyallahu anhum. Dan, sangat tidak mungkin para sahabat itu hidup tidak bahagia, mereka bahkan sangat bahagia dan tentu, sangat mulia di akhirat-Nya.
Sebaliknya, orang yang orientasinya dunia belaka, hidupnya akan berantakan. Dalam bahasa Ath-Thayyibi mereka adalah orang yang ”Jama’allaahu syamlahuu.” Artinya, urusannya tidak terhimpun rapi.
Mungkin inilah yang dialami oleh para koruptor, dimana mereka berharap hidup bahagia dengan menghimpun banyak harta, tetapi karena caranya salah alias melanggar hukum, justru di masa tua mereka hidup di balik penjara. Itu belum di akhirat.
Dengan demikian, mari kita kembali kepada ajaran Islam. Karena hanya ajaran Islam inilah yang secara nyata akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan kemuliaan di akhirat. Jangan korbankan iman kita karena dunia. Tetaplah jalin dan jaga silaturrahim, maafkanlah orang yang bersalah bahkan yang menganiaya kita, insya Allah ridha-Nya akan menjadikan kita bahagia tiada tara. Wallahu a’lam.*
Rep: Imam Nawawi

Hidup di Dunia Hanya Sementara dan Akhirat Adalah Tempat Yang Kekal Abadi

أًلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad S.A.W. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Betapa ramai manusia menjadi lupa daratan. Betapa ramai manusia menjadi ingkar. Betapa ramai manusia tidak dapat bersyukur. Betapa ramai manusia menjadi derhaka dan berkhianat. Mereka melupakan tujuan hidupnya ketika di dunia dan hanya mengejar kenikmatan dunia . Dunia yang dikejar akan berakhir. Tempat manusia hidup. Tempat manusia memuja kenikmatan. Semuanya menjadi sia-sia belaka.

Kehidupan di dunia merupakan permainan dan senda gurau. Ada kalanya menang ada kalanya kalah. Susah dan senang silih berganti. Senangnya merupakan kesenangan yang menipu, sedihnya merupakan kesengsaraan sementara. Itulah di namakan kehidupan di alam fana. Sungguh berbeda dengan kehidupan sejati dan abadi di akhirat  nanti. Barangsiapa senang, maka ia akan selamanya senang (Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan ini). Barangsiapa menderita, maka ia akan menderita selamanya (na’udzu billahi min zalik).

Al-Quran menyebutkan bahawa kehidupan di dunia tidak lebih hanya main-main dan senda gurau semata:

Firman Allah SWT maksudnya : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Surah Al-An'Am ayat 32)

Firman-Nya lagi yang bermaksud : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (Surah Al-Ankabut ayat 64)

Firman Allah SWT maksudnya : "Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu." (Surah Muhammad ayat 36)

Apabila kalian merasai kesukaran dan menghadapi banyak masaalah hidup di dunia ini, janganlah berputus asa dan rasa kecewa kerana sesungguhnya Allah SWT adalah tempat bergantung dan tempat di letakkan sepenuh pengharapan. Berdoalah bersungguh-sungguh kepada-Nya.

Bersabda Rasulullah Sallallahu ’Alaih Wa sallam: “Doa orang yang sedang menderita (kesedihan yang mendalam) ialah: "Ya Allah, RahmatMu aku harapkan, janganlah Engkau serahkan segala urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, perbaikilah segala urusanku, tiada Ilah yang berhak disembah selain Engkau.” (HR Abu Dawud)

Sahabat yang dimuliakan,
Dalam kehidupan ini ada bertingkat-tingkat tentang kenikmatan dunia. Manusia berlumba-lumba  mengejar, hingga kepayahan, dan umurnya habis, dan hidupnya tersungkur, hanya diarahkan mengejar kenikmatan dunia. Tak ada kenikmatan yang sejati. Kenikmatan yang diinginkan manusia dalam kehidupan itu hanyalah kenikmatan yang semuanya hanya ilusi. Khayalan dari manusia yang sudah menjadi tabiat hidupnya hanya untuk kenikmatan dan kemegahan.

Ketahuilah, sesungguhnya kenikmatan yang teragung dan terbesar, iaitu kenikmatan yang dirasai sepenuhnya di hari akhirat nanti. Kenikmatan akhirat itulah yang akan membawa hamba kepada kemuliaan yang kekal. Kerana itu, hakikatnya seorang mukmin, tidak mengejar kenikmatan dunia, yang tidak memiliki keuntungan apa-apa melainkan sedikit sahaja, dibandingkan dengan kenikmatan berupa kemuliaan disisi Allah Azza Wa Jalla.

Tidak ada maknanya kenikmatan dan kelazatan dunia seisinya, yang boleh membuat manusia menjadi lupa dan mabuk, sehingga terlena dengan kehidupan dunia. Kehidupan manusia yang sudah mabuk dunia itu, menjadi sujud, rukuk, dan ibadahnya hanya untuk memenuhi rasa kenikmatan dunia.

Hanyalah orang-orang mukmin, yang layak mendapatkan kenikmatan yang sejati, kerana pahala yang akan dikurniakan oleh Allah Rabbul alamin, sentiasa mengalir, ketika mereka makan, minum, berpakaian, tidur, terjaga, dan dalam perkahwinannya, dan semua amal mereka semata hanya diarahkan untuk mendapatkan reda-Nya. Tidak mencari reda selain-Nya. Apalagi, hanya ingin mendapatkan reda kepada manusia lainnya, yang dapat memberinya kenikmatan dunia. Itu bukan sifat mukmin yang hakiki.

Orang-orang mukmin kerinduan hanya pada kenikmatan atas keimanannya, ibadahnya, kerinduannya hanya kepada Allah Azza Wa Jalla. Ketahuilah, sesungguhnya kenikmatan dunia itu, selalu akan menghalangi seseorang memperoleh kenikmatan akhirat dan bahkan mengantarkan dirinya kepada seksa neraka. Manusia yang matlamat hidupnya kepada kenikmatan dunia, akhirnya menjadikan harta-benda, pangkat, kekuasaan, dan makhluk-makhluk, serta berbagai bentuk berhala-hala, yang menyerupai tuhan, menjadi arah dan tujuan hidup mereka. Seakan semua yang ada itu, mampu memberikan kenikmatan kepada manusia yang bersifat kekal. Karena itu, ketika diakhirat mereka saling mencerca dan menyalahkan.

Firman Allah SWT dalam al-Quran yang maksudnya : "Dan kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata; 'Ya Tuhan, kami telah saling mendapatkan kesenangan, dan sekarang waktu yang telah Engkau tentukan buat kami telah datang.' Allah berfirman.'Nerakalah tempat kamu selama-lamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain.' Sesungguhnya, Tuhanmu Maha Bijaksana, Maha Mengetahui. Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan”. (Surah al-An’aam  ayat 128-129).

Kelazatan dan kenikmatan orang yang berbuat zalim dan keji merupakan istidraj (pemberian daripada Allah SWT dalam keadaan Dia murka), yang diberikan Allah SWT agar mereka merasakan seksa yang lebih berat dan mereka akan terlarang untuk merasakan kenikmatan yang paling agung. Seperti orang yang meletakkna makan yang lazat dan diletakkan racun kedalamnya, agar orang yang memakannya mati secara peralahan-lahan.

Allah SWT berfirman maksudnya  : "Kelak akan Kami hukum mereka beransur-ansur dari arah yang tidak mereka mengetahui. Dan Aku memberi tangguh waktu kepada mereka. Sesungguhnya , rencana-Ku sangat teguh (inna kaidi matin)." (Surah al-Qalam ayat 44-45).

Sebagian ahli tafsir menafsirkan 'inna kaidi matin' (rencana-Ku sangat teguh), maksudnya adalah setiap kali mereka melakukan dosa, maka Kami akan memberikan nikmat kepada mereka. Itulah bagi orang-orang yang hidupnya hanya mengejar kenikmatan dunia.

Sebaliknya, seorang yang sangat takut dengan kehidupan dunia, dan hidupnya zuhud dan warak, ketika meninggalkan rombongan malaikat suci, hamba-hamba Allah yang sangat dekat kepada-Nya, datang menjemputnya menuju ke tempat yang  kekal abadi untuk selama-lamanya iaitu syurga Allah  SWT yang tertinggi bernama Syurga Firdaus.

Firman Allah SWT maksudnya : “Kebahagiaan di kampung akhirat itu Kami sediakan hanya bagi mereka yang tidak suka menyombongkan diri dan melakukan kerosakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. (Surah al-Qashash  ayat  83).

Sahabat yang dikasihi,
Marilah sama-sama kita jadikan kehidupaan di dunia ini sebagai medan untuk kita beramal dan menyediakan persiapan kita menuju alam akhirat. Tidak mungkin kita akan tenang dan berbahagia apabila membawa bekalan yang sedikit dan tidak berkualiti pula apabila menuju perjalanan yang jauh iaitu ke alam barzakh dan alam akhirat . Janganlah sia-siakan masa, umur, tenaga dan kekayaan  yang kita miliki tanpa kita membuat pelaburan untuk bekalan kita di sana, ketika itu apa yang akan menjadi pertukaran adalah amal-amal soleh, amal ibadah, amal kebajikan yang kita lakukan di dunia ini semata-mata kerana Allah SWT. Renungkanlah dan bertindak segera tanpa ditangguh-tangguhkan lagi.

Bahagia Di Dunia dan Akhirat

  | 08 May 2013 | 20:35
“Manusia kadang lupa untuk berbahagia hingga akhirnya salah jalan dan hidup dalam kesengsaraan”.
Ironis memang,karena tidak ada yang menyuruh manusia untuk hidup susah,menderita dalam kesengsaraan. Baik itu sengsara lahir maupun batin.
Tapi,walaupun tidak ada yang menyuruh manusia untuk hidup sengsara tapi kenapa begitu banyak wajah-wajah manusia yang terlihat susah.
Banyak jawaban yang bisa ditemui dari pertanyaan di atas,kenapa bahagia hilang sengsara datang padahal kita tak pernah mengundang.
Namun sejauh yang saya pahami,penyebabnya hanyalah karena manusia lupa untuk berbahagia.
Bukankah pada dasarnya semua manusia ingin hidup bahagia di dunia,bahkan manusia yang beriman ingin hidup di dunia dan juga di akhirat. Namun kenapa manusia malah sengsara? Bukankah secara jelas manusia lupa akan doanya,keinginannya untuk hidup bahagia.
Saat manusia lupa untuk bahagia,akibatnya manusia akan mencari-cari jalan kebahagiaan yang dianggapnya bisa membuat bahagia. Manusia lupa tentu saja mirip penjudi,dimana bila benar dia bahagia dan bila salah mau tak mau harus menderita.
Ternyata jalan kebahagiaan itu sangat sederhana,tinggal ingat saja bahagia saat itu juga bahagia datang.
Jadi kunci kebahagiaan terletak pada apa dan siapa yang diingat saat bahagia.
Bila saat bahagia yang diingat adalah uang,maka begitu tak punya uang seketika derita datang.
Bila bahagia yang diingatnya istri yang cantik jelita,maka saat istrinya sudah tak muda lagi ingin kawin lagi.
Bila bahagia yang diingatnya mobil mewah ala borjuis,maka bila mobilnya dicuri seketika air mata menemani.
Bila cuma ingin bahagia di dunia,ingat saja pada dunia walau resikonya dunia ini fana
Namun bila ingin bahagia di dunia dan akhirat,selalu ingat dengan yang kekal,baqo dan abadi selama-lamanya.
Salam lupa-lupa ingat …

Tiada ulasan:

Catat Ulasan