Selasa, 19 Julai 2011

BILA SYOK SENDIRI...JAHIL AGAMA...TAK INGAT AKHIRAT....SUSAH GAK...TAK TAHU APA NAK JUANGKAN...JANGAN KITA JADI JAHIL MURAKAP

Bekas pelajar bantah anugerah Ibrahim Ali
Nazri Abdullah

KUALA LUMPUR, 19 Julai: Bekas pelajar Uiniversiti Teknologi Mara (UiTM) membantah tindakan universiti itu yang mahu menawarkan Anugerah Ibrahim Ali kepada pelajar cemerlangnya.

Dalam satu surat kepada Harakahdaily, seorang alumni kampus itu, Hatri Asmawi berkata tindakan menerima anugerah itu hanya akan memburukkan nama universiti itu sahaja.

Ia memandangkan latar belakang dan perjuangan Ibrahim Ali yang terlalu ekstrim, mementingkan bangsa tanpa memperdulikan sensitiviti kaum lain.

"Sebagai seorang alumni UiTM yang prihatin, saya amat tidak bersetuju jika anugerah ini diteruskan.

"Sekiranya anugerah ini diberitakan, graduan UITM lain akan menjadi mangsa kepada diskriminasi akibat dari anugerah dari seorang rasis," katanya.

(Gambaran kartunis terhadap anugerah Ibrahim Ali)

UiTM semalam dilaporkan membuka pencalonan bagi Anugerah Ibrahim Ali kepada pelajar yang membuktikan komitmen dan sumbangan mereka dalam memartabatkan bangsa Melayu.

Anugerah berkenaan menawarkan wang RM5,000 yang ditaja oleh presiden pendesak Melayu, PERKASA itu sendiri kepada dua orang pelajar cemerlang yang mempunyai prisip yang jelas dan konsisten memartabatkan bangsa.

Masing-masing mereka akan mendapat RM2,500.

Antara kriteria lain pelajar tersebut:

-Menjadi pemimpin persatuan yang berdaftar dengan Bahagian Hal Ehwal Pelajar & Alumni seperti persatuan kebudayaan, kesenian Melayu atau persatuan kebangsaan lain yang dianggap cemerlang dan berkesan di dalam atau di luar kampus.

-Menjadi pemimpin atau jawatankuasa yang memperjuangkan bangsa dan budaya di luar kampus seperti GPMS, ABIM, PERKASA, GAPENA.

-Mendapat pengiktirafan dari badan-badan di luar UiTM.

Difahamkan idea anugerah ini datang daripada Ibrahim sendiri.

Mengulas lanjut, Hatri berkata tindakan itu juga akan mencemarkan visi dan misi UiTM sebagai sebuah institusi yang mengeluarkan pelajar-pelajar yang berbilang bangsa dan agama yang mementingkan muhibah sesama kaum dan sesama rakyat Malaysia.

"Anugerah ini juga akan menyebabkan institusi UiTM akan dipandang serong oleh industri-industri domestik yang selama ini memandang tinggi graduan UiTM yang serba boleh dan berprestij tinggi.

"Saya berharap usaha yang keras perlu dilakukan untuk menghalang anugerah ini dari diteruskan," tegasnya.


Tanya:

“Di antara bunyi Proklamasi N I I didapat kata-kata “Kami ummat Islam Bangsa Indonesia”. Dari itu apa perbedaan antara pengertian jiwa kebangsaan yang disebut “ashobiyyah” dengan pengakuan sebagai bangsa ?”

Jawab:

Jiwa kebangsaan yang disebut ashobiyah ialah yang mengandung arti cinta terhadap satu bangsa, hanya karena sebangsa dengan dirinya, tanpa memperdulikan salah atau benar. Jadi, orang yang berperang membela kebangsaan (Ashobiyah), artinya bahwa yang menjadi dasar utama bagi dirinya berperangnya itu ialah karena bangsanya sedang berperang dengan bangsa lain, sehingga dirinya berpihak kepada bangsanya itu dengan tidak memperdulikan mana yang salah dan mana yang benar. Dalam arti lain bahwa berperang nya itu bukan karena membela kebenaran (hukum) dari Allah. Pengertiannya, meskipun bangsanya itu dalam posisi yang salah, namun tetap dibela, karena satu bangsa. Sebaliknya, walaupun dalam posisi yang benar (haq), namun karena tidak sebangsa, maka diperanginya. Itulah yang dimaksud “Ashobiyah”.

Maka, pantaslah mereka yang telah berperang mengusir bangsa asing, merasa puas walau hasilnya masih saja hukum-hukum kafir warisan bangsa asing. Hal itulah yang dimaksud oleh hadist mengenai yang mati karena Ashobiyah. Perhatikan sabda Nabi Saw:

ليس منا من دعا الى عصبيه.وليس من قاتل على عصبيه.وليس منا من مات على عصبية (رواه ابو داود)

“Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada kebangsaan. Dan bukan pula dari golongan kami orang yang berperang karena kebangsaan. Dan tidak juga termasuk golongan kami yang mati karena kebangsaan.” (HR Abu Daud).

Adapun “pengakuan sebagai bangsa”, yaitu sekedar menyatakan diri sebagai salah satu dari bangsa yang ada. Hal sedemikian merupakan keharusan dengan tujuan menjelaskan. Sebab, tidak benar sebagai Bangsa Indonesia jika mengakukan dirinya Bangsa Belanda atau bangsa lainnya.

Soal pengakuan sebagai bangsa diantara banyak bangsa dijamin keberadaannya. Sebagaimana dikemukakan dalam ayat yang bunyinya:

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”_(Q.S.49:13).

Dari ayat di atas itu dimengerti bahwa adanya pengakuan sebagai bangsa supaya bangsa lainnya mengenal, atau bisa saling kenal mengenal adalah suatu kepastian. Dalam ayat itu disebutkan bahwa ukuran yang paling mulia adalah taqwanya kepada Allah. Dengan demikian tidak boleh salah atau benar adalah bangsa sendiri lalu dibela. Kalau asal bangsa sendiri biar salah lalu dibela, maka itulah Ashobiyah.

BERSATULAH DENGAN ISLAM BUKAN DENGAN ASHOBIYAH ( NASIONALISME )


‘Aku sedih membaca dan mendengar realita ini’..

Bahwa:

sebagian saudara seimanku telah menjadikan saudara seiman mereka sebagai musuh. Dan menjadikan musuhNya sebagai temannya. Semua ini diakibatkan oleh hasutan musuh-musuh Allah pd umat Islam untuk rela hidup dan mati bukan demi ALLAH melainkan demi ‘ASHOBIYAH’ (nasionalisme,kesukuan,kelompok-isme).

Benar apa sabda Rasulullah,

” Kelak umat lain akan mengerumuni kalian seperti orang-orang kelaparan yang mengerumuni hidangan”. Salah seorang sahabat bertanya,” apakah ketika itu jumlah kami sedikit yaa Rasul?”. Rasul menjawab,”Tidak! Ketika itu jumlah kalian banyak namun kalian bagaikan buih di lautan. Allah melenyapkan rasa takut dari musuh-musuh kalian,dan menumbuhkan WAHN ke dalam hati kalian”. Seorang sahabat bertanya,”Apa itu WAHN yaa Rasul?”. Rasul menjawab,”Cinta dunia takut mati”..” (HR Abu Dawud & Ahmad)

Salah satu senjata ampuh musuh-musuh Allah untuk membunuh rasa persaudaraan umat Islam adalah faham beracun bernama NASIONALISME. Faham ini telah berhasil membuat kaum nasionalis Arab memberontak dan memerangi khilafah Turki Utsmani, membuat Iraq berperang dengan Iran di era 80-an, membuat Iraq menginvasi Quwait atas dukungan AS, dan membuat Indonesia berseteru dengan Malaysia. Perjuangan dan perseteruan murahan ini berawal dari Ashobiyah yang bernama Nasionalisme. Dunia Islam menjadi egois karena nya. Orang Indonesia bangga dengan keIndonesiaannya. Orang Malaysia bangga dengan keMalaysiaannya. Orang Arab bangga dengan kearabannya,dan seterusnya. Hingga perlahan tapi pasti hilanglah rasa bangga mereka pada Allah, nabiNya, kitabNya, dan agamaNya, Islam, serta saudaranya, sesama muslim.

Saat ini kita,umat Islam,menjadi santapan musuh-musuhnya. Kita di’nina-bobokan’ dan dilenakan dengan WAHN.

Setiap hari, TV berisi tayangan murahan yg membodohi dan merusak generasi umat Islam. Tata pergaulan muda mudi Islam dirusak oleh free sex dan narkoba. Media online dipenuhi aplikasi seronok berupa pornografi {pornoaksi}. Apa yang kita harapkan dari generasi rusak semacam ini?! Apakah mereka layak jadi pemimpin?!

Sebagian keluarga muslim broken home, karena perzinahan,kemiskinan,dan lain-lain. Masyarakat dibuat sulit menjalani kehidupan. Karena harga kebutuhan pokok melambung tinggi, jumlah pengangguran meningkat. Begitupun juga dengan jumlah orang miskin dan sakit. Negara dibuat hampir bangkrut dengan hutang luar negerinya yang ribawi dengan modus bantuan/hibah, aset dan harta kekayaan negara dirampas oleh negara asing dengan modus investasi. Gas meledak dan melukai bahkan membunuh rakyat. Jika Indonesia benar-benar merdeka,bukan kehidupan seperti ini yang rakyat impikan. Allah pun tak ridho dengan kezhaliman penguasa pada rakyatnya.

Kesempitan hidup ini akibat ulah penjajah dan umat Islam sendiri yang disadari/tidak, telah membuka peluang bagi musuh untuk menguasai urusan diri mereka dengan aturan jahil buatan manusia.

Inilah persoalan utama kita. Ditambah persoalan perpecahan dalam tubuh umat di dunia Islam akibat faham beracun ashobiyah bernama nasionalisme. Akibat nasionalisme, persoalan palestine tidak pernah berakhir. Begitu pula dengan krisis imperialisme global di timur tengah. Akibat egoisme rezim berkuasa di dunia dengan ego nasionalisme mereka, imperialisme global merata di dunia dan sukar diperangi. Allah murka. Allah seakan-akan membiarkan kondisi semacam ini hingga manusia, khususnya umat Islam, mau berfikir dan melakukan revolusi terhadap kondisi mereka yang terpuruk dan terhina serta diperebutkan bagai hidangan lezat oleh musuh-musuh Allah.

Akibat ego nasionalisme pula, Indonesia rela siap berperang dan mati sangit alias ‘sia-sia’ melawan Malaysia, demi alasan apapun. Begitu bencinya mereka satu dengan lain ; hingga mata,hati,dan fikiran mereka tak mampu membedakan mana kawan mana lawan. Mereka membenci saudara seiman hanya karena perbedaan bangsa. Mereka begitu cinta musuhNya hanya karena kebaikan fatamorgana/semu-nya saja.

Padahal sudah jelas, didalam al Qur’an, berkali-kali,Allah mengingatkan umat ini agar tak bercerai berai kecuali berpegang teguh pada tali agamaNya yang kuat. Dan berapa kali Allah mengingatkan pada kita betapa Dia benci musuh-musuhNya yang telah memerangi dan membunuh para nabi dan peperangan ini sedang serta akan selalu mereka lakukan pada hambaNya yang sholih.

Dan betapa Dia mencintai hamba-hambaNya yang muslim,mu’min,dan mukhlis.

Allah juga tak pernah menyuruh para nabi dan rasulNya untuk menyeru kepada ASHOBIYAH termasuk Nasionalisme. Seluruh nabi dan rasul,sejak nabi Adam AS hingga Muhammad SAW, hanya menyeru umatnya kepada kalimat tauhid ‘LAA ILAAHA ILALLAAH’-seraya berharap dan berdoa padaNya bagi umatnya, ‘JANGANLAH KALIAN MATI KECUALI DALAM KEADAAN ISLAM’. Karena ISLAM adalah satu-satunya agama dan jalan hidup yang diridhoi Allah.

Akhiri permusuhan antar saudara seiman atau kita rela mati dalam kebencian ‘sia-sia’ kita pada seluruh hambaNya hanya karena ego kebangsaan. Perkuat tali persatuan diantara umat Islam,tanpa bedakan suku,ras,dan bangsa.

Allah takkan menghisab manusia dari jenis kelamin, suku, bangsa, atau ras manusia. Namun dari perbuatannya yang senantiasa tercatat oleh dua malaikat setiaNya.

Tanamkan dan miliki cita-cita seorang muslim sejati :

HIDUP MULIA dengan ISLAM atau MATI SYAHID, membela al-haq, ISLAM

http://khoirzahra75id.multiply.com/journal/item/269

Kes di Kedah bukti PAS konsisten dengan dasarnya
Harakahdaily

KUALA LUMPUR, 19 Julai: Presiden PAS, Datuk Seri Tuan Guru Abdul Hadi Awang (gambar) menegaskan, PAS sentiasa konsisten dalam perjuangannya untuk Islam di negara ini sebagaimana yang terbukti dalam isu pusat hiburan di Kedah.

Ketika mahu laksanakan Islam, PAS juga mengambil kira hak orang bukan Islam.

Apa yang berlaku di Kedah, katanya, adalah kerajaan negeri Kedah memberikan hak kepada bukan Islam di samping meminta orang bukan Islam menghormati hak orang Islam.

"Hak Islam adalah menghalang umatnya membuat maksiat. Dalam masa yang sama, kita tidak boleh memaksa orang bukan Islam untuk mematuhi peraturan Islam. Yang dibuat oleh kerajaan negeri Kedah adalah melaksanakan enakmen yang ada," katanya.

Menurut enakmen yang digubal semasa kerajaan BN lagi tetapi tidak pernah dilaksanakan, kerajaan negeri berhak untuk menutup semua pusat hiburan seperti disko, karaoke, bar dan lain-lain termasuk yang dimilki oleh bukan Islam semasa bulan Ramadhan.

Kerajaan negeri pimpinan Menteri Besar, Datuk Seri Azizan Razak baru-baru ini mengumumkan akan melaksanakan enakmen itu dalam bulan Ramadhan akan datang ini.

Namun, pemilik pusat hiburan ini serta parti-parti politik membantahnya dengan berkata, ia melanggar hak mereka.

Ekoran itu, selepas mendengar bantahan mereka dan mengkaji permohonan mereka, kerajaan negeri telah bersetuju untuk membenarkan ianya diteruskan dengan syarat orang Islam tidak di benarkan masuk.

Namun, Umno melalui media mereka mendakwa PAS tunduk kepada DAP.

Inilah yang diperjelaskan oleh Abdul Hadi dalam sidang wawancara khas untuk Harakah dan Harakahdaily semalam.

"Kita berhak namun, dalam masa yang sama kita tidak boleh halang hak bukan Islam. Mereka pula memintanya, jadi kita kena bagi hak itu untuk kalangan mereka sahaja.

"Kita pula meminta mereka menghalang orang Islam masuk dan jika mereka gagal berbuat demikian, kita boleh tutup dan tarik balik lesen mereka," jelas Abdul Hadi dalam wawancara khas itu.

Abdul Hadi juga menjelaskan, banyak pihak mendesak agar perkara ini dilaksanakan lama dahulu iaitu selepas Pakatan Rakyat mengambil alih kerajaan negeri Kedah.

"Kita kena faham, di Kedah PAS memimpin kerajaan campuran bukan PAS saja. Ia berbeza dengan kerajaan negeri Kelantan," kata beliau menjelas kenapa ia baru hendak di laksanakan selepas beberapa tahun memerintah.

PAS juga, katanya, mengambil kira hak orang bukan Islam di negeri Kedah.

"Namun, barang yang kita tidak dapat semua, tak boleh kita tolak semua, ia hendaklah dilaksanakan ikut bidang kuasa," kata Abdul Hadi.


Bahaya Taqlid (Membebek) dan Fanatisme Golongan (Ashobiyyah)

Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah (Al Qur’an), dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad (Hadits), sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan menjurus ke neraka. (HR. Muslim)

Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya. Para sahabat lantas bertanya, “Siapa ‘mereka’ yang baginda maksudkan itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits riwayat Ibnu Mas’ud r.a., ia berkata, “Suatu hari, Rasulullah saw. membuat garis lurus di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah.’ Setelah itu, beliau menggaris beberapa garis di samping kiri dan samping kanan garis yang pertama tadi, dan bersabda, ‘Jalan-jalan ini (adalah selain jalan Allah), masing-masing didukung oleh setan yang menggoda manusia untuk mengikuti jalan itu.’ selanjutnya, beliau membaca ayat, “Dan, bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia….” (al-An’aam:153) [HR Imam Ahmad dan Al Hakim]

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” [Al Maa-idah:44]

Ayat Al Qur’an dan Hadits di atas memberi petunjuk pada kita bahwa pedoman kita adalah Al Qur’an dan Hadits. Orang yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an), maka dia adalah orang-orang yang kafir.

Para ulama harus melarang perkataan bohong dan memakan yang haram:

Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. “ [Al Maa-idah:63]

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. “ [At Taubah:31]

Nabi menjelaskan bahwa memperTuhankan ulama itu adalah mematuhi ajaran ulama dengan membabi buta, biarpun ulama itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.

Maraknya aliran sesat tak lepas dari sikap murid yang mempertuhankan gurunya. Pada awalnya mungkin ajaran gurunya biasa saja. Namun lambat laun terus menyimpang sedikit-sedikit hingga akhirnya menyimpang jauh/sesat.

Meski ajaran gurunya tidak berdasarkan Al Qur’an dan Hadits atau bahkan menyimpang dari itu, murid tersebut mengikutinya. Bahkan ada aliran sesat yang melarang murid mengkritik gurunya meski bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits. Alasannya gurunya itu pintar. Ini adalah sikap yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Ada yang mengaku Nabi, ada yang mengajarkan shalat beda dengan yang diajarkan Nabi, bahkan ada pula yang mengajarkan shalat cukup 1 kali dalam sehari. Orang yang mempertuhankan ulama seperti itu akan terjerumus dalam kesesatan. Seharusnya dia tetap berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits. Jika gurunya menyimpang jauh dari itu, hendaknya dia meninggalkannya.

Dalam Islam kita dilarang Allah untuk membebek (taqlid) tanpa tahu ilmu atau dalil dari Al Qur’an dan Hadits:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” [Al Israa’:36]

Dalam Islam, kita harus saling nasehat-menasehati dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Jika ada ulama/pemimpin yang keliru, kita wajib mengkoreksinya.

Abu bakar Shiddiq ketika ditetapkan sebagai khalifah. Pertama ia mengakui kekurangannya secara jujur tanpa mempertimbangkan harga diri dan kewibawaannya. Hal ini dapat dipahami dari pidato beliau ketika itu. “Saya telah diberi kekuasaan (tauliyah) atas kalian,” kata Abu Bakar, “Padahal saya bukan yang terbaik di antara kalian. Apabila saya benar, dukunglah kepemimpinan saya. Tapi bila salah atau menyimpang, luruskanlah saya. Taatilah sepanjang saya mentaati Allah dalam memimpin kalian. Tapi bila saya berbuat ma’shiyat, maka kalian wajib tidak mentaatinya.”

Pada waktu ‘Umar terpilih menjadi khalifah yang kedua, maka isi pidato “pengukuhannya” antara lain seperti berikut: “Sekiranya saya ketahui ada yang lebih cakap dan lebih baik dari saya, maka demi Allah saya tidak akan memangku jabatan ini.”

Namun pidato pengukuhannya itu diinterupsi, disanggah oleh seorang asysyabab, pemuda dengan hunusan pedang. Yaitu pada waktu ‘Umar berucap: “Apabila tindakan saya benar, ikutlah saya dan apabila saya menyimpang luruskanlah saya.”

Asysyabab itu menghunus pedangnya dan dengan suara lantang ia berkata: “Hai ‘Umar, apabila engkau menyimpang, akan saya luruskan engkau dengan pedang saya ini.”

Lalu bagaimana reaksi ‘Umar? Dengan senyum ‘Umar berkata: “AlhamduliLlah, puji bagi Allah yang telah memberikan keberanian kepada seorang hambaNya, seorang asysyabab, yang bersedia meluruskan ‘Umar dengan pedangnya.” Itulah sikap Islam yang terbuka dengan kritik dan tidak diracuni oleh taqlid.

Ketika Shalat, seorang Imam harus mengerjakan shalat sesuai dengan aturan/rukun yang telah ditetapkan Allah. Jika menyimpang, makmum tidak boleh mendiamkan/membiarkannya. Jika tidak, maka semuanya tidak sah shalatnya. Makmum harus menegur Imam dengan bacaan tasbih. Jika ada ayat yang keliru, makmum harus membacakan yang benar kepada Imam.

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” [Al ‘Ashr:2-3]

Jadi ummat Islam itu harus selalu saling taushiyah tanpa memandang ulama/bukan karena pada dasarnya Islam tidak mengenal sistem Kependetaan.

Ummat Islam harus senantiasa menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tidak taqlid begitu saja:

Hendaklah kamu beramar ma’ruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdo’a dan tidak dikabulkan (do’a mereka). (HR. Abu Zar)

Wahai segenap manusia, menyerulah kepada yang ma’ruf dan cegahlah dari yang mungkar sebelum kamu berdo’a kepada Allah dan tidak dikabulkan serta sebelum kamu memohon ampunan dan tidak diampuni. Amar ma’ruf tidak mendekatkan ajal. Sesungguhnya para robi Yahudi dan rahib Nasrani ketika mereka meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, dilaknat oleh Allah melalui ucapan nabi-nabi mereka. Mereka juga ditimpa bencana dan malapetaka. (HR. Ath-Thabrani)

Jika kita taqlid saja dan tidak melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, niscaya doa kita tidak dikabulkan oleh Allah dan mendapat laknat serta bencana.

Barangsiapa melihat suatu kemungkaran hendalah ia merobah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya (ucapan), dan apabila tidak mampu juga hendaklah dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah. (HR. Muslim)

Orang yang tidak melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar bukanlah dari golongan Islam:

Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak mengasihi dan menyayangi yang lebih muda, tidak menghormati orang yang lebih tua, dan tidak beramar ma’ruf dan nahi mungkar. (HR. Tirmidzi)

Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla tidak menyiksa orang awam karena perbuatan dosa orang-orang yang khusus sehingga mereka melihat mungkar di hadapan mereka dan mereka mampu mencegahnya, tetapi mereka tidak mencegahnya (menentangnya). Kalau mereka berbuat demikian maka Allah menyiksa yang khusus dan yang awam (seluruhnya). (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah yang paling banyak berkeliling di muka bumi dengan bernasihat kepada manusia (makhluk Allah). (HR. Ath-Thahawi)

Pada suatu hari Rasulullah Saw bersabda kepada para sahabatnya: “Kamu kini jelas atas petunjuk dari Robbmu, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar dan berjihad di jalan Allah. Kemudian muncul di kalangan kamu dua hal yang memabukkan, yaitu kemewahan hidup (lupa diri) dan kebodohan. Kamu beralih kesitu dan berjangkit di kalangan kamu cinta dunia. Kalau terjadi yang demikian kamu tidak akan lagi beramar ma’ruf, nahi mungkar dan berjihad di jalan Allah. Di kala itu yang menegakkan Al Qur’an dan sunnah, baik dengan sembunyi maupun terang-terangan tergolong orang-orang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam. (HR. Al Hakim dan Tirmidzi)

Dalam Al Qur’an ada ayat yang muhkamaat (jelas) artinya tanpa perlu ditafsirkan lagi. Itulah pokok Al Qur’an yang harus kita amalkan. Sebaliknya ayat-ayat Al Qur’an yang tidak jelas janganlah kita takwilkan (cari-cari/gotak/gatuk sehingga berlawanan dengan makna sebenarnya) sehingga akhirnya timbul perselisihan dengan yang lain:

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. “ [Ali ‘Imran:7]

Sering orang terjebak dalam fanatisme golongan/kelompok (Ashobiyah) sehingga tetap membela kelompoknya meski Muslim yang lain mengatakan itu salah. Jika ummat Islam yang lain menasehatinya, tidak diterimanya hanya karena dianggap bukan kelompoknya:

Ka’ab bin ‘Iyadh Ra bertanya, “Ya Rasulullah, apabila seorang mencintai kaumnya, apakah itu tergolong fanatisme?” Nabi Saw menjawab, “Tidak, fanatisme (Ashabiyah) ialah bila seorang mendukung (membantu) kaumnya atas suatu kezaliman.” (HR. Ahmad)

Bukan termasuk umatku siapa saja yang menyeru orang pada ‘ashabiyah (HR Abu Dawud).

Dalam hadits yang lain Nabi mengatakan bahwa orang yang mati dalam keadaan ashobiyah (membela kelompoknya, bukan Islam), maka dia masuk neraka.

Dalam Islam dilarang ashobiyah/fanatisme kelompok dan membangga-banggakan kelompoknya karena Islam itu adalah satu.

“yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar Ruum:32]

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” [Al An’aam:159]

Ummat Islam itu adalah satu. Yang harus kita jaga adalah ukhuwah Islamiyyah, bukan ukhuwah ashobiyyah:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” [Ali ‘Imran:103]

Orang-orang yang beriman itu bersaudara:

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara…” [Al Hujuraat:10]

Yang harus kita ikuti adalah Allah. Bukan pemimpin yang menyimpang dari firman Allah (Al Qur’an):

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya (yang tidak menjalankan Al Qur’an dan Hadits) [Al A’raaf:3]

Mengikuti pemimpin yang sesat akan menyeret kita ke neraka:

“Allah berfirman: “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk ke dalam neraka, dia mengutuk pemimpinnya yang menyesatkannya; sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.” Allah berfirman: “Masing-masing mendapat siksaan yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.” [Al A’raaf:38]

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat kepada Rasul.”

Dan mereka berkata;:”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar.” [Al Ahzab:66-67]

Mengikuti pemimpin selama sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits adalah satu kewajiban. Namun jika menyimpang dan kita mengikutinya, niscaya muka kita dibolak-balikan Allah di dalam neraka.

“Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): “Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dan kanan” [Ash Shaaffaat:28]

Ayat di atas menjelaskan pemimpin yang menyesatkan ummatnya dengan berbagai dalih yang meski kelihatan masuk, namun menyimpang dari Al Qur’an dan Hadits.

“Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” [Al Qashash:41]

Hati-hatilah pada pemimpin yang menyeru kita ke neraka. Tetaplah berpegang pada Al Qur’an dan Hadits.

Nabi Muhammad bersabda:

Yang aku takuti terhadap umatku ialah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (HR. Abu Dawud)

Yang aku takuti terhadap umatku ada tiga perbuatan, yaitu kesalahan seorang ulama, hukum yang zalim, dan hawa nafsu yang diperturutkan. (HR. Asysyihaab)

Celaka atas umatku dari ulama yang buruk. (HR. Al Hakim)

Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat. (HR. Al-Baihaqi)

Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)

Seorang ulama yang tanpa amalan seperti lampu membakar dirinya sendiri (Berarti amal perbuatan harus sesuai dengan ajaran-ajarannya). (HR. Ad-Dailami)

Hendaknya kita berhati-hati terhadap ulama seperti di atas. Sebaliknya hendaknya kita mengikuti para ulama yang ajarannya sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits.

Referensi:

Hadits Web3 – www.media-islam.or.id

http://www.nabble.com/Seri-055-dan-Seri-057-p17483130.html

http://pcinu-mesir.tripod.com/ilmiah/pusaka/ispustaka/buku07/024.htm

Tiada ulasan:

Catat Ulasan